Anda di halaman 1dari 21

KETELA POHON

Sistematika Manihot utilisima

Kingdom : Plantae

Divisio : Magnoliophyta

Classis : Magnoliodsida

Ordo : Malpighiales

Familia : Euporbiaceae

Genus : Manihot

Species : Manihot utilisima

Habitat : Habitat pohon Singkong banyak ditemukan di daerah subtropis dan tropis
yang hidupnya tersebar dimana mana.

Habitus : Tanaman kentang merupakan herba yakni tanaman pendek yang tidak berkayu

Akar : Akar ketela pohon berwarna cokelat hingga kehitaman dan menggembung
akibat dari penyimpanan cadangan makanan di akar. Sistem perakaran pada ketela pohon
adalah tunggang (radix primaria). Akar serabut pada ketela pohon hampir sebesar lengan dan
masing masing tidak menunjukkan percabangan. Akar Ketela pohon merupakan modifikasi
dari akar ketela pohon sendiri sehingga disebut umbi akar.

Batang : Batang ketela pohon berwarna cokelat keputih putihan. Batang ketela pohon
merupakan batang jenis mendong (calamust) yang beruas ruas akibat pertumbuhan tangkai
daun. Bentuk batangnya bulat (teres), sifat permukaannya licin (laevis), selain itu bentuk
permukaan batangnya memperlihatkan berkas berkas daun. Arah tumbuh batang ketela
pohon adalah tegak lurus (erectus), percabangan pada ketela pohon adalah monopodial yaitu
batang pokok selalu tampak jelas. Cabang cabang batang termasuk sirung panjang (virgia).
Arah tumbuh cabang ketela pohon adalah type mendatang (horizontalis), jika cabang dengan
batang pokok membentuk sudut 900. Membicarakan pangkal batang ketela pohon termasuk
tumbuhan anual (annuss) yakni tumbuhan yang umurnya pendek. Tinggi tanaman dapat
mencapai 0,5 3 meter.

Daun : Daun ketela pohon merupakan daun tidak lengkap yang hanya terdapat
helaian (lamina) dan tangkai (petiolus), sehingga type daunnya termasuk daun bertangkai.
Bangun daun ketela pohon adalah bangun bulat (orbicularis). Ujung daun ketela pohon adalah
runcing (acutus), pangkal daunnya rata (truncatus). Tulang daun ketela pohon adalah menjari.
Tepi daunnya rata, ketela pohon memiliki type toreh berbagi menjari (palmatipartitus).
Daging daunnya lunak (herbaceus). Warna daunnya hijau, permukaan daunnya gundul
(glaber), type daun majemuk beranak daun 5 dan 6. Setiap buku terdapat satu tangkai daun,
letaknya berseling.

Bunga : Bunga ketela pohon merupakan bunga majemuk tak terbatas, bunganya simetris,
pelipatan bunganya terlipat ke dalam, daun daun kelopak terbuka (aperta), dasar bunganya
pendukung benag sari dan putik (androginofor), dasar bunganya seperti cawan.

Bunga kecil, bersimetri banyak, uniseksual, seringkali monoecious yang tersusun sebagai
bunga mejemuk, perinatum kelipatan 5 dalam satu atau dua seri dan dapat mereduksi,
ovarium berlokuli 3, ovula satu atau dua dalam tiap lokulus (Sudarsono, 2005).

Buah : Buah bervariasi, umumnya masak menjadi buah dehisen yang sizokarp
(terdiri dari 3 koksi)

Biji : Biji terdiri dari 3 koksi dengan 3 atau 6 biji yang memiliki endosperm

Kandungan menurut Jayus (2005):

Umbi singkong memiliki kandungan kalori, protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, zat
besi, vitamin B dan C, dan amilum. Daun mengandung vitamin A, B1 dan C, kalsium, kalori,
forfor, protein, lemak, hidrat arang, dan zat besi. Sementara kulit batang, mengandung tannin,
enzim peroksidase, glikosida, dan kalsium oksalat.

Manfaat : Ketela pohon banyak sekali manfaatnya antara lain:

Sebagai sumber karbohidrat,

Sebagai obat rematik

Sebagai obat sakit kepala

Sebagai obat luka bernanah

Sebagai obat diare

Sebagai oabt cacingan

Dapat meningkatkan stamina


UWI

Kingdom Plantae

Divisio Magnoliophyta

Classis Liliopsida

Ordo Dioscoreales

Familia Dioscoreaceae

Genus Dioscorea

Species Dioscore alata

Habitat : Habitat tanaman uwi banyak ditemukan di daerah subtropis dan tropis yang
hidupnya tersebar dimana mana

Habitus : Tanaman kentang merupakan herba yakni tanaman pendek yang tidak berkayu

Akar : Akar uwi berwarna putih dan menggembung akibat dari penyimpanan
cadangan makanan di akar. Sistem perakaran pada uwi adalah Serabut (radix adventicia).
Akar serabut pada uwi hampir sebesar genggaman tangan dan masing masing tidak
menunjukkan percabangan. Akar uwi merupakan modifikasi dari batang uwi sendiri sehingga
disebut umbi katak (tuber accessorium).

Batang : Batang uwi berwarna hijau tua. Batang uwi merupakan jenis batang basah
(herbaceus) yakni batang lunak dan berair. Bentuk batangnya bersegi (angularis), sifat
permukaannya licin (laevis), selain itu bentuk permukaan batangnya bersayap (alatus). Arah
tumbuh batang adalah memanjat (scandens) dan membelit ke kanan (dextrorsum volubilis),
percabangan pada uwi adalah simpodial yaitu batang pokok sukar ditentukan karena dalam
perkembangan kalah cepat pertumbuhannya dibanding cabangnya. Cabang cabang batang
uwi termasuk geragih (falgellum). Arah tumbuh cabang kentang adalah type terkulai
(declinatus). Membicarakan pangkal batang kentang termasuk tumbuhan anual (annuss) yakni
tumbuhan yang umurnya pendek. Dapat mencapai panjang 10 meter.
Daun : Daun uwi merupakan daun tidak lengkap yang hanya terdapat helaian
(lamina) dan tangkai (petiolus), sehingga type daunnya termasuk daun bertangkai. Bangun
daun adalah bangun jantung (cordatus) yaitu bangun seperti bulat telur, tetapi pangkalnya
memperlihatkan suatu lekukan. Ujung daun uwi adalah meruncing (acuminatus), pangkal
daunnya berlekuk (emarginatus). Tulang daun uwi adalah melengkung (cervinervis). Tepi
daunnya rata. Daging daunnya lunak (herbaceus). Warna daunnya hijau, permukaan daunnya
berbulu, type daun majemuk menyirip gasal beranak daun tiga. Setiap buku terdapat satu
tangkai daun.

Bunga : Uwi memiliki bunga tersusun majemuk, tumbuh dari ketiak daun, berumah
satu. Bunga jantan tersusun rapat 1 3 cm; bunga betina tersusun jarang, lebih panjang, 15-
20cm; mahkota berwarna ungu dengan panjang 2 mm.

Buah : Buah berbentuk kapsul atau beri.

Manfaat :

sebagai sumber kabohidrat

KENTANG

Kingdom Plantae

Divisio Magnoliophyta

Classis Magnoliodsida

Ordo Solanales

Familia Solaneceae

Genus Solanum

Species Solanum tiberosum L.


Habitat : Habitat tanaman kentang banyak ditemukan di daerah subtropis dan tropis
yang hidupnya tersebar dimana mana.

Habitus : Tanaman kentang merupakan herba yakni tanaman pendek yang tidak berkayu

Akar : Akar kentang berwarna putih kecokelatan dan menggembung akibat dari
penyimpanan cadangan makanan di akar. Sistem perakaran pada kentang adalah Serabut
(radix adventicia). Akar serabut pada kentang hampir sebesar genggaman tangan dan masing
masing tidak menunjukkan percabangan. Akar kentang merupakan modifikasi dari akar
kentang sendiri sehingga disebut umbi batang (tuber caulogenum).

Batang : Batang kentang berwarna hijau muda sampai tua. Batang kentagn merupakan
jenis batang basah (herbaceus) yakni batang lunak dan berair. Bentuk batangnya bulat (teres),
sifat permukaannya licin (laevis), selain itu bentuk permukaan batangnya memperlihatkan
berkas berkas daun. Arah tumbuh batang adalah condong (ascendes), percabangan pada
kentang adalah simpodial yaitu batang pokok sukar ditentukan karena dalam perkembangan
kalah cepat pertumbuhannya dibanding cabangnya. Cabang cabang batang kentang
termasuk geragih (falgellum). Arah tumbuh cabang kentang adalah type terkulai (declinatus).
Membicarakan pangkal batang kentang termasuk tumbuhan anual (annuss) yakni tumbuhan
yang umurnya pendek.

Daun : Daun kentang merupakan daun tidak lengkap yang hanya terdapat helaian
(lamina) dan tangkai (petiolus), sehingga type daunnya termasuk daun bertangkai. Bangun
daun adalah bangun jorong (ovalis) yaitu perbandingan panjang : lebar = 1,5 2 : 1. Ujung
daun kentang adalah runcing (acutus), pangkal daunnya membulat (rotudantus). Tulang daun
kentang adalah menyirip. Tepi daunnya bergrigi. Daging daunnya lunak (herbaceus). Warna
daunnya hijau, permukaan daunnya gundul (glaber), type daun majemuk menyirip gasal.
Setiap buku terdapat dua tangkai daun.

Bunga : Bunga sempurna dan tersusun majemuk. Ukuran cukup besar, dengan diameter
sekitar 3 cm. Warnanya berkisar dari ungu hingga putih.

Kandungan menurut Arpiwi (2007): Kandungan utama pada kentang adalah sumber
karbohidrat terbesar ke empat di dunia, memiliki kandungan air per 100 gram kentang ialah
82 gram, dengan nilai protein sebanyak 2 gram dan klori sebanyak 70 kkal. Selain
kandungan kandungan tersebut, kentang juga memiliki kandungan lain seperti zat besi dan
riboflavin yang penting bagi tubuh.

Demikian pula dengan vitamin yang ada pada kentang. Sebut saja vitamin C yang notabene
mengandung antioksidan yang ampuh untuk mengusir radikal bebas dalam tubuh. Untuk itu,
agar bisa memperoleh manfaat vitamin C dengan maksimal pilihlah kentang yang baik
kondisinya antara lain dengan memilih yang tidak bertunas, kulitnya kencang, tidak ada
bercak kehijauan, dan tidak ada lubang pada permukaannya. Kentang juga mengandung
beberapa vitamin lain seperti vitamin B6 yang berperan dalam sintesis dan metab

Manfaat : Ketela pohon banyak sekali manfaatnya antara lain:


Sebagai sumber karbohidrat

Memelihara kesehatan tulang dan gigi

TALAS

Kingdom Plantae

Divisi Magnoliophyta

Clasis Liliopsida

Ordo Arales

Famili Araceae

Genus Colocasia

Spesies Colocasia gigantea

Habitat : Talas dapat tumbuh baik di tanah tanah basah termasuk tanah tanah sawah
dengan irigasi yang teratur, tanah-tanah beririgasi, dan tanah di paya paya yang miskin akan
drainase. Suhu 25 30C dan kelembaban yang tinggi akan mendukung pertumbuhan
talas.Talas dapat tumbuh mulai dari pantai sampai ketinggian 1800 m dpl. di Filipina; 1200 m
dpl. di Malaysia dan 2700 m dpl. di Papua New Guinea.

Habitus : Tumbuhan berupa terna, tegak.

Akar : Sistem perakaran liar, berserabut, dan dangkal.

Batang : Batang yang tesimpan dalam tanah pejal, menyilinder atau membulat,
biasanya coklat tua, dilengkapi dengan kuncup ketiak yang terdapat di atas lampang daun
tempat munculnya umbi baru, tunas atau stolon.

Daun : Daun memerisai dengan tangkai panjang dan besar. Perbungaan tongkol
dikelilingi oleh seludang dan didukung oleh gagang yang lebih pendek dari tangkai daun.
Bunga : Bunga jantan dan betina kecil, tempatnya terpisah pada tongkol, bunga betina di
bagian pangkal, hijau, bunga jantan pada bagian atasnya warna putih steril, ujung tongkol
dilengkapi dengan organ steril.

Biji : Biji membundar telur

Buah : Perbuahan seperti kepala yang berisi buah buni yang rapat

Manfaat menurut Djukri (2003) :

Bubur talas dapat melancarkan pencernaan sehingga dapat dikonsumsi untuk makanan bayi
dengan tingkat alergi yang rendah.

Talas dimakan sebagai makanan pokok, dengan cara dipanggang, dikukus atau dimasak dalam
tabung bambu.

Dapat dimanfaatkan dalam festival festival keagamaan, sebagai obat-obatan masyarakat dan
sebagai makanan ternak terutama babi.

Daun digunakan untuk membungkus buntil (ikan teri yang digarami dicampur dengan bumbu,
kelapa parut dan sayuran, dibungkus dan dikukus dalam daun talas), tangkai daun juga dapat
dimasak.

Di Filipina digunakan pada waktu pati dan sayuran hijau mengalami penurunan pasokan.
Umbi dapat dimakan dengan cara dikukus dan digoreng lebih dulu atau dibuat menjadi
permen.

Di Hawaii dan beberapa bagian Polynesia, umbi dikukus dan ditumbuk untuk dibuat pasta
yang selanjutnya dapat difermentasi untuk menghasilkan poding. Poding dapat dibuat dari
talas yang diparut dan dicampur kelapa.

KETELA RAMBAT

Kingdom Plantae

Divisio Magnoliophyta

Clasis` Magnoliopsida

Ordo Solanales

Famili Convolvulaceae
Genus Ipomoea

Species Ipomoea batatas Poir

Habitat : Ubi jalar adalah tanaman yang tumbuh baik di daerah beriklim panas dan
lembab, dengan suhu optimum 27C dan lama penyinaran 11 12 jam per hari. Tanaman ini
dapat tumbuh sampai ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut. Ubijalar tidak
membutuhkan tanah subur untuk media tumbuhnya.

Habitus : semak semak kecil

Akar : Perakaran serabut

Batang : Ubi jalar berbatang lunak, tidak berkayu, berbentuk bulat, dan teras bagian
tengah bergabus. Batang ubi jalar beruas ruas dan panjang ruas antar 1 3 cm. Panjang
batang berkisar 2 3 m untuk varietas merambat, dan 1 2 m untuk varietas bertipe tegak.
Diameter batang ubi jalar bergantung pada varietasnya, ada yang berukuran besar, sedang,
maupun kecil.

Daun : Daun ubi jalar berbentuk bulat hati, bulat lonjong, dan bulat runcing,
tergantung pada varietasnya. Daun ubi jalar memiliki tulang-tulang menyirip; kedudukan
daun tegak agak mendatar dan bertangkai tunggal yang melekat pada batang. Daun ubi jalar
dalm satu tanaman berjumlah banyak. Daun ubi jalar berwarna hijau tua dan hijau kuning.
Sedangkan warna tangkai daun dan tulang daun bervariasi, yakni antara hijau dan ungu sesuai
dengan warna batang

Bunga : Bunga tanaman ubi jalar berbentuk terompet yang panjagnya antara 3-5 cm. Mahkota
bunga berwarna ungu keputih-putihan dan bagian dalam mahkota bunga berwarna ungu
muda. Tangkai putik dan kepala putik terletak diatas bakal buah. Bunga ubi jalar membentuk
karangan tiga hingga tujuh bunga.tangkai bunga tumbuh diketiak daun. Penyerbukan bunga
dapat terjadi secara silang atau sendiri.

Buah : Buah ubi jalar berkotak tiga. Di dalam buah banyak berisi biji yang sangat
ringan.

Biji : Biji buah memiki kulit yang keras.

Bentuk ubi : Bentuk ubi biasanya bulat sampai lonjong dengan permukaan rata sampai tidak
rata. Kulit ubi berwarna putih, kuning, ungu atau ungu kemerah-merahan, tergantung jenis
(varietas) nya. Daging ubi berwarna putih, kuning atau jingga sedikit ungu. kulit ubi maupun
dagingnya mengandung pigmen karotenoid dan antosianin yang menentukan warnanya.
Kombinasi dan intesitas yang berbeda beda dari keduanya menghasilkan warna putih,
kuning, oranye, atau ungu pada kulit dan daging ubi.

Kandungan : Memiliki serat oligosakarida yang tinggi.

Manfaat menurut Limbongan (2007) :


Karbohidrat ubi jalar memiliki indeks glisemik 54 (rendah). Artinya, karbohidrat pada ubi
jalar tidak mudah diubah menjadi gula, sehingga cocok bagi penderita diabetes. Berbeda
dengan sifat karbohidrat asal beras dan jagung yang mudah dirubah menjadi gula.

Keistimewaan lain adalah tingginya kandungan serat yang bermanfaat sebagai pengikat zat
pencetus kanker dalam tubuh, sehingga ubi jalar bermanfaat sebagai penangkal kanker.

Berperan vital untuk menyedot kolesterol jahat di dalam darah. Serat oligosakarida
berperan mencegah sembelit, memudahkan buang angin, menjaga keseimbangan flora usus
dan prebiotik serta merangsang pertumbuhan bakteri baik pada usus sehingga penyerapan
zat gizi lebih efektif

Padi

Kingdom Plantae

Divisio Spermatophyta

Classis Monocotyledonae

Ordo Poales

Familia Gramineae

Genus Oryza

Species Oryza sativa

Deskripsi :

Padi merupakan bahan makanan utama bagi penduduk, meskipun ada sebagian yang
mengkonsumsi jagung, ubi dan sagu. Keberadaan padi memiliki nilai tersendiri bagi orang
yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang
lain.

Padi merupakan tanaman panganberupa rumput berumpun. Padi merupakan tanaman


pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis. Bukti sejarah
memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun
SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur India sekitar 100 800 SM. Selain
Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos,
Vietnam (Suardi, 2005: 1).

Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah Oryza sativa yaitu indica (padi bulu) yang
ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering
(gogo) yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan
penggenangan (Suprihatno, 2009: 1).

Habitat : Tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 0 1500 m dpl. Tanah
yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir
debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jurnlah yang
cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18
22 cm dengan Ph antara 4 7 (Makarin, 2008: 4.).

Varietas padi tertentu cocok untuk tumbuh dalam air yang dalam, yaitu padi terapung dan
varietas lain dapat ditanam di atas tanah yang tidak dialiri, yaitu padi gaga (Steenis, 2006:
117).

Tanaman padi dapat hidup baik di daerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap
air. Curah hujan yang baik rata rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4
bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 -2000 mm. Suhu yang baik untuk
pertumbuhan tanaman padi 23 C (Suprihatno, 2009: 1).

Habitus : Tanaman padi termasuk tanaman rerumputan. Perawakan tanaman padi adalah
herba. Tumbuhan berperawakakan herba mempunyai ciri batang memiliki cairan atau
mengeluarkan getah serta lunak (Indriyanto, 2005: 92).

Sistem perakaran : Akar berfungsi sebagai penguat atau penunjang tanaman agar dapat
tumbuh tegak, menyerap hara dan air dari dalam tanah yamg kemudian diteruskan ke seluruh
organ tanaman yang membutuhkan (Makarim, 2008: 8).

Akar padi selain berfungsi sebagai fisik juga berfungsi dalam proses kimia, biokimia dan
biologi di lingkungan tanaman. Pada proses penyerapan hara, akar tanaman menyerap hara
katioan (muatan listrik +) lebih banyak dari hara anion (muatan listrik -) dan melepaskan ion
H+ ke media (tanah) untuk menyeimbangkan muatan listrik di dalam tanah (Suprihatno,
2009: 15).

Akar tanaman padi memiliki perakaran serabut. Akar serabut yaitu jika akar lembaga dalam
perkembanga selanjutnya mati kemudian disusul oleh sejumlah akar yang sama besar dan
semuanya keluar dari pangkal daun (Gembong, 2009: 93).

Ada dua macam akar padi yaitu (Makarim, 2008: 9):


1. Akar seminal, yaitu akar primer yang tumbuh dari akar radikula sewaktu berkecambah
yang muncul dari janin dekat dengan buku skutellum. Akar primer ini bersifat sementara
karena nanatinya digantikan dengan akar skunder

2. Akar adventif, yaitu akar sekunder yang tumbuh dari buku terbawah batang. Akar ini
bercabang. Akar skunder ini disebut akar adventif karena tumbuhnya dari bagian tanaman
yang bukan embrio atau karena munculnya bukan dari akar yang tumbuh sebelumnya

Batang : Batang berfungsi sebagai penopang tanaman, penyalur senyawa senyawa


kimia dan air dari dalam tanah dan menyimpan cadangan makanan (Makarim, 2008: 9).

Batang terdiri atas beberapa ruas yang dibatasi oleh buku, dan tunas (anakan) tumbuh pada
buku. Jumlah buku sama dengan jumlah daun ditambah dua, yakni satu buku untuk
tumbuhnya koleoptil dan yang satu lagi buku terakhir yang menjadi dasar malai. Ruas yang
terpanjang adalah ruas yang teratas dan panjangnya berangsur menurun sampai ke ruas yang
terbawah dekat permukaan tanah (Suprihatno, 2009: 16).

Tunas (anakan) muncul pada batang utama dalam urutan yang bergantian. Anakan primer
tumbuh dari buku terbawah dan kemudian muncul anakan sekunder. Anakan sekunder ini
pada gilirannya akan menghasilkan anakan tersier (Makarin, 2008: 9).

Daun : Daun merupakan bagian tumbuhan yang berwarna hijau karena mengandung klorofil
(zat hijau daun), adanya klorofil ini membuat daun mampu mengolah sinar radiasi surya
menjadi karbohidrat atau energy untuk kebutuhan perkembangan tumbuhan tersebut
(Suprihatno, 2009: 16).

Daun tanaman padi tumbuh pada batang dengan susunan berselang seling, setiap buku
terdapat satu daun. Tiap daun terdiri dari helaian daun, pelepah daun yang menutupi ruas,
telinga daun (auricle) dan lidah daun (ligule). Adanya telinga daun dan lidah daun ini dapat
membedakan padi dengan rerumputan pada tahap biit (sleeding), karena rumput hanya
memiliki telinga daun atau lidah daun saja atau terkadang tidak memiliki keduanya (Makarim,
2008: 9).

Bangun daun pada daun padi adalah bangun pita (ligulatus), yaituPada penampang
melintangnya pipih dan daunnya panjang. Daun padi memeliki ujung daun meruncing,
pangkal daun membulat, tepi daun rata, susunan tulang daun sejajar, daging daun seperti
kertas dan warna dau hijau (Gembong, 2009: 31).

Jumlah daun pada tiap varietas berbeda-beda. Varietas baru di tropic ditemukan setiap varietas
memiliki daun sekitar 14-18 daun pada tiap batang (Makarim, 2008: 9).

Bunga : Bunga tanaman padi secara keseluruhan disebut malai. Tiap unit bunga pada
tiap malai disebut spikelet yang sesungguhnya merupakan bunga yang terdiri atas tangkai,
bakal buah, lemma, palea, putik, benangsari serta beberapa organ lainnya yang bersifat
interior. Tiap unit bunga terletak pada cabang-cabang bulir yang terdiri atas cabang primer
dan cabang skunder (Makarim, 2008: 10).
Tiap unit bunga padi pada hakikatnya adalah floret yang terdiri dari satu bunga. Satu floret
berisi satu bunga dan satu bunga terdiri atas satu organ betina (pistil) dan 6 organ jantan
(stamen). Stamen memiliki dua sel kepala sari yang ditopang oleh tangkaisari berbentuk
panjang, sedangkan pistil terdiri satu ovul yang menopang dua stigma melaluistile pendek
(Suprihatno, 2009: 16).

Pada dasar bunga dekat palae terdapat dua struktur transparan yang disebut lodikula.
Lodikulus ini menembus lemma dan palae yang terpisah sewaktu pembungaan agar
pematangan benangsari (stamen) dapat tersembul dari floret yang terbuka. Lemma dan palae
tertutup setelah kepalasari (anthers) manyerbukkan tepung sarinya (pollen) (Makarim, 2008:
12).

Manfaat : Padi memiliki banyak manfaat. Beberapa manfat padi tersebut di antaranya yaitu:

Beras merupakan makanan sumber karbohidrat yang utama di kebanyakan Negara Asia.
Negara-negara lain seperti di benua Eropa, Australia dan Amerika mengkonsumsi beras dalam
jumlah yang jauh lebih kecil daripada negara Asia (Makarim.2008:4).

Tepung beras dapat digunakan sebagai bahan makanan ringan dan makanan tradisional seperti
jenang, nogosari dan lain-lain. Selain itu tepung beras juga dapat digunakan sebagai bahan
produk industri makanan (Mutakin, 2005: 4).

Tepung beras merah mengandung karbohidrat, lemak, serat, asam folat, magnesium, niasin,
fosfor, protein, vitamin A, B, C, Zn, dan B kompleks yang berkhasiat untuk mencegah
berbagai macam penyakit, seperti kanker usus, batu ginjal, beri-beri insomnia, sembelit, dan
wasir, serta mampu menurunkan kadar gula dan kolesterol (Suardi, 2005: 2).

Pigmen antosianin pada beras berwarna tidak hanya terdapat pada perikarp dan tegmen
(lapisan kulit) beras, tetapi juga pada setiap bagian gabah yang berfungsi sebagai antioksidan,
antimutagenik, hepatoprotektif antihipertensi dan antihiperglisemik (Suardi, 2005: 3).

Air rebusan beras memiliki kandungan karbohidrat, protein dan mineral yang tidak terlalu
tinggi, sungguhpun demikian air rebusan beras dapat dimanfaatkan sebagai minuman
tambahan pengganti susu yang relative lebih aman dikonsumsi karena bebas dari adanya
bahan tambahan (pengawet) (Barus, 2005: 2).

Angkak beras dapat digunakan sebagai bahan bumbu, pewarna dan obat karena mengandung
bahan bioaktif berkhasiat. Angkak adalah beras yang difermentasi oleh kapang sehingga
penampakannya berwarna merah, karena Kapang menghasilkan pigmen yang tidak toksik dan
tidak mengganggu sistem kekebalan tubuh (Kasim, 2005: 1).

Selain berasnya, organ-organ lain tanaman padi uga memiliki manfaat, diantaranya yaitu:

Jerami yang masih hijau dapat digunakan sebagai bahan pakan hewan ternak pemamahbiak,
seperti sapi, kuda dan kerbau. Jerami juga padi dapat digunakan sebagai penutup tanah pada
suatu usaha tani (Mutakin, 2005: 5).
Dedak padi dapat digunakan sebagai bahan pakan hewan ternak, seperti ayam dan angsa
(Mutakin, 2005: 5).

Di dalam dedak padi yang telah distabilisasi ditemukan sekitar 33,0% 40,0% serat makanan.
Dedak padi adalah limbah dari penggilingan padi yang umumnya hanya digunakan sebagai
pakan ternak. Produk-produk beras dan turunannya diketahui mempunyai sifat tidak
mendatangkan alergi, mudah dicerna, bebas gluten, dan kaya karbohidrat kompleks.
Keunggulan keunggulan tersebut menjadikan dedak sebagai salah satu produk ikutan beras
sangat berguna pangan alternatif manusia. Industri roti dan kue bisa memanfaatkan dedak
sebagai substitusi tepung terigu sehingga bisa menghasilkan produk roti atau kue yang sehat
karena kaya serat (Herminingsih, 2008: 4).

Jagung

Kingdom Plantae

Divisio Magnoliophyta

Classis Liliopsida

Ordo Poales

Familia Poaceae

Genus Zea

Species Zea mays L.

Habitus : Perawakan tanaman jagung adalah herba. Tumbuhan berbatang herba


memiliki cirri batang memiliki cairan atau mengeluarkan getah serta lunak (Indriyanto, 2008:
92).

Akar : Sistem perakaran jagung adalah akar serabut. Akar serabut yaitu jika
akar lembaga dalam perkembanga selanjutnya mati kemudian disusul oleh sejumlah akar yang
sama besar dan semuanya keluar dari pangkal daun (Gembong, 2009: 93).

Fungsi dari akar penyangga adalah menjaga tanaman agar tetap tegak dan mengatasi rebah
batang. Akar ini juga membantu penyerapan hara dan air. Jagung termasuk tanaman berakar
serabut yang terdiri dari tiga tipe akar, yaitu (Subekti, 2005: 4):
Akar seminal. Akar seminal tumbuh dari radikula dan embrio. Pertumbuhan akar seminal
akan melambat setelah plumula muncul ke permukaan tanah dan pertumbuhan akar seminal
akan berhenti pada fase V3

Akar adventif. Akar adventif adalah akar yang semula berkembang dari buku di ujung
mesokotil, kemudian set akar adventif berkembang dari tiap buku secara berurutan dan terus
ke atas antara 7 10 buku, semuanya di bawah permukaan tanah. Akar adventif disebut juga
akar tunjang. Akar adventif berkembang menjadi serabut akar tebal

Akar udara. Sementara akar udara adalah akar yang keluar dari dua atau lebih buku terbawah
dekat permukaan tanah

Perkembangan akar jagung tergantung dari varietas, kesuburan tanah, dan keadaan air tanah.

Batang : Tanaman jagung mempunyai batang yang tidak bercabang, berbentuk


silindris, dan terdiri atas sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang
berkembang menjadi tongkol. Dua tunas teratas berkembang menjadi tongkol yang produktif.
Tinggi batang jagung tergantung varietas dan tempat penanaman, umumnya berkisar 60 300
cm (Subekti, 2005: 2).

Batang memiliki tiga komponen jaringan utama, yaitu kulit (epidermis), jaringan pembuluh
(bundles vaskuler), dan pusat batang. Jaringan pembuluh tertata dalam lingkaran konsentris
dengan kepadatan jaringan pembuluh yang tinggi, dan lingkaran lingkaran menuju perikarp
dekat epidermis. Kepadatan jaringan pembuluh berkurang begitu mendekati pusat batang.
Konsentrasi jaringan pembuluh yang tinggi di bawah epidermis menyebabkan batang tahan
rebah (Subekti, 2005: 2).

Daun : Daun jagung memanjang dan keluar dari bukubuku batang. Jumlah daun
terdiri dari 8 48 helain. Tergantung varietasnya. Daun terdiri dari tiga bagian, yaitu pelepah
daun, lidah daun, dan helaian daun. Pelepah daun umumnya membungkus batang. Antara
pelepah dan helaian terdapat lidah daun yang disebut liguna. Liguna ini berbulu dan
berlemak. Fungsi liguna adalah mencegah air masuk kedalam kelompok daun dan batang
(Subekti, 2005: 2).

Lebar helai daun dikategorikan mulai dari sangat sempit (< 5 cm), sempit (5,1 7 cm),
sedang (7,1 9 cm), lebar (9,1 11 cm), hingga sangat lebar (>11 cm) (Efendi, 2007: 4).

Bangun daun tanaman jagung adalah bangun pita (ligutalus). Pada penampangnya pipih dan
daun amat panjang. Daun bertulang sejajar (rectinervis), yang mempunya ibu tulang di tengah
yang besar membujur daun sedang tulang-tulang lainnya jelas lebih kecil dengan arah yang
sejajar ibu tulang. Tepi daun rata. Daging daun bagian daun yang berada di antara tulang-
tilang daun dan urat urat daun adalah seperti kertas (papyraceus), tipis tapi cukup kaku
tegar (Gembong, 2009: 31).

Bentuk ujung daun bermacam-macam yaitu runcing, meruncing, runcing agak bulat, bulat,
bulat agak tumpul, dan tumpul (Subekti, 2005: 3).
Bunga : Bunga jagung tergolong bunga tidak lengkap karena struktur bunganya tidak
mempunyai petal dan sepal dimana organ bunga jantan (staminate) dan organ bunga betina
(pestilate) tidak terdapat dalam satu bunga disebut berumah satu (Efendi, 2007: 4).

Bunga jantan terletak dipucuk yang ditandai dengan adanya rambut atau tassel dan bunga
betina terletak di ketiak daun dan akan mengeluarkan stil dan stigma (Subekti, 2005: 5).

Biji : Biji jagung tersusun rapi pada tongkol. Dalam satu tongkol terdapat 200 400
biji. Biji jagung terdiri dari tiga bagian. Bagian paling luar disebut paricarrp. Bagian atau
lapisan kedua yaitu endosperm yang merupakan cadangan makanan biji. Sementara bagian
paling dalam yaitu embrio atau lembaga (Efendi, 2007: 5).

Manfaat : Keuntungan bertanam jagung ternyata sangat besar. Selain biji sebagai hasil
utama, batang jagung merupakan bahan pakan ternak yang sangat potensial. Dengan
demikian, dalam pengusahaan jagung selain mendapat biji atau tongkol jagung, masih
ditambah lagi dengan brangkasannya yang juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Dari segi
pengelolaan, keuntungan bertanam jagung adalah kemudahan dalam budidaya. Tanaman
jagung merupakan tanaman yang tidak membutuhkan perawatan intensif dan dapat ditanam di
hampir semua jenis tanah. Resiko kegagalan bertanam jagung umumnya sangat kecil
dibandingkan tanaman palawija lainnya (Sunarti, 2005: 4).

Hampir seluruh bagian tananam jagung memiliki nilai ekonomis. Secara umum, beberapa
manfaat bagian bagian tanaman jagung dijelaskan sebagai berikut (Sunarti, 2005: 5):

Batang dan daun muda untuk pakan ternak

Batang dan daun tua (setelah panen) untuk pupuk hijau atau kompos

Batang dan daun kering untuk kayu bakar

Batang jagung untuk lanjaran (turus)

Selain bijinya, bagian lain yang dapat dimanfaatkan adalah tongkol jagung yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan campuran pakan ternak, kemudian batangnya dapat dijadikan
senagai bahan pulp (bahan kertas), serta daunnya yang dapat dimanfaatkansebagai bahan
pengemasan makanan (Sunarti, 2005: 6).

Secara garis besar, kegunaan jagung dapat dikelompokkan manjadi tiga, yaitu bahan pangan,
pakan ternak, dan bahan baku industri.

Bahan Pangan

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, jagung sudah menjadi konsumsi seharihari.
Biasanya jagung dibuat dalam bentuk makanan seperti jagung, bubur jagung, jagung
campuran beras, dan banyak lagi makanan tradisional yang berasal dari jagung
(Subekti.2005:8).

Jagung sebagai makanan pokok juga dilakukan di beberapa negara antara lain Rumania, bekas
Yugoslavia, Mesir, Peru, Afrika Selatan, Meksiko, dan lain lain. Di Italia jagung dimakan
sebagai bubur dengan nama Polenta, di Rumania dengan nama Mamaliga, di bekas
Yugoslavia dikenal Zgance, di Spanyol, Meksiko dan Amerika Tengah di makan dalam bentuk
roti dengan nama Tortillas (Mangunwidjaja, 2003: 4).

2. Bahan Pakan Ternak

Ternak Bagi sebagian besar peternak di Indonesia, jagung merupakan salah satu bahan
campuran pakan ternak. Bahkan di beberapa pedesaan jagung digunakan sebagai bahan pakan
utama. Biasanya, jagung dicampur bersama bahan pakan lain seperti dedak, sholgum,
hijauan, dan tepung ikan. Pakan berbahan jagung umumnya diberikan pada ternak ayam, itik,
dan puyuh (Sunarti, 2005: 5).

3. Bahan industry

Pati jagung dan derivatnya digunakan pada industri kertas, tekstil, cat, dan farmasi. Di
Amerika Serikat, HFCS mempunyai porsi 40% dari penggunaan gula nasional
(Mangunwidjaja, 2003: 4).

Di pasaran, banyak beredar produk olahan jagung. Produk olahan jagung tersebut umumnya
berasal dari industri skala rumah tangga hingga industri besar. Secara garis besar, beberapa
industri yang mengolah jagung menjadi produk sebagai berikut (Sunarti, 2005: 6):

Industri giling kering, yaitu menghasilkan tepung jagung

Industri giling basah, yaitu menghasilkan pati, sirup, gula jagung, minyak, dan dextrin

Industri destilasi dan fermentasi, yaitu industri yang menghasilkan etil alcohol, aseton,

asam laktat, asam sitrat, gliserol, dan lainlain

Pengolahan Gula dari Pati Jagung

Pati jagung dan pati lainnya secara kimia tersusun atas amilosa dan amilopektin yang unit
penyusun terkecilnya (monomer) adalah glukosa. Secara hidrolisis dan proses kimia lain pati
ini dapat diubah menjadi gula dan senyawa lebih sederhana. Sebagai ukuran berapa
kandungan gula sederhana (dekstrosa) yang menyusun produk pecahan pati digunakan DE
(dextrose equivalent). Produk-produk tersebut dekstrin, maltodekstrin, mhigh maltose
syrups, glucose syrups, high fructose syrups, dextrose (Mangunwidjaja, 2003: 13).

Pengolahan lanjut dari pati jagung menjadi derivat pati

Modifikasi pati dapat dilakukan secara fisik (dengan pemanasan) atau secara kimiawi.
Dengan modifikasi terse but sifat-sifat fisik dan kimia pati berubah sesuai dengan kegunaan
yang diinginkan. Pati termodifikasi banyak digunakan untuk bahan pelapis, dan permukaan
industri kertas dan tekstil. Selain itu beberapa jenis digunakan untuk pengikat (makanan bayi,
salad) dan pengisi (Mangunwidjaja, 2003: 18).
h. Butanol

Butanol merupakan salah satu sumber energi selain alkohoI (etanol) yang dapat diproses
melalui fermentasi anaerobik pati atau glukosa. Pati dipilih sebagai bahan dasar penghasil
butanol dengan fermentasi menggunakan biakan campuran yaitu kapang (Aspergillus sp.)
atau bakteri (Bacillus p.) dan bakteri pembentuk aseton butanol etanol (ABE)
(Mangunwidjaja, 2003: 20).

SAGU

Kingdom Plantae

Divisio Magnoliophyta

Classis Liliopsida

Ordo Arecales

Familia Arecaceae

Genus Metroxylon

Spesies Metroxylon sagu Rottb.

Sagu merupakan tumbuhan palmae asal Indonesia yang di duga berasal dari daerah Sentani
Papua. Sagu hamper dikenal di seluruh masyarakat Indonesia, tetapi dengan sebutan nama
yang berbeda-beda tiap daerahnya. Sagu dikenel dengan sebutan Rumpia di Minangkabau,
Kirai di awa Barat, Bulung, Rembulu, Ambulung di Jawa Tengah, Lapia di Ambon, Bak
Sagee di Aceh dan sebutan sebutan lainnya (Tampoebolonl, 2009: 2).

Nama Metroxylon berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata metra dan xylon.
Metra berarti isi batang atau pembuluh dan xylon berartixilem. Sagu dari genus Metroxylon
dibagi menjadi dua yaitu sagu yang berbuah atau berbunga dua kali (pleonanthic) dan sagu
yang berbunga atau berbuah hanya satu kali (hepaxanthic) (Tampoebolon, 2009: 2).
Di Indonesia, masyarakat mengenal dua jenis penghasil tepung sagu utama, yaitu dari jenis
Metroxylon dan jenis Arenga (sagu aren). Sagu aren tumbuh pada lahan relatif kering (banyak
ditemukan di Jawa, Sumatera dan Kalimantan) dan kandungan tepungnya relatif lebih sedikit
dibandingkan dengan sagu Metroxylon. Sagu Metroxylon biasanya dibagi dalam dua
golongan, yaitu hanya berbunga atau berbuah sekali (hapaxanthic) dan yang berbunga atau
berbuah lebih dari satu kali (pleonanthic) (Temboelon, 2009: 2).

Habitus : Perawakan dari tumbuhan sagu adalah adalah pohon.

Habitat : Tanaman sagu tumbuh secara alami terutama di daerah dataran atau rawa
denganang sumber air yang melimpah. Tanaman sagu masih dapat tumbuh dengan baik pada
ketinggian 1.250 m dpl dengan curah hujan 4.500 mm/ tahun. (Limbongan, 2007: 1).

Sagu memiliki daya adaptasi yang tinggi pada lahan marjinal dan kritis yang memungkinkan
pertumbuhan tidak optimal bagi tumbuhan lainnya. Sagu banyak diumpai di daerah dataran
rendah dengan ketinggian 0 700 mdi atas permukaan laut, suhu di atas 250C dan
kelembapan udara lebih dari 70 persen. Sagu tumbuh di daerah rawa berair tawar atau daerah
gambut, di sepanjang aliran sungai atau daerah tropis basah yang digenangi air (Chafid,
2010: 2).

Morfologi : Tanaman sagu memiliki keragaman yang sangat tinggi, sehingga


mempunyai ciri morfologi yang berbeda beda. Di Papua terdapat 60 jenis tanaman sagu
yang telah teridentifikasi yang tersebar di daerah di Jayapura, Manokwari, Merauke, dan
Sorong (Chafid, 2010: 5).

Ciri morfologi sagu Papua seperti tinggi tanaman, lingkar batang, berduri atau tidak berduri
dapat digunakan untuk membedakan jenis jenis sagu. Demikian pula warna serat, warna
tepung, dan kandungan kimia dapat digunakan untuk menentukan jenis sagu yang dapat
dikonsumsi (Limbongan, 2007: 5).

Akar : System perakaran sagu adalah akar serabut. Akar serabut yaitu jika akar
lembaga dalam perkembanga selanjutnya mati kemudian disusul oleh sejumlah akar yang
sama besar dan semuanya keluar dari pangkal daun (Gembong, 2009: 93).

Batang : Batang sagu merupakan bagian yang terpenting karena merupakan gudang
penyimpan tepung. Ukuran batang sagu berbeda-beda tergantung dari jenis, umur, dan
lingkungan atau habitat tumbuhnya. Pada umur 3 11 tahun tinggi batang bebas daun sekitar
3 16 m, bahkan dapat mencapai 20 m. Sagu memiliki batang tertinggi pada umur panen,
yaitu 14 tahun ke atas. Pada rumpun sagu rata-rata terdapat 1-8 batang, pada setiap pangkal
batang tumbuh 5 7 batang anakan. Pada kondisi liar, rumpun sagu ini akan melebar dengan
jumlah anakan yang banyak, dalam berbagai tingkat pertumbuhan anakan tersebut sedikit
sekali yang tumbuh menjadi pohon dewasa (Chafid, 2010: 17).

Batang sagu berbentuk silinder berdiameter sekitar 50 cm bahkan dapat mencapai 80 90 cm.
Umumnya, diameter batang bagian bawah agak lebih besar daripada bagian atas. Batang
bagian bawah umumnya juga mengandung pati yang lebih tinggi dari pada bagian atas.
Batang sagu terdiri dari lapisan kulit bagian luar yang keras dan bagian dalam berupa empulur
yang mengandung serat-serat dan tepung. Tebal kulit luar yang keras sekitar 3 5 cm. Pohon
sagu yang masih muda, kulitnya lebih tipis dibandingkan dengan sagu dewasa (Limbongan,
2007: 3).

Daun : Daun merupakan bagian sagu yang punya peranan penting, karena merupakan
dapur pembentukan tepung dalam proses fotosintesis. Daun sagu berbentuk memanjang, agak
lebar, berinduk tulang daun di tengah yang menyerupai daun kelapa. Sagu yang tumbuh pada
tanah liat dengan penyinaran yang baik, pada umur dewasa memiliki 18 tangkai daun yang
panjangnya sekitar 5 7 m. Dalam setiap tangkai terdapat sekitar 50 pasang daun yang
panjangnya bervariasi antara 60 180 cm dan lebarnya sekitar 5 cm. Daun sagu muda
umumnya berwarna hijau muda yang berangsur-angsur berubah menjadi hijau tua, kemudian
berubah lagi menjadi cokelat kemerah-merahan apabila sudah tua atau matang (Chafid, 2010:
17).

Daun sagu menyirip dengan uung meruncing. Letak daun berajauhan, panjang tangkai sekitar
4 5 m, panjang helaian 1,5 m dengan lebar 7 cm. setiap bulan tumbuhan sagu membentuk
satu tangkai daun dengan umur rat-rata 18 bulan kemudian akan gugur (Tampoebolon, 2009:
3).

Bunga : Bunga sagu merupakan bunga majemuk yang keluar dari ujung atau puncak
batang sagu, berwarna merah kecokelatan seperti warna karat. Sagu berbunga dan berbuah
pada umur sekitar 10 15 tahun tergantung pada kondisi tanah, tinggi tempat, dan varietas.
Bunga sagu bercabang banyak seperti tanduk rusa yang terdiri dari cabang-cabang primer,
sekunder, dan tersier. Pada cabang tersier terdapat sepasang bunga jantan dan bunga betina.
Munculnya bunga menandakan bahwa sagu telah mendekati akhir daur pertumbuhan (Chafid,
2010: 18).

Bunga jantan mengeluarkan tepungsari sebelum bunga betina terbuka. Putik bunga betina
memiliki tiga sel telur, tetapi hanya satu yang dapat berkecambah yang dua bersifat
rudimenter (Tampoebolon, 2009: 4).

Buah : Buah sagu berbentuk bulat menyerupai buah salak dan mengandung biji
fertile. Waktu antara bunga mulai muncul sampai fase pembentukan buah diduga berlangsung
sekitar dua tahun. Pohon sagu mengandung tepung maksimum pada fase antara waktu setelah
berbunga dan sebelum buah berbentuk sempurna (Chafid, 2010: 18).

Manfaat :

Tanaman sagu memiliki banyak manfaat diantaranya yaitu (Chafid, 2010: 21):

Pelepahnya dipakai sebagai dinding atau pagar rumah.

Daunnya digunakan untuk atap

Kulit atau batangnya merupakan kayu bakar yang bagus


Aci sagu (bubuk yang dihasilkan dengan cara mengekstraksi pati dari umbi atau empulur
batang) dapat diolah menjadi berbagai makanan

Sebagai makanan ternak

Serat sagu dapat dibuat hardboard atau bricket bangunan bila dicampur semen

Dapat dijadikan perekat (lem) untuk kayu lapis

Apabila rantai glukosa dalam pati dipotong menjadi 3-5 rantai glukosa (modifief starch) dapat
dipakai untuk menguatkan daya adhesive dari proses pewarnaan kain pada industri tekstil.

Dapat diolah menjadi bahan bakar metanol-bensin

Selain itu,ampas sagu yang telah disaring dapat diadikan media pertumbuhan jamur sagu yang
dapat dimakan. Sedangkan sisa batang sagu (pangkal) dan pucuk sagu yang telah ditebang
dibiarkan menjadi tempat berteluanya kumbang yang dapat menghasilkan ulat sagu yang
dapat dimakan (Dina, 2001: 36).

Pusat Pengembangan Dan Penelitian Teknilogi Pangan, telah melakukan penelitian tentang
variasi produk sagu. Sagu dapat diolah menjadi beraneka ragam makanan, diantaranya yaitu
chiki sagu, makanan sapihan untuk bayi umur 6 bulan ke atas dan kuesagu basah. Produk
tersebut usaha indusrti besar, industry kecil ataupun penghasilan rumah tangga (Dina, 2001:
36).

Ampas sagu dapat dimanfaatkan menadi pupuk Urea dengan mencampurkan fese kering ayam
boiler, abu dapur, dan pupuk urea. Ketiga bahan tersebut diaduk kemudian diberi EM4,
diaduk kemudian dibuat gundukan pada suhu 40 500C dan ditutup dengan karung goni
(Limbongan, 2007: 1).

Penggunaan sagu sejauh ini untuk bahan tradisional atau campuran tepung terigu dalam
pembuatan kue yang umumnya diproduksi dalam skala industri kecil. Kandungan pati yang
cukup tinggi dari tepung sagu memungkinkan sagu dipergunakan sebagai (Dina, 2001: 39):

Bahan baku untuk produksi glukosa

Bahan baku high fructose syrup, sorbitol dan lain-lain

Bahan baku industri alkohol

Bahan baku industri tekstil

5. Bahan baku industri lem untuk plywood


TUMBUHAN YANG MENGANDUNG
KARBOHIDRAT

Tugas Farmakognosi

Dosen : Dra. Hj. Nurlina Ibrahim, M.Si.,Apt

Oleh : Aryati Cahyaramdhani

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2016