Anda di halaman 1dari 16

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
Nama : Tn.S
IDENTITAS Ruang : Tulip
Umur : 50 tahun
Nama Lengkap : Ny. T
Umur/JK : 50 Tahun / Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Tembarak
Kunjungan RS tanggal : 6 oktober 2016
Dokter yang merawat : dr. Djoko Agung, Sp. PD

KELUHAN UTAMA: Sesak Nafas


1. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD Temanggung dengan keluhan sesak nafas sejak 4 hari
sebelum masuk rumah sakit, sesak nafas dirasa tiba-tiba dan bertambah sesak hingga dibawa ke
rumah sakit,dan mengeluhkan batuk dengan dahak berwarna putih, posisi istirahat dapat
mengurangi sesak nafas dan memberat di saat dingin.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
TB Paru 10 tahun yang lalu dengan pengobatan lengkap dan dinyatakan sembuh sejak 7 tahun
yang lalu, asthma (-), Hipertensi (-), DM (-)

3. Riwayat Penyakit Keluarga


Batuk kronis (-), Sesak nafas (-), Hipertensi (-), DM (-)

4. Riwayat Personal Sosial


Bekerja sebagai buruh tani, ventilasi dan pencahayaan rumah baik, riwayat merokok 10 tahun
yang lalu.
PEMERIKSAAN FISIK
1. KU : Tampak Sesak
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. Vital Sign : TD : 150/90 mmHg Nadi : 110 x/menit
o
Suhu : 36 C Respirasi : 36 x/menit
4. Kepala : Normocephal
5. Mata : Sclera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), reflek cahaya (+/+)

6. Thorax:
Inspeksi : Asimetris
Perkusi : Hipersonor
Palpasi : Vokal fremitus lebih keras hemithoraks sinistra

RM.01.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
Auskultasi : SDV +/+ (melemah bagian dextra), ronkhi +/-, whezing +/-
7. Abdomen :
Inspeksi : datar
Auskultasi : BU (+), 12x/ menit
Perkusi : Timpani
Palpasi : Supel
8. Ekstremitas :
Akral dingin (-) Oedem (-)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium
- Hasil pemeriksaan mikroskopis sputum : BTA (-)
- Pemeriksaan hematologi
Jumlah Lekosit : 11,8 N: 4,5 11,0
Limfosit : 11,7 N: 20 - 60
Netrofil : 84,1 N: 50-70
2. Pemeriksaan Radiologi :

1. Foto x-ray Thorax tanggal 6 oktober 2016, Pre OP pemasangan WSD

Deskripsi :
X-Foto thorax AP duduk View pada pasien ini menunjukkan :
Mediastinum terdorong ke dextra
Diafragma terdorong ke caudal
Gambaran Infiltrate di paru dextra
Gambaran hiperlusen avaskular pasda hemithorax sinistra
Besar cor normal
Sistema tulang intak

Kesan : Tension pneumothorax sinistra


2. Foto x-ray thorax 10 oktober 2016, Post pemasangan WSD hari ke1

RM.02.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056

Deskripsi :
X-Foto thorax AP duduk View pada pasien ini menunjukkan :
Effusi pleura minimal
Konsolidasi lobus superior pulmo dextra, fibrosis (+)
Mediastinum dan trachea terdeviasi ke dextra
Besar cor normal
SIC Hemithorax sinistra sedikit melebar
Empisema subkutis pada regio hemithorax sinistra spect lateral
Terpasang WSD dengan ujung distal di aspect lateral hemithorax sinistra setinggi OS VII

Kesan : Pneumothorak sinistra sudah berkurang dibanding, foto lama tanggal 6 oktober 2016

3. Foto x-ray Thorax tanggal 12 oktober 2016, Foto setelah dilepas WSD

Deskripsi :
X-Foto thorax AP duduk View pada pasien ini didapatkan :
Effusi Pleura dextra minimal
Konsolidasi lobus superior pulmo dextra. Fibrosis

RM.03.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
Mediastinum dan trachea terdeviasi ke dextra
Besar cor normal
SIC hemithorax sinista sedikit melebar

Kesan : Pneumothorax sinistra relative berkurang dibandingkan dengan foto sebelumya tanggal 10
oktober 2016.

Diagnosis : Pneumothorax Sinistra Spontan Sekunder


Diagnosis banding : TB, Pneumonia
Terapi :
Nebulizer
Rehidrasi D5
Aminofilin
WSD
RL
Ceftriaxon
Ketorolac

PEMBAHASAN PNEMOTHORAX

I. DEFINISI
Pneumothorax adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga pleura.
Dengan adanya udara dalam rongga pleura tersebut, maka akan menimbulkan penekanan
terhadap paru-paru tidak dapat mengembang dengan maksimal sebagaimana biasanya
ketika bernafas. Pneumothorak dapat terjadi baik spontan maupun traumatik.
Pneumothorax spontan itu sendiri dapat bersifat primer dan sekunder. Sedangkan
pneumothorak traumatik dapat bersifat iatrogenik dan non iatrogenik.
II. ETIOLOGI
Pneumotoraks dapat diklasifikasikan sesuai dengan penyebabnya :
Pneumotoraks Spontan (primer dan sekunder)
Pneumotoraks spontan primer terjadi tanpa disertai penyakit paru yang mendasarinya,
sedangkan pneumotoraks spontan sekunder merupakan komplikasi dari penyakit paru yang
mendahuluinya.
Tension Pneumotoraks
Disebabkan trauma tajam, infeksi paru, resusitasi kardiopulmoner.

III. KLASIFIKASI

RM.04.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
Pneumothoraks Spontan
Primer (tidak diketahui dengan pasti penyebabnya)
Pneumothoraks spontan primer diperkirakan terjadi karena rupture dari bleb emfisematous di
subpleura, yang biasanya terletak pada apeks paru-paru. Bleb dapat ditemukan pada lebih dari
75% pasien yang menjalani thorakoskopi sebagai terapi dari pneumothoraks spontan primer.
Patogenensis terjadinya bleb subpelural ini masih belum jelas. Bleb-bleb seperti ini
dihubungkan dengan abnormalitas congenital, inflamasi dari bronkiolus, dan gangguan pada
ventilasi kolateral. Angka kejadian pneumothoraks spontan berhubungan dengan tingkat
merokok seseorang. Sangat mungkin bahwa penyakit yang diinduksi oleh merokok pada
saluran napas kecil berkontribusi terhadap terbentuknya bleb subpleural. Pasien dengan
pneumothoraks primer spontan biasanya lebih tinggi dan lebih kurus daripadi orang control.
Selain itu, terdapat suatu kecenderungan berkembangnya pneumotoraks primer spontan karena
diwariskan.
Sekunder (latar belakang penyakit paru)
Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) adalah penyebab tersering pada pasien dengan
pneumothoraks spontan sekunder, walau sebenernya hampir semua penyakit paru-paru telah
diasosiasikan dengan pneumotoraks spontan sekunder. Pada suatu penelitian denfan 505 pasien
dengan pneumothoraks spontan sekunder, 348 pasien memiliki PPOK, 93 memilki tumor, 25
sakkoidosis, 9 tuerkulosis, 16 memiliki infeksi pulmo lainnya, dan 13 memiliki penyakit lain.
Pada pasien dengan PPOK, insidensi terjadinya pneumothoraks spontan sekunder meningkat
dengan progresifitas keparahan PPOK. Salah satu penyebab tersering dari pneumothoraks
spontan sekunder adalah infeksi Pneumocystis jirovecii (dulu disebut carinii) Selain itu,
terdapat insidensi tinggi penumothoraks spontan pada pasien dengan sistik fibrosis.
Pneumothoraks Traumatik
Penumothoraks traumatic adalah pneumothoraks yang terjadi akibat suatu trauma, baik trauma
penetrasi maupun bukan yang menyebabkan robeknya pleura, dinding dada maupun paru.
Iatrogenik ( akibat tindakan medis)
Aksidental (terjadi karena kesalahan/komplikasi tindakan)
Terjadi pada misalnya tindakan parasentesis dada, biopsy pleura, biopsy transbronkial,
biopsy/aspirasi paru perkutaneus, kanulasi vena sentralis, barotraumas (ventilasi mekanik)
Artifisial (sengaja dilakukan )

Bukan iatrogenik (akibat jejas kecelakaan)

RM.05.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
Insidensi terjadinya pneumothoraks setelah adanya jejas tumpul tergantung dari derajat
keparahan trauma. Pneumothoraks traumatic dapat terjadi karena trauma dada yang penetrasi
maupun tidak penetrasi. Pada trauma dada penetrasi, mekanisme pneumothoraks dapat dengan
mudah dimengerti karena luka memperbolehkan udara untuk masuk ke dalam rongga pleura
melalui rongga dada atau melalui pleura viseralis dari pohon trakeobronkial. Pada trauma dada
yang tidak penetrasi, suatu pneumothoraks dapat terjadi apabila pleura viseralis terlaserasi
secara sekunder karena adanya fraktur atau dislokasi iga. Walaupun demikian, pada mayoritas
pasien dengan pneumotoraks sekunder terhadap trauma tidak penetrasi tidak terdapat assosiasi
dengat fraktur iga. Pada kasus seperti itu, dipikirkan bahwa kompresi dada tiba-tiba, secara
mendadak meningkatkan tekanan alveolar, yang dapat menyebabkan rupture alveolar. Apabila
sudah terjadi rupture alveolar, udara dapat memasuki ruang interstitial dan berjalan ke pleura
viseralis atau mediastinum. Suatu pneumothoraks terjadi baik saat ruptu pleura viseralis
maupun mediastinalis yang memperbolehkan udara untuk memasuki rongga pleura.
Klasifikasi berdasar jenis fistula:
Pneumotoraks tertutup (simple pneumothorax)
Suatu pneumotoraks dimana tidak ada defek/ luka terbuka dari dinding dada.
Pneumotoraks terbuka
Suatu pneumotoraks dimana terdapat luka terbuka pada dinding dada sehingga saat
inspirasi udara dapat keluar melalui luka tersebut. Pada saat inspirasi, mediastinum dalam
keadaan normal tetapi pada saat ekspirasi mediastinum bergeser ke arah sisi dinding dada yang
terluka (sucking wound).
Tension pneumotoraks
Tension pneumotoraks (American College of Surgeons Commite on Trauma, 2005) adalah
pneumotoraks yang disertai peningkatan tekanan intra toraks yang semakin lama semakin
bertambah atau progresif. Pada tension pneumotoraks ditemukan mekanisme ventil atau udara
dapat masuk dengan mudah, tetapi tidak dapat keluar. Adapun manifestasi klinis yang dijumpai
:
a. Terjadi peningkatan intra toraks yang progresif, sehingga terjadi kolaps total paru,
mediastinal shift atau pendorongan mediastinum ke kontralateral, deviasi trachea, hipotensi
&respiratory distress berat.
b. Tanda dan gejala klinis: sesak yang bertambah berat dengan cepat, takipneu, hipotensi,
tekanan vena jugularis meningkat, pergerakan dinding dada yang asimetris.

RM.06.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
Tension pneumotoraks merupakan keadaan life-threatening, maka tidak perlu dilakukan
pemeriksaan foto toraks.
Penatalaksanaan tension pneumotoraks berupa dekompresi segera dengan needle insertion
pada sela iga II linea mid-klavikula pada daerah yang terkena. Sehingga tercapai perubahan
keadaan menjadi suatu simple pneumotoraks dan dilanjutkan dengan pemasangan Torakostomi
+ WSD
Sedangkan menurut luasnya paru yang mengalami kolaps , maka pneumotoraks dapat
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Pneumothorax parsialis, yaitu pneumothoraks yang menekan pada sebagian kecil paru
(<50% volume paru).

Gambar 2. Pneumothorax parsialis,http://clinicalgate.com/the-black-lung-field/


2. Pneumotoraks totalis , yaitu pneumothorak yang mengenai sebagian besar paru (>50%
volume paru)

Gambar 2. Pneumothorax totalis, http://clinicalgate.com/the-black-lung-field

IV. PATOFISIOLOGI
Pneumotoraks dapat disebabkan oleh trauma dada yang dapat mengakibatkan
kebocoran / tusukan / laserasi pleura viseral. Sehingga paru-paru kolaps sebagian / komplit
berhubungan dengan udara / cairan masuk ke dalam ruang pleura. Volume di ruang pleura
menjadi meningkat dan mengakibatkan peningkatan tekanan intra toraks. Jika peningkatan

RM.07.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
tekanan intra toraks terjadi, maka distress pernapasan dan gangguan pertukaran gas dan
menimbulkan tekanan pada mediastinum yang dapat mencetuskan gangguan jantung dan
sirkulasi sistemik.

V. DIAGNOSIS
. 1. Gejala klinis
Berdasarkan anamnesis, gejala dan tanda yang sering muncul adalah ;
Sesak napas, didapatkan pada hampir 80- 100% pasien, Seringkali muncul dirasakan
mendadak, dan makin lama makin berat. Penderita bernapas tersengal-sengal, pendek-pendek,
dengan membuka mulut.
Nyeri dada, yang didapatkan pada 70-95% pasien. Nyeri dirasakan tajam pada sis yang
sakit, terasa berat, tertekan dan terasa lebih nyeri pada gerak pernafasan.
Batuk-batuk yang didapatkan pasien 25-35 %
Denyut jantung meningkat
Kulit mungkin tampak sianosis karena kadar oksigen darah yang kurang
Tidak menunjukkan gejala (silent) yang terdapat pada 5-10% pasien, biasanya pada jenis
pneumothorak spontan primer.
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan :
1. Inspeksi:
Dapat terjadi perkembangan pada posisi yang sakit ( hiper ekspansi dinding dada)
Pada wakti inspirasi, bagian yang sakit gerakannya tertinggal
Trakhea dan jantung terdorong ke sisi yang lateral
2. Palpasi
Pada sisi yang sakit ruang antar iga dapat normal atau melebar
Iktus kordis terdorong kearah toraks yang sehat

RM.08.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
Fremitus suara melemaha atau menghilang pada sisi yang sakit
3. Perkusi
Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor sampai menggetar
Batas jantung terdorong kearah thorak yang sehat, apabila tekanan intrapleura tinggi
4. Auskultasi
Pada bagian sakit, suara napas melemah sampai menghilang
Suara vokal melemah, dan tidak menggetar
Pemeriksaan Penunjang
1. Analisis gas darah arteri dapat memberikan gambaran hipoksemi meskipun pada kebanyakan
pasien sering tidak diperlukan. Pada pasien dengan gagal nafas yang berat secara signifikan
meningkatkan mortalitas sebesar 10 %.
2. Pemeriksaan Radiologi

RM.09.
1. Foto Thorak

Untuk mendiagnosis
FAKULTAS KEDOKTERAN pneumothorak pada foto thorak dapat ditegakkan dengan melihat tanda-
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
tandaYOGYAKARTA
sebagai berikut:
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
- Adanya gambaran hiperlusen avaskular pada hemithorak yang mengalami pneumothorak.
Hiperlusen avaskular menunjukkan paru yang mengalamiu pneumothoraks dengan paru yang
kolpas memberikan gambaran radioopak. Bagian paru yang kolaps dan yang mengalami
pneumothorax dipisahkan oleh batas paru kolaps berupa
garis radioopak tipis yang berasal dari pleura visceralis,
yang biasa dikenal dengan pleural white line.

Gambar 3. Tanda panah menunjukkan pneumothorax line ,


http://www.radiologymasterclass.co.uk/

Gambar 4. Foto thorax Pneumothorax ( PA) bagian yang ditunjukkan dengan anak panah
merupakan bagian dari paru yang kolaps. http://www.radiologymasterclass.co.uk/

- Untuk mendeteksi pneumothorax pada foto dada posisi supine orang dewasa maka tanda yang
dicari adalah adanya deep sulcus sign, normalnya sudut kostofrenikus berbentuk lancip dan
rongga pleura menembus lebih jauh kebawah sehingga daerah lateral dari hepar dan lien. Jika
terdapat udara pada rongga pleura, maka sudut kostofrenikus menjadi lebih dalam daripada
biasanya. Terdapat juga pada posisi supine dimana udara berkumpul didaerah anterior tubuh
utamanya daerah medial. RM.010.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
Gambar 7. Pencitraan USG pneumothoraks

Teknik pencitraan dengan ultrasonografi dapat menegakkan diagnosis dan menggambarkan adanya
pneumothoraks. Diagnosis ultrasonografi pneumothoraks berdasarkan hilangnya 12 pleural sliding
sign atau gliding sign, tidak adanya artefak comet tail, keberadaan titik-titik paru, dan penekanan
gambar penulangan karena gema udara Untuk menentukan topografi dan perluasan pneumothoraks
pada permukaan thoraks, deteksi titik paru merupakan tanda yang spesifik pada pneumothorak, secara
sistematis dinilai melalui setiap intercostals space. Ini adalah tanda yang dinamik, selalu ada pada
kasus pneumothoraks non masif, menggambarkan keteraturan pleura visceral dan parietal yang
berpindah secara relatif terhadap satu sama lainnya dengan siklus respirasi (pleural sliding),
menggantikan pola pneumothoraks pada titik dimana pleura visceral dan parietal kembali berhubungan
setiap kali bernapas. Mencari titik-titik pleura dilakukan melalui tiga intercostals space (kedua atau
ketiga, keempat atau kelima, dan enam atau tujuh, masing-masing didefinisikan sebagai sektor tinggi,
sedang, rendah), berlanjut secara lateral dari daerah parasternal dan kedepan dan melalui garis
mediocoronal thoracic. Penelusuran gambaran paru dilihat melalui ruang intercostal untuk
mengidentifikasikan batas lateral dari adanya udara pada pasien posisi terlentang, Luasnya tumpukan
udara pada paru dipisahkan menggunakan tanda panah yang merupakan adanya pneumothoraks yang
minimal.

Gambar 8., A: tanda batas pengumpulan retroparietal udara. Kiri bawah, B: anterior

RM.011.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
pneumothoraks pada CT-Scan dengan batas (panah)., C: titik paru pada USG pada pasien yang
sama. MCL pertengahan garis koronal
- CT- Scan Thorax
CT-Scan thoraks dianggap sebagai standar diagnostik untuk pneumothoraks, namun memiliki
beberapa kekurangan, termasuk kebutuhan untuk transportasi pasien (pasien tidak layak, pada
pasien tidak stabil) dan radiasi yang tinggi. Pneumothoraks yang terlihat pada gambaran CT-Scan
thoraks diklasifikasikan menurut Wolfman dkk sebagai pneumotoraks minimal, anterior, dan
anterolateral. Pneumothorak minimal didefinisikan sebagai pengumpulan udara tipis sampai
ketebalan 1 cm pada irisan terbesar dan tidak terlihat lagi pada empat gambar yang berdekatan.
Pneumothorak anterior dikategorikan sebagai pengumpulan udara pleura lebih dari 1 cm, berlokasi
di anterior, tidak meluas sampai garis mid-koronal, yang mungkin masih terlihat pada empat atau
lebih gambar yang berdekatan. Pneumothorak anterolateral didefinisikan sebagai udara pleura
yang meluas paling tidak sampai ke garis mid-koronal.Gambaran pneumothoraks dibagi menjadi 2
bagian yaitu : anterior jika terdapat timbunan udara dari medial sampai midkoronal dan anterolateral
jika terdapat timbunan di luar garis medial mideal samapi mid-koronal.

Gambar 9. Anterior pneumothoraks pada CT-Scan: garis mid-koronal

VI. PENATALAKSANAAN
Tindakan darurat yang perlu dilakukan adalah pembebasan jalan nafas (A), pemberian
napas buatan dan ventilasi paru (B), dan pemantyuan aktivitas jantung dan peredaran darah
(C), Tindakan darurat pada tension pneumothoraks juga mencakup membutuhkan dekompresi
segera dan penanggulangan awal dengan cepat berupa insersi jarum yang berukuran besar
pada sela iga kedua line midkalvikula pada hemithorax yang mengalami kelainan. Tindakan
ini akan mengubah tension pneumothorak menjadi pneumo thorak sederhana, evaluasi ulang

RM.012.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
diperlukan. Tetapi definitif selalu dibutuhkan dengan pemasangan selang dada (chest tube)
pada sela iga ke 5.
Metode penggunaan WSD
Penggunaan WSD ( Water Seal Drainage) suatu sistem drainage yang menggunakan water
seal untuk mengalirkan udara atau cairan dari cavum pleura. Dalam keadaan normal rongga
pleura memiliki tekanan negatif dan hanya sedikit terisi cairan pleura atau lubrican
Tindakan dekompressi yaitu membuat hubungan rongga pleura dengan udara luar, ada
beberapa cara :
1. Menusukkan jarum melalui diding dada sampai masuk kerongga pleura , sehingga
tekanan udara positif akan keluar melalui jarum tersebut.
2. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil, yaitu dengan :
a. Jarum infus set ditusukkan kedinding dada sampai masuk kerongga pleura.
b.Abbocath : jarum Abbocath no. 14 ditusukkan kerongga pleura dan setelah
mandrin dicabut, dihubungkan dengan infus set.
c. WSD : pipa khusus yang steril dimasukkan kerongga pleura

PENATALAKSANAAN PNEUMOTHORAKS (Spesifik)

Pneumotoraks Simpel adalah pneumotoraks yang tidak disertai peningkatan tekanan intra toraks
yang progresif.
Ciri:
- Paru pada sisi yang terkena akan kolaps (parsial atau total)
- Tidak ada mediastinal shift
- PF: bunyi napas , hyperresonance (perkusi), pengembangan dada
Penatalaksanaan: WSD
Open Pneumothorax

RM.013.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
Terjadi karena luka terbuka yang cukup besar pada dada sehingga udara dapat keluar dan
masuk rongga intra toraks dengan mudah. Tekanan intra toraks akan sama dengan tekanan udara
luar. Dikenal juga sebagai sucking-wound . Terjadi kolaps total paru.
Penatalaksanaan:
- Luka tidak boleh ditutup rapat (dapat menciptakan mekanisme ventil)
- Pasang WSD dahulu baru tutup luka
- Singkirkan adanya perlukaan/laserasi pada paru-paru atau organ intra toraks lain.
Umumnya disertai dengan perdarahan (hematotoraks)

VII. KOMPLIKASI
Pasien dengan pneumothorax spontan hampir separuhnya mengalami kekambuhan
setelah sembuh dari observasi maupun setelah pemasangan tube thoracostomy .
Kekambuhan jarang terjadi pada pasien-pasien pneumothorax yang dilakukan torakotomi
terbuka. Pasien-pasien yang pelaksanaanya cukup baik, umumnya tidak dijumpai
komplikasi.

KESIMPULAN

Pneumothorax merupakan suatu keadaan dimana rongga pleura terisi oleh udara, sehingga
menyebabkan pendesakan terhadap jaringan paru yang menimbulkan gangguan dalam
pengembangannya terhadap rongga dada saat proses respirasi. Oleh karena itu, pada pasien sering
mengeluhkan sesak napas dan nyeri dada.
Berdasarkan penyebabnya, pneumothorax dapat terjadi baik secara spontan maupun traumatik,
Pneumothorax spontan itu sendiri dapat bersifat primer dan sekunder. Sedangkan pneumothorax
traumatik yang dapat bersifat iatrogenik dan non iatrogenik. Dan menurut fistel yang terbentuk,
maka pneumothorax dapat bersifat terbuka, tertutup dan ventil (tension). Dalam menentukan

RM.014.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
diagnosa pneumothorax seringkali didasarkan pada hasil foto rontgen berupa gambaran radio-
hiperlusen tanpa adanya corakan bronkovaskuler pada lapang paru yang terkena, disertai dengan
adanya garis putih merupakan batas paru(deep sulcus sign).Dari hasil rontgen juga dapat diketahui
seberapa berat proses yang terjadi melalui luas area paru yang terkena pendesakan serta kondisi
jantung dan trakea.
Pada prinsipnya penanganan pneumothorax yakni observasi dan pemberian 02 yang dilanjutkan
dengan dekompresi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton, Arthur, C. Hall, John, E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Edisi 9. Jakarta :


EGC; 1997. p. 598
2. Sudoyo, Aru, W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. K,Marcellus, Simadibrata. Setiati,
Siti.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi IV. Jakarta : Pusat
PenerbitanDepartemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas KedokteranUniversitas Indonesia;
2006. p. 1063

RM.015.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
PRESUS STASE RADIOLOGINO.RM :223056
3. Bowman, Jeffrey, Glenn. Pneumothorax, Tension and Traumatic . Updated: 2010 May
27; cited 2016 Oktober 17.Available at http://emedicine.medscape.com/article/424547-
overview
4. Anonim, (Pneumothorax). Diakses 18 Oktober 2016 at
http://www.radiologymasterclass.co.uk/
5. Anonim, clinicgate.com, Diakses 18 Oktober 2016 at http://clinicalgate.com/the-black-
lung-field

RM.016.