Anda di halaman 1dari 6

BLOK BASIC DENTAL SCIENCE 2

SELF LEARNING REPORT

CASE STUDY

RADIOLOGI

Dosen Pembimbing:

Disusun Oleh:

Anisa Safitri

G1G013012

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KEDOKTERAN GIGI

PURWOKERTO

2014
Case Study
Radiologi dalam Kedokteran Gigi
A. Gambara Umum
Radiologi merupakan cabang ilmu yang berhubungan dengan berbagai
teknologi pencitraan untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit. Pencitraan
dapat menggunakan X-ray, USG, CT scan, Tomografi Emisi Positron (PET)
dan MRI. Pencitraan tersebut menciptakan gambar dari konfigurasi dalam
dari sebuah objek padat, seperti bagian tubuh manusia, dengan menggunakan
energi radiasi. Radiologi juga kadang-kadang disebut radioskopi atau
radiologi klinis. (Whaites, 2002).
X-ray di temukan oleh Wilhelm Conrad Rountgen (1845-1923).
Ilmuwan Jerman pada November 1895 ketika Rontgen sedang mempelajari
pancaran elektron dari tabung katode. Lempeng logam yang letaknya di dekat
tabung katode memancarkan sinar fluoresens selama elektron di alirkan. Oleh
sebab itu, Rontgen menyimpulkan bahwa sinar tersebut di sebabkan oleh
radiasi dari suatu atom, karena tidak di kenal dalam ilmu, maka Rontgen
memberikan nama dengan sebutan X-ray (Margono, 1998).

B. Prinsip dan Cara Kerja X-Ray


X-ray merupakan bagian dari radiasi spektrum elektromagnetik, yang
mempunyai panjang gelombang yang lebih banyak energi. Ketika elektron
yang bergerak cepat dihambat kecepatannya oleh suatu objek yang solid, akan
terbentuk X-ray dengan energi cukup untuk membuat gambaran pada film
begitu sinar melewati gigi, tulang, dan jaringan lunak. Jaringan yang lebih
padat menyetop lebih banyak X-ray daripada jaringan yang lebih lunak,
sehingga akan terbentuk berbagai tingkat kehitaman yang terjadi pada film.
Tambalan logam akan tampak putih, gigi tidak begitu putih, dan rongga udara
akan terlihat gelap (Putra, 2012).

C. Pemanfaatan Radiologi dalam Dunia Kedokteran Gigi


Kedokteran gigi menggunakan pemeriksaan radiografik sebagai
sarana untuk memperoleh informasi diagnostik yang tidak dapat diperoleh
dari pemeriksaan klinis dan pemeriksaan lain sebelumnya. Hingga saat ini
dental radiografi menjadi salah satu peralatan penting yang digunakan dalam
perawatan kedokteran gigi modern. Pemotretan radiografi gigi baik proyeksi
intra oral maupun ekstra oral hampir merupakan prosedur umum yang
dilakukan oleh dokter gigi dalam membantu penatalaksanaan. Menurut Putra
(2012) Berikut merupakan beberapa kegunaan radiologi dalam dunia
kedokteran gigi :
1. Radiodiagnosa
Radiodiagnosa gigi merupakan data pendukung yang penting dalam
menegakkan suatu diagnosa penyakit atau kelainan di kedokteran gigi
misalnya, adanya kelainan apikal atau periapikal yang tidak terdeteksi
secara klinis, adanya kelainan pada rahang, adanya fraktur rahang atau
akar gigi, adanya karies yang tersembunyi (pada proksimal atau karies
akar) karies sekunder, karies incipien, kedalaman karies dan lain-lain.
2. Rencana Perawatan
Radiografi gigi sangat membantu dalam pembuatan atau penentuan
rencana perawatan, seperti penentuan letak pin atau implan, kondisi
saluran akar, Penentuan jenis dan teknik dan lain-lain.
3. Penunjang Perawatan
Radiografi gigi sangat membantu memudahkan dalam melakukan sebuah
perawatan, seperti, komplikasi posterior operatif, perawatan endodontik.
4. Evaluasi Perawatan
Evaluasi atau kontrol keberhasilan kemajuan perawatan Radiografi
merupakan salah satu data rekam medik yang sangat penting.
5. Kepentingan forensik suatu kasus.

D. Gambaran Radiologi Jaringan Rongga Mulut


Hasil dari foto radiologi terdapat dua gambaran yang sangat jelas yaitu
radiolusen dan radiopak. Radiosen merupakan hasil yang menunjukan warna
hitam pada foto, warna hitam ini di hasilkan dari lolosnya X-ray dan
menembus jaringan lunak atau kurang padat. Sedangkan radiopak merupakan
hasil foto berwarna putih disebabkan karena X-ray yang gagal menembus
objek dikarenakan objeknya terlalu padat. Semakin padat suatu jaringan maka
hasil foto radiologi akan semakin berwarna putih (Whaites, 2002).
E. Kasus
a. Teknik radiografi kasus adalah panoramik
Panoramik merupakan salah satu foto rontgen ekstraoral yang telah
digunakan secara umum di kedokteran gigi untuk mendapatkan gambaran
utuh dari keseluruhan maksilofasial. Foto panoramik juga disarankan
kepada pasien pediatrik, pasien cacat jasmani atau pasien dengan
gangguan refleks. Salah satu kelebihan panoramik adalah dosis radiasi
yang relatif kecil dimana dosis radiasi yang diterima pasien untuk satu kali
foto panoramik hampir sama dengan dosis empat kali foto intra oral.
Gambaran panoramik adalah sebuah teknik untuk menghasilkan sebuah
gambaran tomografi yang memperlihatkan struktur fasial mencakup
rahang maksila dan mandibula beserta struktur pendukungnya dengan
distorsi dan overlap minimal dari detail anatomi pada sisi kontralateral.
Radiografi panoramik adalah sebuah teknik dimana gambaran seluruh
jaringan gigi ditemukan dalam satu film. Foto panoramik dikenal juga
dengan panorex atau orthopantomogram dan menjadi sangat popular di
kedokteran gigi karena teknik yang simple, gambaran mencakup seluruh
gigi dan rahang dengandosis radiasi yang rendah.
b. Tujuan penggunaan radiografi
Tujuan pelaksanaan radiologi pada gigi pasien yaitu untuk mengetahui
keadaan jaringan mulut pasien, karena pasien mengeluh pada gusi bagian
rahang atas sering mengeluarkan cairan putih kekuningan dan ingin
dibuatkan gigi palsu.
c. Gambaran Jaringan Rongga Mulut yang Terlihat
Di intra oral ditemukan benjolan di palatum regio 16-17 dan 26-27
dengan diameter 1,5 cm yang warnanya sama dengan jaringan sekitar dan
tidak sakit pada saat palpasi. Ditemukan karies profunda pada gigi 16, 25
dan 27, radiks 13, 24 dan 28, sedangkan gigi 17, 16 dan 26 agak goyah.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan radiologis
foto 164 panoramik. Hasilnya tampak gambaran radiolusen yang berbatas
tegas pada gigi-gigi 16, 13-12, 25-26 dan 26-27. Gambaran radiolusen ini
berbentuk oval dengan diameter 0,5 cm di apeks 16, 1,5 cm di apeks
13-12, serta 1 cm di apeks 26. Gambaran radiolusen di apeks 25
berbentuk tidak teratur dan tampak tumpang tindih dengan sinus maksila.
Dari gambar yang ditunjukan anak panah menampakan radiolusen pada
keadaan normal seharusnya pada daerah tersebut memperlihatkan
radiopak, kasus ini berarti terdapat jaringan lunak atau suatu rongga yang
karena dapat ditembus oleh X-ray (Sirait et all, 2010).

Sumber : (Sirait et all, 2010)


DAFTAR PUSTAKA

Margono, G., 1998, Radiografi Intraoral. EGC : Jakarta

Putra, K.P., 2012, Pengaruh Perbedaan Tegangan Alat Radiografi Gigi terhadap
Kualitas Densitas Gambar Radiografi Periapikal, skripsi : Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Jember.
Whaites, E., 2002, Essentials of Dental Radiography and Radiology, Churchill
Linvingstone, United Kingdom.
Sirait, Togi., Sri Rahayu., Merry S., Gemala B., 2010, Kista Radikular Multiple
pada Maksila, Laporan Kasus, Majalah Kedokteran FK UKI, 27(4) : 161-
166.