Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Sesuai dengan UU.23 tahun 1992 (pasal 19) dijelaskan bahwa manusia lansia adalah
seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan dan sosial,
perubahan ini akan memberikan pengaruh pada seluruh aspek kehidupan, termasuk
kesehatannya. Oleh karena itu, kesehatan lansia perlu mendapat perhatuan khusus dengan
tetap dipelihara dan ditingkatkan agar selama mungkin dapat hidup secara produktif sesuai
dengan kemampuannya sehingga dapat ikut serta berperan aktif dalam pembangunan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan persepsi Immobility

1.3 TUJUAN PENULISAN

1. Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah keperawatan gerontik.

2. Untuk mengetahui tentang asuhan keperawatan dasar bagi lansia.

3. Untuk mengetahui pendekatan keperawatan lansia.

4. Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang diberikan pada lansia.


BAB 11
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang.
Walapun jenis aktivitas berubah sepanjang kehidupan manusia, mobilitas adalah pusat untuk
berpartisipasi dalam dan menikmati kehidupan. Mempertahankan mobilitas optimal sangat
penting untuk kesehatan mental dan fisik semua lansia.
Diagnosis keperawatan hambatan mobilitas fisik, potensial sindrom disuse, dan intoleransi
aktivitas memberikan definisi imobilitas yang lebih luas.Intoleransi aktivitas untuk sebagian
besar orang tidak terjadi secara tiba-tiba, bergerak dari mobilitas penuh sampai
ketergantungan fisik total atau ketidak aktifan, tetapi lebih berkembang secara perlahan dan
tanpa disadari. Intervensi diarahkan pada pencegahan ke arah konsekuensi-konsekuensi
imobilitas dan ketidak ektifan dapat menurunkan kecepatan penurunannya.
2.2 Gangguan Mobilitasi Fisik
Suatu keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami
seseorang. (Carroll-johnson. 1988)
Imobilisasi merupakan ketidakmampuan seseorang untuk menggerakkan tubuhnya sendiri.
Imobilisasi dikatakan sebagai faktor resiko utama pada munculnya luka dekubitus baik di
rumah sakit maupun di komunitas. Kondisi ini dapat meningkatkan waktu penekanan pada
jaringan kulit, menurunkan sirkulasi dan selanjutnya mengakibatkan luka
dekubitus.Imobilisasi disamping mempengaruhi kulit secara langsung, juga mempengaruhi
beberapa organ tubuh. Misalnya pada system kardiovaskuler,gangguan sirkulaperifer, system
respirasi, menurunkan pergerakan paru untuk mengambil oksigen dari udara
(ekspansiparu)dan berakibat pada menurunnya asupan oksigen
Batasan karakteristik
1. Ketidakmampuan untuk bergerak dengan tujuan di dalam lingkungan, termasuk mobilitas
di tempat tidur.
2. Keengganan untuk melakukan pergerakan
3. Keterbatasan rentang gerak
4. Penurunan kekuatan, pengendalian, atau masa otot
5. Mengalami pembatasan pergerakan, termasuk protocol-protokol mekanis dan medis
6. Gangguan koordinasi.
2.3 Etiologi
Etiologi dibagi menjadi 2 yaitu:
1.Internal
Faktor-faktor internal yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas.
a. Penurunan fungsi musculoskeletal :
Otot-otot (atrofi, distrofi, atau cedera), tulang (infeksi, fraktur, tumor, osteoporosis,
(arthritis dan tumor), atau kombinasi struktur (kanker dan obat-obatan).
b. Perubahan fungsi neurologist :
Infeksi (mis; ensefalitis), tumor, trauma, obat-obatan, penyakit vascular (mis; stroke),
penyakit degenerative (mis; penyakit parkinson), penyakit demielinasi (mis; sklerosis
multipel), terpajan produk racun (mis; karbon monoksida), gangguan metabolic (mis;
hipoglikemia), atau gangguan nutrisi.
c. Nyeri :
Penyebab multiple dan bervariasi seperti penyakit kronis dan trauma.
d. Defisit perceptual :
Kelebihan atau kekurangan masukan persepsi sensori
e. Berkurangnya kemampuan kognitif : Gangguan
f. Jatuh :
Efek fisik : cedera atau faktur
Efek psikologis : sindrom setelah jatuh
g. Perubahan hubungan social
Faktor-faktor actual ; (mis ; kehilangan pasangan, pindah jauh dari keluarga.
h. Aspek psikologis: ketidakberdayaan dalam belajar, depresi
2.Eksternal
Faktor-faktor eksternal yang berperan terhadap imobilitas :
a. Program terapeutik
b. Karakteristik penghuni institusi
c. Karakteristik staf
d. Berkurangnya kemampuan kognitif
e. Jatuh :
Efek fisik : cedera atau faktur
Efek psikologis : sindrom setelah jatuh
f. Perubahan hubungan social
Faktor-faktor actual ; (mis ; kehilangan pasangan, pindah jauh dari keluarga.
g. Aspek psikologis: ketidakberdayaan dalam belajar, depresi
h. Sistem pemberian asuhan

MANIFESTASI KLINIS
1 Penurunan konsumsi oksigen maksimum
2. Penurunan fungsi ventrikel kiri
3. Penurunan curah jantung
4. Penurunan volume sekuncup
5. Peningkatan katabolisme protein
6. Peningkatan pembuangan kalsium
7. Perlambatan fungsi usus keperawatan
8. Pengurangan miksi
9. Gangguan tidur
10. Gangguan metabolisme glukosa
11. Penurunan ukuran thoraks
12. Penurunan aliran darah pulmonal
13 . Penurunan cairan tubuh total
14. Gangguan sensori
2.5 Penatalaksanaan
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan . Sebagai
suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan, moblilitas dan aktivitas tergantung pada
fungsi system musculoskeletal, kardiovaskuler, pulmonal. Sebagai suatu proses episodic
pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat tmbul akibat
imoblitas atau ketidak aktifan.
a. Hambatan terhadap Latihan
Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur. Bahaya-
bahaya interpersonal termasuk isolasi social yang terjadi ketika teman-teman dan keluarga
telah meninggal, perilaku gaya hidup tertentu (misalnya merokok dan kebiasaan diet yang
buruk) depresi gangguan tidur, kurangnya transportasi dan kurangnya dukungan. Hambatan
lingkungan termasuk kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang
tidak mendukung

. b. Pengembangan program latihan


Program latihan yang sukses sangat individual, diseimbangkan, dan mengalami
peningkatan. Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk
mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi
santai yang dapat memberikan efek latihan.
c. Keamanan
Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien, instruksi
tentang latihan yang aman harus dilakukan. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-tanda
intoleransi atau latihan yang terlalu keras sama pentingnya dengan memilih aktivitas yang
tepat.
2. Pencegahan Sekunder
Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dkurangi atau
dicegah dengan intervensi keperawatan. Keberhasilan intervensi berasal dri suatu pengertian
tentang berbagai factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan
penuaan. Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan
komplikasi.
Diagnosis keperawatan dihubungkan dengan poencegahan sekunder adalah gangguan
mobilitas fisik
a. Kontraksi Otot Isometrik
Kontraksi otot isometrik meningkatkan tegangan otot tanpa mengubah panjang otot yang
menggerakkan sendi. Kontraksi-kontraksi ini digunakan untuk mempertahankan kekuatan
otot dan mobilitas dalam keadaan berdiri (misalnya otot-otot kuadrisep, abdominal dan
gluteal) dan untuk memberikan tekanan pada tulang bagi orang-orang dengan dan tanpa
penyakit kardiovaskuler. Kontraksi isometrik dilakukan dengan cara bergantian
mengencangkan dan merelaksasikan kelompok otot
. b. Kontraksi Otot Isotonik
Kontraksi otot yang berlawanan atau isotonik berguna untk mempertahankan kekuatan
otot-otot dan tulang. Kontraksi ini mengubah panjang otot tanpa mengubah tegangan. Karena
otot-otot memendek dan memanjang, kerja dapat dicapai. Kontraksi isotonik dapat dicapai
pada saat berada di tempat tidur, dengan tungkai menggantung di sisi tempat tidur, atau pada
saat duduk di kursi dengan cara mendorong atau menarik suatu objek yang tidak dapat
bergerak.
c. Latihan Kekuatan
Aktivitas penguatan adalah latihan pertahanan yang progresif. Kekuatan otot harus
menghasilkan peningkatan setelah beberapa waktu. Latihan angkat berat dengan
meningkatkan pengulangan dan berat adalah aktivitas pengondisian kekuatan. Latihan ini
meningkatkan kekuatan dan massa otot serta mencegah kehilangan densitas tulang dan
kandungan mineral total dalam tubuh.
d. Latihan Aerobik
Latihan aerobik adalah aktivitas yang menghasilkan peningkatan denyut jantung 60 sampai
90%
Aktivitas aerobik yang dipilih harus menggunakan kelompok otot besar dan harus berirama
dan dapat dinikmati. Contohnya termasu
e. Sikap
Variabel utama yang dapat mengganggu keberhasilan intervensi pada individu yang
mengalami imobilisasi adalah sikap perawat dan klien tentang pentingnya latihan dan
aktivitas dalam rutinitas sehari-hari. Sikap perawat tidak hanya memengaruhi komitmen
untuk memasukkan latihan sebagai komponen rutin sehari-hariyang berkelanjutan, tetapi juga
integrasi aktif dari latihan sebagai intervensi bagi lansia di berbagai lingkungan; komunitas,
rumah sakit, dan fasilitas jangka panjang.

f. Latihan Rentang Gerak


Latihan rentang gerak aktif dan pasif memberikan keuntungan-keuntungan yang berbeda.
Latihan aktif membantu mempertahankan fleksibilitas sendi dan kekuatan otot serta
meningkatkan penampilan kognitif. Sebaliknya, gerakan pasif, yaitu menggerakkan sendi
seseorang melalui rentang geraknya oleh orang lain, hanya membantu mempertahankan
fleksibilitas.
g. Mengatur Posisi
Mengatur posisi juga digunakan untuk meningkatkan tekanan darah vena. Jika seseorang
diposisikan dengan tungkai tergantung, pengumpulan dan penurunan tekanan darah balik
vena akan terjadi. Posisi duduk di kursi secara normal dengan tungkai tergantung secara
potensial berbahaya untuk seseorang yang beresiko mengalami pengembangan trombosis
vena.
3. Pencegahan tersier
Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya
multidisiplin yang terdiri dari perawat, dokter, ahli fisioterapi, dan terapi okupasi, seorang
ahli gizi, aktivitas sosial, dan keluarga.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANJ UT USIA IMMOBILITY
1.Pengertian.
Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang.
Walapun jenis aktivitas berubah sepanjang kehidupan manusia, mobilitas adalah pusat untuk
berpartisipasi dalam dan menikmati kehidupan. Mempertahankan mobilitas optimal sangat
penting untuk kesehatan mental dan fisik semua lansia
2.Etiologi
a. Faktor-faktor Internal yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas.
1. Penurunan fungsi musculoskeletal :
Otot-otot (atrofi, distrofi, atau cedera), tulang (infeksi, fraktur, tumor, osteoporosis,
(arthritis dan tumor), atau kombinasi struktur (kanker dan obat-obatan).
2. Perubahan fungsi neurologist :
Infeksi (mis; ensefalitis), tumor, trauma, obat-obatan, penyakit vascular (mis; stroke),
penyakit degenerative (mis; penyakit parkinson), penyakit demielinasi (mis; sklerosis
multipel), terpajan produk racun (mis; karbon monoksida), gangguan metabolic (mis;
hipoglikemia), atau gangguan nutrisi.
3. Nyeri :
Penyebab multiple dan bervariasi seperti penyakit kronis dan trauma.
4. Defisit perceptual :
Kelebihan atau kekurangan masukan persepsi sensori
5. Berkurangnya kemampuan kognitif : Gangguan
6. Jatuh :
Efek fisik : cedera atau faktur
Efek psikologis : sindrom setelah jatuh
7. Perubahan hubungan social
Faktor-faktor actual ; (mis ; kehilangan pasangan, pindah jauh dari keluarga.
8. Aspek psikologis: ketidakberdayaan dalam belajar, depresi
b. Faktor-faktor eksternal yang berperan terhadap imobilitas :
1. Program terapeutik
2. Karakteristik penghuni institusi
3. Karakteristik staf
4. Sistem pemberian asuhan keperawatan
5. Hambatan-hambatan
6. Kebijakan-kebijakan institusi
3.Patofisiologi

4.MANIFESTASI KLINIS
1. Penurunan konsumsi oksigen maksimum
2. Penurunan fungsi ventrikel kiri
3. Penurunan curah jantung
4. Penurunan volume sekuncup
5. Peningkatan katabolisme protein
6. Peningkatan pembuangan kalsium
7. Perlambatan fungsi usus
8. Pengurangan miksi
9. Gangguan tidur
10. Gangguan metabolisme glukosa
11. Penurunan ukuran thoraks
12. Penurunan aliran darah pulmonal
13 . Penurunan cairan tubuh total
14. Gangguan sensori

5.KLASIFIKASI LANSIA IMMOBILITY


Lima klasifikasi lansia:
1. Pralansia (prasenilis)
Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun
2. Lansia
Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
3. Lansia resiko tinggi
Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
dengan masalah kesehatan (Depkes RI,2003).

4. Lansia potensial
Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat
menghasilkan barang /jasa(Depkes RI,2003)
.
5. Lansia tidak potensial
Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan
orang lain (Depkes RI,2003).