Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pendidikan pada hakekatnya merupakan masalah semua orang.
Seyogyanya menjadi kepedulian semua komponen bangsa, karena kualitas masa
depan bangsa sangat tergantung pada kualitas pendidikannya (Dantes, 2003).
Melalui pendidikan, setiap individu semestinya disediakan berbagai kesempatan
belajar sepanjang hayat, baik untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan
sikap maupun untuk dapat menyesuaikan diri dengan dunia yang kompleks dan
penuh dengan saling ketergantungan. Untuk itu, pendidikan yang relevan harus
bersandar pada empat pilar pendidikan, yaitu (1) learning to know, di mana siswa
mempelajari pengetahuan, (2) learning to do, di mana siswa menggunakan
pengetahuannya untuk mengembangkan keterampilan, (3) learning to be, di mana
siswa belajar menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk hidup, dan
(4) learning to live together, di mana siswa belajar untuk menyadari bahwa
adanya saling ketergantungan, sehingga diperlukan adanya saling menghargai
antara sesama (Suastra, 2009).
Dewasa ini, dunia pendidikan ditandai oleh adanya ketidakpuasan
terhadap penggunaan jenis tes objektif berlebihan. Sejalan dengan ketidakpuasan
tersebut, Mc. Laughin dan Vogt (dalam Dantes, 2005) mengatakan perlunya
dilakukan perubahan orientasi asesmen tersebut pada yang bersifat terbuka (open-
ended), di mana siswa membangun sendiri responnya. Penilaian hasil belajar
idealnya dapat mengungkap semua aspek domain pembelajaran, yaitu aspek
kognitif, afektif, dan psikomotor. Selain melakukan penilaian hasil belajar, guru
juga perlu melakukan penilaian terhadap proses belajar. Penilaian proses dan hasil
belajar saling berkaitan satu dengan lainnya, di mana hasil belajar merupakan
akibat dari suatu proses belajar. Senada dengan Trianto (2007) yang
mengungkapkan bahwa penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk
memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar
siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi
informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Oleh sebab itu, hasil
1
2

belajar dan proses belajar perlu dilakukan penilaian baik dengan menggunakan tes
maupun non-tes. Hal tersebut sangat penting, sebab siswa cenderung belajar
semata-mata berorientasi kepada penguasaan materi secara kognitif dan kurang
memperhatikan ranah afektif dan psikomotor. Dengan demikian, siswa yang
memiliki kemampuan kognitif baik saat diuji dengan paper-and-pencil test belum
tentu ia dapat menerapkan dengan baik pengetahuannya dalam mengatasi
permasalahan kehidupan.
Menurut filsafat konstruktivisme, pengetahuan itu adalah bentukan
(konstruksi) siswa sendiri yang sedang belajar (Suparno, 2002). Pengetahuan yang
dibentuk dengan sendirinya harus memunculkan dorongan untuk mencari atau
menemukan pengalaman baru. Peran guru atau pendidik dalam aliran
konstruktivisme ini adalah sebagai fasilitator atau moderator. Tugasnya adalah
merangsang, membantu siswa untuk mau belajar sendiri, dan merumuskan
pengertiannya. Dalam model filsafat konstruktivisme ini, jelas bahwa bentuk
pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran siswa yang aktif dan kritis (student
centered), bukan sebaliknya berpusat pada guru (teacher centered). Oleh karena
itu, diperlukan suatu model pembelajaran inovatif yang berlandaskan filsafat
konstruktivisme. Budimansyah (2003) menyatakan bahwa model dan strategi
pembelajaran di kelas berbasis portofolio dapat dikatakan sebagai implementasi
perspektif konstruktivisme dalam aktivitas belajar dan pembelajaran.
Penilaian portofolio merupakan salah satu jenis penilaian yang digunakan
dalam penilaian berbasis kelas dan memiliki makna optimal dalam melihat
ketercapaian kompetensi belajar siswa (Surapranata & Hatta, 2004). Budi (2007)
menyatakan bahwa salah satu bentuk penilaian yang dipandang lebih sesuai dan
cocok untuk menilai perkembangan siswa mulai dari proses sampai menjadi
sebuah produk adalah dengan menggunakan asesmen portofolio. Begitu pula
dengan pembelajaran berbasis portofolio. Pembelajaran berbasis portofolio sesuai
dengan penilaian berbasis kelas yang memandatkan penilaian hasil belajar siswa
secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar, dengan mengumpulkan kerja
siswa (OMalley & Pierce, 1996).
Gronlund (Sukadi, 2006), menyatakan bahwa penilaian portofolio
memiliki beberapa keuntungan antara lain sebagai berikut. 1) Kemajuan belajar
3

siswa dapat terlihat dengan jelas. 2) Penekanan pada hasil pekerjaan terbaik siswa
memberikan pengaruh positif dalam belajar. 3) Membandingkan pekerjaan
sekarang dengan yang lalu memberikan motivasi yang lebih besar daripada
membandingkan dengan milik orang lain. 4) Keterampilan asesmen sendiri
dikembangkan mengarah pada seleksi contoh pekerjaan dan menentukan pihak
terbaik. 5) Memberikan kesempatan siswa bekerja sesuai dengan perbedaan
individu (misalnya siswa menulis sesuai dengan tingkat level mereka, tetapi sama-
sama menuju tujuan umum). 6) Dapat menjadi alat komunikasi yang jelas tentang
kemajuan belajar siswa bagi siswa itu sendiri, orang tua, dan lainnya. Secara rinci,
penilaian portofolio akan dibahas pada makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah


Setelah mengkaji latar belakang dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1) Apakah yang dimaksud portofolio?
2) Apakah pengertian penilaian portofolio?
3) Bagaimana prinsip-prinsip penilaian portofolio?
4) Bagaimanakan bentuk-bentuk portofolio dan penilaiannya?
5) Bagaimana teknik penilaian portofolio?
6) Bagaimanakah implementasi penilaian portofolio?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk mendeskripsikan portofolio.
2) Untuk menjelaskan pengertian penilaian portofolio.
3) Untuk menjelaskan prinsip-prinsip penilaian portofolio.
4) Untuk menjelaskan bentuk-bentuk portofolio dan penilaiannya.
5) Untuk menjelaskan teknik penilaian portofolio.
6) Untuk menjelaskan implementasi penilaian portofolio.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini bagi penulis dan
pembaca adalah memeperoleh pengetahuan serta wawasan mengenai portofolio
dan penilaiannya, prinsip-prinsip yang mendasari, bentuk-bentuk portofolio dan
penilaiannya, teknik penilaiannya dan implementasinya pada pembelajaran.
4

1.5 Metode Penulisan


Penulis menggunakan metode penulisan kajian pustaka, yaitu dengan
mengambil dan menggabungkan informasi dari berbagai sumber-sumber pustaka
yang mendukung dan erat kaitannya dengan pokok bahasan dalam makalah yang
penulis susun dan disertai dengan pendapat kritis dari penulis tentang kajian
materi yang akan dibahas.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Portofolio
Menurut para ahli, portofolio memiliki beberapa pengertian. Ada yang
memandang sebagai benda, dan ada pula sebagai metoda. Portofolio sebagai suatu
wujud benda fisik, adalah kumpulan suatu hasil (bukti) dari suatu kegiatan, atau
5

bundelan, yakni kumpulan dokumentasi atau hasil pekerjaan seseorang (siswa)


yang disimpan pada suatu bundel. Winter (Sujiono, 2010) menyatakan bahwa
portofolio merupakan suatu rangkaian kerja untuk membahas atau mengkaji suatu
permasalahan yang harus berisikan deskripsi tentang pengalaman yang dapat
menghasilkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan seseorang yang dibuat
secara tertulis. Lebih lanjut Winter mengemukakan bahwa portofolio yang baik
haruslah berisikan sejumlah pengalaman belajar yang diformulasikan ke dalam
suatu bentuk penyajian tentang topik tertentu. Sementara menurut Depdiknas
(Trianto, 2010), portofolio sebagai instrumen penilaian, difokuskan pada dokumen
tentang kerja siswa yang produktif, yaitu bukti tentang apa yang dapat
dikerjakan (dijawab atau dipecahkan) oleh siswa. Bagi Guru, portofolio
menyajikan wawasan tentang banyak segi perkembangan siswa dalam belajarnya,
cara berpikirnya, pemahaman atas pelajaran yang bersangkutan, dan sebagainya.
OMalley dan Valdes Pierce (1996) menyebutkan tiga elemen penting
dalam suatu portofolio, yaitu: (1) sampel karya siswa, sampel tersebut dapat
menunjukkan perkembangan belajar dari waktu ke waktu. (2) Evaluasi diri.
Refleksi dan evaluasi diri merupakan cara untuk menumbuhkembangkan rasa
kepemilikan (ownership) siswa terhadap proses dan hasil belajarnya. (3) Kriteria
penilaian yang jelas dan terbuka. Bila pada asesmen tradisional kriteria penilaian
menjadi rahasia guru ataupun tester, dalam asesmen portofolio justru harus
disosialisasikan kepada siswa secara jelas.
Portofolio memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengatur
pembelajaran mereka sendiri. Manfaat portofolio bagi siswa adalah sebagai
berikut.
a. Mendokumentasikan usaha-usaha mereka, prestasi dan perkembanganya
dalam pengetahuan, keterampilan,ekspresi dan sikap.
b. Portofolio dapat digunakan untuk
5 menentukan tingkat prestasi.
c. Portofolio dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan berpikir
siswa, beralasan, menyelidiki, dan mengkomunikasikan hasil peyelidikan
mereka (Trianto, 2010).
Senada dengan Trianto, Sujiono (2010) juga mengungkapkan bahwa
portofolio dapat meningkatkan proses pengukuran dengan menampakkan suatu
6

tingkat keterampilan dan pemahaman siswa, mendukung tujuan pembelajaran,


merefleksikan perubahan dan pertumbuhan selama kurun waktu tertentu,
mendorong refleksi oleh siswa, guru dan orangtua, dan kemungkinan adanya
kesinambungan dalam pendidikan dari waktu ke waktu.
Jadi, penggunaan portofolio dapat mendorong para siswa merefleksikan
pekerjaan mereka sendiri, menganalisis kemajuan mereka, dan menata perbaikan.
Portofolio fisika dapat berupa contoh pekerjaan siswa, misalnya: benda-benda
hasil karya lab, laporan praktikum lab, solusi masalah-masalah fisika, hasil karya
elektronik, hasil karya sound system, dan lain-lain. Isi portofolio bergantung pada
pilihan siswa atau guru, tujuan portofolio, sasaran pembelajaran, yang semuanya
dirancang sebagai bahan refleksi.

2.2 Pengertian Penilaian Portofolio


Pendekatan penilaian portofolio berbeda dengan pendekatan penilaian
yang lain. Pendekatan penilaian portofolio adalah suatu penilaian yang bertujuan
mengukur sejauh mana kemampuan siswa dalam mengkonstruksi dan merefleksi
suatu pekerjaan/tugas atau karya dengan mengoleksi atau mengumpulkan bahan-
bahan yang relevan dengan tujuan dan keinginan yang dikonstruksi oleh siswa,
sehingga hasil konstruksi tersebut dapat dinilai dan dikomentari oleh guru dalam
periode tertentu (Sunarya, 2003). Penilaian portofolio bukan sekedar kumpulan
hasil kerja siswa, melainkan kumpulan hasil siswa yang telah dibuat untuk
menunjukkan bukti kompetensi, pemahaman, dan capaian siswa dalam mata
pelajaran tertentu.
Pada penilaian portofolio terdapat paling sedikit 7 elemen pokok, yaitu:
(1) adanya tujuan yang jelas dan dapat mencakup lebih dari satu ranah, (2)
kualitas hasil (outcomes), (3) bukti-bukti otentik yang mencerminkan dunia nyata
dan bersifat multisumber, (4) kerja sama siswa dengan siswa dan siswa dengan
guru, (5) penilaian yang integratif dan dinamis karena mencakup multidimensi,
(6) adanya kepemilikan (ownership) melalui refleksi diri dan evaluasi diri, dan (7)
perpaduan asesmen dengan pembelajaran. Sebagai asesmen alternatif, asesmen
portofolio merupakan lawan dari tes baku, tes objektif, atau bentuk tes yang
mensyaratkan hanya satu pilihan jawaban (Dantes, 2003).
7

Dengan demikian, portofolio mempunyai ciri-ciri yang utama antara lain:


(1) mempunyai tujuan pembelajaran dan kriteria yang jelas, (2) memiliki berkas-
berkas sebagai bukti otentik tentang perkembangan belajar siswa, (3) penilaian
dilakukan secara periodik dan terus menerus, (4) memberikan kesempatan dalam
melakukan penilaian diri (self assessment), (5) merupakan perpaduan antara
penilaian dengan pembelajaran, dan (6) mampu menjembatani hubungan antara
siswa dengan siswa, siswa dengan guru, dan guru dengan masyarakat/sekolah.
Firman (Sukadi, 2006) menyatakan bahwa pelaksanaan penilaian
portofolio yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut.
1) Valid, dalam arti berorientasi pada indikator-indikator kompetensi yang
dikembangkan dan dapat mengukur aspek-aspek yang ingin diukur.
2) Berkesinambungan, dalam artian terencana, bertahap, dan terus menerus
sehingga menjadi bagian dari kehidupan kelas yang berlangsung dan
menampilkan gambaran tentang perkembangan belajar siswa sesuai dengan
irama belajarnya.
3) Menyeluruh (komprehensif), yang mencakup semua dimensi kompetensi yang
dikembangkan baik pengetahuan, nilai-nilai dan sikap, komitmen, konfidensi,
dan keterampilan secara utuh dan terpadu.
4) Menggunakan multi-prosedur/teknik dan multi-instrumen, dalam arti tidak
hanya menggunakan testing (objektif tes) melainkan memanfaatkan seluruh
prosedur dan alat asesmen alternatif, seperti penilaian unjuk kerja, proyek,
observasi, dan self assessment.
5) Bermakna, dalam arti informasi yang dihasilkan berguna bagi guru dan murid
sebagai umpan balik untuk melakukan penilaian diri dalam rangka
memperbaiki proses belajar mengajar secara berkelanjutan.
6) Mendidik, dalam arti proses penilaian lebih membawa pencerahan dari pada
hukuman atau memberi cap, sehingga penilaian berkontribusi positif terhadap
peningkatan motivasi, minat, dan kinerja belajar siswa.
Penilaian portofolio haruslah menunjukkan kemampuan siswa yang sesuai
dengan apa yang telah diharapkan oleh kurikulum. Penilaian yang valid tentunya
tidak boleh mencampurbaurkan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan
8

kemampuan siswa yang hendak dicapai dalam standar kompetensi, kompetensi


dasar, dan indikator yang terdapat dalam kurikulum.
Dalam kurikulum 2013 mempertegas adanya pergeseran dalam melakukan
penilaian dari penilaian melalui tes (mengukur kompetensi pengetahuan
berdasarkan hasil saja) menuju penilaian autentik (mengukur kompetensi sikap,
keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil). Penilaian autentik
ini merupakan kegiatan menilai peserta didik yang menekankan pada apa yang
seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrumen penilaian
yang disesuaikan dengan tuntutan kompetensi inti dan kompetensi dasar.
Perbedaan penilaian portofolio dan penilaian bentuk lainnya (khususnya penilaian
tes) dapat dilihat pada Tabel 2.1
Tabel 2.1 Perbedaan Penilaian Portofolio dan Penilaian Tes
No Penilaian Portofolio Penilaian Tes
.
1 Menilai siswa berdasarkan hasil kerja Menilai siswa berdasarkan
yang berkaitan dengan kinerja yang pencapaian tujuan tertentu
dinilai
2 Siswa ikut serta dalam menilai Penilaian hanya dilakukan oleh
kemajuan yang dicapai dalam guru berdasarkan masukan yang
penyelesaian berbagai tugas yang terbatas.
dinilai
3 Mewujudkan proses penilaian yang Proses penilaian tidak ada
kolaboratif kerjasama antara guru, siswa, dan
orangtua
4 Bertujuan agar siswa mampu Kemampuan siswa dalam menilai
melakukan self-assesment diri sendiri bukan merupakan
tujuan pembelajaran.
5 Menilai kemajuan, proses, dan Penilaian hanya berpusat pada
pencapaian akhir. hasil akhir.
6 Dapat mengevaluasi kebutuhan, minat, Hanya mengevaluasi siswa dalam,
kebutuhan akademik, dan karakteristik kemampuan kognitif tingkat
siswa secara individual. rendah.
7 Mengembangkan potensi siswa dalam Memberikan informasi kepada
menggali lebih banyak pengetahuan siswa mengenai kemampuan
mereka untuk mengatasi berbagai akademiknya, melalui nilai yang
persoalan, serta mengatasi kelemahan- diperolehnya dalam tes yang
kelemahan yang dimilikinya. diberikan.
(Diadaptasi dari Yamin,2008)
Jadi, penilaian portofolio merupakan suatu pendekatan dalam penilaian
kinerja siswa atau digunakan untuk menilai kinerja. Kelebihan pendekatan
portofolio adalah memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih banyak terlibat,
9

dan siswa sendiri dapat dengan mudah mengontrol sejauhmana perkembangan


kemampuan yang telah diperolehnya. Jadi siswa akan mampu melakukan self-
assessment. Keterampilan menemukan kelebihan dan kekurangannya sendiri,
serta kemampuan untuk menggunakan kelebihan tersebut dalam mengatasi
kelemahannya merupakan modal dasar penting dalam proses pembelajaran.
Secara operasional, penilaian portofolio merupakan penilaian secara
berkesinambungan dengan metode pengumpulan informasi atau data secara
sistematik atas hasil pekerjaan siswa dalam kurun waktu tertentu.

2.3 Prinsip-Prinsip Penilaian Berbasis Portofolio


Dalam penilaian portofolio harus terjadi interaksi multi-arah, yaitu dari
guru ke siswa, siswa ke guru, dan siswa ke siswa. Terdapat prinsip-prinsip dalam
penilaian berbasis portofolio, yaitu sebagai berikut.
1) Mutual trust (saling mempercayai), artinya dalam penilaian portofolio dapat
melibatkan berbagai pihak, sehingga diperlukan rasa saling percaya di antara
pihak. Interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa, di mana
harus terwujud rasa saling percaya, saling membutuhkan, terbuka, jujur, dan
adil. Dengan demikian, penilaian akan dilakukan secara kondusif yang
berujung pada proses pendidikan yang lebih baik.
2) Confidentiality (kerahasiaan bersama), artinya hasil pekerjaan yang terkumpul
dan dokumen yang ada, kerahasiaanya harus dijaga bersama, tidak
disampaikan kepada pihak lain yang tidak berkepentingan. Tujuannya adalah
agar siswa yang memiliki kemampuan yang rendah tidak merasa
dipermalukan.
3) Joint Ownership (milik bersama), artinya dokumen atau berkas portofolio
yang terkumpul adalah milik bersama antara siswa dan guru. Guru dan siswa
perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio, sehingga siswa akan
merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus
meningkatkan kemampuannya. Oleh karena itu, penyimpanan atau
penempatan dokumen-dokumen tersebut harus disepakati bersama.
4) Satisfaction (kepuasan). Ketercapaian standar kompetensi, kompetensi dasar,
dan indikator merupakan hasil akhir portofolio. Kepuasan semua pihak
terletak pada tercapai tidaknya standar kompetensi, kompetensi dasar, dan
indikator yang dimanifestasikan melalui evidence siswa.
10

5) Relevance (kesesuaian), artinya dokumen yang terkumpul harus sesuai dengan


tugas utama, kompetensi yang diinginkan, dan tujuan-tujuan yang telah
dirumuskan guru.

2.4 Bentuk-Bentuk Portofolio dan Penilaiannya


Pembelajaran sains berbasis portofolio merupakan suatu inovasi
pembelajaran yang dirancang membantu siswa memahami teori secara mendalam
melalui pengalaman belajar berupa praktik empirik. Oleh sebab itu, dapat
memberikan gambaran keseluruhan tentang segala aktivitas siswa, apa yang
dipahami, dan diketahui siswa selama pembelajaran berlangsung. Kurikulum 2013
yang berlaku di sekolah menekankan pada pembelajaran saintifik dengan
menggunakan penilaian autentik. Dengan demikian, salah satu cara untuk
mengetahui hal tersebut adalah penilaian portofolio. Menurut Cole, Ryan, & Kick
(dalam Surapranata & Hatta, 2004), portofolio dibagi menjadi dua jenis, yaitu
sebagai berikut.
2.4.1 Portofolio Proses
Pendekatan ini mendokumentasikan seluruh segi dari tahapan proses
belajar. Portofolio proses menunjukkan kegiatan pembelajaran untuk mencapai
standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang dituntut oleh
kurikulum, serta menunjukkan semua hasil dari awal sampai dengan akhir dalam
kurun waktu tertentu. Pendekatan proses adalah suatu pendekatan pengajaran
yang memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut menghayati proses penemuan
dan penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses (Sagala, 2009).
Melalui keterampilan proses dikembangkan sikap dan nilai yang meliputi rasa
ingin tahu, jujur, sabar, terbuka, tidak percaya tahyul, kritis, tekun, ulet, cermat,
disiplin, peduli terhadap lingkungan, memperhatikan keselamatan kerja, dan
bekerja sama dengan orang lain (Trianto, 2007). Salah satu bentuk portofolio
proses adalah portofolio kerja, yaitu bentuk yang digunakan untuk memantau
kemajuan dan menilai siswa dalam mengelola kegiatan belajar mereka sendiri.
Portofolio ini bermanfaat untuk memberikan informasi bagaimana siswa:
mengorganisasikan dan mengelola kerja, merefleksi dari pencapaiannya, dan
menetapkan tujuan dan arahan. Melalui portofolio kerja, guru dapat membantu
11

siswa mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Portofolio


kerja yang dinilai adalah cara kerja (pengorganisasian) dan hasil kerja.
Portofolio proses dalam pembelajaran sains sangat penting karena tepat
digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi siswa dalam melakukan tugas
tertentu. Penilaian portofolio proses dapat dilakukan oleh guru dengan
mempersiapkan rubrik penilaian yang terdiri dari indikator dan kriteria yang
dinilai. Terkait dalam pembelajaran sains, maka portofolio proses yang dinilai
adalah proses ilmiah (unjuk kerja) dan sikap ilmiah siswa. Melalui portofolio
proses dapat menolong siswa mengidentifikasi tujuan pembelajaran,
perkembangan hasil belajar dari waktu ke waktu, dan menunjukkan pencapaian
hasil belajar.

2.4.2 Portofolio produk


Portofolio produk, yaitu bentuk penilaian portofolio yang hanya
menekankan pada penguasaan dari tugas yang dituntut dalam standar kompetensi,
kompetensi dasar, dan sekumpulan indikator pencapaian hasil belajar. Contoh
portofolio produk adalah portofolio dokumentasi dan portofolio tampilan.
Portofolio dokumentasi menyediakan informasi baik proses maupun
produk yang dihasilkan oleh siswa. Secara spesifik, pendekatan ini meliputi
koleksi pekerjaan selama kurun waktu tertentu yang memperlihatkan
pertumbuhan dan kemajuan belajar siswa tentang hasil belajar yang telah
diidentifikasi. Indikator dalam penilaian portofolio dokumentasi meliputi
kelengkapan, kejelasan, akurasi informasi yang didapat, dukungan data,
kebermaknaan data grafis, dan kualifikasi dokumen.
Jenis portofolio tampilan digunakan untuk evaluasi sumatif tentang
penguasaan siswa terhadap hasil belajar kurikulum inti (Sujiono, 2010). Portofolio
ini merupakan sekumpulan hasil karya siswa atau dokumentasi terseleksi yang
dipersiapkan untuk ditampilkan kepada umum. Selain itu, pekerjaan terbaik siswa
ditentukan baik oleh guru maupun siswa. Misalnya, mempertanggungjawabkan
suatu proyek, menyelenggarakan proyek, atau mempertahankan suatu konsep.
Namun, portofolio tampilan ini digunakan untuk pertanggungjawaban. Terdapat
beberapa aspek yang dinilai dalam bentuk ini, yaitu signifikansi materi,
12

pemahaman, argumentasi, kemampuan memberikan respon, dan kerjasama


kelompok.
Pembelajaran berbasis portofolio perlu dilakukan suatu evaluasi. Apabila
ditinjau dari segi pentahapan, evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap
perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan (Trianto, 2007). Sedangkan, dari
segi sasaran, evaluasi difokuskan kepada proses dan produk pembelajaran.
Cakupan evaluasi dari segi tahapan dan sasaran sesuai penjelasan di atas dapat
dilihat pada Tabel 2.2
Tabel 2.2 Evaluasi Pembelajaran
Tahapan
Perencanaan Pelaksanaan
Sasaran
Proses Bagaimana siswa berpartisipasi Bagaimana aktivitas
dalam menentukan tema-tema dinamika interaksi dan
terkait kemampuan berpikir
siswa
Produk Bagaimana reaksi siswa terhadap Perubahan/perkembangan
rencana yang telah disusun: perilaku apa yang terjadi
Aspek kognisi intelektual pada siswa
Apek sosial
Aspek pribadi dan lainnya
sebagai dampatk instruksional
maupun dampak pengiring

2.5 Teknik Penilaian Portofolio


Penilaian portofolio adalah mengukur sejauhmana kemampuan siswa
dalam mengkonstruksi dan merefleksikan suatu pekerjaan/tugas/karya dengan
mengoleksi atau mengumpulkan bahan yang relevan dengan tujuan dan keinginan
yang dikonstruksi oleh siswa, sehingga hasil konstruksi dapat dinilai dan
dikomentari guru (Trianto, 2010). Portofolio termasuk penilaian alternatif yang
bahannya dapat bervariasi bergantung dari fungsi dan konteks asesmen. Portofolio
dalam bidang pendidikan merupakan cara untuk mengaktifkan siswa dalam
belajar.
Belajar merupakan proses aktif pembelajaran atau pelajar dalam
mengkonstruksi pengetahuan melalui pemaknaan teks, pemaknaan fisik, dialog,
dan perumusan pengetahuan (Rohman, 2009). Ada tiga kemampuan dalam IPA,
yaitu:
1) kemampuan untuk mengetahui apa yang diamati,
13

2) kemampuan untuk memprediksi apa yang belum diamati, dan kemampuan


untuk menguji tindak lanjut hasil eksperimen, serta
3) dikembangkannya sikap ilmiah (Trianto, 2007).
Oleh sebab itu, IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan
berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atu prinsip-prinsip, tetapi juga merupakan
suatu proses penemuan. Suastra (2009) mengungkapkan bahwa belajar sains
merupakan cara ideal untuk memperoleh kompetensi (keterampilan-keterampilan,
memelihara sikap-sikap, dan mengembangkan pemahaman konsep-konsep yang
berkaitan dengan pengalaman sehari-hari). Pembelajaran sains berbasis asesmen
portofolio memberikan peluang kepada siswa untuk menemukan pengetahuan dan
pemahaman sendiri, serta mengembangkan ide-ide kreatif melalui proses belajar.
Siswa akan aktif, merasa termotivasi untuk belajar dan kaya akan makna, serta
bertanggungjawab atas apa yang dipelajarinya. Dengan demikian, domain
kognitif, psikomotor, dan afektif dapat tersentuh dalam pembelajaran sains.
Guru harus berusaha secara aktif menuntun dan mengarahkan siswa
melalui penugasan agar tujuan akhir pelajaran dapat tercapai. Dalam
pelaksanaanya, tugas utama seorang guru adalah sebagai penyaji atau penyedia
informasi pada saat pemberian tugas, sebagai fasilitator pada saat pelaksanaan
tugas, sebagai moderator dan evaluator pada saat pertanggungjawaban tugas
(Sujiono, 2010). Apabila seorang guru ingin mengadopsi asesmen portofolio
dalam pembelajaran, maka guru hendaknya membuat pengumpulan dan asesmen
berkelanjutan terhadap pekerjaan siswa sebagai fokus sentral dalam pembelajaran.
Setelah guru melakukan persiapan dalam asesmen portofolio, maka pembelajaran
dapat berlangsung sesuai yang direncanakan. Guru memberikan tugas-tugas
kepada siswa, baik yang dilaksanakan saat proses pembelajaran di kelas maupun
tugas yang dikerjakan di rumah.

2.5.1 Langkah-langkah Mempersiapkan Penilaian Portofolio


Penggunaan portofolio pada dasarnya memiliki sejumlah kelemahan atau
menghadapi kesulitan. Kelemahan atau kesulitan itu antara lain; (1) penggunaan
portofolio tergantung pada kemampuan siswa dalam menyampaikan uraian secara
tertulis, (2) penggunaan portofolio untuk penilaian memerlukan banyak waktu
dari guru untuk melakukan penskoran (apalagi jika jumlah siswanya banyak, serta
kelasnya banyak).
14

Oleh karena itu, penugasan portofolio disesuaikan dengan kemampuan


bahasa tulis Indonesia dan waktu yang tersedia bagi guru untuk membacanya.
Agar terarah, penggunaan portofolio harus dilakukan dengan perencanaan yang
sistematis, melalui enam langkah sebagai berikut (Trianto, 2010).
1) Menentukan Maksud dan Fokus Portofolio
Hal ini dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
a) Mengapa guru memerlukan portofolio siswa?
b) Tujuan pembelajaran dan tujuan kurikulum (dalam hal ini kompetensi
dasar)apa yang akan dicapai?
c) Model dan metoda penilaian yang bagaimana yang tepat untuk menilai
tujuan tersebut?
d) Apakah portofolio itu harus difokuskan pada karya terbaik atau
perkembangan belajar atau keduanya?
e) Akan digunakan dimana (sumatif atau formatif) penilaian portofolio itu?
f) Siapa yang akan dilibatkan dalam menentukan tujuan, fokus, dan
pengorganisasiannya (misalnya, siswa orang tua dan guru)?
2) Menentukan Aspek Isi yang Dinilai
Tahapan berikutnya dalam penilaian portofolio adalah menetukan isi dari
portofolio. Isi portofolio haruslah menunjukkan kemampuan siswa yang sesuai
dengan apa yang diharapkan pada standar kompetensi , kompetensi dasar, atau
indikator pencapaian hasil belajar yang terdapat dalam kurikulum. Portofolio
sangat berguna untuk penilaian yang bergantung kepada seberapa tepat isi
portofolio telah mengacu pada kompetensi dasar atau indikator pencapaian hasil
belajar yang telah ditentukan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan isi penilaian
portofolio adalah sebagai berikut:
a) Guru harus menetukan isi portofolio yang akan dilaksanakan .
b) Guru harus menunjukkan hubungan antara pencapaian hasil belajar siswa
dengan kompetensi dasar dan indikator pencapaian hasil belajar yang telah
ditentukandalam kurikulum 2004.
c) Guru harus menetukan banyaknya portofolio akan digunakan sebagai
bahan penilaian.
d) Guru harus menetukan relevansi antara evidence siswa dengan tujuan yang
akandinilai.
15

e) Guru harus menetukan bagaimana suatu tugas dikerjakan oleh siswa.


3) Menentukan Bentuk, Susunan, atau Organisasi Portofolio
Susunan ini berkaitan dengan portofolio yang akan dikerjakan oleh siswa,
seperti misalnya garis besar isi portofolio atau apa yang harus terdapat dalam
portofolio.
4) Menentukan Penggunaan Portofolio
Penggunaan portofolio ini menyangkut beberapa hal sebagai berikut.
a) Batas waktu pengerjaan portofolio tersebut.
b) Bagimana kaitan antara portofolio dengan pembelajaran sehari-hari?
c) Kapan posrtofolio tersebut akan dicermati untuk dinilai?

5) Menentukan Cara Menilai Portofolio


Penilaian portofolio ini dilakukan dengan menggunakan rubrik yang dibuat
oleh guru, dan berkaitan dengan hal-hal yang tersebut diatas.
6) Menentukan Bentuk atau Penggunaan Rubrik
Hal ini dilakukan dengan menentukan apakah nilai portofolio akan dinyatakan
sebagai satu skor saja? Perlu diperhatikan bahwa isi portofolio dapat sangat
bervariasi. Oleh karena itu, guru harus mengarahkan siswa agar portofolio
yang dibuat oleh siswa sesuai dengan tujuaan pembelajaran. Guru sebaiknya
menentukan apa yang harus ada di dalam portofolio dan apa yang boleh ada di
dalam portofolio; meskipun produk yang istimewa di luar yang ditentukan itu
tentu diizinkan untuk dimasukkan ke dalam portofolio. Penggunaan portofolio
juga memberikan kesempatan kepada guru untuk memperluas wawasan, dan
memahami siswanya. Dalam rangka itu, sebaiknya portofolio dibahas dengan
sesama guru, kepala sekolah, dan dengan orang tua siswa.

2.5.2 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Penilaian Portofolio


Menurut Popham (Sunarya, 2003) bila kita akan menerapkan penilain
portofolio di sekolah, ada sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan. Hal-hal
tersebut adalah sebagai berikut.
1) Kita harus yakin bahwa setiap siswa memiliki berkas atau mampu
mengumpulkan dokumen portofolio yang diperlukan
2) Tetapkan bentuk dokumen atau hasil kerja yang perlu dikumpulkan tersebut.
3) Apakah siswa mampu mengumpulkan dan menyimpan dokumen dan hasil
pekerjaan yang telah dilakukannya.
16

4) Menentukan kriteria dengan cara bagaimana penilaian itu akan dilakukan.


Apakah siswa dan guru mampu melakukannya.
5) Penilaian portofolio menuntut siswa untuk menilai hasil pekerjaannya sendiri
secara berkelanjutan
6) Penentuan waktu dan penyelenggaraan pertemuan portofolio
7) Keterlibatkan orangtua dalam proses penilaian
Hal-hal yang dapat dijadikan bahan penilaian portofolio di sekolah
diantaranya sebagai berikut.
1) Penghargaan tertulis
2) Penghargaan lisan
3) Hasil pelaksanan tugas-tugas oleh siswa
4) Daftar ringkasan hasil pekerjaan
5) Catatan sebagai peserta dalam suatu kerja kelompok
6) Contoh hasil pekerjaan
7) Catatan/laporan dari pihak lain yang relevan
8) Bukti kehadiran
9) Hasil ujian/ulangan
10) Presentasi dari tugas-tugas yang selesai dikerjakan
11) Catatan-catatan kejadian khusus (catatan anekdot)
12) Bahan-bahan lain yang relevan, yaitu (a) bahan yang dapat memberikan
informasi tentang perkembangan yang dialami siswa, dan (b) bahan yang
dapat memberikan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan
yang berhubungandengan kutikulum dan pengajaran.
Guru diharapkan tidak melakukan secara sepihak dalam menentukan
bahan penilaian tersebut, tetapi dengan ikut melibatkan peseta didik melalui
proses diskusi. Dalam proses diskusi perlu dicapai kesepakatan bersama tentang
bahan yang perlu dikumpulkan, cara pengumpulannya, dan cara penilainnya.
Namun hal yang lebih penting adalah proses pengambilan keputusan dengan
diskusi semacam ini dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri siswa
untuk bekerja sesuai dengan yang diharapkan.

2.5.3 Membuat Pedoman Penilaian Portofolio


17

Penilaian portofolio dilakukan dengan dua tahap, yaitu tahap penilaian


indikator dan tahap penilaian bukti hasil karya (Trianto, 2010). Penilaian tahap
indikator dilakukan untuk menilai perkembangan siswa sesuai dengan indikator
yang telah ditetapkan. Penilaian ini adalah penilaian yang secara umum telah
dilakukan oleh guru di sekolah adalah sebagai berikut.
1) Penilaian sumatif atau formatif, penilaian ini dilakukan pada setiap akhir
pokok bahasan. Penilaian ini bias berupa tes tulis maupun tes lisan.
2) Penilaian tugas terprogram.
3) Penilaian kegiatan penunjang, yaitu kegiatan untuk menilai laporan kegiatan
siswa.
4) Penilaian sikap dan kepribadian siswa selama proses pembelajaran.
Tahap selanjutnya, yaitu tahap penilaian bukti hasil karya siswa, yang
melikupi langkah-langkah sebagai berikut.
1) Tahap pengumpulan bukti hasil karya,
2) Tahap memilih bukti hasil karya terbaik,
3) Tahap merefleksi karya siswa, yaitu siswa diminta untuk mempresentasikan
hasil karyanya,
4) Tahap pameran, dimanan siswa diminta untuk menunjukkan hasil karyanya
kepada teman atau jika memungkinkan dipamerkan ke publik.
Selain kedua tahap tersebut, secara umum proses penilaian portofolio
dilakukan melalui empat tahap, yaitu mengoleksi, menyeleksi, merefleksi, dan
mengkoneksi baik penilaian indikator ataupun penilaian hasil karya siswa.
Untuk membuat pedoman penilaian, diperlukan tiga hal antara lain.
1) Menetapkan indikator-indikator penilaian.
2) Mengembangkan format penilaian yang sesuai yang dapat mempermudah
pengolahan nilai (rubrik terlampir).
3) Menetapkan kriteria tafsiran nilai yang digunakan.
Pedoman penilaian portofolio dibuat setelah guru memenuhi komponen
penilaian guru meliputi: catatan guru, hasil pekerjaan siswa, dan profil
perkembangan siswa. Hasil catatan guru merupakan penilaian terhadap sikap
siswa dalam melakukan kegiatan portofolio. Hasil pekerjaan siswa diperoleh
berdasarkan kriteria: rangkuman isi portofolio, dokumentasi/data dalam folder,
perkembangan dokumen, ringkasan setiap dokumen, presentasi, dan penampilan.
Hasil profil perkembangan siswa merupakan gambaran perkembangan pencapaian
kompetensi siswa dalam periode tertentu (Arifin, 2010).
Berdasarkan ketiga komponen tersebut, guru menilai siswa dengan
Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau Penilaian Acuan Normatif (PAN), sesuai
18

dengan ketentuan yang berlaku. Penetapan penilaian disesuaikan dengan kondisi


sekolah masing-masing, seperti tingkat kemammpuan akademis siswa,
kompleksitas indikator, dan daya dukung guru, sarana dan prasarana.

2.6 Implementasi Penilaian Portofolio


Empat pilar pendidikan merupakan landasan dalam penerapan penilaian
portofolio. Keempat pilar itu adalah 1) belajar untuk berpengetahuan (to learn to
know), 2) belajar untuk berbuat (to learn to do), 3) belajar untuk dapat hidup
bersama (to learn to live together), dan 4) belajar untuk jati diri (to learn to be)
(Suastra, 2009). Melalui penilaian portofolio, maka siswa akan mampu
membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya melalui
berbuat dengan berinteraksi terhadap lingkungannya. Dengan demikian, siswa
dapat menemukan kepercayaan atau jati diri dari pengalaman belajarnya, sehingga
diharapkan mampu berinteraksi dengan individu lainnya. Hal inilah yang
mendasari bahwa penilaian portofolio dapat digunakan pada model-model
pembelajaran inovatif.
Salah satu contoh penilaian portofolio digunakan pada model
pembelajaran berbasis portofolio dengan setting kelas kooperatif tipe GI. Model
pembelajaran berbasis portofolio merupakan sebuah inovasi model pembelajaran
yang sesuai dengan filsafat konstruktivisme, di mana dalam model ini aktivitas
pembelajaran cenderung berpusat pada siswa (student centered). Siswa dalam
model pembelajaran berbasis portofolio diberikan kesempatan untuk
mendokumentasikan, mempresentasikan, dan merefleksikan seluruh proses dan
hasil belajarnya, sehingga siswa dapat mengembangkan segala potensi yang
dimilikinya. Dari segi seting kelas, nampaknya seting kelas kooperatif GI dapat
menyediakan peluang yang lebih besar untuk mengembangkan pola pikirnya
dalam rangka mencapai hasil belajar yang maksimal. Group Investigation
melibatkan kelompok kecil di mana siswa bekerja menggunakan inquiri
kooperatif, perencanaan, proyek, dan diskusi kelompok, serta mempresentasikan
penemuan mereka kepada kelas.
Adapun langkah-langkah pembelajaran berbasis portofolio sebagai
berikut.
19

1) Mengidentifikasi masalah
Kegiatan pembelajaran pada tahap ini adalah sebagai berikut.
a) Menentukan topik dan tujuan yang harus dicapai.
b) Siswa membentuk kelompok untuk membahas topik yang telah
ditentukan.
c) Mengidentifikasi masalah yang sering dialami dalam kehidupan sehari-
hari terkait topik yang telah ditetapkan.
d) Menentukan masalah yang akan dikaji dalam pembelajaran.
2) Mengumpulkan informasi yang terkait dengan masalah yang dikaji.
Kegiatan pembelajaran pada tahap ini adalah sebagai berikut.
a) Siswa mencari informasi, melakukan eksperimen, menganalisis data, dan
membuat simpulan terkait permasalahan yang dikaji.
b) Siswa dalam kelompoknya melakukan diskusi untuk menyamakan
persepsi.
c) Guru membantu siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data,
melakukan eksperimen, dan membuat simpulan.
3) Membuat laporan hasil diskusi
Kegiatan pembelajaran pada tahap ini adalah sebagai berikut.
a) Siswa menyusun laporan hasil diskusi kelompok.
b) Masing-masing kelompok melakukan pembagian tugas presentasi.

4) Penyajian laporan hasil diskusi


Kegiatan pembelajaran pada tahap ini adalah sebagai berikut.
a) Kelompok yang ditunjuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
b) Kelompok yang tidak mendapat tugas menyajikan terlibat secara aktif
menjadi pendengar.
c) Pendengar memberikan evaluasi terhadap laporan hasil diskusi yang
disampaikan.
d) Guru menjadi moderator dalam diskusi.
5) Evaluasi
Kegiatan pembelajaran pada tahap ini adalah sebagai berikut.
20

a) Siswa melakukan refleksi terhadap hasil diskusi kelompoknya berdasarkan


hasil diskusi kelas.
b) Guru bersama siswa melakukan evaluasi terhadap pembelajaran yang
dilakukan.
c) Guru melakukan penilaian hasil belajar berdasarkan kumpulan hasil
pekerjaan (portofolio) siswa.

Pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada pebelajar untuk


mendokumentasikan, mempresentasikan, dan merefleksikan seluruh proses dan
hasil belajar secara maksimal dalam proses pembelajaran dengan dibimbing oleh
visi belajar mandiri berdasarkan perspektif konstruktivisme yang bersifat
kontekstual membantu siswa mewujudkan seluruh potensi, bakat, dan
kecerdasannya untuk belajar mengetahui, melakukan, menjadi yang terbaik, dan
belajar bekerja sama (Sukadi, 2006).
Pembelajaran berbasis portofolio merupakan suatu cara yang dipakai
untuk memecahkan masalah dengan menggunakan prosedur-prosedur penemuan
dalam sains. Pada model pembelajaran ini, gagasan yang ada pada diri siswa
sangat diperhatikan oleh guru, kemudian siswa diberi kesempatan untuk
mengkonstruksi pengetahuannya sendiri (Budi, 2007).
Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa
(LKS), dan Rubrik Penilaian terlampir.
21

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai
berikut.
1) Portofolio berdasarkan pada teori kontruktivisme, yang memiliki pengertian
penilaian berbasis portofolio merupakan sebuah penilaian alternatif yang
dapat digunakan dalam pembelajaran.
2) Penilaian berbasis portofolio adalah suatu prosedur pengumpulan informasi
mengenai perkembangan dan kemampuan siswa melalui portofolionya, di
mana pengumpulan informasi tersebut dilakukan secara formal dengan
menggunakan kriteria tertentu, untuk tujuan pengambilan keputusan terhadap
status siswa.
3) Prinsip-prinsip penilaian portofolio, antara lain Mutual trust (saling
mempercayai), Confidentiality, Joint Ownership (milik bersama), Satisfaction
(kepuasan), Relevance (kesesuaian)
4) Portofolio umumnya memiliki dua bentuk yaitu, portofolio produk dan
portofolio proses, yang memiliki penilaiannya masing-masing
5) Apabila seorang guru ingin mengadopsi asesmen portofolio dalam
pembelajaran, maka guru hendaknya membuat pengumpulan dan asesmen
berkelanjutan terhadap pekerjaan siswa sebagai fokus sentral dalam
pembelajaran. Setelah guru melakukan persiapan dalam asesmen portofolio,
maka pembelajaran dapat berlangsung sesuai yang direncanakan. Guru
memberikan tugas-tugas kepada siswa, baik yang dilaksanakan saat proses
pembelajaran di kelas maupun tugas yang dikerjakan di rumah. Penilaian
portofolio juga harus memperhatikan hal-hal yang perlu dipersiapkan, serta
harus sesuai dengan pedoman yang telah dibuat.
6) Salah satu contoh penerapan penilaian portofolio adalah pada pembelajaran
berbasis portofolio dengan seting kooperatif tipe GI.
3.2 Saran
22

1) Bagi pengajar, haruslah benar-benar memahami prosedur kerja yang benar


dalam menerapkan teknik pembelajaran ataupun penilaian portofolio. Pengajar
haruslah menediakan waktu yang cukup untuk mengoreksi dan
mengembalikan tugas sebagai umpan balik tepat pada waktuna.
2) Bagi peserta didik, hendaknya menyadari bahwa mereka memang harus
mampu mengorganisasikan dirinya dalam suasana ang teratur, terjadwal dan
bermotivasi tinggi, disamping kemampuan dasar sebagai landasan
berpikirnya. Tanpa itu semua sulit bagi peserta didik untuk berhasil
menyelesaikan tugas portofolio mereka, yang tentu saja berhubungan dengan
nilai yang mereka akan peroleh nantinya.
3) Bagi lembaga pendidikan, hendaknya menyediakan berbagai sarana dan
prasarana penunjang, antara lain berupa buku (perpustakaan), jurnal ataupun
fasilitas media internet.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z. 2010. Kerangka Pedoman Penilaian Portofolio. Makalah. Tersedia pada


http://file.upi.edu. Diakses pada 5 November 2010.

Budi, S. 2007. Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Portofolio Dan Seting


Kelas Kooperatif Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas X Sma
Negeri 4 Singaraja Tahun Pelajaran 2005/2006. Skripsi (tidak
diterbitkan). Universitas Pendidikan Ganesha.
23

Dantes, N. 2003. Paradigma Dan Orientasi Pendidikan Nasional Dalam Bingkai


Otonomi Pendidikan (Dengan Implikasi Pada Model Evaluasi
Pembelajaran). Jurnal IKA. Vol. 1 No. 2 (1-12).

Muslich, M. 2008. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan): Dasar


pemahaman dan pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara.

OMalley, J. M. & Pierce, L. V. 1996. Authentic Assessment for English Language


Learners: Practical Approaches for Teachers. New York: Addison-
Wesley Publishing Company.

Rohman, A. 2009. Memahami Pendidikan & Ilmu Pendidikan. Yogyakarta:


LaksBang Mediatama.

Sagala, S. 2009. Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Suastra, I W. 2009. Pembelajaran Sains Terkini: Mendekatkan Siswa Dengan


Lingkungan Alamiah Dan Sosial Budayanya. Singaraja: Universitas
Pendidikan Ganesha.

Sujiono, Y. N. 2010. Mengajar Dengan Portofolio. Jakarta: Indeks.

Sukadi. 2006. Pembelajaran dan penilaian berbasis portofolio di sekolah


menengah dalam rangka pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi.
Makalah. Disajikan dalam Workshop KBK SMA Negeri 1 Payangan
semester 1 tahun pelajaran 2006/2007, pada hari Senin, tanggal 13 Juli
2006 di SMA Negeri 1 Payangan Kabupaten Gianyar.

Sunarya. 2003. Assesment Berbasis Portofolio. Makalah. Tersedia pada


http://fiile.upi.edu. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2010.

Surapranata, S., & Hatta, M. 2004. Penilaian portofolio. Jakarta: Rosda.

Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu: Dalam Teori Dan Praktek. Jakarta:
Prestasi Pustaka.
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Konsep,
Landasan, Dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.

Yamin, H. M. 2008. Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Jakarta: Gaung


Persada Press.