Anda di halaman 1dari 1

Moral dan Agama

Agama mempunyai hubungan erat dengan moral. Motivasi terpenting dan


terkuat bagi perilaku moral adalah agama. Setiap agama mengandung suatu ajaran
moral yang menjadi pegangan bagi para penganutnya dalam bertingkah laku. Jika
dibandingkan, masing-masing agama memiliki ajaran moral yang sedikit berbeda
satu sama lain, tetapi secara umum perbedaannya tidak terlalu mendasar. Atau
dengan kata lain, ada nilai-nilai universal yang relatif sama.

Ajaran moral dalam suatu agama dianggap begitu penting karena ajaran itu
berasal dari tuhan dan mengungkapkan kehendak Tuhan. Ajaran moral itu
diterima karena alesan keimanan. Namun demikian, ada juga alesan-alesan lebih
umum untuk menerima aturn-aturan moral keagamaan, yaitu alesan-alesan
rasional.

Dalam filsafat moral alasan-alesan rasionallah yang digunakan sebagai


landasan nilai-nilai dan norma-norma yang dipakai sebagai pegangan bagi
perilaku moral. Berbeda dengan agama, filsafat memiliki titik tolaknya dalam
rasio, dan untuk selanjutnya, juga mendasarkan diri hanya pada rasio. Filsafat
hanyamenerima argumen dan alasan logis yang dapat dimengerti serta disetujui
oleh semua orang. Agama berangkat dari keimanan ; kebenarannya tidak
dibuktikan, tetapi dipercaya. Kebenarannya tidak diterima karena dimengerti,
tetapi karena terjamin oleh wahyu.

Bagi agama bicara topik etis maka agama mengharuskan penganutnya


mematuhi nilai dan moral yang sudah diterimanya berdasarkan iman. Sementara
bila filsafat bica topik etis maka alesan-alesan rasionallah yang dipakai untuk
menentukan apakah sebuah perbuatan tertentu harus dianggap baik atau buruk.

Dalam konteks agama, kesalahan moral adalah dosa; orang beragama


merasa bersalah dihadapan Tuhan karena melanggar perintah-Nya. Dari sudut
filsafatmoral, kesalahan moral adalah pelanggaran prinsip etis yang seharusnya
dipatuhi. Kesalahan moral adalah inkonsistensi rasional.