Anda di halaman 1dari 14

PENGENDALIAN HAMA

PENGGEREK TONGKOL JAGUNG (Helicoverpa Armigera)


TERHADAP TANAMAN JAGUNG(Zea Mays L)

PAPER

Oleh :

MUHAMMAD MULYADI
160301026
AGROEKOTEKNOLOGI I A

LABORATORIUM DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN SUB HAMA


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
F A K U L T A S P E R T A N I A N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E DAN
2017

PENGENDALIAN HAMA
PENGGEREK TONGKOL JAGUNG (Helicoverpa Armigera)
TERHADAP TANAMAN JAGUNG(Zea Mays L)

PAPER
Oleh :
MUHAMMAD MULYADI
160301026
AGROEKOTEKNOLOGI I A

Paper Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memenuhi Komponen Penilaian di


Laboratorium Agroklimatologi, Program Studi Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Diketahui Oleh : Diperiksa Oleh :


Asisten Koordinator Asisten Korektor

(Dicky Kurniawan ) ( Windi Pratiwi )


NIM. 130301041 NIM. 150301135

LABORATORIUM DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN SUB HAMA


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
F A K U L T A S P E R T A N I A N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E DAN
2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas

berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada

waktunya.

Adapun judul Paper ini adalah Pengendalian Hama Penggerek Tongkol

Jagung ( Helicoverpa Armigera) pada Tanaman Jagung ( Zea Mays L).

yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian di

Laboratorium Dasar Perlindungan TanamanProgram Studi Agroekoteknologi

Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen

penanggung jawab praktikumibu Dr.Ir Marheni, MP.selaku konsultan serta abang

dan kakak asisten yang telah membantu penulisdalam menyelesaikan paper ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini dapat

bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Maret 2017

Penulis,

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

Latar Belakang .........................................................................................


Tujuan Penulisan.......................................................................................
Kama Pengegunaan Penulisan

TINJAUAN PUSTAKA
Biologi Hama Pe

PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK TONGKOL JAGUNG


(Helicoverpa Armigera) PADA TANAMAN JAGUNG (Zea Mays L)
Kultur Teknis
Meka

KESIMPULAN

DAFTARB PUSTAKA

LAMPIRAN

PENDAHULUAN

Latar belakang

Jagung merupakan suatu tanaman yang memiliki peranan penting dalam


industri berbasis agribisnis. Dan tanaman jagung juga merupakan tanaman
semusim, yang bisa di panen 60-80 untuk tahun 2009, Deotan melalui Direktorat
Jendral Tanaman Pangan mengklaim produksi jagung mencapai 18 juta ton.
Jagung dimanfaatkan untuk konsumsi, bahan baku industri pangan, industri pakan
ternak dan bahan bakar. Kebutuhan jagung dari tahun ke tahun terus mengalami
peningkatan seiring berkembangnya industri pakan dan pangan namun hasil
produksi tanaman jagung terkadang tidak dapat memenuhi kebutuhan karena hasil
panen yang rendah( Adnan AM & Handayani. 2010).
Kendala dalam budidaya jagung yang menyebabkan rendahnya
produktivitas jagung antara lain adalah serangan hama. Hama merupakan salah
satu kendala utama dalam budidaya jagung. Banyak jenis hama dilaporkan pada
tanaman jagung, namun ada beberapa yang menjadi hama utama, yaitu yang dapat
menimbulkan kerusakan secara ekonomis. Beberapa hama utama pada jagung
yaitu lalat bibit, ulat grayak, penggerek tongkol, penggerek batang, belalang, kutu
daun, kumbang bubuk.
Penggerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera ) merupakan salah satu
hama utama yang menjadi permasalah di petani jagung karena sering
mengakibatkan gagal panen. Serangan hama ini akan menurunkan kualitas dan
kuantitas tongkol jagung.
Jagung merupakan tanaman berumah satu (monoecious), yaitu letak bunga
jantan terpisah dengan bunga betina dalam satu tanaman. Dalam taksonominya
jagung termasuk dalam ordo Tripsaceae, famili Poaceae, sub famili Panicoideae,
genus Zea, dan spesies Zea mays L, (Muhadjir, 1988).

. Hama utama tanaman jagung yang sering minimbulkan kerugian secara


kualitas dan kuantitatif adalah penggerek tongkol jagung Helicoverpa armigera.
Penggerek tongkol Helicoverpa armigera mulai muncul di pertanaman pada fase
generatif 43-70 hari setelah tanam. Ngengat H. armigera aktif pada malam
hari,ngengat betina meletakkan telurnya secara tunggal pada umur tanaman 45-56
hari setelah tanam bersamaan dengan munculnya rambut tongkol, dan mampu
bertelur 600-1000 butir. Telur baru menetas setelah 4-7 hari.Larva ini selain
menyerang tongkol juga menyerang pucuk dan menyerang malai sehingga bunga
jantan tidak terbentuk yang mengakibatkan hasil biji berkurang. Stadia pupa ada
di dalam tongkol, siklus hidupnya berkisar 36-45 hari (Kalshoven,1981).
Kehilangan hasil yang disebabkan serangan H. armigera dapat mencapai 10%
(Yasin,2008).
Pengendalian penggerek tongkol dapat dilakukan dengan cara pelepasan
parasitoid Trichogramma spp.Hasil uji coba di laboratorium didapatkan bahwa T.
evanescens dapat memarasit telur penggerek tongkol sebesar 92,3%
(Pabbage et al.,2001).

Tujuan Penulisan

Adapun kegunaan penulisan pepr ini adalah untuk mengetahui siklus hidup
dan gejala-gejala yang di timbulkan oleh hama penggerek tongkol jagung dan
bagaimana cara mengatasi hama penggerek tongkol jagung .

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan penulisan sebagai syarat untuk memenuhi komponen


penilaian di labortorium Dasar Perlindungan Tanaman Sub Hama Program Studi
Agroekoteknologi Fakultas pertanian Universitas Sumatera Utara.

TINJAUAN PUSTAKA

Biologi Hama Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa Armigera)


Menurut Kalshoven (1981), adapun klasifikasi dari Hama penggerek
Tongkol Jagung (Helicoverpa armigera Hubner) adalah sebagai baerikut :
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Class : Insecta Ordo : Lepidoptera
Family : Noctuidae Genus : Helicoverpa Spesies : Helicoverpa armigera Hubner
Telur Telur berbentuk bola dengan garis tengah kira-kira 0,5 mm. Pada waktu
diletakkan berwarna kuning dan kemudian berubah menjadi coklat selama
perkembangannya. Stadia telur 24 hari. Telur diletakkan secara satu diatas
rambut jagung, setelah menetas berpindah kebagian tongkol jagung yang masih
muda dan memakan langsung biji-biji jagung (Kalshoven, 1981).
Telur diletakkan ngengat betina secara tunggal pada seluruh bagian
tanaman, daun dan batang. Paling banyak diletakkan pada waktu tanaman sudah
keluar rambut (silk). Kurang lebih 1500 telur dapat diletakkan oleh ngengat betina
selama 14 hari dengan puncak peletakkan telur selama 7 hari. Lama stadia larva 2-
3 minggu (Surtikanti, 2006).
Larva yang baru menetas biasanya akan memakan jambul tongkol,
kemudian membuat lubang masuk ke dalam tongkol. Larva akan meninggalkan
kotoran pada tongkol dan akan menciptakan iklim yang cocok untuk pertumbuhan
jamur yang menghasilkan mikotoksin sehingga tongkol menjadi rusak. Larva
muda berwarna putih kekuning-kuningan dengan kepala hitam, stadium larva
berkisar antara 17-24 hari terdiri dari enam instar. Larva ini bersifat kanibal
sehingga jarang dijumpai lebih dari 2 larva dalam satu tongkol. Larva instar
terakhir akan meninggalkan tongkol dan membentuk pupa dalam tanah tetapi ada
juga yang berpupa didalam tongkol (Zaidun, 2005).

Siklus Hidup Hama Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa Armigera)


Siklus hidup, cendawan ini tidak dapat bertahan hidup secara saprofitik,
tidak terdapat tanda-tanda bahwa cendawan bertahan dalam tanah.Pertanaman
dibekas pertanaman yang terserang berat oleh bulai dapat sehat sama sekali. Oleh
karena itu cendawan terus bertahan dari musim ke musim pada tanaman hidup
(Semangun, 2004). Kehilangan hasil akibat serangan bulai pada tanaman jagung
dapat mencapai 30%, bahkan dapat mencapai kerusakan tanaman 100%
(Yasin,2008).

Gejala Serangan Hama Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa Armigera)


Gejala serangan ulat penggerek tongkol dimulai pada saat pembentukan
kuncup bunga, bunga dan buah muda. Larva masuk ke dalam buah muda,
memakan biji-biji jagung, karena larva hidup di dalam buah, biasanya serangan
serangga ini sulit diketahui dan sulit dikendalikan dengan insektisida
(Sarwono,dkk, 2001).

Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 10%. Meskipun
relatif rendah, serangannya mempengaruhi mutu tongkol jagung. Imago betina
akan meletakkan telur pada silk (rambut) jagung. Sesaat setelah menetas, larva
masuk ke dalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang berkembang.
Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung
(Said dkk., 2008).

Bila larva mulai menggerek buah, maka larva hanya sebentar untuk makan
buah tersebut dan kemudian pindah dan menyerang buah lain. Larva kadang kala
pindah dari satu buah ke buah lainnya dengan hanya memakan sedikit bagian dari
setiap buah. Larva lebih suka makan buah muda dan biasanya tidak menyerang
buah yang masak (Purba, 2005).

Penyebaran Hama Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa Armigera)

Berdasarkan siklus hidupnya cendawan M. anisopliae menginfeksi


serangga melalui kulit luar (integument) di antara ruas tubuh, selain itu juga dapat
melalui midgut yaitu makanan, alat pernapasan (trakea) dan luka. Tahapan infeksi
M. anisopliae pada tubuh inang, meliputi: 1) kejadian sebelum proses penetrasi
yang meliputi penempelan dan pertumbuhan prapenetrasi (perkecambahan), 2)
penetrasi ke dalam tubuh inang dan 3) pemapanan patogen dalam tubuh inang.
Penempelan konidia biasanya terjadi secara pasif dengan bantuan angin dan air,
sehingga terjadi kontak antara konidia dengan permukaan integument serangga
dalam waktu yang cukup lama untuk bisa berkecambah dan menginfeksi inang.
Perkecambahan konidia tergantung pada kelembaban, suhu, cahaya, dan nutrisi.
Konidia dapat berkecambah apabila terdapat sumber karbon seperti glukosa,
glucosamine, chitin, dan starch (pati). Konidia yang telah berkecambah harus
Universitas Sumatera Utara membentuk tabung kecambah (hifa penetran) yang
selanjutnya menembus integument untuk terus masuk ke dalam hemocell
(Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan, 1993)

. Proses penetrasi integument oleh hifa merupakan proses mekanis dan


kimiawi. Secara mekanis yaitu dengan kekuatan hifa untuk menembus kulit tubuh
serangga. Secara kimiawi yaitu mengeluarkan enzim seperti protease, lipase,
esterase, dan kitinase yang membantu dalam menghancurkan kutikula serangga
dan toksin seperti metarisin dan asam oksalat yang dalam mekanisme kerjanya
menyebabkan terjadinya kenaikan pH darah, penggumpalan darah, dan
terhentinya peredaran darah serangga. Proses selanjutnya, setelah masuk ke dalam
hemocell, cendawan akan membentuk tubuh hifa dan blastopora yang kemudian
ikut beredar dalam hemolimfa dan membentuk hifa sekunder untuk menyerang
jaringan lain seperti jaringan lemak, sistem syaraf, trakea, dan saluran pencernaan.
Adanya perubahan biokimia dalam hemolimfa terutama kandungan protein,
terjadinya defisiensi nutrient, adanya toksin yang dikeluarkan oleh cendawan dan
terjadinya kerusakan jaringan dalam tubuh serangga akan menyebabkan terjadinya
paralisis dan kematian pada serangga (Simamora dkk, 2010).

Virus yang dapat menurunkan populasi hama pada tanaman jagung ialah
virus HaNPV. NPV mempunyai inclusion yang terbuat dari matriks protein,
berbentuk seperti kristal tidak teratur, bersegi banyak, dan disebut polyhedrosis
inclusion body (PIB). NPV berdiameter rata-rata 0,5 1,5 um (Bergald dan
Ripper 1957). Di dalam PIB terdapat virus yang sebenarnya yang disebut virion.
Virion berbentuk tongkat lurus dengan panjang 26+5,8 virion (Gothama 1990).

PENGENDAIAN HAMA PENGGEREK TONGKOL JAGUNG (Helicoverpa


Armigera) PADA TANAMA JAGUNG (Zea Mays L)

Kultur Teknis

Hayati Platytelemonus sp.telah tercatat sebagai parasitoid telur S. inferens


di Sulawesi Selatan, sedangkan Braconidae dan Tetrastichus Israeli merupakan
parasitoid larva dan pupa. Larva juga dapat diinfeksi oleh cendawan B.bassiana
dan nematoda Neoplectana carpocapsae (Kalshoven 1981).
Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif
untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Trichogramma spp.
yangmerupakan parasitoid telur, di mana tingkat parasitasi pada hampir semua
tanaman inang H. armigera sangat bervariasi dengan angka maksimum 49%
(Mustea,1999).
Kultur Teknis Pengolahan tanah secara sempurna akan merusak pupa yang
terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. armigera berikutnya.
(Kalshoven 1981).

Mekanis/Fisik

Mekanik Pengambilan langsung dengan tangandapat dilakukan jika biaya


tenagakerja cukup murah. (Mustea,1999).

Musuh alami sebagai pengendali hayati serta cukup efektif untuk


mengendalikan penggerek tongkol adalah Parasit, Trichogramma sp. ( parasit
telur) atau Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit larva muda.
(Mustea,1999).

Biologi

Pengendalian penggerek tongkol dapat dilakukan dengan cara pelepasan


parasitoid Trichogramma spp.Hasil uji coba di laboratorium didapatkan bahwa T.
evanescens dapat memarasit telur penggerek tongkol sebesar 92,3%
(Pabbage et al.,2001).
Penyakit bulai merupakan penyakit utama tanaman jagung yang
disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora sp.Cendawan ini aktif menginfeksi
pada suhu udara 27oC keatas dengan Rh yang tinggi.Gejala yang ditimbulkan
adalah (1) pada tanaman yang berumur 2-3 minggu, daun kecil dan runcing,
kaku , pertumbuhan batang terhambat, warna daun kekuningan, sisi bawah daun
terdapat lapisan spora cendawan berwarna putih; (2) pada tanaman berumur 3-5
minggu, tanaman yang terserang mengalami gangguan pertumbuhan, daun terlihat
berklorotik, dimulai dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk;(3) pada
tanaman dewasa terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua
(Agrios,1997;Lucas,1998).
Konidium yang masih muda berbentuk bulat, dan yang sudah masak dapat
menjadi jorong, dengan ukuran 12 19 x 10 23 m dengan rata-rata 19,2 x 17,0
m untuk P. maydis sedangkan untuk P. philippinensis ukuran konidiofornya 260
580 m, konidiumnya berukuran 14 55 x 8 20 m dengan rata-rata 33,0 x
13,3 m. Adanya benang-benang cendawan dalam ruang antarselnya maka daun-
daun tampak kaku, agak menutup, dan lebih tegak (Semangun, 2004).
Kimia

Kimiawi Larva menyerang terutama pada batang sehingga aplikasi


insektisida sebaiknya dilakukan sebelum larva masuk ke dalam batang, yaitu
setelah adanya kelompok telur di bagian bawah daun pada saat menjelang
berbunga. Insektisida yang dapat digunakan antara lain adalah yang berbahan aktif
monokrotofos (Pabbage et all., 2007).
Pemberantasan yang dilakukan terhadap hama penggerek tongkol jagung
dapat dilakukan dengan menggunakan bahan kimia seperti pestisida.Pestisida di
semprotkan pada hama diharapkan hama yang menyerang pada tanaman jagung
tersebu mati sehingga penyebarannya tidak menyeluruh (Semangun, 2004).
Agak sulit mencegah kerusakan oleh serangga ini karena larva segera
masuk ke tongkol sesudah menetas. Untuk mengendalikan larva H. armigera pada
jagung, penyemprotan harus dilakukan setelah terbentuknya silk dan diteruskan
(1-2 hari) hingga jambul berwarna coklat. Untuk itu dibutuhkan biaya yang cukup
cukup mahal (Semangun, 2004).

KESIMPULAN

Dari hasil yang telah di bahas dapat di simpulkan bahwa tanaman jagung juga
merupakan tanaman yang rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Untuk
menghindari penurunan produksi pada tanaman jagung perlu diperhatikan
beberapa faktor yaitu pada pemilihan benih,diharapkan mengunakan varietas
ungul seperti varietas jagung Bt. Dan memperhatikan pemakaian pupuk yang
sesuai. Penerapan cara bercocok tanam yang baik untuk menghindari banyaknya
serangan hama dan penyakit pada tanaman budidaya.
Pada serangan hama Helicoverpa Armigera diperlukan langkah terpadu yang
tepat, karena serangannya berfluktuasi dari waktu ke waktu. Mengatur waktu
tanam bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghindari serangan hama ini.
Waktu tanam yang baik adalah pada awal musim hujan dan paling lambat empat
minggu sesudah mulai musim hujan.

DAFTAR PUSTAKA

Adnan AM & Handayani. 2010. Kemampuan Memangsa Cecopet (Euborellia


annulata Fabricus) terhadap Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa
armigera Hubner). Dalam Prosiding Pekan Serealia Nasional. . 2010.
Preferensi (Euborellia annulata Fabricus) terhadap Beberapa Stadia
Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa armigera Hubner). Dalam
Prosiding Pekan Serealia Nasional.

Agrios,1997. Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan.


1(1):15-28.

Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan, 1993 Pedoman


Pengembangan Beauveria bassiana. Direktorat Bina Perlindungan Tanaman
Perkebunan, Jakarta.

Gothama,1990. Konsentrasi Virus HaNPV Isolat Yogjakarta yang Efektif untuk


Mengendalikan Ulat Helicoperva armigera. Jurnal Pendidikan Matematika
dan Sains. Edisi 3 Tahun VIII.

Kalshoven, 1981. Potensi Parasitoid Telur sebagai Pengendali Hama Penggerek


Batang dan Penggerek Tongkol Jagung. Balai penelitian tanaman serealia,
Maros

Lucas,1998. Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan.


1(1):15-28.

Muhadjir, 1988.Biologi Tanaman Jagung .UGM Press.Yogyakarta

Mustea,1999. Pengendalian Hama Penggerek Tongkol Jagung Helicoverpa


armigera.

Pabbage et al.,2001. Pengendalian Hama Penggerek Tongkol Jagung Helicoverpa


armigera.

Pabbage et all., 2007. Pengendalian Hama Penggerek Tongkol Jagung


Helicoverpa armigera Hubner. (Lepidoptera : Noctuidae) dengan Beauveria
bassiana strain lokal Pada Pertanaman Jagung Manis Di Kabupaten
Donggala. J. Agroland. 15(2): 106-111.

Purba, 2005. Konsentrasi Virus HaNPV Isolat Yogjakarta yang Efektif untuk
Mengendalikan Ulat Helicoperva armigera. Jurnal Pendidikan Matematika
dan Sains. Edisi 3 Tahun VIII.

Purnamasari Y & Mia M. 2010. The Profile Of Middle Digestive Tract (Midgut)
Tissue Damage On Spodoptera Litura Fabricius Larvae Due To The
Infection Of Helicoverpa Armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV).
Department Of Biology Mathematic And Natural Science Facultative
University Of Padjadjaran.
Said dkk., 2008. Cendawan Metarhizium anisopliae Sebagai Pengendali Hayati
Ektoparasit Caplak dan Tungau Pada Ternak. Balai Penelitian Veteriner,
Bogor.

Sarwono,dkk, 2001. Pengendalian Hama Penggerek Tongkol Jagung Helicoverpa


armigera.

Semangun, 2004. Konsentrasi Virus HaNPV Isolat Yogjakarta yang Efektif untuk
Mengendalikan Ulat Helicoperva armigera. Jurnal Pendidikan Matematika
dan Sains. Edisi 3 Tahun VIII.
Simamora CJ., TH Ramadhan & I Hendarti. 2010. Persistensi Cendawan
Metarhizium anisopliae (Metsch.) Fakultas Pertanian. Universitas
Tanjungpura Pontianak. Pontianak.

Surtikanti, 2006. Potensi Parasitoid Telur sebagai Pengendali Hama Penggerek


Batang dan Penggerek Tongkol Jagung. Balai penelitian tanaman serealia,
Maros.

Yasin,2008, Pengendalian Hama Jagung Dengan Sistem Pengaturan Waktu Tanam Di


Lahan Kering Beriklim Basah. Dalam ProsidingTemu Teknis Nasional Tenaga
Fungsional Pertanian.

Zaidun, 2005. . Pengendalian Hama Jagung Dengan Sistem Pengaturan Waktu


Tanam Di Lahan Kering Beriklim Basah. Dalam ProsidingTemu Teknis
Nasional Tenaga Fungsional Pertanian.