Anda di halaman 1dari 6

2.

2 Cephal Hematom

2.2.1 Pengertian
Cephal hematom adalah perdarahan subperiosteal akibat kerusakan jaringan poriesteum karena
tarikan atau tekanan jalan lahir. Dan tidak pernah melampaui batas sutura garis tengah. Tulang
tengkorak yang sering terkena adalah tulang temporal atau parietal ditemukan pada 0,5 2 %
dari kelahiran hidup. (Prawiraharjo,Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan)
Menurut Abdul Bari Saifudin, cephal hematoma adalah pendarahan sub periosteum akibat
keruasakan jaringan periosteum karena tarikan/tekanan jalan lahir dan tidak pernah melampaui
batas sutura garis tengah.(Ika Nugroho.2011)
Gambar 2. Cephal hematom

2.2.2 Klasifikasi
Menurut letak jaringan yang terkena ada 2 jenis yaitu(Ika Nugroho.2011) :
1. Subgaleal
Galea merupakan lapiasan aponeurotik yang melekat secara longgar pada sisi sebelah dalan
periosteum. Pembuluh-pembuluh darah vena di daerah ini dapat tercabik sehingga
mengakibatkan hematoma yang berisi sampai sebanyak 250 ml darah. Terjadi anemia dan bisa
menjadi shock. Hematoma tidak terbatas pada suatu daerah tertentu (Oxorn, Harry, 1996).
Penyebabnya adalah perdarahan yang letaknya antara aponeurosis epikranial dan periosteum.
Dapat terjadi setelah tindakan ekstraksi vakum. Jarang terjadi karena komplikasi tindakan
mengambil darah janin untuk pemeriksaan selama persalinan, risiko terjadinya terutama pada
bayi dengan gangguan hemostasis darah.
Sedangkan untuk kadang-kadang sukar didiagnosis, karena terdapat edema menyeluruh pada
kulit kepala. Perdarahan biasanya lebih berat dibandingkan dengan perdarahan subperiosteal,
bahaya ikterus lebih besar.
1. Subperiosteal
Karena periosteum melekat pada tulang tengkorak di garis-garis sutura, maka hematoma terbatas
pada daerah yang dibatasi oleh sutura-sutura tersebut. Jumlah darah pada tipe subperiosteal ini
lebih sedikit dibandingkan pada tipe subgaleal, fraktur tengkorak bisa menyertai.
Gambaran Klinis : kulit kepala membengkak. Biasanya tidak terdeteksi samapai hari ke 2 atau
ke 3. Dapat lebih dari 1 tempat. Perdarahan dibatasi oleh garis sutura, biasanya di daerah
parietal.
Perjalanan Klinis dan Diagnosis : Pinggirnya biasanya mengalami klasifikasi. Bagian tengah
tetap lunak dan sedikit darah akan diserap oleh tubuh. Mirip fraktur depresi pada tengkorak.
Kadang-kadang menyebabkan ikterus neonatorum.

2.2.3 Etiologi
Menurut Sarwono Prawiraharjo dalam Ilmu Kebidanan 2002, cephal hematom dapat terjadi
karena :
1. Persalinan lama
Persalinan yang lama dan sukar, dapat menyebabkan adanya tekanan tulang pelvis ibu terhadap
tulang kepala bayi, yang menyebabkan robeknya pembuluh darah.
1. Tarikan vakum atau cunam
Persalinan yang dibantu dengan vacum atau cunam yang kuat dapat menyebabakan penumpukan
darah akibat robeknya pembuluh darah yang melintasi tulang kepala ke jaringan periosteum.
1. Kelahiran sungsang yang mengalami kesukaran melahirkan kepala bayi.

2.2.4 Patofisiologi
Kadang-kadang, cephal hematom terjadi ketika pembuluh darah pecah selama persalinan atau
kelahiran yang menyebabkan perdarahan ke dalam daerah antara tulang dan periosteum. Cedera
ini terjadi paling sering pada wanita primipara dan sering berhubungan dengan persalinan dengan
forsep dan ekstraksi vacum. Tidak seperti kapu suksedaneum, cephal hematoma berbatas tegas
dan tidak melebar sampai batas tulang. Cephal hematom dapat melibatkan salah satu atau kedua
tulang parietal. Tulang oksipetal lebih jarang terlibat, dan tulang frontal sangat jarang terkena.
Pembengkakan biasanya minimal atau tidak ada saat kelahiran dan bertambah ukuranya pada
hari kedua atau ketiga. Kehilangan darah biasanya tidak bermakna.(Wong,2008)
Menurut FK. UNPAD. 1985 dalam Obstetri Fisiologi Bandung, peroses perjalanan penyakit
cephal hematom adalah :
1. Cephal hematom terjadi akibat robeknya pembuluh darah yang melintasi tulang kepala ke
jaringan poriosteum. Robeknya pembuluh darah ini dapat terjadi pada persalinan lama. Akibat
pembuluh darah ini timbul timbunan darah di daerah sub periosteal yang dari luar terlihat
benjolan.
2. Bagian kepala yang hematoma bisanya berwarna merah akibat adanya penumpukan
daerah yang perdarahan subperiosteum.

2.2.5 Manifestasi Klinis

Berikut ini adalah tanda-tanda dan gejala Cephal hematom.(Menurut


Prawiraharjo, Sarwono.2002.Ilmu Kebidanan):
1. Adanya fluktuasi
2. Adanya benjolan, biasanya baru tampak jelas setelah 2 jam setelah bayi lahir .
3. Adanya cephal hematom timbul di daerah tulang parietal. Berupa benjolan timbunan
kalsium dan sisa jaringan fibrosa yang masih teraba. Sebagian benjolan keras sampai umur 1-2
tahun.

2.2.6 Pemeriksaan Diagnostik


Pemeriksaan X-Ray tengkorak dilakukan bila dicurigai adanya fraktur (mendekati hampir 5%
dari seluruh cephal hematom). Dan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai kadar bilirubin,
hematokrit, dan hemoglobin.(Alpers, ann.2006)

2.2.7 Penatalaksanaan
Tidak diperlukan penanganan untuk cephal hematom tanpa komplikasi. kebanyakan lesi
diabsorbsi dalam 2 minggu sampai 3 bulan. Lesi yang menyebabkan kehilangan darah hebat ke
daerah tersebut atau yang melibatkan fraktur tulang di bawahnya perlu evaluasi lebih lanjut.
Hiperbilirubinemia dapat tejadi selama resolusi hematoma ini. Infeksi lokal dapat terjadi dan
harus dicurigai bila terjadi pembengkakan mendadak yang bertambah besar.(Wong.2008)
Menurut Ida Bagus Gde Manuaba 1998, cephal hematoma umumnya tidak memerlukan
perawatan khusus. Biasanya akan mengalami resolusi khusus sendiri dalam 2-8 minggu
tergantung dari besar kecilnya benjolan. Namun apabila dicurigai adanya fraktur, kelainan ini
akan agak lama menghilang (1-3 bulan) dibutuhkan penatalaksanaan khusus antara lain :
1. Menjaga kebersihan luka.
2. Tidak boleh melakukan massase luka/benjolan cephal hematoma.
3. Pemberian vitamin K.
4. Bayi dengan cephal hematoma tidak boleh langsung disusui oleh ibunya karena
pergerakan dapat mengganggu pembuluh darah yang mulai pulih.
5. Pemantauan bilirubinia, hematokrit, dan hemoglobin.
6. Aspirasi darah dengan jarum suntik tidak diperlukan.

2.3 Konsep Asuhan Keperawatan


Mengingat konsep dan perjalanan penyakit yag terjadi pada caput succedaneum dan cephal
hematom adalah hampir sama, maka konsep asuhan keperawatan yang dapat diberikan juga
hampir sama pula. Akan tetapi tetap dalam koridor penyakit perdarahan ekstrakranial.
2.3.1 Pengkajian
1. Subjektif
1) Identitas
Terjadi pada bayi baru lahir terutama nampak jelas segera (Caput Succedaneum) dan pada
beberapa jam atau hari setelah lahir(Cephal Hematom).
2) Keluhan
Benjolan di kepala bayi segera dan beberapa jam setelah lahir.
1. Objektif
1) Benjolan di kepala bayi, biasanya pada daerah tulang parietal, oksipital.
2) Berkembang secara bertahap segera setelah persalinan.(Caput Succedaneum)
3) Berkembang secara bertahap dalam waktu 12-72 jam.(Cephal Hematom)
4) Pembengkakan kepala berbentuk benjolan difus.
5) Tidak berbatas tegas, melampaui batas sutura. (Caput Succedaneum)
6) Berbatas tegas, tidak melampaui batas sutura. (Cephal Hematom)
7) Perabaan, mula-mula keras lama kelamaan lunak.
8) Pada daerah pembengkakan terdapat pitting odema.
9) Sifat timbulnya perlahan, benjolan tampak jelas setelah 6-8 jam setelah lahir.
10) Bersifat soliter / multiple.
11) Anemi, hiperbilirubin bila gangguan meluas.
12) Jarang menimbulkan perdarahan yang memerlukan transfusi, kecuali bayi yang
mempunyai gangguan pembekuan.
1. c. Pemeriksaan radiologi : dilakukan bila ada indikasi gangguan nafas, benjolan terlalu
besar.
2. Pemeriksaan Laboratorium untuk menilai kadar hematokrit, hemoglobin, bilirubin, dan
faktor pembekuan.
2.3.2 Diagnosa Keperawatan
1. a. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan trauma jaringan perinatal.
2. b. Ansietas (anak dengan orang tua) berhubungan dengan ketidak tahuan status
kesehatan anak.
3. c. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya indurasi.
2.3.3 Rencana Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan trauma jaringan perinatal


Tujuan:
Anak akan menunjukkan berkurangnya rasa ketidaknyamanan.
KH :
1. Anak tidak rewel.
2. Anak tidak terus menangis.
3. Anak memperhatikan tanda tanda vital dalam batas normal.

1. Kaji ekspresi anak (diam, rewel, menangis terus-menerus,dll)


1. Kurangi jumlah cahaya lampu, kebisingan, dan berbagai stimulus lingkunagn lainya
dalam anak.
1. Kaji tanda tanda vital, catat peningkatan frekuensi nadi, peningkatan atau penurunan
nafas, dan diforesis.
1. Kolaborasi : Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri.
2. Memberikan data dasar untuk menentukan dan mengevaluasi intervensi yang diberikan.
3. Stimulus demikian dapat mengganggu anak yang mengalami cedera. Karena dapat
meningkatkan tekanan intrkranial.
4. Peningkatan frekuensi nadi, peningkatan atau penurunan frekuensi pernapasan, atau
diforesis menunjukkan ketidaknyamanan.
5. Mengurangi nyeri dan spasme otot
2. Ansietas (anak dengan orang tua) berhubungan dengan ketidaktahuan status kesehatan
anak.

Tujuan:
Anak dan Orang tua akan menunjukkan kecemasan berkurang.
KH :
1. Menunjukkan pengurangan rasa agitasi
2. Mengajukan pertanyaan yang tepat sehubungan dengan penyakit dan penangananya.

1. Jelaskan pada anak dan orang tua tentang tujuan semua tindakan keperawatan yang
dilakukan dan bagaimana tindakan dilakukan
1. Ijinkan orang tua tetap menemani anak, bergantung pada keadaan anak.
1. Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis.

1. Dengan menegetahui apa yang akan dilakukan sebelum melaksanakan prosedur dan
mengapa prosedur tersebut dilakukan membantu mengurangui kecemasan.
2. Dengan mengijinkan orang tua untuk menemani anak memberi dukungan emosional pada
anak dan mengurangi kecemasan pada anak. Kecemasan orang tua akan berkurang dengan
mengijinkan mereka memantau dan berpartisipasi dalam perawatan anak.
1. Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan atau pilihan
sesuai realita.
3.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya indurasi.
Tujuan :
Anak akan menunjukkan tidak adanya tanda atau gejala infeksi.
KH :
1. Suhu tubuh kurang dari 37oC
2. Tidak ada drainase dari luka (cephal hematom)
3. Tidak ada tanda-tanda infeksi.
4. Sel darh putih dalam batas normal sesuai dengan usia.

1. Kaji keadaan indurasi pada anak.


1. Pantau suhu suhu anak setiap 4 jam
1. Kaji tanda dan gejala meningitis, termasuk kakuk kuduk, peka rangsang, nrei kepala,
demam, muntah, dan kejangkejang.
2. Ganti balutan indurasi(jiak ada) dan gunakan teknik sterilisasi.

1. Mengidentifikasi adanya infeksi secara dini.


2. Hipertermi merupakan suatu tanda infeksi.
3. Meningitis merupakn komplikasi yang mengkin terjadi padasetiap kejadian cephal
hematom walaupun jarang.
1. Teknik steril akan membantu mencegah masuknya bakteri kedalam luka dan mengurangi
infeksi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Caput succedaneum adalah pembengkakan yang edematosa atau kadang-kadang ekimotik dan
difus dari jaringan lunak kulit kepala yang mengenai bagian yang telah dilahirkan selama
persalinan verteks. Edema pada caput succedaneum dapat hilang pada hari pertama, sehingga
tidak diperlukan terapi. Tetapi jika terjadi ekimosis yang luas, dapat diberikan indikasi fototerapi
untuk kecenderungan hiperbilirubin. Kadang-kadang caput suksadenum disertai
dengan molding atau penumpangan tulang parietalis, tetapi tanda tersebut dapat hilang setelah
satu minggu.
Cephal hematom merupakan perdarahan subperiosteum. Cephal hematom terjadi sangat lambat,
sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit kepala. Cephal hematom dapat
sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran perdarahannya. Pada
neonatus dengan sefalhematoma tidak diperlukan pengobatan, namun perlu dilakukan fototerapi
untuk mengatasi hiperbilirubinemia. Tindakan insisi dan drainase merupakan kontraindikasi
karena dimungkinkan adanya risiko infeksi. Kejadian cephal hematom dapat disertai fraktur
tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial.
3.2 Saran
Pada caput succedaneum dan cephal hematom, perawat bisa menjelaskan kepada ibu dan
keluarga bayi bahwa tidak diperlukan tindakan atau penanganan khusus bila tanpa komplikasi.
Salah satu penyebab cephal hematom adalah trauma lahir, karena itu untuk mencegah terjadinya
caput succedaneum dan cephal hematom bisa dilakukan dengan memimpin persalinan yang
aman dan tepat.