Anda di halaman 1dari 36

Gambaran Eritrosit Abnormal

Posted on Desember 24, 2009 by drdjebrut

Disini akan sedikit kita bahas beberapa gambaran abnormal dari sel darah merah atau eritrosit
yang bisa kita temukan pada saat pemeriksaan hapusan darah.

Hipochrome

Gambaran sel darah merah yang hipokrom dapat ditemukan pada anemia kurang besi
(defisiensi fe), sickle cells anemia, thalassemia, atau anemia karena penyakit kronis. Selain
dari hapusan, dapat juga kita lihat dari hasil pemeriksaan darah MCH < 26 pg dan MCHC < <
32%
Makrositik

Gambaran makrositik berarti volume eritrosit lebih besar dari normal. Dapat ditemukan pada
penyakit anemia megaloblastik karena kurang vit.B12 atau asam folat, anemia setelah
perdarahan akut, atau anemia karena penyakit hati kronik. Dari data pemeriksaan darah
ditemukan MCV > 94 fl

Target Cell

Gambaran ini dinamakan sel target karena bentukannya mirip dengan sasaran tembak. Dapat
ditemukan pada Thalassemia disertai gambaran aniso-poikilositosis, polikromasi, hipokrom-
mikrositik, dan bintik basofil.
Bintik basofil

Poikilositosis

Seperti telah dibahas di atas, dua gambaran ini bisa ditemukan di thalassemia. Selain itu,
bintik basofil dapat ditemukan pada anemia sideroblastik dan keracunan timbal. Sedangkan
poikilositosis merupakan kondisi kelainan bentuk baik sebagian bentuk dari eritrosit normal
atau bentuk yang benar-benar berbeda. Kondisi ini bisa ditemukan pada berbagai kelainan
karena tidak spesifik, seperti pada thalassemia, anemia karena defisiensi vitamin B12 atau
asam folat, atau bisa juga pada coeliac disease.
Gametosit

Ring Form

Kedua gambaran ini dapat ditemukan pada pasien malaria. Prosedur pemeriksaannya dengan
tetes tebal dan tetes tipis. Pada pemeriksaan ini dapat juga ditemukan skizon dan eritrosit
yang telah pecah karena hemolisis.

Gambaran yang lain :


Aglutinasi

Akantosit

Sel Sabit
Sferosit

Howell Joly Bodies

Kelaina Bentuk Eritrosit (Red Blood Cell)


Kategori : Hematologi
Sekilas tentang Eritrosit :
Kepingan eritrosit manusia memiliki diameter sekitar 6-8 m dan ketebalan 2 m, lebih kecil
daripada sel-sel lainnya yang terdapat pada tubuh manusia. Eritrosit normal memiliki volume
sekitar 9 fL (9 femtoliter) Sekitar sepertiga dari volume diisi oleh hemoglobin, total dari 270
juta molekul hemoglobin, dimana setiap molekul membawa 4 gugus heme.
Orang dewasa memiliki 23 1013 eritrosit setiap waktu (wanita memiliki 4-5 juta eritrosit
per mikroliter darah dan pria memiliki 5-6 juta. Sedangkan orang yang tinggal di dataran
tinggi yang memiliki kadar oksigen yang rendah maka cenderung untuk memiliki sel darah
merah yang lebih banyak). Eritrosit terkandung di darah dalam jumlah yang tinggi
dibandingkan dengan partikel darah yang lain, seperti misalnya sel darah putih yang hanya
memiliki sekitar 4000-11000 sel darah putih dan platelet yang hanya memiliki 150000-
400000 di setiap mikroliter dalam darah manusia.
Pada manusia, hemoglobin dalam sel darah merah mempunyai peran untuk mengantarkan
lebih dari 98% oksigen ke seluruh tubuh, sedangkan sisanya terlarut dalam plasma darah.
Eritrosit dalam tubuh manusia menyimpan sekitar 2.5 gram besi, mewakili sekitar 65%
kandungan besi di dalam tubuh manusia.
Kelainan bentuk eritrosit karena Anemi :

Normosit :

o Ukuran 6-8 m
o Bentuk Bikonkaf
o Warna merah jambu
o Normal 4,0-5,5/4,5-6,0 juta/mm3
o Umur 120 hari

Retikulosit
o Ukuran 8-12 m
o Inti tidak ada
o Bergranula halus sisa RNA
o Pewarnaan Vital Staining (BCB)
o N = 0,5-1,5 per 1000 eritrosit

Mikrosit

o Diameter 6 m
o Normal 10%
o Biasanya pada Anemi Def Fe

Makrosit

o Diameter 9-12 m
o Normal 10%
o Biasanya pada Anemi Def Vit12/ Def asam folat

Basofilik Stipling
o Eritrosit dengan granula biru-hitam granula ini dari kondensasi atau presipitasi RNA
ribosom akibat dari defective hemoglobin syntesis

Hipokrom

o Eritrosit pucat di tengah > 1/3nya


o Normal 10%
o Kurangnya Hb
o Pada anemi def Fe

Eliptosit

o Eritrosit berbentuk oval (ovalosyt) atau lonjong (pensil cell/sel cerutu)


o Osmotic fragility meningkat
o Distribusi cholesterol dalam membrane akumulasi
o Cholesterol dipinggir
Lakrimasit

o Eritrosit berbentuk tetesan air


o Nama lain Tear Drop cell

Target Cell

o Eritrosit yang gelap di tengah


o Nama lain Target Cell (seperti sasaran)
o Normal 2%
o Akibat cytoplasmic aturation
o Defects and liver disease

Acantocyt

o Eritrosit dengan tonjolan sitoplasma yang runcing


o Tonjolan tidak teratur
o Akibat defisiensilow-dencity betha Lipoprotein

Burr Cell

o Eritrosit dengan tonjolan sitoplasma yang tumpul teratur


o Akibat dari passage through fibrin network

Crenated Cell

o Eritrosit dengan sitoplasma mengkerut


o Terjadi karena hipertronik larutan pada saat pengeringan apusan

Scistocyt

o Eritrosit dengan bentuk tak teratur


o Akibat proses fragmentasi
o Dikeluarkan ke dalam sirkulasi oleh RE sistem

Stomatocyt

o Eritrosit pucat memanjang di tengah


o Normal, 5%
o Akibat meningkatnya Sodium dalam sel dan menurunnya Potasium

Sferosit

o Eritrosit tanpa pucat di tengah


o Bentuk lebih kecil, tebal
o Akibat dari developmental defect

Cabot Ring
o Eritrosit mengandung cincin Cabot
o Pe yebab kegagalan eritopoiesis
o Terbentuk dari kumparan mitosis
o Artefak akibat kerusakan protein

Howell Jolly

o Eritrosit yang mengandung fragmen kromatin akibat pembelahan / mitosis abnormal pada
tahap orthochromic yang gagal membentuk inti

Leptosyt

o Eritrosit dengan pucat di tengah besar


o Diameter besar tapi volume sama
Papenheimer

o Eritrosit dengan granula besi (ferritin agregate)


o Disebut juga Siderosit
o Ditemukan pada anemi hemolitik, infeksi, Splenectomy

Sickle Cell

o Eritrosit yang memanjang dan melengkung dengan 2 katup uncing


o Nama lain : Drepanocyt
o Eritrosit yang mengalami perubahan bizarre muncul pada keadaan kurang oksigen di udara

Kamis, 06 Juni 2013

Kelainan Sel Eritrosit


Kelainan Sel Eritrosit
Kelainan Eritrosit Dapat Digolongkan Menjadi:
1. Kelainan Berdasarkan Ukuran Eritrosit
Ukuran normal eritrosit antara 6,2 8,2 Nm (normosit)
Kelainan berdasarkan ukuran:
a. Makrosit
Ukuran eritrosit yang lebih dari 8,2 Nm terjadi karena pematangan inti eritrosit terganggu,
dijumpai pada defisiensi vitamin B atau asam folat. Penyebab lainnya adalahkarena
rangsangan eritropoietin yang berakibat meningkatkatnya sintesa hemoglobin dan
meningkatkan pelepasan retikulosit kedalam sirkulasi darah. Sel ini didapatkan pada anemia
megaloblastik, penyakit hati menahun berupa thin macrocytes dan pada keadaan dengan
retikulositosis, seperti anemia hemolitik atau anemia paska pendarahan.
b. Mikrosit
Ukuran eritrosit yang kurang dari 6,2 Nm. Terjadinya karena menurunnya sintesa hemoglobin
yang disebabkan defisiensi besi, defeksintesa globulin, atau kelainan mitokondria yang
mempengaruhi unsure hem dalam molekul hemoglobin. Sel ini didapatkan pada anemia
hemolitik, anemia megaloblastik, dan pada anemia defisiensi besi.
c. Anisositosis
Pada kelainan ini tidak ditemukan suatu kelainan hematologic yang spesifik, keadaan ini
ditandai dengan adanya eritrosit dengan ukuran yang tidak sama besar dalam sediaan apusan
darah tepi (bermacam-macam ukuran). Sel ini didapatkan pada anemia mikrositik yang ada
bersamaan anemia makrositik seperti pada anemia gizi.

2. Kelainan Berdasarkan Warna Eritrosit


a. Hipokromia
Penurunan warna eritrosit yaitu peningkatan diameter central pallor melebihi normal
sehingga tampak lebih pucat. Terjadi pada anemia defisiensi besi, anemia sideroblastik,
thallasemia dan pada infeksi menahun.

b. Hiperkromia
Warna tampak lebih tua biasanya jarang digunakan untuk menggambarkan ADT.
c. Anisokromasia
Adanya peningkatan variabillitas warna dari hipokrom dan normokrom. Anisokromasia
umumnya menunjukkan adanya perubahan kondisi seperti kekurangan zat besi dan anemia
penyakit kronis.
d. Polikromasia
Eritrosit berwarna merah muda sampai biru. Terjadi pada anemia hemolitik, dan hemopoeisis
ekstrameduler.

3. Kelainan Berdasarkan Bentuk Eritrosit


a. Ovalosit
Eritrosit yang berbentuk lonjong . Evalosit memiliki sel dengan sumbu panjang kurang dari
dua kali sumbu pendek. Evalosit ditemukan dengan kemungkinan bahwa pasien menderita
kelainan yang diturunkan yang mempengaruhi sitoskelekton eritrosit misalnya ovalositosis
herediter.
b. Sferosit
Sel yang berbentuk bulat atau mendekati bulat. Sferosit merupakan sel yang telah kehilangan
sitosol yang setara. Karena kelainan dari sitoskelekton dan membran eritrosit.
c. Schistocyte
Merupakan fragmen eritrosit berukuran kecil dan bentuknya tak teratur, berwarna lebih tua.
Terjadi pada anemia hemolitik karena combusco reaksi penolakan pada transplantasi ginjal.
d. Teardrop cells (dacroytes)
Berbentuk seperti buah pir. Terjadi ketika ada fibrosis sumsum tulang atau diseritropoesis
berat dan juga dibeberapa anemia hemolitik, anemia megaloblastik, thalasemia mayor,
myelofibrosi idiopati karena metastatis karsinoma atau infiltrasi myelofibrosis sumsum
tulang lainnya.

e. Blister cells
Eritrosit yang terdapat lepuhan satu atau lebih berupa vakuola yang mudah pecah, bila pecah
sel tersebut bisa menjadi keratosit dan fragmentosit. Terjadi pada anemia hemolitik
mikroangiopati.
f. Acantocyte / Burr cells
Eritrosit mempunyai tonjolan satu atau lebih pada membrane dinding sel kaku. Terdapat
duri-duri di permukaan membrane yang ukurannya bervariasi dan menyebabkan sensitif
terhadap pengaruh dari dalam maupun luar sel. Terjadi pada sirosis hati yang disertai anemia
hemolitik, hemangioma hati, hepatitis pada neonatal.
g. Sickle cells (Drepanocytes)
Eritrosit yang berbentuk sabit. Terjadi pada reaksi transfusi, sferositosis congenital, anemia
sel sickle, anemia hemolitik.
h. Stomatocyte
Eritrosit bentuk central pallor seperti mulut. Tarjadi pada alkoholisme akut, sirosis alkoholik,
defisiensi glutsthione, sferosis herediter, nukleosis infeksiosa, keganasan, thallasemia.
i. Target cells
Eritrosit yang bentuknya seperti tembak atau topi orang meksiko. Terjadi pada
hemogfobinopati, anemia hemolitika, penyakit hati.

4. Kelainan Berdasarkan Benda Intraselular Eritrosit


a. Basophilic stipping
Suatu granula berbentuk ramping / bulat, berwarna biru tua. Sel ini sulit ditemukan karena
distribusinya jarang.
b. Kristal
Bentuk batang lurus atau bengkok, mengandung pollimer rantai beta Hb A, dengan
pewarnaan brilliant cresyl blue yang nampak berwarna biru.
c. Heinz bodies
Benda inklusi berukuran 0,2 -22,0 Nm. Dapat dilihat dengan pewarnaan crystal violet /
brillian cresyl blue.

d. Howell-jouy bodies
Bentuk bulat, berwarna biru tua atau ungu, jumlahnya satu atau dua mengandung DNA.
Karena percepatan atau abnormalitas eritropoeisis. Terjadi pada anemia hemolitik, post
operasi, atrofi lien.
e. Pappenheimer bodies
Berupa bintik, warna ungu dengan pewarnaan wright. Dijumpai pada hiposplenisme, anemia
hemolitika.
f. Eritrosit berinti (Nucleated red cell)
Eritrosit muda bentuk metarubrisit. Adanya inti darah tepi disebut normoblastemia.
Ditemukan pada:
- Perdarahan mendadak dengan sumsum tulang meningkat
- Penyakit hemolitik pada anak
- Kelemahan jantung kongestif
- Anemia megaloblastik
- Metastase karsinoma pada tulang
- Leuko-eritroblastik anemia
- Leukemia
- Anemia megaloblastik
- Hipoksia
- Aspeni
g. Polikromatofilik
Eritrosit muda yang mengambil zat warna asam dan basa karena RNA, ribosom dan
hemoglobin. Bila diwarnai dengan pulasan supravital sel ini retikulosit.

5. Kelainan Eritrosit Lainnya


a. Polisitemia
Peningkatan jumlah sel darah merah dalam sirkulasi.
Polisitemia Relatif
Peningkatan konsentrasi sel darah merah tetapi tidak disertai peningkatan jumlah masa total
sel darah merah (karena dehidrasi dan hemokonsentrasi)

Polisitemia Vera (Primer)


Peningkatan sel darah merah disertai peningkatan masa total sel darah merah (akibat
hiperaktivitas produksi sel darah merah oleh sumsum tulang)
Polisitemia Sekunder
Merupakan polisitemia fisiologi (normal) karena merupakan respon terhadap hipoksia
b. Hiperbilirubinemia
Merupakan peningkatan bilirubin darah yang berlebihan ditandai dengan terjadinya ikterus,
hal ini dapat diakibatkan karena
Peningkatan penghancuran eritrosit
Sumbatan saluran empedu
Penyakit hati
c. Hemofilia
Penyakit keturunan berupa darah yang keluar dari pembuluh darah yang tidak dapat
membeku
d. Talasemia
Penyakit yang di tandai dengan bentuk sel darah merah yang tidak beraturan. Akibatnya,
daya ikat terhadap oksigen dan karbon dioksida kurang. Ini merupakan penyakit keturunan.
e. Anemia
Kekurangan sel darah merah yang dapat disebabkan karena hilangnya darah yang terlalu
cepat atau produksi sel darah merah yang terlalu lambat
Macam-Macam Anemia:
Anemia Hemoragis
Anemia akibat kehilangan darah secara berlebihan. Secara normal cairan plasma yg hilang
akan diganti dalam waktu 1-3 hari namun dengan konsentrasi sel darah merah yang tetap
rendah.Sel darah merah akan kembali normal dalam waktu 3-6 minggu.

Anemia Aplastika
Sumsum tulang yang tidak berfungsi sehingga produksi sel darah merah terhambat. Dapat
dikarenakan oleh radiasi sinar gamma (bom atom), sinar X yang berlebihan, bahan 2 kimia
tertentu, obat2an atau pada orang-orang dengan keganasan.
Anemia Megaloblasitik
Vitamin B12, asam folat dan faktor intrinsik(terdapat pd mukosa lambung) merupakan
faktor2 yang berpengaruh terhadap pembentukan sel darah merah. Bila salah satu faktor di
atas tidak ada maka produksi eritroblas dalam sumsum tulang akan bermasalah. Akibatnya sel
darah tumbuh terlampau besar dengan bentuk yang aneh, memiliki membran yg rapuh dan
mudah pecah.. ciri2 ini disebut sebagai Megaloblas. Dapat terjadi pada: Atropi mukosa
lambung (faktor intrinsik terganggu), gastrektomi total (hilangnya faktor intrinsik) dan
sariawan usus (absorbsi asam folat dan B12 berkurang)
Anemia Hemolitik
Sel darah merah yang abnormal ditandai dengan rapuhnya sel dan masa hidup yg pendek
(biasanya ada faktor keturunan)
Contoh : Sferositosis, sel darah merah kecil, bentuk sferis, tidak mempunyai struktur
bikonkaf yg elastis (mudah sobek), anemia sel sabit, 0,3-10 % orang hitam di Afrika Barat
dan Amerika sel-selnya mengandung tipe Hb yg abnormal (HbS), bila terpapar dengan
O2 kadar rendah maka Hb akan mengendap menjadi kristal-kristal panjang di dalam sel darah
merah.. sehingga sel darah merah menjadi lebih panjang dan berbentuk mirip seperti bulan
sabit. Endapan Hb merusak membran sel. Tekanan O 2 jaringan yg rendah menghasilkan
bentuk sabit dan mudah sobek. Penurunan tekanan O2 lebih lanjut membentuk sel darah
semakin sabit dan penghancuran sel darah merah meningkat hebat, eritroblastosis Fetalis, Ibu
dengan Rh(-) yang memiliki janin Rh(+). Pada saat kehamilah pertama, setelah ibu terpapar
darah janin, maka ibu secara otomatis akan membentuk anti bodi terhadap Rh(+), sehingga
pada kehamilan yang ke dua anti Rh ibu akan menghancurkan darah bayi, dan bayi akan
mengalami anemia yg hebat hingga meninggal. Hemolisis karena malaria atau reaksi dg obat-
obatan

Nutrional Anemia
Anemia defisiensi besi (Fe), Anemia defisiensi asam folat (akibat kekurangan asupan atau
gangguan absorbsi GI track)
Anemia Pernisiosa
Vitamin B12 penting untuk sintesa DNA yang berperan dalam penggandaan dan pematangan
sel. Faktor intrinsik berikatan dengan B12 sebagai transport khusus absorbsi B12 dari usus.
Anemia pernisiosa bukan karena kekurangan Intake B12 melainkan karena defisiensi faktor
intrinsik yg mengakibatkan absorbsi B12 terganggu.
Renal Anemia
Terjadi karena sekresi eritropoietin dari ginjal berkurang akibat penyakit ginjal.

MORFOLOGI ERITROSIT DAN KELAINANNYA

Eritrosit normal berbentuk bulat atau agak oval dengan diameter 7 8 mikron (normosit).
Dilihat dari samping, eritrosit nampak seperti cakram atau bikonkaf dengan sentral akromia
kira-kira 1/3 diameter sel. Pada evaluasi sediaan darah apus maka yang perlu
diperhatiakan adalah 4S yaitu size (ukuran), shape (bentuk), warna (staining) dan struktur
intraselluler.

Kelainan Ukuran Eritrosit

a. Mikrosit

Diameter < 7 mikron, biasa disertai dengan warna pucat (hipokromia). Pada pemeriksaan sel
darah lengkap didapatkan MCV yang rendah. Ditemukan pada

Anemia defesiensi besi

Keracunan tembaga

Anemia sideroblasik

Hemosiderosis pulmoner idiopatik

Anemia akibat penyakit kronik

b. Makrosit

Diameter rata-rata > 8 mikron. MCV lebih dari normal dan MCH biasanya tidak berubah.
Ditemukan pada:

Anemia megaloblastik

Anemia aplastik/hipoplastik

Hipotiroidisme

Malnutrisi

Anemia pernisiosa

Leukimia

Kehamilan

Anisositosis adalah suatu keadaan dimana ukuran diameter eritrosit yang terdapat di dalam
suatu sediaan apus berbeda-beda (bervariasi).

Variasi Kelainan Warna Eritrosit

Sebagai patokan untuk melihat warna erotrosit adalah sentral akromia. Eritrosit yang
mengambil warna normal disebut normokromia.
Hipokromia dalah suatu keadaan dimana konsentrasi Hb kurang dari normal sehingga sentral
akromia melebar (>1/2 sel). Pada hipokromia yang berat lingkaran tepi sel sangat tipis
disebut dengan eritrosit berbentuk cincin (anulosit). hipokromia sering menyertai
krositosis. Ditemukan pada:

Anemia defesiensi fe

Anemia sideroblasti

Penyakit menahun(mis. Gagal gunjal kronik)

Talasemia

Hb-pati (C dan E)

Hiperkromik adalah eritrosit yang tampak lebih merah/gelap dari warna normal. Keadaan ini
kurang mempunyai arti penting karena dapat disebabkan oleh penebalan membrane sel dan
bukan karena naiknya Hb (oversaturation). Kejenuhan Hb yang berlebihan tidak dapat terjadi
pada eritrosit normal sehingga true hypercromia tidak dapat terbentuk.

Polikromasia adalah keadaan dimana terdapat bebrapa warna di dalam sebuah lapangan
sediaan apus. Misalnya ditemukan basofilik dan asidofilik dengan kwantum berbeda beda
karena ada penambahan retikulosit dan defek maturasi eritrosit. Dapat ditemukan pada
keadaan eritropoesis yang aktif misalnya anemia pasca perdarahan dan anemia hemolitik.
Juga dapat ditemukan pada gangguan eritropoesis seperti mielosklerosis dan hemopoesis
ekstrameduler.

Variasi Kelainan Bentuk Eritrosit

a. Poikilositosis

Disebut poikilositosis apabila pada suatu sediaan apus ditemukan bermacam-macam variasi
bentuk eritrosit. Ditemukan pada:

Anemia yang berat disertai regenerasi aktif eritrosit atau hemopoesis ekstrameduler

Eritropoesis abnormal (anemia megaloblastik, leukemia, mielosklerosis,dll)

Dekstruksi eritrosit di dalam pembuluh darah (anemia hemolitik)

b. Sferosit

Eritrosit tidak berbentuk bikonkaf tetapi bentuknya sferik dengan tebal 3 mikron atau lebih.
Diameter biasanya kurang dari 6.5 mikron dan kelihatan l;ebih hiperkromik daqn tidak
mempunyai sentral akromia. Ditemukan pada:

Sferositosis herediter
Luka bakar

Anemia hemolitik

c. Elliptosis (Ovalosit)

Bentuk sangat bervariasi seperti oval, pensil dan cerutu dengan konsentrasi Hb umumnya
tidak menunjukkan hipokromik. Hb berkumpil pada kedua kutub sel. Ditemukan pada:

Elliptositosis herediter ( 90 95% eritrosit berbentuk ellips)

Anemia megaloblastik dan anemia hipokromik (gambaran elliptosit tidak > 10 %)

Elliptositosis dapat menyolok pada mielosklerosis

d. Sel Target (Mexican Het cell, bulls eye cell)

Eritrosit berbentuk tipis atau ketebalan kurang dari normal dengan bentuk target di tengah
(target like appearance). Ratio permukaan/volume sel akan meningkat, ditemukan pada:

Talasemia

Penyakit hati kronik

Hb-pati

Pasca splenektomi

e. Stomatosit

Sentral akromia eritrosit tidak berbentuk lingkaran tetapi memanjang seperti celah bibir
mulut. Jumlahnya biasanya sedikit apabila jumlahnya banyak disebut stomatositosis.
Ditemukan pada:

Stomasitosis herediter

Keracunan timah

Alkoholisme akut

Penyakit hati menahun

Talasemia

Anemia hemolitik

f. Sel Sabit (sickle cell; drepanocyte; cresent cell; menyscocyte)


Eritrosit berbentuk bulan sabit atau arit . Kadang-kadang bervariasi berupa lanset huruf L,
V, atau S dan kedua ujungnya lancip. Terjadi oleh karena gangguan oksigenasi sel.
Ditemukan pada penyakit-penyakit Hb-pati seperti Hb S dan lain-lain

g. Sistosit ( fragmented cell; keratocytes)

Merupakan suatu pecahan eritrosit dengan berbagai macam bentuk. Ukurannya lebih kecil
dari eritrosit normal. Bentuk fragmen dapat bermacam-macam seperti helmet cell, triangular
cell, dan sputnik cell. Ditemukan pada:

Anemia hemolitik

Purpura trombotik trombosistik

Kelainan katup jantung

Talasemia Major

Penyakit keganasan

Hipertensi maligna

Uremia

h. Sel Spikel (sel bertaji)

Ada 2 jenis sel bertaji yaitu akantosit dan ekinosit

1. Akantosit (Spurr cell) adalah eritrosit yang pada dinding terdapat tonjolantonjolan
sitoplasma yang berbentuk duri (runcing), disebut tidak merata dengan jumlah 5 10 buah,
panjang dan besar tonjolan bervariasi, ditemukan pada:

Abetalipoproteinemia herediter

Pengaruh pengobatan heparin

Pyruvate kinase deficiency

Peny. Hati dengan anemia hemolitik

Pasca splenektomi

2. Echynocyte (Burr cell, Crenated cell, sea-urchin cell) merupakan eritrosit dengan
tonjolan duri yang lebih banyak ( 10 30 buah), berukuran sama. Tersebar merata pada
pada permukaan sel. Ditemukan pada:

Penyakit ginjal menahun (uremia)


Karsinoma lambung

Artefak waktu preparasi

Hepatitis

Bleeding peptic ulcer

Pyruvate kinase deficiency

Sirosis hepatic

Anemia hemolitik

i. Tear Drop cell

Eritrosit memperlihatkan tonjolan plasma yang mirip ekor sehingga seperti tetes air mata
atau buah pir. Ditemukan pada:

Anemia megaloblastik

Myelofibrosis

Hemopoesis ekstramedullar

Kadang-kadang pada talasemia

j. Sel krenasi

Eritrosit memperlihatkan tonjolan-tonjolan tumpul di seluruh permukaan sel. Letaknya tidak


beraturan, ditemukan pada hemolisis intravaskuler.

k. Kristal Hemoglobin C

Bentuk kristal tetragonal. Ditemulan pada penderita hemoglobin C yang telah di


Splenektomi

Kelainan Intra Sellular Eritrosit

a. Stipling basofilik

Pada eritrosit terdapat bintik-bintik granula yang halus atau kasar, berwarna biru, multiple
dan difus. Ditemukan pada:
keracunan timah
Anemia megaloblastik
Myelodisplastik syndrom(MDS)
Talasemia minor
Unstable hemoglobin disease
b. Benda Papenheimer

Eritrosit dengan granula kasar, dengan diameter 2 mikron yang mengandung Fe, feritin,
berwarna biru oleh karena memberikan reaksi Prusian blue positif. Eritrosit yang
mengandung benda inklusi disebut siderosit dan bila ditemukan > 10% dalam sediaan hapus,
petanda adanya gangguan sintesa hemoglobin. Ditemukan pada:
Anemia Sideroblastik
Pasca splenektomi
Beberapa anemia hemolitik

c. Benda Howell-Jolly

Merupakan sisa pecahan inti eritrosit , diameter pecahan rat-rata 1 mikron, berwarna ungu
kehitaman, biasanya tunggal. Ditemukan pada:
Pasca splenektomi
Anemia hemolitik
Anemia megaloblastik
Kelainan metabolisme hemoglobin
Steatorrhoe
Osteomyelodisplasia
Talasemia

d. Cincin Cabot (cabot Ring)

Merupakan sisa dari membrane inti, warna biru keunguan, bentuk cincin angka 8. Terdapat
dalam sitoplasma. Ditemukan pada:
Talasemia
Anemia pernisiosa
Anemia hemolitik
Keracunan timah
Pasca splenektomi
Anemia megaloblastik

e. Benda Heinz
Hasil denaturasi hemoglobin yang berubah sifat. Tidak jelas terlihat dengan pewarnaan
Wrights, tetapi dengan pengecatan kristal violet seperti benda-benda kecil tidak teratur
berwarna dalam eritrosit. Ditemukan pada:
G-6-PD defesiensi
Anemia hemolitik karena obat
Pasca splenektomi
Talasemia
Panyakit Hb Kohn Hamme

f. Eritrosit berinti (Nucleated red cell)


Eritrosit muda bentuk metarubrisit. Adanya inti darah tepi disebut normoblastemia.
Ditemukan pada:
Perdarahan mendadak dengan sumsum tulang meningkat
Penyakit hemolitik pada anak
Kelemahan jantung kongestif
Anemia megaloblastik
Metastase karsinoma pada tulang
Leuko-eritroblastik anemia
Leukemia
Anemia megaloblastik
Hipoksia
Aspeni

g. Polikromatofilik
Eritrosit muda yang mengambil zat warna asam dan basa karena RNA, ribosom dan
hemoglobin. Bila diwarnai dengan pulasan supravital sel ini retikulosit.

h. Rouleaux formation
Suatu eritrosit yang kelihatn tersusun seperti mata uang logam, oleh karena peninggian
kadar hemoglobin yang normal, karena artefak.
Harus dibedakan dari aglutinasi yang dijumpai pada AIHA
Ditemukan pada: Multiple mieloma, makroglobulonemia.

MORFOLOGI LEKOSIT DAN KELAINANNYA

Dalam keadaan normal akan ditemukan 2 kelompok lekosit pada sediaan apus yaitu yang
bergranula dan tidak bergranula. Yang termasuk sel-sel yang bergranula adalah netrofil,
eosinofil, dan basofil, sedangkan yang tidak bergranula adalah limposit dan monosit. Pada
sel-sel lekosit kelainan morfologisnya dapat dijumpai pada granula, sitoplasma dan intinya.
Kelainan pada sel lekosit ini dapat dijumpai pada kelainan herediter maupun didapat.

KELAINAN MORFOLOGI NETROFIL

A. Granula toksik

Merupakan suatu granula azurofilik dijumpai pada infeksi berat, inflamasi


Granula kasar dijumpai pada anemia aplastik dan myelofibrosis
Pada netrofil yang tidak mempunyai granula dijumpai pada syndrome myelodisplasia dan
beberapa myeloid leukemia dan jarang ada kelainan bawaan yang dimanifestasikan dengan
PMN yang tidak normal
Granula ini memberikan reaksi positif pada pulasan peroksidase dan pada pulasan alkaline
fosfatase menunjukkan aktifitas enzim meningkat
Dibedakan dengan anomali Alder-Reily dengan granula yang sangat besar, warna merah
dan jumlahnya banyak.

B. Vakuolisasi sitoplasma

Pada sediaan hapus yang langsung dibuat terlihat vacuola berukuran kecil , ini menunjukkan
adanya infeksi berat dan ketoasidosis diabetic
C. Hipersegmentasi

Netrofil yang mempunyai 5 6 lobi pada intinya, dimana inti ini dihubungkan dengan
kromatin, dijumpai pada anemia megaloblastik, pergeseran ke kanan dengan hipersegmentasi
terlihat pada anemia, paska pengobatan sitostatika (methotrexate) dan pasien yang menjalani
pengobatan hydroxiurea tampak hipersegmentasi yang menyolok

D. Dohle bodies

Sisa-sisa ribosom dan retikulosit yang rusak dalam bentuk oval atau bulat, berwarna biru abu-
abu dan biasanya ditemukan pada bagian perifer netrofil, dijumpai pada infeksi berat,
keganasan, anomaly May-Heglin, luka bakar dan setelah pengobatan dengan kemoterapi

E. Netrofil piknotik

Merupakan sebagian sel netrofil yang mati khususnya bila ada infeksi, juga dapat timbul pada
darah abnormal invitro setelah disimpan selama 11 18 jam bila disimpan pada suhu 4 0C.
Sel ini bentuk bulat, tebal dengan sedikit inti dan sitoplasma merah jambu gelap

F. Anomali Pelger

Suatu kelainan bawaan yaitu berkurangnya segmentasi pada netrofil dan kromatin inti
menjadi halus

G. Pseudo Pelger

Gambaran inti mirip dengan anomali Pelger dimana netrofil hipogranular dan intinya tidak
teratur, dapat dilihat pada sindroma myelodisplasia, leukemia myeloid akut. Leukimia
myeloid kronik

H. Sindroma Chediak-Higashi

Kelainan herediter yang jarang dijumpai. Pada netrofil dijumpai granula azurofilik yang
berukuran raksasa pada pewarnaan peroksidase

I. Sel Lupus Eritromatosus (sel LE)

Sel fagosit dari netrofil yang mengfagosit massa inti sehingga nampak sebagai massa yang
homogen yang berwarna merah. Sel LE juga ditemukan pada arthritis rheumatoid,
hipersensitif obat-obatan dan penyakit-;enyakit kolagen termasuk lupus hepatitis.

J. Reaksi leukemoid

Merupakan leukosistosis relative ditandai pergeseran ke kiri ynag nyata, Reaksi leukemoid
dapat ditemukan pada tuberculosis dan pada Sindrom Down, infeksi bakteri yang hebat,
keganasan, hemolisis yang cepat dan luka bakar.

KELAINAN PADA EOSINOFIL


Eosinofilia berat dapat terjadi Pada infeksi parasit dan apabila jumlahnya sangat hebat
disebut sindrom hipereosinofil. Eosinofil dengan granula abnormal sering ditemukan pada
beberapa tipe leukemia myeloid akut, leukemia myeloid kronik dan mielodisplasia.

KELAINAN PADA BASOFIL

Basofil nampak meningkat pada kelainan mieloproliferatif dan khas pada leukemia myeloid
kronik

KELAINAN PADA MONOSIT

Jumlah monosit meningkat dijumpai pada infeksi kronik dan inflamasi lainnya seperti
tuberculosis, Chrohns disease, leukemia myeloid kronik, leukemia akut. Pada leukemia
mielomonositik kronik, maturasi monosit meningkat sampai 100 kali

KELAINAN PADA LIMFOSIT.

Limposit atipik adalah limposit yang besar dengan diameter lebih 20 mikron, sitoplasma
lebih biru, inti besar dengan kromatin terbuka dan sitoplasma berlebihan dengan bentuk
tertur. Pada beberapa limposit atipik dapat didiagnosis sebagai mononucleosis infeksiosa,
infeksi virus, reaksi imunologis.

KELAINAN PADA TROMBOSIT

Trombosit raksasa dapat terlihat pada sindroma Bernard-Soulier dengan gejala gangguan
perdarahan. Pada sindroma May-Hegglin terlihat trombosit yang besar dan berwarna merah.
Trombosit besar didapatkan juga pada sindrom mielodisplasia, leukemia akut tipe AML-M7.

Rujukan yang dipakai :


1. Mansyur Arif,Morfologi sel darah merah artikel, Bagian Patologi Klinik , Fakultas
Kedokteran Unhas /UPL. Perjan RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar
2. Budiwiyono Imam, leukopoiesis, Diktat Pegangan Kuliah PK I,Bagian Patologi Klinik ,
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/ RSUP Kariadi, Semarang, 2008

ELIS'SBLOGGER

SAAT ADA ORANG YANG MERENDAHKANMU TIDAK USAH DIPIKIRKAN APA


YANG MEREKA KATAKAN,KARNA BUKAN HAL PENTING UNTUK DIBICARAKAN
DAN TIDAK ADA GUNANYA UNTUK DIPENTINGKAN.

Home

Tentang saya
Kategori Lain

o Renungan

o Unik-unik

o ect

Materi

o Biokimia

o Bakteriologi

o Kimia organik

o Serologi

o Hematologi

o Kesehatan Lingkungan

o Parasitologi

welcome to my blog, don't forget to leave your messages or comments, and be my


followers,please:)
Wednesday, 9 January 2013 HEMATOLOGI
SEL DARAH MERAH (ERITROSIT)
Sel darah merah, eritrosit (bahasa Inggris: red blood cell (RBC), erythrocyte) adalah jenis sel
darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh
lewat darah dalam hewan bertulang belakang. Bagian dalam eritrosit terdiri dari hemoglobin,
sebuah biomolekul yang dapat mengikat oksigen. Hemoglobin akan mengambil oksigen
dari paru-paru dan insang, dan oksigen akan dilepaskan saat eritrosit melewati pembuluh
kapiler. Warna merah sel darah merah sendiri berasal dari warna hemoglobin yang unsur
pembuatnya adalah zat besi. Pada manusia, sel darah merah dibuat di sumsum tulang
belakang,
lalu membentuk kepingan bikonkaf. Di dalam sel darah merah tidak terdapat
nukleus. Sel darah merah sendiri aktif selama 120 hari sebelum akhirnya dihancurkan.Sel
darah merah atau yang juga disebut sebagai eritrosit berasal dari Bahasa Yunani,
yaitu erythros berarti merah dan kytos yang berarti selubung/sel)
Sel Darah Merah (Eritrosit)
Ciri-ciri eritrosit manusia adalah berbentuk cakram bikonkaf, berdiameter 7-8 m tebalnya 1-
2Sel Darah Merah (Eritrosit)
Ciri-ciri eritrosit manusia adalah berbentuk cakram bikonkaf, berdiameter 7-8 m tebalnya 1-
2m, bersifat elastic, serta tidak memiliki inti (pada eritrosit tua). Di dalam tubuh manusia
ada sekitar 30 triliun eritrosit. Jumlah eritrosit pada laki-laki berkisar 4,2 juta-5,4 juta l,
sedangkan pada perempuan berkisar 3,6 juta-5,0 juta l.

Fungsi eritrsit adalah mengangkut oksien dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh.
Eritrosit mampu mengangkut oksigen ke seluruh tubuh karena memiliki hemoglobin (Hb).
Hemoglobin merupakan suatu protein khusus yang mengandung zat besi yang mampu
mengikat oksigen. Dalam setiap eritrosit terdapat sekitar 250 juta molekul Hb. Tiap molekul
Hb dapat membawa empat molekul oksigen. Pengikatan oksigen oleh Hb terjadi di dalam
paru-paru

Oksigen yang telah berikatan dengan Hb itu, kemudian diedarkan ke seluruh tubuh. Di dalam
sel-sel tubuh, oksigen dipakai untuk reaksi respirasi guna menghasilkan energy. Eritrosit juga
berfungsi membawaa karbon dioksida, yaitu bahan buang yang dihasilkan sel, walaupun
karbon dioksida dibawa oleh plasma.
Eritrosit didalam sum-sum merah pada tulang-tulang tertentu ( tulang belakang, tlang rusuk,
tulang tengkorak dan tulang pipa). Umur eritrosit manusia kira-kira 120 hari. Dalam setiap
detik, kira-kira 2,4 juta eritrosit dirombak untuk digantikan dengan yan baru. Perombakan
eritrosit terjadi di dalam hati.

Ciri dan fungsi Eritrosit


Eritrosit mamalia tidak berinti sehingga tidak memiliki DNA. Eritrosit mamalia berbentuk
bikonkaf, yaitu bentuk cakram dengan bagian tengah agak gepeng. Bentuk ini berfungsi
untuk mengoptimalkan pertukaran oksigen. Warna eritrosit tergantung pada hemoglobin.
Fungsi hemoglobin adalah membantu eritrosit mengikat oksigen (O2 ). Jika hemoglobin
mengikat O2 maka eritrosit akan berwarna merah. Jika O2 telah dilepaskan, maka warnanya
menjadi merah kebiruan. Hemoglobin tersusun atas protein globin yang terikat pada pigmen
heme merah.
Kadar hemoglobin dalam (Hb) darah bervariasi, tergantung pada jenis kelamin dan umur
seseorang. Pada kondisi normal, kadar Hb laki-laki dewasa adalah 13-18 gram per 100 ml
(g/ml) darah; kadar Hb wanita dewasa adalah 12-16 g/ml darah; sedangkan Hb bayi 14-20
g/ml darah. Oleh karenanya, sulit untuk menentukan nilai standarnya.
Eritrosit juga mengkatalis reaksi antara karbon dioksida dan air karena eritrosit mengandung
karbonat anhidrase dalam jumlah besar. Reaksi ini memungkinkan darah bereaksi dengan
sejumlah besar karbon dioksida dan mengangkutnya dari jaringan ke paru-paru.

Jumlah eritrosit bervariasi, tergantung jenis kelamin, usia, dan ketinggian tempat tinggal
seseorang. Orang yang tinggal di dataran tinggi cenderung memiliki jumlah eritrosit lebih
banyak, dibandingkan orang yang tinggal di dataran rendah. Jumlah eritrosit dapat berkurang,
misalnya karena luka yang mengeluarkan banyak darah atau karena anemia.

Tubuh kita memerlukan oksigen untuk proses oksidasi makanan guna menghasilkan energy.
Oksigen akan diedarkan sampai ke jaringan tubuh melalui pengangkutan oleh darah dalam
bentuk ikatan yang mudah lepasa berupa oksihemoglobin. Dalam waktu satu menit, 5 liter
darah yang dipompa jantung dapat melepaskan lebih kurang 250 ml oksigen yang terikat
pada hemoglobin dan eritrosit. Sebagian kecil oksigen juga diangkut oleh plasma darah. Dari
jaringan tubuh, hemoglobin akan mengikat sebagian karbon dioksida dalam bentuk
karbominohemoglobin.
Banyak oksigen yang dilepaskan dari Hb seperti nilai di atas, terjadi saat seseorang dalam
keadaan istirahat. Aktivitas seseorang akan berpengaruh pada peredaran darah sehingga
oksigen yang dilepaskan akan berbeda-beda pula untuk setiap orang.

Pembentukan eritrosit
Proses pembentukan eritrosit disebut eritropoiesis. Pada beberapa minggu pertama embrio
dalam kandungan, eritrosit dihasilkan dalam kantong kuning telur. Beberapa bulan kemudian,
pemebntukan eritrosit terjadi di hati, limfa, dan kelenjar limfa. Sesudah bayi lahir, eritrosit
dibentuk oleh sumsum tulang. Produk eritrosit distimulasi oleh hormon eritropoietin. Kira-
kira di usia 20 tahun, sumsum bagian proksimal tulang panjang sudah tidak menghasilkan
eritrosit lagi. Sebagian besar eritrosit akan dihasilkan dalam sumsum tulang membranosa
(tulang belakang, tulang dada, tulang rusuk, dan tulang panggul). Dengan meningkatnya usia,
sumsum tulang menjadi kurang produktif.

Sel yang dapat membentuk eritrosit adalah hemositoblas atau sel batang myeloid yang
mampu berkembang menjadi bebragai jenis sel darah (bersifat pluripoten). Sel ini terdapat di
sumsum tulang dan akan membentuk berbagai jenis leokosit, eritrosit, dan megakarosit
(Pembentuk keping darah). Eritrosit yang terbentuk akan keluar dan menembus membran
(kemampuan ini disebut dispedesis) dan memasuki kapiler darah. Selain membentuk eritrosit,
hemositoblas juga membentuk sel plasma, limfosit b, limfosit t, monosit, dan fagosit-fagosit
lain.

Dalam keadaan normal, erotrosit bertahan selama rata-rata 120 hari. Saat sel menua,
membrane sel rapuh dan pecah. Eritrosit tua dimusnahkan di organ limfa (lien) dan hati.
Hemoglobin dicerna oleh sel-sel retikuloendotelium. Zat besi dilepas kembali ke dalam darah
untuk kemudian diangkut kembali ke sumsum tulang dan hati. Hemoglobin diubah menjadi
pigmen empedu (bilirubin) dan diekresi oleh hati ke dalam empedu.
Kelainan Eritrosit
Kelainan eritrosit dapat digolongkan menjadi :
1) Kelainan berdasarkan ukuran eritrosit
Ukuran normal eritrosit antara 6,2 8,2 Nm (normosit)
Kelainan berdasarkan ukuran:
a) Makrosit
Ukuran eritrosit yang lebih dari 8,2 Nm terjadi karena pematangan inti eritrosit terganggu,
dijumpai pada defisiensi vitamin B atau asam folat.
Penyebab lainnya adalahkarena rangsangan eritropoietin yang berakibat meningkatkatnya
sintesa hemoglobin dan meningkatkan pelepasan retikulosit kedalam sirkulasi darah. Sel ini
didapatkan pada anemia megaloblastik, penyakit hati menahun berupa thin macrocytes dan
pada keadaan dengan retikulositosis, seperti anemia hemolitik atau anemia paska pendarahan.
b) Mikrosit
Ukuran eritrosit yang kurang dari 6,2 Nm. Terjadinya karena menurunnya sintesa
hemoglobin yang disebabkan defisiensi besi, defeksintesa globulin, atau kelainan
mitokondria yang mempengaruhi unsure hem dalam molekul hemoglobin. Sel ini didapatkan
pada anemia hemolitik, anemia megaloblastik, dan pada anemia defisiensi besi.
c) Anisositosis
Pada kelainan ini tidak ditemukan suatu kelainan hematologic yang spesifik, keadaan ini
ditandai dengan adanya eritrosit dengan ukuran yang tidak sama besar dalam sediaan apusan
darah tepi (bermacam-macam ukuran). Sel ini didapatkan pada anemia mikrositik yang ada
bersamaan anemia makrositik seperti pada anemia gizi.

2) Kelainan berdasarkan berdasarkan bentuk eritrosit


a) Ovalosit
Eritrosit yang berbentuk lonjong . Evalosit memiliki sel dengan sumbu panjang kurang
dari dua kali sumbu pendek. Evalosit ditemukan dengan kemungkinan bahwa pasien
menderita kelainan yang diturunkan yang mempengaruhi sitoskelekton eritrosit misalnya
ovalositosis herediter.
b) Sferosit
Sel yang berbentuk bulat atau mendekati bulat. Sferosit merupakan sel yang telah
kehilangan sitosol yang setara. Karena kelainan dari sitoskelekton dan membrane eritrosit.
c) Schistocyte
Merupakan fragmen eritrosit berukuran kecil dan bentuknya tak teratur, berwarna lebih
tua. Terjadi pada anemia hemolitik karena combusco reaksi penolakan pada transplantasi
ginjal.
d) Teardrop cells (dacroytes)
Berbentuk seperti buah pir. Terjadi ketika ada fibrosis sumsum tulang atau diseritropoesis
berat dan juga dibeberapa anemia hemolitik, anemia megaloblastik, thalasemia mayor,
myelofibrosi idiopati karena metastatis karsinoma atau infiltrasi myelofibrosis sumsum
tulang lainnya.
e) Blister cells
Eritrosit yang terdapat lepuhan satu atau lebih berupa vakuola yang mudah pecah, bila
pecah sel tersebut bisa menjadi keratosit dan fragmentosit. Terjadi pada anemia hemolitik
mikroangiopati.
f) Acantocyte / Burr cells
Eritrosit mempunyai tonjolan satu atau lebih pada membrane dinding sel kaku. Terdapat
duri-duri di permukaan membrane yang ukurannya bervariasi dan menyebabkan sensitif
terhadap pengaruh dari dalam maupun luar sel. Terjadi pada sirosis hati yang disertai anemia
hemolitik, hemangioma hati, hepatitis pada neonatal.
g) Sickle cells (Drepanocytes)
Eritrosit yang berbentuk sabit. Terjadi pada reaksi transfusi, sferositosis congenital,
anemia sel sickle, anemia hemolitik.
h) Stomatocyte
Eritrosit bentuk central pallor seperti mulut. Tarjadi pada alkoholisme akut, sirosis
alkoholik, defisiensi glutsthione, sferosis herediter, nukleosis infeksiosa, keganasan,
thallasemia.
i) Target cells
Eritrosit yang bentuknya seperti tembak atau topi orang meksiko. Terjadi pada
hemogfobinopati, anemia hemolitika, penyakit hati.
3) Kelainan berdasarkan warna eritrosit
a) Hipokromia
Penurunan warna eritrosit yaitu peningkatan diameter central pallor melebihi normal
sehingga tampak lebih pucat. Terjadi pada anemia defisiensi besi, anemia sideroblastik,
thallasemia dan pada infeksi menahun.
b) Hiperkromia
Warna tampak lebih tua biasanya jarang digunakan untuk menggambarkan ADT.
c) Anisokromasia
Adanya peningkatan variabillitas warna dari hipokrom dan normokrom. Anisokromasia
umumnya menunjukkan adanya perubahan kondisi seperti kekurangan zat besi dan anemia
penyakit kronis.
d) Polikromasia
Eritrosit berwarna merah muda sampai biru. Terjadi pada anemia hemolitik, dan
hemopoeisis ekstrameduler.
4) Kelainan berdasarkan benda inklusi eritrosit
a) Basophilic stipping
Suatu granula berbentuk ramping / bulat, berwarna biru tua. Sel ini sulit ditemukan
karena distribusinya jarang.
b) Kristal
Bentuk batang lurus atau bengkok, mengandung pollimer rantai beta Hb A, dengan
pewarnaan brilliant cresyl blue yang Nampak berwarna biru.
c) Heinz bodies
Benda inklusi berukuran 0,2 -22,0 Nm. Dapat dilihat dengan pewarnaan crystal violet /
brillian cresyl blue.
d) Howell-jouy bodies
Bentuk bulat, berwarna biru tua atau ungu, jumlahnya satu atau dua mengandung DNA.
Karena percepatan atau abnormalitas eritropoeisis. Terjadi pada anemia hemolitik, post
operasi, atrofi lien.
e) Pappenheimer bodies
Berupa bintik, warna ungu dengan pewarnaan wright. Dijumpai pada hiposplenisme,
anemia hemolitika.

Nilai Erytrosit Rata-rata (Indeks Erythrosit)


Tujuan : Untuk mengetahui dan menentukan derajat anemia dan jenis anemia yang terjadi
pada seseorang.

Ada 3 macam index erythrosit yaitu :


1. Volume Index (V.I) dan MCV
2. Color Index (C.I) dan MCH
3. Saturation Index (S.I) dan MCHC
Ketiga index ini gunanya untuk mengetahui ukuran dan jumlah Hb dalam eryhtrosit rata-rata.
Nilai yang banyak di pakai ialah :
1. Mean Corpuscular Volume (MCV).
Nilai normal : 80 94 u3 (mikron kubik). Untuk mencari MCV ini harus diketahui nilai
hematokrit dan jumlah erythrosit per mm3 darah. MCV ini menyatakan volume rata-rata dari
sebuah erythrosit.
Rumus : MCV = Hematokrit x 10 u3
Erythrosit
2. Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH)
Nilai normal : 28 32 pikogram. Untuk mencari MCH ini harus diketahui nilai hemoglobin
dan erythrosit per mm3 darah. MCH ini menyatakan banyaknya Hemoglobin dalam
Erythrosit rata-rata.
Rumus : MCH = Hemoglobin x 10 pg
Erythrosit
3. Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC)
Nilai normal : 32 36 %. Untuk mencari MCHC ini harus diketahui nilai Hemoglobin dan
Hematokrit darah. MCHC ini menyatakan banyaknya kadar Hemoglobin yang didapat dalam
erythrosit rata-rata.
Rumus : MCHC = Hemoglobin x 100 %
Hematokrit
Isi erythrosit rata-rata digunakan untuk menetapkan apakah anemia itu Makrocytair,
Normocytair atau Mikrocytair.
1. Anemia Makrocytair : MCV lebih dari 94 u3
2. Anemia Normocytair : MCV rata-rata 80 94 u3
3. Anemia Mikrocytair : MCV kurang dari 80 u3

Color Index = Hb yang didapat : Erythrosit yang dihitung


Hb normal Eryhtrosit normal
Normal Color Index = 0,9 - 1,1

Volume Index = PCV yang didapat : Erythrosit yang dihitung


PCV normal Eryhtrosit normal
Normal Volume Index = 0,9 - 1,1

Saturation Index = Hb yang didapat : Hematokrit yang dihitung


Hb normal Hematokrit normal
Normal Saturation Index = 0,9 - 1,1

Untuk MCH dan Indeks warna gunanya untuk menetapkan apakah anemia itu : Anemia
Hyperkhrom, Anemia Normokhrom atau Anemia Hypokhrom.
1. Anemia Hyperkhrom : MCH lebih dari 32 pg
2. Anemia Normokhrom : MCH rata-rata 28 32 pg
3. Anemia Hypokhrom : MCH kurang dari 28 pg
Cara menghitung :
1) Mengisi pipet eritrosit
Darah dihisap sampai garis tanda 0,5 dan larutan pengencer sampai tanda 101
2) Mengisi kamar hitung
3) Menghitung jumlah sel dengan menggunakan mikroskop perbesaran sedang atau 40x
4) Hitunglah semua eritrosit yang terdapat dalam 5 bidang yang tersusun dari 16 bidang kecil.
Nilai normal jumlah eritrosit :
Laki-laki : 4,6 s/d 6,2 juta/ml
Wanita : 4,2 s/d 5,4 juta/ml
Kesalahan-kesalahan pada hitung eritrosit yaitu pada menghitung jumlah eritrosit
memakai lensa objektif kecil yaitu perbesaran 10x, sehingga sangat tidak teliti hasilnya.
Akibat eritrosit yang berlebih dan kekurangan eritrosit :
a) Penurunan eritrosit
- Kehilangan darah (perdarahan)
- Anemia, infeksi kronis, leukemia, dan hidrasi berlebihan.
b) Peningkatan eritrosit
- Polisitemia vena
- Hemokonsentrasi
- Dehidrasi
- Penyakit kardio vaskuler