Anda di halaman 1dari 2

Kelompok 5 XI MIA 7

1. Hilmy Dwiyoga Nurendra (13)


2. Nanda Ayu Prastiwi Nugraha (22)
3. Yunita Ari Sandy (31)

TENTANG RUANG KELAS


Langkahku terhenti di depan sebuah pintu kaca akrilik berbingkai warna coklat
dengan motif kayu. Ya, ini kelasku. Jika kelas lain biasanya terpasang papan nama kelas di
atas pintu, maka kau tidak akan melihatnya di atas pintu kelasku. Papan nama kelas yang
seharusnya tertulis XI MIA 7 itu sudah lama dilepas atau mungkin terlepas. Gagangnya yang
berukuran sekitar 15 cm itu sudah kelihatan karatnya mungkin karena panas yang rajin
menegurnya atau hujan yang setia menyapanya.

Pintu itu akan tersibak ke kanan dan ke kiri jika kau membukanya dari luar. Di
samping kanan pintu terpajang papan yang berukuran sedang bertuliskan visi dan misi
sekolah. Di pojok kanan atas terpasang sebuah speaker untuk menyuarakan berbagai
pengumuman Di sekitar papan visi misi itu, terdapat bercarik-carik kertas tertempel
menyebar. Di bawahnya ada stop kontak bersanding dengan sakelar tak luput dispenser
dengan galon kosong di atasnya. Empat kaki dispenser itu di lapisi oleh nampan berwarna
hijau muda yang berguna untuk menadah air yang tumpah saat kau mengambil air minum.
Disamping kiri dispenser, terpasang wastafel yang terlihat baru dipasang namun tak setetes
air pun dapat keluar.

Sedangkan di muka kelas terdapat papan tulis yang sudah agak menghitam akibat
goresan spidol yang kadang sulit dihapus. Papan tulis itu disangga dengan sepasang besi
beroda empat di kanan dan kirinya. Agak ke atas tergantung foto Wakil Presiden berlatar
belakang merah tanpa bendera warna putih. Sekitar 1,5 meter ke kiri juga tergantung foto
Presiden Jokowi dengan latar belakang yang sama. Ditengah -tengah keduanya agak ke atas
tergantung pula Burung Garuda Pancasila. Tepat di bawah foto Presiden tergantung jam
dinding berukuran sedang berwarna putih yang 10 menit lebih cepat dari jam sebenarnya.

Di sudut kiri depan ruangan terletak satu meja dan satu kursi guru. Di atas meja guru
yang terpasang taplak itu, ada beberapa spidol dengan bermacam-macam warna dari hitam,
biru, sampai merah. Ada juga setumpuk kertas tentang absensi, surat keterangan tidak masuk,
atau pun formulir yang tak pernah diisi. Di dinding sebelah utara terlihat rajutan sarang laba-
laba yang ditinggalkan di batas dinding dan plafon dan jendela-jendela bertirai biru yang
lebih sering dibuka agar sinar matahari dapat menembus setiap celah ruang sehingga kelas
tidak perlu menyalakan lampu untuk penerangan.

Di dinding belakang sarang laba-laba juga masih setia hinggap karena belum
dibersihkan. Ditambah dengan perabotan kebersihan kelas yang tergantung di kapstok
terletak di pojok kanan belakang ruangan. Bangku-bangku siswa terjajar rapi mengisi setiap
celah ruang dengan lantai yang berlapis karpet warna biru yang sudah berumur dan mulai
terkelupas sana-sini. Sedangkan dinding sebelah selatan, keadaannya hampir sama seperti
dinding sebelah kiri. Jendela-jendela bertirai biru yang selalu terbuka dan pintu di sudut
kanan depan ruangan.

Kulihat bagian atas, terdapat enam lampu panjang yang dipasang tiga buah di
belakang dan tiga buah lagi di depan. Antara lampu yang satu dengan yang lain terdapat sekat
balok pelintang dari ujung ke ujung. Atas agak ke depan di gantung sebuah LCD proyektor.
Di samping kiri dan kanan LCD proyektor seharusnya terpasang sepasang kipas angin
berwarna putih itu ternyata hanya ada satu buah. Sedangkan yang satu lagi mungkin dilepas
karena rusak. Hingga beberapa kabelnya mencuat kesana-kemari. Baling-baling kipas yang
berwarna putih itu setia dikerubungi debu yang tidak pernah dibersihkan.