Anda di halaman 1dari 4

Analisis Jurnal Internasional

I. Identitas Analisator
a. Nama : Ayu Widiarti
b. NIM : 14021010318
c. Kelas :A
II. Identitas Jurnal
a. Nama penulis : Brigitte Pakendorf and Mark
Stoneking
b. Tahun terbit : 2005
c. Judul :Mithochondrial DNA and Human Evolution
d. Jenis jurnal : Journal international Annu. Rev. Genomics
Hum. Genet. 2005. 6:16583
III. Ringkasan jurnal
Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi memacu peneliti
untuk membuktikan mengenai kekerabatan/evolutionary relationship
manusia, dengan mengkaji secara molekular. Biologi molekular
sekarang ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi utama yang
kuantitatif dan objektif yang mengkaji tentang sejarah evolusioner
manusia. Hal tersebut telah menjadi suatu studi baru tentang
genetik/keturunan manusia terhadap penyimpangan dari kera sebagai
nenek moyang, dan dalam studi ini juga dikaji bahwa manusia berasal
dari keturunan manusia juga (Cann et al., 1987). Studi DNA diyakini
oleh para peneliti mampu mengungkapkan perbedaan yang lebih teliti
dalam membedakan intra dan interspesies yaitu menyangkut struktur
komposisi dan organisasi genom pada tingkat DNA. Dan DNA
mitokondria (mtDNA) dianggap lebih spesial karena dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh Avis & Lansman (1983), Brown (1983),
dan Boursot (1985), bahwa DNA mitokondria memiliki derajat
polimorfisme yang tinggi dibandingkan dengan DNA inti, sehingga
memperlihatkan secara jelas terhadap pasangan basa-basa penyusun
genomnya (Solihin, 1994).
Di berbagai belahan dunia, mtDNA merupakan suatu
studi/pengetahuan baru yang tercipta untuk melihat sejarah dari gen
manusia. Selain dari pada tingginya derajat polimorfisme dari mtDNA,
ada beberapa sifat yang unik dari mtDNA ini, seperti: kemampuan
mengkopi sel dengan cepat (High Copy Number); kekerabatan
maternal (Maternal Inheritance); tanpa tahap rekombinan (Lack of
Recombination); dan laju mutasi yang tinggi (Mutation Race).
Mitokondria merupakan organel yang bertanggung jawab di dalam
metabolisme aerobik pada sel-sel eukariot. Mitokondria memiliki
molekul DNA tersendiri dengan ukuran kecil yang susunannya berbeda
dengan DNA inti. Setiap sel mengandung satu sampai ratusan
mitokondria (Solihin, 1994). Gray dkk (1999) menyatakan bahwa
berdasarkan data yang dikumpulkan dalam database informasi genetik
mitokondria, dibedakan atas 2 tipe dasar yaitu: ancestral dan devided
(turunan). Genom mitokondria ancestral didefinisikan sebagai genom
mitokondria yang memiliki sisa yang jelas dari ancestor eubakterianya.
Sementara, genom-genom mitokondria turunan memiliki perbedaan
radikal dari pola ancestral tersebut, dengan hanya sedikit atau bahkan
tidak ada sifat-sifat primitif yang tersisa (dalam Wulandari, 2005).
DNA mitokondria (mtDNA) manusia merupakan DNA utas ganda
yang berbentuk sirkuler, tersusun atas 16.569 base pair (pasangan
basa) untuk mengkode 13 sub unit dari sistem fosforilasi oksidasi
(URF1, URF2, URF3, URF4, URF5, URF6, URFA6L, URF4L, CO-I,
CO-II, CO-III, Cytochrome gene-b, dan ATPase 6) 2 gen pengkode
ribosomal RNAs (12S rRNA dan 16S rRNA), dan 22 gen pengkode
tRNAs.
Hal itu telah menjadikannya molekul pilihan untuk studi populasi
manusia sejarah dan evolusi Di sini kita meninjau keadaan
pengetahuan saat ini mengenai hal ini sifat, bagaimana variasi mtDNA
dipelajari, apa yang telah kita pelajari, dan apa masa depan
kemungkinan memegang Kami menyimpulkan bahwa semakin
banyak, studi mtDNA (dan harus) ditambah dengan analisis
kromosom-Y dan variasi nuklir lainnya. Beberapa masalah serius perlu
ditangani mengenai sisipan nuklir, kualitas database, dan kemungkinan
pengaruh seleksi pada variasi mtDNA. Meskipun demikian, studi
mtDNA akan terus memainkan peran penting di bidang seperti
memeriksa pengaruh sosio-kultural pada variasi genetik manusia,
DNA purba, aplikasi DNA forensik tertentu, dan dalam melacak
sejarah genetis pribadi.

IV. Hal Hal yang menarik pada jurnal :


a. DNA mitokondria (mtDNA) manusia memiliki tingkat
polimorfisme yang lebih tinggi dibandingkan DNA inti, terutama
pada daerah D-loop yang merupakan daerah non-coding dan
memiliki polimorfisme tinggi dalam genom mitokondria.
b. DNA mitokondria (mtDNA) manusia memiliki sifat-sifat yang
khas, salah satunya adalah sifat genetik khusus yang
membedakannya dari genom inti.
c. DNA mitokondria (mtDNA) manusia memiliki sifat-sifat yang
khas, salah satunya adalah sifat genetik khusus yang
membedakannya dari genom inti.
d. Warisan maternal pada mtDNA manusia dianggap sebagai dogma
yang tak tergoyahkan lapangan
e. mtDNA yaitu memiliki laju mutasi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan DNA inti yaitu laju mutasi menetap gen-gen mtDNA 10-17
kali lebih cepat daripada yang terlibat dalam fosforilasi oksidatif
yang dikode oleh DNA inti.
V. Pertanyaan pertanyaan yang muncul
a. Mengapa mtDNA pada manusia dapat digunakan sebagai penanda
tunggal dalam melacak keterkaitan hubungan kekeluargaan ?
b. Bagaimana cara peneliti mengkaitkan mtDNA dengan perdebatan
evolusi manusia pada teori evolusi ? bagaimana cara
membuktikannya ?
c. Selain pada mtDNA manusia, apakah mtDNA pada hewan dan
tumbuhan dapat di gunakan melacak hubungan kekerabatan ?
VI. Aplikasi atau penggunaan artikel
MtDNA digunakan sebagai penanda tunggal untuk mengelusidasi
evolusi manusia dan sejarah penduduk, masih penting bagi lebar
berbagai pertanyaan. Pertama-tama, hal ini berguna untuk mengungkap
efek sosio-budaya yang mungkin telah mempengaruhi evolusi
manusia, seperti poligami, yang efek matrilocality versus patrilocality,
atau stratifikasi sosial disebabkan oleh sistem kasta. Selanjutnya,
karena jumlah salinan yang tinggi mtDNA versus diploid autosom dan
haploid kromosom Y, mtDNA sangat penting dalam studi kuno DNA
dan dalam beberapa aplikasi forensik. Tergantung pada umur fosil
sampel, sering hanya mtDNA masih akan hadir, dan karena ini adalah
satu-satunya satu wawasan bisa masuk ke dalam afinitas genetik
populasi kuno. Diharapkan setelah membaca ini para pembaca dapat
mengaplikasikan artikel ini sesuai bidang yang telah di jelaskan pada
artikel yaitu sebagai suatu hubungan kekerabatan, terutama untuk
membuktikan masalah evolusi manusia.