Anda di halaman 1dari 15

No Materi Pokok

1 Judul

2 Prinsip Hak Penguasaan Negara

3 Penggolongan / Pengelompokan

4 Kewenangan Pengelolaan
5 Wilayah Pertambangan

6 Legalitas Usaha

7 Tahapan Usaha
8 Klasifikasi Investor dan Jenis Legalitas Usaha

9 Kewajiban Pelaku Usaha

10 Pembinaan dan Pengawasan


11 Ketentuan Peralihan (terkait status hukum investasi existing)

12 Pelaku Usaha
13 Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha

14 Kewenangan Pengelolaan

15 Isi Undang-undang

16 Kandungan isi tambang

Pengawan

17
UU Nomor 11 Tahun 1967
Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan

Penguasaan bahan galian diselenggarakan Negara;

(pasal 1)

Penggolongan bahan galian;

Strategis;
Vital;
Non strategis, Non vital

(pasal 3)

Bahan galian strategis (gol. A) dan vital (gol.B) dilakukan oleh Menteri;

Bahan galian non strategis non-vital oleh Pemerintah Daerah Tingkat I/ Propinsi;

(pasal 4)
Secara terinci tidak diatur, kecuali bahwa usaha pertambangan tidak berlokasi di tempat suci,
kuburan, bangunan dll

(pasal 16 ayat 3)

Rezim Kontrak berupa:

Kontrak / Perjanjian Karya (KK);


Kuasa Pertambangan (KP);
Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD);
Surat Izin Pertambangan Rakyat (SIPR)

(pasal 10-15)

Enam tahapan, berkonsekuensi pada adanya 6 jenis pertambangan:

penyelidikan umum;
eksplorasi;
eksploitasi;
pengolahan dan pemurnian;
pengangkutan;
penjualan;

(pasal 14)
Investor Domestik (PMDN), berupa: KP, SIPD, PKP2B;

Investor Asing (PMA), berupa: KK, PKP2B


IUP bagi badan usaha (PMA/PMDN, koperasi, perseorangan;

Kewajiban keuangan bagi Negara

KP sesuai aturan berlaku: iuran tetap dan royalti (merujuk PP No. 45/2003 tentang Penerimaan
Negara Bukan Pajak Departemen ESDM)

KK/PKP2B sesuai kontrak, yakni KK: iuran tetap dan royalti, PKP2B: iuran tetap dan Dana Hasil
Penjualan Batubara (DHPB) merujuk Keppres No. 75/1996 tentang ketentuan PKP2B)

Minimalnya bahkan tidak diaturnya kewajiban soal lingkungan, kemitraan dengan pelaku usaha
lokal, pemanfaatan tenaga kerja setempat, program pengembangan masyarakat
Kewajiban keuangan bagi Negara; pajak dan PNBP. Tambahan untuk IUPK: pembayaran 10%
keuntungan bersih;

Pengawasan terpusat di tangan pemerintah atas pemegang KK, KP, PKP2B


semua hak pertambangan dan KP perusahaan Negara, swasta, badan lain atau perseorangan
berdasarkan peraturan yang ada sebelum saat berlakunya UU ini, tetap dijalankan sampai sejauh
masa berlakunya, kecuali ada penetapan lain menurut PP yang dikeluarkan berdasarkan UU ini.

(pasal 35)

Investor domestik (KP, SIPD, PKP2B)


Investor asing (KK, PKP2B)
Luas usaha pertambangan tidak dirinci
1. Keuangan:

- KP, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku

- KK/PKP2B, tetap pada saat kontrak ditandatangani

2. Lingkungan (sedikit diatur)

3. Nilai tambah (hanya diatur didalam kontrak)

4. Pemanfaatan tenaga kerja setempat (tidak diatur)

5. Kemitraaan pengusaha lokal (tidak diatur)

6. Program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (tidak diatur)

KP, KK dan PKP2B dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat

37 pasal dan 12 bab


segala bahan galian (unsur-unsur kimia mineral-mineral,bijih dan segala macam batuan
termaksut batuan batu-batu mulia yang merupakan endapan-endapan alam.

Terpusat kepada mentri


Penguasaan Minerba oleh Negara, diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daera

(pasal 4);

Pemerintah dan DPR menetapkan kebijakan pengutamaan Minerba bagi kepentingan nasional;

(pasal 5)

Pengelompokan usaha pertambangan; mineral dan batubara;

Penggolongan tambang mineral; radioakif, logam, buka logam, batuan;

(pasal 34)

21 kewenangan berada di tangan pusat;

14 kewenangan berada di tangan propinsi;

12 kewenangan berada di tangan kabupaten / kota

(pasal 6-8)
Wilayah pertambangan adalah bagian dari tata ruang nasional, ditetapkan pemerintah setelah k

(pasal 9);

Wilayah Pertambangan terdiri dari Wilayah Usaha Pertambangan (WUP), Wilayah Pertambangan

Rezim Perijinan berupa:

Ijin Usaha Pertambangan (IUP);


Ijin Pertambangan Rakyat (IPR);
Ijin Usaha Pertambang Khusus (IUPK);

(pasal 35)

Dua tahapan, berkonsekuensi pada adanya 2 tingkat perijinan:

Eksplorasi, meliputi:penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan;

Operasi produksi, meliputi: kontruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan

(pasal 36)
(pasal 38);

IPR bagi penduduk lokal, koperasi (pasal 67);

IUPK bagi badan usaha berbadan hukum Indonesia, baik BUMN/BUMD/badan usaha swasta;

(pasal 75)

Pemeliharaan lingkungan: konservasi, reklamasi;

(pasal 96-100);

Kepentingan nasional: pengolahan dan pemurnian di dalam negeri (pasal 103-104);

Pemanfaatan tenaga kerja setempat, partisipasi pengusaha lokal pada tahap produksi, program

(pasal 106-108);

Pengunaan perusahaan jasa pertambangan lokal dan/atau nasional (pasal 124);

Pusat, propinsi, kabupaten / kota sesuai kewenangan terhadap pemegang IUP, IPR atau IPK;

(pasal 139-142)
pada saat UU ini mulai berlaku

KK dan PKP2B yang telah ada sebelum berlakunya UU ini tetap diberlakukan sampai jangka wak

Ketentuan yang tercantum dalam pasal KK dan PKP2B dimaksud disesuaikan selambat-lambatny

(pasal 169)

IUP (Izin Usaha Pertambangan) diberikan pada badan usaha, koperasi dan perseorangan (pasal 3
IPR (Izin Pertambangan Rakyat) diberikan pada penduduk setempat, naik perseorangan maupun
IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus) diberikan pada badan usaha berbadan hukum Indonesia
Keuangan: membayar pendapatan negara dan daerah: Pajak, PNBP, iuran (pasal 128-133)
Lingkungan:

Good mining practices (pasal 95)


Reklamasi, pasca tambang dan konservasi yang telah direncanakan, beseta dana yang disediaka

Nilai tambah. Pemegang IUP operasi produksi wajib melakukan pengolahan dan pemurnian hasil ta
Mengutamakan pemanfaatan tenaga kerja setempat (pasal 106)
Saat tahap operasi produksi, wajib mengikutsertakan pengusaha lokal (pasal 107)
Menyusun program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (pasal 108)
Wajib menggunakan perusahaan jasa pertambangan lokal dan/atau nasional seperti konsultasi dan

Bupati/Walikota apabila Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) berada dalam satu wilayah Ka
Gubernur apabila WIUP berada pada lintas Wilayah Kab/Kota
Menteri apabila WIUP berada pada lintas wilayah Provinsi

175 pasal dan 26 bab

lebih spesifik yaitu mineral dan batu bara

pembinaan dan pengawasan terhadap pemegang IUP dan IUPK di lakukan oleh mentri ,gubernur,bu