Anda di halaman 1dari 6

TINGKAT SERANGAN HAMA PENGGEREK TONGKOL, ULAT GRAYAK, DAN BELALANG PADA JAGUNG DI SULAWESI SELATAN

Abdul Fattah 1) dan Hamka 2)

1) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan 2) Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan

ABSTRAK

Hama utama pada jagung yang banyak menimbulkan kerugian antara lain Heliothis armigera (pengerek tongkol jagung), ulat grayak (Spodoptera litura), dan belalang (Locusta nigratoria). Pengkajian bertujuan untuk mengetahui tingkat serangan hama utama jagung di Sulawesi Selatan. Kegiatan ini menggunakan dua sumber data yaitu data sekunder yang diambil dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura dan data primer yang diambil dari hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Sapanang, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, pada MK 2008. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan delapan perlakuan dan tiga ulangan. Jarak tanam 75 cm x 40 cm, 1 biji/lubang. Pupuk yang digunakan 250 kg urea + 300 kg SP-36 + 200 kg KCl. Hasil pengkajian menunjukkan intensitas tertinggi, serangan lima hama utama jagung di Sulawesi Selatan dari tahun 2006 sampai 2010, ditemukan pada hama belalang (963 ha), kemudian penggerek batang (865 ha). Dari luas serangan tersebut, intensitas serangan didominasi oleh kategori ringan (0-25%) (2362 ha). Hasil pengkajian pada beberapa varietas unggul jagung yang dipadukan dengan cara tanam TOT dan OTS di Kabupaten Pangkep menunjukkan bahwa intensitas serangan penggerek batang terendah ditemukan pada Srikandi Kuning + TOT (7,28%), Srikandi Kuning + OTS (9,14%), dan Sukmaraga + TOT (11,13%), sedangkan tertinggi ditemukan pada varietas Pulut/lokal + OTS (19,22%). Intensitas serangan penggerek tongkol jagung terendah ditemukan pada varietas Srikandi Kuning + TOT (10,31%) dan tertinggi pada varietas Pulut/lokal + OTS (22,50%). Intensitas serangan belalang terendah ditemukan pada Srikandi Kuning, Sukmaraga, dan Lamuru dengan cara tanam TOT (5,86-6,66%). Hasil tertinggi ditemukan pada varietas Sukmaraga dengan cara tanam TOT (7,90 t/ha) dan OTS (7,50 t/ha) dan Srikandi Kuning dengan cara tanam TOT (7,60 t/ha) dan OTS (7,20 t/ha).

Kata kunci: Jagung, hama utama, jagung, varietas, TOT, OTS

PENDAHULUAN

Jagung merupakan komoditas pangan penting kedua setelah padi yang mendapat prioritas utama dalam peningkatan ketahanan pangan di Indonesia. Upaya pengembangan jagung di Indonesia masih mendapatkan beberapa kendala termasuk faktor biotik dan abiotik. Faktor abiotik yang menjadi kendala dalam pengembangan jagung adalah perubahan iklim. Faktor biotik yang menjadi kendala adalah tingginya serangan hama dan penyakit. Jenis hama yang banyak menyerang tanaman jagung antara lain penggerek batang, penggerek tongkol (Heliothis armigera), ulat grayak (Spodoptera sp), belalang (Locusta

nigratoria), dan lain-lain. Hama belalang lebih banyak menyerang bagian daun tanaman jagung sehingga mengakibatkan daun menjadi berlubang atau sebagian daun menjadi berkurang, akibatnya proses fotosintesis menjadi terhambat sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman jagung. Hama H. armigera dan ult grayak (Spodoptera sp) keduanya termasuk hama yang bersifat polyphag (menyerang beberapa jenis tanaman) termasuk jagung (Kalshoven 1980). Selain hama tersebut yang menyerang tanaman jagung, jenis hama lain yang banyak menyerang tanaman jagung seperti penggrek batang jagung (Ostrinia furnacalis). Hama ini menyerang

382

Abdul Fattah dan Hamka : Tingkat Serangan Hama Penggerek Tongkol, Ulat Grayak, dan Belalang pada Jagung di Sulawesi Selatan

tanaman jagung baik pada fase vegetatif maupun fase generatif. Pada kondisi lingkungan yang mendukung, kehilngan hasil akibat serangan tersebut dapat mencapai 80% (Puslitbangtan 2009). Sedangkan serangan hama belalang di Sulawesi selatan dapat mengakibatkan pendapatan petani berkurang sampai 60% (Sadipun dan Sudjak 2005). Pengendalian hama utama jagung di tingkat petani masih mengandalkan penggunaan insektisida kimia. Namun sebenarnya penggunaan insektisida tersebut telah banyak menimbulkan dampak negatif seperti terbunuhnya organisme bukan sasaran. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mikroorganisme dalam pengendalian hama jagung tingkat efektifitasnya hampir sama dengan penggunaan insekitisda kimia. Hasil penelitian Nurkhasanah (2008), penggunaan Beuveria bacillus strain cukup efektif dalam mengendalikan penggerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera). Imago hama penggerek tongkol, satu ekor dapat menghasilkn 1000 butir telur. Pada stadia larva, memerlukan waktu sekitar 17-24 hari dengan 6 instar. Pupa terbentuk di dalam tanah dalam waktu 12-24 hari. Hama penggerek tongkol jagung ini dalam satu siklus hidupnya memerlukan waktu sekitar 35 hari (Wakman 2011).

BAHAN DAN METODE

Kegiatan ini menggunakan dua sumber data yaitu data sekunder dan primer. Data sekunder dikumpulkan dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura yang terkait dengan tingkat serangan penggerek batang. Sedangkan data primer diambil dari hasil pengkajian BPTP Sulsel yang dilaksanakan di Kelurhan Sapanang, Kec. Bungoro, Kabupaten Pangkep pada MK. 2008. Pengkajian tersebut merupakan pengujian varietas unggul baru jagung yang dipadukan dengan cara tanam TOT (Tanpa Olah Tanah) dan OTS (Olah Tanah Sempurna). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak

Kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dikaji : 1) Varietas Srikandi Kuning + TOT, 2) Sukmaraga + TOT, 3) Lamuru + TOT, 4) Lokal/pulut + TOT, 6 Srikandi Kuning + OTS, Sukmaraga + OTS, Lamuru + OTS, dan Lokal/Pulut + OTS. Varietas tersebut ditanam pada hamparan petani dengan luas 3,0 ha. Jarak tanam yang digunakan :

75 cm x 40 cm dengan 2 biji perlubang tanam. Pupuk organik digunakan sebagai penutup lubang dengan dosis 25 g per lubang tanam. Dosis pupuk yang digunakan : 250 kg/ha Urea + 300 kg/ha SP-36 + 200 kg/ha KCl. Pupuk SP-36 dan KCl seluruhnya diberikan pada saat pemupukan pertma (7 hari setelah tanam), sedangkan pupuk urea diberikan

½ bagian pada pemupukan pertama dan

½ bagian sisanya diberikan pada umur

tanaman 35 hst. Intenstias serangan hama belalang dan ulat grayak (daun) dihitung berdasarkan Rumus :

z

Σ (ni x vi)

i = o

I = ---------------------- x 100% Z x N

I

=

Intesitas serangan (%)

Ni

=

Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh dengan skala kerusakan vi

vi

=

Nilai skala kerusakan contoh ke-i

N

=

Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh yang diamati

Z = Nilai skala kerusakan tertinggi

Sedangkan

penggerek tongkol dan batang dihitung

dengan menggunakan Rumus :

hama

intensitas

serangan

a

I = ----------- x 100% a

I = Intensitas serangan (%)

a = Jumlah anakan terserang

b = Jumlah anakan sehat

+

b

383

Seminar Nasional Serealia 2011

HASIL DAN PEMBAHASAN

Luas Serangan Hama Utama Jagung

Luas serangan hama utama jagung selama 6 tahun terakhir (2005-2010) tertinggi (963 ha) ditemukan pada belalang (L. nigratoria), kemudian disusul penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dengan luas serangan 865 ha, ulat grayak (Spodoptera sp) dengan luas serangan 253 ha. Belalang merupakan hama yang menyerang daun tanaman. Pada kondisi serangan yang berat, daun tanaman tinggal kelihatan tulang- tulangnya sehingga mengakibatkan proses fotosintesis mengalami gangguan. Hal yang sama diungkapkan oleh Kalshoven (1980), bahwa hama belalang menyerang daun tanaman jagung, pada kondisi serangan berat, tinggal tulang- tulang daun. Hal ini akan menyebabkan terhambat proses fotosintesis sehingga pertumbuhan dan proses pembentukan

tongkol terhambat. Sedangkan menurut Kranz (1978), hama belalang menyerang beberapa tanaman seperti jagung, sorgum, tebu, padi dan lain-lain. Hama ini menyerang tanaman mulai dari daun muda sampai daun tua dan pada tingkat serangan yang berat, produksi tanaman dapat berkurang dan terkadang menjadi mati.

Penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis) merupakan hama kedua yang banyak merusak tanaman jagung di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian Puslitbangtan Bogor (2009), bahwa hama penggerek batang jagung ini dapat mengakibatkan kehilangan hasil sekitar 80% pada kondisi serangan yang berat. Selanjutnya Winasa dan Widodo (2010), hama penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis) dapat mengakibatkan kehilangan sekitar 20-80%.

1200

1000

800

600

400

200

0

963 865 459 356 253 Peng. Batang Ulat Grayak Peng.Tonggol Belalang Ulat Daun
963
865
459
356
253
Peng. Batang Ulat Grayak Peng.Tonggol
Belalang
Ulat Daun

Luas serangan (Ha)

Gambar 1. Luas serangan 5 hama utama jagung dari tahun 2005-2010 di Sulawesi Selatan

Sumber : Laporan BPTPH Maros (2010)

384

Abdul Fattah dan Hamka : Tingkat Serangan Hama Penggerek Tongkol, Ulat Grayak, dan Belalang pada Jagung di Sulawesi Selatan

Luas Setiap Kategori Serangan Hama Utama Jagung

Tingkat serangan 0-25% (kategori ringan) merupakan terluas ditemukan di Sulawesi Selatan sejak 2005-2010

dengan luas serangan tertinggi ditemukan pada hama belalang (918 ha) kemudian disusul hama penggerek batang (832 ha).

1000 918 900 832 Ringan (0-25%) 800 Sedang (26-50%) 700 Berat (51-75%) 600 Puso (76-100%)
1000
918
900
832
Ringan (0-25%)
800
Sedang (26-50%)
700
Berat (51-75%)
600
Puso (76-100%)
500
400
326
300
241
227
187
200
100
45
45
33
30
12
0
0
0
0
0
Peng.Batang
Ulat Grayak
Belalang
Pengg.Tongkol
Ulat Daun
Luas Serangan (ha)

Gambar 2. Intensitas serangan 5 hama utama jagung pada berbagai kategori dari tahun 2005-2010 di Sulawesi Selatan

Sumber : Laporan BPTPH Maros (2010)

1000 900 Peng.Batang 800 Ulat Grayak 700 600 Belalang 500 Peng.Tongkol 400 300 200 100
1000
900
Peng.Batang
800
Ulat Grayak
700
600
Belalang
500
Peng.Tongkol
400
300
200
100
0
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Luas Serangan (ha)

Gambar 3. Perkembangan luas serangan 5 hama utama jagung dari tahun 2005-2010 di Sulawesi Selatan Sumber : Laporan BPTPH Maros (2010)

385

Seminar Nasional Serealia 2011

Tingkat Serangan Hama Penggerek Batang dan Penggerek Tongkol Varietas Srikandi Kuning yang ditanam secara TOT memperlihatkan intensitas serangan hama penggerek batang paling rendah (7,28%), sedangkan tertinggi ditemukan pada varietas lokal/pulut yang ditanam secara OTS (Tabel 1). Ketahanan suatu varietas terhadap serangan hama ditentukan faktor genetik yang dimiliki oleh varietas tersebut. Menurut Dent (2000), ada dua faktor gen yang menentukan suatu tanaman tahan terhadap serangan yaitu gen horisontal resisten dan gen vertikal resisten. Pada Tabel 1 juga terlihat bahwa intensitas serangan hama penggerek tongkol terendah ditemukan pada varietas Srikandi Kuning yang ditanam secara TOT (10,31%) dan tertinggi pada varietas pulut yang ditanam secara OTS (22,50%). Hal ini membuktikan bahwa varietas Srikandi Kuning yang ditanam dengan cara TOT lebih tahan terhadap

hama penggerek batang dan penggerek tonggol. Penanaman secara TOT (Tanpa Olah Tanah) memperlihatkan intensitas serangan hama yang lebih rendah dibanding dengan penaman secara OTS (Olah Tanah Sempurna). Pada kegiatan penelitian yang dilakukan di Kelurahan Sapanang, Kabupaten Pangkep, menunjukkan bahwa, produksi yang dicapai 4 varietas yang dikaji tertinggi ditemukan pada varietas Sukmaraga yang ditanam secara TOT (7,90 t/ha) kemudian disusul varietas Srikandi Kuning yang ditanam secara TOT (7,60 t/ha). Hal ini sesuai hasil penelitian Pesireron dan Senewe (2011), varietas Sukmaraga memberi produksi tertinggi (12,02 t/ha) kemudian disusul varietas Srikandi Kuning (9,63 t/ha) pada kegiatan penelitian uji varietas/galur jagung komposit pada agroekosistem lahan kering di Maluku.

Tabel 1. Intensitas hama penggerek batang dan penggerek tongkol pada beberapa varietas yang dipadukan dengan cara tanam di Kelurahan Sapanang, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, 2008.

Perlakuan

Intensitas serangan penggerek batang (%)

Intensitas serangan penggerek tongkol (%)

Srikandi Kuning + TOT

7,28 a

10,31 a

Sukmaraga + TOT

11,13 b

12,60 b

Lamuru + TOT

12,12 c

14,43 bc

Srikandi Kuning + OTS

9,14 ab

13,39 b

Sukmaraga + OTS

13,32 c

15,67 cd

Lamuru + OTS

13,53 cd

17,39 d

Varietas Pulut/Lokal + TOT

15,48 d

19,22 e

Varietas Pulut/Lokal + OTS

19,22 e

22,50 f

Angka sekolom yang diikuti oleh huruf sama tidak berbeda nyata menurut Uji Duncan 5%

Tabel 2. Intensitas serangan hama belalang dan produksi pada beberapa varietas yang dipadukan dengan cara tanam di Kelurahan Sapanang, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep,I 2008.

Perlakuan

Intensitas serangan belalang (%)

Produksi (t/ha)

Srikandi Kuning + TOT

5,86 a

7,60 cd

Sukmaraga + TOT

6,66 a

7,90 d

Lamuru + TOT

5,49 a

6,68 b

Srikandi Kuning + OTS

9,40 b

7,20 c

Sukmaraga + OTS

11,23 bc

7,50 cd

Lamuru + OTS

12,61 c

6,54 b

Varietas Pulut/Lokal + TOT

13,20 c

4,30 a

Varietas Pulut/Lokal + OTS

15,24 d

4,52 a

Angka sekolom yang diikuti oleh huruf sama tidak berbeda nyata menurut Uji Duncan 5%

386

Abdul Fattah dan Hamka : Tingkat Serangan Hama Penggerek Tongkol, Ulat Grayak, dan Belalang pada Jagung di Sulawesi Selatan

KESIMPULAN

1. Serangan 5 hama utama terluas pada jagung dari tahun 2005-2010 di Sulawesi Selatan ditemukan pada hama belalang (963 ha), kemudian disusul penggerek batang jagung (865 ha). Serangan hama utama tersebut, terluas tetapi pada kategori ringan (2.362 ha), kemudian disusul kategori sedang (347 ha).

2. Di Sapanang, Kabupaten Pangkep MT 2008, intensitas serangan penggerek batang jagung terendah ditemukan pada varietas Srikandi Kuning + TOT (7,28%) dan tertinggi pada varietas pulut/lokal (19,22%).

3. Intensitas serangan penggerek tonggol jagung terendah ditemukan pada varietas Srikandi Kuning + TOT (10,31%) dan tertinggi pada varietas pulut/lokal (22,50%).

4. Intensitas serangan belalang terendah ditemukan pada Srikandi Kuning + TOT (5,86%), Sukmaraga + TOT (6,66%), dan Lamuru + TOT

(5,49%).

DAFTAR PUSTAKA

Dent, D. 2000. Host Plant Resistance. Insect Pest Management. 2 ND Edition.

Kalshoven. 1981. Hama pada jagung. Pests of Crops in Indonsia :278-

280.

Kranz, J. 1987. Locusta migratoria spp. Diseases, Pests and Weeds in Tropical Crops : 277-279.

Sadipun, M. dan M. Sudjak. 2005. Dampak serangan hama belalang terhadap pendapatan petani

jagung di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Prosiding. Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan XVI. Perhimpunan Entomologi Indonesia dan Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Komisariat Daerah Sulawesi Selatan. Maros 22 Nopember 2005 : 114-119.

Nurkhasanah. 2008. Pengendalian hama penggerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera Hubner) dengan Beuveria bacillus strain local pada pertanaman jagung manis di Kabupaten Donggala. Agroland. Vol. 15. No. 2.

Pesireron, M. dan R. Senewe. 2011. Keragaan 10 vrietas/galur jagung komposist dan Hibrida pada agroeksositem lahan kering di Maluku. Jurnal Budidaya Pertanian. Vol.7. No.2. Desember 2011 : 53-

59.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 2009. Hama utama pda tanaman jagung. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Wakman, W. 2011. Teknologi pengendalian hama-penyakit jagung di lapangan dan gudang. Perhimpunan Entomologi Indonesia, Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Komisariat Daerah Sulawesi Selatan.

Winasa dan Widodo. 2010. Pengendalian terpadu hama dan penyakit tanaman pada jagung. Institute Pertanian Bogor.

387

Seminar Nasional Serealia 2011