Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit saluran

pernapasan akut yang disebabkan oleh agen infeksius yang ditularkan dari

manusia ke manusia (WHO, 2007). Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)

merupakan masalah kesehatan yang sangat serius baik di dunia maupun di

Indonesia. Tahun 2008 UNICEF dan WHO melaporkan bahwa ISPA merupakan

penyebab kematian paling besar pada manusia, jika dibandingkan dengan total

kematian akibat AIDS, malaria, dan campak karena menyerang sistem pernapasan

(Depkes RI 2010). World Health Organization memperkirakan insidens Infeksi

Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kejadian

ISPA pada balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun

pada 13 juta anak balita di dunia golongan usia balita. Pada tahun 2002, 1,9 juta

(95%) anak-anak di seluruh dunia meninggal karena ISPA, 70% dari Afrika dan

Asia Tenggara (WHO, 2002).

Masyarakat yang rentan terhadap ISPA adalah balita karena kekebalan

tubuhnya masih rendah. ISPA merupakan penyebab utama kematian bayi serta

balita di Indonesia (Depkes RI, 2004). Menurut survey kesehatan Indonesia,

angka kematian balita pada tahun 2007 sebesar 44/1000 kelahiran hidup,

1
sementara perkiraaan kelahiran hidup diperoleh 4.467.714 bayi. Bedasarkan data

tersebut dapat dihitung jumlah kematian balita 196.579 (Depkes RI, 2007).

Lima provinsi dengan ISPA tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur

(41,7%), Papua (31,1%), Aceh (30,0%), Nusa Tenggara Barat (28,3%), dan Jawa

Timur (28,3%). Karakteristik penduduk dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada

kelompok umur 1-4 tahun (25,8%).

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tersebar di seluruh Provinsi NTB

dengan rentang prevalensi yang sangat bervariasi (14,4-42,8%). Prevalensi di atas

30% ditemukan di 4 Kabupaten atau Kota, yaitu: Kabupaten Sumbawa, Bima,

Dompu dan Kota Bima (Riskesdas Provinsi NTB 2007).

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada

tahun 2001, menyatakan bahwa penyakit yang paling banyak diderita masyarakat

di daerah itu adalah ISPA, mencapai 206.144 orang (Depeks RI 2004). Data dari

Diskes NTB hingga Maret 2005 mencatat 14.333 kasus ISPA di NTB. Dari data

tersebut kabupaten Lombok Barat menempati urutan teratas dengan jumlah kasus

4.247. Sedang untuk Lombok Tengah dan Mataram, masing-masing pada urutan

dua dan tiga dengan jumlah kasus sebanyak 3.555 dan 2.150 (Riskesdas, 2013).

Persoalan ISPA yang mayoritas terjadi pada negara-negara dunia ketiga

seperti Indonesia tentu bukan tanpa alasan yang jelas. Persoalan pencemaran

lingkungan yang semakin tinggi pada negara-negara berkembang ini sebagai salah

2
satu faktor yang memberikan kontribusi besar pada peningkatan penyakit ISPA

secara umum sebesar 35,9%, sebab bagaimanapun juga faktor dominan penyebab

ISPA adalah persoalan kesehatan lingkungan rumah seperti kelembaban,

pencemaran udara dalam rumah, pencahayaan yang kurang, tempat sampah yang

tidak memadai dan air minum yang kurang sehat.

Persoalan kesehatan lingkungan di Indonesia bukanlah persoalan yang

baru, terdapat banyak fakta yang menunjukkan bahwa rakyat Indonesia hidup

dalam lingkungan yang tidak sehat dan sangat beresiko. Fakta ini seperti yang

dilaporkan Riskesdes 2010 dimana secara nasional pencapaian terhadap fasilitas

sanitasi lingkungan rumah layak hanya sebesar 55,53%, presentase paling itinggi

di Provinsi DKI Jakarta (82,83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur

(25,35%). Menurut kualifikasi daerah, pencapaian terhadap fasilitas sanitasi layak

di perkotaan hampir dua kali lipat (71,45%) dibandingkan dengan di perdesaan

(38,55%) (Kemenkes RI 2011).

Hasil pengawasan kualitas lingkungan di Provinsi NTB pada tahun 2012,

dari 1.214.542 rumah yang ada, diperiksa sebanyak 1.124.293 rumah (92,57%

dari rumah yang ada). Rumah yang termasuk kategori rumah sehat sebanyak

697.263 rumah (62,02% dari rumah yang diperiksa). Masih banyak kondisi dalam

rumah seperti ketersediaan ruang tidur, ketersediaan jendela, ventilasi, dan

pencahayaannya tidak memenuhi syarat kesehatan. Masih banyak rumah tangga

yang lantai rumahnya tanah dengan tingkat hunian padat dengan presentase

3
11,6% rumah tangga yang lantainya tanah dan 26,4% yang tingkat huniannya

padat (Riskesdas, 2010).

Masalah-masalah kondisi rumah masyarakat di wilayah kerja puskesmas

Ubung seperti masih banyak rumah yang belum memiliki syarat kesehatan,

jumlah anggota keluarga yang banyak di dalam satu rumah, ventilasi yang kurang,

suhu rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan, kelembaban yang tidak sehat,

masih ada yang tidak memiliki kamar.

Berdasarkan permasalahan diatas, maka penelitian tentang kondisi rumah

dengan kejadian penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) diharapkan

dapat dilakukan, apakah ada hubungan kondisi rumah dengan kejadian Infeksi

Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah kerja Puskesmas Ubung Kecamatan

Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok tengah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah apakah ada hubungan kondisi rumah dengan kejadian ISPA

pada balita di Desa Labulia wilayah kerja Puskesmas Ubung Kecamatan Jonggat

Kabupaten Lombok Tengah dengan bentuk pertanyaan sebagai berikut :

1. Apakah ada hubungan kepadatan hunian rumah dengan kejadian ISPA pada

balita di Desa Labulia wilayah kerja Puskesmas Ubung Kecamatan Jonggat

Kabupaten Lombok Tengah 2016?

4
2. Apakah ada hubungan ventilasi, suhu, kelembaban, dan kamarisasi rumah

dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Labulia Wilayah Kerja Puskesmas

Ubung Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah 2016?


1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui apakah ada hubungan kondisi rumah dengan kejadian

ISPA pada balita di Desa Labulia Wilayah Kerja Puskesmas Ubung Kecamatan

Jonggat Kabupaten Lombok Tengah 2016.

1.3.2 Tujuan Khusus


1.3.2.1 Mengetahui hubungan kepadatan hunian rumah dengan kejadian ISPA

pada balita di Desa Labulia Wilayah Kerja Puskesmas Ubung Kecamatan

Jonggat Kabupaten Lombok Tengah 2016.


1.3.2.2 Mengetahui hubungan ventilasi, suhu, kelembaban dan kamarisasi rumah

dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Labulia Wilayah Kerja

Puskesmas Ubung Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah 2016.


1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat praktis

Hasil ini dapat mendukung dalam perencanaan program kesehatan

lingkungan di puskesmas terutama masalah ISPA dan kondisi rumah.

1.4.2 Manfaat Ilmiah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan dan

merupakan salah satu bahan bacaan bagi peneliti lainnya.

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian ISPA

6
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) didefinisikan sebagai

penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh agen infeksius yang

ditularkan dari manusia ke manusia (WHO, 2007). Timbulnya gejala biasanya

cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari. Infeksi Saluran

Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit Infeksi akut yang menyerang salah satu

bagian dan atau lebih dari saluran napas mulai dari hidung (saluran atas)

hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus,

rongga telinga tengah dan pleura (Depkes RI, 2005).

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dibedakan menjadi dua, ISPA atas

dan bawah. Infeksi saluran pernapasan atas adalah infeksi yang disebabkan oleh

virus dan bakteri termasuk nasofaringitis atau common cold, faringitis akut,

uvulitis akut, rhinitis, nasofaringitis kronis, sinusitis. Sedangkan, infeksi saluran

pernapasan akut bawah merupakan infeksi yang telah didahului oleh infeksi

saluran atas yang disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder, yang termasuk dalam

penggolongan ini adalah bronkhitis akut, bronkhitis kronis, bronkiolitis dan

pneumonia aspirasi (Nelson, 2003).

2.2 Etiologi ISPA

ISPA bisa disebabkan oleh virus, bakteri, riketsia. Infeksi bakterial

merupakan penyulit ISPA oleh virus terutama bila ada epidemi atau pandemi.

7
Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptococcus,

Haemophylus, Stafilococcus, Pneumococcus, Bordetella, dan Corynebakterium.

Virus penyebab ISPA antara lain, golongan Paramyksovirus termasuk di

dalamnya virus Influenza, Parainfluenza, dan virus campak, Adenovirus,

Coronavirus, Picornavirus, dan lain-lain (Depkes RI, 2007).

2.3 Gejala ISPA

Penyakit ISPA adalah penyakit yang sangat menular, hal ini timbul karena

menurunnya sistem kekebalan atau daya tahan tubuh, misalnya karena kelelahan

atau stres. Pada stadium awal, gejalanya berupa rasa panas, kering dan gatal

dalam hidung, yang kemudian diikuti bersin terus menerus, hidung tersumbat

dengan ingus encer serta demam dan nyeri kepala. Permukaan mukosa hidung

tampak merah dan membengkak. Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi

kental dan sumbatan di hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi,

gejalanya akan berkurang sesudah 3-5 hari. Komplikasi yang mungkin terjadi

adalah sinusitis, faringitis, infeksi telinga tengah, infeksi saluran tuba eustachii,

hingga bronkhitis dan pneumonia (radang paru). Secara umum gejala ISPA

meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri tenggorok, coryza (pilek), sesak

napas, mengi atau kesulitan bernapas (WHO, 2007).

Seorang anak yang menderita ISPA bisa menunjukan bermacam-macam

tanda dan gejala, seperti batuk, bersin, serak sakit tenggorokan, sakit telinga,

8
keluar cairan dari telinga, sesak napas, pernapasan yang cepat, napas yang

berbunyi, penarikan dada ke dalam, bisa juga mual, muntah, tidak mau makan,

badan lemah dan sebagainya (Widoyono, 2008).

2.3.1 Tanda dan Gejala ISPA ringan

Tanda dan gejala untuk ISPA ringan antara lain batuk, pilek, suara serak,

dengan atau tanpa panas atau demam. Tanda yang lainnya adalah keluarnya cairan

dari telinga yang lebih dari dua minggu, tanpa rasa sakit pada telinga.

2.3.2 Tanda dan Gejala ISPA sedang

Tanda dan gejala ISPA sedang meliputi tanda dan gejala pada ISPA ringan

ditambah satu atau lebih tanda dan gejala seperti pernapasan yang lebih cepat

(lebih dari 50 kali per menit), wheezing (nafas menciut-ciut), dan panas 39 0C

atau lebih. Tanda dan gejala lainnya antara lain sakit telinga, keluarnya cairan dari

telinga yang belum lebih dari dua minggu, sakit campak.

2.3.3 Tanda dan Gejala ISPA berat

Tanda dan gejala ISPA berat meliputi tanda dan gejala ISPA ringan atau

sedang ditambah satu atau lebih tanda dan gejala seperti tertariknya dada ke

dalam pada saat menarik napas yang merupakan tanda utama ISPA berat, stridor,

9
dan tidak mampu atau tidak mau makan. Selain itu tanda dan gejala dapat disertai

kulit kebiru-biruan (sianosis), nafas cuping hidung (cuping hidung ikut bergerak

kembang kempis waktu bernapas), kejang, dehidrasi, kesadaran menurun,

terdapatnya membran (selaput) difteri.

2.4 Cara penularan penyakit ISPA

Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah tercemar,

bibit penyakit masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, Oleh karena itu maka

penyakit ISPA ini termasuk golongan Air Borne Disease. Penularan melalui udara

dimaksudkan adalah cara penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita

maupun dengan benda terkontaminasi. Sebagian besar penularan melalui udara

dapat pula menular melalui kontak langsung, namun tidak jarang penyakit yang

sebagian besar penularannya adalah karena menghisap udara yang mengandung

unsur penyebab atau mikroorganisme penyebab ISPA (WHO, 2007).

2.5 Klasifikasi ISPA

Berdasarkan lokasi anatomi, ISPA dibedakan menjadi dua (WHO, 2002):

10
a. Infeksi Saluran Pernapasan Akut bagian atas, yaitu infeksi yang menyerang

hidung sampai epiglotis, misalnya rhinitis akut, faringitis akut, sinusitis akut

dan sebagainya.
b. Infeksi Saluran Pernapasan Akut bagian bawah. Dinamakan sesuai dengan

organ saluran pernapasan mulai dari bagian bawah epiglottis sampai alveoli

paru misalnya bronchitis akut, pneumonia dan sebagainya.

Dalam pelaksanaan program pemberantasan penyakit ISPA, kriteria untuk

menggunakan pola tatalaksana penderita ISPA adalah balita, ditandai dengan

adanya batuk atau kesukaran bernapas disertai dengan peningkatan frekuensi

napas sesuai golongan umur. Dalam penentuan klasifikasi penyakit dibedakan

atas 2 kelompok yaitu umur kurang dari dua bulan dan umur dua bulan kurang

dari lima tahun (Misnadiarly, 2008).

2.5.1 Kelompok umur kurang dari 2 bulan diklasifikasikan atas:


1. Pneumonia berat didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran

pernapasan disertai napas sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah ke

dalam pada anak usia dua bulan sampai kurang dari lima tahun. Untuk anak

kurang dari dua bulan, diagnosis pneumonia berat ditandai dengan adanya

napas cepat dimana frekuensi napas 60 kali per menit atau lebih dan adanya

tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.


2. Bukan pneumonia apabila ditandai dengan napas cepat tetapi tidak disertai

tarikan dinding dada ke dalam. Bukan pneumonia mencakup kelompok

penderita dengan batuk pilek biasa yang tidak ditemukan adanya gejala

11
peningkatan frekuensi napas dan tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian

bawah ke dalam. Ada beberapa tanda klinis yang dapat menyertai anak

dengan batuk yang dikelompokkan sebagai tanda bahaya:


a. Tanda dan gejala untuk golongan umur kurang dari dua bulan yaitu tidak

bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor (ngorok), wheezing

(napas bunyi), demam.


b. Tanda dan gejala untuk golongan umur dua bulan sampai kurang dari lima

tahun yaitu tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun dan stridor.
2.5.2 Kelompok Umur 2 Bulan hingga 5 tahun, diklasifikasikan atas:
1. Pneumonia sangat berat

Batuk atau kesulitan bernafas yang disertai dengan sianosis sentaral, tidak

dapat diminum, adanya penarikan dinding dada, anak kejang dan sulit

dibangunkan.

2. Pneumonia berat

Batuk atau kesulitan bernafas dan penarikan dinding dada, tetapi tidak disertai

sianosis sentral dan dapat diminum.

3. Pneumonia

Batuk atau kesulitan bernafas dan pernafasan cepat tanpa penarikan dinding

dada.

12
4. Bukan pneumonia persisten

Batuk pilek biasa , batuk atau kesulitan bernafas tanpa pernafasan cepat atau

penarikan dinding dada.

2.6 Derajat Keparahan Penyakit ISPA

Adapun pembagiannya sebagai berikut (Sylvia A, 2006) :

1. ISPA ringan
Gejalanya adalah terdapat kesulitan bernapas, napas pendek-pendek.
2. ISPA sedang
Gejalanya adalah pernapasan cepat, napas menciut-ciut (wheezing), sakit atau

keluar cairan dari telinga, dan bercak kemerahan (campak).

3. ISPA berat
Gejalanya adalah penarikan sela iga ke dalam sewaktu inspirasi, kesadaran

menurun, bibir atau kulit pucat kebiruan, stridor (napas ngorok) sewaktu

istirahat, dan adanya selaput lendir.

2.7 Rumah dan Sanitasi Rumah

2.7.1 Pengertian Rumah

Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan manusia.

Rumah bagi manusia memang mempunyai arti yang sangat penting sehingga

dianggap sebagai kebutuhan pokok setelah kebutuhan pangan dan sandang.

Rumah untuk manusia mempunyai beberapa arti yaitu (Kasjono, 2011) :

13
a. Sebagai tempat untuk melepas lelah, beristirahat setelah lelah melaksanakan

kewajiban sehari - hari.


b. Sebagai tempat untuk bergaul dengan keluarga atau membina rasa

kekeluargaan bagi segenap anggota keluarga yang ada.


c. Sebagai tempat untuk melindungi diri dari kemungkinan bahaya yang datang

mengancam.
d. Sebagai lambang status sosial yang dimiliki, yang masih dirasakan hingga saat

ini.
e. Sebagai tempat untuk meletakkan atau menyimpan barang-barang berharga

yang dimiliki, yang terutama masih ditemui pada masyarakat pedesaan.


f. Dalam kaitan ini rumah juga dapat diartikan sebagai modal, yang jika dalam

keadaan memaksa dapat dijual untuk menutup kebutuhan lain yang dianggap

lebih utama.

Berdasarkan Pedoman Survey Knowledge, Attitude, Practice (KAP) yang

dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama

dengan Badan Pusat Statistik, kualitas rumah dibagi menjadi tiga yaitu :

permanen, semi permanen, dan tidak permanen. Kriteria permanen suatu

bangunan ditentukan oleh dinding, atap dan lantai, sebagai berikut :

a. Rumah permanen adalah rumah yang dindingnya terbuat dari tembok/ kayu

(kualitas tinggi), lantainya terbuat dari ubin/ keramik/ kayu berkualitas

tinggi dan atapnya terbuat dari seng/ genteng/ sirap/ asbes.


b. Rumah semi permanen adalah rumah yang dindingnya setengah tembok/

bata tanpa plester/ kayu (kualitas rendah), lantainya dari ubin/ semen/ kayu

berkualitas rendah, dan atapnya seng/ genteng/ sirap/ asbes.

14
c. Rumah tidak permanen adalah rumah yang dindingnya sangat sederhana

(bambu/ papan/ daun), lantainya dari tanah, dan atapnya dari daun-daunan

atau atap campuran genteng/ seng bekas dan sejenisnya (BNPB, 2013).
2.7.2 Sanitasi rumah

Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada

pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat

kesehatan manusia. Dalam hal ini istilah sanitasi sering dikaitkan dengan

kesehatan lingkungan. Sedangkan sanitasi rumah adalah usaha kesehatan

masyarakat yang menitik beratkan pada pengawasan terhadap struktur fisik,

dimana orang yang menggunakannya untuk tempat tinggal atau berlindung tidak

terpengaruh derajat kesehatannya. Sanitasi rumah tersebut antara lain ventilasi,

suhu, kelembaban, kepadatan hunian, penerangan alami, konstruksi bangunan,

sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan kotoran manusia dan

penyediaan air bersih (Azwar, 2005).

2.7.3 Syarat rumah sehat

Sehat tidaknya rumah sangat erat kaitannya dengan angka kesakitan

penyakit menular, terutama ISPA. Aspek kesehatan dari rumah harus menjamin

kesehatan penghuninya dalam arti luas. Oleh karena itu diperlukan syarat

perumahan sebagai berikut (Kasjono, 2011) :

15
2.7.3.1 Memenuhi kebutuhan fisiologis. Secara fisik kebutuhan fisiologis meliputi

kebutuhan suhu, pencahayaan, perlindungan terhadap kebisingan,

ventilasi, dan tersedianya ruang yang optimal untuk bermain anak.


2.7.3.2 Memenuhi kebutuhan psikologis. Kebutuhan psikologis berfungsi untuk

menjamin privasi bagi penghuni yang tinggal di rumah tersebut secara

normal, memberi rasa keindahan dan memungkinkan hubungan yang

serasi antara orang tua dan anak. Adanya ruangan tersendiri bagi remaja

dan ruangan untuk berkumpulnya anggota keluarga serta ruang tamu

sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis dalam rumah.


2.7.3.3 Perlindungan terhadap penularan penyakit. Untuk mencegah penularan

penyakit diperlukan sarana air bersih, fasilitas pembuangan air kotor,

fasilitas penyimpanan makanan, menghindari adanya intervensi dari

serangga dan hama atau hewan lain yang dapat menularkan penyakit.
2.7.3.4 Perlindungan atau pencegahan terhadap bahaya kecelakaan dalam rumah.

Agar terhindar dari kecelakaan maka konstruksi rumah harus kuat dan

memenuhi syarat bangunan, desain pencegahan terjadinya kebakaran dan

tersedianya alat pemadam kebakaran, pencegahan kecelakaan jatuh, dan

kecelakaan mekanis lainnya. Menurut Kemenkes RI Nomor

829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan perumahan,

syarat rumah sehat adalah sebagai berikut :


a. Bahan bangunan
1. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan bahan yang dapat

membahayakan kesehatan, antara lain : debu total kurang dari 150

16
ug/m2, asbestos kurang dari 0,5 serat/m3 per 24 jam, plumbum

(Pb) kurang dari 300 mg/kg bahan.


2. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tempat tumbuh dan

berkembangnya mikroorganisme pathogen.


b. Komponen dan penataan ruang
1. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan
2. Dinding rumah memiliki ventilasi, di kamar mandi dan kamar cuci

kedap air dan mudah dibersihkan


3. Langit-langit rumah mudah dibersihkan dan tidak rawan

kecelakaan
4. Bumbungan rumah 10 m dan ada penangkal petir
5. Ruang ditata sesuai dengan fungsi dan peruntukannya
6. Dapur harus memiliki sarana pembuangan asap.
c. Pencahayaan

Pencahayaan alam dan atau buatan langsung maupun tidak langsung

dapat menerangi seluruh ruangan dengan intensitas penerangan minimal

60 lux yang diukur dengan menggunakan alat luxmeter.

d. Kualitas udara
1. Suhu udara nyaman antara 18 30 0C
2. Kelembaban udara 40 60 %
3. Gas SO2 kurang dari 0,10 ppm/24 jam
4. Pertukaran udara 5 kaki3/menit/penghuni
5. Gas CO kurang dari 100 ppm/8 jam
6. Gas formaldehid kurang dari 120 mg/m3

e. Ventilasi

17
Luas lubang ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% luas

lantai. Dengan cara dilakukannya pengukuran pada tiap-tiap lubang

ventilasi menggunakan rolmeter.

f. Vektor penyakit

Tidak ada lalat, nyamuk ataupun tikus yang bersarang di dalam rumah

yang bisa menjadi sumber penyakit. Dengan cara dilakukannya observasi

di dalam rumah.

g. Penyediaan air
1. Tersedia sarana penyediaan air bersih dengan kapasitas minimal 60

liter/ orang/ hari


2. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan yaitu syarta

fisik adalah bening, tidak berasa, dan tidak berbau. Syarat kimia

air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu di dalam

jumlah yang tertentu pula. Bahan-bahan atau zat kimia yang

terdapat dalam air yang ideal antara lain fluor (1-1,5 mg/liter).

Chlor (250 mg/liter), arsen (0,05 mg/liter) tembaga (1,0 mg/liter),

besi (0,3 mg/liter), zat organik (10 mg/liter), pH (6,5-9,0), CO2 (0

mg/liter). Syarat bakteriologis (kandungan bakteri coli), dilihat

dari parameter mikrobiologisnya, air yang memenuhi persyaratan

kesehatan tidak boleh mengandung E.Coli dan bakteri koliform

18
atau dengan kata lain E.Coli dan bateri koliform kadar

maksimumyang diperbolehkan adalah 0.


h. Sarana penyimpanan makanan

Tersedia sarana penyimpanan makanan yang aman, terhindar dari

vector penyakit yang dapat menjadi sumber penularan penyakit.

i. Pembuangan limbah
1. Limbah cair yang berasal rumah tangga tidak mencemari sumber

air, tidak menimbulkan bau, dan tidak mencemari permukaan

tanah.
2. Limbah padat harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan

bau, tidak mencemari permukaan tanah dan air tanah.


j. Kepadatan hunian

Luas kamar tidur minimal 8 m2 dan dianjurkan tidak untuk lebih dari 2

orang tidur karena dapat meningkatkan suhu ruangan yang disebabkan

oleh pengeluaran panas badan yang akan meningkatkan kelembaban

akibat uap air dari pernapasan tersebut.

2.8 Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit ISPA

a. Agent

19
Infeksi dapat berupa flu biasa hingga radang paru-paru. Kejadiannya bisa

secara akut atau kronis, yang paling sering adalah rinitis simpleks, faringitis,

tonsilitis, dan sinusitis. Rinitis simpleks atau yang lebih dikenal sebagai common

cold atau flu atau pilek, merupakan penyakit virus yang paling sering terjadi pada

manusia. Penyebab penyakit ini adalah virus Myxovirus, Coxsackie, dan Echo

(WHO, 2007).

b. Karakteristik Balita
1. Umur
ISPA dapat ditemukan pada 50% anak berusia di bawah 5 tahun dan 30% anak

berusia 5 sampai 12 tahun (Rahajoe, 2008). Untuk keperluan perbandingan

maka WHO menganjurkan pembagian umur menurut tingkas kedewasaan,

interval lima tahun dan untuk mempelajari penyakit anak (Notoatmodjo,

2003).
2. Status gizi
Penyakit infeksi di berbagai Negara masih merupakan penyebab utama

kematian terutama pada anak di bawah usia 5 tahun. Rendahnya daya tahan

tubuh akibat gizi buruk mempermudah dan mempercepat berkembangnya

bibit penyakit dalam tubuh. Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan

makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi,

transportasi, penyimpanan, metabolism dan pengeluaran zat-zat yang tidak

digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi

normal dari organ-organ serta menghasilkan energy. Seorang anak yang

kekurangan gizi akan mengakibatkan terjadinya defesiensi gizi yang

20
merupakan awal dari gangguan sistem kekebalan tubuh. Balita yang

mengalami gizi kurang akan lebih mudah terkena penyakit ISPA karena daya

tahan tubuh akan berbagai virus lemah. Pada keadaan balita mengalami gizi

kurang, ballita cenderung mengalami ISPA berat dan serangannya lebih lama

(Depkes RI, 2006).


3. Berat badan lahir rendah
Berat badan lahir rendah (BBLR) ditetapkan sebagai suatu berat lahir <2.500

gram. Di Negara berkembang, kematian akibat pneumonia behubungan

dengan BBLR. Sebanyaak 22% kematian pada pneumonia diperkiraakan

terjadi pada BBLR (Pramayu, 2012).


4. Status ASI Eksklusif
ASI mempunyai nilai proteksi terhadap pneumonia terutama selama 1 bulan

pertama. Bayi yang tidak pernah diberi ASI lebih rentan mengalami ISPA

dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI paling sedikit sealam 1 bulan. Bayi

yang tidak diberi ASI akan 17 kali lebih rentan mengalami perawatan di

Rumah Sakit akibat pneuomonia dibandingkan dengan bayi yang ASI

eksklusif (Webster, 2010)


5. Status Imunisasi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk melindungi seseorang terhadap penyakit

menular tertentu agar kebal dan terhindar dari penyakit infeksi tertentu.

Imunisasi pada balita dibrikan untuk menjaga kesehatan balita dimana

cenderung mudah terkena berbagai macam penyakit. Pemberian imunisasi

dumilai sejak lahir hingga umur 5 tahun. Untuk mengurangi faktor yang

meningkatkan mortalitas ISPA diupayakan imunisasi lengap. Bayi dan balita

21
yang mempunyai status imunisasi lengkap bila menderita ISPA diharapkan

perkembangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat (Depkes, 2005).


c. Lingkungan

Faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap kejadian penyakit ISPA

sebesar 35,9%. Faktor lingkungan tersebut dapat berasal dari dalam maupun luar

rumah. Untuk faktor yang berasal dari dalam rumah sangat dipengaruhi oleh

kualitas sanitasi dari rumah itu sendiri, seperti :

1. Kelembaban ruangan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor

1077/Menkes/Per/V/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang

Rumah menetapkan bahwa kelembaban yang sesuai untuk rumah sehat adalah 40-

60%. Kelembaban yang terlalu tinggi maupun rendah dapat menyebabkan

suburnya pertumbuhan mikrorganisme, termasuk mikroorganisme penyebab ISPA

baik itu bakteri ataupun virus (Kemenkes RI, 2011).

Mikroorganisme yang sering menyebabkan ISPA pada usia 1 sampai 6 tahun

adalah streptococcus pneumonia dan haemophylus influenza serotype B dengan

mengacu pada penelitian luar negeri (Depkes RI,2002)

2. Suhu ruangan

Salah satu syarat fisiologis rumah sehat adalah memiliki suhu optimum 18-

300C. Hal ini berarti, jika suhu ruangan rumah di bawah 18 0C atau di atas 30 0C,

22
keadaan rumah tersebut tidak memenuhi syarat dan memungkinkan untuk kuman

ISPA berkembang biak dengan pesat (Kemenkes RI, 2011).

3. Penerangan alami

Rumah yang sehat adalah rumah yang tersedia cahaya yang cukup minimal

60 lux. Suatu rumah atau ruangan yang tidak mempunyai cahaya, dapat

menimbulkan perasaan kurang nyaman, juga dapat mendatangkan penyakit.

Sebaliknya suatu ruangan yang terlalu banyak mendapatkan cahaya akan

menimbulkan rasa silau, sehingga ruangan menjadi tidak sehat. Agar rumah atau

ruangan mempunyai sistem cahaya yang baik, dapat dipergunakan dua cara

(Kemenkes RI, 2011):

a) Cahaya alamiah, yakni mempergunakan sumber cahaya yang terdapat di alam,

seperti matahari. Cahaya matahari sangat penting, karena dapat membunuh

bakteri-bakteri patogen di dalam rumah. Pencahayaan alami dianggap baik

jika besarnya minimal 60 lux . Hal yang harus diperhatikan dalam membuat

jendela, perlu diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam

ruangan, dan tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela di sini, di

samping sebagai ventilasi juga sebagai jalan masuk cahaya. Lokasi

penempatan jendelapun harus diperhatikan dan diusahakan agar sinar

matahari lebih lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding).


b) Cahaya buatan adalah menggunakan sumber cahaya yang bukan alamiah,

seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya. Pencahayaan alami

23
dan atau buatan langsung maupun tidak langsung dapat menerangi seluruh

ruangan minimal intensitasnya 60 lux, dan tidak menyilaukan mata.


4. Ventilasi

Ventilasi sangat penting untuk suatu tempat tinggal, hal ini karena ventilasi

mempunyai fungsi ganda. Fungsi pertama sebagai lubang masuk dan keluar angin

sekaligus udara dari luar ke dalam dan sebaliknya. Dengan adanya jendela

sebagai lubang ventilasi, maka ruangan tidak akan terasa pengap asalkan jendela

selalu dibuka. Untuk lebih memberikan kesejukan, sebaiknya jendela dan lubang

angin menghadap ke arah datangnya angin, diusahakan juga aliran angin tidak

terhalang sehingga terjadi ventilasi silang (cross ventilation). Fungsi ke dua dari

jendela adalah sebagai lubang masuknya cahaya dari luar (cahaya alam atau

matahari). Suatu ruangan yang tidak mempunyai sistem ventilasi yang baik akan

menimbulkan beberapa keadaan seperti berkurangnya kadar oksigen,

bertambahnya kadar karbon dioksida, bau pengap, suhu dan kelembaban udara

meningkat. Keadaan yang demikian dapat merugikan kesehatan dan atau

kehidupan dari penghuninya, bukti yang nyata pada kesehatan menunjukkan

terjadinya penyakit pernapasan, alergi, iritasi membran mukus dan kanker paru.

Sirkulasi udara dalam rumah akan baik dan mendapatkan suhu yang optimum

20% dan dengan kelembaban sekitar 60% optimum maka harus mempunyai

ventilasi minimal 10% dari luas lantai (Depkes RI, 1999).

5. Kepadatan hunian rumah

24
Kepadatan penghuni rumah merupakan perbandingan luas lantai dalam

rumah dengan jumlah anggota keluarga penghuni rumah tersebut. Kepadatan

hunian ruang tidur menurut Permenkes RI Nomor 829/MENKES/SK/VII/1999

adalah luas lantai hunian per orang minimal 8 m2, dan tidak dianjurkan digunakan

lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak di bawah umur

lima tahun.

Dalam buku Pengawasan Penyehatan Lingkungan Pemukiman menerangkan

bahwa volume ruang untuk nak-anak umur <5 tahun diberi kebebasan

menggunakan volume ruang 4,5 m3 dan orang dengan usia di atas 5 tahun adalah

9 m3, luas lantai minimum 3,5 m 2 untuk setiap orang (Badan Litbang Depkes,

2002). Kepadatan hunian akan meningkatkan suhu ruangan yang disebabkan oleh

pengeluaran panas badan yang akan meningkatkan kelembaban akibat uap air dari

pernapasan tersebut (Yusuf, 2005).

6. Debu rumah

Partikel debu diameter 2,5 (PM2,5) dan partikel debu diameter 10 (PM10)

dapat menyebabkan pneumonia, gangguan system pernapasan, iritasi mata, alergi,

bronchitis kronis. PM2,5 dapat masuk ke dalam paru yang berakibat timbulnya

emfisema paru, asma bronchial, dan kanker paru-paru serta gangguan

kardiovaskular. Secara umum PM2,5 dan PM10 timbul dari pengaruh udara luar

(kegiatan manusia akibat pembakaran dan aktivitas industri). Sumber dari dalam

25
rumah antara lain dapat berasal dari perilaku merokok (28,2%), penggunaan

energi masak dari bahan bakar biomasa (64,2%), dan penggunaan obat nyamuk

bakar (7,11%) (Kemenkes RI, 2011).

7. Dinding rumah

Fungsi dari dinding selain sebagai pendukung atau penyangga atap juga

untuk melindungi rumah dari gangguan panas, hujan dan angin dari luar dan juga

sebagai pembatas antara dalam dan luar rumah. Dinding berguna untuk

mempertahankan suhu dalam ruangan, merupakan media bagi proses rising damp

(kelembaban yang naik dari tanah) yang merupakan salah satu faktor penyebab

kelembaban dalam rumah. Dinding rumah juga harus memenuhi syarat kesehatan

fisik dan fisiologis yaitu dinding yang bersifat permanen. Bahan dinding yang

baik adalah dinding yang terbuat dari bahan yang tahan api seperti batu bata atau

yang sering disebut tembok. Dinding dari tembok akan dapat mencegah naiknya

kelembaban dari tanah (rising damp). Dinding dari anyaman bambu yang tahan

terhadap segala cuaca sebenarnya cocok untuk daerah pedesaan, tetapi mudah

terbakar dan tidak dapat menahan lembab, sehingga kelembabannya tinggi

(Depkes RI, 1999).

8. Status ekonomi dan pendidikan

Persepsi masyarakat mengenai keadaan sehat dan sakit berbeda dari satu

individu dengan individu lainnya. Bagi seseorang yang sakit, persepsi terhadap

26
penyakitnya merupakan hal yang penting dalam menangani penyakit tersebut.

Untuk bayi dan anak balita persepsi ibu sangat menentukan tindakan pengobatan

yang akan diterima oleh anaknya.

Berdasarkan hasil penelitian Djaja (2001), didapatkan bahwa bila rasio

pengeluaran makanan dibagi pengeluaran total perbulan bertambah besar, maka

jumlah ibu yang membawa anaknya berobat ke dukun ketika sakit lebih banyak.

Berdasarkan Djaja (2001) menunjukkan hasil bahwa uji statistik didapatkan

bahwa ibu dengan status ekonomi tinggi 1,8 kali lebih banyak pergi berobat ke

pelayanan kesehatan dibandingkan dengan ibu yang status ekonominya rendah.

Ibu dengan pendidikan lebih tinggi, akan lebih banyak membawa anak berobat ke

fasilitas kesehatan, sedangkan ibu dengan pendidikan rendah lebih banyak

mengobati sendiri ketika anak sakit ataupun berobat ke dukun. Ibu yang

berpendidikan minimal tamat SLTP 2,2 kali lebih banyak membawa anaknya ke

pelayanan kesehatan ketika sakit dibandingkan dengan ibu yang tidak bersekolah,

hal ini disebabkan karena ibu yang tamat SLTP ke atas lebih mengenal gejala

penyakit yang diderita oleh balitanya.

2.9 Penatalaksanaan ISPA

Penatalaksanaan medis ISPA dapat dibagi berdasarkan tanda dan gejala

ISPA yaitu ISPA ringan (non-pneumonia), sedang (pneuomia), dan berat

(pneumonia berat) (Depkes RI, 2002) :

27
2.9.1 Penatalaksanaan penderita ISPA ringan (non-pneumonia):

a. Pemberian parasetamol pada demam yang lebih dari 38 0C diberikan

selama 2 hari. Dosis 10-15 mg/kg BB sehari 3 kali.


b. Sebagian besar ISPA ringan tidak memerlukan anti mikroba.

2.9.2 Penatalaksanaan ISPA sedang (pneumonia):

a. Pemberian parasetamol pada demam yang lebih dari 38 0C diberikan

selama 2 hari. Dosis 10-15 mg/kg BB sehari 3 kali.


b. Pemberian Anti mikroba seperti: kotrimoksasol, ampisilin, amoksisilin.

2.9.3 Penatalaksanaan ISPA berat (pneumonia berat):

ISPA dengan gejala berat harus dirawat dirumah sakit.

Penatalaksanaan ISPA yang bersifat pencegahan dan pengendalian infeksi

dapat dilakukan dengan cara (WHO, 2007):

1. Membersihkan tangan dengan sabun dan air atau pembersih tangan

berbasis alkohol.
2. Menggunakan masker saat melakukan kegiatan yang berhubungan

dengan agen penyebab ISPA atau penyakit infeksi lainnya.

28
2.10 Kerangka Teori

Faktor Internal

Karakteristik Balita:

1. Umur
2. Jenis Kelamin
3. Status Gizi
4. Berat Badan Lahir Rendah
5. Status ASI Eksklusif
6. Status Imunisasi

Kejadian ISPA
Faktor Eksternal

Lingkungan:

1. Kepadatan hunian rumah


2. Suhu ruangan
3. Ventilasi
4. Kelembaban ruangan

5. Penerangan alami
6. Debu rumah
7. Dinding rumah
8. Status ekonomi dan
pendidikan
29
Ket : : Diteliti. : Tidak diteliti

2.11 Kerangka konsep

Kepadatan hunian rumah


Ventilasi
Suhu
Kelembaban
Kamarisasi Kejadian ISPA pada

balita

Hipotesis

1 : Tidak terdapat hubungan antara kondisi fisik rumah yang meliputi kepadatan

hunian rumah, ventilasi suhu, kelembaban, kamarisasi dengan kejadian ISPA

di Desa Labulia wilayah kerja Puskesmas Ubung Kecamatan Jonggat

Kabupaten Lombok Tengah tahun 2016.

2 : Terdapat Hubungan antara kondisi fisik rumah yang meliputi kepadatan hunian

rumah, ventilasi suhu, kelembaban, kamarisasi dengan kejadian ISPA di Desa

30
Labulia wilayah kerja Puskesmas Ubung Kecamatan Jonggat Kabupaten

Lombok Tengah 2016.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Rancangan penelitian menggunakan analitik observasional dengan

pendekatan studi cross sectional. Penelitian cross sectional adalah suatu

penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dan

efek, dengan cara pendekatan, observasional atau pengumpulan data sekaligus

pada suatu saat (point time apporoach).

3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu penelitian adalah mulai tanggal 4 April 2016 sampai 12 Mei 2016.

Lokasi dalam penelitian ini adalah di Desa Labulia wilayah kerja Puskesmas

Ubung Kecamatan Jonggat kabupaten Lombok Tengah. Puskesmas Ubung

merupakan Puskesmas yang ada di kecamatan Jonggat, terletak di ibukota

31
kecamatan, dibangun tahun 1980 di atas area 4.800 m2 dengan luas wilayah kerja

sekitar 80.147 Ha dengan batas wilayah sebagai berikut

Sebelah Utara : Wil.Puskesmas Bonjeruk

Sebelah Barat : Wil.Puskesmas Kediri dan Puskesmas Bagu

Sebelah Timur : Wil.Puskesmas Puyung

Sebelah Selatan : Wil.UPT Puskesmas Kuripan

Puskesmas Ubung memiliki 5 wilayah kerja yang salah satunya adalah desa

Labulia. Desa Labulia terdiri dari 9 dusun dengan jumlah penduduk 9.889 jiwa.

3.3. Variabel dan Definisi Operasional


3.3.1 Variabel Penelitian
a. Variabel Independen : Kondisi rumah yang terdiri dari kepadatan hunian

rumah, ventilasi, suhu, kelembaban, dan kamarisasi.


b. Variabel dependent : Kejadian ISPA.
3.3.2. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional

N Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala

o Operasional Ukur
1. Kepadatan Kepadatan Rolmeter Nominal
penghuni penghuni rumah 1.
rumah adalah jumlah Memenuhi syarat
anggota keluarga di (skor=1)
dalam satu rumah. 2.
Jumlah penghunni Tidak memenuhi
rumah minimal 8 syarat (skor=0)
m2 ruang tidur tidak

32
lebih dari dua orang

2. Suhu Suhu adalah nilai Hygrotermo Memenuhi Nominal


suhu dalam suatu meter syarat (skor=1)
rumah. Suhu rumah Tidak
yang memenuhi memenuhi
syarat bila memiliki syarat (skor=0)
suhu 180C-300 C
3. Kamarisasi Kamarisasi adalah Rolmeter Memenuhi Nominal
adanya skat skat syarat (skor=1)
kamar di dalam Tidak
rumah dan sesuai memenuhi
dengan penghuni (skor=0)
kamar.
4. Ventilasi Ventilasi adalah Meteran Memenuhi Nominal
adanya lubang syarat (skor=1)
sirkulasi udara. Tidak
Ventilasi yang memenuhi
memenuhi syarat syarat (skor=0)
bila 10% dari luas
lantai.
5. Kelembaban Persentase nilai Hygrotermo Memenuhi Nominal
kelembaban suatu syarat (skor=1)
rumah. meter
Memenuhi syarat Tidak
bila dalam rumah memenuhi
mencapai 40% Rh- syarat (skor=0)
60% Rh
6. Kejadian Kejadian ISPA pada Lembar Jika terjadi Nominal
ISPA pada balita adalah observasi penyakit ISPA
balita kejadian penyakit pada balita

33
ISPA yang terjadi berdasarkan
pada balita di rekam medik
puskesmas Ubung (skor=1)
Jika tidak
mengalami
ISPA (skor=0)

3.4. Subjek Penelitian


3.4.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita 0-59 bulan sebanyak

945 balita yang ada di Desa Labulia Wilayah Kerja Puskesmas Ubung Kecamatan

Jonggat Kabupaten Lombok Tengah tahun 2016 dan bertempat tinggal di

Kecamatan Jonggat.

3.4.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap mewakili populasinya.

Sampel dalam penilitian ini adalah balita yang berada di Desa Labulia wilayah

kerja Puskesmas Ubung Kecamatan Jonggat 2016.

1. Kriteria Inklusi
a. Balita berusia 0-59 bulan sampai waktu penelitian
b. Tercatat sebagai balita di Puskesmas Ubung
c. Bersedia berpartisipasi dalam penelitian
2. Kriteria Eksklusi
a. Balita dengan status gizi kurang
b. Balita dengan status Imunisasi tidak lengkap
c. Meninggal

3.4.3 Sampling

34
Sampling adalah suatu cara yang ditempuh dengan pengambilan sampel

yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan obyek penelitian. Teknik

pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik pengambilan secara

aksidental (accidental). Teknik ini dilakukan dengan mengambil kasus atau

responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan konteks

penelitian (Notoatmodjo, 2010).

Penentuan besarnya sampel berdasarkan konsep Gay dan Diehl sebanyak

70 dan menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 95% (0,05) (Gay and Diehl,

1996).

3.5. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang akan digunakan untuk pengumpulan

data. Instrumen dalam penelitian ini adalah:

1. Kuesioner dan lembar observasi

Kuesioner adalah alat pengumpulan data yang berupa pertanyaan-pertanyaan

tertulis untuk memperoleh informasi tentang keadaan fisik rumah dan

penyakit ISPA.

2. Hygrotermometer

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kelembaban dan suhu rumah.

3. Rolmeter

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur luas rumah dan ventilasi rumah.

35
4. Alat tulis
Alat tulis dalam penelitian ini digunakan untuk mencatat hasil pemeriksaan

dan mengisi kuesioner.

3.6. Cara Penelitian (Alur Penelitian)

Identifikasi dan perumusan


masalah

Menentukan tujuan
penelitian

Menentukan lokasi dan


populasi

Menentukan cara dan besar


sampel

Mengumpulkan data

Wawancara responden menggunakan


kuesioner

Analisis data dengan sistem


komputerisasi

Hasil

Laporan

36
3.7. Cara Pengumpulan Data

3.7.1. Data Primer

Data primer dikumpulkan dengan melakukan wawancara dan observasi

langsung terhadap Ibu balita penderita ISPA dan pada bukan penderita ISPA

dengan menggunakan instrumen kuesioner dan lembar observasi.

3.7.2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari hasil pencatatan dan pelaporan di Dinkes

Provinsi NTB, Dinkes Kabupaten Lombok Tengah dan Puskesmas Ubung

Kecamatan Jonggat.

3.8 Analisa Hasil

Analisa data merupakan bagian penting dari suatu penelitian. Dimana tujuan

dari analisa ini adalah agar diperoleh suatu kesimpulan masalah yang diteliti. Data

yang telah terkumpul akan diolah dan dianalisa dengan menggunakan program

komputer. Adapun langkah-langkah pengolahan data meliputi :

3.8.1 Editing adalah pekerjaan memeriksa validitas data yang masuk, seperti

memeriksa kondisi rumah dan penyakit ISPA.


3.8.2 Coding adalah suatu kegiatan memberi tanda atau kode tertentu terhadap

data yang telah diedit dengan tujuan mempermudah pembuatan tabel.

37
3.8.3 Entry adalah kegiatan memasukkan data yang telah didapat kedalam

program komputer yang ditetapkan (program Statistical Product and

Service Solution (SPSS) for Windows versi 20).

Analisa dalam penelitian ini menggunakan :

a. Analisa Univariat

Analisa ini digunakan untuk mendiskripsikan masing-masing variabel, baik

variabel bebas yaitu ventilisasi, suhu, kelembaban, dan kamarisasi rumah dan

variabel terikat yaitu kejadian ISPA. Adapun yang dianalisa adalah kondisi

rumah yang meliputi jumlah anggota keluarga, ventilasi,suhu, kelembaban,

dan kamarisasi.

b. Analisa Bivariat
Analisa yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara variable bebas

(independent) dan variable terikat (dependent) yaitu kondisi rumah dan

kejadian ISPA.
Karena rancangan penelitian ini adalah cross sectional, hubungan antara

variabel independent dengan varibael dependent digunakan ditampilkan dalam

tabel 2x2 dan juga dilakukan perhitungan Rasio prevalens (RP), untuk

mengetahui estimasi resiko relatif, dengan cara membagi prevalens efek pada

kelompok dengan faktor resiko, dengan prevalens efek pada kelompok tanpa

38
faktor resiko. Adapun tampilan tabel 2x2 dan perhitungan rasio prevalens

sebagai berikut:

Tabel 3.2. Tabel 2x2 Kondisi Rumah dengan ISPA

ISPA
Kondisi rumah TOTAL
Ya Tidak

Tidak memenuhi syarat A B AB

Memenuhi syarat C D CD

TOTAL AC BD ABCD

RP = A/(A+B) : C/(C+D)

Dalam penelitian ini juga digunakan uji statistik Chi-Square dengan

bantuan computer untuk mengetahui hubungan antara kondisi rumah yang

sehat dan yang tidak sehat terhadap kejadian ISPA.

3.9 Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian, peneliti memperhatikan masalah etika

penelitian. Etika penelitian meliputi:

a. Informed Consent (lembar persetujuan)

Sebelum dilaksanakan penelitian, peneliti memberikan informasi tentang

tujuan dan manfaat penelitian. Sampel penelitian yang setuju berpartisipasi

39
dalam penelitian dimohon untuk menandatangani lembar persetujuan

penelitian.

b. Anonimity (tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan responden dalam penelitian maka peneliti

tidak mencantumkan nama pada lembar penelitian cukup dengan memberi

nomor kode pada masing-masing lembar yang hanya diketahui oleh peneliti.

c. Confidentiality (kerahasiaan)

Peneliti menyimpan data penelitian pada dokumen pribadi penelitian dan

data-data penelitian dilaporkan dalam bentuk kelompok bukan sebagai data-

data yang mewakili pribadi sampel penelitian (Sastroasmoro, 2012).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

40
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April - Mei tahun 2016 di desa

Labulia wilayah kerja Puskesmas Ubung kecamatan Jonggat Lombok Tengah,

dengan jumlah sampel sebanyak 70 balita. Berikut akan dijelaskan distribusi

karakteristik sampel dan analisis crosstabs tiap variabel.

4.1.1. Karakteristik Balita

Karakteristik Balita menjelaskan umur, jenis kelamin, status penyakit ISPA

yang dijelaskan berdasarkan table di bawah ini :

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Umur Balita pada Desa Labulia Wilayah Kerja
Puskesmas Ubung Jonggat Lombok Tengah 2016

Umur Balita N Persentase


0-12 bulan 14 20,1
13-24 bulan 27 38,5
25-36 bulan 11 15,8
37-59 bulan 18 25,6
Total 70 100,0
Sumber Data : Data Primer

Berdasarkan tabel 4.1 mendeskripsikan bahwa umur balita yang terbanyak

pada usia 13-24 bulan sebanyak 27 balita (38,5%) dan terendah pada usia 25-36

bulan sebanyak 11 balita (15,8%).

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Balita pada Desa Labulia Wilayah Kerja
Puskesmas Ubung Jonggat Lombok Tengah 2016

Jenis Kelamin N Persentase


Laki-laki 38 54,3
Perempuan 32 45,7
Total 70 100,0

41
Sumber Data : Data Primer

Berdasarkan tabel 4.2 mendeskripsikan bahwa jenis kelamin balita yang

terbanyak adalah laki-laki sebanyak 38 balita (54,3%) dan terendah wanita

sebanyak 32 balita (45,7%).

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Status Penyakit ISPA pada Balita di Desa Labulia
Wilayah Kerja Puskesmas Ubung Jonggat Lombok Tengah 2016

Status Penyakit N Persentase


ISPA 25 35,7
Tidak ISPA 45 64,3
Total 70 100,0
Sumber Data : Data Primer

Berdasarkan tabel 4.3 mendeskripsikan bahwa status penyakit balita yang

terbanyak adalah tidak ISPA sebanyak 45 balita (64,3%) dan terendah ISPA

sebanyak 25 balita (35,7%).

4.1.2. Crosstabs Analisis Variabel

Berikut akan dijelaskan tentang crosstabs analisis variabel tiap variabel

dependen dan independent yang digambarkan seperti tabel di bawah ini :

Tabel 4.4 Hubungan antara Kepadatan Hunian Rumah dengan Kejadian ISPA pada
Balita di Desa Labulia Wilayah Kerja Puskesmas Ubung Kecamatan Jonggat Lombok
Tengah tahun 2016

Kepadatan hunian ISPA Jumlah Keterangan


ISPA Tidak ISPA
n % n % N %
Tidak Memenuhi Syarat 13 18,6 21 30,0 34 48,6 P value
Memenuhi Syarat 12 17,1 24 34,3 36 51,4 (0,669)

42
Jumlah 25 35,7 45 64,3 70 100,0
Sumber Data : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa yang tertinggi adalah

kepadatan hunian rumah yang memenuhi syarat dengan tidak ISPA sebanyak 24

balita (34,3%) dan yang terendah kepadatan hunian rumah yang memenuhi syarat

dengan ISPA sebanyak 12 balita (17,1%). Hasil analisis Chi-Square menunjukkan

nilai p value sebesar 0,669, hal ini menjelaskan bahwa tidak terdapat hubungan

antara kepadatan hunian rumah terhadap kejadian ISPA karena p value lebih besar

dari 0,05 berarti nilai tersebut tidak signifikan secara statistik.

Tabel 4.5 Hubungan antara Ventilasi Rumah dengan Kejadian ISPA pada Balita di
Desa Labulia Wilayah Kerja Puskesmas Ubung Kecamatan Jonggat Lombok Tengah
tahun 2016

Ventilasi ISPA Jumlah Keterangan


ISPA Tidak ISPA
n % n % N %
Tidak Memenuhi Syarat 13 18,6 9 12,8 22 31,4 P value
Memenuhi Syarat 12 17,1 36 51,5 48 68,6 (0,006)
Jumlah 25 35,7 45 64,3 70 100,0
Sumber Data : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa yang tertinggi adalah

ventilasi rumah yang memenuhi syarat dengan tidak ISPA sebanyak 36 balita

(51,5%) dan terendah ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat dengan tidak

ISPA sebanyak 9 balita (12,8%). Hasil analisis Chi-Square menunjukkan nilai p

value sebesar 0,006, hal ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan ventilasi

rumah terhadap kejadian ISPA karena p value lebih kecil dari 0,05 berarti nilai

tersebut signifikan secara statistik

43
Tabel 4.6 Hubungan antara Suhu Rumah dengan Kejadian ISPA pada Balita di Desa
Labulia Wilayah Kerja Puskesmas Ubung Kecamatan Jonggat Lombok Tengah tahun
2016

Suhu ISPA Jumlah Keterangan


ISPA Tidak ISPA
n % n % N %
Tidak Memenuhi Syarat 18 25,7 18 25,7 36 51,4 P value
Memenuhi Syarat 7 10,0 27 38,6 34 48,6 (0,010)
Jumlah 25 35,7 45 64,3 70 100,0
Sumber Data : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa yang tertinggi adalah

suhu rumah yang memenuhi syarat dengan tidak ISPA sebanyak 27 balita (38,6%)

dan yang terendah suhu rumah memenuhi syarat dengan ISPA sebanyak 7 balita

(10,0%). Hasil analisis Chi-Square menunjukkan nilai p value sebesar 0,010, hal

ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara suhu rumah terhadap kejadian

ISPA karena p value lebih kecil dari 0,05 berarti nilai tersebut signifikan secara

statistik.

Tabel 4.7 Hubungan antara Kelembaban Rumah dengan Kejadian ISPA pada Balita di
Desa Labulia Wilayah Kerja Puskesmas Ubung Kecamatan Jonggat Lombok Tengah
tahun 2016

Kelembaban ISPA Jumlah Keterangan


ISPA Tidak ISPA
n % n % n %
Tidak Memenuhi Syarat 17 24,3 14 20,0 31 44,3 P value
Memenuhi Syarat 8 11,4 31 44,3 39 65,7 (0,003)
Jumlah 25 35,7 45 64,3 70 100,0

44
Sumber Data : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa yang tertinggi adalah

kelembaban rumah yang memenuhi syarat dengan tidak ISPA sebanyak 31 balita

(44,3%) dan terendah kelembaban rumah yang memenuhi syarat dengan ISPA

sebanyak 8 balita (11,4%). Hasil analisis Chi-Square menunjukkan nilai p value

sebesar 0,003, hal ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan kelembaban rumah

terhadap kejadian ISPA karena p value lebih kecil dari 0,05 berarti nilai tersebut

signifikan secara statistik.

Tabel 4.8 Hubungan antara Kamarisasi Rumah dengan Kejadian ISPA pada Balita di
Desa Labulia Wilayah Kerja Puskesmas Ubung Kecamatan Jonggat Lombok Tengah
tahun 2016

Kamarisasi ISPA Jumlah Keterangan


ISPA Tidak ISPA
n % n % n %
Tidak Memenuhi Syarat 12 17,1 19 27,1 31 44,2 P value
Memenuhi Syarat 13 18,6 26 37,2 39 55,8 (0,641)
Jumlah 25 35,7 45 64,3 70 100,0
Sumber Data : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa yang tertinggi adalah

kamarisasi yang memenuhi syarat dengan tidak ISPA sebanyak 26 balita (37,2%)

dan terendah kamarisasi yang tidak memenuhi syarat dengan ISPA sebanyak 12

balita (17,1%). Hasil analisis Chi-Square menunjukkan nilai p value sebesar

0,641, hal ini menjelaskan bahwa tidak terdapat hubungan kamarisasi Rumah

45
terhadap kejadian ISPA karena p value lebih besar dari 0,05 berarti nilai tersebut

tidak signifikan secara statistik.

4.2 Pembahasan

Penyakit ISPA pada balita merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan

akut yang terjadi pada balita yang terjadi pada balita di desa Labulia kecamatan

Jonggat kabupaten Lombok Tengah tahun 2016. Penyakit ISPA disebabkan oleh

bakteri dan atau virus. Beberapa hal lain yang dapat menjadi faktor resiko adalah

kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti ventilasi rumah

yang tidak memenuhi syarat kesehatan, suhu rumah yang tidak memenuhi syarat,

kelembaban rumah yang tidak memenuhi syarat, tidak adanya kamarisasi dan hal

lain seperti kepadatan hunian rumah karena faktor kemiskinan dan lain

sebagainya.

4.2.1. Hubungan Kepadatan Hunian Rumah dengan Penyakit ISPA pada Balita

Kepadatan hunian rumah merupakan jumlah anggota keluarga di dalam

satu rumah, jumlah penghuni rumah minimal 8 meter 2 ruang tidur dengan tidak

lebih dari 2 orang (Permenkes RI, 1999). Kepadatan hunian rumah memiliki

dampak terhadap kesehatan para penghuninya terutama balita. Hunian rumah

yang sehat akan memberikan rasa nyaman dan peningkatan status kesehatan para

penghuninya, namun sebaliknya akan terjadi penyakit apabila hunian rumah tidak

memenuhi syarat kesehatan yang akan berdampak pada munculnya berbagai

46
macam penyakit di rumah tersebut. Penyakit yang dapat munculnya diantaranya

adalah ISPA yang disebabkan karena kondisi hunian yang tidak sehat yang

menimbulkan bakteri dan virus ISPA dapat berkembang biak di dalam rumah

tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepadatan hunian

rumah tidak signifikan terhadap kejadian ISPA pada balita di desa Labulia tahun

2016 dengan hasil uji p value 0,669 yang berarti lebih besar dari 0,05. Penelitian

ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Gapar (2015) di kota Denpasar

menunjukkan hasil bahwa kepadatan hunian rumah tidak signifikan terhadap

kejadian ISPA pada balita. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Winardi

(2015) di kota Manado yang menemukan bahwa kepadatan hunian berhubungan

secara signifikan dengan kejadian ISPA pada balita dan Naria (2008) di kota

Medan dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan hunian rumah

dengan kejadian pada ISPA pada balita menunjukkan hasil yang signifikan.

Kepadatan hunian rumah tidak signifikan terhadap kejadian ISPA pada

balita di desa Labulia kecamatan Jonggat kabupaten Lombok Tengah NTB. Hasil

ini dimungkinkan karena adanya peluang lain yang dapat menimbulkan penyakit

ISPA seperti faktor ventilasi, suhu, dan kelembaban pada rumah.

Kesimpulan bahwa kepadatan hunian rumah di desa Labulia tidak

berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita. Hasil ini disebabkan karena

47
kepadatan hunian bukan hanya menjadi penyebab terjadinya penyakit pada ISPA

namun juga dapat disebabkan faktor-faktor lainnya.

4.2.2. Hubungan Ventilasi Rumah dengan Penyakit ISPA pada Balita

Ventilasi rumah merupakan jalan masuknya udara yang masuk ke dalam

rumah agar penghawaan di dalam rumah menjadi sehat dan nyaman. Jumlah

ventilasi yang dianjurkan adalah 10% dari luas lantai rumah (Depkes RI, 1999).

Ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan akan menyebabkan sirkulasi udara

dalam rumah dapat berjalan dengan baik. Suatu ruangan yang tidak mempunyai

sistem ventilasi yang baik akan menimbulkan beberapa keadaan seperti

berkurangnya oksigen, bertambahnya karbondioksida, bau pengap, suhu dan

kelembaban meningkat sehingga menyebabkan mikroorganisme dari ISPA

berkembang biak (Depkes RI, 1999).

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ventilasi rumah

memiliki hubungan dengan kejadian ISPA pada balita di desa Labulia dengan

hasil p value 0,006 berarti lebih kecil dari 0,05. Kondisi ini menjelaskan bahwa

ventilasi rumah memiliki peran terhadap timbulnya penyakit ISPA pada balita di

desa Labulia.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Susetyo

(2005) di kabupaten Kebumen yang menunjukkan bahwa ventilasi rumah

berhubungan dengan kejadian ISPA. Oktaviani (2009) di kabupaten Boyolali juga

48
menunjukkan hasil yang sesuai dengan penelitian ini yang menunjukkan bahwa

ventilasi rumah berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita. Penelitian lain

yang sejalan juga dilakukan oleh Naria (2008) di kota Medan yang menunjukkan

hasil yang signifikan antara ventilasi rumah dan kejadian ISPA pada balita dan

penelitian Suryohadi di kabupaten Klaten tahun 2002 yang menunjukkan hasil

yang signifikan antara ventilasi rumah dengan kejadian ISPA pada balita.

Penelitian yang tidak sejalan dengan hasil penelitian ini adalah Selvyani

(2012) di Makassar menunjukkan hasil yang tidak signifkan antara ventilasi

rumah dengan kejadian ISPA pada balita dan penelitian yang dilakukan di

Denpasar oleh Gapar (2015) yang menunjukkan hasil yang tidak ada hubungan

antara ventilasi rumah dengan kejadian ISPA pada balita.

Penelitian dapat disimpulkan bahwa ventilasi rumah berhubungan dengan

kejadian ISPA pada balita di desa Labulia kecamatan Jonggat. Hasil ini

menambah bukti bahwa ventilasi merupakan faktor yang sangat penting untuk

terjadinya penyakit ISPA pada balita.

4.2.3. Hubungan Suhu Rumah dengan Penyakit ISPA pada Balita

Suhu rumah merupakan kondisi suhu rumah pada balita di desa Labulia

kecamatan Jonggat kabupaten Lombok Tengah yang diukur dengan thermometer

dengan satuan 0C. Suhu rumah yang baik dan sehat adalah suhu rumah yang

berkisar 18- 30 0C. Suhu yang baik dan sehat dalam rumah akan memberikan

49
kondisi yang sehat bagi penghuninya, namun jika suhu rumah tidak sehat akan

berdampak pada kesehatan pada penghuni rumah tersebut. Jika suhu rumah di

bawah 18 0C ataupun di atas 30 0C akan menyebabkan mikroorganisme ISPA

berkembang biak dengan pesat (Kemenkes RI, 2011).

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan hasil bahwa suhu rumah

memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian ISPA pada balita di desa

Labulia kecamatan Jonggat kabupaten Lombok Tengah. Hasil statistik

menunjukkan hasil bahwa p value sebesar 0,010 yang berarti signifikan secara

statistik. Penelitian ini memberikan bukti bahwa suhu memberikan dampak

terhadap kejadia ISPA pada balita di desa Labulia.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Selvyani

(2012) yang menemukan hasil bahwa suhu berhubungan dengan kejadian ISPA

pada balita di Makassar, dan di Kebumen yang dilakukan oleh Susetyo (2005)

terhadap suhu dan kejadian ISPA pada balita dan penelitian Nurhastati (2007) di

kabupaten Brebes yang menunjukkan bahwa suhu rumah memiliki hubungan

dengan kejadian ISPA pada balita serta Soolani (2013) di kota Manado yang

menunjukkan bahwa suhu rumah berhubungan secara signifikan terhadap

kejadian ISPA pada balita.

Penelitian yang tidak sejalan dengan hasil penelitian ini adalah penelitian

yang dilakukan oleh Yusup (2004) di Rungkut Surabaya yang menunjukkan

50
bahwa suhu rumah tidak berhubungan dengan kejadian ISPA dan Sinaga (2011) di

Jakarta Utara yang menunjukkan hasil tidak ada hubungan antara suhu rumah

dengan kejadian ISPA pada balita.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa suhu rumah memiliki hubungan

dengan kejadian ISPA pada balita di desa Labulia kecamatan Jonggat kabupaten

Lombok Tengah. Penelitian ini membuktikan bahwa faktor suhu rumah sangat

berperan terhadap kejadian ISPA pada balita. Suhu rumah yang sehat akan

memberikan efek positif bagi penghuni rumah dan khususnya pada balita di desa

Labulia.

4.2.3. Hubungan Kelembaban Rumah dengan Penyakit ISPA pada Balita

Kelembaban rumah merupakan penghawaan rumah yang terdapat di

dalam rumah balita yang ada di desa Labulia yang di ukur dengan menggunakan

Hygrotermometer dengan satuan persen (%). Kelembaban yang baik adalah

kelembaban yang berkisar antara 40-60% (Kemenkes, 2011). Kelembaban yang

sehat akan memberikan efek kesehatan pada balita di dalam rumah, sebaliknya

kelembaban yang buruk akan mendatangkan penyakit pada balita. Kelembaban

yang terlalu tinggi maupun rendah dapat menyebabkan suburnya pertumbuhan

mikroorganisme, termasuk mikroorganisme penyebab ISPA baik itu bakteri

ataupun virus (Kemenkes RI, 2011).

51
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelembaban memiliki hubungan

yang signifikan terhadap kejadian ISPA pada balita. Hasil statistik menunjukkan

bahwa p value sebesar 0,003 yang berarti lebih kecil dari 0,05. Kondisi ini

memberikan arti bahwa terdapat hubungan yag signifikan antara kelembaban

rumah terhadap kejadian ISPA pada balita di desa Labulia kecamatan Jonggat

kabupaten Lombok Tengah.

Hasil ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Muliadi (2006) di

kota Bau-Bau Sulawesi Tenggara menunjukkan hasil bahwa kelembaban memiliki

hubungan yang signifikan terhadap kejadian ISPA pada balita. Penelitian lain

yaitu Nurhastati di Brebes (2007) yang memperlihatkan bahwa kelembaban

memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian ISPA. Hasil ini juga sejalan

dengan penelitian Gapar (2015) di kota Denpasar yang menunjukkan bahwa

kelembaban memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian ISPA pada

balita.

Hasil penelitian tidak selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Yusup

(2004) di Rungkut Surabaya yang menunjukkan bahwa kelembaban tidak

memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian ISPA pada balita, dan

penelitian Oktaviani (2009) di Boyolali dan Selvyani (2012) yang menunjukkan

bahwa kelembaban tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian

ISPA.

52
Penelitian ini dapat menyimpulkan bahwa kelembaban memiliki hubungan

yang signifikan terhadap kejadin ISPA pada balita di desa Labulia kecamatan

Jonggat kabupaten Lombok Tengah NTB. Hasil ini memperlihatkan bahwa benar

kelembaban rumah dapat mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA pada balita

sehingga kelembaban rumah hendaknya diperhatikan agar rumah tetap sehat dan

nyaman.

4.2.3. Hubungan Kamarisasi Rumah dengan Penyakit ISPA pada Balita

Kamarisasi rumah merupakan kondisi kamar yang ada di dalam rumah

dengan adanya sekat-sekat disetiap ruangan dengan pembatas tembok atau kayu.

Kamarisasi dimaksudkan agar penularan penyakit dapat dicegah kepada para

penghuni rumah. Kamarisasi dapat mengisolasi penyebaran penyakit sehingga

anggota keluarga yang tidak sakit dapat terhindar dari penyakit anggota keluarga

lainnya.

Kamarisasi yang baik dan sehat adalah kamar-kamar dalam rumah yang

dilengkapi dengan pembatas tembok atau kayu dari lantai sampai ke atap.

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kamarisasi rumah tidak

memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian ISPA pada balita di desa

Labulia. Kamarisasi tidak memiliki hubungan dengan kejadian ISPA dengan nilai

p value 0,641 lebih besar dari 0,05. Hasil ini membuktikan bahwa kamarisasi

tidak ada hubungan dengan kejadian ISPA pada balita.

53
Hasil tersebut di atas sejalan dengan penelitian Selvyani (2012) di kota

Makassar yang menunjukkan bahwa kamarisasi tidak berhubungan dengan

kejadian ISPA pada balita. Hasil ini mendukung penelitian ini yang mengatakan

bahwa kamarisasi tidak berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita.

Kesimpulannya bahwa kamarisasi rumah tidak memiliki hubungan dengan

kejadian penyakit ISPA pada balita di desa Labulia. Kondisi ini membuktikan

bahwa kamarisasi tidak ada hubungan dengan kejadia ISPA pada balita.

4.3 Keterbatasan Penelitian

1. Penelitian ini tidak mengambil variabel pencahayaan karena peralatan lux

meter yang masih susah di Lombok.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

54
Berikut akan dijelaskan kesimpulan dan saran pada penelitian ini sebagai

berikut :

1. Kepadatan hunian rumah tidak berhubungan dengan kejadian ISPA pada

Balita di desa Labulia kecamatan Jonggat Lombok Tengah 2016


2. Ventilasi rumah berhubungan dengan kejadian ISPA pada Balita di desa

Labulia kecamatan Jonggat Lombok Tengah 2016


3. Suhu rumah berhubungan dengan kejadian ISPA pada Balita di desa Labulia

kecamatan Jonggat Lombok Tengah 2016


4. Kelembaban rumah berhubungan dengan kejadian ISPA pada Balita di desa

Labulia kecamatan Jonggat Lombok Tengah 2016


5. Kamarisasi rumah tidak berhubungan dengan kejadian ISPA pada Balita di

desa Labulia kecamatan Jonggat Lombok Tengah 2016


5.2. Saran
1. Kepada masyarakat di Desa Labulia hendaknya memperhatikan ventilasi

rumah, suhu rumah, dan kelembaban rumah dengan senantiasa membiarkan

jendela rumah untuk tetap terbuka agar sinar matahari bisa langsung masuk ke

rumah dan sirkulasi udara dalam rumah tetap terjaga dengan baik.
2. Kepada Puskesmas Ubung agar melakukan penyuluhan kesehatan lingkungan

terutama terkait dengan hunian sehat bagi masyarakat desa Labulia.


3. Kepada Tenaga kesehatan lingkungan di Puskesmas Ubung hendaknya

melakukan pelatihan kader kesehatan lingkungan untuk dapat memantau

rumah sehat bagi masyarakat Labulia.


4. Kepada peneliti selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian lanjutan

tentang aspek pencahayaan rumah dengan kejadian ISPA.

55
56