Anda di halaman 1dari 3

PELAYANAN ANTENATAL SESUAI STANDAR

I. LATAR BELAKANG
Untuk meningkatkan status kesehatan ibu, puskesmas dan jaringannya
menyelenggarakan berbagai upaya kesehatan, baik yang bersifat promotif,
preventif, maupun kuratif dan rehabilitatif. Upaya tersebut berupa pelayanan
kesehatan pada ibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan,
penanganan komplikasi, pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.
Setiap ibu hamil diharapkan dapat menjalankan kehamilannya dengan
sehat, bersalin dengan selamat serta melahirkan bayi yang sehat. Namun, ada
beberapa masalah/penyakit yang dapat mempengaruhi kehamilan, pertumbuhan
janin dan bahkan dapat menimbulkan komplikasi kehamilan dan persalinan
yang kelak dapat mengancam kehidupan ibu dan bayi serta mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan janin seperti kurang energi kronis, anemia gizi
besi, kurang yodium, HIV/AIDS, Malaria, TB dan lain sebagainya.
Melihat kenyataan tersebut, maka pelayanan antenatal harus dilaksanakan
secara komprehensif, terpadu dan berkualitas agar adanya masalah/penyakit
tersebut dapat dideteksi dan ditangani secara dini. Melalui pelayanan antenatal
yang terpadu, ibu hamil akan mendapatkan pelayanan yang lebih menyeluruh
dan terpadu, sehingga hak reproduksinya dapat terpenuhi, missed opportunity
dapat dihindari serta pelayanan kesehatan dapat diselenggarakan secara lebih
efektif dan efisien.

II. PERMASALAHAN DI MASYARAKAT


Pelayanan antenatal atau ante natal care (ANC) merupakan jenis pelayanan
kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil selama masa kehamilan.
Peningkatan cakupan mutu pelayanan antenatal, bertujuan untuk menurunkan
risiko kejadian kesakitan dan kematian ibu. Pelaksana pelayanan asuhan
antenatal sebaiknya melibatkan tenaga medis (dokter) dan tenaga paramedis
(bidan, perawat, petugas promosi kesehatan terlatih) sehingga pelaksanaannya
dapat terlaksana sesuai dengan tujuannya.
III. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
Pelayanan ANC merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada
ibu selama kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan ANC yang mencakup
banyak hal, meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik baik umum dan kebidanan,
pemeriksaan laboratorium atas indikasi serta intervensi dasar dan khusus sesuai
dengan resiko yang ada.
Kami para peserta internsip Puskesmas Maniangpajo mengambil inisiatif
untuk berperan secara aktif dalam pelaksanaan Pelayanan ANC, sehingga tujuan
pelaksanaan ANC dapat dicapai secara maksimal.

IV. PELAKSANAAN
Pelaksana pelayanan asuhan antenatal di puskesmas Maniangpajo, terdiri
dari : tenaga medis (dokter) dan tenaga paramedis (bidan, perawat, petugas
promosi kesehatan terlatih). Jenis standar pelayanan ANC yang dilakukan
kepada ibu hamil, antara lain:

1. Pemeriksaan Umum : mendata identitas ibu hamil, menanyakan riwayat


kehamilan sekarang dan riwayat persalinan yang lalu.
2. Pemeriksaan Fisik : pelayanan fisik diagnostik (keadaan umum, kondisi
organ tubuh) dan laboratorium (darah, urine)
3. Pemeriksaan Obstetrik : memeriksa keadaan kehamilan melalui pemeriksaan
luar (tinggi uterus, letak janin, denyut janin) dan pemeriksaan dalam (rongga
panggul)
4. Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid (TT), untuk mencegah terjangkitnya
penyakit tetanus neonatorum (kejang bayi baru lahir)
5. Pemberian Obat-obat : medikasi berbagai jenis obat secara rutin (zat besi,
calcium, multivitamin dan mineral) dan obat khusus (anti parasit cacing
dan malaria)
6. Penyuluhan kesehatan personal : masalah gizi, pemberian ASI, pertolongan
persalinan, pemilihan kontrasepsi, perawatan payudara dan bayi baru lahir.
7. Perencanaan pelayanan saat kunjungan ulang (follow-up)

V. MONITORING DAN EVALUASI


Setelah mengikuti pelayanan ANC di bagian KIA-KB Puskesmas
Maniangpajo, peserta berkesimpulan bahwa seluruh tenaga paramedis (bidan,
perawat, petugas promosi kesehatan terlatih) telah mempunyai kemampuan
untuk melakukan pelayanan ANC standar secara mandiri. Sehingga tidak perlu
lagi didampingi oleh dokter dalam proses pelayanannya.
Namun, perlu diingatkan apabila ternyata dalam pelayanan ANC
ditemukan masalah kesehatan pada ibu hamil, sebaiknya tidak memberikan obat
secara langsung namun dikonsultasikan kembali dengan dokter yang bertugas di
poliklinik.

Peserta Pendamping

dr. Berry Erida Hasbi dr. H. Gusaidi, S.Ked