Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kehidupan manusia di dunia merupakan anugerah dari Allah swt dengan segala

pemberiannya, manusia dapat mengecap segala kenikmatan yang bisa dirasakan oleh dirinya

tetapi dengan anugerah tersebut kadangkala manusia lupa akan Dzat Allah swt yang telah

memberikannya. Oleh karena itu, manusia harus mendapatkan suatu bimbingan sehingga di

dalam kehidupannya dapat berbuat sesuai bimbingan Allah swt atau memanfaatkan anugerah

Allah swt. Hidup yang dibimbing oleh syariah akan melahirkan kesadaran untuk berperilaku

yang sesuai dengan tuntuan Allah swt dan Rasul Nya. Sebagai rasa syukur terhadap Allah swt,

hendaknya kita sadar diri untuk beribadah kepada sang Pencipta Langit dan Bumi beserta isinya

sesuai syariat Nya. Dalam ibadah, kita harus memperhatikan jenis-jenis ibadah yang kita

lakukan. Apakah ibadah tersebut termasuk dalam ibadah wajib, sunnah, mubah, dan

makruh. Oleh karena itu, di dalam makalah ini akan di bahas mengenai bermacam-macam

ibadah beserta hikmah dan tujuannya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Pengertian ibadah dan hakikat ibadah
2. Jenis-jenis Ibadah
3. Hikmah dan Tujuan Ibadah (Mahdah)
4. Hikmah dan Tujuan Ibadah (Ghairu Mahdah)

1.3 Tujuan Masalah


1. Agar mahasiswa dapat menjelaskan pengertian ibadah dan hakikat ibadah
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui jenis-jenis ibadah
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui hikmah dan tujuan ibadah Mahdah
4. Agar mahasiswa dapat mengetahui hikmah dan tujua ibadah ghairu Mahdah

1.4 Fungsi Makalah

Berdasarkan uraian diatas, maka makalah ini bermanfaat agar kita dapat mengetahui dan

memahami pengertian ibadah beserta jenis-jenis ibadah, hikmah ibadah dan tujuan ibadah.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ibadah dan Hakikat Ibadah

Ibadah menurut bahasa berasal dari abida yabudu yang berarti : menyembah, mengabdi
dan menghinakan diri. Sebagaimana dalam firmannya :
Hai manusia, sembahlah Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu
agar kamu bertakwa ( TQS. Al-Baqarah: 21)

Ibadah menurut beberapa ulama :


Menurut Abu Ala Maududi : Ibadah berarti penghambaan dan perbudakan. Seorang hamba
harus bersikap sebagaimana halnya seorang hamba yaitu senantiasa patuh dan taat kepada
tuhannya tanpa membantah. Beliau juga menambahkan pula bahwa ada 3 hal yang harus
dimiliki sebagai hamba yang baik yaitu:
a) Seorang hamba hendaknya memandang tuannya sebagai penguasadan berkewajiban untuk
merasa setia kepada orang yang menjadi tuannya, menunjang hidupnya, pelindung dan
penjaganya dan meyakini sepenuhnya bahwa tidak ada seorang pun selain tuannya yang
layak mendapat kesetiaannya
b) Selalu patuh pada tuannya, melaksanakan segala perintahnya dengan cermat dan tidak
mengatakan perkatan atau mendengar perkataan dan siapapun yang bernada menentang
kehendaknya tuannya
c) Menghormati dan menghargai tuannya dan ia harus mengikuti cara yang telah ditentukan
oleh tuannya sebagai sikap hormat kepada-Nya

Menurut H. Endang Syaifudin Anshori


Ibadah secara garis besar ada 2 (dua )arti :
a) Ibadah dalam arti khusus (mudhloh) yaitu tata aturan ilahi yang secara langsung mengatur
hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya yang cara, tata cara dan upacara (ritual)
telah ditentukan secara terperinci daam Al- Quran dan As- Sunnah yang biasanya berkisar
pada masalah Thoharoh, Sholat, Zakat, Puasa, Haji.
b) Ibadah dalam arti luas Yaitu segala gerak-gerik, tingkah laku, serta perbuatan yang
mempunyai 3 Tanda :
1) Niat yang Ikhlas sebagai Titik Tolaknya
2) Keridhoan Allah sebagai Titik Tujuannya
3) Amal Sholeh sebagai Garis Amanah

Menurut Muhammad Qutb


Ibadah adalah kebaktian yang hanya ditujukan kepada Allah, mengambil petunjuk hanya
darinya saja tentang segala persoalan hidup dan akhirat dan kemudian mengadakan hubungan
yang terus-menerus dengan Allah tentang semua itu.Sesungguhnya Sholat, puasa, zakat, haji dan
seluruh amal ibadah lainnya pada dasarnya hanyalah merupakan pintu-pintu ibadah atau stasiun
tempat orang berhenti unuk menambah bensin. Namun jalan itu sendiri seluruhnya merupakan
ibadah, termasuk semua ritus-ritus dan gerak-gerik, serta semua pikiran, perasaan, semua adalah
ibadah tujuannya Allah.
Jadi, Ibadah merupakan seluruh aspek kehidupan. Tidak terbatas pada saat-saat singkat
yang diisi dengan cara-cara tertentu. Suatu Ibadah mempunyai nilai yaitu jalan hidup dan
seluruh aspek kehidupan dan merupakan tingkah laku, tindak-tanduk, pikiran dan perasaan
semata-mata untuk Allah, yang dibangun dengan suatu sistem yang jelas, yang di dalamnya
terlihat segalanya yang pantas dan tidak pantas terjadi .

Sebagaimana dalam firmannya :


Katakanlah , Sesungguhnya Sholatku,ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah
Tuhan semesta alam. (TQS. Al-Anam : 162)

Pekerjaan yang kita anggap sebagai kesibukan duniawi, sesungguhnya merupakan ibadah
kepada Allah aslkan dalam mengerjakannya kita menjaga diri pada batas-batas yang telah
ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Bia setelah menjalankan semua ibadah ini seumur hidup kita
menjadi pencerminan ibadah kepada Alah mak ridak ragu lagi shalat kita adalah shalat yang
benar, puasa kita adalah puasa yang benar, haji kita adalah haji yang benar.
Hakikat Ibadah
Sebagai tujuan diciptakannya manusia, sebagaimana firman Allah swt:
Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah pada Ku (QS. Az
Zariyat: 56)
1) Sebagai fitrah manusia, sebagaimana firman Allah swt:
Dan ingatlah ketika Tuhan mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari selbi mereka, dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini
Tuhanmu ? Mereka menjawab,Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami
lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan,sesungguhnya kami
(Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhannya). (QS. Al
Araf:72)
2) Hakikat ibadah adalah menyembah yang sama dengan mencintai. Sebagaimana firman Allah
swt:
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah;
mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat
cinta kepada Allah dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika
mereka melihat siksa (pada hari Kiamat) bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan
bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka akan menyesal. (QS. Al Baqoroh:165)

Artinya: jika kita sama atau lebih mengabdi atau mencintai selain Allah maka akan menjadi dosa
paling besar yang sulit diampuni kecuali dangan taubat nasuhah sebagaimana hadits dari Ibnu
Masud.
Aku bertanya, wahai Rasullullah, dosa apakah yang paling besar? Rasulullah saw
menjawab,bila kamu menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dia lah yang menciptakan
kamu. (HR. Bukhari dan Muslim)

2.2 Jenis-jenis Ibadah


Ditinjau dari jenisnya, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua jenis, denganbentuk dan sifat
yang berbeda antara satu dengan lainnya
a) Ibadah Mahdhah,
Artinya penghambaan yang murni hanya merupakan hubung an antara hamba dengan Allah
secara langsung. segala jenis peribadatan kepada Allah yang keseluruhan tatacaranya telah
ditetapkan oleh Allah, Manusia tidak berhak mencipta/merekayasa bentuk ibadah jenis ini. para
ulama menetapkan qaidah iaitu Asalnya ibadah itu haram, terlarang (kecuali dengan perintah
Allah dan petunjuk Muhammad saw). Ibadah jenis ini diistilahkan oleh para fuqaha dengan
perkataan Al Ibadah atau Al Ubudiyyah. Ibadah jenis ini seperti shalat, puasa, zakat, aqiqah dan
qurban.
Ibadah bentuk ini memiliki 4 prinsip:
1) Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al-Quran maupun al-
Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika
keberadaannya.
2) Tata caranya harus berpola kepada contoh Rasul saw. Salah satu tujuan diutus rasul oleh
Allah adalah untuk memberi contoh: Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul kecuali untuk
ditaati dengan izin Allah (QS. 4: 64).Dan apa saja yang dibawakan Rasul kepada kamu
maka ambillah, dan apa yangdilarang, maka tinggalkanlah( QS. 59: 7).

Shalat dan haji adalah ibadah mahdhah, maka tatacaranya, Nabi bersabda:
Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat. Ambillah dari padaku tatacara haji kamu.Jika
melakukan ibadah bentuk ini tanpa dalil perintah atau tidak sesuai dengan praktek Rasul saw.,
maka dikategorikan Muhdatsatul umur perkara meng-ada-ada, yang populer disebut bidah:
Sabda Nabi saw.: Salah satu penyebab hancurnya agama-agama yang dibawa sebelum
Muhammad saw. adalah karena kebanyakan kaumnya bertanya dan menyalahi perintah Rasul-
rasul mereka.
3) Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini bukan ukuran
logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya berfungsi
memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri. Shalat, adzan, tilawatul
Quran, dan ibadah mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan oleh mengerti atau
tidak, melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syariat, atau tidak. Atas
dasar ini, maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat.
4) Azasnya taat, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini adalah
kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah
kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah,
dan salah satu misi utama diutus Rasul adalah untuk dipatuhi.

Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah :


1. Wudhu,
2. Tayammum
3. Mandi hadats
4. Adzan
5. Iqamat
6. Shalat
7. Membaca al-Quran
8. Itikaf
9. Shiyam ( Puasa )
10. Haji
11. Umrah
12. Tajhiz al- Janazah
Rumusan Ibadah Mahdhah adalah KA + SS
(Karena Allah + Sesuai Syariat)

b) Ibadah Ghairu Mahdhah,


(tidak murni semata hubungan dengan Allah) yaitu ibadah yang di samping sebagai hubungan
hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk
lainnya .Ibadah Ghoir Mahdah yaitu segala jenis peribadatan kepada Allah dalam pengertian yang
luas seperti kenegaraan, ekonomi, pendidikan, sosial, hubungan luar negeri, kebudayaan, undang-
undang kemasyarakatan, dan teknologi dan sebagainya. Ibadah jenis ini diistilahkan oleh para
fuqaha dengan perkataan 'Al-Muamalah' (iaitu hubungan antara manusia dengan manusia).
Peranan syara' dalam hal ini adalah memperbaiki sesuatu yang telah diadakan oleh manusia dan
manusia dibenarkan mengada-adakan sesuatu yang selaras dengan hukum-hukum/ peraturan
Allah (di dalam Al Quran dan As Sunnah)

Prinsip-prinsip dalam ibadah ini, ada 4:


1) Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah dan Rasul-
Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh diseleng garakan.
2) Tatalaksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya dalam ibadah bentuk ini
tidak dikenal istilah bidah , atau jika ada yang menyebut nya, segala hal yang tidak
dikerjakan rasul bidah, maka bidahnya disebut bidah hasanah, sedangkan dalam ibadah
mahdhah disebut bidah dhalalah.
3) Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat atau
madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika. Sehingga jika menurut logika sehat,
buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh dilaksanakan.
4) Azasnya Manfaat, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh dilakukan.
Ada juga sesetengah dari ulamak menambahkan ibadah ini kepada beberapa lagi jenis
ibadah.Lain-lain jenis ibadah itu ialah:
Ibadah Badaniah: tubuh badan seperti sembahyang, menolong orang dalam kesusahan dan lain-
lain. Ibadah Maliyah : harta benda seperti zakat, memberi sedekah, derma dan lain-lain. Ibadah
Qalbiyah: hati seperti sangka baik, ikhlas, tidak hasad dengki dan lain-lain.
Rumusan Ibadah Ghairu Mahdhah BB + KA (Berbuat Baik + Karena Allah) Selain itu Ibadah
juga terbagi pada Ibadah Fardiyah (perseorangan) dan Ibadah Jamaiyah (kewajiban secara
bersama atau berjamaah).

c) Ibadah Fardiyah yaitu amalan ibadah yang menjadi kewajiban setiap orang, seperti sholat,
zakat, haji dan sebagainya. Ibadah seperti ini dapat dilakukan di mana saja baik di dalam
negara Islam atau di negara kafir.
d) Ibadah jamaiyah yaitu ibadah yang diwajibkan ke atas seluruh umat (sebagai kewajiban
bersama). Sebagai contoh perlaksanaaan hukum hudud, hukum qishas dan sebagainya.
Sebagian ulama juga mengelompokkan jenis ibadah menjadi tiga peringkat ibadah yang
mencakup aspek kehidupan kita.
Ibadah asas
Ibadah yang asas merangkum soal-soal akidah dan keyakinan kita kepada ALLAH, para
malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari pembalasan, ketentuan dan ketetapan ALLAH baik
ataupun buruk. Itulah yang kita sebut rukun iman. Termasuk dalam uraian ibadah yang asas itu
ialah rukun Islam yaitu syahadat, shalat lima waktu, puasa, zakat fitrah dan rukun haji (bagi
mereka yang mampu). Kedua bentuk ibadah yang asas itu yaitu rukun iman dan rukun Islam
adalah wajib ain atau fardhu ain bagi setiap muallaf. Berarti sebelum kita dapat melaksanakan
ibadah-ibadah yang lain, kedua perkara itu perlu ada pada diri kita dan telah dapat kita tanamkan
dalam jiwa kita.

Ibadah Cabang
Adapun ibadah yang menjadi cabang-cabang dari ibadah asas tadi yaitu yang bertalian erat
dengan asas meliputi perkara mentajhizkan (menyelenggarakan) jenazah, menegakkan jihad,
membangun gelanggang pendidikan dan pelajaran atau mewujudkan perancangan ekonomi Islam
seperti mewujudkan perusahaan-perusahaan asas yang melayani keperluan umat Islam.
Termasuklah di dalamnya perusahaan yang dapat menghasilkan makanan wajib seperti gula,
tepung, garam, kecap dan perusahaan minuman seperti susu, kopi, teh dan bentuk-bentuk
minuman ringan lainnya. Selain dari itu di dalam bidang tersebut, termasuk juga penggalakan
usaha-usaha pertanian yang akan menghasilkan beberapa makanan asas bagi umat Islam seperti
beras, gandum, ubi dsb. serta perikanan yang dapat menghasilkan ikan basah atau ikan kering.
Kalau kita tilik dari satu sudut, pasti kita akan merasakan bahwa hal itu merupakan persoalan
asas dalam perjuangan kita menegakkan ibadah kepada ALLAH. Tentulah kita tidak mau darah
daging kita berasal dari zat yang bertentangan dengan syariat ALLAH, yang pasti bisa merusak
ibadah asas kita.
Dalam menegakkan bentuk pendidikan dan pelajaran, kita semestinya menitikberatkan hasil
mutlak dari acuan pendidikan kita pada jiwa anak-anak yang dibina mulai dari peringkat taman
kanak-kanak, sekolah menengah sampai universitas. Sehingga lulusannya nanti dapat
menyambung perjuangan menegakkan syariat ALLAH. Selain dari itu ibadah yang tergolong
dalam cabang-cabang itu ialah membangun klinik dan rumah sakit Islam, soal-soal politik serta
pembentukan dan penyusunan sistem organisasi dalam negara Islam.

Hal-hal yang termasuk dalam jenis ibadah yang kedua ini kita namakan fardhu kifayah. Kita
tentu lebih maklum apa sebenarnya fardhu kifayah itu yaitu fardhu yang menitikberatkan pada
soal kemasyarakatan Islam yang juga merupakan urat saraf dan nadi penghubung antara sesama
Islam.
Hal itu sangat besar artinya untuk seluruh individu Islam karena bila tidak ada satu orang
pun yang mengerjakannya maka seluruh masyarakat itu akan menerima beban dosa dari
ALLAH. Namun seandainya aa satu pihak melaksanakan tuntutan fardhu tersebut, maka pihak
itu telah melepaskan tanggungan dosa bagi seluruh masyarakat Islam. Karena itulah fardhu
kifayah merupakan urat nadi penghubung antara sesama Islam. Cuma masyarakat Islam tidak
memahami peranan fardhu kifayah tersebut, karena itu hubungan ukhuwah Islamiah tidak begitu
menonjol di zaman sekarang. Seandainya fardhu kifayah itu dapat memberi makna, sudah pasti
kita merasa bersyukur sekiranya ada di kalangan kita yang telah melepaskan tanggungan dosa
umum dan sudah pasti kita akan memberikan dukungan kepadanya. Karena itu tidak akan ada
istilah gagal dalam melaksanakan fardhu kifayah.
Kecil timbangannya tetapi besar maknanya. Itulah yang disebut sunat ain. Tergolong di
dalamnya yaitu shalat sunat rawatib, shalat witir, shalat tahajud, shalat dhuha, puasa syawal,
puasa Senin dan Kamis, bersedekah dan membaca Al Quran. Pelaksanaan ibadah itu
mendatangkan pahala sedangkan jika tidak dilakukan tidak akan mendatangkan dosa. Namun
karena ibadah itu memberikan manfaat maka lebih baik jika dikerjakan.

Ibadah Umum
Dan ibadah ketiga yaitu ibadah yang lebih umum yaitu hal-hal yang merupakan pelaksanaan
mubah saja tetapi bisa menjadi ibadah dan mendatangkan pahala. Amalan seperti itu dapat
menambah bakti kita kepada ALLAH agar setiap perbuatan dalam hidup kita ini tidak menjadi
sia-sia. Tergolong dalam amalan-amalan itu seperti makan, minum, tidur, berjalan-jalan,
berwisata dan sebagainya.

2.3 Hikmah dan Tujuan Ibadah (Mahdah)


Kita sebagai manusia dengan keterbatasan tidak mungkin mengetahui dan mengungkap
seluruh hikmah yang terkandung dalam apa yang Allah syariatkan dan tetapkan. Apa yang kita
ketahui dari hikmah Allah hanyalah sebagian kecil, dan yang tidak kita ketahui jauh lebih besar,
Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (Al-Isra`: 85).Allah adalah al-
Hakim, pemilik hikmah, tidak ada sesuatu yang Dia syariatkan kecuali ia pasti mengandung
hikmah, tidak ada sesuatu dari Allah yang sia-sia dan tidak berguna karena hal itu bertentangan
dengan hikmahNya.
Sekecil apapun dari hikmah Allah dalam sesuatu yang bisa kita ketahui, hal itu sudah lebih
dari cukup untuk mendorong dan memacu kita untuk melakukan sesuatu tersebut karena
pengetahuan tentang kebaikan sesuatu melecut orang untuk melakukannya.Setiap perintah
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengandung kebaikan untuk hamba-hamba-Nya. Memperhambakan
diri kepada Allah bermanfaat untuk kepentingan dan keperluan yang menyembah bukan yang
disembah.Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki
supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai
Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. Adz-Dzariyaat: 57-58)
Penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menjadi tujuan hidup dan tujuan
keberadaan kita di dunia, bukanlah suatu penghambaan yang memberi keuntungan bagi yang
disembah, tetapi penghambaan yang mendatangkan kebahagiaan bagi yang menyembah.
Penghambaan yang memberikan kekuatan bagi yang menyembahnya.Dan barangsiapa yang
bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa
yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia. (QS. An-Naml: 40)
Imam Qatadah berkata: Sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu kepada kalian bukan
karena berhajat padanya, dan tidak melarang sesuatu atas kalian karena bakhil. Akan tetapi Dia
memerintahkan sesuatu pada kalian karena di dalamnya terdapat kemaslahatan untuk kalian, dan
melarang sesuatu karena di dalamnya terdapat mafsadat (kerusakan). Oleh karenanya bukan
hanya satu tempat di dalam al-Quran yang memerintahkan berbuat perbaikan dan melarang
berbuat kerusakan.

Hikmah dan Tujuan Mengucapkan Kalimat Syahadat


Syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam ialah mengucapkan dua kalimat Syahadat.
Yaitu, Asyhadu allaa ilaaha ilallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah. Barangsiapa
yang mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisannya, maka dia menjadi orang Islam. Dan
berlaku baginya hukum-hukum Islam, walaupun dalam hatinya dia mengingkari.
Karena kita diperintahkan untuk memberlakukan secara lahirnya. Adapun batinnya, kita serahkan
kepada Allah. Dalil dari hal itu adalah ketika Nabi saw. menerima orang-orangyang hendak
masuk Islam, beliau hanya mewajibkan mereka mengucapkan dua kalimat Syahadat. Nabi saw.
tidak menunggu hingga datangnya waktu salat atau bulan Puasa (Ramadhan). Di saat Usamah,
sahabat Rasulullah saw, membunuh orang yang sedang mengucapkan, Laa
ilaaha illallaah, Nabi menyalahkannya dengan sabdanya, Engkau bunuh dia, setelah dia
mengucapkan Laa ilaaha illallaah. Usamah lalu berkata, Dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah
karena takut mati. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, Apakah kamu mengetahui isi
hatinya?Dalam Musnad Al-Imam Ahmad diterangkan, ketika kaum Tsaqif masuk Islam, mereka
mengajukan satu syarat kepada Rasulullah saw, yaitu supaya dibebaskan dari kewajiban
bersedekah dan jihad. Lalu Nabi saw. bersabda, Mereka akan melakukan (mengerjakan)
sedekah dan jihad.

Hikmah dan Tujuan Melaksanakan Shalat


Ibadah shalat yang merupakan ibadah teragung dalam Islam termasuk ibadah yang kaya
dengan kandungan hikmah kebaikan bagi orang yang melaksanakannya. Siapa pun yang
mengetahui dan pernah merasakannya mengakui hal itu, oleh karena itu dia tidak akan rela
meninggalkannya, sebaliknya orang yang tidak pernah mengetahui akan berkata, untuk apa
shalat? Dengan nada pengingkaran.
Di antara hikmah-hikmah shalat adalah:
Pertama: Manusia memiliki dorongan nafsu kepada kebaikan dan keburukan, yang pertama
ditumbuhkan dan yang kedua direm dan dikendalikan. Sarana pengendali terbaik adalah ibadah
shalat. Kenyataan membuktikan bahwa orang yang menegakkan shalat adalah orang yang paling
minim melakukan tindak kemaksiatan dan kriminal, sebaliknya semakin jauh seseorang dari
shalat, semakin terbuka peluang kemaksiatan dan kriminalnya. Firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala;Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji
dan mungkar. (Al-Ankabut: 45).
Dari sini kita memahami makna dari penyandingan Allah antara menyia-nyiakan shalat dengan
mengikuti syahwat yang berujung kepada kesesatan. Maka datanglah sesudah mereka,
pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka
mereka kelak akan menemui kesesatan. (Maryam: 59).
Kedua: Seandainya seseorang telah terlanjur terjatuh kedalam kemaksiatan dan hal ini pasti
terjadi karena tidak ada menusia yang mashum (terjaga dari dosa) selain para nabi dan rasul,
maka shalat merupakan pembersih dan kaffarat terbaik untuk
itu. Rasulullah saw.mengumpamakan shalat lima waktu dengan sebuah sungai yang mengalir di
depan pintu rumah salah seorang dari kita, lalu dia mandi di sungai itu lima kali dalam sehari
semalam, adakah kotoran di tubuhnya yang masih tersisa? Dari Abu
Hurairah radliyallahu 'anhuberkata, aku mendengar Rasulullah shallalahu 'alaihi
wasallam bersabda, Menurut kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang
dari kalian di mana dia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apakah masih ada kotorannya
yang tersisa sedikit pun? Mereka menjawab,Tidak ada kotoran yang tersisa sedikit pun.
Rasulullah saw bersabda, Begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah
menghapus kesalahan-kesalahan. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dari Ibnu Masud radliyallahu 'anhu bahwa seorang laki-laki mendaratkan sebuah
ciuman kepada seorang wanita, lalu dia datang kepada Nabi shallalahu 'alaihi wasallamdan
menyampaikan hal itu kepada beliau, maka Allah menurunkan, Dan dirikanlah shalat itu pada
kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan
yang buruk. (Hud: 114) Laki-laki itu berkata, Ini untukku? Nabi shallalahu 'alaihi
wasallam menjawab, Untuk seluruh umatku. (Muttafaq Alaihi).
Ketiga: Hidup manusia tidak terbebas dari ujian dan cobaan, kesulitan dan kesempitan
dan dalam semua itu manusia memerlukan pegangan dan pijakan kokoh, jika tidak maka dia
akan terseret dan tidak mampu mengatasinya untuk bisa keluar darinya dengan selamat seperti
yang diharapkan, pijakan dan pegangan kokoh terbaik adalah shalat, dengannya seseorang
menjadi kuat ibarat batu karang yang tidak bergeming di hantam ombak bertubu-
tubi. FirmanAllah, (artinya) Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan
sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. (Al-
Baqarah: 45).Ibnu Katsir berkata, Adapun firman Allah, Dan shalat, maka shalat termasuk
penolong terbesar dalam keteguhan dalam suatu perkara.
Firman Allah (artinya), Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah: 153).Ibnu
Katsir berkata, Allah Taala menjelaskan bahwa sarana terbaik sebagai penolong dalam memikul
musibah adalah kesabaran dan shalat.Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Hudzaefah bahwa
jika Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam tertimpa suatu perkara yang berat maka beliau
melakukan shalat. (HR. Abu Dawud nomor 1319).
Keempat: Hidup memiliki dua sisi, nikmat atau musibah, kebahagiaan atau kesedihan. Dua
sisi yang menuntut sikap berbeda, syukur atau sabar. Akan tetapi persoalannya tidak mudah,
karena manusia memiliki kecenderungan kufur pada saat meraih nikmat dan berkeluh kesah pada
saat meraih musibah, dan inilah yang terjadi pada manusia secara umum, kecuali orang-orang
yang shalat. Orang yang shalat akan mampu menyeimbangkan sikap pada kedua keadaan hidup
tersebut. Firman Allah, (artinya), Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi
kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia
amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan
shalatnya. (Al-Maarij: 19-23).
Ibnu Katsir berkata, Kemudian Allah berfirman, Kecuali orang-orang yang shalat yakni
manusia dari sisi bahwa dia memiliki sifat-sifat tercela kecuali orang yang dijaga, diberi taufik
dan ditunjukkan oleh Allah kepada kebaikan yang dimudahkan sebab-sebabnya olehNya dan
mereka adalah orang-orang shalat.
Sebagian dari hikmah yang penulis sebutkan di atas cukup untuk membuktikan bahwa shalat
adalah ibadah mulia lagi agung di mana kita membutuhkannya dan bukan ia yang membutuhkan
kita, dari sini kita mendapatkan ayat-ayat al-Qur`an menetapkan bahwa perkara shalat ini
merupakan salah satu wasiat Allah kepada nabi-nabi dan wasiat nabi-nabi kepada umatnya.
Allah berfirman tentang Isa putra Maryam: Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di
mana saja aku berada, dan dia mewasiatkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan)
zakat selama aku hidup. (Maryam: 31). Allah berfirman tentang Musa: Dan dirikanlah shalat
untuk mengingat Aku. (Thaha: 14).

Hikmah dan Tujuan Ibadah Puasa


Puasa memiliki tujuan yang secara tegas dijelaskan dalam Al Quran surah Al Baqarah [2]:183
adalah untuk membentuk pribadi Muslim yang bertakwa kepada Allah. Yakni, mengerjakan
semua perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang Allah-Nya. Berkaitan dengan hal ini,
Rasulullah SAW menegaskan bahwa sesungguhnya puasa itu ada tiga tingkatan. Yakni, puasanya
orang awam, puasa khawas, dan puasa khawasul khawas.
Puasanya orang awam (umum) adalah sekadar menahan haus dan lapar dari terbit fajar
sampai terbenamnya matahari. Sedangkan puasanya orang khawas adalah menahan makan dan
minum serta semua perbuatan yang membatalkannya. Misalnya mulutnya ikut berpuasa dengan
tidak berkata kotor, mencaci, mengumpat, atau mencela orang lain. Demikian juga dengan
tangan dan kakinya, dipergunakan untuk perbuatan yang baik dan terpuji. Sementara telinganya
hanya dipergunakan untuk mendengarkan hal-hal yang baik. Puasa khawas ini adalah puasanya
orang yang alim dan fakih. Adapun puasa khawasul khawas adalah tidak hanya sekadar menahan
makan dan minum serta hal-hal yang membatalkannya, termasuk juga menahan seluruh anggota
pancaindera, tetapi hatinya juga ikut berpuasa. Menurut para ulama, inilah jenis puasanya para
Nabi dan Rasul Allah. Puasa yang demikian itulah yang akan diberikan secara langsung
balasannya oleh Allah SWT."Sesungguhnya seluruh amal anak Adam itu untuk diri mereka
sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya." (Hadis Qudsi).
Puasa yang mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar inilah yang mampu
membentuk pribadi Muslim yang bertakwa, sebagaimana penjelasan QS Al-Baqarah [2] ayat 183
di atas.

Hikmah dan Tujuan Menunaikan Zakat


Salah satu tantangan ke depan dalam upaya mereduksi tingginya kesenjangan antara
potensi dan aktualisasi penghimpunan zakat, adalah bagaimana meningkatkan sosialisasi dan
edukasi zakat kepada seluruh komponen masyarakat. Untuk itu, kampanye mengenai hikmah dan
tujuan zakat diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh tentang bagaimana implikasi
zakat pada kehidupan individual, masyarakat bangsa dan negara. Berdasarkan ayat dan hadits
yang terkait zakat, ada beberapa hikmah dan tujuan disyariatkannya ibadah zakat ini.
Pertama, Zakat, infaq dan sedekah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para
mustahiq, terutama fakir-miskin, termasuk di dalamnya membantu mereka di bidang pendidikan,
kesehatan dan kegiatan ekonomi. ZIS bertujuan pula untuk mengurangi kesenjangan yang saat
ini terjadi (QS. Al-Hasyr [59]: 7). Data menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin
meningkat antara kelompok kaya dan kelompok miskin (hasil riset the New Economics
Foundation dan Human Development Report 2006).
Sedangkan Riset Anup Shah (2008) menyatakan bahwa 3 milyar manusia hidup dengan
pendapatan di bawah 2 dolar AS/hari, 1 dari 2 anak hidup dalam kemiskinan, dan GDP 41 negara
miskin sama dengan kekayaan 7 orang terkaya di dunia. Sementara riset lain juga menemukan
bahwa daya beli kelompok miskin Indonesia yang semakin menurun yang ditunjukkan dengan
beberapa indikator, di antaranya: upah riil petani turun 0,2%, upah riil buruh bangunan turun 2%,
pembantu rumah tangga turun 0,5% dan tukang potong rambut turun 2,5% (Beik, 2008).
Kedua, Zakat, infaq dan sedekah terkait dengan etos kerja. Artinya, orang yang bersedia
melaksanakan ZIS pasti memiliki etos kerja yang tinggi (QS Al-Mukminun : 1-4).
Ketiga, Zakat, infaq dan sedekah terkait dengan etika bekerja dan berusaha. Orang yang
selalu berusaha melaksanakan ZIS pasti akan berusaha mencari rezeki yang halal. Karena ZIS itu
tidak akan diterima dari harta yang didapatkan melalui cara yang tidak benar. Dalam sebuah
hadits, Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak akan menerima sedekah yang ada
unsur tipu daya". (HR. Muslim). Sosialisasi zakat pada hakikatnya di samping menggerakkan
etos kerja masyarakat, juga meminimalisir kegiatan korupsi yang sangat merugikan dan merusak.
Keempat, Zakat, infaq dan sedekah terkait dengan aktualisasi potensi dana untuk
membangun dan meningkatkan ksejeahteraan umat, seperti untuk membangun sarana pendidikan
yang unggul tetapi murah, sarana kesehatan, institusi ekonomi, institusi publikasi dan
komunikasi, serta yang lainnya.
Kelima, Zakat, infaq dan sedekah terkait dengan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual
dan sosial. Artinya, kesediaan ber-ZIS ini akan mencerdaskan muzakki untuk mencintai
sesamanya, terutama kaum dhuafa (HR Bukhari).
Keenam, Zakat, infaq dan sedekah akan menyebabkan ketenangan, kebahagiaan, keamanan
dan kesejahteraan hidup, lahiriah dan batiniah. Seperti yang dijelaskan dalam QS At Taubah
(9) :103.
Ketujuh, Zakat, infaq dan sedekah terkait dengan upaya menumbuhkembangkan harta yang
dimiliki dengan cara mengusahakan dan memproduktifkannya.
Kedelapan, Zakat, infaq dan sedekah juga akan menyebabkan orang semakin giat
melaksanakan ibadah mahdlah, seperti shalat maupun yang lainnya.
Kesembilan, mencerminkan semangat sharing economy. Dalam sebuah penelitian, Prof
Yonchai Benkler (Harvard University) menyatakan bahwa sharing atau semangat berbagi
merupakan modalitas yang paling penting untuk meningkatkan produktivitas ekonomi. Bahkan
Swiercz dan Smith dari Georgia University menyimpulkan bahwa berbagi atau sharing
merupakan solusi terhadap persoalan krisis yang saat ini tengah dihadapi AS. Karena itu,
keberadaan zakat sesungguhnya merupakan hal fundamental dalam memastikan adanya aliran
kekayaan dari kelompok kaya kepada kelompok miskin.
Kesepuluh, Zakat, infaq dan sedekah juga sangat berguna dalam mengatasi berbagai macam
musibah yang terjadi di lingkungan sekitar kita, seperti di Aceh, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa
Barat, Sumatera Barat dan musibah-musibah yang terjadi sekarang ini.
Namun demikian, kesepuluh hikmah tersebut tidak mungkin bisa diaplikasikan, kecuali
melalui negara yang bekerja sama dengan lembaga amil zakat yang amanah, transparan dan
bertanggungjawab. Karena itu, satu-satunya ibadah yang secara eksplisit di dalam Alquran dan
Hadis terdapat petugasnya (amil) adalah zakat, sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. At-Taubah:
60. Inilah yang menjadi misi utama Badan Amil Zakat Nasional, yaitu bagaimana merealisasikan
keseluruhan hikmah dan tujuan zakat di atas, demi peningkatan kesejahteraan masyarakat,
bangsa dan negara.

3.5 Hikmah dan Tujuan Ibadah Haji


Ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari ibadah haji kita antara lain:

3.5.1 Hikmah Ihram


Ihram memiliki pengertian "niat mulai mengerjakan ibadah haji atau umrah dan menjauhi
segala larangan-larangan selama berihram". Allah STW telah menetapkan beberapa larangan
yang harus dipatuhi oleh jamaah haji selama berihram jika dilanggar maka ada konsekuensi yang
harus kita terima jika dilanggar, yaitu dengan cara membayar Dam / Fidyah sesuai ketentuan
syar'i. Dengan berihram ini berarti kita telah berikrar dan bertekad untuk tidak melanggar
larangan-larangan ihram seperti memotong/ mencukur rambut, memotong pepohonan di Tanah
Suci atau memakai pakaian berjahit. Padahal kesemuanya itu hal biasa dalam keseharian, bahkan
kita disunahkan memotong kuku atau rambut untuk kebersihan kita, tetapi dalam kondisi
berihram semuanya itu adalah dilarang. Hikmah yang bisa kita petik dari
semua ialah menunjukkan sikap kepatuhan dan ketaatan kita kepada Allah SWT. Hal ini juga
wujud dari ikrar syahadat kita bahwa Tidak ada Tuhan yang yang patut disembah selain Allah
SWT. Ketaatan kita kepada-Nya adalah mutlak tanpa adanya pengecualian. Dialah Sang
Pencipta, Yang Berkuasa atas segala sesuatu,apapun yang telah ditetapkan-Nya adalah ketentuan
yang mutlak berlaku, kita hanya hambanya yang dhaif, lemah. Kepatuhan dan ketaatan diuji,
untuk tidak melanggar larangan-larangan ihram dalam berihram ini.
Dalam berihram, hanya memakai dua helai kain saja tanpa berjahit, disunnahkan kain
yang putih bersih. Hal ini menunjukkan kita semua dihadapan Allah SWT adalah sama, tidak ada
yang berpakaian mewah, semua pakaian yang gemerlap, pangkat dan jabatan harus ditanggalkan.
Yang tertinggal adalah ketaqwaan kita yang menjadi bekal kita dalam .memenuhi panggilan
Allah SWT ini, karena sebaik-baiknya bekal adalah bekal taqwa. Dalam memenuhi panggilan
Allah SWT ini, diharapkan dengan hati yang bersih, seputih bersih kain ihram itu sendiri, tidak
ada kesombongan, karena kesombongan hanyalah milik Allah SWT semata

3.5.2 Hikmah Thawaf


Thawaf adalah mengelilingi Ka'bah sebayak tujuh kali putaran dimulai dan diakhiri dari
Rukun Hajar Aswad, sedangkan ka'bah berada disebelah kiri. Ka'bah adalah pusat/ kiblat ibadah
umat islam. Di Baitullah ini kita menjadi tamu Allah SWT. Thawaf merupakan sarana pertemuan
kita sebagai tamu dengan Sang Khaliq, dengan mengelilingi ka'bah disertai dengan dzikir dan
berdoa dengan khusuk. Ka'bah menjadi pusaran dan pusat peribadatan kita kehadirat Allah SWT,
karena thawaf identik dengan sholat dimana kita berkomunikasi secara langsung dengan Allah
SWT. Putaran thawaf sebanyak 7 kali merefleksikan rotasi bumi terhadap matahari yang
menandai putaran terjadinya kisaran waktu, siang dan malam, yang menunjukkan waktu, hari,
bulan dan tahun. Inilah kebesaran Allah SWT, semua itu bukan terjadi secara kebetulan, tetapi
sudah menjadi Sunatullah.Karena kejadian dimuka bumi ini tidak ada yang kebetulan melainkan
sudah direncanakan Allah SWT. Dan semuanya berjalan sesuai dengan ukurannya masing-
masing.

3.5.3 Hikmah Sa'i


Sa'i berarti "usaha", sa'i adalah perjalanan dari Shafa ke Marwah dan sebaliknya sebanyak
7 kali perjalanan. Ibadah sa'i ini merupakan ajaran dari Siti Hajar ketika mondar-mandir antara
Bukit Shafa dan Bukit Marwah untuk mencari air karena Nabi Ismail AS menangis kehausan,
padahal jarak antara Shafa dan Marwah sekitar 425 m. Kisah ini menunjukkan betapa besarnya
cinta kasih seorang ibu kepada anaknya, begitu kuat usaha yang dilakukannya untuk
mendapatkan setetes air untuk menghilangkan dahaga anaknya. Hikmah yang bisa kita ambil
dari kisah tersebut adalah usaha yang dilakukan secara terus-menerus tanpa kenal lelah serta
tawakal untuk meraih suatu tujuan, meskipun pada akhirnya hanyalah Allah SWT yang
menentukan hasil dari jerih payah kita. Kenyataannya yang menemukan sumber mata air di tanah
yang kering dan tandus tersebut adalah putranya sendiri, Nabi Ismail AS, yang dikenal dengan
sumur air zam-zam. Air Zam-zam inilah yang pada akhirnya menghidupi masyarakat sekitar
Makkah selama ribuan tahun dan sumur ini tidak pernah kering sampai saat ini, meskipun
berjuta-juta galon telah diambil untuk keperluan jamaah haji.

3.5.4 Hikmah Tahallul


Tahallul merupakan perbuatan untuk melepaskan diri dari larangan-larangan ihram
selama berihram, dilakukan dengan cara bercukur. Bercukur mengandung makna membersihan
diri, membersihkan segala pikiran-pikiran kotor yang tidak bermanfaat. Bersihkan hati dan
pikiran untuk menapaki kehidupan yang lebih baik menuju kepada keridhaan Allah SWT.

3.5.5 Hikmah Wukuf


Wukuf berarti "berhenti", merupakan rukun ibadah haji, tidak ada haji jika tidak wukuf di
arofah. Wukuf di padang Arofah merupakan gambaran kelak kita akan dikumpulkan Allah SWT
di Padang Mahsyar pada Hari Kebangkitan. Pada saat wukuf ini, kita akan merasa dalam suasana
yang tenang, tentram, seluruh jamaah haji dari berbagai penjuru dunia berkumpul, bermunajad
kehadirat Allah SWT, Sang Pencipta. Semuanya berdzikir, bertafakur, ada yang menangis
memohon ampunan, bertobat atas segala dosa dan kesalahan. Sesungguhnya Adalah sebaik-
baiknya Penerima Taubat Hamba-Nya. Dalam Wukuf ini Allah akan membebaskan dan
mengampuni dosa-dosa orang-orang yang sedang wukuf sebesar apapun dosanya, seperti
disebutkan dalam hadits riwayat Muslim, Nabi SAW bersabda: "Aku berlindung kepada Allah
SWT dari godaan syetan yang terkutuk. Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan
seorang hamba dari neraka selain Hari Arofah."
Dalam hadits lain Rasulullah SAW juga bersabda : Nabi SAW wukuf di Arofah, di saat
matahari hampir terbenam; Beliau berkata; "Wahai Bilal suruhlah umat manusia mendengarkan
saya." Maka Bilal pun berdiri seraya berkata, "Dengarkanlah Rasulullah SAW," maka mereka
mendengarkan, lalu Nabi SAW bersabda; " Wahai umat manusia, baru saja Jibril a.s. datang
kepadaku, maka dia membacakan salam dari Tuhanku, dan dia mengatakan; "Sungguh Allah
SWT mengampuni dosa-dosa orang-orang yang berwukuf di Arofah, dan orang-orang yang
bermalam di Masy'aril Haram (Muzdalifah), dan menjamin membebaskan mereka dari tuntutan
balasan dan dosa-dosa mereka. Maka Umar bin Khattab berdiri dan bertanya, Ya, Rasulullah,
apakah ini khusus untuk kita saja?Rasulullah menjawab: "Ini untukmu dan orang-orang
sesudahmu hingga hari kiamat kelak. Umar r.a. pun lalu berkata, Kebaikan Allah sungguh
banyak dan Dia Maha Pemurah."

3.5.6 Hikmah Mabit di Muzdalifah


Setelah terbenam matahari wukuf telah berakhir, jamaah haji berangkat menuju
Muzdalifah untuk bermalam dan beristirahat, mengumpulkan tenaga kembali guna melanjutkan
melontar jumrah di Mina. Disunnahkan di Muzdalifah ini jamaah haji mencari kerikil untuk
melontar jamrah. Selama mabit di Muzdalifah ini disunnahkan memperbanyak dzikir dan berdoa.
Setelah lewat tengah malam, jamaah haji akan berangkat menuju Mina untuk mabit dan melontar
jamrah pada tanggal 10, 11, 12, 13, Dzulhijjah. Hikmah Mabit di Muzdalifah ini, kita
mempersiapkan diri baik tenaga maupun perbekalan dan senjata (lambang kerikil) untuk
melawan musuh manusia yang nyata yaitu syeitan. Kerikil-kerikil tersebut nantinya
dipergunakan untuk melontar jamrah yang melambangkan perang melawan syaitan. Syaitan
selalu menjerumuskan manusia ke dalam api neraka karena itu tidak ada ruang lagi bagi syaitan.

3.5.7 Mabit di Mina


Mabit di mina ini dilaksanakan selama 4 hari mulai tanggal 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah.
Selama mabit ini jamaah haji akan melaksanakan melontar jumrah Ula, Wustha dan Aqobah.
Mabit ini merupakan penginggalan ajaran Nabi Ibrahim A.S. ketika diperintahkan Allah SWT
untuk menyembelih putranya Nabi Ismail A.S. Dalam perjalanan menjalankan perintah Allah
inilah Nabi Ibrahim mendapat godaan terus-menerus dari syaitan agar mengurungkan niatnya
untuk menyembelih putra kesayangannya, tetapi Nabi Ibrahim A.S. tetap istiqomah menjalankan
perintah ALLAH SWT ini dan melempari syaitan-syaitan tersebut dengan batu kerikil (jamrah).
Makna Melontar jamrah adalah perang kita terhadap musuh yang paling nyata bagi manusia
yaitu syaitan, karena syaitan-syaitan tidak pernah lengah untuk menggoda manusia agar
terjerumus kedalam api neraka. Disamping itu selama mabit ini kita disunahkan untuk selalu
mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berdzikir dan berdoa serta memperbanyak ibadah.

4. Hikmah dan Tujuan Ibadah (Ghairu Mahdah)


4.1.Sedekah
1. Akan menambah rezeki kita.
2. Dapat memelihara kelangsungan warisannya.
3. Dapat merasakan penderitaan orang lain.

Bersodaqoh pahalanya sepuluh, member hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan belas,
menhubungkan diri dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh dan silaturrahim (dengan
keluarga) pahalanya dua puluh empat. {HR. Al Hakim}

Tujuan Sedekah:
1. Membersihkan harta.
2. Berbagi dengan orang yang tidak mampu.
3. Untuk mendapatkan keridhoan Allah swt.

Apa yang kamu nafkahkan dengan tujuan keridhoan Allah akan diberi pahala walaupun
hanya sesuap makanan kemulut istrimu. {HR.Al Bukhari}
4.2.Akhlakul Karimah
1. Memperoleh kebaikan didunia dan akhirat.
2. Selalu dipercaya oleh orang lain.
3. Tidak memiliki musuh.

Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya(kehormatannya) adalah akalnya,


sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. {HR. Ahmad Al Hakim}

Tujuan Akhlakul Karimah:


1. Untuk membiasakan diri agar selalu berbuat baik.
2. Melatih kesabaran.
3. Agar selalu tenang dalam bertindak.

Bukan akhlak seorang mukmin berbicara dengan lidah yang tidak sesuai kandungan hatinya.
Ketenangan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah
dari syetan. {HR Asysyhaab}

4.3.Muamalah
Hikmah Bermuamalah yang jujur:
1. Dapat menambah rezeki.
2. Selalu dipercaya oleh orang lain.
3. Dapat meninggikian derajat kita di akhirat.

Pedagang yang jujur amanatnya kelak di hari kiamat bersama-sama para nabi, shiddiqin dan
para shuhada. {HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah}
Tujuan Bermuamalah yang jujur:
1. Untuk mendapatkan ridho Allah.
2. Melatih sikap jujur pada diri kita.

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa
di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut
akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (Q.S.17:57).

4.4.Silaturrahim
Hikmah silaturrahim:
1. Dapat meninggikan derajat didunia dan akhirat.
2. Mendapat banyak teman.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri
yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah
memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah
yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan
(peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
QS. An-Nisa [4] : 1.
Dari Jubair Ibnu Muth'im Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Tidak akan masuk surga seorang pemutus, yaitu pemutus tali kekerabatan."
Muttafaq Alaihi.
Tujuan Silaturrahim:
1. Menyambung hubungan kekerabatan yang putus.
2. Mencapai ridho Allah.

''Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezeki dan dipanjangkan usianya, hendaklah ia


senantiasa menjaga silaturahim.'' (H. R. Muslim).

4.5.Dakwah
Hikmah Dakwah:
1. Mencapai ridho illahi.
2. Dapat meninggikan derajat kita.

Tujuan Dakwah:
1. Mengajak umat manusia (meliputi orang mukmin maupun orang kafir atau musyrik)
kepada jalan yang benar agar dapat hidup sejahtera di dunia maupun di akhirat.
2. Mengajak umat Islam untuk selalu meningkatkan taqwanya kepada Allah swt.
3. Mendidik dan mengajar anak-anak agar tidak menyimpang dari fitrahnya.
4. Menyelesaikan dan memecahkan persoalan-persoalan yang gawat yang meminta segera
penyelesaian dan pemecahan.
5. Menyelesaikan dan memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi sewaktu-waktu dalam
masyarakat.
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhoan
Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi
yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan
lebat tidak menyiraminya maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah melihat apa yang kau
perbuat. (Al-Baqarah 265)

4.6.Munakahat
Hikmah Munakahat:
1. Perkawinan Dapat Menentramkan Jiwa
2. Perkawinan dapat Menghindarkan Perbuatan maksiad.

Dan diantara tanda tanda kekuasaa-Nya ialah dia menciptkan istri istri dari jenismu
sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. (Ar Rum/30:21)
Tujuan Munakahat:
1. Sebagai bentuk ibadah.
2. Perkawinan untuk Melanjutkan Keturunan

4.7.Kebersihan
Hikmah kebersihan:
1. Memperoleh kebikan dunia dan akhirat.
2. Terhindar dari kuman-kuman penyakit.
Sesungguhnya Allah menyukai dan menyukai kebaikan,bersih dan menyukai kebersihan, murah
hati dan senang kepada kemurahan hati, dermawan dan senang kepada kedermawanan. Karena
itu bersihkanlah halaman rumahmu dan jangan meniru-niru orang-orang yahudi. {HR. At
Tirmidzi}
Tujuan Kebersihan:
1. Agar hidup menjadi tenang.
2. Agar terbiasa hidup bersih.

4.8.Tolong-menolong
Hikmah Tolong-menolong:
1. Dapat memberi keringanan antara satu sama lain.
2. Dapat mengeratkan kasih sayang yang dipupuk dibalik pekerjaan yang sama sama
dilakukan
3. Mewujudkan sikap saling hormat menghormati di antara individu dalam masyarakat

Orang Islam adalah bersaudara, sesama Islam tidak boleh menzaliminya dan membebani
dengan sesuatu yang memberatinya dan siapa yang menunaikan sesuatu hajat saudaranya,
maka Allah akan menunaikan hajatnya, dan siapa yang melepaskan sesuatu bala orang Islam,
Allah akan melepaskan segala bala kesusahannya di akhirat, dan siapa yang menutup suatu aib
orang Islam, Allah akan menutup aibnya di hari kiamat. (Riwayat Bukhari)

Tujuan Tolong-menolong:
1. Menjalin kekerabatan.
2. Mengembangkan sikap baik.
BAB 3
PENUTUP

Kesimpulan
Ibadah merupakan seluruh aspek kehidupan. Tidak terbatas pada saat-saat singkat yang
diisi dengan cara-cara tertentu. Suatu Ibadah mempunyai nilai yaitu jalan hidup dan
seluruh aspek kehidupan dan merupakan tingkah laku, tindak-tanduk, pikiran dan perasaan
semata-mata untuk Allah, yang dibangun dengan suatu sistem yang jelas, yang di dalamnya
terlihat segalanya yang pantas dan tidak pantas terjadi .

Secara garis besar ialah dibagi menjadi dua:


Ibadah murni (mahdhah), adalah suatu rangkaian aktivitas ibadah yang ditetapkan Allah
Swt. Dan bentuk aktivitas tersebut telah dicontohkan oleh Rasul-Nya, serta terlaksana atau
tidaknya sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran teologis dari masing-masing individu.

Ibadah Ghairu Mahdhah, yakni sikap gerak-gerik, tingkah laku dan perbuatan yang
mempunyai tiga tanda yaitu: pertama, niat yang ikhas sebagai titik tolak, kedua keridhoan Allah
sebagai titik tujuan, dan ketiga, amal shaleh sebagai garis amal.
Ruang lingkup 'ibadah di dalam Islam amat luas sekali. Hanya merangkumi setiap kegiatan
kehidupan manusia. Setiap apa yang dilakukan baik yang bersangkut dengan individu maupun
dengan masyarakat adalah 'ibadah menurut Islam selama ia memenuhi syarat-syarat tertentu.
Manusia diciptakan Allah bukan sekedar untuk hidup di dunia ini kemudian mati tanpa
pertanggungjawaban, tetapi manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah. Karena Allah maha
mengetahui tentang kejadian manusia, maka agar manusia terjaga hidupnya, bertaqwa, diberi
kewajiban ibadah. Tegasnya manusia diberi kewajiban ibadah agar menusia itu mencapai taqwa.
Hikmah dari ibadah adalah kita dapat meningkatkan ketaqwaan tehadap Allah swt dan
hidup berdasarkan apa yan Dia perintahkan.

Saran
Sebagai manusia hendaknya kita tidak melupakan hakikat dari penciptaan kita, yaitu
untuk beribadah kepada Allah swt sesuai dengan Al Quran dan Hadits baik dalam ibadah
mahdah (khusus) maupun dalam ibadah ghoiru mahdah (umum) dengan niat semata-mata ikhlas
untuk mencapai ridha Allah.
DAFTAR PUSAKA

http://ariefhikmah.com/dr-yusuf-al-qardhawi/syarat-utama-bagi-orang-yang-masuk-islam/

http://ariefhikmah.com/puasa/esensi-puasa/

http://muhamadzainudin-dzay.blogspot.com/2010/09/kedudukan-tujuan-hikmah-dan-hukum.html

http://www.eramuslim.com/ramadhan/hikmah-ramadhan/hakikat-ibadah-zakat.htm

http://www.voa-islam.com/teenage/secret-sholat/2009/07/07/166/hikmahhikmah-shalat/

http://www.elitha-eri.net/2008/01/14/rahasia-dan-hikmah-gerakan-shalat/

http://www.kbiharofahmalang.com/materi-168-hikmahhikmah-ibadah-haji.html

http://muntadaquran.net/v2/arsip/tafsir/1200-tujuan-ibadah-haji-2.html

http://id.netlog.com/yennisarinah/blog/blogid=19324

boka asy syafiyyah:2006

http://mta-online.com/v2/2009/05/26/kenapa-enggan/

Almath, Muhammad Faiz, Dr. 1991. 1100 Hadits Terpilih Sinar Ajaran Muhammad. Jakarta:

Gema Insani.

http://yurishandcraft.blogspot.co.id/2013/12/makalah-konsep-ibadah-dalam-islam.html