Anda di halaman 1dari 10

SAP 12

TEORI EKONOMI KEPENDUDUKAN (EKI 409 B2)

TEORI EKONOMI TENTANG MIGRASI DESA KOTA & MOBILITAS PENDUDUK LINTAS
NEGARA

OLEH :

I PUTU EKA ARIMBAWA (1406105070)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

BUKIT JIMBARAN

2017

PEMBAHASAN

1. Teori Ekonomi tentang Migrasi Desa-Kota


a. Teori Human Capital

Investasi di bidang sumberdaya manusia dinamakan human capital,salah satunya dapat


dilakukan dalam bentuk migrasi atau perpindahan penduduk (Simanjuntak,1985).

Menurut Simanjuntak (1985) seseorang mau atau berusaha pindah kerja dari satu tempar
ke tempat lain untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar. Seseorang berpindah tempat
berarti dia mengorbankan pendapatan yang seyogianya dapat diterima di tempat asal. Misalkan
setiap tahun seseorang seyogianya menerima upah V(t) di tempat asal dan akan menerima upah
W(t) di tempat tujuan. Besarnya arus pendapatan yang seyogianya diterima selama hidupnya di
tempat asal Y(v) merupakan penghasilan yang dikorbankan untuk memperoleh arus pendapatan
yang jumlahnya lebih besar di tempat tujuan Y (w).Dalam hal ini Y (v) merupakan biaya tidak
langsung atau opportunity cost untuk memperoleh Y(w). Kecuali biaya tidak langsung untuk
perpindahan seperti itu,orang mengeluarkan juga biaya yang langsung dalam bentuk ongkos
pengangkutan,biaya memindahkan barang-barang rumah tangga,tambahan biaya perumahan,dan
lain-lain. Baik biaya langsung maupun biaya tidak langsung tersebut dipandang sebagai investasi
yang melekat pada diri migrant.Imbalannya adalah arus pendapatan di tempat tujuan Y (w).

Teori human capital dalam hal ini menjelaskan bahwa seseorang akan memutuskan
pindah tempat kerja bila untuk tingkat discount tertentu biaya perpindahan (langsung dan tidak
langsung) lebih kecil daripada arus penghasilan di tempat tujuan,semuanya dihitung dalam nilai
sekarang atau present value.

Penjelasan mengenai perpindahan penduduk dengan pendekatan human capital juga


dilakukan oleh Sjasstad. Menurut Sjaastad (1962) dalam Leoner (1973) menyatakan bahwa
seseorang mempunyai kecenderungan untuk melakukan migrasi jika di tempat tujuan
memberikan nilai pendapatan bersih sekarang yang lebih besar daripada di tempat asal. Kenaikan
yang diharapkan dalam pendapatan meliputi kenaikan upah dan kesempatan kerja.

b. Teori Migrasi Todaro

Teori ekonomi tentang migrasi desa-kota dikemukakan oleh Todaro (2003), dimana
diasumsikan bahwa migrasi desa-kota pada dasarnya merupakan suatu fenomena ekonomi. Oleh
karena itu, keputusan untuk melakukan migrasi juga merupakan suatu keputusan yang telah
dirumuskan secara rasional. Pada intinya Todaro (1998) mendasarkan pada pemikiran bahwa
arus migrasi berlangsung sebagai tanggapan terhadap adanya perbedaan pendapatan antara kota
dengan desa. Mereka baru akan memutuskan untuk melakukan migrasi jika penghasilan bersih di
kota melebihi penghasilan bersih yang tersedia di desa.

Hal ini menjelaskan adanya pengangguran di daerah perkotaan dan rasionalitas ekonomi
atas terus berlangsungnya migrasi dari desa ke kota, meskipun angka pengangguran di perkotaan
cukup tinggi. Jadi singkatnya, model migrasi Todaro (2003) memiliki empat pemikiran dasar
sebagai berikut :

1
1. Migrasi desa-kota dirangsang, terutama sekali, oleh berbagai pertimbangan ekonomi
rasional yang langsung berkaitan dengan keuntungan atau manfaat dan biaya-biaya relatif
migrasi itu sendiri.
2. Keputusan untuk bermigrasi tergantung pada selisih antara pendapatan yang diharapkan
di kota dan tingkat pendapatan aktual di pedesaan. Maksudnya ada dua variabel pokok,
yaitu selisih upah aktual dikota dan di desa, serta besar atau kecilnya kemungkinan
mendapatkan pekerjaan di perkotaan yang menawarkan tingkat pendapatan sesuai dengan
yang diharapkan.
3. Kemungkinan mendapatkan pekerjaan di perkotaan berkaitan langsung dengan tingkat
lapangan pekerjaan di perkotaan, sehingga berbanding terbalik dengan tingkat
pengangguran di perkotaan.

Laju migrasi desa-kota bisa saja terus berlangsung meskipun telah melebihi laju
pertumbuhan kesempatan kerja. Kenyataan ini memiliki landasan yang rasional karena adanya
perbedaan ekspektasi pendapatan yang sangat lebar, yakni para migran pergi ke kota untuk
meraih tingkat upah yang lebih tinggi yang nyata (memang tersedia). Dengan demikian lonjakan
pengangguran di kota merupakan akibat yang tidak terhindarkan dari adanya ketidakseimbangan
kesempatan ekonomi yang sangat parah antara daerah perkotaan dan daerah pedesaan (berupa
kesenjangan tingkat upah tadi).

Todaro (1983) merumuskan suatu model migrasi yang terkenal sebagai expected income
model of rural-urban migration. Teori ini bermula dari asumsi bahwa keputusan
menggambarkan tanggapan migrant terhadap perbedaan pendapatan yang diharapkan di daerah
tujuan dan daerah asal. Pada intinya teori ini menganggap bahwa para migrant akan
membandingkan penghasilan yang diharapkan di daerah tujuan dengan penghasilan di daerah
asal.Mereka akan melakukan migrasi bila penghasilan di daerah tujuan lebih besar daripada
penghasilan di daerah asal.

Dari model Todaro di atas menunjukkan bahwa keputusan untuk bermigrasi tidak hanya
ditentukan oleh berapa upah yang diterima seandainya melakukan migrasi, tetapi juga dengan
memperhitungkan berapa besar peluang untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan demikian,upah
yang besar belum tentu menarik orang untuk berpindah,sebaliknya upah yang relatif terendah
akan cukup menarik calon migrant kalau peluang untuk mendapatkan pekerjaan relatif besar.

c. Teori Migrasi Oleh Everett S.Lee

Menurut Everett S.Lee (Mantra,2000) , volume migrasi di suatu wilayah berkembang


sesuai dengan tingkat keragaman daerah-daerah di wilayah tersebut. Di daerah asal dan di daerah
tujuan,menurut Lee,terdapat faktor-faktor yang disebut sebagai :

a) Faktor positif (+) yaitu faktor yang memberikan nilai negatif atau merugikan bila tinggal
di tempat tersebut sehingga seseorang merasa perlu untuk pindah ke tempat lain.

2
b) Faktor netral (0) yaitu yang tidak berpengaruh terhadap keinginan seorang individu untuk
tetap tinggal di tempat asal atau pindah ke tempat lain.

Selain ketiga faktor diatas terdapat faktor rintangan antara.Rintangan Antara adalah hal-
hal yang cukup berpengaruh terhadap besar kecilnya arus mobilitas penduduk .Rintangan Antara
dapat berupa : ongkos pindah,topografi wilayah asal dengan daerah tujuan atau sarana
transportasi. Faktor yang tidak kalah penting yang mempengaruhi mobilitas penduduk adalah
faktor individu.Karena faktor individu pula yang dapat menilai positif atau negatifkah suatu
daerah dan memutuskan untuk pindah atau bertahan di tempat asal. Jadi menurut Everett S.Lee
(Mantra,2000) arus migrasi dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu :

a) Faktor individu.
b) Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal, seperti keterbatasan kepemilikan lahan,upah di
desa rendah,waktu luang (Time lag)antara masa tanam dan masa panen,sempitnya
lapangan pekerjaan di desa,terbatasnya jenis pekerjaan di desa.
c) Faktor di daerah tujuan ,seperti : tingkat upah yang tinggi,luasnya lapangan pekerjaan
yang beraneka ragam.
d) Rintangan antara daerah asal dengan daerah tujuan,seperti : sarana transportasi,topografi
desa ke kota dan jarak desa kota. Atau dapat digambarkan sebagai berikut :

d. Teori Migrasi Oleh Lewis-FeiRanis (L-F-R).

Berkenaan dengan kajian ekonomi migrasi internal,oleh Lewis (1954), yaitu tentang
proses perpindahan tenaga kerja desa kota, dimana model yang dikembangkan oleh Lewis pada
tahun 1954 tersebut diperluas Fei dan Ranis pada tahun 1961 dan merupakan teori umum yang
diterima dan dikenal dengan Model Lewis-FeiRanis (L-F-R). Fokus utama dari model ini adalah
pada proses perpindahan tenaga kerja dan pertumbuhan peluang kerja di sektor modern Teori
perpindahan tenaga kerja tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh Todaro (2003)

Menurut Oishi (2002) adalah mengenai Network theory, yang mengkaitkan proses
migrasi melalui hubungan personal,kultur dan hubungan-hubungan sosial lain.Oishi (2002)
menjelaskan bahwa di negara-negara pengirim migrant, informasi tentang pekerjaan dan standar
hidup di luar negeri secara efisien disampaikan melalui jaringan personal seperti teman dan
tetangga yang telah beremigrasi. Sedangkan di negara-negara penerima (negara
tujuan),masyarakat migrant sering membantu laki-laki dan wanita seusianya (sejawat) untuk
berimigrasi,mendapatkan suatu pekerjaan dan menyesuaikan dengan suatu lingkungan
baru.Jaringan yang demikian ini mengurangi biaya-biaya migrasi bagi para pendatang baru ,
yang menyebabkan para migrant yang potensial untuk meninggalkan negara (daerah) mereka.

2. Mobilitas Penduduk Lintas Negara


a. Mobilitas Penduduk dan Perubahan Sosial Ekonomi

3
Mobilitas penduduk merupakan bagian integral dari proses pembangunan secara
keseluruhan. Mobilitas telah menjadi penyebab dan penerima dampak dari perubahan dalam
struktur ekonomi dan sosial suatu daerah. Oleh sebab itu, tidak terlalu tepat untuk hanya menilai
semata-mata aspek positif maupun negatif dari mobilitas penduduk terhadap pembangunan yang
yang ada, tanpa memperhitungkan pengaruh kebaikannya. Tidak akan terjadi proses
pembangunan tanpa adanya mobolitas penduduk. Tetapi juga tidak akan terjadi pengarahan
penyebaran penduduk yang berarti tanpa adanya kegiatan pembangunan itu sendiri. Para pakar
ilmu sosial melihat mobilitas penduduk dari sudut proses untuk mempertahankan hidup
(Wilkinson:1973; Broek, Julien Van den:1996). Proses mempertahankan hidup ini harus dilihat
dalam arti yang luas, yaitu dalam konteks ekonomi, sosial, politik, maupun budaya. Meskipun
demikian, banyak studi memperlihatkan bahwa bentuk-bentuk keputusan serta motivasi yang
diambil oleh induvidu akan sangat berlainan, antara karena alasan ekonomi dengan karena alasan
politik (Peterson,W:1995; Kunz, E.F.;1973).

Perpindahan atau migrasi yang didasarkan pada motif ekonomi merupakan migrasi yang
direncanakan oleh individu sendiri secara sukarela (voluntary planned migraton). Para penduduk
yang akan berpindah, atau migran, telah memperhitungkan berbagai kerugian dan keuntungan
yang akan di dapatnya sebelum yang bersangkutan memutuskan untuk berpindah atau menetap
ditempat asalnya. Dalam hubungan ini tidak ada unsur paksaan untuk melakukan migrasi. Tetapi
semenjak dasawarsa 1970-an banyak dijumpai pula mobilitas penduduk yang bersifat paksaan
atau dukalara atau terdesak (impelled) (Peterson,W:1969). Mobilitas penduduk akibat
kerusuhan politik atau bencana alam seperti yang terjadi di Sakel ataupun Horn, Afrika
merupakan salah satu contoh. Adanya berbagai tekanan dari segi politik, sosial, ataupun budaya
menyababkan individu tidak memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melakukan
perhitungan manfaat ataupun kerugian dari aktivitas migrasi tersebut. Mereka berpindah ke
daerah baru dalam kategori sebagai pengungsi (refugees). Para pengungsi ini memperoleh
perlakuan yang berbeda di daerah tujuan dengan migran yang berpindah semata-mata karena
motif ekonomi (Beyer, Gunther; 1981; Adelman: 1988). .

b. Mobilitas dan Otonomi Daerah.

Ketimpangan yang terjadi antara satu daerah dengan daerah lainnya menyebabkan
penduduk terdorong atau tertarik untuk melakukan pergerakan dari satu daerah ke daerah
lainnya. Oleh karena itu pembangunan daerah perlu diarahkan untuk lebih mengembangkan dan
menyerasikan laju pertumbuhan antar daerah, antar daerah perkotaan dan daerah perdesaan, serta
mampu membuka daerah terisolasi dan mempercepat pembangunan kawasan yang tertinggal,
seperti Kawasan Timur Indonesia.

Sebagai contoh, adanya mobilitas penduduk dari daerah perdesaan ke daerah perkotaan
mencerminkan perbedaan pertumbuhan dan ketidak merataan fasilitas pembangunan antar
daerah perdesaan dan daerah perkotaan. Selama masih terdapat perbedaan tersebut, mobilitas
penduduk akan terus berlangsung (Tjahyati, Budi : 1995). Apalagi telah menjadi kenyataan yang

4
secara umum diketahui bahwa pada beberapa negara berkembang, konsentrasi investasi dan
sumber daya pada umumnya berada di daerah perkotaan (Rondineli and Ruddle: 1978 ).

Kenyataan tersebut semakin diperburuk karena perencanaan spasial di negaranegara


berkembang lebih didominasi oleh pendekatan dari atas (Stohr and Taylor: 1981). Strategi
pembangunan semacam ini didasarkan pada tujuan utama dari pemerintah untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi ( Rondinelli and Rudlle: 1978). Karena itu proses pembangunan terutama
dipusatkan pada sektor industri di daerah perkotaan, menekankan pada kegiatan ekonomi padat
modal dan teknologi tinggi. Perluasan industri cenderung diikuti dengan kebijaksanaan subtitusi
impor dalam rangka meningkatkan kemandirian ekonomi nasional. (Potter: 1985).

Beberapa kata kunci yang perlu diberikan penekanan pada pembangunan daerah adalah:
(1) pembangunan daerah disesuaikan dengan prioritas dan potensi masingmasing daerah; dan (2)
adanya keseimbangan pembangunan antar daerah. Kata kunci pertama mengandung makna pada
kesadaran pemerintah untuk melakukan desentralisasi pembangunan terutama berkaitan dengan
beberapa sektor pembangunan yang dipandang sudah mampu dilaksanakan di daerah masing-
masing.

Kata kunci kedua mengandung makna pada adanya kenyataan bahwa masingmasing
daerah memiliki potensi baik alam, sumber daya manusia maupun kondisi geografis yang
berbeda-beda, yang meyebabkan ada daerah yang memiliki potensi untuk berkembang secara
cepat dan sebaliknya ada daerah yang kurang dapat berkembang karena berbagai keterbatasan
yang dimilikinya. Adanya perbedaan potensi antar daerah ini menyebabkan peran pemerintah
pusat sebagai pengatur kebijaksanaan pembangunan nasional tetap diperlukan agar timbul
keselarasan, keseimbangan dan keserasian perkembangan semua daerah baik yang memiliki
potensi yang berlebihan maupun yang kurang memiliki potensi.

Dengan demikian, melalui otonomi dalam pengaturan pendapatan, sitem pajak,


keamanan warga, sistem perbankan dan berbagai pengaturan lain yang dapat diputuskan daerah
sendiri, akan dimungkinkan perpindahan penduduk secara sukarela dengan tujuan semata-mata
peningkatan kesejahteraan penduduk itu sendiri. Akan berbeda dengan perpindahan yang lebih
berupa suruhan, desakan atu malah setengah paksaan, yang bahkan hanya akan menghasilkan
mobilitas yang bersifat dukalara semata.

a. Liberalisasi Ekspor dan Impor Tenaga Kerja : Suatu Pemikiran Awal


a. Keuntungan Absolut versus Keuntungan Komparatif

Tabel 1 memberikan suatu ilustrasi sederhana mengenai struktur produksi di dua negara,
misalnya negara A dan negara B. Dalam contoh ini tiap negara hanya memproduksi dan
mengonsumsi dua buah komoditi, yaitu beras dan komputer. Dalam ilustrasi ini dalam faktor
produksi (yang secara umum terdiri dari alam, tenaga kerja, modal, dan teknologi) yang dibahas
hanyalah tenaga kerja. Seperti terlihat tabel 1, negara A membutuhkan enam satuan tenaga kerja
untuk menghasilkan satu satuan komputer dan membutuhkan dua satuan tenaga kerja untuk

5
menghasilkan satu satuan beras. Dipihak lain, negara B membutuhkan hanya satu satuan tenaga
kerja untuk menghasilkan satu satuan komputer, dan satu satuan tenaga kerja pula untuk
menghasilkan satu satuan beras.

Tabel 1.
Satuan Tenaga Kerja yang Dibutuhkan
Untuk Menghasilkan Komputer dan Beras
Di Negara A dan Negara B : Ilustrasi Sederhana
Suatu Interaksi Dua Negara

Negara Komputer Beras


Negara A 6 2
Negara B 1 1

Terlihat bahwa negara B lebih efisien daripada negara A dalam memproduksi kedua
macam komoditi tersebut. Negara B membutuhkan tenaga kerja yang lebih sedikit untuk
menghasilkan sejumlah komputer atau beras yang sama banyaknya. Kalau kedua negara tidak
mengadakan interaksi, untuk menghasilkan satu sauan komputer dan satu satuan beras, negara A
akan membutuhkan delapan satuan tenaga kerja; negara B membutuhkan dua satuan tenaga
kerja.

Kalau tidak memproduksi komputer, negara A dapat membebaskan enam satuan tenaga
kerja. Bila enam satuan tenaga kerja ini digunakan untuk menghasilkan beras, negara A akan
menambahkan tiga satuan beras (satu satuan beras membutuhkan dua satuan tenaga kerja).
Artinya, negara A akan, menghasilkan komputer.

Karena hanya membutuhkan satu satuan beras, negara A mengalami kelebihan sebanyak
tiga satuan. Kalau tiga satuan beras ini dibawa ke negara B, tiga satuan beras ini setara dengan
tiga satuan komputer (karena dinegara B, biaya untuk menghasilkan satu sauan komputer sama
dengan biaya untuk menghasilkan satu satuan beras). Berarti, dengan mengonsentrasikan
produksi beras, negara A akhirnya akan mempunyai satu satuan beras (seperti semula), tetapi kini
dengan tiga satuan komputer (bukan hanya satu satuan komputer seperti ketika belum ada
interaksi). Ini sekedar suatu contoh sederhana munculnya keuntungan dari terjadinya interaksi
antara dua negara. Interaksi seperti ini sering pula disebut dengan perdagangan internasional.

Perdagangan internasional ini terjadi karena adanya keutungan komparatif. Negara A


mempunyai keuntungan komparatif dalam memproduksi beras relatif terhadap komputer sebab
untuk memproduksi satu satuan beras dia hanya membutuhkan dua sauan tenaga kerja; sedang
untuk memproduksi satu satuan komputer dia membutuhkan enam satuan tenaga kerja.
Sementara itu, dinegara B, biaya untuk menghasilkan komputer sama dengan biaya untuk
menghasilkan beras. Maka dari itu, negara A mengosentrasikan ekspor pada beras dan kemudian

6
mengimpor komputer. Dengan cerita yang serupa, negara B akan mengekspor komputer dan
mengimpor beras.

Kembali ke contoh diatas negara A sama sekali tidak memproduksi komputer. Berarti
enam satuan tenaga kerja tidak digunakan untuk menghasilkan komputer. Dalam contoh sebelum
ini, keenam satuan tenaga kerja kemudian beralih profesi. Mereka menghasilkan beras, dan beras
kemudian diekspor.

Kini, keenam satuan tenaga kerja ini pergi ke negara lain, yang dalam hal ini negara B.
Mereka tetap memproduksi komputer. Kalau keenam satuan tenaga kerja ini hanya dapat
menghasilkan satu satuan komputer di negara A, mereka (keenam satuan tenaga kerja) dapat
menghasilkan satu satuan komputer di negara A, mereka (keenam satuan tenaga kerja) dapat
menghasilkan enam komputer di negara B. Berarti, dengan adanya perpidahan tenaga kerja
secara internasional, negara A tetap dapat menghasilkan satu satuan beras, tetapi kini memilki
enam satuan komputer, dan bukan tiga satuan komputer bila terjadi perdagangan internasional,
dan bahkan hanya satu satuan komputer bila tidak terjadi interaksi.

b. Liberalisasi Pedagangan Internasional

Ketika faktor produksi tidak dapat berpindah secara internasional, kebutuhan terhadap
perdagangan internasional muncul. Dengan kendala immobilitas fakto produksi, tiap negara
perlu melakukan perdagangan internasional untuk meningkatkan kemakmuran tiap negara
tersebut dan kemakmuran tiap negara tersebut dan kemakmuran dunia secara keseluruhan.
Perbedaan dalam keuntungan komparatif menjadi landasan terjadinya perdagangan internasional
ini. Perbedaan dalam keuntungan komparatif ini terjadi karena adanya perbedaan dalam
komposisi ketersediaan faktor produksi (factor endowment) ditiap negara.

Suatu negara memiliki tenaga kerja sebaga faktor produksi yang relatif melimpah
cenderung mengekspor barang yang dihasilkan dengan teknologi padat karya. Sebaliknya, negara
yang memiliki modal sebagai faktor produksi yang relatif melimpah akan cenderung mengekspor
barang yang dihasilkan dengan teknologi padat modal. Dua negara tersebut dapat melakukan
perdagangan internasional. Negara yang pertama mengekspor barang yang dihasilkan dengan
teknologi padat karya dan mengimpor barang yang dihasilkan dengan teknologi padat modal,
sedang negara yang kedua mengekspor barang yang dihasilkan dengan teknologi padat modal
dan mengimpor barang yang dihasilkan dengan teknologi padat karya.

Dengan terjadinya perdagangan tersebut, kedua negara akan beruntung. Pendapatan


nasional mereka menjadi lebih tinggi daripada jika kedua negara tiak melakukan perdagangan
internasional. Model ini sering disebut dengan Model H-O-S (Heckscher-Ohlin-Samuelson),
dipersiapkan karena kenyataan tidak adanya, atau sulitnya, mobilitas internasional dalam faktor
produksi (alam, tenaga kerja, modal, dan teknologi). Dengan kata lain, diasumsikan bahwa faktor
produksi sulit, atau tidak mungkin, menjadi mobil secara internasional.

7
c. Liberalisasi Mobilitas-Internasional Faktor Produksi

Apa yang diasumsikan dalam model H-O-S tidak sepenuhnya terjadi. Faktor produksi
tidak sepenuhnya immobile. Modal, sebagai salah satu faktor produksi, ternyata telah menjadi
amat mobil. Modal tidak lagi mengenal batas warga negara. Modal mengalir kemana saja mereka
butuhkan. Terjadinya arus modal secara internasional (international capital movement). Mobilitas
modal ini dapat menjad pengganti (subsitute) untuk perdangan yang mengandalkan keuntungan
komparatif. Negara yang kaya akan modal dapat saja memproduksi barang dengan teknologi
padar karya, melalui ekspor modal mereka ke negara yang relatif berlimpah tenaga kerja. Bila
disuatu negara upah tenaga kerja telahmenjadi relatif mahal, modal dapat pergi mencari daerah
yang masih terdapat tenaga kerja dengan upah elatif murah.

Singapura adalah suatu contoh negara kecil yang tidak mempunyai pasar dan faktor
produksi yang melimpah. Yang mereka miliki terbatas pada modal dan sumberdaya manusia
yang berkualitas. Mereka kemudian mengekspor modal dan sumberdaya manusia yang
berkualitas tersebut. Petumbuhan ekonomi yang tinggi di Singapura hanya dapat dipertahankan
bila Singapura terus melakukan kebijakan ekspor modal dan tenaga kerja bermutu tinggi.
Perdana menteri Singapura, Goh Chok Tong pernah mengatakan investing in the region... is part
of our long-term strategy to climb up the economics ladder.

d. Dari Pengekspor ke Pengimpor Tenaga Kerja Tidak Terampil

Sejarah memperlihatkan bahwa ketika suatu negara masih berada dalam taraf awal
pembangunan ekonomi,negara tersebut biasanya mempunyai tenaga kerja yang relatif banyak ,
tetapi jumlah pekerjaan yang dapat dikerjakan relatif tidak banyak. Akibatnya, muncul tekanan
untuk mengekspor tenaga kerja. Ekspor tenaga kerja ini membantu mengurangi surplus tenaga
kerja di negara pengekspor,yang berarti pula membantu meningkatkan perekonomian negara
pengekspor. Di pihak lain,negara pengimpor pun merasa beruntung. Negara pengimpor
membutuhkan tenaga kerja untuk mengerjakan hal-hal yang penduduk setempat tidak mau
mengerjakan atau mau mengerjakan,tetapi dengan upah yang amat tinggi. Tenaga kerja asing
dapat membantu perekonomian negara pengimpor.

Biasanya , di awal pembangunan,suatu negara yang mengekspor tenaga kerja tidak


terampil adalah juga suatu negara yang mengimpor tenaga kerja terampil. Negara ini, pada tahap
tersebut,memang masih kekurangan tenaga terampil. Impor tenaga terampil ini juga sering
bersamaan dengan adanya investasi asing-impor modal dari negara yang relatif mempunyai
banyak modal. Negara yang mengekspor tenaga kerja tidak terampil biasanya adalah juga negara
yang mengekspor barang yang dihasilkan secara padat karya.

e. Indonesia di Tengah Pasar Kerja Dunia

Pada saat ini sesungguhnya Indonesia masih mengalami kelebihan tenaga kerja tidak
terampil ,dengan upah/penghasilan yang rendah. Di samping itu,banyak negara yang lebih maju

8
daripada Indonesia telah mencapai tahap pengimpor tenaga kerja tidak terampil. Dari sisi
ini,penawaran tenaga kerja tidak terampil dari Indonesia mendapatkan permintaan tenaga kerja
tidak terampil dari negara yang lebih maju. Pasar tenaga kerja tidak terampil memang ada dan
diduga memang amat besar.

Walau begitu,kini di Indonesia sedang marak pendapat, yang sudah tidak sabar untuk
menunggu terjadinya transisi dalam pasar kerja di Indonesia. Mereka sudah tidak sabar untuk
menuju tahap transisi pasar kerja yang ditandai dengan upah yang tinggi dan ekspor tenaga kerja
yang bermutu tinggi.Kini,upah minimal dengan segala hak tenaga kerja terus diperjuangkan,yang
berarti peningkatan biaya tenaga kerja. Ekspor tenaga kerja ke negara lain pun dibatasi pada
mereka yang bermutu tinggi.

Mereka lupa pada struktur pasar tenaga kerja yang kini masih terjadi di
Indonesia.Berbagai peraturan tidak akan mencapai hasil yang diharapkan.Pasar gelap akan
bermunculan.Berbagai kiat untuk mengakali peraturan pemerintah, untuk memanfaatkan tenaga
kerja di sektor informal (yang tidak terkena peraturan) akan terus bermunculan. Akan muncul
berbagai cara untuk mengelabui peraturan,dengan membuat seolah-olah tenaga kerja yang
diekspor sudah bermutu.Beragam pasar gelap karena tidak cocoknya kondisi pasar kerja dan
peraturan pemerintah akan mewarnai kondisi ketenagakerjaan Indonesia pada masa-masa
mendatang.