Anda di halaman 1dari 12

KONTRAKSI OTOT JANTUNG

UntukMemenuhiTugas Mata Kuliah


Fisiologi Hewan dan Manusia
Yangdibimbingoleh Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si danNuningWulandari, S.Si, M.Si

Oleh :
Offering G / Kelompok 5
1. FerniLiaAgustina (150342601904)
2. MaghfirohGesty M (150342600207)
3. Muhammad Nurhasan (150342605661)
4. NurQomariyah. (150342600324)
5. RaudhaturFatiha (150342600342)
6. StefanusNahas (120342410319)
7. TitaPutriMilasari (150342601163)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Oktober2016

KONTRAKSI OTOT JANTUNG


A. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk :
1. Melihat sifat otomatis dan ritmis dari tiap-tiap bagian jantung
2. Memahami peran sinus venosus pada kontraksi otot jantung
3. Mengamati pengaruh beberapa faktor ekstrinsik terhadap aktivitas
jantung
B. Dasar Teori

Sistem kardiovaskular terdiri dari jantung sebagai pemompa dan


pembuluh darah sebagai saluran. Darah dipompakan oleh jantung ke
dalam pembuluh darah dan akan disebarkan ke seluruh tubuh dan
kemudian kembali lagi ke jantung sebagai suatu sirkulasi .Otot jantung
berbeda dari otot kerangka dalam hal struktur dan fungsinya.Untuk
berkontraksi otot jantung tidak memerlukan stimulus sebab otot
jantung memiliki sifat otomatis.Pada sel otot jantung dapat terjadi
peristiwa depolarisasi secara spontan tanpa ada stimulus.Selain itu
otot jantung juga memiliki sifat ritmis, peristiwa depolarisasi dan
repolarisasi berjalan menurut irama tertentu.Jantung berongga
ditemukan pada vertebrata.Jantung ini merupakan organ berotot yang
mampu mendorong darah ke berbagai bagian tubuh.Jantung
bertanggung jawab untuk mempertahankan aliran darah dengan
bantuan sejumlah klep yang melengkapinya.Untuk menjamin
kelangsungan sirkulasi, jantung berkontraksi secara periodik.Apabila
cairan tubuh berhenti bersirkulasi maka hewan mati (Isnaeni, 2006).
Jantung terdiri dari empat ruang yaitu dua atrium tipis dan dua
ventrikel muskularis.Atrium terpisah dari ventrikel oleh selapis jaringan
ikat fibrosa (annulus fibrosus) yang menyediakan rangka bagi
melekatnya otot dan insersi katup-katup jantung.Annulus fibrosus juga
mencegah konduksi listrik antara atrium dan ventrikel, kecuali di nodus
atrioventrikular (nodus AV).Dinding jantung terbentuk dari
miokardium.Karena sirkulasi sistemik memiliki resistensi terhadap
aliran 10-15 kali lipat lebih besar daripada resistensi sirkulasi
pulmonalis, maka ventrikel kiri harus lebih kuat dan lebih berotot
daripada ventrikel kanan.Permukaan dalam jantung dilapisi selaput
tipis sel yang disebut endokardium, yang serupa dengan sel endotel
pembuluh darah.Lapisan ini menyediakan permukaan
antitrombogenik.Permukaan luar jantung dilapisi oleh epikardium,
selapis sel mesotelial.Seluruh jantung ditutup oleh selubung tipis
(perikardium) yang berisi cairan interstisial sebagai pelumas yang
melindungi jantung dari kerusakan akibat gesekan dan mencegah
pembesaran yang berlebihan (Ville, 1998).
Otot jantung (cardiacmuscle) vertebrata hanya ditemukan pada
satu tempat yakni jantung.Seperti otot rangka, otot jantung
berlurik.Perbedaan utama antara otot rangka dan otot jantung adalah
dalam sifat membran dan listriknya.Sel-sel otot jantung mempunyai
daerah khusus yang disebut cakram berinterkalar (intercalateddisc),
dimana persambungan longgar memberikan pengkopelan listrik
langsung di antara sel-sel otot jantung. Dengan demikian suatu
potensial aksi yang dibangkitkan pasa satu bagian jantung akan
menyebar keseluruh sel otot jantung. Dengan demikian, suatu
potensial aksi yang dibangkitkan pada satu bagian jantung akan
menyebar ke seluruh sel otot jantung. Dan jantung akan berkontraksi.
Sel-sel otot jantung tidak akan berkontraksi kecuali dipicu oleh inpu
neuron motoris yang mengontrolnya. Akan tetapi, sel-sel otot jantung
dapat membangkitkan potensial aksinya sendiri, tanpa suatu input
apapun dari sistem saraf. Membran plasma otot jantung mempunyai
ciri pacu jantung yang menyebabkan depolarisasi berirama, yang
memicu potensial aksi dan menyebabkan sel otot jantung tunggal
untuk berdenyut bahkan ketika diisolasi daari jantung dan ditempatkan
dalam biakan sel. Potensial aksi sel otot jantung berbeda dari potensial
aksi sel otot rangka, yang bertahan sampai dua puluh kali lebih lama.
Potensial aksi sel otot rangka hanya berfungsi sebagai pemicu
kontraksi dan tidak menguntrol durasi kontraksi tersebut.Pada sel
jantung durasi potensial aksi memainkan peranan penting dalam
pengontrolan durasi kontraksi (Campbell, 2004).
frekuensi kerja denyut jantung itu dasarnya ditentukan oleh
frekuensi aliran darah yang masuk dalam jantung yang berasal dari
vena yang mana kondisinya berbanding lurus dan juga faktor faktor
luar. Monitoring denyut jantung dapat dilakukan menggunakan teknik
langsung (direct) ataupun tidak langsung (indirect).Secara langsung
dilakukan dengan mensensor pada jantung itu sendiri.Sedangkan
secara tidak langsung dengan memanfaatkan pembuluh darah, yaitu
dengan melakukan sadapan atau sensor pada aliran darah tersebut.
Frekuensi atau irama kerja jantung dibagi dalam 3 kondisi, yaitu
takikardia berarti denyut jantung yang cepat lebih dari 100 kali/menit,
bradikardia berarti denyut jantung yang lambat kurang dari 60
kali/menit dan normal berarti denyut jantung diantara 60 100
kali/menit. (Erliyanto, 2008)
Jantung katak berbeda dengan jantung manusia.Jantung katak
maupun mamalia mempunya centrum automasi sendiri artinya tetap
berdenyut meskipun telah diputuskan hubungannya dengan susunan
syaraf atau di keluarkan dari tubuh.Secara anatomis jantung katak
terbagi menjadi tiga ruang yaitu sinus venosus, dua atrium dan satu
ventrikel.Sinus venosus adalah ruangan sekitar jantung.Melalui
pengamatan darah mengalir melalui sinus venosus kemudian darah
mengalir ke atrium dan mengisi ruang ventrikel sebelum darah
dipompa kembali oleh otot- otot di ventrikel keseluruh tubuh.Darah
vena dari seluruh tubuh mengalir masuk ke sinus venosus dan
kemudian mengalir menuju ke atrium.Dari atrium, darah mengalir ke
ventrikel yang kemudian di pompa keluar melalui arteri pulmonalis.
Secara garis besar peredaran darah katak sama seperti peredaran
darah manusia namun saat darah dialirkan kembali melalui vena darah
terlebih dahulu mengisi sinus venosus. Jantung katak memiliki respon
yang kurang lebih sama dengan jantung manusia, contohnya denyut
jantung akan meningkat saat panas dan melambat saat dingin,
kerjanya dapat dipengaruhi oleh hormone, dan memiliki band
moderator (Isnaeni, 2006).
Kontraksi atrium terjadi hampir bersamaan dengan relaksasi
ventrikel, walaupun pada saat ventrikel relaksasi, atrium berkontraksi
namun besarnya tekanan kedua ruangan ini hampir sama. Sedangkan
pada saat atrium relaksasi juga tak tampak karena tertutup oleh
besarnya tekanan pada ventrikel yang sedang berkontraksi, dimana
proses berkontraksi dan relaksasi (systole dan diastole) dari atrium
maupun ventrikel pada keadaan normal akan terjadi terus menerus.
Kontraksi jantung tidak semata-mata tergantung dari impuls yang di
hantarkan oleh syaraf.Jantung mempunyai kemampuan untuk self
excitation sehingga dapat berkontraksi secara otomatis walaupun telah
di lepas dari tubuh dan semua syaraf menuju jantung telah di potong
(Supripto, 1998).
Jantung mengandung serat-serat jantung yang termodifikasi
yang berfungsi untuk mengkoordinasikan detak jantung dengan
mengatur waktukontraksi dari atrium dan ventrikel, secara normal
berawal pada nodus sinoatrium (SA) yang berlokasi dalam atrium
kanan pada pintu masuk vena kava superior. Berawal dari nodus
sino atrium sampai nodus antrio ventrikulum, terletak di bagian
belakang septum inter ventrikulum dan mulai dari titik ini, seberkas
sel-selotot jantung yang termodifikasi (serat-serat purkinje)
bercabang dua dan cabangyang terpisah berjalan melalui jaringan
subendokardial dari ventrikel kanan dankiri. Sel-sel dalam dua daerah
nodus itu berbentuk spul, sel-sel yang sangat bercabang yang
dipisahkan satu sama lain oleh sedikit jaringan penyambung
(Guyton,1995).

C. Alat dan Bahan


Alat :
1. Papan alat seksi
2. Cawan petri
3. Pipet tetes
4. Lup / Kaca pembesar
5. Kait logam / peniti
6. Benang
7. Jarum pentul
Bahan :
1. Katak
2. Larutan ringer
3. Asetilkolin (1/5000) 2 %
4. Adrenalin 1%
5. KCl 0,9 %
6. CaCl2 1 %
7. NaCl 0,7 %
D. Cara Kerja
1. Sifat otomatis dan Ritmis Jantung

Katak

Dirusak otaknya dengan metode single pitch

Dibuka rongga dadanya

Dibuka perikardium dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi secara 2 kali

Dipisahkan jantung dari tubuh dan diletakkan dalam cawan petri yang berisi larutan
ringer

Dihitung dan diamati apakah denyut jantungnya dan diulangi 2 kali

Dipisahkan sinus venosus dari jantung dan di rendam dengan menggunakan larutan ringer

Diamati dan dihitung denyut jantungnya per menit. Bila tidak berdenyut, pelan-pelan
sentuh dengan batang gelas

Didapati jantung tanpa sinus venosus dan direndam dengan larutan ringer

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit

Dipisahkan antara atrium dan ventrikel dan direndam dengan larutan ringer

Diamati masing-masing bagian dan dihitung denyut jantungnya per menit

Hasil

2. Pengaruh Faktor Fisik dan Kimia terhadap Aktivitas Jantung

Katak
Dirusak otaknya dengan metode single pitch

Dibuka rongga dan perikardium sehingga jantung terlihat jelas dan dihitung denyut
jantung per menit di ulangi sebanyak 2 kali

Dipisahkan jantung dari tubuh dan diletakkan dalam cawan petri yang berisi larutan ringer

Dihitung dan diamati apakah denyut jantungnya dan diulangi 2 kali

Dipisahkan jantung dari tubuh dan diletakkan di atas cawan petri yang berisi larutan
ringer 5 C

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Dibuang larutan tersebut menggunakan pipet larutan

Dibasuh jantung tersebut dengan menggunakan larutan ringer

Diletakkan di kaca arloji yang telah berisi larutan ringer normal

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Diletakkan jantung di atas kaca arloji yang berisi larutan ringer 40 C

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Dibuang larutan tersebut menggunakan pipet larutan

Dibasuh jantung tersebut dengan menggunakan larutan ringer

Diletakkan di kaca arloji yang telah berisi larutan ringer normal

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Diletakkan jantung di kaca arloji yang berisi larutan asetilkolin


Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Dibuang larutan tersebut menggunakan pipet larutan

Dibasuh jantung tersebut dengan menggunakan larutan ringer

Diletakkan di kaca arloji yang telah berisi larutan ringer normal

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Diletakkan jantung di kaca arloji yang berisi larutan adrenalin

Diamati dan diihitung denyut jantung per menit diulangi 2 kali

Dibuang larutan tersebut menggunakan pipet larutan

Dibasuh jantung tersebut dengan menggunakan larutan ringer

Diletakkan di kaca arloji yang telah berisi larutan ringer normal


Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Hasil

3. Pengaruh Ion terhadap Aktivitas Jantung

Katak

Dirusak otaknya dengan metode single pitch

Dibuka rongga dan perikardium sehingga jantung terlihat jelas dan dihitung denyut
jantung per menit dan diulangi 2 kali

Dipisahkan jantung dari tubuh dan diletakkan dalam cawan petri yang berisi larutan
ringer

Dihitung dan diamati apakah denyut jantungnya dan diulangi 2 kali


Diletakkan jantung di kaca arloji yang berisi CaCl2 1 %

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Dibuang larutan tersebut menggunakan pipet larutan

Dibasuh jantung tersebut menggunakan larutan ringer

Diamati dan diihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2kali

Diletakkan jantung di kaca arloji yang berisi NaCl 0,7 %

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Dibuang larutan tersebut menggunakan pipet larutan

Dibasuh jantung tersebut dengan menggunakan larutan ringer

Diletakkan di kaca arloji yang telah berisi larutan ringer normal

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Diletakkan jantung di kaca arloji yang berisi KCl 0,9 %

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Dibuang larutan tersebut menggunakan pipet larutan

Dibasuh jantung tersebut dengan menggunakan larutan ringer

Diletakkan di kaca arloji yang telah berisi larutan ringer normal

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Hasil
E. Data Pengamatan

DENYUT JANTUNG
PEMBEDA
/ MENIT
Jantung di dalam Tubuh
Jantung di luar Tubuh
Sifat Otomatis Sinus Venosus
dan Ritmis Jantung tanpa Sinus
Jantung Venosus
Atrium
Ventrikel
Jantung di dalam Tubuh
Jantung di luar Tubuh
Larutan Ringer 5 C
Normal (di rendam Larutan
Ringer)
Pengaruh Faktor
Larutan Ringer 40 C
Fisik dan Kimia Normal (di rendam Larutan
terhadap Ringer)
Asetilkolin
Aktivitas Jantung
Normal (di rendam Larutan
Ringer)
Adrenalin
Normal (di rendam Larutan
Ringer)
Jantung di dalam Tubuh
Jantung di luar Tubuh
CaCl2 1 %
Normal (di rendam Larutan
Pengaruh Ion
Ringer)
terhadap NaCl 0,7 %
Aktivitas Jantung Normal (di rendam Larutan
Ringer)
KCl 0,9 %
Normal (di rendam Larutan
Ringer)
F. Analisis Data
G. Pembahasan
H. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

Barret, Kim etc. 2010. Ganongs Review of Medical Physiology 23rdedition.USA : Mc. Graw-
Hill Medical Publishing Division.
Buridge. 1912. Researches on the perfused Heart: The effect of Inorganic Salt. Experimental
Physiology (5)347-371

Campbell, Neil A. Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell, Biologi Edisi ke 5 Jilid
3.Jakarta: Erlangga, 2004.
Dukes, H. 1955. The Physiology of Domestic Animal. Comstock Pub. Associated. New York.

Erliyanto, Machriz dkk. 2008. Perancangan Perangkat Monitoring Denyut Jantung (Heart-
Beat Monitoring) dengan Visualisasi LCD Grafik Berbasis Atmel AT89C51. Bali:
Konferensi Nasional Sistem dan Informatika.
Guyton, A. C. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta :Buku kedokteranEGC
Halwatiah, Fisiologi. Makassar: Alauddin press, 2009
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius,.
Sloane, Ethel. 2005.Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula.Jakarta: Kedokteran EGC
Supripto. 1998. Fisiologi Hewan. Bandung : ITB
Tim Dosen. 2012. Fisiologi Hewan dan Manusia.Malang : Universitas Negeri Malang
Ville, C. A., Warner F. W dan Robert B. D. 1988. Zoologi Umum. Erlangga:Jakarta.