Anda di halaman 1dari 3

ANTIKOAGULAN, ANTITROMBOTIK, TROMBOLITIK DAN

HESMOTATIK

Tromboemboli merupakan salah satu penyebab sakit dan kematian


yang banyak terjadi. Kelainan ini sering merupakan penyulit atau
menyertai penyakit lain misalnya gagal jantung, diabetes mellitus, varises
vena dan kerusakan arteri. Sedangkan timbulnya dipengaruhi oleh banyak
faktor, misalnya adanya trauma, kebiasaan merokok, kehamilan atau
akibat obat-obat yang mengandung estrogen. Obat-obat yang digunakan
dalam pengobatan tromboemboli dalah obat yang mempengaruhi
mekanisme pembekuan darah yaitu antikoagulan, antitrombotik dan
trombolitik. Karena itu sebelum membahas obatnya, terlebih dahulu akan
diuraikan proses pembekuan darah secara singkat. Di lain pihak,
gangguan pada mekanisme pembekuan darah dapat menyebabkan
perdarahan. Karena itu pada bab ini dibahas juga hemostatik yaitu obat-
obat yang digunakan untuk mengatasi perdarahan, apapun sebabnya.

1. PEMBEKUAN DARAH
Proses pembekuan darah berlangsung melalui beberapa tahap,
dengan pembekuan fibrin sebagai hasil akhir. Fibrin tersebut akan
memperkuat sumbat trombosit yang terbentuk sebelumnya. Dalam
garis besar proses pembekuan darah berjalan melalui tiga tahap : (1)
aktivasi tromboplastin; (2) pembentukan trombin dan protrombin, dan (3)
pembetukan fibrin dari fibrinogen. Dalam proses ini diperlukan faktor-
faktor pembekuan darah dan hingga kini dikenal 12 faktor pembekuan
darah. (Tabel 52-1)

Tabel 52-1. Faktor-faktor untuk pembekuan darah

I Fibrinogen
II Protrombin
III Tromboplastin jaringan
++
IV Ca
V Faktor labil, Proakselerin, Ac-globulin
VI Faktor stabil, Prokonvertin, Akselerator
I konversi protrombin serum (SPCA)
VI Globulin antihemofilik (AHG), faktor A
II antihemofilik
I Faktor Christmas, Komponen tromboplastin
X plasma (PTC), Faktor B antihemofilik
X Faktor Stuart-Prower
X Anteseden tromboplastin plasma (PTA),
I faktor C antihemofilik
XI Faktor Hageman
I

XI Faktor penstabil fibrin


II
Aktivasi tromboplastin, yang akan mengubah protrombin (faktor II)
menjadi thrombin (faktor IIa), terjadi melalui 2 mekanisme yaitu
mekanisme ekstrinsik dan intrinsik (Gambar 52-1). Pada mekanisme
ekstrinsik, tromboplastin jaringgan (faktor III, berasal dari jaringan yang
rusak) akan bereaksi dengan faktor VII yang dengan adanya kalsium
(faktor IV) akan mengaktifkan faktor X. Faktor Xa bersama-sama faktor V,
ion kalsium dan fosfolipid trombosit akan mengubah protrombin menjadi
trombin. Oleh pengaruh trombin, fibrinogen (faktor II) akan diubah
menjadi fibrin monomer (faktor I a) yang tidak stabil. Fibrin monomer,
atas pengaruh faktor XIIIa akan menjadi stabil dan resisten terhadap
enzim proteolitik seperti plasmin.
Pada mekanisme intrinsik, semua faktor yang diperluakn untuk
pembekuan darah berada di dalam darah. Pembekuan dimulai bila faktor
Hageman (Faktor XII) kontak pada suatu permukaan yang bermuatan
negatif, seperti kolagen subendotel pembuluh darah yang rusak. Kontak
tersebut menyebabkan faktor Hageman lebih peka terhadap aktivasi oleh
kadar kecil kalikrein. Selanjutnya faktor VIIa yang terbentuk akan
mengaktivasi prekalikrein dan faktor XI. Aktivasi prekalikrein oleh faktor
XIIa akan menghasilkan kalikrein yang selanjutnya akan mengaktifkan
faktor XII berikutnya. Aktivasi faktor XI akan menghasilkan faktor XI aktif,
yang dengan adanya ion kalsium akan mengaktifkan faktor IX. Kompleks
tromboplastin jaringan (faktor III), Ca++ dan faktor VII juga akan
mengaktivasi faktor IX pada mekanisme intrinsic ini . Faktor IX aktif
bersama-sama faktor VIII, ion kalsium dan fosfolipid akan mengaktifkan
faktor X. Urutan mekanisme pembekuan darah selanjutnya sama seperti
yang terjadi pada mekanisme ekstrinsik.
Antitrombin III (AT-III), suatu alfa-2 globulin plasma, yang semula
dikenal sebagai kofaktor heparin, merupakan inhibitor fisiologik yang
utama terhadap trombin dan bentuk aktif faktor-faktor pembekuan darah
lain. Untuk mempertahankan ke cairan darah dan mencengah thrombosis
diperlukan kadar normal AT-III dan ikatannya dengan bentuk aktif faktor-
faktor pembekuan darah. Defisiensi AT-III dapat terjadi secara heriditer.
Selain itu kadar AT-III mungkin menurun setelah operasi atau padda
penderita koagulasi intravascular diseminata (disseminated intravascular
coagulation,DIC), sirosis, hepatis, sindrom nefrotik, thrombosis akut.
Preparat kontrasepsi yang mengandung estrogen juga mengurangi kadar
AT-III.
Defisiensi AT-III yang bersifat heriditer ditandai dengan adanya
gejala thrombosis yang sering kali terlihat untuk pertama kali pada masa
kehamilan. Pada penderita ini dilaporkan pula terjadi tromboemboli yang
berulang (recurrent). Antikoagulan oral meningkatkan aktivitas AT-III,
maka obat ini merupakan obat terpilih untuk penderita dengan gangguan
heriditer tersebut.