Anda di halaman 1dari 28

Ujian Kasus

DEMENSIA PADA PENYAKIT ALZHEIMER ONSET DINI


(F 00.0)

Oleh:
Rizki Amalia Sari
I4A011020

Pembimbing:
dr. H. Achyar Nawi Husein, Sp.KJ

BAGIAN/SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNLAM
RSUD ANSARI SALEH
BANJARMASIN
Januari, 2017
1
2

LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRI

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. NJ

Umur : 49 tahun

Agama : Islam

Suku : Banjar

Bangsa : Indonesia

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Tidak bekerja

Alamat : Jl. Sei. Andai, Banjarmasin

Tanggal berobat : 4 Januari 2017

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Diperoleh dari autoanamnesa dan alloanamnesa dengan Ny. R, anak

kandung pasien pada tanggal 4 Januari 2017 pk 10.30 di RSUD Ansari

Saleh Banjarmasin.
A. KELUHAN UTAMA
Sering lupa
KELUHAN TAMBAHAN
Gelisah, banyak jalan, sulit tidur

B. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Alloanamnesis
Pasien datang dengan keluhan sering lupa. Keluhan sering lupa sudah

dirasakan sejak 1 tahun terakhir. Keluhan muncul perlahan dan terus

menerus. Menurut anak pasien, awalnya pasien hanya lupa saat meletakkan
3

barang-barang, kemudian pasien jadi sering lupa ingin bicara mengatakan

apa. Pasien kemudian sering lupa dalam melakukan kegiatan sehari-harinya,

seperti makan dan mandi. Ketika waktu sholat pasien pun harus diingatkan.

Bacaan dalam sholat juga harus dibantu oleh keluarga, karena sering salah

dan lupa. Dalam tiga bulan terakhir pasien sering berjalan ke luar rumah,

namun pasien masih ingat jalan pulang dan kembali ke rumah sendiri.

Sekitar satu bulan yang lalu, pasien jalan sendiri keluar rumah pada pagi

hari. Hingga siang hari pasien belum kembali ke rumahnya, kemudian dicari

oleh keluarga dan ditemukan oleh orang dan diantarkan ke suatu tempat

dimana banyak orang-orang tua yang sering nyasar. Saat ditanya kenapa

pasien tidak pulang, pasien hanya tampak bingung. Kemudian oleh keluarga

pasien hanya dibiarkan di dalam rumah, keluar rumah hanya kalau ada

keluarga yang mendampingi. Di rumah, pasien jadi sering gelisah, sering

mondar-mandir di dalam rumah. Pasien biasanya baru tidur sekitar jam

20.00 atau 21.00, dan bangun sekitar jam 04.00 05.00. Siang hari pasien

hanya istirahat sebentar, itupun pasien tidak tidur. Pasien makan dibantu

oleh anaknya. Pasien tidak dapat mandi ataupun berganti pakaian sendiri,

harus dibantu oleh keluarga. Awalnya pasien dibawa berobat ke dokter

spesialis saraf, pasien kemudian disarankan berobat ke Psikiater.


Menurut anak pasien, pasien tidak memiliki masalah apapun.

Hubungan dengan suami, anak-anak dan cucu-cucu baik-baik saja. Anak

pasien menyangkal adanya keluhan masalah tertentu. Pasien sebelumnya

berinteraksi secara normal seperti biasanya sebelum keluhan muncul. Pasien


4

juga cukup dekat dengan cucu-cucunya. Sebelum keluhan muncul, pasien

selalu ingat dan sering mengingatkan keluarganya. Jatuh atau trauma

sebelum keluhan disangkal.


Autoanamnesis

Selama di anamnesis pasien menyebutkan suatu kalimat berulang-

ulang, Aku bulik dulu lah. Pasien dapat menyebutkan namanya sendiri

dengan benar ketika ditanya. Pasien juga dapat menunjukkan dan

menyebutkan nama anaknya. Pasien tidak dapat menyebutkan nama cucu-

cucunya. Pasien dapat menyebutkan kegiatan beberapa menit sebelumnya

seperti minum. Pasien tidak dapat menjawab ketika ditanya minum apa.

Pasien mengaku ia telah lupa ia tadi minum apa. Pasien saat ditanya juga

keliru dan berubah-ubah dalam menjawab apa yang pasien makan dan

minum saat sarapan.

C. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Keluhan serupa disangkal. Pasien pernah melakukan pengukuran tekanan

darah didapatkan tekanan darah tinggi. Pasien tidak pernah dirawat di

rumah sakit sebelumnya. Riwayat jatuh atau trauma, jantung, diabetes

mellitus, ataupun asma disangkal.


D. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI

1. Riwayat Perinatal

Dari autoanamnesis dan alloanamnesis tidak didapatkan data yang

cukup untuk menjelaskan riwayat perinatal. Keluarga tidak tahu, ibu

dan bapak pasien telah lama meninggal.

2. Riwayat Masa Bayi (0-1,5 Tahun) Basic Trust vs Mistrust


5

Dari autoanamnesis dan alloanamnesis tidak didapatkan data yang

cukup untuk menjelaskan riwayat masa bayi.

3. Riwayat usia 1,5- 3 tahun Autonomy vs Shame and Doubt

Dari alloanamnesis tidak didapatkan data yang cukup.

4. Riwayat usia 3 6 tahun Initiative vs Guilt

Dari alloanamnesis tidak didapatkan data yang cukup.

5. Riwayat usia 6 12 tahun Industry vs Inferiority

Dari autoanamnesis dan alloanamnesis tidak didapatkan data yang

cukup.

6. Riwayat usia 12 18 tahun Identity vs Role Diffusion

Dari autoanamnesis dan alloanamnesis tidak didapatkan data yang

cukup.

7. Riwayat usia 18-40 tahun Intimacy vs Isolation

Pasien bekerja sebagai penjaga warung, menurut anaknya pada usia

ini pasien baik dalam berkomunikasi dengan anak dan cucu-cucunya.

Namun, pasien jarang menceritakan masalah-masalah yang

dialaminya. Pasien termasuk orang yang sering mengingatkan banyak

hal kepada keluarga dan memberi nasehat pada keluarga. Anaknya

mengaku tidak ada masalah selama masa tersebut.

8. Riwayat usia 40-65 tahun Generativity vs Stagnation

Pada usia ini pasien tidak bekerja, pasien hanya sebagai ibu rumah

tangga. Pasien tinggal bersama dengan suami pasien serta anak


6

keempat pasien dalam 1 rumah. Rumah yang ditempati pasien juga

berdekatan dengan rumah anak pasien yang ke satu dan biasanya

pasien datang ke rumah anaknya untuk berbincang-bincang atau

kadang beristirahat.

9. Riwayat Pendidikan

Pendidikan terakhir pasien adalah SD. Selama SD sampai lulus pasien

mengaku tidak pernah tinggal kelas. Setelah lulus SD pasien tidak

melanjutkan pendidikannya.

10. Riwayat Pekerjaan

Pasien saat ini tidak bekerja. Untuk membiayai kebutuhan sehari-hari

dibantu oleh anak-anak pasien.

11. Riwayat Perkawinan

Pasien menikah pada tahun 1982 dan memiliki lima orang anak.

Anaknya mengaku tidak mengetaahui masalah apapun selama masa

pernikahan orang tuanya.

A RIWAYAT KELUARGA

Pasien adalah anak ke dua dari 4 bersaudara. Tidak terdapat

riwayat gangguan jiwa dalam keluarga.

Genogram:
7

Laki-laki
Perempuan

Pasien
X Meninggal

B RIWAYAT SITUASI SEKARANG

Pasien sekarang tinggal serumah bersama dengan suami dan anak

ke empat pasien di jalan Sungai Andai. Hubungan pasien dengan orang

yang tinggal serumah dan tetangga baik. Pasien tidak pernah

mengalami pertengkaran atau masalah lain dengan suaminya.

Pergaulan warga di lingkungan sekitar rumah pasien termasuk

baik, tidak pernah terjadi adanya keributan ataupun perselisihan.

C PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA

Pasien menyebutkan bahwa dirinya menjadi pelupa dan menjadi

bingung dengan keadaan sekitar. Pasien mampu mengenali anaknya.

Pasien tidak memahami faktor lingkungan yang membuat bingung.

Pasien juga tampak kebingungan dengan hal- lain yang ditanyakan.

III. STATUS MENTAL


8

A. DESKRIPSI UMUM

1. Penampilan

Pada saat diwawancara Rabu tanggal 4 Januari 2017, pukul 10.30

WITA, Pasien berperawakan sedang, penampilan tampak sesuai

dengan usianya. Kulit sawo matang dengan memakai baju terusan

batik berwarna ungu-putih dengan jilbab berwarna hitam. Pasien

berpakaian cukup rapi dan perawatan diri cukup.

1 Kesadaran

Jernih

1. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor

Normoaktif

2. Pembicaraan

Koheren

3. Sikap terhadap Pemeriksa

Kooperatif

4. Kontak Psikis

Kontak ada, wajar, dan dapat dipertahankan.

A MOOD DAN AFEK

1. Afek : Menyempit
9

2. Mood :

Euthym

2. Ekspresi afektif : Stabil

3. Keserasian : Serasi (appropiate)

4. Empati : Terganggu

5. Hidup Emosi : Stabilitas : stabil

Pengendalian : baik

Arus Emosi : baik

Skala diferensiasi : Luas

A FUNGSI KOGNITIF

1. Kesadaran : Jernih

2. Orientasi

- Waktu : baik

- Tempat : terganggu

- Orang : terganggu

- Situasional : terganggu

3. Konsentrasi : Terganggu

4. Daya Ingat

Jangka pendek : terganggu

Jangka panjang : terganggu

Segera : terganggu
10

5. Intelegensi : Nilai Tes MMSE 10 (definite

cognitive impairment)

6. Pengetahuan Umum : Sesuai dengan tingkat pendidikan

7. Pikiran abstrak : sulit dievaluasi

A GANGGUAN PERSEPSI

1. Halusinasi :

- Auditorik : Tidak

ada

- Visual : Tidak ada

- Olfaktorik : Tidak ada

2. Ilusi : Tidak ada

1. Depersonalisasi dan derealisasi :

Tidak ada

A PROSES PIKIR

1. Arus pikir

a. Produktivitas : Hanya

menjawab apabila ditanya

b. Kontinuitas : Jawaban sesuai pertanyaan

a Hendaya berbahasa : Tidak ada

1 Isi Pikir

a. Preokupasi : Tidak ada

a. Gangguan pikiran : Tidak ada


11

A. PENGENDALIAN IMPULS

Tidak terkendali

B. DAYA NILAI

1. Daya nilai sosial : Baik

1. Uji Daya nilai : Baik

1. Penilaian Realita : Baik

A TILIKAN

Derajat 4 (Pasien menyadari bahwa dirinya akit pelupa dan butuh

bantuan namun tidak memahami penyebab sakitnya)

C. TARAF DAPAT DIPERCAYA

Kurang dapat dipercaya

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT

1. STATUS INTERNUS

Keadaan umum : Baik

Gizi : Baik

Tanda vital :

TD = 120/70 mmHg

N = 80 kali/menit
12

RR = 20 kali/menit

T = 36,4oC

Kepala :

Mata : Palpebra tidak edema, konjungtiva anemis, sklera

tidak ikterik, pupil isokor, refleks cahaya (+/+).

Telinga : Bentuk normal, sekret tidak ada, serumen minimal.

Hidung : Bentuk normal, tidak ada epistaksis, tidak ada tumor.

Mulut : Bentuk normal dan simetris, mukosa bibir tidak

kering dan tidak pucat, pembengkakan gusi tidak ada

dan tidak mudah berdarah, lidah tidak tremor. Gigi

geligi baik.

Leher :

Pulsasi vena jugularis tidak tampak, tekanan tidak meningkat,

tidak ada pembesaran kelenjar getah bening.

Thoraks :

Inspeksi : Bentuk dan gerak simetris

Palpasi : Fremitus raba simetris

Perkusi

- Pulmo : Sonor

- Cor : Batas jantung

normal

Auskultasi
13

- Pulmo : Suara napas vesikuler

- Cor : S1~ S2 tunggal

Abdomen

Inspeksi : Cembung

Palpasi : Tidak nyeri tekan, hepar dan lien tidak teraba

Perkusi : Timpani

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Ekstemitas : Pergerakan bebas, tonus baik, tidak ada edema

dan atropi, tremor (-).

1 STATUS NEUROLOGIKUS

N I XII : Tidak ada kelainan

Gejala rangsang meningeal : Tidak ada

Gejala TIK meningkat : Tidak ada

Refleks fisiologis : Normal

Refleks patologis : Tidak ada

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA (FORMULASI DIAGNOSTIK)

Anamnesis :
14

- Sering lupa sejak 1 tahun terakhir dengan onset yang bertahap dan terus

menerus. Lupa meletakkan barang, kemudian lupa ingin mengatakan

apa, dan lupa jalan kembali ke rumah.

- Pasien hiperaktif dan sulit tidur

- Makan dan mandi dibantu oleh keluarga

Pemeriksaan Psikiatri :

Perilaku dan aktifitas psikomotor : hiperaktif

Kontak : ada, wajar, tidak dapat dipertahankan

Pembicaraan : Koheren

Afek : Hipothym

Ekspresi afektif : Stabil

Penilaian realita : Baik

Konsentrasi : Terganggu

Daya ingat jangka pendek : Terganggu

Daya ingat jangka panjang : Terganggu

Daya ingat segera : Terganggu

Intelegensi : Nilai Tes MMSE 10 (definite kognitif

impairment)

Tilikan : Derajat 4

VII. EVALUASI MULTIAKSIAL


15

Aksis I : Demensia pada penyakit Alzheimer

Onset Dini (F 00.0)

Aksis II : None

Aksis III : Hipertensi terkontrol

Aksis IV : None

Aksis V : GAF scale 70-61 (beberapa gejala

ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi,

secara umum masih baik)

VIII. DAFTAR MASALAH

1. ORGANOBIOLOGIK

Status internus dan neurologis tidak didapatkan adanya kelainan.

2. PSIKOLOGIK

Perilaku dan aktivitas psikomotor normoaktif, afek hipothym, daya

ingat jangka pendek, segera, dan panjang terganggu, intelegensi

menggunakan Tes MMSE dengan skor 10 (definite cognitive

impairment).

3. SOSIAL/KELUARGA

Tidak ada masalah dalam sosial dan keluarga.

IX. PROGNOSIS

Diagnosa penyakit : Dubia

ad malam
16

Perjalanan Penyakit

: Dubia ad malam

Ciri kepribadian : Dubia

ad bonam

Stressor psikososial

: Dubia ad bonam

Usia saat menderita

: Dubia ad bonam

Pola keluarga : Dubia

ad bonam

Aktivitas pekerjaan

: Dubia ad bonam

Perkawinan : Dubia

ad bonam

Ekonomi : Dubia ad

bonam

Lingkungan sosial : Dubia

ad bonam

Organobiologik : Dubia

ad malam

Pengobatan psikiatrik

: Dubia ad bonam
17

Ketaatan berobat : Dubia

ad bonam

Kesimpulan : Dubia

ad bonam

X. RENCANA TERAPI

Psikofarmaka :

PO Piracetam 400 mg 1 1 0

PO Clozapine 25 mg 0

PO Heximer 2 mg - 0

Psikoterapi: Support terhadap penderita dan keluarga

Rehabilitasi: Pasien disarankan untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif

dan bermanfaat.

XI. DISKUSI

Demensia adalah gangguan global fungsi kognitif dengan tingkat kesadaran

normal, berbeda dengan acute confusional state dimana tingkat kesadaranya

terganggu. Insidensi berada pada rentang usia 65 tahun dan 85 tahun.

Biasanya bersifat progresif serta terdapat gangguan fungsi luhur (fungsi kortikal

yang multipel), termasuk daya ingat, daya pikir, daya orientasi, daya pemahaman,

berhitung, kemampuan belajar, berbahasa, dan daya kemampuan menilai.

Menurut PPDGJ-III, demensia merupakan suatu sindrom akibat penyakit

atau gangguan otak yang biasanya bersifat kronik-progresif, dimana terdapat


18

gangguan fungsi luhur kortikal yang multipel (multiple higher cortical function)

termasuk di dalamnya: daya ingat, daya pikir, orientasi, daya tangkap, berhitung,

kemampuan belajar, berbahasa dan daya nilai. Umumnya disertai dan diawali

dengan kemerosotan dalam pengendalian emosi, perilaku sosial dan motivasi

hidup.1

Pada kasus, pasien seorang wanita berusia 49 tahun, datang diantar keluarga

dengan keluhan sering bicara kacau, sering lupa, sulit tidur, gelisah dan banyak

jalan. Keluhan muncul sejak setahun sebelum berobat ke rumah sakit.. Temuan

penting pada pemeriksaan diantaranya perilaku dan aktifitas psikomotor

hiperaktif, kontak tidak ada, tidak wajar, tidak dapat dipertahankan, pembicaraan

koheren, afek hipothym, ekspresi afektif stabil, penilaian realita baik, konsentrasi

terganggu, daya ingat jangka pendek terganggu, daya ingat jangka panjang

terganggu, daya ingat segera terganggu, intelegensi dinilai dari tes MMSE 10 serta

tilikan derajat 4.

Penyebab tersering dari demensia pada individu berusia 65 tahun ke bawah

adalah (1) Alzheimers disease; (2) Vascular dementia; (3) Mixed vascular and

Alzheimers dementia. Dari anamnesis dan pemeriksaan pada pasien, pasien

didiagnosis dengan demensia Alzheimer onset dini (F00.0). Demensia Alzheimer

merupakan penyakit neurodegeneratif yang secara epidemiologi terbagi 2

kelompok, yaitu kelompok yang menderita pada usia kurang dari 58 tahun yang

disebut early onset sedangkan kelompok yang menderita pada usia lebih dari 58

tahun disebut sebagai late onset. Penyakit Alzheimer dapat timbul pada semua
19

umur, 96% kasus dijumpai setelah berusia 40 tahun ke atas. Berdasarkan jenis

kelamin, prevalensi wanita lebih banyak tiga kali dibandingkan laki-laki.1,2

Secara umum, gejala klinis yang terdapat pada pasien dengan demensia

diantaranya :

Disinhibisi

Pasien dengan disinhibisi berperilaku impulsif, menjadi mudah terganggu, emosi

tidak stabil, memiliki wawasan yang kurang sehingga sering menghakimi, dan

tidak mampu mempertahankan tingkat perilaku sosial sebelumnya. Gejala lain

meliputi: menangis, euforia, agresi verbal, agresi fisik terhadap orang lain dan

benda-benda, perilaku melukai diri sendiri, disinhibisi seksual, agitasi motorik,

campur tangan, impulsif, dan mengembara.

Agitasi

Agitasi didefinisikan sebagai aktivitas yang tidak pantas, baik secara verbal,

vokal, atau motor. Subtipe dari agitasi tercantum dalam tabel berikut:

Wandering

Beberapa perilaku yang termasuk wandering, yaitu memeriksa (berulang kali

mencari keberadaan caregiver), menguntit, berjalan tanpa tujuan, berjalan waktu

malam, aktivitas yang berlebihan, mengembara, tidak bisa menemukan jalan

pulang, berulang kali mencoba untuk meninggalkan rumah.

Reaksi Ledakan Amarah / Katastrofik


20

Dalam salah satu penelitian terhadap 90 pasien dengan gangguan AD cukup

ringan, ledakan marah tiba-tiba terjadi pada 38% pasien. Selain itu, didapatkan

hal-hal sebagai berikut:

a) ledakan amarah tiba-tiba dikaitkan dengan meningkatnya aktivitas dan

perilaku agresif

b) tidak ada hubungan yang ditemukan antara ledakan amarah dan

penampilan sikap apati, depresi, atau kegelisahan

c) perilaku agresif memberikan kontribusi paling banyak terkait gejala

nonkognitif dan ledakan marah tiba-tiba

d) reaksi bencana dapat dipicu oleh gejala kognitif dan non-kognitif, seperti :

kesalahpahaman, halusinasi, dan delusi.

Gejala Psikologis pada Demensia

a) Gejala Mood

- Depresi

- Apati

- Kecemasan

b) Gejala Psikotik

- Waham

- Halusinasi

- Misidentifikasi.4

Demensia pada penyakit Alzheimer, diagnosis ditegakkan melalui dua

tahap. Pertama menegakkan diagnosis demensia, kedua mencari proses penyakit


21

yang mendasari. Terdapat beberapa kriteria diagnostik untuk menegakkan

diagnosis demensia pada penyakit Alzheimer, diantaranya adalah PPDGJ III dan

DSM-IV. Dianostik DSMIV menggunakan kriteria:

a) Adanya defisit kognitif multipleks yang dicirikan oleh gangguan memori

dan satu atau lebih dari gangguan kognitif berikut ini: (i) afasia (gangguan

berbahasa), (ii) apraksia (gangguan kemampuan untuk mengerjakan aktivitas

motorik, sementara fungsi motorik normal), (iii) agnosia (tidak dapat mengenal

atau mengidentifikasikan benda walaupaun fungsi sensoriknya normal), dan (iv)

gangguan dalam fungsi eksekutif (merancang, mengorganisasikan, daya abstraksi,

membuat urutan).

b) Defisit kognitif pada kriteria a) yang menyebabkan gangguan fungsi sosial

dan okupasional yang jelas.

c) Tanda dan gejala neurologik fokal (refleks fisiologik meningkat, refleks

patologik positif, paralisis pseudobulbar, gangguan langkah, kelumpuhan anggota

gerak) atau bukti laboratorium dan radiologik yang membuktikan adanya

gangguan peredaran darah otak (GPDO), misal infark multipleks yang melibatkan

korteks dan subkorteks, yang dapat menjelaskan kaitannya dengan munculnya

gangguan.

d) Defisit yang ada tidak terjadi selama berlangsungnya delirium.

Sedangkan pedoman diagnostik PPDGJ III yaitu :

Terdapatnya gejala demensia

Onset bertahap (insidious onset) dengan deteriorasi lambat.


22

Onset biasanya sulit ditentukan waktunya yang persis, tiba-tiba orang lain

sudah menyadari adanya kelainan tersebut. Dalam perjalanan penyakitnya

dapat terjadi suatu taraf yang stabil (plateau) secara nyata.

Tidak adanya bukti klinis, atau temuan dari pemeriksaan khusus, yang

menyatakan bahwa kondisi mental itu dapat disebabkan oleh penyakit otak

atau sistemik lain yang dapat menimbulkan demensia (misalnya

hipotiroidisme, hiperkalsemia, defisiensi vitamin B12, defisiensi niasin,

neurosifilis, hidrosefalus bertekanan normal, atau hematoma subdural).


Tidak adanya serangan apopletik mendadak, atau gejala neurologik

kerusakan otak fokal seperti hemiparesis, hilangnya daya sensorik, defek

lapangan pandangan mata, dan inkoordinasi yang terjadi dalam masa dini

dari gangguan itu (walaupun fenomena ini dikemudian hari dapat

bertumpang tindih).
23
24

. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan berbagai gangguan kognitif.

Untuk menilai fungsi kognitif dapat digunakan The Mini Mental State Exam

(MMSE). Apabila didapatkan skor 24-30 termasuk normal, 17-23 probable

gangguan kognitif, 0-16 definite gangguan kognitif. Pada pasien ini didapatkan

hasil MMSE 10, artinya definite gangguan kognitif.2,5

Membedakan kedua jenis demensia ini tidak selalu mudah. mendapatkan

bahwa pasien DVa relatif memiliki memori verbal jangka panjang yang lebih baik

tetapi fungsi eksekutif lobus frontal lebih buruk dibandingkan pasien dengan

demensia Alzheimer. Dapat pula digunakan sistem skor misalnya skor iskemik

Hachinski dan skor demensia oleh Loeb dan Gondolfo. Diakui bahwa sistem skor

ini belum memadai, masih mungkin terjadi kesalahan dan cara ini tidak dapat

menentukan adanya demensia campuran (vaskular dan Alzheimer).6,7

Keterangan: Penderita dengan DVa atau demensia multi infark mempunyai skor
lebih dari 7, sedang yang skornya kurang dari 4 mungkin menderita Alzheimer.7
25

Keterangan: Bila skornya 0-2 kemungkinan ialah penyakit Alzheimer, bila


skornya 5-10 DVa.7

Langkah pertama dalam menangani kasus demensia adalah melakukan

verifikasi diagnosis. Diagnosis yang akurat sangat penting mengingat

progresivitas penyakit dapat dihambat atau bahkan disembuhkan jika terapi yang

tepat dapat diberikan. Pengontrolan terhadap tekanan darah harus dilakukan

sehingga tekanan darah pasien dapat dijaga agar berada dalam batas normal, hal

ini didukung oleh fakta adanya perbaikan fungsi kognitif pada pasien demensia

vaskuler. Tekanan darah yang berada dibawah nilai normal menunjukkan

perburukan fungsi kognitif, secara lebih lanjut, pada pasien dengan demensia

vaskuler. Pilihan obat antihipertensi dalam hal ini adalah sangat penting

mengingat antagonis reseptor -2 dapat memperburuk kerusakan fungsi kognitif.

Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dan diuretik telah dibuktikan

tidak berhubungan dengan perburukan fungsi kognitif dan diperkirakan hal itu

disebabkan oleh efek penurunan tekanan darah tanpa mempengaruhi aliran darah

otak. Tindakan bedah untuk mengeluarkan plak karotis dapat mencegah kejadian

vaskuler berikutnya pada pasien-pasien yang telah diseleksi secara hati-hati.

Pendekatan terapi secara umum pada pasien dengan demensia bertujuan untuk
26

memberikan perawatan medis suportif, dukungan emosional untuk pasien dan

keluarganya, serta terapi farmakologis untuk gejala-gejala yang spesifik, termasuk

perilaku yang merugikan.


27

DAFTAR PUSTAKA

1. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2. Surabaya:
Airlangga University Press, 2009.

2. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkasan dari


PPDGJ-III. Jakarta: PT Nuh Jaya, 2001.

3. Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. Delirium, dementia,


amnestic and cognitive disorders. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/ Clinical Psychiatry, 10th Edition. Lippincott Williams &
Wilkins.

4. Siti Khairiah, Hendy M. Margono. Tinjauan Pustaka : Aspek Neurobiologi


Gejala Perilaku &Psikologis Pada Demensia(Behavioral And Psychological
Symptoms Of Dementia / BPSD). Jurnal Universitas Airlangga.

5. Riani Indiyarti. Diagnosis Dan Pengobatan Terkini Demensia Vaskular. Jurnal


Kedokteran Universitas Trisakti 2004, Vol.23(1).

6. Looi JCL, Sachder PS. Differentiation of vascular dementia from AD on


neuropsychological tests. Neurology 1999; 53: 670-80.

7. Lumban Tobing SM. Neurogeriatri. Balai Penerbit FKUI; Jakarta; 2001.


28