Anda di halaman 1dari 7

HAK CIPTA

Undang-Undang Hak Cipta yang lama yakni UU No. 19 Tahun 2002 telah
diperbaharui dengan Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 yang disahkan pada tanggal 16
Oktober 2014 dan dinyatakan berlaku sejak diundangkan. Dengan disahkannya Undang-
Undang No. 28 Tahun 2014 tersebut, maka UU No. 19 Tahun 2002 dinyatakan tidak berlaku
lagi.
Sebagai Undang Undang Hak Cipta yang baru (UU No.28 tahun 2014), tentu saja di
dalamnya terdapat beberapa peraturan yang ditambahkan ataupun dihilangkan dari Undang
Undang Hak Cipta yang lama (UU No.19 tahun 2002). Revisi terhadap UU No 19 Tahun
2002 menjadi UU No 28 Tahun 2014 adalah sebagai upaya pemberian perlindungan
maksimal terhadap pemilik hak cipta dan hak intelektual. Secara garis besar terdapat
perubahan UU Hak Cipta 19 Tahun 2002 dengan UU Hak Cipta 28 Tahun 2014 dapat dilihat
dalam penjelasan umum. UU Hak Cipta 19 Tahun 2002 terdiri dari 76 pasal, sedangkan UU
Hak Cipta 28 Tahun 2014 memiliki 126 pasal.

Melalui Pasal 1 UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta , dapat kita lihat bahwa
UU Hak Cipta ini memberikan definisi yang sedikit berbeda untuk beberapa hal. Selain itu,
dalam bagian definisi, dalam UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta juga diatur lebih
banyak, seperti adanya definisi atas fiksasi, fonogram, penggandaan, royalti, Lembaga
Manajemen Kolektif, pembajakan, penggunaan secara komersial, ganti rugi, dan
sebagainya. Dalam UU No. 28 Tahun 2014 juga diatur lebih detail mengenai apa itu hak
cipta.

Pada UU No.19 Tahun 2002 pendaftaran ciptaan di atur pada Pasal 35 44 ,


sedangkan pada UU No.28 Tahun 2014 pendaftaran ciptaan diatur dalam Pasal 64 79. UU
No.28 Tahun 2014 juga mengubah beberapa ketentuan dalam UU No.19 Tahun 2002, salah
satunya adalah lama perlindungan hak cipta, yang sebelumnya di dalam pasal 30 UU No.19
Tahun 2002 menyatakan perlindungan hak cipta seumur hidup si pencipta sampai 50 tahun
setelah si pencipta meninggal. Namun diubah di dalam pasal 58 UU No.28 Tahun 2014
perlindungan hak cipta menjadi 70 tahun setelah pencipta meninggal.

Pasal 30 (UU No.19 Tahun 2002) Pasal 58 (UU No.28 Tahun 2014)
(1) Hak Cipta atau Ciptaan : (1) Pelindungan Hak Cipta atas Ciptaan:
Program Komputer; buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis
Sinematografi; lainnya; ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan
Fotografi; sejenis lainnya; alat peraga yang dibuat untuk
Database; dan kepentingan pendidikan dan ilmu
Karyahasil pengetahuan; lagu atau musik dengan atau
pengalihwujudan tanpa teks; drama, drama musikal, tari,
koreografi, pewayangan, dan pantomim;
(2) Hak Cipta atas perwajahan karya seni rupa dalam segala bentuk seperti
karya tulis yang diterbitkan lukisan, gambar, ukiran, kaligrafi, seni pahat,
berlaku selama 50 (lima patung, atau kolase; karya arsitektur; peta;
puluh) tahun sejak pertama dan karya seni batik atau seni motif lain,
kali diterbitkan. berlaku selama hidup Pencipta dan terus
berlangsung selama 70 (tujuh puluh) tahun
setelah
(1) Hak Cipta atas Ciptaan Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai
sebagaimana yang dimiliki tanggal 1 Januari tahun berikutnya.
atau di pegang oleh suatu
badan hukum berlaku selama (2) Dalam hal Ciptaan sebagaimana
50 (lima puluh) tahun sejak dimaksud pada ayat (1) dimiliki oleh 2 (dua)
pertama kali diumumkan orang atau lebih, pelindungan Hak Cipta
berlaku selama hidup Pencipta yang
meninggal dunia paling akhir dan
berlangsung selama 70 (tujuh puluh) tahun
sesudahnya, terhitung mulai tanggal 1
Januari tahun berikutnya.

(3) Pelindungan Hak Cipta atas Ciptaan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) yang dimiliki atau dipegang oleh
badan hukum berlaku selama 50 (lima
puluh) tahun sejak pertama kali dilakukan
Pengumuman.

Pada UU No.19 Tahun 2002 tidak mengatur tentang Teknologi Informasi dan
Komputer (TIK) , maka di UU No. 28 Tahun 2014 ini mengatur bahwa hak cipta dapat
dijadikan obyek jaminan fidusia, lembaga manajemen kolektif, serta konten hak cipta dan hak
terkait dalam teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bab khusus mengenai konten hak
cipta dan hak terkait dalam TIK (Pasal 54-56) dalam UU No 28 tahun 2014 menjawab
keresahan para pemilik hak cipta dan hak terkait pada berbagai aktivitas di internet yang
berpotensi melanggar hak mereka.

Beberapa pasal lain dalam UU No.28 Tahun 2014 juga terkait dengan aktivitas
teknologi informasi dan komunikasi yaitu di dalam Pasal 52 53 tentang Sarana Kontrol
Teknologi serta Pasal 6 7 tentang Informasi Manajemen Hak Cipta (IMHC) dan Informasi
Elektronik Hak Cipta (IEHC). UU No. 28 Tahun 2014 juga mengatur mengenai
perlindungan Hak Ekonomi pencipta. Pada UU.19 Tahun 2002, hal tersebut hanya dibahas
dalam Bagian Umum Penjelasan, sedangkan di UU No. 28 Tahun 2014 dibahas lebih detil.
Seperti pada Pasal 18 yang membahas mengenai sold flat dan peralihan hak ekonomi yang
dibahas pada Pasal 23 35.

HAK MERK

Pengaturan tentang merek di Indonesia telah mengalami empat kali perubahan dengan
penggantian undang-undang. Peraturan tentang merek pertama yang dibuat oleh pemerintah
Indonesia adalah Undang-undang nomor 21 tahun 1961 tentang Merek Perusahaan dan
Merek Perniagaan. Sebelumnya, Indonesia menggunakan UU merek Kolonial tahun 1912.
Pada tahun 1992, pemerintah Indonesia memperbaharui pengaturan merek dalam UU nomor
21 tahun 1961 dengan Undang-undang nomor 19 tahun 1992 tentang Merek. Kemudian pada
tahun 1997, Pemerintah melakukan pembaharuan dengan mengeluar UU nomor 14 tahun
1997 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 19 tahun 1992 tentang Merek.
Kemudian pemerintah melakukan pembaharuan lagi dengan mengeluarkan Undang-Undang
Nomor 15 tahun 2001 tentang Merek. Beberapa perubahan penting yang ada adalah seputar
penetapan sementara pengadilan, perubahan dari delik biasa menjadi delik aduan, peran
Pengadilan Niaga dalam memutuskan sengketa merek, kemungkinan menggunakan alternatif
dalam memutuskan sengketa dan ketentuan pidana yang diperberat.

Sistem Perolehan Hak Atas Merek

Dalam Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 21 tahun 1961 dinyatakan bahwa sistem perolehan
hak atas merek yang digukan adalah sistem deklaratif, yaitu memperoleh hak atas merek,
dengan pemakaian pertama merek yang bersangkutan. Pada UU No.19 Tahun 1992, sistem
ini dirubah menjadi sistem konstitutif, yaitu hak atas merek diperoleh dengan pendaftaran
merek tersebut pada kantor merek. Hal ini diatur jelas dalam Pasal 3 UU No.19 Tahun 1992.
Dalam UU merek selanjutnya tidak ada perubahan dalam hal ini.

Prasyarat Merek

Dalam UU No.21 Tahun 1961 Pasal 4 diatur prasyarat formil suatu merek jika akan
didaftarkan sedangkan Pasal 5 terkait prasyrat substansi merek, yaitu tentang merek yang
tidak dapat di daftarkan. UU No.19 Tahun 1992 diatur dalam Pasal 4, 5, dan 6. Penambahan
hanya pada Pasal 4, yang mengatur tentang prasyarat keharusan ada ittikad baik dalam
pendaftaran merek. Dalam UU No.14 Tahun 1997 dan UU No.15 Tahun 2001, ada
penambahan pengaturan tentang perlindungan merek terkenal dan juga indikasi geografis
yang sudah terkenal. Sebagaimana ditambahkan dalam Pasal 6 ayat pertama.

Merek Kolektif

UU Merek 1961 belum mengatur tentang Merek Kolektif. Baru pada pengaturan
merek selanjutnya diatur tetang merek kolektif. Merek kolektif adalah merek yang digunakan
pada barang atau jasa dengan karakteristik yang sama yang diperdagangkan oleh beberapa
orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang atau jasa
sejenis lainnya. Dalam UU No.19 Tahun 1992 diatur dalam BAB VII Pasal 61sampai dengan
Pasal 71. Sedangkan dalam UU No 15 Tahun 2001 diatur dalam BAB VI Pasal 50 sampai
Pasal 55. Merek kolektif yang terdaftar tidak dapat dilisensikan.

Penyelesaian Sengketa

Penyelesaian sengketa merek dalam UU No.21 Tahun 1961 dilakukan melalui


Pengadilan Negeri di Jakarta, yang hasilnya disampaikan ke Kantor Milik Perindustrian
(Pasal 10-15). UU No.19 Tahun 1992 Penyelesaian sengketa diatur dalam BAB VIII Pasal 71
sampai Pasal 76. Secara garis besar diatur bahwa gugatan dapat diajukan ke PN Jakarta Pusat
atau PN lain yang ditunjuk. Putusan PN dapat diajukan banding. Dan hak mengajukan
gugatan tersebut tidak mengurangi hak negara untuk melakukan tuntutan tindak pidana di
bidang merek (Pasal: 76). Dalam UU No.15 Tahun 2001 diatur dengan lebih rinci, dan diatur
tentang dimungkinkannya penggunaan alternatif penyelesaian sengketa sebagaimana diatur
dalam Pasal 84. Selain penyelesaian gugatan sebagaimana dimaksud dalam Bagian Pertama
Bab ini, para pihak dapat menyelesaikan sengketa melalui Arbitrase atau Alternatif
Penyelesaian Sengketa.

Ketentuan Pidana
UU No.21 Tahun 1961 belum mengatur tentang ketentuan pidana. Baru pada UU
No.19 Tahun 1992 diatur ketentuan pidana dalam BAB XI. Dalam bab ini ada dua jenis
kejahatan dan satu pelanggaran. Kejahatan menggunakan merek yang sama dengan merek
orang lain (pasal 81), dan kejahatan atas merek pada pokoknya milik orang lain (pasal 82).
Sedangkan pelanggarannya adalah memperdagangkan barang atau jasa yang mengguankan
merek hasil kejahatan di atas (pasal 84). Tidak diatur mengenai jenis delik kejahatan, apakah
biasa atau aduan. Dalam UU No.15 Tahun 2001 Menambah jenis tindak pidana: pertama,
tindakan atas penggunaan tanpa hak tanda yang sama pada keseluruhan dengan indikasi-
geografis milik pihak lain. Kedua, kejahatan atas penggunaan tanpa hak tanda yang sama
pada pokoknya dengan indikasi-geografis milik pihak lain. Ketiga, pencantuman asal
sebenarnya pada barang yang merupakan hasil pelanggaran ataupun pencantuman kata yang
menunjukkan bahwa barang tersebut merupakan tiruan dari barang yang terdaftar dan
dilindungi berdasarkan indikasi-geografis. Keempat, barangsiapa yang dengan sengaja dan
tanpa hak menggunakan tanda yang dilindungi berdasarkan indikasi-asal pada barang atau
jasa sehingga dapat memperdaya atau menyesatkan masyarakat mengenai asal barang atau
asal jasa tersebut (Pasal 92). Semua tindak pidana ini adalah delik aduan (Pasal 95).

HAK DESAIN INDUSTRI

Istilah industrial design diatur dalam Pasal 25 dan Pasal 26 TRIPS Agreement.
Dalam UU No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian istilah yang dipakai adalah desain produk
industri. Namun dalam perkembangannya, pada undang-undang terakhir yang mengatur
masalah desain produk industri yakni Undang-Undang No. 31 Tahun 2000 memilih
mengadopsi istilah yang dipakai dalam TRIPS Agreement yakni Undang-Undang tentang
Desain Industri. Kelahiran UU No. 31 Tahun 2000 dilandasi dengan telah diratifikasinya
Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (Agreement Establishing the World
Trade Organization) yang mencakup Persetujuan TRIPs (Agreement on Trade of Intellectual
Property Right) dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1994.

Pemerintah juga ingin mendorong untuk memajukan industry yang mampu bersaing dalam
lingkup perdagangan nasional maupun internasional. Disamping itu, ketentuan desain
industri yang terkandung dalam Pasal 17 Undang-Undang No. 5 Tahun 1984, dianggap
sangat tidak cukup mengatur secara komprehensif. Hal ini dapat dilihat dari konsideran UU
No. 31 Tahun 2000 huruf A dan huruf C maupun ketentuan pasal 56 yang menyatakan
membatalkan Pasal 17 Undang-Undang No. 5 Tahun 1984.
Permohonan perlindungan atas suatu desain produk, dapat dilakukan langsung oleh
pemilik hak atau atau melalui kuasa yang terdaftar kepada direktorat hak kekayaan intelektual
pada Kementerian Hukum dan HAM RI dengan dilampirkan dokumen-dokumen perusahaan
yang masih berlaku (jika diajukan atas nama perusahaan) atau dokumen-dokumen pribadi
jika dilakukan atas nama pribadi pendesain. Syarat dan tata cara pendaftarannya dapat dilihat
di Direktorat Hak Kekayaan Intelektual pada Kementrian hukum dan HAM atau melalui
website resminya www.dgip.go.id Namun sebelum pendaftaran diajukan, ada baiknya
diperhatikan hal-hal yang dapat ditolaknya suatu permohonan, yakni desain tersebut tidak
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum, agama
atau kesusilaan. (Pasal 4 UU Desain Industri).

HAK RAHASIA DAGANG

Berkaitan dengan keikutsertaan Indonesia dalam TRIPs Indonesia harus memenuhi


kewajiban yang tertera dalam perjanjian WTO dan TRIPS yang mengharuskan setiap peserta
dalam WTO, juga menaati dan menerima dalam undang-undang tersendiri di bidang HKI
atau aturan lainnya secara nasional segala ketentuan yang termaktub dalam perjanjian TRIPS
termasuk di dalamnya Rahasia Dagang yang merupakan bagian dari Hak Kekayaan
Intelektual. Di dalam Pasal 39 Persetujuan TRIPs didasarkan untuk menjamin perlindungan
yang efektif untuk mengatasi persaingan curang sebagaimana diatur dalam pasal 10bis Paris
Convention. Untuk itu, Negara-negara anggota WTO wajib memberikan perlindungan
terhadap informasi yang dirahasiakan dan data yang diserahkan kepada pemerintah atau
badan pemerintah.
Dengan Amanat Presiden Nomor R.43/PU/XII/1999 tanggal 8 Desember 1999, oleh
Pemerintah disampaikan Rancangan Undang-Undang tentang Rahasia Dagang kepada Dewan
Perwakilan Rakyat untuk dibicarakan dalam siding Dewan Perwakilan Rakyat guna
mendapatkan persetujuannya. Kemudian pada tanggal 20 Desember 2000 akhirnya disahkan
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang. Pengaturan mengenai
Rahasia Dagang di Indonesia tidak hanya diatur dalam UU No.30 Tahun 2000 namun juga
terdapat pada UU Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat yaitu Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk
mendapatkan informasi kegiatan usaha pesaingnya yang diklasifikasikan sebagai rahasia
perusahaan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.
Dalam Pasal 1 UU Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang memberikan
pengertian rahasia dagang yaitu informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang
teknologi dan/bisnis mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan
dijaga kerahasiaannya oleh pemilik rahasia dagang. Pengertian rahasia dagang dalam Pasal 1
UU No 30 Tahun 2000 mengenai Rahasia Dagang tidak sejelas apabila dibandingkan dengan
pengertian dalam Pasal 757 Restatement of Tort Amerika Serikat. Dalam Pasal 757 secara
limitatif ditegaskan bahwa informasi yang dikategorikan sebagai rahasia dagang adalah
formula, pola, alat/cara kerja atau kumpulan informasi yang digunakan seseorang dalam
bisnis, rumus-rumus untuk campuran kimiawi, suatu proses pada pabrik, pengujian atau
pemeliharaan material, suatu pola untuk mesin atau alat lainnya atau suatu daftar konsumen.
Rahasia dagang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi akibat dari pesatnya
perkembangan teknologi, sehingga terjadi persaingan usaha yang tidak sehat dan sangat ketat
di antara pelaku usaha dalam dunia perdagangan. Apabila tidak dijaga dengan baik maka
informasi rahasia tersebut akan terungkap dan menjadi tidak bernilai lagi. Tidak semua
penemuan atau informasi yang berharga dapat dilindungi dengan ketentuan rahasia dagang.
Dalam Section 7 Article 39 paragrah 2 TRIPs secara tegas menentukan bahwa informasi
rahasia yang dapat dilindungi dengan ketentuan rahasia dagang, haruslah bersifat rahasia atau
memiliki sifat kerahasiaan; mempunyai nilai ekonomi karena kerahasiaannya dan dijaga
kerahasiaannya oleh pihak yang secara hukum memiliki kontrol atas informasi itu. Prinsip-
prinsip perlindungan dalam TRIPs adalah Prinsip kebebasan pengaturan hukum, Prinsip
Standar Minimal, Prinsip National Treatment, Prinsip Most Favoured Na tion Treatment,
Prinsip Sederhana, Cepat dan Murah.

HAK DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU

Sejak tahun 2000 Undang-Undang No. 32 tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak
Sirkuit Terpadu sudah diundangkan oleh Pemeirntah Indonesia sebagai pemenuhan suatu
syarat minimum yang terdapat dalam perjanjian Trade Related Aspects of Intellectual
PropertyRights (TRIPs) yang menghendaki agar setiap negara anggota WTO yang telah
meratifikasi perjanjian tersebut membuat peraturan sendiri. Desain tata letak sirkuit terpadu
diatur dalam Undang-undang No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
(UUDTLST), dan mulai berlaku sejak tanggal 20 Desember 2000.
Penemu desain tata letak sirkuit terpadu disebut pendesain. Pendesain adalah seorang
atau beberapa orang yang menghasilkan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. Hak Desain Tata
Letak Sirkuit Terpadu adalah hak ekslusif yang diberikan oleh negara kepada pendesain atas
hasil kreasinya untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri, atau memberikan
persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakan hak tersebut. Dengan demikian yang
memperoleh hak atas suatu desain selain pendesain adalah yang menerima hak tersebut dari
pendesain. Yang berhak memperoleh hak DTLST adalah pendesain, atau beberapa pendesain
dalam hal bekerja bersama (Pasal 5). Pasal 6 menjelaskan bahwa yang dalam hal hubungan
dinas yaitu pegawai negeri dan instansi terkait adalah instansi yang bersangkutan. Hal ini
dimaksudkan agar suatu desain yang dibuat berdasarkan pesanan , misalnya instansi
pemerintah, tetap dipegang oleh instansinya selaku pemesan, kecuali diperjanjikan lain.
Ketentuan ini tidak mengurangi hak pendesain untuk mengklaim haknya apabila DTLST
digunakan untuk hal-hak di luar hubungan kedinasan tersebut. Bila DTLST dibuat atas
hubungan kerja, yaitu hubungan di lingkungan swasta, atau hubungan individu dengan
pendesain, orang yang membuat adalah pendesain dan pemegang hak, kecuali diperjanjikan
lain.
Obyek DTLST yang dilindungi adalah yang orisinial. Yang dimaksud dengan
orisinal adalah apabila desain tersebut merupakan hasil karya pendesain itu sendiri dan bukan
merupakan tiruan dari hasil karya pendesain lain. Artinya desain tersebut merupakan hasil
karya mandiri pendesain. Dan, pada saat desain itu dibuat bukan merupakan hal yang umum
bagi para pendesain. Selain orisinal desain itu harus mempunyai nilai ekonomis dan dapat
diterapkan dalam dunia industri secara komersial. Perlindungan hak yang diberikan kepada
pendesain Tata Letak Sirkuit Terpadu adalah selama 10 tahun (Pasal 4 ayat 3) dihitung dari
sejak pertama kali desain itu dieksploitasi secara komersial dimanapun sejak tanggal
penerimaan (Pasal 4 Ayat 1). Jangka waktu perlindungan yang singkat karena perkembangan
teknologi yang begitu cepat, sehingga waktu 10 tahun dianggap cukup memadai. Dalam hal
desain telah dieksploitasi secara komersial permohonan harus diajukan paling lambat 2 (dua)
tahun terhitung sejak tanggal dieksploitasi. Jika waktu perlindungan sudah selesai, jangka
waktu tersebut tidak dapat diperpanjang lagi dan konsekuensinya desain tersebut menjadi
milik umum (public domein). Siapa pun boleh mengunakan desain tersebut.
DTLST dilindungi bila didaftarkan. Hal pendaftaran diatur di dalam Pasal 9 sampai
dengan Pasal 28 Undang-Undang No. 32 Tahun 2000 tentang DTLST. Pendaftaran dilakukan
dengan permohonan. Pada prinsipnya permohonan dapat dilakukan sendiri oleh pemohon.
Khusus, untuk pemohon yang bertemnpat tinggal di luar Indonesia, permohonan harus
diajukan melalui kuasa. Hak ini untuk mempermudah pemohon yang bersangkutan, antara
lain mengingat dokumen permohonan seluruhnya menggunakan bahasa Indonesia. Di
samping itu, domisili pemohon harus di Indonesia. Dengan demikian syarat ini dapat diatasi
dengan adanya kuasa hukum dari Indonesia. Permohonan hanya untuk satu desain (Pasal 11).
Pemohon dari luar Indonesia harus mengajukan permohonan melalui kuasa hukumnya dan
memilih domisili hukum di Indonesia.
Pemegang hak DTLST dapat menggugat siapa saja yang dengan sengaja dan tanpa
hak melanggar Pasal 8, yaitu membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor dan atau
mengedarkan barang yang didalamnya terdapat seluruh atau sebagian desain yang telah
diberikan Hak DTLST. Gugatan ditujukan kepada Pengadilan Niaga (Pasal 38). Di samping
itu bisa melalui arbitrase, atau alternatif penyelesaian sengketa (negosiasi, mediasi,
konsiliasi), dan cara lain yang dipilih oleh para pihak. Pelanggaran DTLST selain dapat
digugat secara perdata juga tidak menutup kemungkinan untuk digugat secara pidana. Sanksi
pidana terhadap pelanggaran DTLST menurut Pasal 42 ayat (1) dituntut dengan penjara
paling lama tiga (3) tahun atau denda paling banyak Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah)
Tindak pidana yang diatur dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2000 tentang Desain Tata
Letak Sirkuit Terpadu merupakan delik aduan.