Anda di halaman 1dari 22

RESUME

GEOLOGI DAERAH LAJER DAN SEKITARNYA


KECAMATAN PANAWANGAN, KABUPATEN GROBOGAN
PROPINSI JAWA TENGAH
4/9 Lembar Peta Nomor 1408-641 (Juwangi)

SKRIPSI TIPE-IIA

Diajukan untuk memenuhi persyaratan akademik tingkat sarjana pada


Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral
Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Oleh

Mitra Aldino
NIM 121.10.1144

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND YOGYAKARTA
2017
GEOLOGI DAERAH LAJER DAN SEKITARNYA
KECAMATAN PANAWANGAN, KABUPATEN GROBOGAN
PROPINSI JAWA TENGAH
4/9 Lembar Peta Nomor 1408-641 (Juwangi)
2

Mitra Aldino (121.10.1144)


Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, IST AKPRIND Yogyakarta
Email : Mitraaldino94@gmail.com

ABSTRAK

Secara administratif daerah penelitian terletak pada Kecamatan Pawanangan, Kabupaten


Grobogan, Provinsi Jawa Tengah., secara astronomi daerah penelitian terletak pada posisi 07 o
0730 - 07o1230 LS dan 110o4730 - 110o5230 BT Tujuan penyusunan adalah untuk
mengetahui keadaan geologi daerah penelitian, yang meliputi geomorfologi, stratigrafi, geologi
struktur, sejarah geologi, dan geologi lingkungannya.
Metode yang digunakan adalah dengan pemetaan geologi permukaan yang meliputi
beberapa tahapan, antara lain tahap pra lapangan yang berupa studi peneliti terdahulu, tahap
lapangan yaitu kolekting data, dan tahap pasca lapangan berupa analisis laboratorium dan tahap
penyusunan laporan.
Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi 5 yaitu: subsatuan geomorfik perbukitan
Homoklin (S9), subsatuan geomorfik perbukitan Antiklin (S5), subsatuan geomorfik dataran
alluvial (F1), subsatuan geomorfik tubuh air (F2), subsatuan geomorfik perbukitan denudasional
(D1) Daerah penelitian mempunyai 1 pola aliran yaitu trellis dengan stadia daerah dewasa.
Stratigrafi daerah penelitian terdiri atas 6 satuan batuan dan endapan campuran. Urutan satuan
batuan dari yang tua ke muda berurutan yaitu: satuan batupasir karbonatan Kerek berumur N14
N17 (Miosen TengahMiosen Akhir) diendapkan pada lingkungan Bathial Bawah hingga Bathial
Atas dengan ketebalan 325 m, satuan napal Kalibeng berumur N18N20 (Miosen AkhirPliosen
Awal) diendapkan pada lingkungan Bathial Atas hingga Neritik Luar dengan ketebalan 500 m,
satuan batugamping Kapung berumur N19N20 (Pliosen Awal-Pliosen Akhir) diendapkan pada
lingkungan Bathial Atas hingga Neritik Luar dengan ketebalan 100 m, satuan breksi andesit
Notopuro berumur Pleistosen diendapkan pada lingkungan darat berupa fluvial deposit dengan
ketebalan tidak lebih dari 25 m, dan endapan campuran.
Sesumber pada daerah penelitian berupa, sumberdaya air dalam bentuk air permukaan (air
sungai, waduk) yang dimanfaatkan sebagai kebutuhan sehari-hari pembangkit listrik dan pertanian,
sumberdaya lahan dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan, persawahan, potensi bahan galian
golongan C. Bencana alam di daerah penelitian banjir pada musim hujan dan kekeringan pada
musim kemarau.

Kata kunci: Geologi, geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi


Pendahuluan
Menurut Van Bemmelen (1949), Pegunungan Kendeng dibagi menjadi 3 bagian, yaitu
bagian barat yang terletak di antara G.Ungaran dan Solo (utara Ngawi), bagian tengah yang
membentang hingga Jombang dan bagian timur mulai dari timur Jombang hingga Delta Sungai
Brantas dan menerus ke Teluk Madura. Menurut Harsono P. (1983) Stratigrafi daerah kendeng
terbagi menjadi dua cekungan pengendapan, yaitu Cekungan Rembang (Rembang Bed) yang
membentuk Pegunungan Kapur Utara, dan Cekungan Kendeng (Kendeng Bed) yang membentuk
Pegunungan Kendeng.
1. Tahapan Penelitian
Tahapan penelitian dibagi atas 4 bagian besar, yaitu tahap pendahuluan, tahap penelitian
lapangan, tahap penelitian laboratorium, dan tahap penyusunan draft laporan.
a. Tahap pendahuluan
3

Tahap pendahuluan dilakukan untuk mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan
daerah penelitian. Pencarian data sekunder dapat diperoleh dari interpretasi peta topografi.
Penelitian ini tetap memperhatikan hasil dari peneliti-peneliti terdahulu yang telah melaksanakan
penelitian di daerah penelitian untuk mempermudah dalam pelaksanaan pemetaan geologi secara
cepat dan tepat. Selain itu juga dilakukan studi pustaka dari literatur, dari buku atau jurnal terkait
mengenai daerah penelitian serta pembuatan proposal dan mengurus ijin penelitian.

b. Tahap penelitian lapangan


Penelitian lapangan dibagi menjadi 4 urutan pelaksanaan, yaitu perencanaan lintasan,
pemetaan detil, penarikan batas satuan batuan dan pembuatan penampang geologi.
1) Perencanaan lintasan
Perencanaan ini dilakukan dengan mengadakan pengenalan medan (recognize)
sambil mencari segala singkapan yang dapat digunakan dalam penelitian lebih lanjut. Tujuan
lain dari recognize, untuk memilih jalur penampang stratigrafi terukur (measuring section)
dengan singkapan yang baik dan dengan jalur yang tidak berbahaya. Persyaratan dalam
perencanaan stratigrafi terukur yaitu:
a. Struktur sedimen harus dapat terlihat dan terekam dengan jelas.
b. Batas-batas litologi terlihat dengan sangat baik.
c. Satuan batuan secara umum dapat diketahui.
Lintasan dibuat melalui jalur jalan yang telah tersedia dan diusahakan untuk melalui
jalur sungai, hal itu baik dilakukan, karena singkapan yang terdapat di sungai merupakan
singkapan hasil dari pengelupasan soil oleh air. Tahap ini disertai dengan pengeplotan jalur
yang akan digunakan untuk stratigrafi terukur.

2) Pemetaan detil
Pelaksanaan pemetaan detil dilakukan dengan pencarian data geomorfologi,
stratigrafi, struktur geologi, dan geologi lingkungan. Pencarian data tersebut disertai dengan
pengeplotan data di peta, dan pengambilan sampel batuan yang akan dianalisis di
laboratorium sesuai kebutuhan, pengambilan foto struktur geologi, struktur sedimen,
litologi, bentang alam, bahan-bahan galian, sesumber, bencana alam, dan segala sesuatu
yang berkaitan dengan penelitian.
3) Penarikan batas satuan batuan
Dari hasil pemetaan detil, dengan pengeplotan data pada setiap stasiun pengamatan
dan lokasi pengamatan, selanjutnya dibuat penarikan batas satuan batuan dengan
menghubungkan setiap titik yang mempunyai ciri-ciri satuan batuan yang sama, dengan
berpedoman pada stratigrafi terukur yang telah dibuat dan atau dengan menggunakan
metode three point problem. Selain pembuatan peta geologi, dibuat juga peta geomorfologi
berdasarkan data bentang alam yang digunakan dengan data yang terdapat pada peta
geologi.
4) Pembuatan penampang geologi
Pembuatan penampang geologi bertujuan untuk mengetahui urutan satuan batuan
serta struktur geologi yang terdapat pada permukaan dan bawah permukaan. Selain itu,
penampang geologi dibuat dengan tujuan untuk mengetahui urutan batuan dari tertua ke
muda dan mengetahui ketebalan lapisan batuan, sehingga dapat dibuat legenda pada peta
geologi.
c. Tahap penelitian di laboratorium
4

Penelitian laboratorium dilakukan selama dan setelah penelitian lapangan selesai. Penelitan
ini berupa analisis mikropaleontologi, analisis petrografi dan analisis struktur geologi. Analasis
mikropaleontologi dilakukan untuk mengetahui kandungan fosil, menentukan jenis fosil, dan nama
fosil, sehingga dapat dipakai untuk menentukan umur dan lingkungan pengendapan dari masing-
masing satuan batuan. Analisis petrografi dilakukan untuk mengetahui tekstur batuan, struktur
batuan, dan mineral-mineral penyusunnya hingga nama batuan. Analisis struktur geologi dilakukan
untuk mengetahui jenis struktur yang bekerja pada daerah penelitian hingga arah tegasannya.

d. Tahap penyusunan
Pada tahap penyusunan dilakukan pembuatan draft laporan berdasarkan atas data lapangan
dan data laboratorium. Laporan tersebut disajikan dalam bentuk uraian laporan, disertai peta
lintasan dan lokasi pengamatan, peta geomorfologi, serta peta geologi.

Geomorfologi
a. Geomorfologi Regional
Berdasarkan morfologi tektonik (litologi dan pola struktur), maka wilayah Jawa bagian
timur (meliputi Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur) dapat dibagi mejadi beberapa zone
fisografis (Bemmelen, 1949) yakni: Zone Pegunungan Selatan, Zone Solo atau Depresi Solo, Zone
Kendeng, Depresi Randublatung, dan Zone Rembang. Berdasarkan klasifikasi Verstappen (1983)
dan Zuidam (1983) yang telah dimodifikasi sesuai dengan kondisi daerah penelitian, maka
penyusun membagi geomorfologi daerah penilitian menjadi 3 satuan geomorfik dan 5 subsatuan
geomorfik
1. Satuan geomorfik asal Fluvial (F)
a. Subsatuan geomorfik dataran alluvial (F1).
b. Subsatuan geomorfik tubuh air (F2).
2. Satuan geomorfik asal Denudasional (D)
a. Subsatuan geomorfik perbukitan denudasi (D1).
3. Satuan geomorfik asal Struktural (S)
a. Subsatuan geomorfik perbukitan antiklin (S5)
b. Subsatuan geomorfik perbukitan homoklin (S9)

1. Satuan geomorfik asal struktural (S)


Satuan geomorfik asal strukturl ini dibgai menjadi 2 subsatuan geomorfik yaitu:
a. Subsatuan geomorfik perbukitan Antiklin (S5)
Subsatuan geomorfik ini merupakan perbukitan bergelombang sedang dengan kelerengan
dari 3-13 (miring landai-curam menengah) dengan elevasi 12,5-90 mdpl, tingkat pengerosian
sedang-kuat dengan lembah relatif berbentuk U, pola aliran sub-dendritik, menempati 14,6% dari
luas daerah penelitian dan tersusun atas batugamping dan napal
5

Gambar 1. Kenampakan morfologi perbukitan antiklin yang terbentuk, Foto diambil di LP 38 di daerah Cekel dengan
arah kamera menghadap utara (Foto: Penyusun, 2017)

b. Subsatuan geomorfik perbukitan homoklin (S9)


Merupakan perbukitan bergelombang sedang dengan kelerengan dari miring landai (3)-
curam (20), dengan elevasi 37,5-137,5 mdpl, tingkat pengerosian sedang-kuat dengan lembah
relatif berbentuk U, pola aliran sub-dendritik, menempati 19,4% dari total luas daerah
penelitian dan tersusun atas batupasir karbonatan dan napal.

Gambar 2. Kenampakan morfologi perbukitan homoklin yang terbentuk karena kemiringan lapisan batuan kearah
selatan, foto diambil di LP 160 didaerah Jurug dengan arah kamera menghadap barat (Foto: Penyusun,
2017)

2. Satuan geomorfik asal denudasional (D)


Satuan geomorfik asal denudasional terdiri atas subsatuan geomorfik perbukitan
denudasional yaitu:
6

a. Subsatuan geomorfik perbukitan denudasional (D1)


Merupakan perbukitan bergelombang sedang dengan kelerengan dari datar (0) sampai
curam menengah (16), dengan beda tinggi 12,5 meter, tingkat pengerosian sedang-kuat dengan
lembah relatif berbentuk U, pola aliran sub-dendritik, menempati 6,1% dari luas daerah
penelitian. (Gambar 2.4), merupakan daerah dengan kontrol dari proses eksogen yang paling
dominan. Hal ini ditunjukan dengan minimnya singkapan yang dijumpai pada daerah ini. Derajat
pelapukan pada daerah ini termasuk sedang sampai kuat. Litologi yang menyusun daerah ini berupa
batupasir karbonatan, napal, batugamping, breksi dan batupasir tufan. Daerah ini oleh warga sekitar
dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan dan pemukiman, namun masih lebih dominan
perkebunannya.

Gambar 3. Subsatuan geomorfologi perbukitan denudasional (D1). Foto diambil di LP 109 di daerah Suru Kidul
dengan arah kamera ke timur (foto: Penyusun, 2017).

3. Satuan geomorfik asal fluvial (F)


a. Subsatuan geomorfologi dataran alluvial (F1)
Dataran dengan kemiringan lereng datar (0) sampai miring landai (4) beda tinggi 25 m,
menempati 58% dari luas total daerah penelitian. Daerah ini terbentuk akibat adanya akumulasi
material sedimen hasil proses erosi yang tertransportasi ke daerah yang lebih rendah. Subsatuan
geomorfik F1 ini tersusun oleh material rombakan berukuran lempung sampai kerakal yang
merupakan rombakan dari batuan sekitar berupa napal, batugamping, batulempung karbonatan,
batupasir karbonatan dan breksi andesit.

Gambar 4. Subsatuan geomorfologi dataran alluvial (F1) pada daerah Lajer yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai
lahan pertanian. Foto diambil di LP 89 dengan kameran menghadap utara (Foto: Penyusun, 2017)
7

b. Subsatuan geomorfik tubuh air (F2)


Tubuh sungai utama dengan penampang sungai berbentuk U dan waduk dengan sungai
berstadia dewasa, sungai utama memiliki lebar rata rata kurang lebih 60 meter, secara garis besar
memiliki aliran dari selatan ke utara, dengan stadia sungai dewasa (gambar 2.6). Subsatuan
Subsatuan geomorfik tubuh air (F2) ini menempati sekitar 2,8 % dari lokasi penelitian.

Gambar 5. Subsatuan geomorfologi tubuh air (F2) berupa tubuh air Kali Serang daerah Lajer berada di LP 84 dengan
kamera menghadap utara (Foto: Penyusun, 2017)

Pola aliran daerah penelitian


Membahas mengenai pola pegaliran daerah penelitian, pembahas melakukan pendekatan
melalui analisis peta topografi ditambah dengan mempertimbangkan keadaan sebenarnya di
lapangan. Pada daerah penelitian terdapat sungai induk yang berupa sungai permanen atau
perennial dimana sungai tersebut dialiri air sepanjang tahun Kali Serang. Sedang sifat aliran pada
anak-anak sungai bersifat periodik atau ephimeral yaitu sungai yang dipengaruhi oleh musim,
sehingga debit airnya akan berkurang pada musim kemarau dan melimpah pada musim penghujan.
Selain itu juga banyak anak-anak sungai yang bersifat intermiten, yaitu sungai yang hanya dialiri air
pada saat hujan saja.
Melalui hasil observasi lapangan serta interpretasi topografi yang telah dilakukan dan kemudian
dilakukan pencocokan dan pendekatan model pengaliran menurut klasifikasi dari Howard (1967),
maka disimpulkan bahwa lokasi penelitian memiliki 1 pola aliran. Pola aliran tersebut adalah trellis
yang juga ikit berkembang pola aliran subdendritik.
8

Gambar 6. Peta pola aliran daerah penelitian (Penyusun, 2017)

Stadia Daerah Penelitian


Sungai-sungai sudah memiliki banyak cabang. Sungai utama sudah mulai memiliki
meander. Lembah sungai sudah berbentuk U, erosi sungai yang bersifat lateral terbukti dengan
longsornya tebingtebing sungai akibat arus sungai yang mengerosinya (Gambar 2.12). Dataran
banjir sudah mulai terbentuk. Berdasarkan atas data-data yang telah didaparkan dari hasil observasi
lapangan dan data citra dari Google Earth maka peneliti menafsirkan stadia daerah penelitian adalah
stadia dewasa.

Stratigrafi
1. Stratigrafi Regional
Stratigrafi penyusun Zona Kendeng merupakan endapan laut dalam di bagian bawah yang
semakin ke atas berubah menjadi endapan laut dangkal dan akhirnya menjadi endapan non laut.
Stratigrafi Zona Kendeng terdiri atas 4 Formasi batuan yaitu: Formasi Kerek, Formasi Kalibeng,
Formasi Notopuro, Endapan Undak Bengawan Solo.

2. Stratigrafi Daerah Penelitian


Mengacu dari hasil observasi di lapangan analisis laboratorium maka penelitian mengambil
kesimpulan dengan membagi litologi di daerah penelitian menjadi 6 satuan batuan dan endapan
alluvial. Berikut ini diurutkan dari yang paling tua ke yang paling muda yaitu: Batupasir karbonatan
Kerek, Napal Kalibeng, Batugamping Kapung, Breksi andesit, dan endapan alluvial.
9

a. Satuan Batupasir Karbonatan Kerek


Satuan batuan Batupasir Karbonatan Kerek secara garis besar tersusun oleh batupasir
karbonatan, sisipan batulanau karbonatan, dan napal pada bagian atasBatupasir karbonatan
berwarna abu-abu cerah hingga kecoklatan, struktur masif, berlapis, ukuran butir pasir halus kasar,
bentuk butir membulat tanggung (subrounded), sortasi terpilah sedang-baik kemas tertutup dan
matriks pasir, semen karbonat. Calcareous Feldsphatic wacke (Gilbert, dalam Williams
et al. 1954) Satuan ini memiliki luas daerah penyebaran sekitar 17 % dari total luas daerah
penelitian. Menempati bagian baratdaya dan timurlaut dari lokasi penelitian yakni pada daerah
Pugel dan daerah Jurug. Berdasarkan pengukuran pada penampang geologi C-D didapatkan tebal
dari satuan batupasir karbonatan ini mencapai lebih kurang 325 m. Satuan Batupasir Karbonatan
ini diendapkan pada kisaran umur N14 - N17 (zonasi Blow, 1969) atau setara dengan Miosen
TengahMiosen Akhir

Gambar 7. Satuan batupasir karbonatan berupa batupasir karbonatan. Foto diambil di LP 112 didaerah Kuto dengan
kamera menghadap timur
(Foto: Penyusun, 2017)

b. Napal Kalibeng
Satuan ini terdiri atas napal sisipan batupasir pada bagian bawah, dan perselingan napal dengan
batugamping (kalkarenit) pada bagian atas. Napal kaya akan Foraminifera kecil berwarna abu-abu
kehijauan, struktur masif, ukuran butir lempung, bentuk butir membulat (rounded), sortasi terpilah
baik dan kemas tertutup, matriks lempung, semen karbonat. Berdasarkan pengamatan petrografi
diketahui nama batuan yaitu Marl (Gilbert, dalam Williams et al. 1954)
Satuan napal Kalibeng ini menempati 29.05 % dari seluruh luas daerah penelitian. Dalam peta
geologi ditandai dengan warna hijau kekuningan. Terhampar pada bagian tengah daerah penelitian,
pada daerah Dimoro. Cekel sampai Wonosido. Berdasarkan analisis penampang geologi A-B pada
peta geologi maka didapatkan ketebalan lebih kurang 500 m satuan ini diendapkan pada kisaran
umur N18 - N20 (zonasi Blow, 1969) atau setara dengan Miosen AtasPliosen Akhir dari fosil
Foraminifera benthonik yang teridentifikasi tersebut diketahui bahwa satuan napal Kalibeng
diendapkan pada lingkungan Bathial Atas hingga Neritik Luar.
10

Gambar 8. Singkapan satuan napal Kalibeng di lokasi penelitian. Foto diambil di daerah Cekel pada LP 43 dengan
kamera menghadap utara
(Foto: Penyusun, 2017)

c. Satuan batugamping Kapung


Batugamping berwarna putih kecoklatan struktur masif berfosil, tekstur
amorf, komposisi banyak mengandung fragmen molluska dengan semen
karbonat, berdasarkan pengamatan petrografi diketahui nama batuan yaitu
Boundstone (Dunham, 1962). Satuan ini memiliki penyebaran yang sempit yaitu sekitar 2.4%
dari luas daerah penelitian. Yaitu pada bagian utara dan tengah, tepatnya pada daerah Brumbung
dan Suru, pada peta geologi dijeaskan dengan warna biru
Satuan ini memiliki ketebalan diduga mencapai lebih kurang 100 meter
(Pringoprawiro,1983). bahwa satuan ini diendapkan pada kisaran umur N.19 - N.20 (Blow, 1969)
atau setara dengan Pliosen Awal Pliosen Akhir. Dari fosil Foraminifera benthonik yang
teridentifikasi tersebut diketahui bahwa satuan batugamping Kapung diendapkan pada lingkungan
bathial atas hingga neritik luar.
11

Gambar 9. Satuan batugamping terdapat pada Dusun Krakalan LP 110 dengan kamera menghadap utara (Penyusun,
2017)

d. Satuan breksi andesit Notopuro


Breksi andesit berwarna abu-abu kecoklatan, struktur masif dan cross bedding, ukuran butir
pasir halus-krakal, bentuk butir menyudut-menyudut tanggung, sortasi buruk dengan kemas terbuka
komposisi: fragmen andesit berwarna abu-abu, masif, porfiroafanitik, hipokristalin, inequigranular,
subhedral-anhedral, komposisi plagioklas dan piroksin berdasarkan pengamatan petrografi fragmen
breksi ini diketahui namanya yaitu Andesite (William, 1954)
Satuan batuan ini tersingkap pada daerah sebelah timur daerah penelitian dengan luas 1,6%
dari keseluruhan luas daerah penelitian yakni tersebar pada daerah Sobo dan Pulorejo, pada peta
geologi dijelaskan dengan warna coklat. Ketebalan satuan ini pada daerah penelitian belum
diketahui dengan pasti karena hubungan stratigrafinya yang tidak selaras dan menumpang di atas
satuan napal Kalibeng. Namun, berdasarkan singkapan dan kontak antar batuan yang dijumpai
dilapangan satuan ini memiliki ketebalan diduga tidak lebih dari 25 meter. Dalam menentukan umur
satuan batuan ini penyusun mengacu pada peneliti terdahulu. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Pringoprawiro (1983), satuan batuan breksi andesit Notopuro memiliki umur
Pleistosen.

Gambar 10. Singkapan Satuan breksi andesit berupa batupasir pada bagian bawah dan breksi andesit diatasnya terdapat
pada LP.109 di Dusun Suru (Penyusun, 2017)

e. Endapan Campuran
Endapan ini terdiri atau tersusun dari material lepas yang belum mengalami litifiksi.
Material ini merupakan hasil dari rombakan batuan yang lebih tua di sekitarnya, memiliki ukuran
yang beragam, mulai dari lempung sampai brangkal. Satuan ini terdapat di daerah-daerah yang
memiliki morfologi landai dan rendah, terbawa melalui sungai-sungai dan angin yang menjadi agen
geologi. Berdasarkan pengamatan di lapangan satuan ini memiliki ketebalan 1 - 3 meter.
Penyebaran satuan ini mencapai sekitar 58 % dari luas total daerah penelitian yakni pada tengah
daerah penelitian hingga utara daerah penelitian yaitu Lajer dan disepanjang daerah selatan Jetis.
12

Daerah dengan satuan endapan campuran sebagian besar dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar
sebagai lahan pertanian.

Gambar 11. Salah satu singkapan endapan alluvial di tebing sungai dengan berbagai ukuran butir dan berbagai macam
fragmen batuan LP 25 (Penyusun, 2017)

Berdasarkan korelasi stratigrafi daerah penelitian dengan stratigrafi regional zona Kendeng
menurut Pringoprawiro (1983) dan sukardi dan Budhitrisna (1992). Dapat diketahui bahwa satuan
batupasir karbonatan Kerek setara dengan Formasi Kerek, satuan napal Kalibeng setara dengan
Formasi Kalibeng, dan Satuan batugamping Kapung setara dengan Foramasi Kalibeng anggota
Kapung. Sedangkan untuk satuan breksi andesit Notopuro dikarenakan tidak dijumpainya
kandungan fosil sehingga tidak dapat dilakukan analisis umur relatif, penyusun melakukan
kesebandingan sehingga satuan breksi andesit Notopuro sebanding dengan Formasi Notopuro.

Struktur Geologi
1. Struktur Geologi Regional
Deformasi pertama pada Zona Kendeng terjadi pada akhir Pliosen (Plio Plistosen),
deformasi merupakan manifestasi dari zona konvergen pada konsep tektonik lempeng yang
diakibatkan oleh gaya kompresi berarah relatif Utara Selatan dengan tipe formasi berupa ductile
yang pada fase terakhirnya berubah menjadi deformasi brittle berupa pergeseran blok blok dasar
cekungan Zona Kendeng. Intensitas gaya kompresi semakin besar ke arah bagian Barat Zona
Kendeng yang menyebabkan banyak dijumpai lipatan dan sesar naik dimana banyak zona sesar naik
juga merupakan kontak antara formasi atau anggota formasi.

2. Struktur Geologi Daerah Penelitian


Penelitian dan pembahasan struktur geologi di daerah penelitian lebih menekankan pada
struktur sekunder (kekar, sesar dan lipatan) yang terbentuk selama atau setelah proses pembentukan
akibat gaya endogen yang bekerja. Dalam memecahkan masalah-masalah tentang bentuk, posisi,
arah gaya yang bekerja dan arah pergerakannya, penyusun menggunakan metode geometri
proyeksi, khususnya metode proyeksi stereografis (stereonet) dan menggunakan software Dips.
Untuk pembahasan nama struktur, digunakan nama-nama daerah yang dilewati struktur tersebut.
A. Struktur sesar
Sesar adalah suatu rekahan/kekar yang telah mengalami pergeseran (dari salah satu muka yg
berhadapan) arahnya paralel dengan zona permukaan (Twiss dan Moores, 1992).

a. Sesar naik Jurug


Sesar ini berada di bagian timurlaut daerah penelitian, dengan geometri memanjang relatif
barat timur. Dari kenampakan topografi dicirikan berupa kelurusan lembah yang memanjang
13

relatif berarah Barat Timur. sehingga membentuk morfologi relatif terjal pada bagian utara. Sesar
ini berkembang pada litologi perselingan batupasir karbonatan dan napal dan menjadi kontak antara
satuan batupasir karbonatan Kerek dengan napal Kalibeng. Indikasi sesar yang paling menonojol
yaitu adanya batuan yang berumur lebih tua menumpang di atas batuan yang berumur lebih muda
atau batuan yang lebih tua terletak pada elevasi yang lebih tinggi.Kelurusan morfologi yang
diindikasikan sebagai zona sesar selain itu indikasi lain yang dijumpai berupa lapisan tegak pada
dan dari hasil analisis diketahui jenis sesar ini merupakan sesar naik dan merupakan perkembangan
dari lipatan antiklin yang batuanya telah melampaui batas plastisitasnya.

Gambar 12. Kelurusan Morfologi yang merupakan morfologi terbentuk karena bidang sesar naik Jurug gawir sesar.
Foto diambil di LP 159 (Penyusun, 2017)

b. Sesar naik Citran


Sesar ini berada di bagian timurlaut daerah penelitian, dengan geometri memanjang relatif
Baratdaya Timurlaut. Dari kenampakan topografi dicirikan berupa kelurusan lembah yang
memanjang relatif berarah Baratdaya Timurlaut. sehingga membentuk morfologi relatif terjal pada
bagian utara. Sesar ini berkembang pada litologi batupasir karbonatan dan napal dan menjadi
kontak antara satuan batupasir karbonatan Kerek dengan napal Kalibeng. Indikasi sesar yang paling
menonojol yaitu adanya batuan yang berumur lebih tua menumpang di atas batuan yang berumur
lebih muda atau terletak pada elevasi yang lebih tinggi serta banyak dijumpai air terjun dengan
ketinggian lebih kurang 10 meter. Indikasi lain yang dijumpai bidang sesar dan gores-garis pada
LP.145 dan dari hasil analisis diketahui arah bidang sesar yaitu N52 0E/810, rake 820 sehingga
diketahui jenis sesar yaitu Reverse slip fault (Rickard, 1972) (Gambar 4.5), dan merupakan
perkembangan dari lipatan antiklin yang batuanya telah melampaui batas plastisitasnya.
14

Gambar 13. Sigkapan bidang sesar naik citran pada LP.145 dan hasil analisis streografis (Penyusun, 2017)

c. Sesar naik Keceme


Sesar naik Keceme berdasarkan pengamatan di lapangan dijumpai indikasi berupa zona hancuran
(fault zone), offset litologi, Drag fold, Sesar ini berada di bagian tengah daerah penelitian lebih
tepatnya berada di Desa Karangsono. Dengan geometri sesar memanjang baratlaut-tenggara
membentuk suatu kelurusan morfologi, sesar ini memotong satuan napal Kalibeng. Pengaruh dari
sesar naik ini menyebabkan perubahan kedudukan lapisan menjadi tegak hingga miring ke utara.
Unsur unsur struktur yang dijumpai diantaranya bidang sesar dan gores garis pada zona sesar
(fault zone) pada LP.25. Dari hasil pengukuran dan analisis streografis diperoleh kedudukan bidang
sesar LP.55 N105E/74, dan rake 89 dengan nama sesar yait)u reverse slip fault (Rickard, 1972).

Gambar 14. Singkapan sesar naik Keceme berupa fault zone pada LP.25 beserta hasil analisis streografis (Penyusun,
2017).
d. Sesar mendatar Kuto
Sesar ini berada di bagian Timurlaut daerah penelitian, dengan geometri memanjang relatif
Baratdaya Timurlaut. Dari kenampakan topografi dicirikan berupa kelurusan morfologi berupa
lembah yang memanjang relatif berarah Baratdaya Timurlaut. Sesar ini diidentifikasi berdasarkan
kenampakan offset morfologi menunjukan offset mengiri, serta offset satuan batuan yang
15

menunjukan sesar mendatar kiri (Gambar 4.7). Sesar ini berkembang pada litologi batupasir
karbonatan, batulempung karbonatan, hingga napal.

Gambar 15. Identifikasi sesar mendatar kiri Kuto berupa offset morfologi, offset satuan batuan dan kelurusan morfologi
(Penyusun, 2017)

e. Sesar mendatar kanan Trawuli (diperkirakan)


Dasar dari diperkirakan adanya sesar mendatar kanan ini yakni adanya offset satuan batuan
batupasir karbonatan Kerek terhadap satuan napal Kalibeng, dilihat dari jurus dan kemiringn
batuaan satuan batupasir karbonatan Kerek menunjukan ketidak selarasan yang dimana secara
stratigrafi kedua satuan hubunganya selaras, jerus dan kemiringan batuan demikian diperkirakan
terbentuk akibat adanya sesar mendatar kanan yang bekerja (Gambar 4.8). Sesar ini diduga juga
berperan dalam terbenuknya lembah yang berkembang menjadi sungai Serang.
16

Gambar 16. Indikasi adanya sesar mendatar kanan Trawuli (Penyusun, 2017)

Struktur lipatan
Lipatan adalah hasil perubahan bentuk atau volume dari suatu bahan yang ditunjukkan
sebagai lengkungan atau kumpulan lengkungan pada unsur garis atau bidang dalam bahan tersebut.
Unsur bidang yang disertakan umumnya bidang perlapisan (Hansen, 1971, dalam Ragan, 1973).
Identifikasi lipatan pada daerah penelitian dengan dijumpainya lipatan mayor pada daerah
penelitian teridentifikasi dari jerus dan kemiringan lapisan batuan dalam satu satuan batuan yang
berlawanan dipnya. Daerah penelitian notabennya adalah daerah kompleks lipatan. Hal ini
ditunjukan dengan adanya lipatan mayor diantaranya adalah antiklin Cekel

Sejarah Geologi
Berdasarkan data lapangan dan hasil analisis laboratorium serta interpretasi, dapat ditarik
suatu kesimpulan geologi yang menggambarkan runtutan sejarah dalam kerangka ruang dan waktu.
Sejarah geologi pada daerah penelitian dimulai dari kala Oligosen Akhir. Dimana Pada kala Miosen
Tengah Miosen Akhir (N.14-N.17), diendapkan satuan batupasir karbonatan Kerek diendapkan
pada lingkungan bathial bawah - bathial atas. Pada kala Miosen Akhir Pliosen Akhir (N.18-N.20)
diendapkan satuan Napal Kalibeng pada lingkungan batial atas hingga neritik luar dan pada kala
Pliosen Awal Pliosen Akhir diendapkan batugamping Kapung pada lingkungan batial atas hingga
neritik luar.
Pada kala Plistosen Awal daerah telitian berubah menjadi lingkungan darat dikarenakan
proses regresi yang terus menerus akibat aktifitas pengangkatan regional. Fase deformasi rezim
kompresi terus bekerja sehingga membentuk jalur lipatan-anjakan yang berarah barat-timur dan
tear fault yang berarah timurlaut-baratdaya. Dampak lain dari rezim kompresi ini yaitu aktifnya
jalur magmatisme zaman Kuarter yang menjadi material penyusun satuan breksi Notopuro yang
diendapkan pada lingkungan darat hingga fluvial (Gambar 16). Selanjutnya pada kala Holosen
proses pelapukan dan erosi masih terus berlanjut hingga sekarang dan membentuk bentang alam
yang ada saat ini, sedangkan material hasil erosinya terendapkan sebagai endapan campuran.

Gambar 18. Model sejarah geologi daerah penelitian (Penyusun, 2017)


Geologi Lingkungan
1. Sesumber
Pada dasarnya sesumber adalah segala sesuatu yang terdapat di alam yang
dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya,
termasuk yang telah digunakan pada masa kini maupun untuk masa yang akan
datang. Dalam bahasa lain sesumber diartikan sebagai sumberdaya alam, secara
khusus dalam bab ini yang dimaksudkan adalah sumberdaya geologi. Dalam
pembahasan geologi lingkungan sesumber geologi yang ada di daerah penelitian
berupa sumber daya air, lahan dan lain-lain.

a. Air
Air sebagai salah satu sumber kebutuhan primer dari kehidupan manusia.
Sumber air dapat berasal dari berbagai sumber, salah satunya adalah sungai dan
sumur. Pada daerah penelitian dialiri oleh sungai besar atau sungai utama dan
sungai-sungai kecil atau anak sungai. Adapun sungai-sungai utama yang dapat
digolongkan sebagai sungai periodic atau sungai yang pada waktu musim hujan
airnya banyak, sedangkan pada musim kemarau airnya sedikit adalah sebagai
berikut Kali Serang dan Kali Welahan. Anak-anak sungai dari sungai tersebut
lebih bersifat intermittent atau sungai yang dialiri air hanya pada musim hujan
saja, bahkan terdapat beberapa sungai yang merupaan sungai ephemeral atau
sungai yang dialiri air hanya pa da saat hujan saja. Air dari sungai ini tidak
dimanfaatkan oleh warga sebagai air minum dikarenakan kondisi air yang keruh.
Warga sekitar memanfaatkan air di sungai sebagai pengairan sawah dan
perkebunan warga selain itu juga untuk sektor pertenakan.

Gambar 19. Air sungai sebagai sumber daya air di Sidorejo. Kamera menghadap barat laut LP 86
(Penyusun, 2017)

b. Bahan galian
Bahan galian yang terdapat di daerah penelitian adalah bahangalian non
logam berupa Endapan Aluvial dan Napal. Bahan galian ini dimanfaatkan oleh
warga sebagai bahan bangunan, terutama untuk bangunan rumah dan campuran
bahan material pembuatan jalan beton.

Gambar 20. Bahan galian non yaitu logam Napal dan tanah uruk LP 163 (Penyusun, 2017)

c. Lahan
Endapan alluvial juga merupakan aspek penting sebagai sumberdaya alam
atau khususnya sebagai semberdaya geologi. Endapan alluvial pada daerah
penelitian dimanfaatkan oleh warga sebagai lahan pertanian (sawah) maupun
perkebunan (Jagung, kacang hijau, kedelai dan lain-lain). Selain sebagai lahan
pertanian maupun perkebunan, di daerah yang cukup strategis juga di manfaatkan
oleh warga sebagai lahan pemukiman.

Gambar 21. Potensi tanah dan lahan sebagai lahan pertanian. LP 65 (Penyusun, 2017)

2. Bencana Alam
Bencana alam adalah suatu proses yang dapat menimbulkan kerugian bagi
makhluk hidup. Disebut bencana karena adanya aktivitas geologi yang memberi
dampak negatif bagi kehidupan manusia, baik langsung maupun tidak langsung.
Bencana alam atau bencana geologi adalah suatu gejala yang berhubungan dengan
proses geologi yang menimbulkan kerugian secara materi bahkan yang
menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
Dari hasil observasi di lapangan, peneliti menemukan beberapa potensi
bencana geologi. Daerah penelitian diantaranya memiliki potensi bencana geologi
berupa banjir dan kekeringan. Bencana banjir dikarenakan oleh litologi penyusun
daerah tersebut yang merupakan dominan batuan sedimen berbutir halus seperi
napal, batupasir karbonatan, dan batulempung karbonatan. Hal ini menyebabkan
air pada tubuh sungai yang memenuhi tubuh sungai pada saat hujan tidak dapat
terinfiltrasi dengan cepat sehingga terjadi limpahan ke daerah sekitaran sungai.

Gambar 22. Banjir akibat meluapnya Kali Klapisan mengakibatkan tergenangnya lahan
perkebunan warga yang berada di bantaran sungai pada musim penghujan. Foto
diambil dari LP.1 (Penyusun, 2017).

Bencana geologi lainnya adalah bencana kekeringan. Bencana ini


merupakan bencana yang disebabkan oleh faktor alami, tanpa adanya campur
tangan manusia. Ada tiga hal yang menyebabkan terjadinya bencana kekeringan
pada daerah penelitian yaitu daerah penelitian dipengaruhi oleh keadaan dan
pergantian musim, ketinggian didaerah penelitian belum mencukupi untuk
terbentuknya kondisi dimana awan mengalami titik jenuh dan kondensasi
sepanjang musim dan susunan litologi dari penyusun daerah penelitian yang
didominasi oleh materian berbutir halus, sehingga proses infiltrasi yang kurang
baik yang menyebabkan kurangnya jumlah air tanah pada akuifer.
Selain itu bencana kekeringan saat musim kemarau sebagian sungai-
sungai pada daerah penelitian mengalami kekeringan serta mengakibatkan lahan-
lahan pertanian kering akibat kurangnya pasokan air (Gambar 6.5). selain
mengakibatkan lahan kering kemarau juga mengakibatkan masyarakat
kekurangan air untuk kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat yang mengandalkan
air sungai.
Gambar 23. Lahan warga yang mengalami kekeringan akibat kekurangan air pada daerah
Welahan Foto diambil dari LP.30 (Penyusun, 2017)

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian di lapangan serta analisis
laboratorium, maka dapat disimpulkan mengenai kondisi geologi daerah Daerah
Lajer dan Sekitarnya Kecamatan Panawangan, Kabupaten Grobogan Propinsi
Jawa Tengah sebagai berikut:
1 Geomorfologi daerah penelitian terdiri atas 5 subsatuan geomorfik, yaitu:
subsatuan geomorfik perbukitan homoklin (S9), dan subsatuan geomorfik
perbukitan lipatan Antiklin (S5), subsatuan geomorfik perbukitan
denudasional (D1), subsatuan geomorfik dataran alluvial (F1), dan subsatuan
geomorfik tubuh air (F2). Pola aliran daerah penelitian yaitu trellis. Stadia
sungai di daerah penelitian adalah berstadia dewasa. Begitupula dengan stadia
daerah penelitian adalah berstadia dewasa erosi tingkat lanjut.
2 Stratigrafi daerah penelitian terdiri atas 6 satuan batuan dan endapan
campuran. Urutan satuan batuan dari yang tua ke muda berurutan yaitu:
satuan batupasir karbonatan Kerek berumur N14 N17 (Miosen Tengah
Miosen Akhir) diendapkan pada lingkungan bathial bawah hingga bathial atas
dengan ketebalan 325 meter, satuan napal Kalibeng berumur N18 N20
(Miosen Akhir Pliosen Awal) diendapkan pada lingkungan bathial atas
hingga neritik luar dengan ketebalan 500 meter, satuan batugamping Kapung
berumur N19 N20 (Pliosen Awal-Pliosen Akhir) diendapkan pada
lingkungan bathial atas hingga neritik luar dengan ketebalan 100 meter,
satuan breksi andesit Notopuro berumur Pleistosen diendapkan pada
lingkungan darat berupa fluvial deposit dengan ketebalan tidak lebih dari 25
meter, dan endapan alluvial.
3 Struktur geologi daerah penelitian meliputi struktur sesar naik Jurug, sesar
naik Keceme, sesar naik Citran sesar mendatar kiri Nampu, sesar mendatar
kiri Kuto, sesar mendatar kanan Trawuli, Lipatan Antiklin Cekel. Struktur
geologi daerah penelitian dikontrol oleh gaya utama berarah relatif baratdaya-
timurlaut, akibat tatanan tektonik pulau Jawa berada pada tipe tektonik
konvergen berupa subduksi antara lempeng Eurasia dan Australia, sehingga
menghasilkan rezim kompresi.
4 Sesumber pada daerah penelitian berupa, sumberdaya air dalam bentuk air
permukaan (air sungai, waduk) yang dimanfaatkan sebagai kebutuhan sehari-
hari pembangkit listrik dan pertanian, sumberdaya lahan dimanfaatkan
sebagai lahan perkebunan, persawahan, potensi bahan galian golongan C.
Bencana alam di daerah penelitian banjir pada musim hujan dan kekeringan
pada musim kemarau.

Daftar Pustaka
Asikin, S. 1974. Evolusi Geologi Jawa Tengah dan Sekitarnya Ditinjau dari Segi
Teori Tektonik Dunia yang Baru, Disertasi Doktor, Departemen
Teknik Geologi ITB
Bakosurtanal. 2000. Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar Juwangi 1408-641,
Bogor
Bandy, O.I. 1967. Foraminiferal Indices in Paleontology, Texas W. H.
Freemanand Company
Barker, R.,W. 1960. Taxonomic Notes. Society of Economic
Paleontologists and
Mineralogists, Special Publication no. 9, U.S.A
Blow, W. H. 1969. Late Middle Eocene to Recent Planktonic Foraminifera
Biostratigraphy, Leideen Nederland, E. J, Vol 1, Geneva
Boggs, S. 2006. Principles of Sedimentary and Stratigraphy, 4th Ed, Prentice Hall,
New Jersey
Boyer, S.E. dan Elliott, D. 1982. Thrust System, The American Association of
Petroleum Geologist Bulletin v.66 no.9 h.1196-1230.
De Genevraye., P, dan Samuel, L. 1972. Geology of the Kendeng Zone (Central
and East Java), Indonesian Petroleum Association
Dunham, R. J. 1962. Classification of Carbonate Rock According to
DepositionalTexture, In Han, W. E. (ed) 1962, Classification of Carbonate
Rock, AAPG, Bulletin, v.65, h
Fossen, H. 2010. Structural geology, Cambridge University Press, New York
Howard, A.D. 1967. Drainage Analysis in Geologic Interpretation, AAPG Bulletn,
vol.51
Krumbein, W.C., dan Sloss, L. 1963. Stratigrafi and Sedimentation, Chapter 4, 2nd
Ed, W.H. Freeman and co., San Fransisco and London
Lobeck, A.K.1939. Geomorphology, An Introduction to the Study of Landscape,
Mcgraw-Hill Book Company Inc., New York
Mark, P. 1957. Stratigraphic Lexicon of Indonesia Republik Indonesia
Kementrian Perekonomian Pusat Dajawatan Geologi Bandung. Publikasi
Keilmuan No. 31. Seri Geologi
Marshak, S. dan Mitra, G. 1988. Basic Methods of Structural Geology, New
Jersey
:Prentice Hall
McClay, K.R.1987. The Mapping of Geological Structures, London : John Wiley
& Sons
Postuma, J.A. 1971. Manual of Planktonic Foraminifera, Royal Dutch/Shell
Group, The Hague, The Netherlands
Pringgoprawiro, H. 1983. Biostratigrafi dan Paleogeografi Cekungan Jawa
Timur : Suatu Pendekatan Baru, Thesis Doktor, ITB, Bandung
Ragan. D.M. 1973. Structural Geology An Introduction to Geometrical
Techniques, Second Edition. John Willey & Sons. Inc, New York.
Rickard, M. J. 1971. A Classification Diagram for Fold Orientations. Geological
Magazine, 108(1), pp. 23-26
Rickard, M.J. 1972. Fault Classification-discussion: Geological Society of
America Bulletin, v.83
Pulunggono, dan S. Martodjojo. 1994. Perubahan Tektonik PaleogeneNeogene
Merupakan Peristiwa Tektonik Terpenting di Jawa. Proceedings Geologi
dan Geotektonik Pulau Jawa. Hal 37-50
Sukardi dan Budhitrisna, T. 1992. Peta Geologi Lembar Salatiga, Jawa, skala
1:100.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung,
Indonesia
Sribudiyani, 2003, The collision of the East Java Microplate and its Implication
for
Hydrocarbon Occures in The East Java Basin. Proceeding Indonesia
Petroleum Association, Twenty Ninth Annual Convertion & Exibition
Thornbury, W.D. 1969. Principles of Geomorphology. John Wiley & Sons,
New York
Twiss, R. J. dan Moores, E. M., 1992, Structural Geology, W. H Freeman and
Company, New York
Verstappen, H. Th. 1983. Applied Geomorphology: Geomorphological Surveys
for Environmental Development. Elsevier Science Publishing Company
Inc: New York
Williams, H., Turner, F.J. dan Gilbert, C.M., 1954, Petrography, An Introduction
to The Study of Rock in Thin Sections, W.H. Freeman and Company,
New York
Van Zuidam, R. A. 1983. Guide to Geomorfhology Ariel Photographic
Interpretation and Mapping, ITC Enschede The Nederland
Van Bemmelen, R.W. 1949. The Geology of Indonesia, Vol. I.A, General Geology,
Martinus Nijhoff, The Haque, Holand.