Anda di halaman 1dari 3

AKREDITASI

A. Definisi Akreditasi
Akreditasi adalah pengakuan terhadap Rumah sakit yang diberikan oleh lembaga independen
penyelenggara Akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri, setelah dinilai bahwa Rumah Sakit itu
memenuhi standar pelayanan rumah skait yang berlaku untuk meningkatkan mutu pelayanan
rumah sakit secara berkesinambungan.

AKREDITASI
KETENTUAN PENILAIAN DAN PROSEDUR AKREDITASI RUMAH SAKIT

Pengertian Suatu pengakuan yang diberikan pemerintah kepada RS karena telah


memenuhi standar yang ditentukan
Tujuan Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan RS
Kebijakan Memberikan penilaian dan evaluasi
Penilaian dan 1. Penilaian akreditasi rumah sakit dilakukan melalui evaluasi
Prosedur penerapan Standar Akreditasi Rumah Sakit KARS yang terdiri dari
4 kelompok standar :
a. Standar Pelayanan Berfokus pada Pasien, terdapat 7 bab.
b. Standar Manajemen Rumah Sakit, terdapat 6 bab.
c. Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit, merupakan 1 bab.
d. Sasaran Millenium Development Goals (MDGs), merupakan 1
bab.
2. Penilaian suatu Bab ditentukan oleh penilaian pencapaian (semua)
Standar pada bab tsb, dan menghasilkan nilai persentase bagi bab
tersebut.
3. Penilaian suatu Standar dilaksanakan melalui penilaian
terpenuhinya Elemen Penilaian (EP), menghasilkan nilai persentase
bagi standar tersebut.
4. Penilaian suatu EP dinyatakan sebagai :
a. Tercapai Penuh (TP) diberikan skor 10.
b. Tercapai Sebagian (TS) diberikan skor 5.
c. Tidak Tercapai (TT) diberikan skor 0.
d. Tidak Dapat Diterapkan (TDD) tidak masuk dalam proses
penilaian dan perhitungan.
5. Penentuan skor 10 (Sepuluh)
a. Temuan tunggal negatif tidak menghalangi nilai tercapai
penuh dari minimal 5 telusur pasien / pimpinan / staf.
b. Nilai 80% - 100% dari temuan atau yang dicatat dalam
wawancara, observasi dan dokumen (misalnya, 8 dari 10)
dipenuhi.
c. Data mundur tercapai penuh adalah sebagai berikut :
i. Untuk survei awal : selama 4 bulan ke belakang
ii. Survei lanjutan : selama 12 bulan ke belakang
6. Penentuan skor 5 (Lima)
a. Jika 20% sampai 79% (misalnya, 2 sampai 7 dari 10) dari
temuan atau yang dicatat
dalam wawancara, observasi dan dokumen.
b. Bukti pelaksanaan hanya dapat ditemukan di sebagian area /
unit kerja yang
seharusnya dilaksanakan.
c. Regulasi tidak dilaksanakan secara penuh / lengkap.
Kebijakan / proses sudah ditetapkan dan dilaksanakan tetapi
tidak dapat dipertahankan.
e. Data mundur sebagai berikut :
i. Untuk survei awal : 1 sampai 3 bulan mundur.
ii. Untuk survei lanjutan : 5 sampai 11 bulan mundur.
7. Penentuan skor 0 (Nol)
a. Jika < 19 % dari temuan atau yang dicatat dalam wawancara,
observasi dan dokumen.
b. Bukti pelaksanaan tidak dapat ditemukan di area / unit kerja di
mana harus dilaksanakan.
c. Regulasi tidak dilaksanakan.
d. Kebijakan / proses tidak dilaksanakan.
e. Data mundur sebagai berikut :
i. Untuk survei awal : kurang 1 bulan mundur.
ii. Untuk survei lanjutan : kurang 5 sampai 11 bulan mundur.
8. Penentuan Tidak Dapat Diterapkan (TDD) Sebuah Elemen
Penilaian (EP) dinilai tidak dapat diterapkan jika persyaratan dari
EP tidak dapat diterapkan berdasar atas organisasi rumah sakit,
pelayanan, populasi, pasien dan sebagainya, contohnya organisasi
rumah sakit tidak melakukan riset.
9. Ketentuan penilaian lainnya :
a. Mempertimbangkan dampak dan kekritisan Skor dapat dipengaruhi
oleh faktor-faktor lain, seperti dampak atau kekritisan terkait
ketidak patuhan terhadap standar dan EP. Dampak diartikan sebagai
pengaruh atau hasil dari temuan. Kekritisan adalah tingkat atau
ukuran dari temuan yang penting. Penting untuk dicatat bahwa
dampak dan kekritisan tidak dapat ditentukan berdasar aturan atau
berdasar pendapat individu. Dampak dan kekritisan adalah
keputusan dari seluruh anggota tim, biasanya pada saat temuan dari
setiap surveior diintergrasikan menjadi skor akhir dari sebuah EP.

B. Kewajiban
1. Memantau kualitas, misalnya morning report, kasus sulit, ronde ruangan, kasus kematian
(death case), audit medis, journal reading;
2. Tindak lanjut terhadap temuan kualitas, misalnya pelatihan singkat (short course),
aktivitas pendidikan berkelanjutan, pendidikan kewenangan tambahan.

C. Kewenangan Komite Medik / Komisi akreditasi


1. Memberikan rekomendasi rincian kewenangan klinis (delineation ofclinical privilege);
2. Berhak merekomendasikan surat penugasan klinis (clinical appointment);
3. Berhak merekomendasikan penolakan kewenangan klinis (clinical privilege)
4. Berhak meberikan perubahan/modifikasi rincian kewenangan klinis (delineation of
clinical privilege);
5. Memberikan rekomendasi tindak lanjut audit medis
6. Berhak memberikan pendampingan (proctoring)
D. Etika yang harus dilakukan
1. Melakukan penilaian yang sesuai untuk mengukur pencapaian dan cara penerapan standar
pelayanan
2. Menetapkan status akreditasi rumah sakit sesuai kriteria penilaian oleh komite akreditasi