Anda di halaman 1dari 21

LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PAPAN PARTIKEL (Particel Board) DARI TANDAN


KOSONG SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DENGAN PEREKAT LIKUIDA
KULIT BATANG JAMBU BIJI

OLEH

Loly Adinegara
0612 3040 1066

Palembang, April 2015


Pembimbing I, Pembimbing II,

Ir. Nyayu Zubaidah, M.Si Idha Silviyati, S.T.,M.T


NIP. 195501011988112001 NIP.197507292005012003

Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Kimia

Ir. Robert Junaidi, M.T.


NIP. 196607121993031003

1. JUDUL PENELITIAN
Pembuatan Papan Partikel (Particle Board) dari Tandan Kosong Sawit
(Elaeis guineensis Jacq) dengan Perekat Likuida Kulit Batang Jambu Biji
.
2. PENDAHULUAN
Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang penting di Indonesia
dan memberikan manfaat langsung dan tidak langsung. Kegiatan pemanenan dan
pengolahan tersebut menyebabkan terjadinya limbah pemanenan dan limbah
pengolahan. Limbah kayu dari kedua kegiatan tersebut secara botani umumnya
sama karena sebagian besar pohon yang di panen dikeluarkan dari hutan untuk
diolah. Perbedaannya dalam bentuk, yaitu limbah pemanenan berupa batang,
cabang dan ranting sedangkan limbah pengolahan berupa potongan ujung, tatal,
serbuk, sisa pemotongan dolok, sisa kupasan, sisa sayatan dan sisa pemotongan
produk tergantung macam pengolahannya. Berbagai usaha telah dilakukan untuk
memanfaatkan limbah tersebut, pemanfaatan limbah pengolahan lebih banyak
dilakukan dari pada pemanfaatan limbah pemanenan karena lebih ekonomis.
Pemanfaatan limbah tersebut ada yang untuk bahan bakar, membuat suatu bahan,
mmebuat suatu produk atau dibuang. Pemanfaatannya dapat dilakukan oleh
perusahaan sendiri atau perusahaan lain.
Salah satu alternatif pemanfaatan limbah hasil pemanenan yaitu untuk
menggantinkan partikel kayu adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS).
TKKS merupakan salah satu limbah hasil perkebunan yang ketersediaannya
berlimpah dan belum optimal dimanfaatakan. Uraian diatas menunjukkan bahwa
TKKS memiliki potensi yang sangat besar untuk digunakan dibidang rekayasa,
khususnya sebagai bahan baku pada pembuatan papan partikel, dengan
menggunakan Kulit Batang Jambu Biji sebagai perekat.
Papan partikel umumya berbentuk datar dengan ukuran relatif panjang,
lebar, dan tipis sehingga disebut panel. Menurut Haygreen dan Bowyer (1989)
ukuran ideal untuk papan partikel adalah 0,5 1 in dan tebal tebal 0,010 -0,015 in.
Penggunaan papan partikel dari TKKS lebih sesuai untuk bahan meubel dari pada
bahan untuk bangunan karena keawetannya biasanya ditambahkan bahan
pengawet yang jumlah 0,5 persen dari berat papan partikel. Papan partikel dari
serat TKKS yang dicampurkan dengan perekat kemudian diproses, dimana ukuran
dan kerapatan papan dapat disesuaikan dengan tujuan dan pemakaiannya (Umi
Fathanah 2008).

3. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang tersebut maka permasalahan yang melatar
belakangi penelitian ini adalah mengetahui berapa banyak perekat yang
dibutuhkan untuk mencapai kondisi dimana papan partikel yang dihasilkan sesuai
dengan standar.

4. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah membuat papan partikel dari tandan
kosong sawit dengan perekat kulit batang jambu biji dengan menggunakan hot
press dan juga menentukan kualitas papan partikel yang dihasilkan sesuai dengan
standar.

5. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat penelitian ini adalah
a. Penulis dapat mengaplikasikan proses pembelajaran praktikum teknik
pengolahan limbah dalam pemanfaat limbah pabrik.
b. Mengurangi limbah tandan kosong sawit yang banyak dijumpai.
c. Menjadikan teknologi alternatif dalam menyelesaikan permasalahan
limbah pabrik yang tidak digunakan.
d. Memberikan referensi bagi mahasiswa Teknik Kimia pada khususnya, dan
mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya pada umumnya.

6. TINJAUAN PUSTAKA
6.1. Tandan Kosong Kelapa Sawit
Tanaman sawit menghasilkan tandan buah sawit yang merupakan bahan
baku bagi industri pengolahan pabrik sawit. Pabrik sawit mengolah tandan buah
sawit menjadi produk minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO).
CPO dan PKO merupakan bahan baku industri hilir sawit, industri hilir ini dapat
dikategorikan menjadi 2 jenis yaitu industri pangan yang berupa industri minyak
goreng, dan industri non-pangan yang meliputi industri oleokimia seperti, fatty
acid, fatty alcohol, stearin, glyserin, dan metallic soap.

Gambar I. Limbah Tandan Kosong Sawit


Komposisi kimiawi tandan kosong sawit yang terbesar adalah selulosa di
samping hemiselulosa dan lignin dalam jumlah yang lebih kecil. Komponen
kimiawi TKKS dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel. 1 Komposisi kimiawi tandan kosong kelapa sawit


Komponen Pratiwi et al. (1998) Azemi et al. (1994)
Kadar Abu (%) 6,04 15,00
Selulosa (%) 35,81 40,00
Lignin (%) 15,70 21,00
Hemiselulosa (%) 27,01 24,00
Sumber : Said (1994) diacu dalam Lukman (2008)

6.2. Papan Partikel


Maloney (1993) menyatakan bahwa komposit adalah setiap potongan kayu
kecil dan direkat bersama-sama dengan perekat. Salah satu jenis produk komposit
yang dikenal saat ini adalah papan partikel. Papan partikel merupakan panel kayu
yang terbuat dari partikel-partikel kayu atau bahan berlignoselulosa lainnya yang
diikat dengan perekat sintetis atau bahan pengikat lain dan dikempa panas.
Menurut Rowell (1988), penggunaan bahan baku produk komposit tidak
harus berasal dari bahan baku yang berkualitas tinggi tetapi bahan baku yang
digunakan dapat diperoleh dari limbah seiring dengan timbulnya isu lingkungan,
kelangkaan sumber bahan baku, penggunaan teknologi dan berbagai faktor
lainnya. Bahan baku dengan kualitas yang tinggi maupun rendah tidak menjadi
suatu masalah karena papan partikel dapat dibuat sesuai dengan kerapatan yang
diinginkan.
Berdasarkan kerapatannya, Maloney (1993) membagi papan partikel
menjadi beberapa golongan, yaitu :
a. Papan partikel berkerapatan rendah (low density particle board) yaitu
papan yang mempunyai kerapatan kurang dari 0,4 gr/cm3
b. Papan partikel berkerapatan sedang (medium density particle board), yaitu
papan yang mempunyai kerapatan antara 0,4-08 gr/cm3
c. Papan partikel berkerapatan tinggi (high density particle board), yaitu
papan yang mempunyai kerapatan lebih dari 0,8 gr/cm3
Sedangkan berdasarkan keragaman ukuran partikel yang digunakan, papan
partikel dibedakan menjadi :
1. Papan partikel homogen (single-layer-particle board), tidak memiliki
perbedaan ukuran partikel antara lapisan tengah dengan lapisan
permukaan.
2. Papan partikel berlapis tiga (three-layer-particle-board), partikel pada
lapisan permukaan lebih halus dibandingkan partikel lapisan tengahnya.
3. Papan partikel bertingkat berlapis tiga (graduated-three-layer-particle-
board), memiliki ukuran partikel dan kerapatan yang berbeda antara
lapisan permukaan dengan lapisan tengahnya (Maloney 1993).
Maloney (1993) juga menambahkan bahwa papan partikel memiliki
kelebihan dibandingkan dengan kayu asalnya, anatara lain :
a. Papan patikel bebas dari mata kayu, pecah dan retak.
b. Ukuran dan kerapatan papan partikel dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
c. Tebal dan kerapatannya seragam serta mudah dikerjakan.
d. Mempunyai sifat isotropis.
e. Sifat dan kualitasnya dapat diatur.
Pada dasarnya sifat papan partikel dipengaruhi oleh bahan baku kayu
pembentuknya, jenis perekat, dan formulasi yang digunakan serta proses
pembuatan papan partikel tersebut mulai dari persiapan bahan baku kayu,
pembentukkan partikel, pengeringan partikel, pencampuran perekat dengan
partikel, proses kempa, dan finishingnya.

6.3 Perekat
Perekat (adhesive) adalah suatu zat atau bahan yang memiliki kemampuan
untuk mengikat dua benda melalui ikatan permukaan (Forest Product Society,
1999 dalam Ruhendi et al., 2007). Berdasarkan unsur kimia utama, Blomquist et
al. (1983) dalam Sucipto (2009a) membagi perekat menjadi dua kategori yaitu :
1. Perekat alami
a. Berasal dari tumbuhan, seperti pati, dextrins (turunan pati) dan getah
tumbuh-tumbuhan.
b. Berasal dari protein, seperti kulit, tulang, urat daging, albumin, darah, susu
dan soybean meal (termasuk kacang tanah dan protein nabati seperti biji-
biji pohon dan biji durian).
c. Berasal dari material, seperti aspal, shellac (lak), karet, sodium silikat,
magnesium oksiklirida dan bahan anorganik lainnya.
2. Perekat sintetis
a. Perekat thermoplastis yaitu resin yang akan kembali menjadi lunak ketika
dipanaskan dan mengeras kembali ketika didinginkan. Contohnya
polivinil alkohol (PVA), Polivinil asetat (PVAc), kopolimer, ester dan eter
selulosa, poliamida, polistirena, polvinil butiral, dan polivinil formal.
b. Perekat thermoset yaitu resin yang mengalami atau telah mengalami reaksi
kimia dari pemanasan, katalis, sinar ultraviolet, dan tidak dapat kembali ke
bentuk semula. Cotohnya urea, melamin, phenol, resorsinol, furfuril
alkohol, epoksi, poliurethan, poliester tidak jenuh. Urea, melamin, phenol
dan resorsinol akan menjadi perekat setelah direasikan dengan
formaldehida (HCHO)
c. Synthetic elastomers adalah perekat yang pada suhu kamar bisa
direngangkan seperti neoprena, notril dan polisulfida

6.4 Perekat Likuida


Salah satu teknologi pembuatan perekat dengan memanfaatkan sumber
daya alam adalah teknologi yang telah dikembangkan oleh Pu et al. (1991), yaitu
dengan mengkonversi serbuk kayu dengan proses kimia sederhana yang disebut
proses likuifikasi. Perekat alternatif ini dapat mengatasi kebutuhan perekat yang
akan semakin meningkat saat ini, selain itu juga dapat mengurangi biaya produksi,
karena perekat sintetis saat ini relatif mahal (Risnasari, 2008).
Menurut Tano (1997), keadaan suatu perekat ditentukan oleh metode
aplikasinya. Perekat cair pada umumnya lebih mudah dipergunakan, secara
mekanis penyebarannya pada permukaan benda yang halus dan rata akan tercapai,
sedangkan untuk permukaan yang tak rata sebaiknya memakai sapuan (kuas) atau
semprot (spray).
Kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku perekat likuida
melalui proses likuifikasi karena mengandung bahan lignoselulosa. Menurut
Yoshioka et al. (1992), likuifikasi lignoselulosa adalah suatu prosedur untuk
memproduksi minyak dari biomass dalam kondisi konversi terntentu. Likuifikasi
lignoselulosa juga dapat dilakukan pada suhu 240~2700C tanpa katalis, 80~1500C
dengan katalis asam, bahkan pada suhu ruang (kayu termodifikasi kimia).

6.5 Kulit Batang Jambu Biji


Diantara berbagai jenis buah, jambu biji mengandung vitamin C yang
paling tinggi dan cukup mengandung vitamin A. Dibandingkan buah-buahan
lainnya seperti jeruk manis yang mempunyai kandungan vitamin C mg/100 gram
bahan, kandungan vitamin C jambu biji 2 kali lipat. Jambu biji juga mengandung
tanin yang menimbulkan rasa sepat pada buah tetapi juga berfungsi memperlancar
sistem pencernaan, sirkulasi darah, dan berguna untuk menyerang virus.
Buah, daun, dan kulit batang pohon jambu biji mengandung tanin, sedang
pada bunganya tidak mengandung banyak tanin. Daun jambu biji juga
mengandung zat lain kecuali tanin, seperti minyak atsiri, asam ursolat, asam
psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajaverin dan vitamin
(IPTEKnet, 10 Januari, 2015).

7. METODOLOGI PENELITIAN
7.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknik Hidrokarbon Jurusan Teknik
Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang. Waktu penelitian berlangsung
selama 1 bulan yang mulai dari bulan Maret - April 2015.

7.2. Alat dan Bahan


7.2.1. Alat yang digunakan
Peralatan yang digunakan untuk pembuatan particle board dengan perekat
kulit batang jambu biji adalah alat press panas (hot presser), wajan, pipet ukur,
bola karet, botol aquades, hot plate, oven, batang pengaduk, kertas pH, cetakan,
saringan, neraca analitik, desikator, dan kompor gas.

7.2.2. Bahan yang digunakan


Bahan yang digunakan untuk pembuatan particle board dengan perekat kulit
batang jambu biji adalah tandan kosong sawit, kulit batang jambu biji, phenol
kristal, formalin, air bersih, NaOH dan H2SO4.

7.3. Variabel yang dicoba


7.3.1. Variabel tetap
Variabel tetap yang diambil selama proses penelitian berlangsung adalah
suhu dan tekanan pada saat pengempaan, ukuran partikel papan, serta metode
pengujian papan dari standar yang ditentukan.

7.3.2. Variabel berubah


Variabel berubah yang diambil selama proses penelitian berlangsung adalah
komposisi perekat yang digunakan, TKS yang direbus dan TKS tanpa perebusan.

7.4. Pembuatan Perekat


a. Pembuatan Partikel Kulit Batang Jambu Biji
1. Kulit Batang jambu biji dicacah menjadi serpihan kecil menggunakan
pisau
2. Serpihan kulit batang jambu biji lalu dikeringkan dengan cara dijemur dan
dikeringkan dalam oven sampai kadar air sekitar 15%
3. Serpihan kulit batang jambu biji digiling dengan menggunakan blender,
lalu disaring sampai diperoleh serbuk.
4. Partikel berupa serbuk kulit batang jambu biji disimpan di tempat yamg
sejuk dan kering
5. Partikel kulit batang jambu biji diberi perlakuan perendaman dalam air
panas diatas penangas pada suhu 80~900C selama 3 jam untuk
menurunkan kadar ekstraktifnya. Perbandingan serbuk batang jambu biji :
air adalah 1:15
6. Setelah perlakuan perendaman, serbuk tersebut dikeringkan dalam oven
sampai kadar air sekitar 5% dan disimpan dalam kantong plastik yang
tertutup rapat.

b. Pembuatan Perekat Likuida


Pembuatan perekat likuida batang jambu biji mengacu kepada metode
yang digunakan Marcelila Medynda (2012) yaitu :
1. Serbuk kulit batang jambu biji sebanyak 100 g berukuran 20~40 mesh
dengan kadar air sekitar 5% dimasukkan kedalam gelas piala
2. Tambahkan larutan H2SO4 98% sebanyak 25 ml (5% dari berat phenol)
dan diaduk sampai rata sekitar 30 menit. Gelas piala ditutup rapat dan
didiamkan selama 24 jam
3. Phenol kristal dipanaskan dalam penangas air pada suhu 600C agar
berubah menjadi larutan. Larutan phenol sebanyak 500 ml (lima kali berat
serbuk kulit batang jambu biji) dimasukkan kedalam gelas piala yang
sudah berisi serbuk kulit batang jambu biji dan larutan H 2SO4 98%. Ketiga
bahan tersebut diaduk dalam gelas piala sampai larutan menjadi homogen
4. Selanjutnya tambahkan NaOH 50% sambil diaduk sampai mencapai pH 11
5. Larutan formaldehida 37% (formalin) ditambahkan dengan perbandingan
molar phenol : formalin adalah 1:1,2. Larutan diaduk sampai homogen
6. Larutan disaring menggunakan kertas saring
7. Panaskan larutan yang sudah disaring dalam penangas air pada suhu 90 0C
selama 2 jam sambil diaduk sampai larutan menjadi homogen. Lalu,
perekat disimpan dalam botol kaca.

7.5. Prosedur Penelitian Perebusan dan Tanpa Perebusan


1. Penyiapan Bahan Baku
Persiapan bahan yang dilakukan adalah dengan memilih tandan kosong
sawit hasil samping dari PT. Hindoli Cargill, tandan kosong sawit dipotong
menjadi ukuran kecil-kecil. Lalu bersihkan/cuci serbuk sawit untuk
menghilangkan kotoran-kotoran yang terdapat pada serbuk sawit. Tiriskan
serbuk sawit yang telah bersih, rebus serbuk sawit yang telah dibersihkan
dilakukan pada temperatur 1000C. Waktu perebusan yang digunakan yaitu 30
menit, dimana bahan dimasukkan ketika air di panci telah mendidih
(temperatur 1000C). (Eka Nurtfitriani, 2010). Keringkan/oven serbuk sawit
yang telah bersih hingga kadar air maksimal 10%

2. Pencampuran (blending)
Target kerapatan 0,7 g/cm3 dengan ukuran papannya adalah 30 cm x 30
cm x 1 cm. Bahan baku berupa serbuk tandan kelapa sawit yang didapat
dicampur dengan perekat likuida dengan perbandingan perekat adalah 5%,
10%, 15%, 20%, 25% dari berat bahan. Pencampuran serbuk dengan perekat
dilakukan dengan cara disemprotkan sampai campuran merata.

3. Pembentukkan Lembaran (mat forming)


Serbuk yang telah dicampur dengan perekat dimasukkan ke dalam
cetakan lembaran. Pembentukan lembaran dilakukan dengan menggunakan
alat pencetak lembaran dengan ukuran 30 cm x 30 cm x 1 cm yang telah
dilapisi dengan aluminium foil, lalu disusun supaya adonan padat. Tujuan dari
pembentukkan lembaran untuk memberikan bentuk lembaran yang seragam
mungkin sehingga dapat dihasilkan lembaran yang seragam.

4. Pengempaan (hot pressing)


Pengempaan dilakukan dengan menggunakan alat kempa panas (hot
press) dengan suhu kempa 1400C dan tekanan 25 kgf/cm2 selama 15 menit.

5. Pengkondisian (conditioning)
Papan yang baru dibentuk biasanya didinginkan terlebih dahulu
sebelum ditumpuk. Penumpukan papan partikel pada kondisi panas akan
menghambat proses pendinginannya dan memberikan efek negatif terhadap
papan itu sendiri, seperti pewarnaan, terlepasnya partikel-partikel lapisan
permukaan pada menurunkan kekuatan. Pengkondisian dilakukan untuk
menyeragamkan kadar air dan menghilangkan tegangan sisa yang terbentuk
selama proses pengempaan panas selama 7 hari pada suhu kamar. Selain itu
pengkondisian dimaksudkan agar kadar air papan komposit mencapai
kesetimbangan.

7.6. Analisa Particle Board


Analisa produk ini dilakukan untuk mengetahui standar mutu dari produk
particle board yang dihasilkan. Jenis analisa komposit yang akan dilakukan pada
penelitian ini adalah :

7.6.1. Pengujian Sifat Fisis Papan Partikel


7.6.1.1 Pengujian Kadar Air
Kadar air papan partikel dihitung dari berat awal dan berat akhir setelah
mengalami pengeringan oven sampai didapat berat konstan pada suhu 100 0C.
Nilai air dihitung menggunakan rumus :
BKU BKT
KA = x 100
BKT
Keterangan :
KA = Kadar air (%)
BK = Berat kering udara (g)
U
BKT = Berat Kering tanur (g)

7.6.1.2 Pengujian Daya Serap Air


Daya serap air papan partikel dihitung berdasarkan berat sebelum dan
sesudah perendaman dalam air selama 24 jam. Nilai daya serap air dihitung
menggunakan rumus :
D 2D 1
DSA = x 100
D1
Keterangan :
DSA = Daya serap air (%)
D1 = Berat Awal (g)
D2 = Berat setelah perendaman (g)

7.6.1.3 Pengujian Pengembangan Tebal


Pengembangan tebal didasarkan atas tebal sebelum dan sesudah
perendaman air selama 24 jam. Nilai pengembangan tebal dihitung menggunakan
rumus :
T 2T 1
PT = x 100
T1
Keterangan :
PT = Pengembangan tebal (%)
T1 = Tebal awal (cm)
T2 = Tebal setelah perendaman (cm)

7.6.1.4 Pengujian Kerapatan


Kerapatan papan partikel dihitung berdasarkan berat dan volume kering
udara. Volume contoh uji tersebut dengan menggunakan :
V=PxLxT
Dimana :
V = volume contoh uji (cm3)
P = panjang contoh uji (cm)
L = Lebar contoh uji (cm)
T = Tebal contoh uji (cm)
Kerapatan papan dihitung dengan menggunakan rumus :
m
=
v
Keterangan :
= kerapatan (g/cm3)
M = massa (g)
V = volume (cm3)

7.6.2 Pengujian Sifat Mekanis Papan Partikel


7.6.2.1 Pengujian Modulus Lentur (Modulus of Elasticity, MOE)
Pengujian dilakukan menggunakan alat uji mekanis. Contoh uji dalam
kondisi kering udara dibentangkan dengan jarak sangga 15 kali tebal nominal
tetapi tidak kurang dari 7,5 cm, kemudian pembebanan dilakukan ditengah-tengah
jarak sangga. Nilai MOE dihitung menggunakan rumus :
PL3
MOE = 3
4 ybh
Keterangan :
MOE = Modulus of Elasticity (kg/cm2)
P = Perubahan beban yang digunakan (kg)
L = Jarak penyangga (cm)
y = Perubahan defleksi setiap perubahan beban (cm)
B = Lebar contoh uji (cm)
H = Tebal contoh uji (cm)

7.6.2.2 Penentuan Modulus Patah (Modulus of Rupture, MOR)


Pengujian modulus patah menggunakan contoh uji yang sama dengan
contoh uji modulus lentur. Nilai MOR dapat dihitung menggunakan rumus :
MOR=3 PL
2
2 bh
Keterangan :
MOR = Modulus of Rupture (kg/cm2)
P = Berat beban sampai patah (kg)
L = Panjang bentang (cm)
B = Lebar contoh uji (cm), h = tebal contoh uji (cm)

3.7. DIAGRAM ALIR PEMBUATAN PEREKAT LIKUIDA

Kulit Batang Jambu Biji

Dicacah, digiling, disaring dan


dikeringkan

Partikel serbuk kulit batang


jambu biji

Perendaman dalam air panas


suhu 80-900C, 3 jam
Partikel serbuk kulit batang
jambu biji dengan kadar
ekstraktif rendah

Bahan perekat likuida

Likuifikasi dengan phenol,


formaldehid dan H2SO4 pada
900C, 2 jam

Perekat likuida batang jambu


biji

3.8. DIAGRAM ALIR PEMBUATAN PAPAN PARTIKEL

Tandan Kosong Sawit Dicacah

Didihkan Non-Didih
Air selama 30menit

Dikeringkan/ditiriskan dibawah
ditiriskan
sinar matahari/dioven
Penurunan kadar air

Perekat Likuida Pencampuran partikel dan perekat


dengan perbandingan 10%, 15%, 20%,
25%, dan 30%. Dicampur merata

Pembentukan lembaran papan (mat


forming)
Diaduk secara merata
Pengempaan (hot pressing) dengan
tekanan tekanan 16 Mpa dengan suhu
1500C

Pengkondisian (conditioning)

Pemotongan contoh uji

Analisa Komposit

Pengujian Sifat Fisis Pengujian Sifat Mekanis


Papan Partikel Papan Partikel

10. DATA PENGAMATAN


Kualitas papan partikel dengan perebusan
Sifat Fisis Sifat Mekanis
Kadar Perekat Kerapatan Kadar Daya Pengemban MOE MOR
Likuida (g/cm3) Air Serap gan Tebal (kg/cm2) (kg/cm2)
(%) Air (%)
(%)
Perekat 5%
Perekat 10%

Perekat 15%

Perekat 20%

Perekat 25%

Rata-rata

Kualitas papan partikel dengan tanpa perebusan


Sifat Fisis Sifat Mekanis
Kadar Perekat Kerapatan Kadar Daya Pengemban MOE MOR
Likuida (g/cm3) Air Serap gan Tebal (kg/cm2) (kg/cm2)
(%) Air (%)
(%)
Perekat 5%
Perekat 10%

Perekat 15%

Perekat 20%

Perekat 25%

Rata-rata
12. ESTIMASI BIAYA
No Jenis Pengeluaran Biaya
1 Penyewaan Laboratorium Rp 250.000
2 Biaya Teknisi Rp 250.000
3 Bahan Kimia Rp 1.000.000
4 Pembelian kertas A4 70 gram 2 Rp 60.000
rim
5 Pembelian CD 6 buah Rp 36.000
6 Penjilidan laporan akhir Rp 150.000
7 Penggandaan laporan akhir Rp 100.000
8 Pembelian tinta printer 4 botol Rp 100.000
9 Biaya lain-lain Rp 200.000
Jumla Rp 2.146.000
h
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Dora Malfi. 2012. Pemanfaatan Limbah Tandan Kosong Sawit
(Elaeis guineensis Jacq.) Untuk Papan Partikel pada Berbagai
Kadar Perekat Likuida Dengan Fortifikasi Melamin Formaldehyde.
(online). digilib.ipb.ac.id/../.Diunduh tanggal 27 Januari 2015.
Nurfitriani, Eka. 2013. Karakteristik Paticle Board Tanpa Perekat Sintetis dari
Sabut Limbah Industri Kelapa Sawit dengan Variasi Waktu
Pengepresan.(online). digilib.polsri.ac.id/../. Diunduh tanggal 26
Januari 2015.
Sofyana, Umi Fathanah. Pembuatan Papan Partikel (Particle Board) dari
Tandan Kosong Sawit dengan Perekat Kulit Akasia dan Gambir.
(online). uilis.unsyiah.ac.id/../. Diunduh tanggal 22 Januari 2015.
Sucipto, T. 2009a. Perekat Lignin. Karya Tulis. Fakultas Pertanian.
Universitas Sumatera Utara. Medan.
Sucipto, T. 2009b. Karateristik Partikel dan Likuida Tandan Kosong Sawit.
Tesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Medynda, Marcelila. Pengembangan Perekat Likuida dari Limbah Kulit Buah
Kakao (Theobroma cacao L.).(online).
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/34183. Diunduh
tanggal 29 Januari 2015
Haygreen JG, JL. Bowyer. 1989. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu : Suatu
Pengantar. Penerjemmah : Dr. Ir. Sujipto A. Hadikusumo. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta
Heyne (1987) Tumbuhan berguna Indonesia, Badan Litbang Kehutanan,
Jakarta.
Trisna, Noni Ika. Pemanfaatan Kulit Batang Jambu Biji (Psidium guajava)
untuk Meyerap Logam Krom pada Air Limbah Industri Pelapisan
Logam.(online).http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/34448
diunduh tanggal 10 Febuari 2015.
Anonim. https://www.academia.edu/7268353/Makalah_Farmakognosi_-
_Tanin diakses tanggal 4 Febuari 2015
Nababan, Riris Astrida. Pengaruh Suhu dan Waktu Pengempaan Terhadap
Sifat Fisis dan Mekanis Papan Partikel dari Limbah Batang Kelapa
Sawit dengan Perekat Urea Formaldehida.(online).
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/39433. diakses tanggal 4
Febuari 2015.
Asmani, Najib. Kelapa Sawit Komoditas Unggulan Sumatera Selatan yang
Ramah Lingkungan.(online) https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=
0CCcQFjAC&url=http%3A%2F%2Feprints.unsri.ac.id
%2F4594%2F1%2FNajibAsmani_6_Kelapa_Sawit_Komoditas_Ungg
ulan_Sumatera_Selatan_yang_Ramah_Lingkungan.pdf&ei=LrMTVdz
lFtCPuAScsoLgCQ&usg=AFQjCNGq9eOavZmjdpXVQ8Wbp9IMG
pLwmQ&sig2=5onsF2qqxS4Ke0dKVxpB1Q&bvm=bv.89217033,d.c
2E diunduh tanggal 26 Maret 2015
Sucipto, Tito. Metode Likuifikasi Kayu. (online)
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/1046 diunduh tanggal 29
Januari 2015
Bethnova, Laura Silalahi. Perekat Likuida dari Limbah Sabut Pinang (Areca
catechu LINN).
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31218/3/Chapter
%20II.pdf diunduh tanggal 29 Januari 2015
Rahayu, Uli Cynthia Siregar. iKualitas Perekat Tanin dari Beberapa Kulit
Kayu Mangrove. http:// (cari). Diunduh tanggal 16 April 2015
Lestari, Sri. Pengaruh Berat dan Waktu Kontak untuk Adsorpsi Timbal(II)
oleh Adsorben dari Kulit Batang Jambu Biji (Psidium guajava L.).
http://fmipa.unmul.ac.id/pdf/176 diakses 25 Febuari 2015
Danarto, YC dkk. Pemanfaatan Tanin dari Kulit Kayu Bakau sebagai
Pengganti Gugus Fenol pada Reesin Fenol Formaldehide. Diunduh
Tanggal 16 April 2015
Nurani, Lis. Pembuatan Papan Serat dari Batang Pisang Dengan Penambahan
Urea Formaldehyde Sebagai Perekat. http://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=8&cad=rja&uact=8&ved=
0CEkQFjAH&url=http%3A%2F%2Fpustekolah.org%2Findex.php
%2Fgetdown%2Fposting
%2F122&ei=A5fRVNzVKc3q8AXLiIBQ&usg=AFQjCNE2L0O-
4M9Prsnqe-
WTMiD00MvhJQ&sig2=dRncqoA8oTt_03GBapS5cA&bvm=bv.850
76809,d.dGc. Diunduh tanggal 4 Februari 2015