Anda di halaman 1dari 35

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas
berkat-Nya penyelesaian makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini ditulis dengan tujuan untuk menambah ilmu pengetahuan serta
sebagai tugas akhir semester mata kuliah Kepemimpinan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Magister Manajemen Universitas Mulawarman yang
diberikan oleh Prof. Dr. H. Sukisno S. Riadi, SE., MM.

Kepada semua pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung


yang telah membantu memberikan referensi-referensi untuk bahan penulisan
makalh ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Akhirnya kepada seluruh pembaca makalah ini, penulis senantiasa


terbuka untuk menerima kritik dan saran demi penyempurnaan dalam penulisan
makalah berikutnya, dan semoga makalah ini bermanfaat untuk para pembaca.

Samarinda, April 2017

Penulis

KEPEMIMPINAN Page 3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.......................................................................... 3

1.2. Tujuan Pembahasan................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Kepemimpinan........................................................ 5
2.2. Teori Kepemimpinan................................................................. 7
2.3. Tipe dan Gaya Kepemimpinan ................................................. 11
2.4. Tugas Kepemimpinan .............................................................. 16
2.5. Fungsi Kepemimpinan.............................................................. 17
2.6. Model Kepemimpinan............................................................... 20
2.7. Indikator Kepemimpinan.......................................................... 23
2.8. Kepemimpinan Efektif.............................................................. 24
2.9. Kepemimpinan Karismatik Soekarno....................................... 28

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan............................................................................... 34

DAFTAR PUSTAKA

KEPEMIMPINAN Page 3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam
menjalani kehidupan ini, manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta
dengan lingkungannya. Manusia selalu hidup berkelompok baik dalam
kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.
Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah, untuk menciptakan
kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling
menghormati dan menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup
yang teratur adalah impian setiap insan, menciptakan dan menjaga kehidupan
yang harmonis adalah tugas manusia.
Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan
social manusia pun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan
sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin,
paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri.
Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri,
kelompok dan lingkungannya dengan baik. Khususnya dalam
penanggulangan masalah yang relatif sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang
pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan
dengan baik.
Kepemimpinan merupakan salah satu fungsi manajemen yang sangat
penting untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam semua kelompok dalam
masyarakat, baik itu keluarga, perkumpulan olah raga, unit kerja, maupun
organisasi lainnya, terdapat seseorang yang paling berpengaruh dan dapat
dikatakan sebagai pemimpin. Organisasi akan kurang efisien tanpa pemimpin,
bahkan tidak mampu mencapai tujuan yang ditentukan. Kepemipinan
menghadapi berbagai faktor dalam organisasi seperti struktur, tatanan, koalisi,
kekuasaan dankondisi lingkungan, disamping itu, kepemimpinan dapat
menjadi alat pemecahan terhadap beberapa persoalan dalam organisasi.

KEPEMIMPINAN Page 3
Karena pentingnya kepemimpinan inilah, maka kepemimpinan menjadi
perhatian para ahli.
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dan kelangsungan
organisasi adalah kuat tidaknya kepemimpinan. Kegagalan dan keberhasilan
suatu organisasi banyak ditentukan oleh sosok pemimpin karena pemimpin
merupakan pengendali penentu arah yang hendak ditempuh olehsuatu
organisasi menuju tujuan yang hendak dicapai.
Kepemimpinan perlu memadukan bebarapa konsep dan gaya
kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi keluarga, kelompok, masyrakat,
organisasi ataupun lingkungan kerja agar kepemimpinan yang ideal dapat
tercapai. Perilaku pemimpin yang positif dan cukup ideal dapat mendorong
kelompok dalam mengarahkan dan memotivasi individu untuk bekerjasama
dalam kelompok dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi. Karena
sentralnya peran kepemimpinan tersebut maka pengembangan kemampuan
pemimpin perlu dikaji lebih dalam agar setiap individu dapat
mengembangkan diri untuk menjadi pemimpin yang ideal.
Karena kepemimpinan merupakan kekuatan aspirasional, kekuatan
semangat, dan kekuatan moral yang kreatif, yang mampu mempengaruhi para
anggota untuk mengubah sikap, sehingga mereka dapat bekerja sesuai dengan
keinginan pemimpin. Seperti yang dikemukakan oleh Mitfah Toha (1993:297)
bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku yang digunakan oleh
seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang
lain.

1.2. TUJUAN PEMBAHASAN


1. Menjelaskan kepemimpinan dalam sebuah organisasi
2. Menganalisa teori-teori dan tipe kepemimpinan
3. Memahami fungsi dan tugas seorang pemimpin
4. Menggambarkan model dan indikator kepemimpinan
5. Menerapkan kategori-kategori kepemimpinan yang efektif.

KEPEMIMPINAN Page 3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN


Dari berbagai literatur terdapat banyak sekali pendapat dari para ahli
mengenai definisi kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan adalah
terjemahan dari kata leadership yang berasal dari kata leader.
Pemimpinan (leader) adalah orang yang memimpin, sedangkan pimpinan
merupakan jabatannya. Dalam pengertian lain, secara etimologi istilah
kepemimpinan berasal dari kata dasar pimpin yang artinya bimbing atau
tuntunan. Dari pimpin lahirlah kata kerja memimpin yang artinya
membimbing dan menuntun.

Menurut Robbins :
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok
anggota agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Sumber dari pengaruh
dapat diperoleh secara formal, yaitu dengan menduduki suatu jabatan
manajerial yang didudukinya dalam suatu organisasi.

Fiedler berpendapat :
Leader as the individual in the group given the task of directing and
coordinating task relevant group activities. Dari pengertian tersebut
menunjukkan bahwa seseorang pemimpin adalah anggota kelompok yang
memiliki kemampuan untuk mengarahkan dan mengkoordinasikan kinerja
dalam rangka mencapai tujuan. Fiedler dalam hal ini lebih menekankan pada
directing and coordinating.

Kotter berpendapat bahwa :


Kepemimpinan adalah seperangkat proses yang terutama ditujukan
untuk menciptakan organisasi atau menyesuaikannya terhadap keadaan-
keadaan yang jauh berubah. Kepimpinan menentukan seperti apa seharusnya

KEPEMIMPINAN Page 3
masa depan itu, mengarahkan kepada visi, dan memberikan inspirasi untuk
mewujudkannya.

Menurut Malayu Hasibuan :


Kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin mempengaruhi
perilaku bawahan, agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk
mencapai tujuan organisasi.

Sedangkan menurut Rost, Joseph C :


Kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi
di antara pemimpin dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan
nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya.

Locke, melukiskan kepemimpinan sebagai suatu proses membujuk


(inducing) orang lain menuju sasaran bersama. Definisi ini mencakup tiga
hal:
1. Kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi (relation concept).
Kepemimpinan hanya ada dalam proses relasi dengan dengan orang lain
(para pengikut). Apabila tidak ada pengikut maka tidak ada pemimpin.
2. Kepemimpinan merupakan suatu proses. Agar bisa memimpin, pemimpin
harus melakukan sesuatu.
3. Kepemimpinan harus membujuk orang-orang untuk mengambil tindakan.
Pemimpin membujuk pengikutnya melalui berbagai cara, seperti
menggunakan otoritas yang terlegitimasi, menciptakan model (menjadi
teladan), penetapan sasaran, memberi imbalan dan hukuman, dan
mengkomunikasikan visi.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa


pengertian kepemimpinan (leadership) adalah kemampuan untuk
menggerakan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan,
menasehati, membina membimbing, melatih, menyuruh, memerintah,

KEPEMIMPINAN Page 3
melarang, dan bahkan menghukum (kalau perlu) dengan maksud agar
manusia sebagai bagian dari organisasi mau bekerja dalam rangka mencapai
tujuan dirinya sendiri dan organisasi secara efektif dan efisien. Pengertian ini
menunjukkan bahwa dalam kepemimpinan terdapat tiga unsur yaitu
pemimpin (leader), anggota (followers), dan situasi (situation).

Sedangakn menurut Pancasila, Pemimpin harus bersikap sebagai


pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya. Dengan
kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah :

Ing Ngarsa Sung Tuladha:


Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan
dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Ing Madya Mangun Karsa:
Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan
berkreasi pada orang-orang yang dibimbingnya.
Tut Wuri Handayani:
Pemimpin harus mampu mendorong orang-orang yang diasuhnya
berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.

2.2. TEORI KEPEMIMPINAN


Banyak studi dilakukan tentang kepemimpinan, dan hasilnya adalah
berupa rumusan, konsep, dan teori kepimpinan. Studi dan rumusan
kepemimpinan yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh paradigma dan
pendekatan yang digunakan sehingga teori-teori yang dihasilkan mempunyai
perbedaan dalam hal metodologi, pendapat dan uraiannya, penafsiran, dan
kesimpulannya. Berikut ini adalah beberapa teori tentang kepemimpinan yang
dirangkum oleh Kartini Kartono.

KEPEMIMPINAN Page 3
2.2.1. Teori Otokratis dan Pemimpin Otokratis
Kepemimpinan dalam teori ini didasarkan atas perintah-perintah,
paksaan, dan tindakan-tindakan yang arbitrer (sebagai wasit). Ia melakukan
pengawasan yang ketat, agar semua pekerjaan berlangsung secara efisien.
Kepemimpinannya berorientasi pada struktur organisasi dan tugas-tugas.
Pemimpin tersebut pada dasarnya selalu mau berperan sebagai pemain orkes
tunggal dan berambisi untuk merajai situasi. Karena itu, dia disebut otokrat
keras. Pada intinya otokrat keras itu memiliki sifat-sifat tepat, seksama,
sesuai dengan prinsip, namun keras dan kaku. Pemimpin tidak pernah akan
mendelegasikan otoritasnya. Lembaga atau organisasi yang dipimpinnya
merupakan a one-man show. Dengan keras ia menekankan prinsip-prinsip
business is busines, waktu adalah uang untuk bisa makan, orang harus
bekerja keras, yang kita kejar adalah kemenangan mutlak. Sikap dan
prinsipnya sangat konservatif. Pemimpin hanya akan bersikap baik terhadap
orang-orang yang patuh serta loyal dan sebaliknya, dia akan bertindak keras
dan kejam terhadap mereka yang membangkang.

2.2.2. Teori Psikologis


Teori ini menyatakan bahwa fungsi seorang pemimpin adalah
memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk
merangsang kesediaan bekerja para pengikut dan anak buah. Pemimpin
merangsang bawahan agar mereka mau bekerja, guna mencapai sasaran-
sasaran organisatoris dan untuk memenuhi tujuan-tujuan pribadi. Oleh karena
itu, pemimpin yang mampu memotivasi orang lain akan sangat
mementingkan aspek-aspek psikis manusia, seperti pengakuan (recognizing),
martabat, status sosial, kepastian emosional, memperhatikan keinginan dan
kebutuhan pegawai, kegairahan kerja, minat, suasana, dan hati.

2.2.3. Teori Sosiologis


Kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk melancarkan
antarelasi dalam organisasi dan sebagai usaha untuk menyelesaikan setiap

KEPEMIMPINAN Page 3
konflik organisatoris antara para pengikutnya. Agar tercapai kerja sama yang
baik, pemimpin menetapkan tujuan-tujuan, dengan menyertakan para
pengikut dalam pengambilan keputusan terakhir. Selanjutnya juga
mengidentifikasi tujuan, dan kerap kali memberikan petunjuk yang
diperlukan bagi para pengikut untuk melakukan setiap tindakan yang
berkaitan dengan kepentingan kelompoknya.

2.2.4. Teori Suportif


Menurut teori ini, para pengikut harus berusaha sekuat mungkin dan
bekerja dengan penuh gairah, sedangkan pemimpin akan membimbing
dengan sebaik-baiknya melalui policy tertentu. Maksudnya pemimpin perlu
menciptakan suatu lingkungan kerja yang menyenangkan, dan bisa membantu
mempertebal keinginan setiap pengikutnya untuk melaksanakan pekerjaan
sebaik mungkin, sanggup bekerja sama dengan pihak lain, mau
mengembangkan bakat dan keterampilannya, dan menyadari benar keinginan
untuk maju. Teori suportif ini biasa dikenal dengan teori partisipatif atau teori
kepemimpinan demokratis.

2.2.5. Teori Laissez Faire


Kepemimpinan laissez faire ditampilkan seorang tokoh ketua dewan
yang sebenarnya tidak mampu mengurus dan dia menyerahkan tanggung
jawab serta pekerjaan kepada bawahan atau kepada semua anggota.
Pemimpin adalah seorang ketua yang bertindak sebagai simbol. Pemimpin
semacam ini biasanya tidak memiliki keterampilan teknis.

2.2.6. Teori Kelakuan Pribadi


Kepemimpinan jenis akan muncul berdasarkan kualitas-kualitas
pribadi atau pola-pola kelakuan para pemimpinnya. Teori ini menyatakan
bahwa seorang pemimpin selalu berkelakuan kurang lebih sama, yaitu tidak
melakukan tindakan-tindakan yang identik sama dalam setiap situasi yang
dihadapi. Pemimpin dalam kategori ini harus mampu mengambil langkah-

KEPEMIMPINAN Page 3
langkah yang paling tepat untuk suatu masalah. Sedangkan masalah sosial itu
tidak akan pernah identik sama di dalam runtunan waktu yang berbeda.

2.2.7. Teori Sifat Orang-orang Besar (Traits of Great Men)


Cikal bakal seorang pemimpin dapat diprediksi dan dilihat dengan
melihat sifat, karakter, dan prilaku orang-orang besar yang terbukti sudah
sukses dalam menjalankan kepemimpinannya. Sehingga ada beberapa ciri
unggul sebagai predisposisi yang diharapkan akan dimiliki oleh seseorang
pemimpin, yaitu memiliki intelegensi tinggi, banyak inisiatif, energik, punya
kedewasaan emosional, memiliki daya persuasif dan keterampilan
komunikatif, mimiliki kepercayaan diri, peka, kreatif, mau memberikan
partisipasi sosial yang tinggi dan lain-lain.

2.2.8. Teori Situasi


Teori situasi berpandangan bahwa munculnya seorang pemimpin
bersamaan masa pergolakan, kritis seperti revolusi, pemberontakan dan lain-
lain. Pada saat itulah akan muncul seorang pemimpin yang mampu mengatasi
persoalan-persoalan yang nyaris tidak dapat diselesaikan oleh orang-orang
biasa. Pemimpin semacam ini muncul sebagai penyelamat dan cocok untuk
situasi tertentu. Dalam bahasa lain biasa dikenal dengan satrio peningit,
orang pilihan atau imam mahdi.

2.2.9. Teori Humanistik/Populistik


Fungsi kepemimpinan menurut teori ini ialah merealisir kebebasan
manusia dan memenuhi setiap kebutuhan insani, yang dicapai melalui
interaksi pemimpin dengan rakyat. Untuk melakukan hal ini perlu adanya
organisasi yang baik dan pemimpin yang baik, yang mau memperhatikan
kepentingan dan kebutuhan rakyat. Organisasi tersebut juga berperan sebagai
sarana untuk melakukan kontrol sosial, agar pemerintah melakukan fungsinya
dengan baik, serta memperhatikan kemampuan dan potensi rakyat.

KEPEMIMPINAN Page 3
2.3. TIPE DAN GAYA KEPEMIMPINAN
Gaya artinya sikap, gerakan, tingkah laku, sikap yang elok, gerak-
gerik yang bagus, kekuatan, kesanggupan untuk berbuat baik. Sedangkan
gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk
mempengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai. Dalam pengertian
lain gaya kepemimpinan adalah pola prilaku dan strategi yang sering disukai
dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin.
Selanjutnya gaya kepemimpinan adalah pola menyeluruh dari
tindakan seorang pemimpin, baik yang tampak maupun yang tidak tampak
oleh bawahannya. Gaya kepemimpinan menggambarkan kombinasi yang
konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat dan sikap yang mendasari prilaku
seseorang. Gaya kepemimpinan yang menunjukkan, secara langsung dan
tidak langsung, tentang keyakinan seorang pemimpin terhadap kemampuan
bawahannya. Artinya, gaya kepemimpinan adalah prilaku dan strategi,
sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yang sering
diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinerja
bawahannya.
Terdapat beberapa gaya kepemimpinan atau sering juga disebut
dengan tipe kepemimpinan yaitu:

2.3.1. Tipe Kepemimpinan Karismatik


Dalam kepemimpinan karismatik memiliki energi, daya tarik dan
wibawa yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia
mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal
yang bisa dipercaya. Sampai sekarang pun orang tidak mengetahui benar
sebab-sebabnya mengapa seseorang itu memiliki karisma besar. Dia dianggap
mempunyai kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-
kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang
Maha Kuasa. Dia banyak memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan
teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepribadian pemimpin itu
memancarkan pengaruh dan daya tarik yang teramat besar. Tokoh-tokoh besar

KEPEMIMPINAN Page 3
semacam ini antara lain: Jengis Khan, Hitler, Gandhi, John F. Kennedy,
Soekarno, Margaret Tacher, dan Gorbachev.

2.3.2. Tipe Paternalistis


Yaitu tipe kepemimpinan kebapakan, dengan sifat-sifat antara lain
sebagai berikut:
1. Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau
anak-anak sendiri yang perlu dikembangkan.
2. Bersikap terlalu melindungi (overly protective).
3. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil
keputusan sendiri.
4. Hampir-hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan
untuk berinisiatif.
5. Tidak memberikan atau hampir-hampir tidak pernah memberikan
kesempatan kepada pengikut dan bawahan untuk mengembangkan
imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri.
6. Selalu bersikap maha-tahu dan maha benar.

2.3.3. Tipe Militeristis


Tipe ini bersifat kemiliteran, namun hanya gaya luaran saja yang
mencontoh militer. Tetapi jika dilihat lebih seksama, tipe ini mirip sekali
dengan tipe kepemimpinan otoriter. Sifat-sifat pemimpin yang militeristis
antara lain ialah:
1. Lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando, terhadap
bawahannya sangat keras, otoriter, kaku, dan seringkali kurang bijaksana.
2. Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
3. Sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda
kebesaran berlebihan.
4. Tidak menghendaki saran, usulan, sugesti, dan kritikan-kritikan dari
bawahannya.
5. Komunikasi hanya berlangsung searah.

KEPEMIMPINAN Page 3
2.3.4. Tipe Otokratis
Kepemimpinan ini mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan
yang mutlak dan harus dipenuhi. Pemimpin selalu mau berperan sebagai
pemain tunggal. Pada a one man show, dia sangat berambisi untuk merajai
situasi. Setiap perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa berkonsultasi dengan
bawahannya. Anak buah tidak pernah diberi informasi mendetail mengenai
rencana dan tindakan yang harus dilakukan. Semua pujian dan kritik terhadap
segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi pemimpin sendiri.

2.3.5. Tipe Laissez Faire


Pada tipe kepemimpinan laissez faire ini sang pemimpin praktis tidak
memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semau
sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan
kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh
bawahan sendiri. Dia merupakan pemimpin simbol, dan biasanya tidak
memiliki keterampilan teknis sebab duduknya sebagai direktur atau
pemimpin ketua dewan, komandan, atau kepala biasanya diperoleh melalui
penyogokan, suapan atau sistem nepotisme.

2.3.6. Tipe Populistis


Profesor Peter Worsley dalam bukunya the third world mendefiniskan
kepemimpinan populistis sebagai kepemimpinan yang dapat membangunkan
solidaritas rakyat misalnya Soekarno dengan ideologi marhaenismenya, yang
menekankan masalah kesatuan nasional, nasionalisme, dan sikap yang
berhati-hati terhadap kolonialisme dan penindasan-penindasan serta
penguasaan oleh kekuatan-kekuatan asing (luar negeri).
Kepemimpinan populistis ini berpegang teguh kepada nilai-nilai
masyarakat tradisional. Juga kurang mempercayai dukungan kekuatan serta
bantuan hutang-hutang luar negeri (asing). Kepemimpinan jenis ini
mengutamakan penghidupan (kembali) nasionalisme. Dan oleh Profesor S.N
Einsentadt, populisme erat dikaitkan dengan modernitas-tradisional.

KEPEMIMPINAN Page 3
2.3.7. Tipe Administratif atau Eksekutif
Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu
menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Sedangkan para
pemimpinnya terdiri dari teknokrat dan administratur yang mampu
menggerakan dinamika modernisasi dan pembangunan. Dengan demikian,
dapat dibangun sistem administrasi dan birokrasi yang efisien untuk
memerintah, yaitu untuk memantapkan integritas bangsa pada khususnya, dan
usaha pembangunan pada umumnya. Dengan kepemimpinan administratif ini
diharapkan adanya perkembangan teknis, yaitu teknologi, industri,
manajemen modern dan perkembangan sosial di tengah masyarakat.

2.3.8. Tipe Demokratis


Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia, dan
memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat
koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa
tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerja sama yang baik.
Kekuatan kepemimpinan demokratis ini bukan terletak pada person atau
individu pemimpin, tetapi kekuatan justru terletak pada partisipasi aktif dari
setiap kelompok.
Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu dan
mendengarkan nasihat dan sugesti bawahan. Juga bersedia mengakui keahlian
para spesialis dengan bidangnya masing-masing, mampu memanfaatkan
kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang
tepat. Kepemimpinan demokratis sering disebut sebagai kepemimpinan group
developer.
Selanjutnya, setiap pemimpin mempunyai sifat, kebiasaan,
tempramen, watak, kepribadian sendiri yang unik dan khas, sehingga tingkah
laku dan gayanya-lah yang membedakan dirinya dengan orang lain. Gaya
atau style hidupnya ini pasti akan mewarnai prilaku kepemimpinannya.
Berbeda dengan pembagian gaya kepemimpinan di atas, Sudarwan
Danim membagi tipe/gaya kepemimpinan, yaitu:

KEPEMIMPINAN Page 3
1. Pemimpin otokratik yaitu prilaku atau sikap yang ditampilkan pemimpin
ingin menang sendiri dimana ia berasumsi bahwa maju mundurnya
organisasi hanya tergantung pada dirinya, di samping mempunyai sikap
tertutup terhadap ide dari luar, dan menganggap idenya yang dianggap
akurat.
2. Pemimpin demokratis yaitu pemimpin yang mempunyai sikap/prilaku
keterbukaan dan berkeinginan memosisikan pekerjaan dari, oleh, dan
untuk bersama. Tipe ini bertolak dari asumsi bahwa hanya dengan
kekuatan kelompok, tujuan yang bermutu dapat dicapai oleh organisasi.
3. Kepemimpinan permisif, yaitu sikap pemimpin yang tidak mempunyai
pendirian kuat, dimana sikapnya serba membolehkan, serba mengiyakan,
tidak ambil pusing, tidak bersikap dalam makna sesungguhnya, dan
cenderung apatis.
4. Kepemimpinan transformasional, yaitu setiap tindakan yang dilakukan
oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah
kepada individu atau kelompok lain yang tergabung dalam wadah tertentu
untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Sementara itu, Lukman Saksono membagi tipe kepemimpinan ke
dalam beberapa tipe:
1. Kepemimpinan yang memberi arahan, termasuk penentuan tujuan/sasaran,
pemecahan persoalan, pengambilan keputusan, dan perencanaan.
2. Kepemimpinan yang bersifat pengamalan/pelaksanaan, termasuk
berkomunikasi, berkoordinasi, supervisi, dan evaluasi. Di mana ia semua
diarahkan untuk mencapai tujuan.
3. Kepemimpinan yang memberi motivasi, termasuk menerapkan prinsip
motivasi serta menghargai tingkah laku yang mengarah pada pencapaian
tujuan organisasi, termasuk memberikan pelajaran dan bimbingan.

2.4. TUGAS KEPEMIMPINAN


Tugas seorang pemimpin dalam sebuah organisasi adalah membawa
anggota organisasi untuk bekerja bersama sesuai dengan tanggung jawabnya

KEPEMIMPINAN Page 3
masing-masing dan membawa organisasi ke arah pencapaian tujuan yang
diharapkan. Selain itu, tugas pemimpin organisasi adalah mengawasi,
membenarkan, meluruskan, memandu, menterjemahkan, menetralisir,
mengorganisasikan, dan mentransformasikan kebutuhan dan harapan anggota
organisasi. Dalam konteks nilai dan norma sosial, tugas pemimpin adalah
membuat organisasi sebagai suatu sistem sosial yang menyenangkan bagi
anggota organisasinya, organisasi menjadi satu tempat berinteraksi dan
aktualisasi diri bagi anggotanya.
Pemimpin organisasi mempunyai kekuasaan tertentu yang
dilimpahkan kepadanya. Kekuasaan tersebut merupakan alat dalam
menjalankan tugas kepemimpinannya. Oleh karena itu, agar tugas
kepemimpinannya dapat berjalan dengan baik maka digunakan strategi.
Strategi yang dipilih bergantung kepada seberapa tinggi pengetahuan dan
keterampilan pimpinan dalam membuat dan mengembangkan serta memilih
strategi yang cocok.
Strategi yang dapat digunakan agar dapat menjalankan
kepemimpinannya, yaitu:
1. Pemimpin harus menggunakan strategi yang fleksibel;
2. Pemimpin harus menjaga keseimbangan dalam menentukan kebutuhan
jangka panjang dan jangka pendek;
3. Pemilihan strategi harus yang memberikan layanan terhadap lembaga; dan
4. Kegiatan yang sama dapat digunakan untuk beberapa aksi dalam strategi.
Kekuasaan (personal power) tidak banyak berarti untuk menjalankan
efektivitas dalam mempengaruhi orang lain/anggota organisasi. Personal
power harus diramu dengan personal behavior dan keterampilan untuk
mempengaruhi anggota organisasi. Sebab kekuasaan personal pimpinan
sesungguhnya sangat bergantung kepada kemampuan/keterampilan yang
dimiliki pemimpin.

KEPEMIMPINAN Page 3
2.5. FUNGSI KEPEMIMPINAN
Fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan situasi sosial
dalam kehidupan kelompok/organisasi masing-masing yang mengisyaratkan
bahwa setiap pemimpin berada di dalam dan bukan di luar situasi itu. Fungsi
kepemimpinan merupakan gejala sosial karena harus diwujudkan dalam
interaksi antar individu di dalam situasi sosial suatu kelompok atau
organisasi. Fungsi kepemimpinan memiliki dua dimensi, yaitu: pertama,
dimensi yang berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan (direction)
dalam tindakan atau aktivitas pemimpin. Kedua, dimensi yang berkenaan
dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan orang-orang yang
dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi.
Secara operasional fungsi kepemimpinan dapat dibedakan dalam lima
fungsi pokok, yaitu:

2.5.1. Fungsi Instruksi


Fungsi ini bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai
komunikator merupakan pihak yan menentukan apa, bagaimana, bilamana,
dan dimana perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara
efektif. Kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan untuk
menggerakkan dan memotivasi orang lain agar mau melaksanakan perintah.

2.5.2. Fungsi Konsultasi


Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah. Pada tahap pertama dalam
usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerapkali memerlukan bahan
pertimbangan yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang
dipimpinnya yang dinilai mempunyai berbagai bahan informasi yang
diperlukan dalam menetapkan keputusan. Tahap berikutnya konsultasi dari
pimpinan pada orang-orang yang dipimpin dapat dilakukan setelah keputusan
ditetapkan dan sedang dalam pelaksanaan. Konsultasi itu dimaksudkan untuk
memperoleh masukan berupa umpan balik (feed back) untuk memperbaiki

KEPEMIMPINAN Page 3
dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan
dilaksanakan.

2.5.3. Fungsi Partisipasi


Dalam menjalankan fungsi ini, pemimpin berusaha mengaktifkan
orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil
keputusan maupun dalam melaksanakannya. Partisipasi tidak berarti bebas
melakukan semaunya, tetapi dilakukan secara terkendali dan terarah berupa
kerja sama dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain.
Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai pemimpin dan
bukan pelaksana.

2.5.4. Fungsi Delegasi


Fungsi delegasi dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan
wewenang membuat/menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan
maupun tanpa persetujuan dari pimpinan. Fungsi delegasi pada dasarnya
berarti kepercayaan. Orang-orang penerima delegasi itu harus diyakini
merupakan pembantu pemimpin yang memiliki kesamaan prinsip, persepsi,
dan aspirasi.

2.5.5. Fungsi Pengendalian


Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses
(efektif) mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam
koordinasi yang efektif sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama
secara maksimal. Fungsi pengendalian dapat diwujudkan melalui kegiatan
bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.
Seluruh fungsi kepemimpinan tersebut diselenggarakan dalam
aktivitas kepemimpinan secara integral, yaitu pemimpinan berkewajiban
menjabarkan program kerja, mampu memberikan petunjuk yang jelas,
berusaha mengembangkan kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat,
mengembangkan kerja sama yang harmonis, mampu memecahkan masalah

KEPEMIMPINAN Page 3
dan mengambil keputusan masalah sesuai batas tanggung jawab masing-
masing menumbuhkembangkan kemampuan memikul tanggung jawab, dan
pemimpin harus mendayagunakan pengawasan sebagai alat pengendali.
Selain fungsi-fungsi tersebut, dalam praktik kinerja organisasi
pemimpin dapat berfungsi:
a. Membantu terciptanya suasana persaudaraan, kerja sama, dengan penuh
rasa kebebasan.
b. Membantu kelompok untuk mengorganisir diri, yaitu ikut serta dalam
memberikan rangsangan dan bantuan kepada kelompok dalam menetapkan
dan menjelaskan tujuan.
c. Membantu kelompok dalam menetapkan prosedur kerja, yaitu membantu
kelompok dalam menganalisi situasi untuk kemudian menetapkan
prosedur mana yang paling praktis dan efektif.
d. Bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan bersama dengan
kelompok. Pemimpin memberi kesempatan kepada kelompok untuk
belajar dari pengalaman. Pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk
melatih kelompok menyadari proses dan isi pekerjaan yang dilakukan dan
berani menilai hasilnya secara jujur dan objektif.
e. Bertanggung jawab dalam mengembangkan dan mempertahankan
eksistensi organisasi.

Pemimpin ideal adalah pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut:


1. Adil, yaitu yang meletakan segala sesuatu secara profesional, tertib, dan
disiplin. Pemimpin yang tidak berat sebelah, tidak pilih-pilih bulu, dan
bijaksana dalam mengambil keputusan.
2. Amanah, artinya jujur, bertanggung jawab, dan mempertanggungjawabkan
seluruh titipan aspirasi masyarakat atau bawahannya.
3. Fathonah, artinya memiliki kecerdasan.
4. Tabligh, artinya menyampaikan segala hal dengan benar, tidak ada yang
ditutup-tutupi, terbuka, dan menerima saran atau kritik dari bawahannya.

KEPEMIMPINAN Page 3
2.6. MODEL KEPEMIMPINAN
Menurut Veithzal, 2003;11, menyatakan beberapa model

kepemimpinan yaitu:

1. Model Kepemimpinan Kontingensi

Model ini dikembangkan oleh Fiedler, model kontingensi dari

efektivitas kepemimpinan memiliki dalil bahwa prestasi kelompok tergantung

pada interaksi antara gaya kepemimpinan dan situasi yang mendukung.

Kepemimpinan dilihat sebagai suatu hubungan yang didasari oleh kekuatan

dan pengaruh. Fiedler memberikan perhatian mengenai pengukuran orientasi

kepemimpinan dari seorang individu. Ia mengembangkan Least-Preferred

Co-Worker (LPC) Scale untuk mengukur dua gaya kepemimpinan :

a. Gaya berorientasi tugas, yang mementingkan tugas atau otoritatif.

b. Gaya berorientasi hubungan, yang mementingkan hubungan

kemanusiaan.

Sedangkan kondisi situasi terdiri dari tiga faktor utama, yaitu:

a. Hubungan pemimpin-anggota, yaitu derajat baik/buruknya hubungan

antara pemimpin dan bawahan.

b. Struktur tugas, yaitu derajat tinggi/rendahnya strukturisasi, standarisasi

dan rincian tugas pekerjaan.

Kekuatan posisi, yaitu derajat kuat/lemahnya kewenangan dan pengaruh

pemimpin atas variabel-variabel kekuasaan, seperti memberikan penghargaan

dan mengenakan sanksi.

2. Model Partisipasi Pemimpin oleh Vroom dan Yetton

KEPEMIMPINAN Page 3
Suatu teori kepemimpinan yang memberikan seperangkat aturan untuk

menentukan ragam dan banyaknya pengambilan keputusan partisipatif dalam

situasi-situasi yang berlainan. Vroom dan Yetton berasumsi bahwa pemimpin

harus lebih luwes untuk mengubah gaya kepemimpinan agar sesuai dengan

situasi dalam mengembangkan modelnya, mereka membuat sejumlah asumsi:

a. Model tersebut harus bermanfaat bagi pemimpin dalam menentukan gaya

kepemimpinan yang harus mereka gunakan dalam berbagai situasi.

b. Tidak ada gaya kepemimpinan tunggal dapat diterapkan dalam berbagai

situasi.

c. Perhatian utama terletak pada masalah yang harus dipecahkan dan situasi

dimana terjadi permasalahan.

d. Gaya kepemimpinan yang digunakan dalam suatu situasi tidak boleh

bertentangan dengan gaya yang digunakan dalam situasi yang lain.

e. Terdapat sejumlah proses sosial yang mempengaruhi kadar keikutsertaan

bawahan dalam pemecahan masalah.

3. Model Jalur Tujuan (Path Goal Model)

Model kepemimpinan jalurtujuan berusaha meramalkan efektivitas

kepemimpinan dalam berbagai situasi. Menurut model yang dikembangkan

oleh Robert J. House, pemimpin menjadi efektif karena pengaruh motivasi

mereka yang positif, kemampuan untuk melaksanakan, dan kepuasan

pengikutnya. Teori disebut sebagai jalur-tujuan karena memfokuskan pada

bagaimana pemimpin mempengaruhi persepsi pengikutnya pada tujuan kerja,

tujuan pengembangan diri, dan jalan untuk mencapai tujuan.

KEPEMIMPINAN Page 3
Karakteristik
pribadi
bawahan:
- Lost of
Control
- Pengalaman
- Kemampuan

Faktor
perilaku Pengikut/ Perolehan
pemimpin: bawahan: :
- Direktif - Persepsi - Kepuas
- Suportif - Motivasi an
- Partisipatif
- Berorientas
i prestasi

Faktor
lingkungan:
- Tugas
- Sistem
wewenang
formal

Model Jalur-Tujuan
4. Teori Kepemimpinan Situasional Hersey Blanchard

Hersey dan Blanchard mengembangkan model kepemimpinan serta

memiliki pengikut yang kuat di kalangan spesialis pengembangan

manajemen. Model ini disebut teori kepemimpinan situasional. Penekanan

teori kepemimpinan situasional adalah pada pengikut-pengikut dan tingkat

kematangan mereka. Para pemimpin harus menilai secara benar atau secara

intuitif mengetahui tingkat kematangan pengikut-pengikutnya dan kemudian

menggunakan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat tersebut.

kesiapan didefinisikan sebagai kemampuan dan kemauan dari orang

KEPEMIMPINAN Page 3
(pengikut) untuk mengambil tanggung jawab bagi pengarahan perilaku

mereka sendiri.

Hersey dan Blanchard menggunakan studio Ohio state untuk

mengembangkan lebih lanjut keempat gaya kepemimpinan yang dimiliki

manajer, yaitu: (a) mengatakan/telling, (b) menjual/selling, (c)

partisipasi/participating dan (d) delegasi/delegating.

Kepemimpinan situasional menurut Hersey dan Blanchard adalah

didasarkan pada saling berhubungannnya di antara hal-hal berikut ini: (a)

jumlah petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh pimpinan, (b) jumlah

dukungan sosio emosional yang diberikan oleh pimpinan, dan (c) tingkat

kesiapan atau kematangan para pengikut yang ditunjukkan dalam

melaksanakan tugas khusus, fungsi atau tujuan tertentu.

Model kepemimpinan ini juga menyatakan bahwa gaya

kepemimpinan yang paling efektif bervariasi dengan kesiapan karyawan yang

mendefinisikan sebagai keinginan karyawan untuk berprestasi, kemauan

untuk bertanggung jawab, kemauan yang berhubungan dengan tugas,

keterampilan, dan pengalaman. Sasaran dan pengetahuan dari pengikut

merupakan variabel penting dalam menentukan gaya kepemimpinan yang

efektif.

2.7. INDIKATOR KEPEMIMPINAN


Indikator perilaku pemimpin menurut teori Path-Goal, yaitu sebagai

berikut:

1. Kepemimpinan Pengarah (Directive Leadership)

KEPEMIMPINAN Page 3
Pemimpin memberitahukan kepada bawahan apa yang diharapkan dari

mereka, memberitahukan jadwal kerja yang harus disesuaikan dan standar

kerja, serta memberikan bimbingan / arahan secara spesifik tentang cara-cara

menyelesaikan tugas tersebut, termasuk di dalamnya aspek perencanaan,

organisasi, koordinasi dan pengawasan.

2. Kepemimpinan Pendukung (Supportive Leadership)

Pemimpin bersifat ramah dan menunjukkan kepedulian akan kebutuhan

bawahan. Ia juga memperlakukan semua bawahan sama dan menunjukkan

tentang keberadaan mereka, status dan kebutuhan-kebutuhan pribadi sebagai

usaha untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang menyenangkan di

antara anggota kelompok. Kepemimpinan pendukung (supportive)

memberikan pengaruh yang besar terhadap kinerja bawahan pada saat mereka

sedang mengalami frustasi dan kekecewaan.

3. Kepemimpinan Partisipatif (participative leadership)

Pemimpin partisipatif berkonsultasi dengan bawahan dan menggunakan

saran-saran dan ide mereka sebelum mengambil suatu keputusan.

Kepemimpinan partisipatif dapat meningkatkan motivasi kerja bawahan.

4. Kepemimpinan Berorientasi Prestasi (Achievement-Oriented Leadership)

Gaya kepemimpinan dimana pemimpin menetapkan tujuan yang menantang

dan mengharapkan bawahan untuk berprestasi semaksimal mungkin serta

terus-menerus mencari pengembangan prestasi dalam proses pencapaian

tujuan tersebut.

2.8. KEPEMIMPINAN EFEKTIF

KEPEMIMPINAN Page 3
Sebuah sasaran utama dari program penelitian kepemimpinan adalah
untuk mengidentifikasi prilaku kepemimpinan yang efektif. Dari sejumlah
penelitian yang ada, telah mengajukan sebuah taksonomi yang terintegrasi
yang didasarkan atas suatu kombinasi dari pendekatan-pendekatan yang ada,
termasuk factor analysis, judgmental classification, serta theoretical
deduction.
Versi Yukl tersebut mempunyai empat belas kategori perilaku dari
jangka menengah yang disebut praktik-praktik manajerial dan sejumlah
komponen prilaku spesifik yang lebih besar. Kategori-kategori tersebut cukup
generik untuk dapat diaplikasikan secara luas pada jenis manajer yang
berbeda-beda, namun cukup spesifik untuk dihubungkan dengan permintaan-
permintaan dan hambatan situasional yang dihadapi seorang pemimpin
individual.
Adapun kategori-kategori dari praktik-praktik kepemimpinan menurut
Yukl tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut:
1. Merencanakan dan mengorganisasi (planning and organizing), meliputi:
a) Menentukan sasaran-sasaran dan strategi-strategi jangka panjang;
b) Mengalokasikan sumber-sumber daya sesuai dengan prioritas-prioritas;
c) Menentukan cara menggunakan personil dan sumber-sumber daya
untuk menghasilkan efisiensi tugas; dan
d) Menentukan cara memperbaiki koordinasi, produktivitas, serta
efektivitas unit organisasi.
2. Pemecahan masalah (problem solving), meliputi:
a) Mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan pekerjaan;
b) Menganalisis masalah pada waktu yang tepat namun dengan cara yang
sistematis untuk mengidentifikasi sebab-sebab dan mencari
pemecahannya; dan
c) Bertindak secara tegas untuk mengimplementasikan solusi-solusi untuk
memecahkan masalah-masalah atau krisis-krisis penting.
3. Menjelaskan peran dan sasaran (clarifying roles and objectives), meliputi:
a) Membagi-bagi tugas;

KEPEMIMPINAN Page 3
b) Memberi arah tentang cara melakukan pekerjaan tersebut; dan
c) Mengkomunikasikan pengertian yang jelas mengenai tanggung jawab
akan pekerjaan, dan sasaran tugas, batas waktu serta harapan mengenai
kinerja.
4. Memberi informasi (informing), meliputi:
a) Membagi-bagi informasi yang relevan tentang keputusan, rencana, dan
kegiatan-kegiatan kepada orang yang membutuhkannya agar dapat
melakukan pekerjaannya;
b) Memberi material dan dokumen tertulis; dan
c) Menjawab permintaan akan informasi teknis.
5. Memantau (monitoring), meliputi:
a) Mengumpulkan informasi mengenai kegiatan kerja dan kondisi
eksternal yang mempengaruhi pekerjaan tersebut;
b) Memeriksa kemajuan dan kualitas pekerjaan;
c) Mengevaluasi kinerja para individu dan unit-unit organisasi;
d) Menganalisis kecenderungan-kecenderungan (trends); dan
e) Meramalkan peristiwa-peristiwa eksternal.
6. Memotivasi dan memberi inspirasi (motivating and inspiring), meliputi:
a) Dengan menggunakan teknik-teknik mempengaruhi yang menarik
emosi atau logika untuk menimbulkan semangat terhadap pekerjaan;
b) Komitmen terhadap sasaran tugas;
c) Patuh terhadap permintaan-permintaan akan kerja sama, bantuan,
dukungan atau sumber-sumber daya; dan
d) Menetapkan suatu contoh mengenai prilaku yang sesuai.
7. Berkonsultasi (consulting), meliputi:
a) Memeriksa pada orang-orang sebelum membuat perubahan yang akan
mempengaruhi mereka;
b) Mendorong saran-saran untuk membuat perbaikan;
c) Mengundang partisipasi di dalam pengambilan keputusan; dan
d) Memasukan ide-ide serta saran-saran dari orang lain dalam keputusan.
8. Mendelegasikan (delegating), meliputi:

KEPEMIMPINAN Page 3
a) Mengizinkan para bawahan untuk mempunyai tanggung jawab yang
substansial dan kebijaksanaan dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan
kerja;
b) Menangani masalah; dan
c) Membuat keputusan yang penting.
9. Memberi dukungan (supporting), meliputi:
a) Bertindak ramah dan penuh perhatian, sabar, dan membantu;
b) Memperlihatkan simpati dan dukungan jika seseorang bingung dan
cemas;
c) Mendengarkan keluhan dan masalah; dan
d) Mencari minat seseorang.
10. Mengembangkan dan membimbing (developing and mentoring),
meliputi:
a) Memberi pelatihan dan nasihat karir yang membantu;
b) Melakukan hal-hal yang membantu perolehan keterampilan seseorang;
c) Pengembangan profesional; dan
d) Kemajuan karir.
11. Mengelola konflik dan membangun tim (managing conflict and team
building), meliputi:
a) Memudahkan pemecahan konflik yang konstruktif;
b) Mendororng kooperasi;
c) Kerjasama tim; dan
d) Identifikasi dengan unit kerja.
12. Membangun jaringan kerja (networking), meliputi:
a) Bersosialisasi secara informal;
b) Mengembangkan kontak-kontak dengan orang-orang yang merupakan
sumber informasi dan dukungan;
c) Mempertahankan kontak-kontak melalui interaksi secara periodik,
termasuk kunjungan, menelepon, korespondasi; dan
d) Kehadiran pertemuan-pertemuan serta peristiwa-peristiwa sosial.
13. Pengakuan (recognizing), meliputi:

KEPEMIMPINAN Page 3
a) Memberi pujian dan pengakuan bagi kinerja yang efektif;
b) Keberhasilan yang signifikan, dan kontribusi khusus; dan
c) Mengungkapkan penghargaan terhadap kontribusi dan upaya-upaya
khusus seseorang.
14. Memberi imbalan (rewarding), meliputi:
a) Memberi atau merekomendasikan imbalan-imbalan yang nyata seperti
penambahan gaji atau promosi bagi kinerja yang efektif;
b) Keberhasilan yang signifikan; dan
c) Kompetensi yang terlihat.

2.9. KEPEMIMPINAN KARISMATIK SOEKARNO

Leadership: Kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau


kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok,
memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh
kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.

Presiden Soekarno adalah bapak proklamator, seorang orator ulung yang


bisa membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Beliau memiliki
gaya kepemimpinan yang sangat populis, bertempramen meledak-ledak, tidak
jarang lembut dan menyukai keindahan.

KEPEMIMPINAN Page 3
Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Ir. Soekarno berorientasi pada moral
dan etika ideologi yang mendasari negara atau partai, sehingga sangat konsisten
dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yang
juga menonjol dan Ir. Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik,
penuh inisiatif dan inovatif serta kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada
puncak kepemimpinannya, pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi
pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan
melepas ketergantungan dari negara-negara Barat (Amerika dan Eropa).
Ir. Soekarno adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki semangat
pantang menyerah dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta
kemerdekaan bangsanya. Namun berdasarkan perjalanan sejarah
kepemimpinannya, ciri kepemimpinan yang demikian ternyata mengarah pada
figur sentral dan kultus individu. Menjelang akhir kepemimpinannya terjadi
tindakan politik yang sangat bertentangan dengan UUD 1945, yaitu mengangkat
Ketua MPR (S) juga.
Soekarno termasuk sebagai tokoh nasionalis dan anti-kolonialisme yang
pertama, baik di dalam negeri maupun untuk lingkup Asia, meliputi negeri-negeri
seperti India, Cina, Vietnam, dan lain-lainnya. Tokoh-tokoh nasionalis anti-
kolonialisme seperti inilah pencipta Asia pasca-kolonial. Dalam perjuangannya,
mereka harus memiliki visi kemasyarakatan dan visi tentang negara merdeka. Ini
khususnya ada dalam dasawarsa l920-an dan 1930-an pada masa kolonialisme
kelihatan kokoh secara alamiah dan legal di dunia. Prinsip politik mempersatukan
elite gaya Soekarno adalah alle leden van de familie aan een eet-tafel (semua
anggota keluarga duduk bersama di satu meja makan). Dia memperhatikan asal-
usul daerah, suku, golongan, dan juga partai.

2.9.1. Tindakan Soekarno Sebelum Kemerdekaan


Soekarno, dilahirkan tanggal 6 Juni 1901 di Surabaya. Ayahnya seorang
bangsawan Jawa bernama Sukemi Sastrodihardjo dan Ibunya seorang bangsawan
Bali bernama Idayu Njoman Rai. Perpaduan darah dari kedua bangsawan ini

KEPEMIMPINAN Page 3
nampaknya menumbuhkan pribadi yang disegani, berwibawa, jiwa yang
berkarakter dan watak cerdas pada diri Soekarno.
Pada masa pergerakan nasional kita telah mengenal beberapa kelompok
organisasi sosial maupun politik seperti: Boedi Utomo, Sarikat Islam, dsb, yang
masing-masing berjuang untuk tujuan yang sama yaitu melepaskan diri dari
kolonialisme Belanda. Meskipun cara yang ditempuh berbeda antara yang satu
dengan yang lain. Namun hakikat gerakan tetap merupakan suatu cerminan dari
rasa cinta terhadap tanah air. Salah satu dari gerakan tersebut adalah nasionalisme
radikal (PNI) yang didirikan oleh Soekarno, dialah yang memberikan warna pada
gerakan tersebut dan dia pula yang menempatkan nasionalisme pada tempat yang
paling tinggi. Kecintaan pada bangsa dan tanah air merupakan fokus utama.
Bagi Soekarno, bangsa, kebangsaan atau nasionalisme dan tanah air
merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dia memandang
semuanya sebagai Ibu Indonesia yang memberikan seluruh isi alamnya untuk
hidup kita semua. Itu sebabnya dia mengajak kita untuk memperhambakan diri
kepadanya. Penderitaan bangsa Indonesia dibawah kolonialisme Belanda juga
memberikan pengaruh terhadap warna nasionalisme yang diyakininya.
Nasionalisme yang diyakininya adalah berdasarkan menselijkheid.
Nasionalismeku adalah perikemanusiaan, begitulah dia mengambil kalimat dari
Mahatma Gandhi, pemimpin pergerakan politik India.
Begitu pentingnya nasionalisme dalam perjalanan politik Soekarno
membuat dia menempatkan nasionalisme ketempat teratas dalam prinsip ideologi
yang dikenal Pancasila, yang dikemukakan pada saat perumusan dasar negara
disidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Dengan kemampuannya meyakinkan
orang lain membuat Pancasila ini diterima oleh seluruh kalangan, mengalahkan
paham-paham lain yang diajukan oleh rekan-rekannya seperti: Moch.Yamin, Ki
Bagus Hadi Kusumo, Mr. Soepomo, dan Lim. Dan dengan hal ini pula, Soekarno
dikenal sebagai pencipta dari Pancasila yang terdiri dari: Kebangsaan Indonesia;
Internasionalisme atau perikemanusiaan; Mufakat atau Demokrasi; Kesejahteraan
Sosial dan Ketuhanan Yang Berkebudayaan; yang kemudian menjadi dasar negara
Indonesia.

KEPEMIMPINAN Page 3
29.2. Tindakan Soekarno Setelah Kemerdekaan

Sehari setelah diproklamasikan kemerdekaan Indonesia, PPKI segera


menunjuk Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. Ini
semua tidak lepas atas kontribusi yang diberikannya kepada bangsa ini, sehingga
bangsa ini telah sampai kepada pintu gerbang kemerdekaannya. Selanjutnya,
Soekarno yang telah mendapat legitimasi dan wewenang bergerak untuk
memimpin jalannya roda pemerintahan Indonesia.
Menurut analisa penulis, wewenang yang ada pada diri Soekarno
merupakan wewenang kharismastik, hal ini didasarkan pada kepercayaan anggota
masyarakat pada kesaktian (kewibawaan) dan kekuatan mistik sekalipun Soekarno
juga memiliki unsur wewenang rasional-legal yang didasarkan atas kepercayaan
pada tatanan hukum rasional (UUD 1945) yang melandasi kedudukannya sebagai
seorang pemimpin.
Ternyata, Indonesia yang sudah memproklamasikan kemerdekaannya
belumlah sepenuhnya merdeka. Indonesia masih mendapatkan ancaman dari
serdadu Belanda yang datang melakukan agresi militer sekaligus gencatan senjata.
Walaupun didalam jiwa bangsa Indonesia masih bergelora semangat juang Sekali
Merdeka tetap merdeka dan Merdeka atau Mati, namun akhirnya para
pemimpin bangsa bersedia melakukan perundingan dengan Belanda untuk
menghindari jatuhnya korban. Terhitung terdapat tiga perjanjian antara Indonesia
dan Belanda. Setelah melalui pertumpahan darah dan perjuangan diplomatis, pada
tanggal 27 Desember 1949, Belanda mengakui Kedaulatan Republik Indonesia
dengan syarat Indonesia haruslah berbentuk serikat. NKRI yang diproklamasikan
Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 hanya dianggap sebagai negara bagian
dari RIS. Akhirmya, pada tanggal 16 Desember 1949 diselenggarakan pemilihan
presiden RIS di Yogyakarta. Soekarno terpilih dalam pemilu tersebut dan dilantik
keesokan harinya, sehingga untuk mengganti kekosongan dalam jabatan Presiden
Negara Republik Indonesia, diangkatlah Mr. Assat.
Bentuk negara serikat (RIS) nyatanya tidak hidup terlalu lama di bumi
Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1950 Indonesia kembali menganut bentuk

KEPEMIMPINAN Page 3
negara kesatuan walaupun konstitusinya masih menggunakan konstitusi RIS
(UUDS 1950) dan sistem pemerintahan masih berbentuk parlementer dimana para
menteri (kabinet) bertanggung jawab kepada parlemen. Jabatan presiden pun
diambil alih lagi oleh Soekarno tetapi jabatan ini hanya sebagai kepala negara
saja. Untuk urusan kepala pemerintahan masih dipegang oleh perdana menteri.
Walau sudah kembali kedalam bentuk negara kesatuan, terdapat
ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat yang terjadi di beberapa daerah
sehingga menimbulkan gerakan separatis. Kemudian sering terjadinya pergantian
kabinet yang jumlahnya mencapai tujuh kali. Keadaan tersebut semakin
dirancukan oleh berbagai keaadan seperti, rancunya hubungan antara legislatif dan
eksekutif dimana menurut pihak eksekutif, konstituante sebagai pihak legislatif
pada masa itu tidak mampu menyelesaikan tugasnya dalam menghasilkan
Undang-undang yang baru.
Presiden Soekarno yang saat itu hanya menjabat sebagai presiden
konstitusional dimana kedudukannya hanya sebagai simbol pemersatu bangsa
tidak puas dengan kedudukannya itu dan ingin ikut campur dalam pemerintahan.
Menurut pengataman Soekarno, demokrasi liberal yang dipegang Indonesia saat
itu tidak mendorong Indonesia mendekati tujuan revolusi yang berupa masyarakat
adil dan makmur, sehingga pada gilirannya pembangunan ekonomi sulit
dimajukan. Soekarno ingin melihat bangsa Indonesia kembali seperti pada awal-
awal kemerdekaan dulu.
Dengan dalih itu, akhirnya pada tanggal 5 Juli 1959, Soekarno
mengeluarkan Dekrit yang isinya membubarkan konstituante dan menyatakan
kembali ke UUD 1945. Dengan ini pula menandai awal berdirinya masa
Demokrasi Terpimpin di Indonesia.
Demokrasi Terpimpin adalah demokrasi yang tidak didasarkan atas paham
liberalisme, sosialisme-nasional, fasisme, dan komunisme, tetapi suatu paham
demokrasi yang didasarkan atas keinginan luhur bangsa Indonesia seperti yang
dicantumkan dalam pembukaan UUD 1945, menuju pada satu tujuan yaitu
mencapai masyarakat adil dan makmur dengan kebahagiaan material dan spiritual
sesuai dengan cita-cita Proklamasi.

KEPEMIMPINAN Page 3
Segala bentuk ataupun tindakan Soekarno dalam memimpin Indonesia
pada saat Demokrasi Terpimpin akan sangat terasa apabila kita melihatnya melalui
pendekatan perilaku (behavioral approach). Dalam pendekatan ini, Soekarno yang
diangkat oleh MPRS sebagai Pemimpin Besar Revolusi merupakan pusat dari
seluruh aspek sistem sosial politik Indonesia. Walaupun dalam perjalanannya,
terdapat dua kekuatan besar lainnya yang berada dibelakang Soekarno dalam
sistem sosial politik Indonesia pada masa itu, yaitu: PKI dan Angkatan Darat.
Namun sangat disayangkan, pada masa ini terjadi banyak penyimpangan.
Praktik dari cita-cita Demokrasi Terpimpin yang luhur tidak pernah dilaksanakan
secara konsekuen. Soekarno diangkat sebagai presiden seumur hidup melalui TAP
MPRS No.III Tahun 1963. Hal ini telah menyalahi UUD 1945 mengenai
pembatasan waktu jabatan presiden selama lima tahun. Soekarno pun
membubarkan konstituante (DPR) hasil dari pemilu pertama dan digantikan oleh
DPR-GR. DPR-GR ditonjolkan peranannya dalam membantu pemerintah tetapi
fungsi kontrolnya ditiadakan. Selanjutnya pimpinan DPR-GR diangkat sebagai
menteri. Dengan demikian, DPR-GR ditekankan fungsinya sebagai pembantu
presiden disamping fungsi utamanya sebagai wakil rakyat. Kemudian konsep
trias politica seolah hilang. Misal, presiden diberikan wewenang untuk ikut
campur dalam bidang yudikatif berdasarkan UU No. 19 Tahun 1964 dan dibidang
legislatif berdasarkan Peraturan Tata Tertib Peraturan Presiden No. 14 Tahun 1960
ketika DPR-GR tidak mencapai kata mufakat. Hal ini menjadikan kaburnya batas-
batas wewenang antara eksekutif dan legislatif, keduanya dirangkap oleh
Presiden. (SUMBER : Kepemimpinan Karismatik Soekarno_Mardhana's
Blog.htm)

BAB III

KEPEMIMPINAN Page 3
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Kata pemimpin dan kekuasaan itu memiliki keterikatan yang tak dapat
dipisahkan. Seorang pemimpin harus mampu menjadikan dirinya pola anutan
bagi orang-orang yang dipimpinnya, mampu melakukan power sharing
dengan anak buahnya untuk mendorong munculnya ide-ide baru dan solusi
kreatif atas tantangan yang dihadapi organisasi.
Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang
tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu
kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat-sifatnya, atau kewenangannya
yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun
gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.
Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang
pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan
pribadinya. Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki
dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.
Seorang pemimpin harus mempunyai visi, yang mana visi tersebut
bukanlah dibuat semata-mata rangkaian kalimat yang disusun sehingga enak
dibaca dan didengar, visi juga bukan sekedar hasil olah pengetahuan, namun
visi menjadi pengikat, pemersatu, inspirator dan pemberi semangat seluruh
komponen organisasi. Visi yang demikian itu tidak mungkin diperoleh
melalui pelatihan sebab pada hakikatnya visi bukan keterampilan, visi harus
berangkat dari hati melalui proses perenungan, dan pembelajaran, didasarkan
pada pengetahuan, dan kemudian direalisasikan melalui tindakan nyata.

DAFTAR PUSTAKA

KEPEMIMPINAN Page 3
Athoillah, Anton. 2010. Dasar-Dasar Manajemen. Bandung: Pustaka Setia.
Terry, George R ddk. 2001. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Hidayat, Ara dkk. 2010. Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Pustaca Educa.
http://emperordeva.wordpress.com/about/makalah-tentang-kepemimpinan.
Khozin dkk. 2006. Manajemen Pemberdayaan Madrasah. Malang: UMM Press.
Pramudji, 1995. Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia. Jakarta: Bumi
Aksara.
Yukl, Gary. 1998. Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: Prenhallindo.

KEPEMIMPINAN Page 3