Anda di halaman 1dari 2

UNIVERSITAS KADIRI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


STATUS TERAKREDITASI BAN-PT
Program Studi: 1. Ners, 2. Ilmu Keperawatan (S1), 3. Kebidanan (DIII) 4.
Bidan Pendidik (DIV)
Sekretariat: Jalan Selomangleng No.1 Kediri Telp. (0354) 77074/771846, Fax. (0354)
771846
PRE-TEST

A. Benar atau salahkah penulisan kata/frase/kalimat berikut ini?

1. Bacalah majalah Bahasa dan Sastra!


2. Ia mengikut sertakan seorang anak.
3. Soekarno dan Hatta Memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
4. Siapa gubernur yang baru di lantik itu?
5. 10 Ampere; 10 volt
6. Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
7. Surat saudara sudah saya terima.
8. paripurna; tri tunggal; manca Negara; pramu niaga; saptakrida;
olahraga
9. Si Amin lebih tua daripada Ahmad.
10. Ke mana saja ia selama ini?
11. Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
12. Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman Rp 250.000.000,-
13. Bpk. Marsudi,SH baru saja dilantik menjadi kepala desa.

B. Ubahlah dan tuliskan kembali kata/frase/klausa dalam wacana berikut


yang tidak sesuai dengan EYD!

PANGERAN DIPONEGORO
(1785-1885)

Pukul 07.00 WIB bel berdering cukup keras. Siswa-siswi SMKN 4 Jember
bergegas memasuki kelas. Selang beberapa menit kemudian suasana
menjadi tenang. Mereka siap menerima pelajaran. Para guru pun
memasuki kelas masing-masing.
Selamat pagi, pak! Sapa siswa-siswi kelas X kepada Pak Phiter,
guru bahasa Indonesia.
Selamat pagi! Sambutnya sambil mengecek buku agenda kelas dan
daftar hadir siswa. Setelah mengecek kehadiran sisewa, ia mulai
mengajarkan Bahasa Indonesia.
Pelajaran ke-6 akan kita awali dengan membaca wacana berjudul
Pangeran Diponegoro. Keluarkan buku sejarah nasional kalian! Serunya
penuh semangat.
Edi, coba bacakan wacana tersebut! Suruh Pak Phiter. Edi
membacakan wacana itu dengan cermat.
Pangeran Diponegoro nama aslinya R M Ontowiryo. Ia di lahirkan di
Yogyakarta, 11 November 1785. Ayahnya bernama Sultan
Hamengkubuwono ke III. Sejak kecil pangeran yang penuh charisma itu
dirawat oleh neneknya yang bernama IR. Ratu Ageng.
Ratu Ageng meminta jiwa sang pangeran agar menjadi santri yang
taat beribadah.
Amatlah mungkin, setelah dewasa ia begitu membenci pola hidup dan
kebudayaan Barat yang di bawa Belanda ke Indonesia. Misalnya saja
kebiasaan pesta pora yang disertai dansa sambil minum-minuman yang
memabukkan. Kebencian itu semakin mendidih ketika belanda
mencampuri urusan dalam Negeri Mataram. Bayangkan saja, Belanda
sengaja membuat peraturan yang merendahkan martabat para raja Jawa.
Para bangsawan Jawa diadudomba. Tanah kerajaan diserobot untuk
perkebunan para konglomerat Belanda. Bahkan pertanian rakyat pun
dikuasai.

***