Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah Sekitar 160 juta perempuan 15% menderita komplikasi

berat, dengan sepertiganya mengakibatkan kematian lebih dari setengah

juta ibu setiap tahun. Dari jumlah ini diperkirakan 90% terjadi di Asia dan

Afrika subsahara, 10 % di negara berkembang lainnya, dan kurang dari 1

% di negara-negara maju. Di beberapa negara resik kematian ibu lebih

tinggi dari 1 dalam 10 kehamilan, sedangkan di negara maju resiko ini

kurang dari 1 dalam 6000.

Secara global 80% kematian ibu tergolong pada kematian ibu

langsung. Pola penyebab di mana-mana sama, yaitu perdarahan (25%),

sepsis (15%), hipertensi dalam kehamilan (12%), partus macet (8%),

komplikasi aborsi tidak aman (13%), dan sebab-sebab lain (8%).

(Sarwono, 2014)

Angka Kematian Ibu masih menjadi tolak ukur untuk menilai baik

buruknya keadaan pelayanan kesehatan dan salah satu indikator tingkat

kesejahteraan ibu. (Saefuddin, 2002). Perdarahan sebagai penyebab

kematian ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan perdarahan

postpartum. Perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam semasa

kehamilan dimana umur kehamilan telah melebihi 28 minggu atau berat

janin lebih dari 1000 gram (Manuaba, 2010). Sedangkan menurut Sarwono

(2014), perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam yang timbul

pada masa kehamilan kedua pada kira-kira 3% dari semua kehamilan. Jadi
dapat disimpulkan perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi

pada akhir usia kehamilan Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat

darurat yang kejadiannya berkisar 3% dari semua persalinan, penyebabnya

antara lain plasenta previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang belum

jelas sumbernya.

Plasenta previa lebih banyak pada kehamilan dengan

paritas tinggi dan pada usia di atas 30 tahun. Juga lebih sering terjadi pada

kehamilan ganda daripada kehamilan tunggal. Uterus bercacat ikut

mempertinggi angka kejadiannya. Pada beberapa Rumah Sakit Umum

pemerintah dilaprkan insidennya berkisar 1,7% sampai dengan 2,9 %. Di

negara maju insidensinya lebih rendah yaitu kurang dari 1% mungkin

disebabkan berkurangnya perempuan hamil paritas tinggi. Dengan

meluasnya penggunaan ultrasonografi dan obstetrik yang memungkinkan

deteksi lebih dini, insiden plasenta previa bisa lebih tinggi. (Sarwono,

2014)

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Hubungan antara

paritas ibu dengan kejadian plasenta previa

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara paritas ibu dengan kejadian

plasenta previa

2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui salah satu faktor risiko ibu hamil yang mengalami

plasenta previa
b. Mengetahui hubungan antara paritas ibu dengan kejadian plasenta

previa
c. Mengetahui apakah multiparitas merupakan salah satu faktor yang

meningkatkan terjadinya plasenta previa


d. Mengetahui angka kejadian plasenta previa pada multiparitas dan

primiparitas
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan manfaat teoritis hubungan paritas ibu dengan kejadian

plasenta previa.
b. Menyediakan data untuk penelitian lanjutan yang berhubungan

dengan plasenta previa.


2. Manfaat Aplikatif
a. Untuk melakukan deteksi dini terhadap kejadian plasenta previa.
b. Untuk mengurangi plasenta previa dengan upaya preventif pada

ibu multiparitas.
c. Hasil penelitian dapat menjadi informasi bagi masyarakat

mengenai faktor yang dapat meningkatkan kejadian plasenta previa

dan bertindak segera agar tidak terjadi keparahan akibat penyakit.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Paritas
1. Pengertian
Para adalah jumlah kehamilan yang berakhir dengan kelahiran bayi

atau bayi mampu bertahan hidup. Titik ini dicapai pada usia kehamilan

20 minggu atau berat janin 500 gram (Varney, 2006).


2. Klasifikasi jumlah paritas`
a. Primipara adalah seorang yang pernah melahirkan satu kali satu

janin atau lebih yang telah mencapai viabilitas. Oleh karena itu,

berakhirnya setiap kehamilan melewati tahap abortus memberikan

paritas pada ibu.


b. Primigravida yaitu wanita yang hamil untuk pertama kalinya.

(Varney, 2006)
c. Multipara adalah seorang wanita yang telah menyelesaikan dua

atau lebih kehamilan hingga viabilitas. Hal yang menentukan

paritas adalah jumlah kehamilan yang mencapai viabilitas, bukan

jumlah janin yang dilahirkan. Paritas tidak lebih besar jika wanita

yang bersagkutan melahirkan satu janin, janin kembar, atau janin

kembar lima, juga tidak lebih rendah jika janin (-janin) nya lahir

mati
d. Nuligravida : serang wanita yang belum pernah dan sekarang

sedang tidak hamil


e. Gavida : seorang wanita yang sedang atau telah hamil, tanpa

memandang hasil akhir kehamilan. Dengan terjadinya kehamilan

pertama, ia menjadi primigravida, dan dengan kehamilan

berikutnya menjadi multigravda


f. Nulipara : seorang wanita yang belum pernah mencpai kehamilan

melewati tahap abortus. Ia mungkin pernah hamil mungkin juga

tidak, atau mungkin pernah mengalami abortus spontan atau

elektif.
g. Parturien : seorang wanita dalam persalinan
h. Puerpera : seorang wanita yang baru melahirkan

(Kenneth J. Leveno, 2009)

Plasenta Previa adalah Plasenta ada didepan jalan lahir (prae =


didepan ; vias = jalan). Jadi yang dimaksud adalah plasenta yang
implatasinya tidak normal ialah rendah sekali sehingga menutupi seluruh
atau sebagian ostium internum. Implantasi plasenta yang normal adalah
pada dinding depan atau dinding belakang rahim didaerah fundus uteri.
(Ai Yeyeh, dkk, 2010)
Adapun beberapa pengertian atau definisi dari plasenta previa
dituliskan disini yang bertujuan agar bidan atau perawat kebidanan dapat
lebih memahami tentang plasenta previa, antara lain :
1. Plasenta praevia/ plasenta previa yang berasal dari kata prae yang
berarti didepan dan vias yang berarti jalan. Jadi plasenta previa
berarti plasenta didepan jalan lahir atau menutupi jalan lahir.
2. Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal, yaitu
pada segmen bawah lahir atau menutupi sebagian atau seluruh ostium
uteri internum.
3. Plasenta previa adalah plasenta yang berada didepan jalan lahir
(prae=didepan,vias=jalan). Jadi yang dimaksud plasenta previa adalah
plasenta yang implantasinya tidak normal sehingga menutupi seluruh
atau sebagian jalan lahir (ostium uteri internum).
4. Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen
bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri
internum.
5. Plasenta previa adalah suatu kehamilan dimana plasenta berimplantasi
abnormal pada segmen bawah rahim, menutupi atau tidak menutupi
ostium uteri internum, sedangkan kehamilan tersebut sudah viable
atau mampu hidup diluar rahim (usia kehamilan 22minggu atau berat
janin >500gr). (Dianty Maternity,dkk, 2013)

A. Klasifikasi dan Etiologi


Kita membagi plasenta previa menjadi :
1. Plasenta previa totalis seluruh ostium internum tertutup oleh
plasenta ;
2. Plasenta previa lateralis/parsialis sebagian ostium tertutup olrh
plasenta ;
3. Plasenta previa marginalis hanya dipinggir ostium terdapat jaringan
plasenta ;
4. Plasenta letak rendah implantasi plasenta rendah tapi tidak sampai
ke ostium (tepi plasenta berjarak <5cm dipinggir ostium) ;
5. Vasa previa pembuluh darah janin terdapat membrane yang
melintasi ostium.

Kadang-kadang dipergunakan istilah plasenta previa sentralis,


artinya plasenta terletak di sentral terhadap ostium uteri internum.
Penentuan macam plasenta previa marginalis pada pembukaan
2cm, dapat menjadi plasenta previa lateralis pada pembukaan 5cm; begitu
pula plasenta previa totalis pada pembukaan 3cm dapat menjadi lateralis
pada pembukaan 6cm.
Oleh sebab itu, penentuan macam plasenta previa harus disertai
dengan keterangan mengenai besar pembukaan, misalnya plasenta previa
lateralis pada pembukaan 5cm.
Dengan kemajuan diagnostic, plasenta previa dapat dibedakan
dengan jelas dari plasenta letak rendah.Bila plasenta previa sentralis
ditegakan secara ultrasonografi pada trimester terakhir kehamilan, kita
tidak perlu lagi melakukan pemeriksaan klinis dikamar oprasi, dan oprasi
dapat dilakukan.
Klasifikasi plasenta previa tidak didasarkan pada keadaan anatomi
melainkan fisiologik. Sehingga klasifikasinya akan berubah setiap waktu.
Umpamanya, plasenta previa totalis pada pembukaan 4cm mungkin akan
berubah menjadi plasenta previa lateralis pada pembukaan 8cm.
Etiologi
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan ketika
endometrium kurang baik, misalnya akibat atrofi endometrium atau
vaskularisasi desidua yang kurang baik. Keadaan ini dapat ditemukan
pada:
1. Multipara, kalau jarak kehamilannya pendek.
2. Mioma uteri.
3. Uritase berulang.
4. Umur lanjut.
5. Bekas seksio sesarea
6. Perubahan inflantasi atau atrofi.
Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta
harus tumbuh meluas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang
tumbuh meluas akan mendekati atau menutupi ostium uteri internum.
Endometrium yang kurang baik juga dapat menyebabkan zigot
mencari tempat implantasi yang lebih baik, yaitu ditempat yang rendah,
dekat ostium uteri internum.
Plasenta previa juga dapat terjadi pada plasenta yang besar dan luas
seperti pada eritroblastosis, diabetes mellitus, atau kehamilan multipel.
(Djamhoer Martaadisoebrata,dkk, 2015)

B. Patofisiologi
1. Penyebab yang pasti tidak diketahui, penyebabnya mungkin berkaitan
dengan tumor fibroid uterus atau jaringan perut pasca bedah pada
uterus
2. Factor yang dapat mempengaruhi tempat pelekatan plasenta pada
dinding uterus meliputi :
a. Vaskularisasi plasenta yang terganggu
b. Kehamilan kembar (plasenta pada kehamilan kembar memerlukan
luas permukaan yang lebih besar bagi peletaknya)
c. Riwayat pembedahan pada uterus
d. Multiparitas
e. Usia ibu yang lanjut
3. Segmen bawah uterus tidak dapat memberikan nutrisi yang memadai
seperti halnya pada fundus uteri
4. Plasenta pada segmen ini cenderung memperluas dirinya untuk
mencari sumberdarah yang diperlukan sehingga menjadi lebih lebar
dan lebih tipis dari pada plasenta yang normal
5. Villi plasenta akan terkoyak dari dinding uterus ketika segmen bahwa
uterus melakukan kontraksi dan dilatasi pada trimester ketiga
6. Ketika os servisis interna menipis dan membuka, pembuluh darah
uterus akan rupture
7. Sinus uterine akan terbuka ke sisi plasenta dan terjadilah perdarahan
(Dianty Maternity,dkk, 2013)

C. Gambaran Klinis
Pendarahan tanpa alasan dan tanpa nyeri merupakan gejala utama
dan pertama dari plasenta previa.Perdarahan dapat terjadi selagi penderita
tidur atau bekerja biasa.Perdarahan pertama biasanya tidak banyak,
sehingga tidak berakibatkan fatal.Akan tetapi, perdarahan berikutnya
hamper selalu lebih banyak dari pada sebelumnya, apalagi kalau
sebelumnya dilakukan pemeriksaan dalam. Walaupun perdarahannya
sering dikatakan terjadi triwulan ketiga, akan tetapi tidak jarang pula
dimulai sejak kehamilan 20minggu karena sejak itu segmen bawah uterus
telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis.
Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah uterus akan
lebih melebar lagi, dengan serviks mulai membuka, apabila plasenta
tumbuh pada segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan
pembukaan seviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat disitu
tahap terlepasnya sebagian plasenta dari dinding uterus.
Pada saat itu mulailah terjadi perdarahan. Darahnya berwarna
merah segar, berlainan dengan darah yang di sebabkan solusio plasenta
yang berwarna kehitam-hitaman. Sumber perdarahannya ialah sinus uterus
yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus, atau karena
robekan sinus marginalis dari plasenta.Perdarahannya tidak dapat
dihindarkan karena ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus
untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak sebagaimana
serabut otot menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang
letaknya normal.
Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi, oleh
karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini
pada plasenta letak rendah, yang mungkin baru berdarah setelah persalinan
mulai. (Ai Yeyeh, dkk, 2010)

D. Komplikasi
Plasenta previa dapat menyebabkan berbagai komplikasi, baik bagi
ibu maupun pada janin yang dikandungnya, yaitu :
1. Predarah yang hebat dan syok sebelum atau selama persalinan, yang
dapat mengancam kehidupan ibu dan janinnya.
2. Persalinan premature/ prektem (sebelum usia kehamilan 37minggu)
yang mana merupakan resiko terbesar bagi janin.
3. Defect Persalinan
Defect persalinan terjadi 2,5 kali lebih sering pada kehamilan yang di
pengaruhi oleh plasenta previa dari pada kehamilan yang tidak di
pengaruhinya. Sampai saat ini penyebabnya tidak diketahui.
4. Infeksi
5. Laserasi serviks
6. Plasenta akreta
7. Plasenta tali pusat
8. Prolaps plasenta
Plasenta previa dapat menghambat perkembangan janin.Meskipun
beberapa pengertian sering menemukan masalah pertumbuhan janin
pada plasenta previa, beberapa penelitian lainnya tidak meneukan
perbedaan antara bayi-bayi pada kelainan ini dengan bayi-bayi dari
kehamilan normal. (Dianty Maternity,dkk, 2013)
E. Diagnosis
Untuk mengejan diagnose pasti kejadian plasenta previa maka hal-hal
dibawah ini harus dilakukan antara lain :
1. Anamnesa :
Perdarahan jalan lahir pada kehamilan 22 minggu berlangsung tanpa
nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida. Perdarahan
cenderung berulang dengan volume yang lebih banyak dari
sebelumnya. Menimbulkan penyulit pada ibu maupun janin dalam
lahir.
2. Inspeksi :
Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervagina, banyak, sedikit, atau
darah beku (stolsel), bila terjadi perdarahan banyak, maka ibu terlihat
pucat atau anemia.
3. Pemeriksaan fisik ibu :
Tekanan darah, nadi, dan pernafasan dalam batas normal, tekanan darah,
nadi, dan pernafasan meningkat, daerah akral menjadi dingin, tanpak
anemia.
4. Pemeriksaan khusus kebidanan :
a. Palpasi abdomen didapatkan :
Janin belum cukup bulan, tinggi fundus uteri sesuai dengan usia
kehamilan, bagian terendah janin masih tinggi, karena plasenta
berada di segmen bawah rahim, bila cukup pengalaman, bisa
dirasakan suatu bantalan pada segmen bawah rahim, terutama
pada ibu yang kurus.
b. Pemeriksaan denyut jantung :
Berfariasi dari normal sampai asviksia dan kematian dalam rahim.
c. Pemeriksaan inspekulo :
Dengan memakai speculum secara hati-hati, dilihat dari mana asal
perdarahan, apakah dari dalam uterus, atau dari kelainan serviks,
vagina, varises pecah.
d. Pemeriksaan penunjang, sitrogravik :
Mula-mula kandungan kemih dikosongkan, lalu dimasukan 40cc
larutan N4C1 12,5% kepala janin diletakan kearah pintu atas
panggul. Bila jarak kepala dan kemih berselisih dari 1cm,
kemunginan terdapat plasenta.
e. Pemeriksaan dalam :
Dilakukan diatas meja oprasi dan siap untuk segara mengambil
tindakan. Walaupun begitu, kita harus berhati-hati karena bahaya
yang sangan besar, bahaya pemeriksaan dalam dapat
menyebabkan perdarahan yang hebat, terjadi infeksi,
menimbulkan his dan kemudia terjadi partus premature, indikasi
pemeriksaan dalam, perdarahan banyak, lebih dari 500cc
perdarahan berulang-ulang, perdarahan sekali atau banyak,
sehingga H6 menjadi berkurang 8gr%, his telah ada dan janin
sudah dapat hidup diluar rahim. (Dianty Maternity,dkk, 2013)

F. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
Semua pasien atau ibu dengan perdarahan pervagina pada
kehamilan trimester ke-3 harus dirawat dirumah sakit tanpa
pemeriksaan dalam (touche vagina). Bila pasien dalam keadaan syok
karena perdarahan yang banyak, harus segera dilakukan perbaikan
keadaan umumnya dengan pemberian infuse atau transfusi darah.
Untuk itu dalam melakukan rujukan pasien dengan plasenta
previa, bidan harusnya mengambil sikap/ memperhatikan hal-hal
berikut ini :
a. Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untung tirah baring total dengan
menghadap ke kiri, tidak melakukan senggama, menghindari
penekanan tingkatan tekanan rongga perut (misalnya : batuk,
mengedan karna sulit buang air besar).
b. Pemasangan infuse untuk mengimbangi perdarahan
c. Sedapat mungkin diantar oleh petugas
d. Dilengkapi dengan keterangan secukupnya
e. Dipersiapkan donor darah untuk transfusi darah
Selanjutnya, penanganan atau penatalaksanaan plasenta previa
tergantung pada :
a. Keadaan umum pasien, kadar Hb
b. Jumlah perdarahan yang tinggi
c. Umur kehamilan/ taksiran berat badan janin
d. Jenis/ klasifikasi plasenta previa
e. Paritas dan kemajuan persalinan
2. Penatalaksanaan asuhan ibu dengan plasenta previa
a. Tujuan dari penatalaksanaan asuhan pasien/ ibu dengan plasenta
previa ini, antara lain :
1) Mencegah dan mengurangi timbulnya perdarahan baru
2) Mencegah terjadinya infeksi
3) Mempertahankan kesejahteraan janin dan bayi lahir sehat
4) Memperbaiki keadaan umum
5) Menyampaikan secara verbal pemahaman atas kondisi pasien
dan penatalaksanaan yang dilakukan
6) Mengidentifikasi dan menggunakan system pendukung yang
tersedia
7) Melakukan pembatasan aktifitas yang dianjurkan
8) Tidak ada implikasi yang berhubungan dengan perdarahan
9) Kehamilan mencapai/ mendeteksi
Pengkajian
Wanita/ ibu yang mengalami perdarahan pervagina pada
trimester ke-3 memerlukan evaluasi yang bersifat emergensi atau
darurat.Bidan/ perawat kebidanan perlu dilakukan pengkajian
riwayat perdarahan, yang meliputi kehamilan, paritas dan gambar
perdarahan (berapalama, kejadian yang menyebakan perdarahan,
ertimasi jumlah perdarahan).
Pengkajian lain yang perlu dikumpulkan oleh bidan atau
perawat kebidanan adalah status umum wanita, perkiraan umur
kehamilan, jumlah perdarahan, tanda-tanda vital dan status janin.
Pemeriksaan laboratorium yang meliputi darah lengkap, hitung
darah tepi, golongan darah, status Rh, profil koagulasi serta cross
match (contoh darah).
3. Penatalaksanaan asuhan kebidanan dirumah sakit
Penatalaksanaan ekspetatis atau yang diharapkan jika umum
kehamilan kurang dari 36minggu, tidak ada tanda-tanda persalinan,
perdarahan sedikit atau berhenti, penatalaksanaan yang diharapkan
adalah pengobatan yang umum (kolaborasi) untuk memberikan waktu
pada janin menjadi matur.
Penatalaksanaan yang diharapkan terdiri dari :
a. Istirahat atau observasi secara ketat. Ibu biasnya bedrest,
walaupun ia mampu kekamar mandi sendiri dan dibatasi
aktifitasnya. Bidan atau perawat kebidanan mengkaji perdarahan
dengan megecek jumlah perdarahan pada pembalut dan
menimbang beratnya pembalut. Meskipun tidak teratus dilakukan,
ini adalah merupakan cara tepat untuk mengkaji kehilangan darah,
dimana 1gram menunjukan 1mililiter darah.
b. Pemeriksaan USG yang biasanya dilakukan setiap 2/3minggu,
pemeriksaan vetal atau janin memiliki konsentres atau keadaan
biofisik 1/2kali seminggu.
c. Pemeriksaan laboratorium dievaluasi untuk mengetahui penurunan
hemoglobin (Hb) dan level hematokrit (Ht). dilakukan
pemasangan infuse atau pemberian heparin pada kasus perdarahan
atau terapi komponen darah. Obat-obatan untuk meningkatkan
maturitas vetal/ janin diberikan jika kehamilan kurang dari 34
minggu. Tidak boleh melakukan pemeriksaan dalam, seperti
pemeriksaan rectal, atau vagina atau pemasangan alat pada vagina
untuk bantuan pemeriksaan
d. Persiapan mental
Karena pasien/ ibu dengan plasenta previa ada yang berhari-hari
bahkan berminggu-minggu dirawat, maka sering kali pasien dan
keluarganya menjadi gelisah. Dalam hal ini bidan/ perawat
kebidanan harus memberikan motivasi kepada pasien/ ibu dan
keluarga mengenai :
1) Mengapa terjadi perdarahan dan harus dirawat
2) Kalau terjadi perdarahan ulang atau perdarahan baru, apa yang
akan di kerjakan oleh dokter
3) Apabila pasien/ ibu menolak untuk dirawat, komplikasi apa
yang akan terjadi
4) Memberikan kekuatan mental pada pasien/ ibu dan keluarga
dalam menghadapi ini
e. Jika usia kehamilan telah mencapai 37minggu dan paru janin telah
matur, persalinan seksio caesaria dijadwalkan
f. Selama dirawat dirumah sakit, pasien dengan plasenta previa
mungkin selalu dipertimbangkan kemungkinan adanya keadaan
emergensi/ kegawat daruratan karena perdarahan masih (terus
menerus dan banyak) dengan akibat syok hipovelemik yang dapat
terjadi segera. Hal ini membutuhkan persalinan section caesaria
secara emergensi.
g. Plasenta previa pada kehamilan preterm/ premature merupakan
indikasi untuk kepusat pelayanan perinatal karena ada beberapa
rumah sakit tidak memiliki persedian pelayanan persalinan seksio
caesaria emergensi 24jam atau 7hari dalam seminggu.

Penatalaksanaan aktif
a. Jika plasenta previa sudah didiagnosa, maka perencanaan
penatalaksanaan didasarkan atas umur kehamilan, jumlah
perdarahan dan kondisi janin
b. Jika umur kehamilan sudah atermdan ibu dalam masa persalinan
atau perdarahan terus menerus, maka persalinan secara seksio
caesaria secepatnya harus dilakukan
c. Jika pasien dengan plasenta previa parsial atau marginal yang
mengalami perdarahan minimal, persalinan melalui vagina dapat
dilakukan
d. Jika dilakukan persalinan seksio caesaria, bidan/ perawat
kebidanan secara terus menerusmengkaji keadaan ibu dan janin,
sementaraitu di persiapkan untuk pembedahan yang perlu
diperhatikan yaitu :
1) Mintalah ijin oprasi
2) Persiapkan donor untuk sewaktu-waktu bila ada perdarahan
berulang dan untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu
3) Lakukan perawatan lanjut pasca bedah termaksud
pemantauan perdarahan, infeksi dan keseimbangan cairan
masuk-keluar
e. Tanda-tanda vital ibu dikaji secara teratur untuk mengetahui
adanya penurunan tekanan darah, peningkatan nadi, perubahan
kesadaran dan oliguri/urine sedikit. Pengkajian pada janin
dipertahankan dengan monitoring fetal elektronik untuk mengkaji
adanya tanda hipoksia.
f. Perdarahan mungkin tidak berhenti dengan kelahiran bayi.
Pelebaran pembuluh darah pada segmen bawah rahim mungkin
terus menyebabkan perdarahan karena berkurangnya otot segmen
bawah rahim. Mekanisme natural mengontrol perdarahan jika
karakteristik otot uterus bagian atas terjalin dengan kuat, bukan
traksi mengelilingi pembuluh darah terbuka. Hal ini tidak ada pada
uterus bagian bawah. Perdarahan pasca partum mungkin akan
terjadi meskipun kontraksi fundus kuat
g. Dukungan emosional untuk pasien/ ibu dan keluarganya sangat
penting. Perdarahan aktif pada pasien tidak hanya mempengaruhi
keadaan pasien/ ibu, tetapi juga berpengaruh pada kesejahteraan
janin. Semua prosedur harus dijelaskan dan ada orang yang
mendukukng ibu. Pasien/ ibu sebaiknya didorong untuk
mengekspresikan perhatian dan perasaanya.
4. Penatalaksanaan dirumah
a. Kriteria untuk penatalaksanaan perawatan dirumah, harus diawasi
oleh petugas kesehatan (bidan atau perawat home care yang
kompeten). Pertimbangan untuk referral/ rujukan ibu dalam
kondisi yang stabil dengan tidak ada perdarahan aktif dan harus
mempunyai sumber untuk dapat kembali kerumah sakit dengan
cepat. Jika terjadi perdarahan aktif.
b. Ibu harus mempunyai supervise ketat dirumah dengan keluarga,
harus tahu bangaimana mengkaji keadaan janin dan aktifitas
uterus serta perdarahan dan menghindari intercause, douching dan
enema.ibu sebaiknya membatasi aktivitas sesuai yang dianjurkan
dokter dan mengikuti perjanjian untuk memperiksa janin,
pengkajian laboratorium dan perawatan prenatal. Kunjungan
dengan petugas kesehatan sebaiknya disusun
c. Jika perawatan dirumah dengan pembatasan aktivitas yang lama,
ibu sebaiknya memperhatikan tentang pekerjaan atau tanggung
jawab keluarga atau mungkin menjadi bosan tanpa aktivitas, ibu
sebaiknya didorong untuk berpartisipasiuntuk perawatan dirinya
dan keputusan tentang perawatan jika memungkinkan. Aktifitas
selingan perlu dianjurkan (seperti membaca, mendengarkan radio,
dan lain-lain) sehingga ibu merasa senang dan dapat
melakukannya selama tirah baring (bedrest). (Dianty
Maternity,dkk, 2013)