Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Latar belakang
Jahe (Zingiber officinale Rosc.) adalah tanaman herba tahunan yang bernilai
ekonomi tinggi. Tanaman ini umumnya dipanen pada kisaran umur 8-12 bulan,
tergantungkeperluan. Kalau untuk konsumsi segar, misalnya untuk bumbu masak,
jahe dipanen pada umur 8 bulan. Kalau untuk keperluan bibit dipanen umur
10bulanatau lebih. Namun bila untuk keperluan asinan jahe dan jahe awet,
tanamanjahe dipanen pada umur muda yakni 3-4 bulan. Jahe juga diperlukan untuk
bahan baku obat tradisional dan fitofarmaka. Keuntungan bersih usaha
budidayatanaman jahe bisa mencapai Rp 21 juta lebih/ha.(Asman et al. 1991)

Permintaan pasar di dalam negeri untuk keperluan berbagai industri belum


bisa dipenuhi, sehingga Indonesia masih mendatangkan jahe dari China. Permintaan
pasar akan ekspor jahe cukup banyak, di antaranya, Indonesia belum dapat memenuhi
permintaan jahe gajah negara Belanda sebanyak 40 ton setiap bulan(Dedi et al,1991)

Melihat keuntungan usahanya yang tinggi dan prospek pasarnya yang baik,
jahe layak diusahakan/dibudidayakan secara intensif. Agar budidaya jahe berhasil
dengan baik diperlukan bahan tanaman dengan jaminan produksi dan mutu yang baik
serta stabil dengan cara menerapkan budidaya anjuran. (Farry B. et al,1995)
Tanaman jahe digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasapada
produk seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai minuman. Diindustri
obat, jahe digunakan sebagai minyak wangi dan jamu tradisional, jahemuda
dimakan sebagai lalapan, diolah menjadi asinan dan acar, serta digunakansebagai
bahan minuman seperti bandrek, sekoteng dan sirup. Khasiatmengkonsumsi jahe
dalam tubuh sebagai peluruh dahak atau obat batuk, peluruhkeringat, peluruh haid,
pencegah mual, penambah nafsu makan, membuang angin,memperkuat lambung,
memperbaiki pencernaan dan menghangatkan badan(Sutrisno, 2010).

Salah satu pengolahan jahe yang sering dilakukan adalah


minumanberbentuk bubuk yang dapat dikonsumsi hanya dengan menambahkan
air panastanpa dimasak bersamanya (Rukmana, 2000). Pengolahan bubuk jahe
telahbanyak dikenal oleh masyarakat. Bubuk Jahe adalah suatu sediaan yang
siapdikonsumsi (siap saji) dengan penambahan air hangat atau air panas
danpenambahan satu atau lebih bahan tambahan, sehingga bubuk jahe lebih
disukaioleh masyarakat dan rasanya juga lebih enak. Jahe bubuk menghasilkan
produkyang dapat larut dalam air tanpa pembentukan gumpalan, mudah
dibasahi dancepat larut. Jahe bubuk berlangsung melalui proses berulang serbuk
yangdiperoleh dan diakhiri dengan pengeringan (Restiani, 2009).

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan paper ini adalah Untuk mengetahui
Hubungan Antara Suhu tanah Terhadap jahe (Zingiber officinale Rosc.)

Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan dari penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat
untuk memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Agroklimatologi Program
Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan sebagai
bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Jahe(Zingiber officinale Rosc.)
Jahe (Zingiber officinale Rosc.) merupakan tanaman obat berupa tumbuhan
rumpun berbatang semu. Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (zingiberaceae),
satu famili dangan Temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma xanthorrizha),
temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit, (Curcuma domestica), kencur
(Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga), dan lain-lain. Jahe merupakan
rempah-rempah Indonesia yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama
dalam bidang kesehatan. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India
sampai Cina. Sistematika TanamanRimpang Jahe : Divisi : Spermatophyta
Subdivisi :Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Musales Family :
Zingiberaceae Genus : Zingiber Spesies : Zingiber officinale Rosc. ( Paimin dan
Murhanato, 2008).
Akar merupakan bagian terpenting dari tanaman jahe. Pada bagian ini tumbuh
tunas-tunas baru yang kelak akan menjadi tanaman. Akar tunggal (rimpang) tertanam
kuat didalam tanah dan makin membesar dengan pertambahan usia serta membentuk
rhizoma-rhizoma baru (Rukmana, 2000).
Jahe tumbuh merumpun, berupa tanaman tahunan berbatang semu. Tanaman
tumbuh tegak setinggi 30-75 cm. Batang semu jahe merah berbentuk bulat kecil,
berwarna hijau kemerahan dan agak keras karena diselubungi oleh pelepah daun (Tim
Lentera, 2002).
Panjang daunnya 15-23 cm dan lebar 0,8-2,5 cm. Tangkainya berbulu atau
gundul. Ketika daun mengering dan mati, pangkal tangkainya (rimpang) tetap hidup
dalam tanah. Rimpang tersebut akan bertunas dan tumbuh menjadi tanaman baru
setelah terkena hujan . Rimpang jahe berbuku-buku, gemuk, agak pipih, membentuk
akar serabut. Rimpang tersebut tertanam dalam tanah dan semakin membesar sesuai
dengan bertambahnya usia dengan membentuk rimpang-rimpang baru. Di dalam sel-
sel rimpang tersimpan minyak atsiri yang aromatis dan oleoresin khas jahe (Andoko,
2005).
Rimpang yang akan digunakan untuk bibit harus sudah tua minimal berumur
10 bulan. Ciri-ciri rimpang tua antara lain kandungan serat tinggi dan kasar, kulit licin
dan keras tidak mudah mengelupas, warna kulit mengkilat menampakkan tanda
bernas. Rimpang yang terpilih untuk dijadikan benih, sebaiknya mempunyai 2 - 3
bakal mata tunas yang baik dengan bobot sekitar 25 -60 g untuk jahe putih besar, 20 -
40 g untuk jahe putih kecil dan jahe merah. Kebutuhan bibit per ha untuk jahe merah
dan jahe emprit 1-1,5 ton, sedangkan 11 jahe putih besar yang dipanen tua
membutuhkan bibit 2-3 ton/ha dan 5 ton/ha untuk jahe putih besar yang dipanen
muda (Rostiana dkk., 2005)

Syarat Tumbuh
Iklim
Menanam jahe merupakan kegiatan yang mudah untuk dilakukan baik
dalam pemeliharaan maupun pemanenan. Untuk mendapatkan tanaman jahe yang
baik dan sehat ada tiga faktor penting dalam pembudidayaan jahe yaitu a) iklim :
pada awal pertumbuhan sampai umur 4 bulan tanaman jahe membutuhkan curah
hujan yang tinggi 900-4000 mm/tahun dan suhu udara yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan jahe 25-30 ketinggian tempat : tanaman jahe dapat tumbuh
pada daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2000 m dari permukaan laut
tanah : tanah yang baik untuk pertumbuhan jahe adalah tanah yang
gembur,subur, mengandung organik tinggi, dan drainase yang baik. Tekstur
tanah yangbaik untuk pertumbuhan jahe adalah lempung berpasir, liat berpasir
dan laterik(Syukur, 2001)
Penanaman jahe sebaiknya dilakukan pada musim hujan, karena tanaman jahe
memerlukan curah hujan yang tinggi. Jarak tanam yang baik adalah 25-50 cm dalam
barisan dan 45-60 cm antar barisan. Setelah itu pemberian mulsa pada tanaman
jahe bertujuan untuk melindungi tunas yang baru muncul ke permukaan tanah.
Kemudian pemberian pupuk NPK, pemupukan tanaman jahe yang baik
diberikan pada umur 1-4 bulan. Pemeliharaan tanaman jahe dilakukan dengan
pembumbunan yang bertujuan agar rimpang yang mulai terbentuk dapat tumbuh
dengan baik dan tidak muncul ke permukaaan tanah, dan penyiangan bertujuan
untuk memberantas gulma menggunakan tangan, arit, dan cangkul. Kemudian
dilakukan pemberantasan hama, penyakit, dan tanaman jahe siap panen (Paimin dan
Murhananto, 1991
Dalam pemeliharaan maupun pemanenan. Untuk mendapatkan tanaman jahe
yangbaik dan sehat ada tiga faktor penting dalam pembudidayaan jahe yaitu a) iklim :
pada awal pertumbuhan sampai umur 4 bulan tanaman jahe membutuhkan curahhujan
yang tinggi 900-4000 mm/tahun dan suhu udara yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan jahe 25-30 ketinggian tempat : tanaman jahe dapat tumbuh pada
daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2000 m dari permukaan laut c) tanah
: tanah yang baik untuk pertumbuhan jahe adalah tanah yang gembur,subur,
mengandung organik tinggi, dan drainase yang baik. Tekstur tanah yangbaik
untuk pertumbuhan jahe adalah lempung berpasir, liat berpasir dan
laterik(Syukur, 2001).

Tanah
Tanaman jahe (Zingiber officinale Rosc.)membutuhkan tanah yang subur,
gembur, banyak mengandung bahan organik, bersolum dalam, aerase dan
draenasenya baik. Keadaan tanah yang kurang memenuhi syarat tumbuh tanaman
kentang dapat berpengaruh negatif (Dalimunthe, H, et.al, 2013).
Menjaga mutu tanah diakui sebagai landasan untuk mempertahankan potensi
produksi tanaman.Pengelolaan tanah yang berhasil ditunjukkan dengan adanya
peningkatkan karakteristik mutu tanah, serta lazimnya dapat mengurangi variasi hasil
panen dari tahun ke tahun. Untuk mempertahankan agar hasil panen jahe (Zingiber
officinale Rosc.) tetap tinggi dan tidak berfluktuasi dari waktu ke waktu, diperlukan
pengelolaan kesuburan tanah. Perhitungan kebutuhan perlu dikoreksi dengan
mempertimbangkan tingkat kesuburan yang ada sekarang. Oleh karena itu perlu
dilakukan analisis tanah untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan
hara yang diperukan oleh tanaman kentang.(Yuwono, N.W, et.al, 2012)
Lapisan keras akan menyebabkan genangan air dan perakaran kentang tidak
dapat menembus lapisan kedap air. Tanamanjahe lebih(Zingiber officinale Rosc)
menyukai hidup di tanah-tanah vulkanis (andosol) yang gembur dan banyak
mengandung humus atau tanah subur. Tanah lempung berpasir dan subur, rasa umbi
kentang lebih enak dan kandungan karbohidratnya lebihtinggi (Yuwono, N.W, et.al,
2012).

HUBUNGAN SUHU TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN


JAHE(Zingiber officinale Rosc.)

Pengertian Suhu Tanah

Panas di dalam tanah merupakan keadaan yang timbul akibat adanya radiasi
sinar matahari, panas bumi, reaksi-reaksi kimia di dalam tanah maupun aktifitas
biologi di dalam tanah. Adanya panas di dalam tanah diukur menggunakan istilah
suhu tanah(Lubis, K. 2007).
Suhu tanah merupakan panas dinginnya tanah hasil dari keseluruhan radiasi
yang merupakan kombinasi emisi panjang gelombang dan aliran panas dalam tanah.
Suhu tanah juga disebut intensitas panas dalam tanah dengan satuan derajat celcius,
derajat farenheit, derajat kelvin dan lain-lain. (Putro, B.T.W, 2010)
Suhu tanah sangat bervariasi, sejalan dengan perubahan proses pertukaran
energi matahari, terutama melalui permukaan tanah. Parameter tanah yang
mempengaruhi suhu antara lain kapasitas panas spesifik, penghantar panas,
difusivitas panas, serta sumber dan keluaran panasinternal pada waktu tertentu
(Budhyastoro, T, et,al, 2010).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Suhu Tanah

Iklim berpengaruh langsung atas suhu tanah dan keairan tanah serta berdaya
pengaruh tidak langsung pula lewat vegetasi. Energi pancar matahari menentukan
suhu badan pembentuk tanah dan dengan demikian menentukan laju pelapukan bahan
mineral dan dekomposisi serta humifikasi bahan organic (Notohadiprawiro, T, 2006).
Suhu tanah meningkat dengan kedalaman yang disebabkan pada malam hari
lapisan yang lebih dekat dengan permukaan melepaskan kalor ke atmosfer lebih
banyak sehingga pada pagi hari suhu tanah di lapisan yang lebih dangkal menjadi
lebih rendah (Koesmaryono, et.al, 2004).
Fluktuasi temperatur permukaan tanah dipengaruhi oleh perubahan suhu
atmosfir di atas permukaan tanah. Hal ini dapat dijelaskan karena suhu bertambah
tinggi, jumlah dan luas daun semakin besar, sehingga radiasi matahari yang sampai di
permukaan tanah terhalang menyebabkan evaporasi pada tanah meningkat
(Sudaryono, 2004).
Penggunaan mulsa memberikan berbagai keuntungan, baik dari aspek biologi,
fisik maupun kimia tanah. Secara fisik mulsa mampu menjaga suhu tanah lebih stabil
dan mampu mempertahankan kelembaban di sekitar perakaran tanaman. Penggunaan
mulsa akan mempengaruhi suhu tanah. Mulsa dapat memperbaiki tata udara tanah
dan meningkatkan pori-pori makro tanah sehingga kegiatan jasad renik dapat lebih
baik dan ketersediaan air dapat lebih terjamin bagi tanaman (Utama, R, et.al, 2013).
Faktor yang mempengaruhi suhu tanah, yaitu faktor luar (eksternal) seperti
radiasi matahari, keawanan, curah hujan, angin, kelembaban udara, dan factor dalam
(internal) seperti tekstur tanah, struktur dan kadar air tanah, kandungan bahan
organik, dan warna tanah (Kartasapoetra, 2004).

Epek kelebihan dan kekurangan suhu tanah terhadap tanaman jahe(Zingiber


officinale Rosc)

Suhu tanah berpengaruh pada tanaman. Pengaruh suhu tanah terhadap


tanaman, yaitu pada perkecambahan biji, aktivitas mikroorganisme, dan
perkembangan penyakit tanaman (Kartasapoetra, 2004).
Lingkungan tumbuh tanaman jahe mempengaruhi produktivitas dan mutu
rimpang/umbi, karena pembentukan rimpang ditentukan terutama oleh kandungan air,
oksigen tanah dan intensitas cahaya. Tipe iklim (curah hujan), tinggi tempat dan jenis
tanah merupakan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih daerah/lahan
yang cocok untuk menanam jahe.( Yuhono et al,1991)
Fluktuasi suhu dalam tanah akan berpengaruh langsung terhadap aktivitas
pertanian terutama proses perakaran tanaman didalam tanah. Apabila suhu tanah naik
akan berakibat berkurangnya kandungan air dalam tanah sehingga unsur hara sulit
diserap tanaman., sebaliknya jika suhu tanah rendah maka akan semakin
bertambahnya kandungan air dalam tanah, dimana sampai pada kondisi ekstrim
terjadi pengkristal (Yuwono, N.W; et.al, 2012).
Peningkatan suhu terutama suhu tanah dan iklim mikro di sekitar tajuk
tanaman akan mempercepat kehilangan lengas tanah terutama pada musim kemarau.
Pada musim kemarau, peningkatan suhu iklim mikro tanaman berpengaruh negatif
terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama pada daerah yang lengas
tanahnya terbatas. Pengaruh negatif suhu terhadap lengas tanah dapat diatasi melalui
perlakuan pemulsaan (mengurangi evaporasi dan transpirasi) (Yuwono, N.W; et.al,
2012).
Pembentukan rimpang akan terhambat pada tanah dengan kadar liat tinggi dan
drainase (pengairan) kurang baik, demikian juga pada intensitas cahaya rendah dan
curah hujan rendah. Peranan air dalam perkembangan umbi/rimpang sangat besar,
sehingga apabila kekurangan air akan sangat menghambat perkembangan umbi.
(Hasanah. et al, 1991)

Suhu Optimum untuk Tanaman Jahe(Zingiber officinale Rosc.)


Faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan jahe: Air; Berfungsi untuk
melarutkan cadangan makanan, sarana transportasi makanan terlarut, dan hormon ke
daerah meristematik (titik tumbuh) serta bersama dengan hormon membangun
pemanjangan dan pengembangan sel. Cahaya; Cahaya merupakan faktor pengendali
pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan terutama berperan dalam proses
berlangsungnya fotosintesis. Suhu; Suhu berperan dalam mengontrol perkecambahan
dan pertumbuhan vegetatif. Sehubungan dengan perkecambahan proses imbibisi
berlangsung lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi (Siregar, 2010).
Pada suhu rendah (minimum) pertumbuhan tanaman jahe menjadi lambat
bahkan terhenti, karena kegiatan enzimatis dikendalikan oleh suhu. Suhu tanah yang
rendah akan mengakibatkan absorbs air dan unsur hara terganggu,karena transpirasi
meningkat. Apabila kekurangan air ini terus menerus tanaman akan rusak. Hubungan
suhu tanah yang rendah dengan dehidrasi dalam jaringan tanaman adalah apabila
suhu tanaman rendah viskositas air naik dalam membrane sel, sehingga aktivitas
fisiologis sel-sel akar menurun (Lubis, 2007).
Suhu tanah yang rendah akan berpengaruh langsung terhadap populasi
mikroba tanah. Laju pertumbuhan populasi mikroba menurun dengan menurunnya
suhu sampai di suhu 00C, sehingga banyak proses penguraian bahan organic dan
mineral essensial dalam tanah yang terhalang. Aktivitas nitrobacteria menurun
dengan menurunnya suhu, sehingga proses nitrifikasi berkurang (Khairani, 2008).
Fluktuasi suhu dalam tanah akan berpengaruh langsung terhadap aktivitas
pertanian terutama proses perakaran tanaman didalam tanah. Apabila suhu tanah naik
akan berakibat berkurangnya kandungan air dalam tanah sehingga unsur hara sulit
diserap tanaman, sebaliknya jika suhu tanah rendah maka akan semakin
bertambahnya kandungan aiar dalam tanah, dimana sampai pada kondisi ekstrim
terjadi pengkristalan. Akibatnya aktivitas akar/respirasi semakin rendah
mengakibatkan translokasi dalam tubuh tanaman jadi lambat sehingga proses
distribusi unsure hara jadi lambat dan akhirnya pertumbuhan tanaman jadi lambat.
Demikian pula dengan suhu yang terlalu tinggi terjadi aktivitas negatif seperti terjadi
pembongkaran/perusakan organ. Suhu maksimal dan minimal berpengaruh terhadap
hasil produksi. Hal inilah yang menyebabkan hasil panen padi Indonesia menjadi
rendah (Sianturi, 2009).
Tanaman jahe(Zingiber officinale Rosc.) yang tumbuh pada kondisi suhu
dibawah batas optimum akan menghasilkan pertumbuhan yang kurang baik dan
produksinya akan lebih rendah. Hal ini disebabkan pada suhu yang rendah besarnya
fotosentesis yang dihasilkan dan protein yang dibentuk dalam keadaan minimum
berakibat pertumbuhan dan perkembangan lambat dan produksinya rendah (Siregar,
2010).
Hubungan Suhu Tanah Terhadap Pertumbuhan Jahe(Zingiber officinale Rosc.)
Suhu tanah berhubungan dengan proses penyerapan unsur hara oleh akar,
fotosintesis, dan respirasi. Untuk mendapatkan hasil yang maksimum tanaman jahe
(Zingiber officinale Rosc.)membutuhkan suhu optimum yang relatif rendah, terutama
untuk pertumbuhan umbi, yaitu 15,6C sampai 17,8C dengan suhu rata rata 15,5 C.
Dengan penambahan suhu 10 C, respirasi akan bertambah dua kali lipat. Jika suhu
meningkat, laju pertumbuhan tanaman meningkat sampai mencapai maksimum. Laju
fotosintesis juga meningkat sampai mencapai maksimum, kemudian menurun. Pada
waktu yang sama laju respirasi secara bertahap meningkat dengan meningkatnya
suhu. Kehilangan melalui respirasi lebih besar daripada tambahan yang dihasilkan
oleh aktivitas fotosintesis. Akibatnya, tidak ada peningkatan hasil netto dan bobot
kering tanaman dan umbi menurun (Mariani, N, 2011).
Salah satu faktor pembatas produktivitas jahe di dataran medium, adalah suhu
yang tinggi, terutama suhu tanah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kentang
yang ditanam di daerah dengan suhu tinggi menghasilkan produktivitas yang lebih
tinggi dibandingkan dengan daerah bersuhu rendah (Handayani, T, et.al, 2011).
Suhu tanah yang baik untuk pertumbuhan umbi adalah 14,9 sampai 17,7C.
Suhu tanah berhubungan dengan proses penyerapan unsur hara oleh akar, fotosintesis
dan respirasi (Utama, R, et.al, 2013). Tanaman jahe akan tumbuh dengan baik pada
daerah yang tingkat curah hujannya antara 2500-4000 mm/tahun dengan 7-9 bulan
basah, dan pH tanah 6,8-7,4. Pada lahan dengan pH rendah bisa juga untuk menanam
jahe, namun perlu diberikan kapur pertanian (kaptan) 1-3 ton/ha atau dolomit 0,5-2
ton/ha.( Otih. R et al 1991)
Tanaman jahe akan tumbuh dengan baik pada daerah yang tingkat curah
hujannya antara 2500-4000 mm/tahun dengan 7-9 bulan basah, dan pH tanah 6,8-7,4.
Pada lahan dengan pH rendah bisa juga untuk menanam jahe, namun
perlu diberikan kapur pertanian (kaptan) 1-3 ton/ha atau dolomit 0,5-2 ton/ha.( Otih.
R et al 1991)
Tanaman jahe dapat dibudidayakan pada daerah yang memiliki ketinggian 0-
1500 m dpl (di atas permukaan laut), namun ketinggian optimum (terbaik) 300-900 m
dpl. Di dataran rendah (< 300 m dpl), tanaman peka terhadap serangan penyakit,
terutama layu bakteri. Sedang di dataran tinggi diatas 1.000 m dpl pertumbuhan
rimpang akan terhambat/kurang terbentuk.( Otih. R et al,2005)

KESIMPULAN
1.Suhu tanah adalah hasil dari keseluruhan radiasi yang merupakan kombinasi emisi
panjang gelombangdan aliran panas dalam tanah.
2.Faktor yang mempengaruhi suhu tanah adalah radiasi, konduksi, kondensasi,
peguapan, curah hujan, dan vegetasi.
3.Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jahe yaitu air, cahaya dan suhu,iklim
4.Pada suhu rendah (minimum) pertumbuhan tanaman jahe menjadi lambat bahkan
terhenti, karena kegiatan enzimatis dikendalikan oleh suhu.
5.Fluktuasi suhu dalam tanah akan berpengaruh langsung terhadap aktivitas pertanian
terutama proses perakaran tanaman jahe didalam tanah.