Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH PRAKTIKUM GEOMORFOLOGI

BENTUK LAHAN ASAL STRUKTURAL


ACARA 4

Dosen pengampu : Sudarno Herlambang, M.Si

Nama : arif darma putra


Nim : 160722614606
Offering : G
Asisten praktikum : Randiki gusti pradana S.Pd, M.Sc

S1 GEOGRAFI
JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2016
TUJUAN

1. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang apa yang dimaksud bentuk lahan structural, faktor-
faktor yang menyebabkan bentuk lahan structural dan proses yang menyebabkan bentuk
lahan structural.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan lipatan dan patahan
serta proses terbentuknya beserta tipe tipe nya.

A. DASAR TEORI

Geomorfologi adalah studi bentuk lahan (landform) (Lobeck, 1939). Menurut Thornbury
(1958) Geomorfologi adalah ilmu pengetahuan tentang bentuk lahan. Cooke(1974)
mengatakan bahwa Geomorfologi adalah studi bentuk lahan dan pemekarannya pada sifat
alamiah asal mula, proses pengembangan dan komposisi materialnya. Van Zuidam (1979)
menyebutkan: Geomorfologi adalah studi bentuk lahan dan proses-proses yang mempengaruhi
pembentukannya dan menyelidiki hubungan antara bentuk dan proses dalam tatanan
keruangannya. Menurut Verstappen (1983) Geomorfologi merupakan ilmu pengetahuan tentang
bentuk lahan pembentuk muka bumi, baik di atas maupun di bawah permukaan air laut, dan
menekankan pada asal mula dan perkembangan di masa mendatang serta konteksnya dengan
lingkungan. Berdasarkan pengertian para ahli diatas dapat didefinisikan bahwa geomorfologi
merupakan suatu cabang ilmu geografi yang khusus mengkaji mengenai bentang lahan dan
proses pembentukan muka bumi.

Bentang lahan merupakan gabungan dari bentuk lahan (landform). Bentuk lahan
merupakan kenampakan tunggal, seperti sebuah bukit atau lembah sungai. Kombinasi dari
kenampakan tersebut membentuk suatu bentang lahan, seperti daerah perbukitan yang baik
bentuk maupun ukurannya bervariasi/berbeda-beda, dengan aliran air sungai di sela-selanya
(Turtle,1975). Sedangkan menurut (Hadisumarno, 1982) mendefinisikan bahwa bentang laan
sendiri merupakan sebagian ruang permukaan bumi yang terdiri atas sistem-sistem, yang
dibentuk oleh interaksi dan interdependensi antara bentuk lahan, batuan, bahan pelapukan
batuan, tanah, air, udara, tetumbuhan, hewan, laut tepi pantai, energi dan manusia dengan segala
aktivitasnya, yang secara keseluruhan membentuk satu kesatuannya.
Menurut Verstappen (1993) klasifikasi bentuk lahan berdasarkan genesisnya terbagi
menjadi 10 macan bentuk lahan asal proses yaitu:

1) Bentuk lahan asal proses vulkanik(V)


2) Bentuk lahan asal proses structural (S)
3) Bentuk lahan asal proses fluvial (F)
4) Bentuk lahan asal proses solusional (S)
5) Bentuk lahan asal proses denudasional (D)
6) Bentuk lahan asal proses eolin (E)
7) Bentuk lahan asal proses marine (M)
8) Bentuk lahan asal proses glasial (G)
9) Bentuk lahan asal proses organic(O)
10) Bentuk lahan asal proses antropogenic (A)

Bentuk lahan yang banyak ditemui di indonesia salah satunya adalah bentuk lahan asal
proses Struktural. Bentuk lahan proses struktural sendiri di sebabkan oleh tenaga endogen baik
tektonisme maupun diastropisme. Dalam prosesnya bentuk lahan struktural menghasilkan
kenampakan berupa patahan maupun lipatan.

B. PEMBAHASAN

Bentuk lahan struktural terbentuk akibat tenaga endogen yang disebut tektonisme dan
diastropisme. Proses tersebut meliputi pengangkatan, penurunan, dan pelipatan kerak bumi
sehingga membentuk struktur geolgi berupa patahan dan lipatan. Bentuk lahan ini sangat
ditentukan oleh tenaga endogen yang menyebabkan terjadinya deformasi pelapisan batuan
dengan menghasilkan struktur lipatan, patahan serta perkembanganya.

Ciri ciri bentuk laan asal struktural adalah:

a. Dip dan strike batuan resisten-non resisten jelas


b. Horizon kunci jelas
c. Terdapat sesar, kekar, rekahan, gawir sesar, sesar bertingkat.
d. Ada materi intrusive: dike, kubah granitik
Tenaga pembentuk bentuk lahan asal proses struktural adalah :

Tektonisme
Keragaman muka bumi pasti dipenaruhi ole adanya gerakan ang terjadi di kerak bumi,
baik getaran orizontal maupun gerakan vertical. Gerakan tersebut mengakibatkan
terjadinya bentuk yang menghasilkan pola baru pada muka bumi yang disebut struktur
diastropik contohnya pelengkungan dan patahan.
Tenaga endogen
Tenaga endogen merupakan tenaga yang berasal dari dalam bumi yang mengakibatkan
perubahan pada muka bumi. Tenaga ini dapat mengubah bentuk bumi yang semula rata
menjadi tidak rata seperti gunung, lembah, bukit.

Bentukan hasil proses struktural yaitu:

A. Patahan (fault)

Patahan (fault) merupakan hasil proses struktural yang terjadi ketika suatu batuan
mengalami retakan terlebih dahulu yang terjadi akibat adanya tekanan dan kekuatan batuan yang
mendapat gaya sehingga timbul adanya retakan (fracture).

Patahan terbentuk akibat adanya tenaga endogen yang mengakibatkan kulit bumi bergetar
mendatar dengan berlawanan arah atau bergerak kebawah atau ke atas, yang sering disebut
kekar, rekaan.

Tipe-tipe patahan adalah sebagai berikut:

1. Dip Slip Fault.

a. Normal Fault.
Patahan normal adalah patahan yang terjadi pada batuan yang salah satu bagiannya
mengalami pergerakan ke bawah terhadap keadaan asalnya. Gerakan patahan ini adalah
disebabkan oleh kekuatan tegang dan mengakibatkan perluasan (ada bidang fault plane). Nama
lain adalah normal-slip fault, patahan gaya berat atau patahan tegang.

b. Reserve Fault.

Pada reserve fault adalah kebalikan dari normal fault. Yaitu arah patahan bagian batuan
adalah naik terhadap keadaan awal batuan. Gerakan patahhan ini disebabkan oleh kekuatan
compresional (tekanan) yang mengakibatkan pemendekan atau penyempitan.

2. Strike Slip Fault.

Patahan Strike Slip ini merupakan patahan yang terjadi pada batuan yang arah
patahannya secara horizontal. Bagian yang bergerak menjauhi bagian kanan bidang dinamanakan
left-fault. Dan sebaliknya apabila bagian yang bergerak menjauhi bagian kiri bidang dinamakan
right-fault. Patahan ini terjadi karena gaya yang mengenai sebuah batuan berasal dari samping
atau gaya melintang.

3. Oblique Slip Fault.

Oblique Slip Fault merupakan kejadian yang merupakan gabungan dari Dip-Slip fault
dan strike-slip fault. Sehingga pergerakan batuan terjadi secara naik atau turun dan juga
mengalami pergerakan secara horisontal ke kanan atau ke kiri. Sehingga pergerakan yang timbul
secara vertikal dan horizontal. Patahan ini disebabkan oleh gaya tekan dari atas atau dari bawah
dan juga gaya samping yang diberikan / dikenakan pada batuan.

B. Lipatan
Lipatan merupakan bentuk muka bumi hasil gerakan atau tekanan yang terjadi secara
mendatar (horizontal) yang menyebabkan lapisan kulit bumi yang elastis menjadi berkerut dan
melipat. Lipatan memiliki 2 bagian yaitu: sinklinal dan anticlinal. Sinklinal merupakan bagian
dari lipatan yang lebih rendah dari daera sekitarnya. Sedangkan anticlinal merupakan bagian dari
lipatan yang lebi tinggi dibandingkan daerah sekitarnya.

Tipe-tipe lipatan adala sebagai berikut:

1. Lipatan tegak (Symmetric Folds)


Lipatan tegak addalah lipatan yang dihasilkan dari kekuatan yang sama yang mendorong
dua sisi dengan seimbang.

2. Lipatan Miring (Asymmetric Folds)


Lipatan miring adalah lipatan yang dihasilkan ketika kekuatan tenaga pendorong di salah
satu sisinya lebih kuat, sehingga akan menghasilkan kenampakan salah satu sisinya lebih curam.

3. Lipatan Rebah (Overturned Folds)


Lipatan rebah adalah lipatan yang arah lipatannya mendatar. Lipatan ini terjadi karena
arah tenaga horizontal hanya dari satu arah.

4. Lipatan Menutup (Recumbent Folds)


Lipatan menutup adalah lipatan yang terbentuk pada saat lipatan yang satu menekan sisi
yang lain dan menyebabkan sumbu lipat hampir datar.

5. Lipatan Sesar Sungkup (Overthrust)


Lipatan sesar sungkup adalah lipatan yang terbentuk ketika tenaga tekan menekan satu
sisi dengan kuat sehingga menyebabkan lipatan menjadi retak
DAFTAR PUSTAKA

F.N. Nurjunita dkk (2009). Bentuk lahan asal struktural.


(https://id.scribd.com/doc/173320757/Bentuk-Lahan-Asal-Struktural)

Mentari. Putri (2012). Bentuk lahan asal struktural.

(https://docs.google.com/document).

http://www.geologinesia.com/2016/02/hubungan-proses-terjadinya-lipatan-dan.html

LAMPIRAN.

JOURNAL REVIEW
Large heterogeneous structure beneath the Atotsugawa Fault,
central
Japan, revealed by seismic refraction and refection experiments
Oleh:
1. Takashi lidaka
2. Eiji kurashimo
3. Takaya iwasaki
4. Ryuta arai
5. Aitaro kato
6. Hiroshi katao
7. Fumihito yamazaki

Institusi
1. Earthquaqe research institute, university of Tokyo, Tokyo, japan
2. JAMSTEC, yokohama, japan
3. Nagoya university, Nagoya, japan
4. DPRI, Kyoto university, uji, japan

ABSTRAK

Konteks : mengidentifikasi dan melakukan penelitian mengenai factor pembentuk patahan


atotsugawa

Metode: metode yang dilakukan dalam penelitian tersebut adalah dengan menggunakan 7
sumber bahan peledak yang diletakkan di 1108 stasiun seismic dan dilakukan selama oktober
2007 di pataan atotsugawa.

Hasil: hasilnya adalah menunjukan bahwa lapisan reflektif merupakan faktor terpenting dalam
pembentukan patahan atotsugawa

Keyword : active fault, crustal structur, seismic refraction study, seismic reflaction profile

I.
Judul : Large heterogeneous structure beneath the Atotsugawa Fault, central
Japan, revealed by seismic refraction and reflection experiments

Penulis : takashi lidaka, eiji kurasimo, takaya iwasaki, ryuta aria, aitaro kato, h
iroshi katao, fumiito yamazaki

Publikasi : science direct

Deskripsi Jurnal
A. Tujuan utama penelitian:
Menetahui proses terjadinya patahan atotsugawa dan juga potensi gempa yang dapat
ditimbulkanya. Dan juga untuk mengetahui keragaman yang ada di bawah patahan
atotsugawa yang dilakukan dengan cara seismic refraction dan reflection experiments
B. Metode Penelitian:
Selain menggunakan penelitian langsung ke lapangan metode yang digunakan yaitu dengan
memasang 7 buah sumber peledak pada 1108 stasiun seismic di patahan atotsugawa
C. Hasil penelitian:
Penelitian tersebut mengasilkan bawa patahan atotsugawa terbentuk akibat refleksi lapisan
dan juga variasi lateral dalam struktur dalam kerak bagian atas mengungkapkan geometri
lapisan sedimen di daratan toyama.
D. Kesimpulan penelitian:
Percobaan penelitian tersebut dilakukan di pataa atotsugawa dengan panjang garis profil 170
km dan orogonal pada patahan atotsugawa. Data menunjukan variasi lateral dalam kecepatan
struktur dalam dan kerak bagian atas mengungkapkan geometri lapisan sedimen terkait
dengan daratan toyama. Lapisan sedimen ini sangat tipis di bagian tengah dari profil. Selain
itu zona reflektif lapisan horizontal diidentifikasi pada kedalaman 15-25 km dibawah patahan
atotsugawa. Selain itu akibat kandungan cairan yang berlimpah di bawah patahan atotsugawa
menjadikan pengurangan kekuatan dari patahan tersebut yang menyebabkan terjadinya
gempa di daera tersebut, dengan demikian sangat disarankan bawa kecepatan lapisan relektif
yang rendah di daerah studi dipengarui pembentukan patahan atotsugawa.

E. Kelebihan dan Kekurangan isi jurnal penelitian;


1. Judul
Untuk masala judul mungkin judul diatas terlalu panjang harusnya dapat lebih
disederhanakan lagi
2. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pengamatan terhadap jurnal diatas mengenai tujuan peneltian suda
digambarkan dengan jelas yaitu mengetahui proses yang menyebabkan patahan
atotsugawa dan resiko gempa yang dapat ditimbulkannya.
3. Metode
Metode yang digunakan menurut saya kurang dijelaskan secara terperinci hanya
disebutkan bahwa penelitian tersebut menggunakan metode sumber ledakan.
4. Hasil dan pembahasan
Hasil dan pembaasan jurnal diatas sangat rinci hal ini dicerminkan dengan data yang
akurat. Serta menjelaskan masalah yang ada dengan baik sehingga menjadikan pembaca
muda untuk memahami isi dari jurnal tersebut.