Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 21 KELOMPOK 4 SKENARIO 2


ERA SJSN DI INDONESIA

Tutor : dr. Siti Amaliah, M.Kes

Disusun oleh:
Bima Bayu Putra (H2A013003)
Ifta Iftati Sadiyah (H2A013015)
Indah Aprilia M (H2A013016)
Aprilia Ary Yuhana (H2A013017)
Lisan Gigih Prakoso (H2A013027)
Nur Dian Afidah (H2A013028)
Ransi Delanta V E (H2A013037)
Isfi Sabila Izzati (H2A013044)
Harti Aji Ningtyas (H2A013055)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2017

1
Skenario 2

Era SJSN di Indonesia


Setiap orang berhak atas jaminan sosial untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup
dasar yang layak dan meningkatkan martabatnya menuju terwujudnya masyarakat
Indonesia yang sejahtera, adil dan amkmur. Hal tersebut merupakan alasan
dibentuknya undang-undang tentang SJSN. Undang-undang ini diperlukan untuk
mengatur siapa saja yang berhak mendapat jaminan kesehatan, pembayaran iuran,
badan yang menyelenggarakan jaminan sosial, dan lain sebagainya. Mana kala
SJSN sudah diimplementasiskan, maka dengan sendirinya Indonesia memperkuat
sosial protection system bagi masyarakat yang rentan terkena krisis jika terjadi
krisis global agar tidak memberatkan ketika terjadi krisis. Masyarakat pun akan
sangat terbantu dengan adanya SJSSNN, mereka tidak perlu lagi khawatir jika
sakit bagaimana harus membayar biaya pengobatan. Untuk melaksanakan SJSN,
diperlukan sebuah badan yang ebrtugas mengawasi pelaksanaan SJSN. Badan
tersebut adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Dengan adanya BPJS,
rakyat yang belum mendapat ajminan sosial akan mendapatkannya. Biaya
ditanggung oleh negara melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN). BPJS merupakan usaha pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat serta sebagai usaha untuk memenuhi amanat yang terkandung dalam
undang-undang 1945.

STEP 1. KLARIFIKASI ISTILAH

1. Social protection system

2
Adalah sistem perlindungan soial, seperangkat sistem perangkat program dan
kebijakan untuk mengurangi kemiskinan dan mengurangi kerentanan yang
mengancam manusia.1
2. Jaminan Sosial
Adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat
agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak.2
3. BPJS (badan penyelenggara jaminan sosial)
Adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan jaminan sosial.
BPJS diklasifikasikan menjadi BPJS kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan.3
4. APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)
Adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh
Dewan Perwakilan Rakyat.4
5. SJSN (sistem jaminan sosial nasional)
Adalah suatu tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa
penyelenggara jaminan sosial. Diatur dalam UU No.40 tahun 2004. Dengan
adanya SJSN diharapkan dapat memenuhi kehidupan dasar yang layak.2
6. Krisis Global
Adalah peristiwa dimana seluruh sektor ekonomi di pasar dunia mengalami
keruntuhan (keadaan gawat) dan mempengaruhi sektor lainnya di seluruh
dunia.5

STEP 2. IDENTIFIKASI MASALAH


1. Apa tujuan, program, prinsip dan asas dari penyelenggaraan SJSN?
2. Bagaimana kepersertaan dan iuran BPJS kesehatan?
3. Apa tugas, wewenang dan fungsi BPJS kesehatan?

STEP 3. ANALISIS MASALAH


1. Tujuan, program, prinsip dan asas penyelenggaraan SJSN adalah2
a. Tujuan Penyelenggaraan SJSN
Sistem Jaminan Sosial Nasional bertujuan untuk memberikan jaminan
terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/ atau
anggota keluarganya.
b. Program Penyelenggaraan SJSN

3
Jenis program jaminan sosial meliputi:
1) jaminan kesehatan.
2) jaminan kecelakaan kerja;
3) jaminan hari tua;
4) jaminan pensiun; dan
5) jaminan kematian
c. Prinsip Penyelenggaraan SJSN
Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan berdasarkan pada prinsip:
1) kegotong-royongan;
2) nirlaba;
3) keterbukaan;
4) kehati-hatian;
5) akuntabilitas
6) portabilitas;
7) kepesertaan bersifat wajib;
8) dana amanat; dan
9) hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial dipergunakan seluruhnya untuk
pengembangan program dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.
d. Asas Penyelenggaraan SJSN
Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggrakan berdasarkan asas
kemanusiaan, asas manfaat, dan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.

2. Kepersertaan dan iuran BPJS kesehatan adalah


a. Kepesertaan BPJS kesehatan3
Setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam)
bulan di Indonesia, wajib menjadi peserta program jaminan sosial.
b. Iuran BPJS kesehatan6,7
1) Bagi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), iuran dibayar oleh
Pemerintah. Peserta PBI meliputi fakir miskin dan orang tidak mampu.
2) Non PBI
a) Peserta pekerja penerima upah yang bekerja pada lembaga
pemerintahan (PNS, anggota TNI, anggota Polri, pejabat negara, dan
pegawai pemerintah non pegawai negeri sebesar 5% dari gaji/upah
perbulan dengan ketentuan: 3% dibayar oleh pemberi kerja dan 2%
dibayar oleh peserta;
b) Peserta pekerja penerima upah yang bekerja di BUMN, BUMD, dan
Swasta sebesar 5% dari gaji/upah per bulan dengan ketentuan: 4%
dibayar oleh pemberi kerja dan 1% dibayar oleh peserta;

4
c) Keluarga tambahan pekerja penerima upah (anak ke 4 dan seterusnya,
ayah, ibu, dan mertua) iurannya sebesar 1% dari gaji/upah per orang
per bulan, dibayar oleh pekerja penerima upah;
d) Kerabat lain dari pekerja penerima upah (saudara kandung/ipar,
asisten rumah tangga, dll); pekerja bukan penerima upah serta iuran
peserta bukan pekerja adalah sebesar:
i. Sebesar Rp 25.000,- per orang per bulan dengan manfaat
pelayanan di ruang perawatan Kelas III
ii. Sebesar Rp 51.000,- per orang per bulan dengan manfaat
pelayanan di ruang perawatan Kelas II
iii. Sebesar Rp 80.000,- per orang per bulan dengan manfaat
pelayanan di ruang perawatan Kelas I
e) Veteran, perintis kemerdekaan, dan janda, duda, atau anak yatim piatu
dari veteran atau perintis kemerdekaan, iurannya ditetapkan sebesar
5% dari 45% gaji pokok PNS golongan III/a dengan masa kerja 14
tahun per bulan, dibayar oleh pemerintah.
Pembayaran iuran paling lambat tanggal 10 setiap bulan.
3. Tugas, wewenang dan fungsi BPJS kesehatan adalah
a. Tugas BPJS kesehatan3
1) Melakukan dan/atau menerima pendaftaran peserta;
2) Memungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja;
3) Menerima bantuan iuran dari pemerintah;
4) Mengelola dana jaminan sosial untuk kepentingan peserta;
5) Mengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial;
6) Membayarkan manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai
dengan ketentuan program jaminan sosial, dan
7) Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program jaminan
sosial kepada peserta dan masyarakat.
b. Wewenang BPJS kesehatan3
1) Menagih pembayaran iuran;
2) Menempatkan dana jaminan sosial untuk investasi jangka pendek dan
jangka panjang dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabilitas,
kehati-hatian, keamanan dana, dan hasil yang memadai;
3) Melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan peserta dan
pemberi kerja dalam memenuhi kewajibannya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan jaminan sosial;

5
4) Membuat kesepakatan dengan fasilitas kesehatan mengenai besar
pembayaran fasilitas kesehatan yang mengacu pada standar tarif yang
ditetapkan oleh pemerintah;
5) Memberi atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan;
6) Mengenakan sanksi administratif kepada peserta atau pemberi kerja yang
tidak memenuhi kewajibannya;
7) Melaporkan pemberi kerja kepada instansi yang berwenang mengenai
ketidakpatuhannya dalam membayar iuran atau dalam memenuhi
kewajiban lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
dan
8) Melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam rangka penyelenggaraan
program jaminan sosial.
c. Fumgsi BPJS kesehatan3
Menyelenggarakan program jaminan kesehatan.

STEP 4. SKEMA

SJSN

Tujuan dan manfaat Program Prinsip ASAS

Jaminan Kesehatan
Jaminan Kecelakaan kerja
Jaminan Pensiun
Jaminan Hari Tua
Jaminan Kematian

BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan

Kepesertaan
Iuran
Rujukkan
Penyakit yang
dicover oleh
BPJS

6
STEP 5. SASARAN BELAJAR
1. Bagaimana iuran kepesertaan BPJS kesehatan?
2. Bagaimana pelayanan nya apabila iurannya telat dan denda nya?
3. Bagaimana kewajiban peserta BPJS selain membayar iuran?
4. Kasus penyakit dan kecelakaan apa saja yang di cover oleh BPJS kesehatan
berdasarkan level Rumah Sakit?
5. Bagaimana tatacara rujukkan BPJS Kesehatan?
6. Apa saja syarat claim BPJS Ketenagarakerjaan?

STEP 6. BELAJAR MANDIRI

STEP 7. SASARAN BELAJAR


1. Iuran kepesertaan BPJS kesehatan adalah6,7
a. Bagi peserta Penerima Bantun Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan iuran dibayar
oleh Pemerintah.
b. Iuran bagi peserta Pekerja Penerima Upah yang bekerja pada Lembaga
Pemerintahan terdiri dari Pegawai Negeri Sipil, anggota TNI, anggota Polri,
pejabat negara, dan pegawai pemerintah non pegawai negeri sebesar 5%
(lima persen) dari Gaji atau Upah per bulan dengan ketentuan : 3% (tiga
persen) dibayar oleh pemberi kerja dan 2% (dua persen) dibayar oleh
peserta.
c. Iuran bagi Peserta Pekerja Penerima Upah yang bekerja di BUMN, BUMD
dan Swasta sebesar 5% ( lima persen) dari Gaji atau Upah per bulan dengan
ketentuan : 4% (empat persen) dibayar oleh Pemberi Kerja dan 1% (satu
persen) dibayar oleh Peserta.
d. Iuran untuk keluarga tambahan Pekerja Penerima Upah yang terdiri dari
anak ke 4 dan seterusnya, ayah, ibu dan mertua, besaran iuran sebesar

7
sebesar 1% (satu persen) dari dari gaji atau upah per orang per bulan,
dibayar oleh pekerja penerima upah.
e. Iuran bagi kerabat lain dari pekerja penerima upah (seperti saudara
kandung/ipar, asisten rumah tangga, dll); peserta pekerja bukan penerima
upah serta iuran peserta bukan pekerja adalah sebesar:
1) Sebesar Rp. 25.500,- (dua puluh lima ribu lima ratus rupiah) per orang
per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III.
2) Sebesar Rp. 51.000,- (lima puluh satu ribu rupiah) per orang per bulan
dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas II.
3) Sebesar Rp. 80.000,- (delapan puluh ribu rupiah) per orang per bulan
dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas I.
f. Iuran Jaminan Kesehatan bagi Veteran, Perintis Kemerdekaan dan janda,
duda, atau anak yatim piatu dari Veteran atau Perintis Kemerdekaan,
iurannya ditetapkan sebesar 5% (lima persen) dari 45% (empat puluh lima
persen) gaji pokok Pegawai Negeri Sipil golongan ruang III/a dengan masa
kerja 14 (empat belas) tahun per bulan, dibayar oleh Pemerintah.
g. Pembayaran iuran paling lambat tanggal 10 (sepuluh) setiap bulan.
2. Pelayanana BPJS kesehatan apabila iurannya telat dan denda nya adalah8
Keterlambatan pembayaran iuran jaminan kesehatan lebih dari satu bulan
sejak tanggal 10, maka penjaminan peserta diberhentikan sementara. Artinya,
masa aktif kartu asuransi JKN peserta diberhentikan secara otomatis untuk
sementara waktu. Peserta tidak dapat menggunakan kartu JKN untuk berobat
gratis. Jika terjadi keterlambatan pembayaran, peserta wajib membayar denda
kepada BPJS Kesehatan agar status kartu JKN aktif dan bisa digunakan lagi
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan hingga layanan rawat inap.
Denda keterlambatan sebelumnya adalah 2%, tetapi per 1 April 2016
berlaku aturan baru yakni 2,5%. Batas pembayaran iuran BPJS Kesehatan tiap
tanggal 10, Jika peserta terlambat membayar pada bulan itu dendanya 2,5% x
jumlah iuran. Jumlah tertunggak maksimum 12 bulan dan denda paling tinggi
sebesar Rp30.000.000 (tiga puluh juta Rupiah).
Jika terlambat membayar pada hari libur maka tidak terkena denda.
Misalnya tanggal 10 adalah hari minggu sedangkan peserta baru membayar
hari senin tanggal 11 maka denda 2,5% tersebut belum berlaku. Status
kepesertaan akan aktifkan kembali setelah peserta melunasi iuran plus

8
dendanya. Dalam waktu 45 hari, status kepersertaan akan aktif kembali dan
bisa dipergunakan untuk berobat.
3. kewajiban peserta BPJS selain membayar iuran adalah9
a. Mendaftarkan dirinya sebagai peserta serta membayar iuran yang besarnya
sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
b. Melaporkan perubahan data peserta, baik karena pernikahan, penceraian,
kematian, kelahiran pindah alamat atau pindah fasilitas kesehatan tingkat 1;
c. Menjaga kartu peserta agar tidak rusak, hilang atau dimanfaatkan oleh orang
yang tidak berhak; dan
d. Mentaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan.
4. Kasus dan kecelakaan yang dicover oleh BPJS kesehatan adalah10

Daftar 155 Penyakit Yang Ditanggung BPJS di FKTP

Gangguan
campuran
Abortus spontan anxietas dan
komplit depresi Otitis eksterna
Abortus
mengancam/in Otitis media
sipiens Gangguan psikotik akut
Abortus spontan
inkomplit Gastritis Parotitis
Gastroenteritis
(termasuk
kolera, Pedikulosis
Alergi makanan giardiasis) kapitis
Anemia defisiensi Penyakit cacing
besi Glaukoma akut tambang
Anemia defisiensi Perdarahan
besi pada saluran cerna
kehamilan Gonore bagian atas
Perdarahan
Hemoroid grade 1- saluran cerna
Angina pektoris 2 bagian bawah
Perdarahan post
Apendisitis akut Hepatitis A partum
Perdarahan
Artritis subkonjungti
Osteoartritis Hepatitis B va
Artritis Herpes simpleks Peritonitis

9
tanpa
Reumatoid komplikasi
Herpes zoster tanpa
Askariasis komplikasi Pertusis
Hiperemesis
Asma Bronkial gravidarum Persalinan lama
Hiperglikemi
Astigmatism hiperosmolar
ringan non ketotik Pitiriasis rosea
Hipermetropia
Bells Palsy ringan Pioderma
Benda asing di Pitiriasis
hidung Hipertensi esensial versikolor
Benda asing di Hiperuricemia Pneumonia
konjungtiva (Gout) aspirasi
Pneumonia,
Hipoglikemia bronkopneum
Blefaritis ringan onia
HIV AIDS tanpa Polimialgia
Bronkritis akut komplikasi reumatik
Buta senja Hordeolum Pre-eklampsia
Cardiorespiratory
arrest Infark miokard Presbiopia
Cutaneus larva Infark
migran serebral/Stroke Rabies
Delirium yang
diinduksi dan
tidak diinduksi
oleh alkohol
atau zat
psikoaktif Infeksi pada Reaksi
lainnya umbilikus anafilaktik
Demam dengue,
DHF Demam Infeksi saluran Reaksi gigitan
tifoid kemih serangga
Refluks
gastroesofage
Demensia Influenza al
Dermatitis atopik
(kecuali
recalcitrant ) Insomnia Rhinitis akut
Dermatitis kontak Intoleransi Rhinitis alergika

10
alergika makanan
Dermatitis kontak Rhinitis
iritan Kandidiasis mulut vasomotor
Ruptur
Dermatitis perineum
numularis Katarak tingkat 1-2
Dermatitis
seboroik Kehamilan normal Serumen prop
Sifilis stadium 1
Tinea kapitis Kejang demam dan 2
Keracunan
Tinea barbae makanan Skabies
Ketuban Pecah
Tinea fasialis Dini (KPD) Skistosomiasis
Status
Tinea korporis Kolesistitis Epileptikus
Tinea manum Konjungtivitis Strongiloidiasis
Syok (septik),
hipovolemik,
kardiogenik,
Tinea unguium Laringitis neurogenik)
Tinea kruris Lepra Taeniasis
Leptospirosis
(tanpa
Tinea pedis komplikasi) Takikardi
Liken simpleks
Diabetes melitus kronis/ Tension
tipe 1 neurodermatitis headache
Diabetes melitus
tipe 2 Limfadenitis Tetanus
Disentri basiler
dan amuba Lipoma Tirotoksikosis
Luka bakar derajat
Dislipidemia 1 dan 2 Tonsilitis
Tuberkulosis
Malabsorbsi paru tanpa
Eklampsia makanan komplikasi
Urtikaria (akut
Epilepsi Malaria dan kronis)
Malnutiris energi-
Epistaksis protein Vaginitis
Exanthematous Mastitis Varisela tanpa

11
drug eruption komplikasi
Vertigo (Benign
paroxysmal
Fixed drug positional
eruption Mata kering vertigo)
Faringitis Migren Veruka vulgaris
Filariasis Miliaria Vulvitis
Fluor
albus/vaginal
discharge non
gonorhea Miopia ringan
Fraktur terbuka, Moluskum
tertutup kontagiosum
Furunkel pada Morbili tanpa
hidung komplikasi
Gagal jantung
akut Napkin eczema
BPJS Kesehatan berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada peserta
untuk bisa mendapatkan jaminan kesehatan, untuk bisa mendapatkan jaminan
kesehatan dari BPJS, peserta supaya mengikuti aturan dan prosedur yang telah
dibuat, yaitu berobat dengan sistem rujukan, dimana ketika peserta sakit maka
diharapkan berobat ke faskes 1 terlebih dahulu. Kecuali jika peserta sakit
dalam keadaan darurat sehingga membutuhkan pertolongan secepatnya.
Berikut adalah penjelasan layanan kondisi gawat darurat pasien BPJS sebagai
berikut:
a. Fasilitas Kesehatan
1) Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama; dan
2) Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan baik yang bekerjasama
maupun tidak bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.
b. Cakupan Pelayanan
1) Kondisi pasien yang tidak memungkinkan secara medis untuk
dievakuasi, yang dibuktikan dengan surat keterangan medis dari dokter
yang merawat;
2) Pelayanan gawat darurat yang dapat dijamin adalah sesuai dengan
kriteria gawat darurat yang berlaku; dan

12
3) Cakupan pelayanan gawat darurat sesuai dengan pelayanan rawat jalan
dan rawat inap di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun tingkat
lanjutan.
c. Prosedur
Dalam keadaan gawat darurat, maka:
1) Peserta dapat dilayani di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun
fasilitas kesehatan tingkat lanjutan yang bekerjasama maupun yang tidak
bekerjasama dengan BPJS Kesehatan;
2) Pelayanan harus segera diberikan tanpa diperlukan surat rujukan;
3) Peserta yang mendapat pelayanan di Fasilitas Kesehatan yang tidak
bekerja sama dengan BPJS Kesehatan harus segera dirujuk ke Fasilitas
Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan setelah keadaan
gawat daruratnya teratasi dan pasien dalam kondisi dapat dipindahkan;
4) Pengecekan validitas peserta maupun diagnosa penyakit yang termasuk
dalam kriteria gawat darurat menjadi tanggung jawab fasilitas kesehatan;
dan
5) Fasilitas kesehatan tidak diperkenankan menarik biaya pelayanan
kesehatan kepada peserta Pada kasus kegawatdaruratan medis tidak
diperlukan surat rujukan. Kriteria kegawat daruratan sebagaimana
terlampir.
Prosedur pelayanan gawat darurat di fasilitas kesehatan yang
bekerjasama dengan BPJS Kesehatan adalah sebagai berikut:
1) Pada keadaan gawat darurat (emergency), seluruh fasilitas kesehatan
baik yang bekerjasama maupun yang tidak bekerjasama dengan BPJS
Kesehatan, wajib memberikan pelayanan kegawatdaruratan sesuai
indikasi medis
2) Pelayanan kegawatdaruratan di fasilitas kesehatan tingkat pertama
dapat diberikan pada fasilitas kesehatan tempat peserta terdaftar
maupun bukan tempat peserta terdaftar
3) Pelayanan kegawatdaruratan di fasilitas kesehatan tingkat pertama
maupun lanjutan mengikuti prosedur pelayanan yang berlaku

13
Prosedur pelayanan gawat darurat di fasilitas kesehatan tingkat
pertama dan fasilitas kesehatan rujukan yang tidak bekerjasama dengan
BPJS Kesehatan adalah sebagai berikut:
1) Fasilitas kesehatan memastikan eligibilitas peserta dengan
mencocokkan data peserta dengan master file kepesertaan BPJS
Kesehatan pada kondisi real time. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara:
2) Fasilitas kesehatan mengakses master file kepesertaan melalui website
BPJS Kesehatan www.bpjs-kesehatan.go.id, sms gateway dan media
elektronik lainnya.
3) Apabila poin (a) tidak dapat dilakukan maka Fasilitas kesehatan
menghubungi petugas BPJS Kesehatan melalui telepon atau
mendatangi kantor BPJS Kesehatan
4) Apabila kondisi kegawatdaruratan pasien sudah teratasi dan pasien
dalam kondisi dapat dipindahkan, tetapi pasien tidak bersedia untuk
dirujuk ke fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS
kesehatan maka biaya pelayanan selanjutnya tidak dijamin oleh BPJS.
Fasilitas kesehatan harus menjelaskan hal ini kepada peserta dan
peserta harus menandatangani surat pernyataan bersedia menanggung
biaya pelayanan selanjutnya
5) Penanganan kondisi kegawatdaruratan di fasilitas kesehatan yang
tidak bekerjasama ditanggung sebagai pelayanan rawat jalan kecuali
kondisi tertentu yang mengharuskan pasien dirawat inap. Kondisi
tertentu yang dimaksud diatas adalah sebagai berikut:
i. Tidak ada sarana transportasi untuk evakuasi pasien.
ii. Sarana transportasi yang tersedia tidak memenuhi syarat untuk
evakuasi dan dinyatakan oleh petugas BPJS Kesehatan setelah
dihubungi oleh Fasilitas kesehatan, dan petugas BPJS Kesehatan
tersebut telah berusaha mencari ambulan sesuai dengan kebutuhan.

5. Tatacara rujukan BPJS kesehatan11

14
Didalam BPJS kesehatan dikenal 3 penggolongan fasilitas kesehatan
diantaranya:
a. Faskes TK I (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) : puskesmas, klinik atau
dokter umum. Disebut juga Faskes Primer.
b. Faskes TK II (Fasilitas Kesehatan Tingkat Kedua) : pelayanan kesehatan
spesialistik oleh dokter spesialis atau dokter gigi spesialis.
c. Faskes RTL (Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan) : Klinik utama atau yang
setara, Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus.
Rujukan horizontal adalah rujukan yang dilakukan antar pelayanan
kesehatan dalam satu tingkatan, hal ini bisa dilakukan jika perujuk (fasilitas
kesehatan) tidak bisa memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan
kebutuhan pasien karena faktor keterbatasan fasilitas, peralatan atau
ketenagaan yang sifatnya sementara atau menetap.
Sedangkan rujukan vertikal adalah rujukan yang dilakukan antar pelayanan
kesehatan yang berbeda tingkatan, dapat dilakukan dari tingkat pelayanan yang
lebih rendah ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi, atau sebaliknya.

6. Syarat claim BPJS ketenagakerjaan adalah12


a. Buku rekening Bank dan fotokopi
b. Fotokopi KTP dan yang asli
c. Fotokopi KK dan yang asli
d. Kartu Bpjs Ketenagakerjaan atau Jamsostek
e. Surat keterangan pengunduran diri
f. Email dan nomor hp.

DAFTAR PUSTAKA

1. https://en.wikipedia.org/wiki/Social_protection_floor
2. Undang-undang nomor 40 tahun 2004 tentang Sisten Jaminan Sosial
Nasional.

15
3. Undang-undang nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial.
4. Undang-undang nomor 14 tahun 2015 tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara tahun anggaran 2016.
5. www.kemenkeu.go.id
6. Permenkes RI Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program
Jaminan Kesehatan Nasional
7. Perpres RI Nomor 28 Tahun 2016 tentang Perubahan Ketiga Atas Perpres RI
No 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan.
8. BPJS Kesehatan. Seputar BPJS Kesehatan 2015. Available from:
www.bpjs.go.id.
9. BPJS kesehatan. Hak dan kewajiban peserta BPJS. Diakses dari
http://www.bpjs-kis.info/2015/10/hak-dan-kewajiban-peserta-bpjs-
kesehatan.html [diakses tanggal 27 Januari 2017]
10. BPJS Kesehatan. 2014. Panduan Praktis Gate Keeper Consept Faskes BPJS.
Jakarta : BPJS.
11. Sistem rujukan BPJS http://www.bpjs-online.com/cob-bpjs-dan-asuransi-
swasta/ [diakses tanggal 28 januari 2017]
12. https://eklaim.bpjsketenagakerjaan.go.id/ [diakses tanggal 27 januari 2017]

16