Anda di halaman 1dari 4

X.

Pembahasan
Emulsi adalah sistem dispersi kasar yang secara termodinamika tidak
stabil, selektif dari minimal dua atau lebih cairan yang tidak bercampur satu sama
lain dimana cairan yang satu terdispersi didalam cairan yang lain dan untuk
menyatukan diperlukan emulgator (Voight, 1995).
Oleum ricini merupakan minyak lemak yang diperoleh dari pemerasan
dingin biji tumbuhan ricinus communis yang telah dikupas hingga diperoleh cairan
jernih, kuning pucat atau hampir tidak bewarna, bau lemah, rasa manis kemudian
agak pedas, umumnya memualkan. Oleum ricini laut dalam etanol mutlak P, dan
asam asetat glasial, dan bercampur dengan kloroform. Karen oleum ricini sulit
untuk dilarutkan dalam air, maka sediaan dibuat sebagai emulsi. Penggunaan
oleum ricini ditujukan untuk pemakaian oral sebagai laksativum (pencahar),
dimana mekanisme kerja saat terjadi hidrolisis didalam usus halus sehingga
trigliserida dari asam risinoleat yang terkandung dalam oleum ricini menjadi
gliserin dan asam risinoleat oleh enzim lipase pankreas yang selanjutnya akan
menstimulasi peristaltik usus sehingga terjadi diare maka tipe emulsi yang
digunakan adalah tipe M/O agar mudah dicerna dengan bantuan pembawa air.
Sediaan emulsi yang dibuat mengandung oleum ricini sebanyak 5,55 ml
karena dosis yang digunakan pada sediaan oleum ricini yaitu 37 % dari jumlah
sediaan yang dibuat sebagai laksativum (Ansel, 2008). Sedangkan untuk aturan
pakai, karena efek samping dari pemberian minyak jarak secara oral, terutama
dalam dosis besar menyebabkan mual, muntah, kolik & tidak boleh diberikan pada
pasien obstruksi usus. Benih dari oleum ricini dapat mengandung protein beracun
(risin). Dapat menyebabkan alergi (Sweetman, 2009). Oleum ricini digunakan
pada anak anak sebanyak 15 ml yang diminum satu kali sehari dan pada orang
dewasa sebanyak 15 ml yang diminum dua kali sehari.
Digunakan metil selulosa sebagai emulgator karena metil selulosa sering
digunakan sebagai agen pengemulsi serta pada konsentrasi rendah sudah dapat
menstabilkan emulsi (HPE,438). Emulgator adalah zat yang digunakan untuk
menurunkan tegangan antar muka dua fase cairan yang tidak saling bercampur
dengan cara membentuk lapisan monolayer pada permukaan globul minyak.
Natrium benzoat digunakan sebagai pengawet, karena sediaan emulsi mudah
ditumbuhi mikroba. Emulsi tersebut menggunakan emulgator alam yaitu metil
selulosa (HPE,438) sehingga dapat diatasi dengan penambahan pengawet
(HPE,627). Aquades digunakan sebagai pembawa dimana emulsi dibuat dalam
tipe minyak dalam air untuk menutupi rasa yang tidak enak. Gliserin digunakan
sebagai pemanis, dimana minyak akan memberikan rasa khas yang dapat
memualkan (FI III, 1995). Gliserin juga dapat mencegah caplocking pada
konsentrasi 20 %. Caplocking adalah pembentukan Kristal yang terjadi pada
mulut wadah sediaan emulsi.
Pada pembuatan emulsi, ditimbang metil selulosa 2,53 g dan natrium
benzoat 0,28 g, lalu diambil oleum ricini 19,9 ml, gliserin 6,3 ml dan aquadest
31.82 ml. Dimasukkan aquadest dingin kedalam mortir ditambahkan metil selulosa
sedikit demi sedikit lalu gerus hingga homogen, ditambahkan oleum ricini sambil
digerus hingga homogen. Setelah itu ditambahkan natrium benzoat sedikit demi
sedikit lalu gerus hingga homogen. Selanjutnya ditambahkan gliserin sebanyak 6,3
ml, gerus hingga homogen. Emulsi yang sdh jadi kemudian dimasukkan kedalam
boto coklat yang telah ditarer. Botol coklat kemudian di beri etiket dan
dimasukkan kedalam wadah sekunder yang telah dilengkapi dengan brosur.
Setelah tahap pembuatan sediaaan, dilanjutkan ke tahap evaluasi. Dalam
evaluasi ini dilakukan uji organoleptis, uji pH, uji volume terpindahkan. Uji
organoleptis bertujuan untuk mengetahui stabilitas fisik dari sediaan berupa
keutuhan fisik seperti bau, warna dan rasa. Hasil yang diperoleh, sediaan Castri
Oil berasa manis, berbau minyak, dan berwarna putih. Untuk pengamatan pH
digunakan alat pH meter dimana pertama-tama pH meter dikalibrasi dengan
mencelupkan probe ke dalam aquades hingga layar menunjukkan pH 7,15 (netral),
tujuan pengkalibrasian adalah untuk mendapatkan hasil pengukuran yang tepat.
Setelah dikalibrasi, probe dicelupkan kedalam sediaan oleum ricini untuk
mengetahui pH sediaan oleum ricini. Hasil yang diperoleh yaitu 6,5. Adapun uji
volume terpindahkan dilakukan dengan menuangkan sediaan kedalam gelas ukur
untuk menjamin bahwa emulsi yang dikemas dengan volume yang tertera di etiket
tidak lebih dari 60 ml, jika dipindahkan dari wadah asli akan memberikan volume
sediaan seperti tertera di etiket. Hasil yang diperoleh yaitu 81%.
Hal tersebut tidak sesuai dengan literatur Rahmawati (2011) yang
menyatakan bahwa pada uji volume terpindahkan sediaan emulsi dan suspensi dari
wadah tidak kurang dari 100%, berdasarkan volume yang tertera pada etiket. Pada
uji pH, menurut literatur Purwatiningrum, (2005), untuk sediaan minyak jarak
emulsi memiliki pH antara 6,4 sampai dari 6,7 sehingga pH yang diperoleh telah
sesuai dengan literatur.