Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak merupakan hal yang penting artinya bagi keluarga, selain sebagai penerus

keturunan, anak pada akhirnya sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu tidak

satupun orang tua yang menginginkan anaknya jatuh sakit, lebih-lebih bila anaknya

mengalami kejang demam.

Insiden kejang demam ini dialami oleh 2% - 4% pada anak usia antara 6 bulan

hingga 5 Tahun dengan durasi kejang selama beberapa menit (ME. Sumijati, 2000 ).

Namun begitu, walaupun terjadi hanya beberapa menit, bagi orang tua rasanya sangat

mencemaskan, menakutkan dan terasa berlangsung sangat lama, jauh lebih lama

dibanding yang sebenarnya.

Berdasarkan laporan dari daftar diagnosa dari lab./SMF Ilmu Kesehatan Anak

RSUD Dr. Soetomo Surabaya didapatkan data adanya peningkatan insiden kejang

demam. Pada tahun 1999 ditemukan pasien kejang demam sebanyak 83 orang dan

tidak didapatkan angka kematian (0 %). Pada tahun 2000 ditemukan pasien kejang

demam 132 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0 %). Dari data di atas

menunjukkan adanya peningkatan insiden kejadian sebesar 37%.

Kejang demam merupakan kedaruratan medis yang memerlukan pertolongan

segera. Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat diperlukan untuk

menghindari cacat yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang sering.

Untuk itu tenaga perawat/paramedis dituntut untuk berperan aktif dalam mengatasi

keadaan tersebut serta mampu memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga dan

penderita, yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif secara

terpadu dan berkesinambungan serta memandang klien sebagai satu kesatuan yang

utuh secara bio-psiko-sosial-spiritual.

B. Tujuan

1
1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memahami konsep dasar kejang demam pada anak

2. Tujuan Khusus

Mahasiswa memahami tentang definisi dari kejang demam.

Mahasiswa memahami tentang epidemiologi kejang demam

Mahasiswa memahami tentang etiologi dari kejang demam.

Mahasiswa memahami tentang manifestasi klinis kejang demam

Mahasiswa memahami tentang klasifikasi kejang demam

Mahasiswa memahami patofisologi dari kejang demam.

Mahasiswa memahami prognosis dari kejang demam

Mahasiswa memahami memahami pemeriksaan penunjang dari kejang

demam

Mahasiswa memahami tentang komplikasi kejang demam

Mahasiswa memahami penatalaksanaan kejang demam.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2
A. PENGERTIAN

Kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi dan anak biasanya terjadi antara

umur 3 bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti

adanya infeksi intrakronial atau penyebab tertentu (Mansjoer Arief, 2000)

Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada usia antara 3 bulan hingga 5

tahun yang berkaitan dengan demam, namun tanpa adanya tanda-tanda infeksi

intracranial atau penyebab yang jelas. (Roy, Meadow, 2005)

Kejang demam merupakan akibat dari pembebasan listrik yang tidak terkontrol

dari sel saraf korteks serebral yang ditandai dengan serangan tiba-tiba, terjadi

gangguan kesadaran ringan, aktifitas motorik atau gangguan fenomena sensori.

(Doenges, 2000). Kejang demam merupakan kelainan neurolis yang paling sering

dijumpai pada anak, terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun.

(Millichap, 1968).

B. EPIDEMIOLOGI

Berdasarkan studi cohort yang dilakukan Annegers, dkk. pada 687 anak dengan

umur rata-rata 18 tahun setelah kejang demam pertama mereka. Secara keseluruhan

mereka memiliki kemungkinan 5 kali lebih besar untuk menderita unprovoked

seizures ( Epilepsi ) selama Anak dengan kejang demam simpel memiliki resiko

hanya sekitar 2,4%. Sedangkan untuk anak yang menderita kejang demam kompleks

(fokal, beekepanjangan, ataupun kejang demam berulang) memiliki peningkatan

resiko 8,17, atau 49 persen bergantung tingkatan komplikasinya.

C. ETIOLOGI

3
Hingga kini belum diketahui secara pasti kejang demam disebabkan infeksi

saluran nafas atas, otitis fedia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih, kejang tidak

selalu timbul pada suhu tinggi dapat menyebabkan kejang. (Mansjoer Arief, 2000)

Kejang ini ditimbulkan oleh demam dan cenderung muncul saat awal-awal

demam. Penyebab ini yang paling sering adalah infeksi saluran nafas atas. (Roy,

Meadow, 2005 : 113)

Kejang demam biasanya dicetuskan oleh infeksi serupa, infeksi virus pada

telinga, faring atau saluran cerna. (Merenstein Gerald, 2001: 638)

D. MANIFESTASI KLINIS

Umumnya kejang demam berupa serangan kejang klinik atau tonik-klonik

bilateral. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik ke atas

dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului

kekakuan, atau hanya sentakan atau kekakuan fokal. Terjadinya bangkitan kejang

pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi

(> 38,50 C) dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan.

Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari 18%

berlangsung lebih dari 15 menit. Sering kali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang

berhenti anak tidak memberi reaksi adapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa

detik atau menit, anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang

dapat diikuti hemiparisis sementara tanpa (Heiparesis Todd) yang berlangsung

beberapa jam sampai beberapa kali kejang unilateral yang lama, dapat diikuti oleh

hemiparesis yang mantap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering

terjadi pada kejang demam yang pertama. (Mansjoer Arief, 2000)

Pedoman mendiagnosis kejang demam menurut Livingstone (dimodifikasi oleh

sub bagian anak FKUI-RSCM Jakarta) :

1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun.

4
2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit.

3. Kejang bersifat umum.

4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam.

5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal.

6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal

tidak menunjukkan kelainan.

7. Frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.

Pemeriksaan EKG sebaiknya dilakukan sedikit setelah 1 minggu suhu normal,

oleh karena kenaikan suhu tubuh sendiri dapat menimbulkan kelainan yang tidak

spesifik pada gambaran EEG, yang dapat menetap hingga lebih kurang 1 minggu

sesudahnya.

E. Klasifikasi Kejang Demam


a. Kejang Demam Sederhana
Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit dan

umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik atau klonik,

tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang

demam sederhana merupakan 80% diantara seluruh kejang demam.


Suhu yang tinggi merupakan keharusan pada kejang demam sederhana,

kejang timbul bukan karena infeksi sendiri, akan tetapi oleh kenaikan suhu

yang tinggi akibat infeksi di tempat lain, misalnya pada radang telinga

tengah yang akut dan sebagainya. Bila dalam riwayat penderita pada umur-

umur sebelumnya terdapat periode-periode dimana anak menderita suhu

yang sangat tinggi akan tetapi tidak mengalami kejang, maka pada kejang

yang terjadi kemudian harus berhati-hati, mungkin kejang yang ini ada

penyebabnya.
Pada kejang demam sederhana kejang biasanya timbul ketika suhu

sedang meningkat dengan mendadak, sehingga seringkali orang tua tidak

5
mengetahui sebelumnya bahwa anak menderita demam. Kenaikan suhu yang

tiba-tiba merupakan faktor yang penting unntuk menimbulkan kejang.

b. Kejang Demam Kompleks


Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :
Kejang lama lebih dari 15 menit
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau

kejang berulang lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang anak

tidak sadar, serta kejang berulang terjadi pada 16% diantara anak yang

mengalami kejang demam.


Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang

parsial
Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam

c. Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan

rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan

komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan

tonik satu ekstremitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan

dan tungkai yang menyerupai deserebrassi atau ekstensi tungkai dan fleksi

lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang

menyerupai deserebrasi harus dibedakan dengan sikap epistotonus yang

disebabkan oleh rangsangan meningkat karena infeksi selaput otak.

d. Kejang Klonik
Kejang ini dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan

fokal dan multifokal berpinndah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal

berlangsung 1-3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan

kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat

disebabkan oleh kontusio serebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan

cukup bulan atau oleh ensapalopati metabolik.

e. Kejang Mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan

atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan

6
tersebut menyerupai reflek moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan

susunan saraf pusat yang luas dan hebat. Gambaran EEG pada kejang

mioklonik pada bayi tidak spesifik.

F. PATOFISIOLOGI

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel/organ otak diperlukan energi

yang didapat dari metabolisme, bahan baku penting untuk metabolisme otak adalah

glukosa, sifat proses ini adalah oksidasi dengan perantara fungsi paru-paru dan

diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskuler.

Dari uraian di atas, diketahui bahwa sumber energi otak adalah glukosa yang

melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel yang dikelilingi oleh

membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu

ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh

ion kalium (K+) dan sangat sulit oleh natrium (Na+) dan elektrolit lainnya kecuali ion

klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan ion Na+ rendah,

sedang di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena keadaan tersebut,

maka terjadi perbedaan potensial membran yang disebut potesial membran dari

neuron.

Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan

bantuan enzim Na K ATP Ase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan

potensial membran ini dapat diubah oleh perubahan konsentrasi membran ion

diruang ekstra seluler, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis,

kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya perubahan patofisiologi dari membran

sendiri karena penyakit atau keturunan.

Pada keadaan demam, kenaikan suhu 10C akan mengakibatkan kenaikan

metabolisme basal 10 15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20 %. Pada

seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh

dibandingkan dengan orang dewasa (hanya 15%). Oleh karena itu, kenaikan suhu

7
tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu

singkat terjadi difusi dari ion kalium dan natrium melalui membran listrik. Ini

demikian besarnya sehingga meluas dengan seluruh sel dan membran sel sekitarnya

dengan bantuan bahan yang tersebut neurotransmitter dan terjadi kejang.

Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang dapat terjadi pada suhu

38o C dan anak dengan ambang kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 o C

atau lebih, kejang yang berlangsung lama (>15 menit) biasanya disertai apnea.

Meningkatnya kebutuhan O2 dan untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi

hipoksemia, hiperkapnia, denyut jantung yang tidak teratur dan makin meningkatnya

suhu tubuh karena tingginya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme

otek meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang

mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul

oedema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak (Hasan dan Alatas,

1985: 847 dan Ngastiyah, 1997: 229)

WOC (Web Of Caution)

Infeksi ekstrakranial rangsangan mekanik dan kimiawi

Reaksi inflamasi perubahan konsentrasi ion di ruang ekstrasel

Peningkatan suhu tubuh > normal

Kenaikan metabolisme basal

Peningkatan kebutuhan O2 di otak

Perubahan keseimbangan membran sel neuron

Penurunan konsentrasi glukosa dalam darah


Infeksi otak Peradangan Berakumulasi

Merusak sel saraf Penaikan suhu tubuh

8
Fungsi sel saraf melepas impuls Resti kejang
Listrik
Jika terganggu

Aktifitas abnormal pada neuron serebral

Gangguan motorik dan sensorik

Pada otot tertentu General

Spasme otot involunter Spasme konfulatif


(tonik atau intermiten)
klonik

Resti kejang Kurang pengetahuan

Resiko cidera Disstress pernapasan

Hipoksia

G. PROGNOSIS
a. Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis.
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah

dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal

pada pasien. Penelitian lain melaporkan kelainan neurologis pada sebagian

kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau

kejang berulang. Kejang yang lebih dari 15 menit diduga biasanya

menimbulkan kelainan saraf yang menetap. Apabila tidak diterapi dengan

baik kejang demam dapat berkembang menjadi kejang demam berulang

dengan frekuensi berkisar antara 25%-50%, epilepsi, kelainan motorik, serta

gangguan mental dan belajar.


b. Kemungkinan mengalami kematian.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG

9
1. Pemeriksaan cairan serebrospinal

Pemeriksaan cairan cerebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan

kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama.

Pada bayi- bayi kecil seringkali gejala meningitis tidak jelas sehingga pungsi

lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan, dan

dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18 bulan.

2. Elektroesenfalografi (EEG)

Elektroensefalografi ( EEG ) ternyata kurang mempunyai nilai prognostik

tidak dianjurkan untuk pasien kejang demam sederhana. EEG abnormal

tidak dapat digunakan untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi atau

kejang demam berulang di kemudian hari. Pemeriksaan laboratorium rutin

tidak dianjurkan dan dikerjakan untuk mengevaluasi sumberi informasi

3. Pemeriksaan labor rutin, untuk mengetahui sumber infeksi. (Mansjoer Arief,

2000)

I. KOMPLIKASI

Menurut Lumbantobing ( 1995: 31) Dan Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak

FKUI (1985: 849-850). Komplikasi kejang demam umumnya berlangsung lebih

dari 15 menit yaitu :

- Kerusakan otak

Terjadi melalui mekanisme eksitotoksik neuron saraf yang aktif sewaktu

kejang melepaskan glutamat yang mengikat resptor MMDA ( M Metyl D

Asparate ) yang mengakibatkan ion kalsium dapat masuk ke sel otak yang

merusak sel neuoran secara irreversible.

- Retardasi mental

Dapat terjadi karena deficit neurolgis pada demam neonatus.

- Terdapat gangguan perkembangan atau kelainan neurologis.

- Akan didapat IQ yang lebih rendah disbanding dengan saudaranya.

10
- Lebih besar mengalami epilepsi. (M.Rudholph. A.,2006 : 161)

J. PENATALAKSANAAN

Dalam penanggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu dikerjakan :

a. Memberantas kejang secepatnya

Bila pasien datang dalam keadaan status konvulsivus, obat pilihan utama

adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Efek terapeutiknya sangat

cepat yaitu kira-kira 30 detik 5 menit dan efek toksik yang serius hampir

tidak dijumpai apabila diberikan secara perlahan dan dosis tidak melebihi 50

mg per suntikan. Dosis sesuai dengan BB < dari 10 kg 0,5-0,75 mg/kg BB

dengan minimal dalam spuit 7,5 mg dan di atas 20 kg 0,5 kg/kg BB.

Biasanya dosis rata-rata yang dipakai 0,3 mg/kg BB/kali dengan maksimum

5 mg pada anak berumur < dari 5 tahun dan 10 mg pada anak yang lebih

besar.

b. Pengobatan penunjang

Sebelum memberantas kejang tidak boleh melupakan perlunya pengobatan

penunjang yaitu semua pakaian ketat dibuka, posisi kepala sebaiknya miring

untuk mencegah aspirasi isi lambung, usahakan jalan nafas bebas untuk

menjamin kebutuhan oksigen, bila perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi

dan pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen.

c. Pengobatan rumit

Lanjutan pengobatan rumit tergantung dari pada keadaan pasien pengobatan

ini dibagi atas dua bagian yaitu :

Profilaksis intermiten

Untuk mencegah berulangnya kejang kembali dikemudian hari pasien

yang menderita kejang demam, sederhana diberikan obat campur anti

konvulsan dan antipirektika. Antikonvulsan yang diberikan ialah

fenobarbital dengan dosis 4-5 mg/kg BB/hari. Obat anti piretika yang
11
dipakai misalnya aspirin, dosis yang diberikan 60 mg/tahun/kali, sehari

diberikan 3 kali. Untuk bayi di bawah umur 6 bulan diberikan 10

mg/bulan/ kali, sehari diberikan 3 kali.

Profilaksis jangka panjang

Ini diberikan pada keadaan 1) Epilepsi yang diprovokasi oleh demam, 2)

yang telah disepakati pada konsensus bersama ialah pada semua kejang

demam yang mempunyai ciri :

1) Terdapatnya gangguan perkembangan saraf seperti paralisis serebral

retardasri perkembangan dan mikrosefali.

2) Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit, bersifat fokal atau

diikuti kelainan saraf yang sementara atau menetap.

3) Bila terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik

pada orang tua dan saudara kandung.

4) Pada kasus tertentu yang dianggap perlu yaitu bila kadang-kadang

terdapat kejang berulang atau kejang demam pada bayi berumur di

bawah umru 12 bulan.

d. Mencari dan mengobati penyebab

Penyebab kejang demam sederhana maupun epilepsi yang diprovokasi

oleh demam biasanya adalah infeksi respiratorius bagian atas dan otitis

media akut. Pemberian antibiotik yang adekuat perlu untuk mengobati

penyakit tersebut. Secara akademis pasien kejang demam yang datang untuk

pertama kali sebaiknya dilakukan fungsi lumbal untuk menyingkirkan

kemungkinan adanya faktor infeksi di dalam otak misalnya meningitis. Pada

pasien yang diketahui kejang lama pemeriksaan lebih intensif seperti pungsi

lumbal, darah lengkap, gula darah, kalium, magnesium, kalsium, natrium

dan faal hati. Bila perlu rontgen foto tengkorak, EEG, ensefalografi dan lain-

lain.

12
BAB III

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien dengan kejang demam menurut Greenberg

(1980 : 122 128).

1. Riwayat Kesehatan

a. Adanya riwayat kejang demam pada pasien dan keluarga

b. Adanya riwayat infeksi seperti saluran pernafasan atis, OMA, pneumonia,

gastroenteriks, Faringiks, brontrope, umoria, morbilivarisela dan campak.

c. Adanya riwayat peningkatan suhu tubuh

d. Adanya riwayat trauma kepala

2. Pengkajian fisik

a. Adanya peningkatan : suhu tubuh, nadi, dan pernafasan, kulit teraba

hangat

b. Ditemukan adanya anoreksia, mual, muntah dan penurunan berat badan

c. Adanya kelemahan dan keletihan

d. Adanya kejang

3. Pada pemeriksaan laboratorium darah ditemukan adanya peningkatan kalium,

jumlah cairan cerebrospiral meningkat dan berwarna kuning

13
4. Riwayat Psikososial atau Perkembangan

a. Tingkat perkembangan anak terganggu

b. Adanya kekerasan penggunaan obat obatan seperti obat penurun panas

c. Pengalaman tentang perawatan sesudah/ sebelum mengenai anaknya pada

waktu sakit.

5. Pengetahuan keluarga

a. Tingkatkan pengetahuan keluarga yang kurang

b. Keluarga kurang mengetahui tanda dan gejala kejang demam

c. Ketidakmampuan keluarga dalam mengontrol suhu tubuh

d. Keterbatasan menerima keadaan penyakitnya

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko Cidera b.d Tipe Kejang.

2. Resiko Terjadi Hipoksia/ Aspirasi b.d Kejang.

3. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informas tentang penyakit.

4. Resti terjadinya kejang b.d suhu tubuh terus meningkat.

C. INTERVENSI

1. Resiko Cidera b.d Tipe Kejang

Tujuan : Mencegah terjadinya cidera.

Intervensi :

- Libatkan keluarga dan penanganan kejang dan ajari cara melakukannya.

- Hindari stimulus yang menyebabkan terjadinya kejang.

- Berikan obat kejang sesuai ketentuan.

- Lakukan perawatan gigi dengan baik selama terapi fenitoin.

14
- Berikan Vit. D dan asam folat selama terapi fenitoin dan fenobarbital

untuk mencegah defisiensi.

- Dampingi anak selama beraktivitas.

- Kaji lama kejang.

- Lindungi anak selama kejang.

2. Resiko Terjadi Hipoksia/ Aspirasi b.d Kejang

Tujuan : Mencegah terjadinya ditress pernafasan

Intervensi :

- Jangan melakukan distress pernafasan

- Tempatkan selimut dibawah kepala

- Longgarkan pakaian

- Jangan menempatkan apapun dimulut anak

- Miringkan anak

- Atur posisi kepala anak tidak dalam keadaan hiperekstensi untuk

meningkatkan ventilasi.

3. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informas tentang penyakit.

Tujuan : Lebih dapat mengerti tentang penyakit, cara penanganan.

Intervensi :

- Berikan pendidikan kesehatan

- Kaji ketidakmampuan pasien

- Beri motivasi dan dukungan

- Jelaskan penyakit dengan sederhana

4. Resti terjadinya kejang b.d suhu tubuh terus meningkat

Tujuan : Menghindari terjadinya kejang dan suhu tubuh dalam batas

normal.

15
Intervensi :

- Monitor vital sign

- Lakukan kompres hangat

- Beri pakaian yang nyaman dan meresap keringat

- Anjurkan anak untuk minum banyak

- Kolaborasi dalam pemberian anti kejang

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh

(suhu rektaldiatas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang

demam ini terjadi pada anak yang berumur 6 bulan - 5 tahun. Faktor resiko kejang

demam pertama yang penting adalah demam. Ada riwayat kejang demam keluarga

yang kuat pada saudara kandung dan orang tua, menunjukkan kecenderungan genetik.

Selain itu terdapat faktor perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus,

anak dalam perawatan khusus dan kadar natrium rendah. Kejang demam sederhana

(simple febrile seizure) berlangsung singkat, kurang dari 15 menit dan umumnya

akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan

fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam sederhana

merupakan 80 % di antara seluruh kejang demam. Kejang demam kompleks

(complex febrile seizure) adalah kejang dengan salah satu ciri berikut : a. Kejang

lama lebih dari 15 menit. b. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum

didahului kejang parsial. c. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi

dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam. Pemeriksaan

laboratorium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit dan gula darah.

Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan

kemungkinan meningitis.

16
B. Saran
Bagi mahasiswa keperawatan diharapkan dapat memanfaakan makalah ini untuk

menambah pengetahuan tentang penanganan kejang demam pada anak dan dewasa

yang berguna bagi profesinya dan dirinya sendiri.


Bagi masyarakat diharapkan dapat memanfaakan makalah ini untuk menambah

pengetahuan tentang penanganan kejang demam pada anak yang berguna bagi

kesehatan .

DAFTAR PUSTAKA

17
Carpenito, L.J.,2000.
Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis, EGC: Jakarta
Doenges,Marilynn E., 2000.
Rencana Asuhan Keperawaan Edisi III. EGC : Jakarta
Mansjoer, Arief. 2000.
Kapita Selekta Kedokteran, Jilid II. Media Aesculapius FKUI : Jakarta.
Merenstein, Gerald. 2001.
Buku pegangan pediatrik. Edisi 17. Widya Medika: Jakarta.
M. Rudolph, Abraham.2006.
Buku Ajar Pediatrik Rudolph.Jakarta.
Ngastiyah, 2005.
Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Price, Sylvia Anderson. 2005.
Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. EGC: Jakarta.
Roy, Meadow.2005.
Notes pediatrik Edisi 7. Erlangga : Jakarta.
www.google.com

18