Anda di halaman 1dari 3

II.

Kajian Pustaka
2.1 Keracunan akibat penyalahgunaan methanol
Metanol adalah bentuk paling sederhana dari alkohol yang biasa digunakan sebagai
pelarut di industri dan sebagai bahan tambahan dari etanol dalam proses denaturasi sehingga
etanol menjadi toksik. Rumus kimia dari Metanol adalah CH3OH dan dikenal dengan nama lain
yaitu metil alkohol, metal hidrat, metil karbinol, wood alkohol atau spiritus (Anonim a, 2009).
Metanol berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar
dan beracun dengan bau yang khas. Dalam dunia industri metanol digunakan antara lain untuk :
Tekstil sintetik
Cat rumah
Perekat
Plastik daur ulang
Busa bantal
Bahan anti beku untuk radio aktif
Bahan baker, dll
Metanol merupakan senyawa kimia yang sangat beracun bila dibandingkan dengan etanol.
Metanol sering disalah gunakan sebagai bahan pembuat minuman keras. Ia digunakan sebagai
pengganti etanol karena disamping harganya yang relatif lebih murah juga akibat
ketidakpahaman akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kedua zat tersebut, sehingga banyak
yang beranggaban bahwa sifat dan fungsi metanol adalah sama, sehingga orang yang sudah
kecanduan minuman keras dan kurang memiliki dana untuk membeli minuman keras yang legal
cenderung membuat atau membeli minuman keras yang illegal yaitu minuman keras oplosan
yang dicampur dengan methanol (Anonim a, 2009).
Didalam tubuh metanol mudah teranbsorbsi dan dengan cepat akan terdistribusi kedalam
cairan tubuh. Keracunan Metanol dapat menimbulkan gangguan kesadaran (inebriation).
Metanol sendiri sebenarnya tidak berbahaya, yang berbahaya adalah metabolitnya dan dapat
menyebabkan asidosis metabolic, kebutaan yang permanen serta kematian dapat terjadi setelah
periode laten selama 6 30 jam. Dari berbagai kasus keracunan minuman keras yang terjadi
pada masyarakat terlihat dari hasil pemeriksaan sisa sample ataupun otopsi mayat korban,
ternyata selain etanol ditemukan metanol didalamnya dan korban dinyatakan mengalami
keracunan methanol (Anonim a, 2009).
Minuman keras atau yang dikenal dengan nama minuman beralkohol, bahan dasar
utamanya adalah etanol yang mempunyai batas kadar yang telah ditetapkan oleh pemerintah 1%-
55 %, dan etanol yang ada dalam minuman beralkohol tersebut bukan etanol yang dibuat atau
digunakan untuk industri tetapi etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang
mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi dari
buah dan biji bijian misalnya anggur, gandum, beras dll., sedangkan metanol dilarang untuk
digunakan atau ditambahkan dalam makanan atau minuman termasuk minuman keras. Dari
informasi tersebut diatas mungkin dapat dipahami mengapa etanol merupakan bahan yang dapat
digunakan untuk minuman keras sedangkan metanol dilarang padahal kedua zat tersebut diatas
merupakan golongan alkohol (Anonim a, 2009).
Dalam tubuh metanol akan dimetabolisme di lever oleh enzim Alkohol Dehidrogenase
(DHA) menjadi formaldehide dan selanjutnya oleh enzim Formaldehide dehidrogenase ( FDH )
diubah menjadi asam format. Kedua hasil metabolisme tersebut merupakan zat beracun bagi
tubuh terutama asam format (Anonim a, 2009).
Pada kasus keracunan metanol, formaldehida tidak pernah terdeteksi dalam cairan tubuh
korban karena formaldehida yang terbentuk sangat cepat diubah menjadi asam format ( waktu
paruh 1-2 menit ) dan selanjutnya diperlukan waktu yang cukup lama ( kurang lebih 20 jam )
oleh enzim 10-formyl tetrahydrofolate synthetase ( F-THF-S ) untuk mengoksidasi asam format
menjadi senyawa karbondioksida dan air, sehingga ditemukan adanya korelasi antara konsentrasi
asam format dalam cairan tubuh dengan kasus keracunan methanol (Anonim a, 2009) .
Berat ringannya gejala akibat keracunan metanol tergantung dari besarnya kadar metanol
yang tertelan. Dosis toksik minimum ( kadar keracunan minimal ) metanol lebih kurang 100
mg/kg dan dosis fatal keracunan metanol diperkirakan 20 240 ml ( 20 150 g ) (Anonim a,
2009).

2.2 Regulasi Alkohol


Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengawasan dan
Pengendalian Minuman Beralkohol pada Bab I, Pasal 1 menetapkan bahwa yang dimaksud
dengan minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung ethanol yang diproses dari
bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau
fermentasi tanpa destilasi, baik dengan cara memberikan perlakuan terlebih dahulu atau tidak,
menambahkan bahan lain atau tidak, maupun yang diproses dengan cara mencampur kosentrat
dengan ethanol atau dengan cara pengenceran minuman mengandung ethanol.
Pada Bab II, pasal 2, ayat 1dijelaskan produksi atau pembuatan minuman beralkohol di
dalam negeri hanya dapat dilakukan dengan izin Menteri Perindustrian dan Perdagangan sesuai
dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1995 tentang Izin Usaha Industri.
Pada Bab III, pasal 3 ayat 1 ditetapkan bahwa produksi minuman beralkohol hasil
industri di dalam negeri dan berasal dari impor, dikelompokkan dalam golongan-golongan
sebagai berikut:
a. Minuman beralkohol golongan A adalah minuman beralkohol dengan kadar ethanol
(C2H5OH) 1% (satu persen) sampai dengan 5% (lima persen);
b. Minuman beralkohol golongan B adalah minuman beralkohol dengan kadar ethanol
(C2H5OH) lebih dari 5 % (lima persen) sampai dengan 20% (dua puluh persen);
c. Minuman beralkohol golongan C adalah minuman beralkohol dengan kadar ethanol
(C2H5OH) 20% (dua puluh persen) sampai dengan 55% (lima puluh lima persen).
d. Minuman beralkohol golongan B dan golongan C adalah kelompok minuman keras yang
diproduksi, pengedaran dan penjualannya ditetapkan sebagai barang dalam pengawasan.

Sedangkan pada pasal 3, ayat 2 dijelaskan bahwa produksi minuman beralkohol


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 wajib memenuhi standar mutu yang ditetapkan.
Pada Bab IV, pasal 4 mengenai pengedaran dan penjualan ditetapkan bahwa:
1. Dilarang mengedarkan dan atau menjual minuman beralkohol sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (2) di tempat umum, kecuali di hotel, bar, restoran dan di tempat tertentu lainnya
yang ditetapkan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dan Gubernur Kepala
Daerah Khusus Ibukota Jakarta untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
2. Tempat tertentu lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilarang berdekatan dengan
tempat peribadatan, sekolah, rumah sakit, atau lokasi tertentu lainnya yang ditetapkan oleh
Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota
Jakarta untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta.