Anda di halaman 1dari 18

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Air
Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui
sampai saat ini di Bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan
Bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik tersedia di Bumi. Air yang ada di permukaan
bumi berasal dari beberapa sumber. Berdasarkan letak sumbernya air dibagi menjadi tiga,
yaitu air hujan, air permukaan dan air tanah. Air hujan merupakan sumber utama dari air di
bumi. Air ini pada saat pengendapan dapat dianggap sebagai air yang paling bersih, tetapi
pada saat di atmosfer cenderung mengalami pencemaran oleh beberapa partikel debu,
mikroorganisme dan gas (misal : karbon dioksida, nitrogen dan amonia).
Air permukaan meliputi badan-badan air semacam sungai, danau, telaga, waduk,
rawa dan sumur permukaan. Sebagian besar air permukaan ini berasal dari air hujan dan
mengalami pencemaran baik oleh tanah, sampah dan lainnya. Air tanah berasal dari air
hujan yang jatuh ke permukaan bumi, kemudian mengalami Air yang berasal dari alam
(ex.sungai) mengandung kotoran (impurities). Impurities dalam air dapat dikelompokan
menjadi dua jenis yaitu :
1. Impurities yang tidak larut (suspended solid).
Contoh : Partikel partikel halus yang menyebabkan air keruh, gas-gas terlarut
(ex: Oksigen, Karbondioksida, Hidro Sulfida, dan ammonia. Mikroorganisme yang
menimbulkan bau,dll.
2. Impurities yang larut (Dissolved solid)
Contoh : Calcium Bikarbonat, Natrium Klorida, Calcium Sulfat, Magnesium
Bikarbonat, garam-garam silikat, dll.
Metoda yang dipakai untuk kedua jenis impurities tersebut berbeda yaitu :
a. Suspended solid yang dihilangkan melalui proses : klarifikasi dan filtrasi.
b. Dissolved solid dihilangkan melalui proses : softening dan demineralisasi.

2.2. Water Treatment


Water Treatment adalah suatu cara / bentuk pengolahan air dengan cara cara
tertentu dengan tujuan untuk mencapai hasil yang diharapkan sesuai kebutuhan.
Water Treatment Plant adalah sebuah sistem yang difungsikan untuk mengolah air dari
kualitas air baku (influent) yang kurang bagus agar mendapatkan kualitas air
pengolahan (effluent) standar yang di inginkan/ditentukan atau siap untuk
dikonsumsi.
4

Parameter Konsentrasi (mg/L)


COD 100 300
BOD 50 150
Minyak nabati 5 10
Minyak mineral 10 50
Zat padat tersuspensi (TSS) 200 400
pH 6.0 9.0
Temperatur 38 40 [oC]
Ammonia bebas (NH3) 1.0 5.0
Nitrat (NO3-N) 20 30
Senyawa aktif biru metilen 5.0 10
Sulfida (H2S) 0.05 0.1
Fenol 0.5 1.0
Sianida (CN) 0,005 - 0,5

Tabel 1. Batasan Air Limbah untuk Industri.

Pada umumnya gangguan terhadap suatu peralatan/ sistem yang bermedia air
disebabkan oleh zat-zat pengotor dalam air yang disebut kontaminan.
Kontaminan tersebut dapat berbentuk gas, cair, padatan, dan mikroorganisme.
a. Kontaminan gas
Beberapa kontaminan gas seperti karbondoksida, sulfur dioksida, oksigen, dan lain-
lain. Air yang mengandung gas-gas tersebut bersifat korosif dalam reaksinya
terbentuk senyawa asam yang kemudian bereaksi dengan peralatan dari logam dengan
reaksi sebagai berikut.
CO2 + H2O H2CO3 + Fe FeCO3 + H2
SO2 + O2 SO3
SO3 + H2O H2SO4 + Fe FeSO4 + H2

b. Kontaminan cair
Kandungan zat cair dalam air dapat berupa asam, seperti asam klorida (HCl), asam
sulfat (H2SO4) atau basa seperti ammonia cair (NH4OH), minyak/ lemak yang berasal
dari kebocoran air yang masuk ke dalam sistem. Kandungan asam dan basa dalam air
akan bersifat korosif.
c. Kontaminan padatan
Berdasarkan besarnya ukuran partikel padatan terlarut, maka kontaminan
padatan dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu: padatan terlarut (TDS), padatan
tersuspensi (TSS), dan padatan sediment.
5

2.3. Macam Macam Air


Air di bumi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
1. Air Tanah
Air tanah adalah air yang berada di bawar permukaan tanah. Air tanah dapat kita bagi
lagi menjadi dua, yakni air tanah preatis dan air tanah artesis.
a. Air Tanah Preatis
Air tanah preatis adalah air tanah yang letaknya tidak jauh dari permukaan tanah
serta berada di atas lapisan kedap air / impermeable.
b. Air Tanah Artesis
Air tanah artesis letaknya sangat jauh di dalam tanah serta berada di antara dua
lapisan kedap air.
2. Air Permukaan
Air pemukaan adalah air yang berada di permukaan tanah dan dapat dengan mudah
dilihat oleh mata kita. Contoh air permukaan seperti laut, sungai, danau, kali, rawa,
empang, dan lain sebagainya. Air permukaan dapat dibedakan menjadi dua jenis
yaitu :
a. Perairan Darat
Perairan darat adalah air permukaan yang berada di atas daratan misalnya seperti
rawa-rawa, danau, sungai, dan lain sebagainya.
b. Perairan Laut
Perairan laut adalah air permukaan yang berada di lautan luas. Contohnya seperti air
laut yang berada di laut.

2.4. Karakteristik Fisik dan Kimia Air


Karekteristik fisik air dapat ditinjau dari beberapa cara yaitu :
a. Temperatur
Temperatur air mempengaruhi parameter fisik dan karakteristik air: kapasitas
thermal /panas, densitas, berat spesifik, viskositas, tegangan permukaan,
konduktivitas, salinitas, dan kelarutan gas terlarut. Temperatur air sungai sekitar
0-35oC. alat ukur suhu yaitu Termometer
b. Warna
Penentu indikator keberadaan substansi organik seperti alga alga atau humus.
Warna digunakan sebagai penilaian kuantitatif dari keberadaan material organik
yang berpotensi beracun dan berbahaya di dalam air. Alat ukur yaitu
Spektofotometer (satuan : Pt, Co)
c. Rasa dan Bau
Materi organik sederhana menghasilkan rasa asin dan asam, sedangkan yang
lebih komplek menghasilkan rasa manis dan pahit. Bau lebih terdeteksi manusia
akibat adanya biodegradasi didalam air. Alat ukur yaitu Organoleptik.
d. Kekeruhan
Merupakan ukuran sifat transmisi cahaya dari air yang terdiri dari materi
6

tersuspensi dan koloid . kekeruhan dapat dihilangkan dengan koagulasi dan


sedimentasi. Alat ukur kekeruhan yaitu Turbidometer / Nephelometer. Satuan
NTU, ppm SiO2.
e. Padatan / Residu
Padatan didefinisikan sebagai residu yang tersis setelah evaporasi air dan
pengeringan residu hingga tercapai berat konstan pada 103oC hingga 105oC.
Fraksi organik (konten padatan volatil) merupakan hilangnya berat sisa residu
setelah evaporasi air dan pemanasan residu pada 500oC. Padatan Volatil akan
teroksidasi pada temperature ini dan akan berubah menjadi gas fraksi oganik
(padatan tetap) berbentuk abu. Padatan diklasifikasikan menjadi padatan yang
dapat diendapkan dan padatan yang tersuspensi.
Air berdasarkan karakteristik kimia merupakan hasil kontak air dengan tanah dan
batuan. Yang memiliki pengaruh lain seperti pertanian, limpasan air perkotaan, air limbah
industri, mikroba dan transformasi kimia. Karakteristik Kimia air seperti :
1. Mineral anorganik:
a. Kation utama (Ca2+, Mg2+, Na+ , K+)
b. Anion utama (klorida, sulfat, karbonat, bikarbonat, flour, nitrat)
2. Kesetimbangan karbon
3. pH dan alkalinitas
4. Asiditas
5. Indikator anorganik pada kualitas air
a. Kesadahan
b. TDS (Total Disolve Solid)
c. Konduktivitas
6. Material organik
a. Natural
b. Buatan
7. Indikator organik pada kualitas air
a. BOD (Biological Oxygen Demain)
b. COD (Chemical Oxygen Demain)
8. Gas-gas terlarut
a. Kelarutan gas
b. Oksigen terlarut
Sifat Kimia dan Fisika Air :
1. Nama Sistematis : air
2. Nama Alternatif : aqua, dihidrogenmonoksida, Hidrogen hidroksida
3. Rumus Molekul : H2O
4. Massa Molar : 18,02 g/mol
5. Volume molar : 55,5 mol/L
6. Densitas dan Fase : 0,998 g/cm (cair pada 20C) ; 0,92 g/cm (padat)
7. Titik Lebur : 0oC
8. Titik Didih : 100oC
9. Temperatur Kritis : 647 K
10. Kalor Jenis : 4184 J/kg.K (cair pada 20oC)
7

2.5. Kualitas Air


Penyediaan air bersih, selain kuantitas, kualitasnya pun harus memenuhi standar
yang berlaku. Untuk ini perusahaan air minum selalu memeriksa kualitas air bersih
sebelum didistribusikan kepada pelanggan sebagai air minum. Air minum yang ideal
seharusnya jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa. Air minum pun
seharusnya tidak mengandung kuman patogen dan segalamakhluk yang
membahayakan kesehatan manusia. Tidak mengandung zat kimiayang dapat
merubah fungsi tubuh, tidak dapat diterima secara estetis dan dapat merugikan secara
ekonomis. Air itu seharusnya tidak korosif, tidak meninggalkan endapan pada
seluruh jaringan distribusinya. Penyediaan air bersih, selain kuantitasnya, kualitasnya
pun harusmemenuhi standar yang berlaku. Dalam hal air bersih, sudah merupakan
praktek umum bahwa dalam menetapkan kualitas dan karakteristik dikaitkan dengan
suatubaku mutu air tertentu (standar kualitas air). Untuk memperoleh gambaran yang
nyata tentang karakteristik air baku, seringkali diperlukan pengukuran sifatsifa tair
atau biasa disebut parameter kualitas air, yang beraneka ragam. Formulasi-formulasi
yang dikemukakan dalam angka-angka standar tentu saja memerlukanpenilaian yang
kritis dalam menetapkan sifat-sifat dari tiap parameter kualitas air(Slamet,
1994).Standar kualitas air adalah baku mutu yang ditetapkan berdasarkan sifat-sifat
fisik, kimia, radioaktif maupun bakteriologis yang menunjukkan persyaratankualitas
air tersebut. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 Tentang
Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air, air
menurutkegunaannya digolongkan menjadi :
1. Kelas I : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan
atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu airyang sama dengan kegunaan
tersebut.
2. Kelas II : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/saranarekreasi
air, pembudidayaan ikan air tawar, Peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan
atau peruntukan lain yangmempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan
tersebut.
3. Kelas III : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaanikan air
tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang
mempersyaratkan mutu air yang samadengan kegunaan tersebut.
4. Kelas IV : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairipertanaman
dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutuair yang sama dengan
8

kegunaan tersebut.Untuk dapat memahami akibat yang dapat terjadi apabila air
minum tidak memenuhi standar,
2.6. Pengolahan Air
Tujuan pengolahan air dalah untuk menghilangkan konstituen yang tidak diinginkan
dari air baku untuk memproduksi air sesuai dengan kualitas yang diperlukan dan untuk
memproses residual dari pengobatan proses dalam bentuk yang dapat dengan aman dan
mudah dibuang atau digunakan kembali. Tujuan lainnya adalah untuk menghasilkan
produk akhir yang mikrobiologis dan kimia aman untuk dikonsumsi serta estetis dapat
diterima. Kisaran proses yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini meliputi koagulasi-
flokulasi, sedimentasi atau flotasi, filtrasi dan desinfeksi. Tergantung pada sumber dan sifat
dari air baku, satu atau kombinasi dari proses-proses ini digunakan untuk mempersiapkan
air secara fisik dan kimia untuk tahap akhir yang penting dari desinfeksi. Sementara setiap
proses ini mampu mengurangi jumlah keseluruhan mikroorganisme, mereka tidak pernah
dapat memastikan penghapusan lengkap tersebut. Oleh karena itu pengurangan patogen
dengan proses perlakuan fisik menjadi manfaat tambahan.
2.3.1 Pengolahan Secara Fisika
Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan,
diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau
bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan
cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar.
Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses
pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah
kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.
Bertujuan meminimalisir maupun menghilangkan berbagai kotoran yang bersifat kasar,
melalui penyisihan pasir dan lumpur, yakni mengurangi berbagai zat organic didalam air
untuk diolah. Dimana proses pengolahan tersebut dilakukan tanpa adanya tambahan
senyawa kimia.
Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung
seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. Flotasi
juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau
pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas
(air flotation). Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk
mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan untuk
9

menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu
proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa.
Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan
senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya, terutama jika
diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut. Teknologi membran
(reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil, terutama jika
pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan
operasinya sangat mahal.

2.3.2 Pengolahan Secara Kimia


Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan
partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa
fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang
diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui
perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah
diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga
berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi. Bertujuan untuk membantu pengolahan yang
selanjutnya, seperti pemberian cairan cairan kimia yang digunakan untuk membantu proses
penjernihan air secara kimiawi, salah satu contoh cairan kimia yang digunakan untuk
mendukung proses pengolahan secara kimiawi adalah Tawas, Polimer, Soda Ash dll.
Digunakan untuk memaksimalkan pengolahan setelah pengolahan tingkat pertama.
Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan
membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan
koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat
diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan
larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam
tersebut atau endapan hidroksiapatit. Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air
> 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9,5. Khusus untuk krom heksavalen, sebelum
diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3], terlebih dahulu direduksi menjadi krom
trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO4, SO2, atau Na2S2O5).
Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi
rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl2), kalsium permanganat,
aerasi, ozon hidrogen peroksida. Pada dasarnya kita dapat memperoleh efisiensi tinggi
dengan pengolahan secara kimia, akan tetapi biaya pengolahan menjadi mahal karena
10

memerlukan bahan kimia.


2.3.3 Pengolahan Secara Biologi
Bertujuan membunuh maupun memusnahkan berbagai macam bakteri, khususnya
bakteri yang menyebabkan berbagai kotoran atau penyakit yang ada dalam kandungan air
seperti bakteri E.Coli. Adapun salah satu metode pengolahannya yaitu dengan
menambahkan zat desinfektan seperti kaporit. Semua air buangan yang biodegradable
dapat diolah secara biologi. Sebagai pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi
dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa
telah berkembang berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya. Pada
dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:
1. Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor);
2. Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor).
Didalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan berkembang
dalam keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung dalam
reaktor jenis ini. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya,
antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi. Dibandingkan dengan proses lumpur
aktif konvensional, oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi
penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang
dihasilkan lebih sedikit. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi
mempunyai kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam).
Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi
di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan
pengolahan pendahuluan.
Kolam oksidasi dan lagoon, baik yang diaerasi maupun yang tidak, juga termasuk
dalam jenis reaktor pertumbuhan tersuspensi. Untuk iklim tropis seperti Indonesia, waktu
detensi hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang
tidak diaerasi, cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang
ditetapkan. Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja.
Di dalam reaktor pertumbuhan lekat, mikroorganisme tumbuh di atas media
pendukung dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. Berbagai
modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini, antara lain:
1. Trickling filter
2. Cakram biologi
11

3. Filter terendam
4. Reaktor fludisasi
Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-
90%. Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara biologi,
proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis:
1. Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen;
2. Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen.
Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l, proses aerob masih dapat
dianggap lebih ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l, proses
anaerob menjadi lebih ekonomis.

2.4. Peralatan Water Treatment


Pada umumnya kebutuhan pabrik akan air sangat banyak dan perlu sehingga lokasi
pabrik dipilih dekat dengan sumber air. Sebagai contoh untuk skala pabrik sumber air baku
untuk pembuatan airnya diambil dari air sungai.

Gambar. 2.1 Water Treatment


Secara singkat pengolahan air dari sungai tersebut mengalami beberapa tahapan,
adapun peralatan yang digunakan dalam unit water treatment adalah sebagai berikut :
1. Filter ( saringan)
Filter adalah alat penyaringan air yang memiliki kerapatan yang cukup besar. Hal
ini sesuai dengan fungsinya yaitu untuk menyaring benda padat kasar yang terapung
disekitar pompa air, sehingga kerusakan pompa dapat terhindar akibat tersumbat.
12

Prinsip kerja yaitu hanya menerima air yang didistribusikan oleh pompa dan pada
filter terjadi pemisahan antara benda padat kasar dan air.
2. Pompa
Pompa berfungsi untuk mendistribusikan air (air sungai) dan akan kemudian di
olah kembali. Prinsip kerja mendistribusikan air dari sumber air dan kemudian diolah
kembali oleh alat-alat selanjutnya.

3. Flocculator
Flocculator adalah bagian yang berupa tangki dengan diameter, tinggi dan
kapasitas tertentu sesuai dengan keperluan. Prinsip Kerja menampung air yang
didistribusikan oleh pompa kemudian koloid-koloid yang terdapat bersama- sama
dengan air di koagulasi karena pengaruh beberapa bahan kimia yang diberikan
selanjutnya koloid yang berbentuk flock ini tertinggal di flocculator kemudian airnya
diproses pada alat selanjutnya. Air sungai yang dipompakan, sebelum masuk
kedalam flocculator maka diinjeksikan dengan berbagai macam bahan kimia, antara
lain:
a. Larutan alum ( Al2SO4)
Larutan ini berfungsi untuk memperbesar ukuran partikel-partikel koloid
sehingga akan lebih mudah terbentuk floc-floc dan mengendap. Suspensi koloid
terdiri dari ion-ion bermuatan negatif sehingga akan terjadi peristiwa tolak-
menolak antar ion. Apabila ion-ion yang bermuatan positif yang terdapat dalam
zat pengendap (coagulant chemicals) bersentuhan dengan ion-ion negatif maka
akan terbentuk gumpalan berupa gelatin. Dengan demikian ukuran partikel akan
bertambah besar sehingga dapat dipisahkan dengan cara pengendapan.
b. Coagulant Aid
Berfungsi untuk memperbesar partikel koloid dan membentuk floc tank,
sehingga proses pengendapan berlangsung lebih cepat dan sempurna.
c. Gas Klorin
Merupkan zat pembunuh bakteri, jamur, mikroorganisme yang terdapat
didalam air. Dosis yang digunakan adalah 5 ppm. Sebelumnya digunakan kaporit
(CaOCl2), kaporit lebih baik dari pada klorin karena dapat dengan cepat
mengendapkan lumpur sehingga air akan lebih bersih.
d. Caustic Soda (NaOH)
13

Berfungsi untuk mengatur pH air sungai karena pada sistem pembentukan


floc dibutuhkan kondisi dengan pH 5,5 s.d 6,2. Dosis yang digunakan adalah 2 s.d
5 ppm. Kondisi pH harus dijaga lebih dari 5,5 agar floc terbentuk dan pH harus
kecil dari 6,2 agar floc yang terbentuk tadi tidak akan pecah lagi. Flocculator juga
dilengkapi dengan pengaduk yang berfungsi menghomogenkan air sungai dan
bahan kimia yang telah diinjeksikan tersebut.

4. Clarifier
Clarifier dilengkapi dengan alat pengaduk (Mixer) sehingga proses pencampuran
dapat berlangsung dengan baik (homogen). Mixer tersebut ada yang putaran cepat
(high speed mixer) dan putaran lambat (low speed mixer). Didalam Clarifier terjadi
proses :
a. Koagulasi
b. Flokulasi
c. Sedimentasi
Clarifier terbuat dari beton yang berdiameter dan dilengkapi dengan pengaduk.
Pada clarifier air terdiri dari flocculator dipisahkan floc-floc nya dengan cara
pengendapan yang disertai dengan pengadukan berputaran rendah. Hal ini berfungsi
untuk membentuk floc (gumpalan) dari partikel yang berukuran kecil.
Selama proses clarification, dihilangkan juga water hardness ( air keras) yaitu
garam kalsium dan magnesium yang larut dalam air. Hardness dapat dikurangi
dengan jalan mereaksikan zat- zat kimia yang akan mengendapkan hardness tersebut.
Air bersih hasil pengendapan dipisahkan melalui over flow di bibir clarifier dan
endapannya dibuang ( blowdown) melalui bagian bawah clarifier. Kualitas air pada
clarifier dapat dikontrol di outlet clarifier dengan parameter pH antara 5,5 s.d 6,2
kadar chlorine 0,3 s.d 1,5 ppm dan turbidity kurang dari 5 ppm.
5. Clear well
Clear well terbuat dari baja yang berdiameter dan mempunyai tinggi tertentu. Air
yang keluar dari clarifier dikirim ke clear well yang berfungsi sebagai penampung
air dalam jumlah banyak sebelum di pompakan ke unit sand filter. Di clear well air
dijaga pH nya dengan menyuntikkan NaOH (caustic soda).
6. Sand Filter
14

Gambar.2.2 Schematic Representation Of a Sand Filter


Dari clear well, air disaring di sand filter yang bertujuan memisahkan kotoran
halus yang terdapat dalam air bersih dan mengurangi ion nitrat ataupun nitrit yang
tidak terendapkan pada flocculator. Untuk melihat indikasi sand filter telah menurun
dapat dimonitoring dengan pressure drop. Untuk mengeluarkan kotoran yang
tertahan pada saat operasi maka dilakukan backwash. Air yang keluar dari sand filter
diharapkan mempunyai turbidity maksimum 1 ppm.
7. Filtered Water Storage Tank
Air hasil proses di sand filter ditampung di filtered water storage tank kualitas
yang diharapkan ada pada air hasil pengolahan.

2.5. Proses Water Treatment


Water treatment merupakan unit yang berguna dalam pembersihan air dari air kotor
menjadi air bersih, yaitu dengan cara proses klarifikasi yaitu proses penghilangan
suspended solid. Tahapan-tahpan proses water treatment system antara lain :
1. Proses penghilangan / pengikatan Lumpur / polutan tidak terlarut
2. Proses penghilangan / pengikatan logam logam berat
3. Proses penghilangan / pengikatan zat organic & anorganik
4. Proses penghilangan zat kapur / kesadahan dan magnesium
1. Proses Sand Filter
Proses ini bertujuan untuk mengurangi polutan-polutan yang ukurannya lebih
besar dari 20 mikron, serta menahan/ memfilter kadar-kadar logam-logam berat yang
telah teroksidasi dalam proses sebelumnya.
2. Proses Greensand Filter (sand actived)
Proses ini mempunyai fungsi menghilangkan kadar logam berat serta zat kimia
lainnya yang tidak sempat teroksidasi pada awal proses. Proses filtrasi ini
menggunakan media greensand yang mempunyai fungsi mengikat serta merubah ion
15

logam berat yang lolos menjadi ion logam teroksidasi serta unsur kimia terlarut
antara lain :
a. Fe 2+ ion besi
b. Mn 2+ ion Mangan
c. H2S Sulfida
d. NH4 (Amoniak)
e. Zn (Zink)
f. Cr (Crom)
g. NO2- Nitrit
h. NO3- Nitral
i.Balance pH
3. Proses Carbon Filter
Proses ini bertujuan menghilangkan aroma air yang tidak sedap serta membunuh
bakteri , amuba serta mengikat racun-racun dalam air, seperti diilustrasikan dalam
perut yang diare menggunakan obat norite dengan kata lain carbon powder yang
dibuat kapsul yang bertujuan menghilangkan bakteri serta menyerap racun-racun
dalam perut.
4. Proses Softening
Proses ini bertujuan melunakan air serta rasa air agar tidak kesat serta mengurangi
kadar kapur/ kesadahan, magnesium dalam air.
Proses tersebut dapat berjalan dengan 3 proses yaitu :
1. Proses koagulasi
Proses koagulasi yaitu partikel koloid yang bermuatan sama dinetralisir melalui
koagulan.atau dapat diartikan sebagain suatu mekanisme penetralan dimana partikel-
partikel koloid yang bermuatan (ionic) dinetralkan muatannya, setelah muatannya
netral maka partikel-partikel tersebut bias / akan saling mendekat / menempel satu
sama lain dan mulai terbentu floc yang kecil (pin floc).
Proses koagulasi dilakukan dengan bahan kimia yaitu: Chemicals Alumunium

Sulfat Al2(SO4)3 x 18H2O (Koagulan). Alumunium Sulfat (alum) sebagai koagulan


diinjeksikan kedalam clarifier dengan dosis berkisar antara (45 50) ppm, tergantung
dari kualitas raw water intakenya. Fungsi alum adalah membentuk flok inti (pin
floc) . Reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai berikut :
Al2(SO4)3 + 3Ca(OH)3 2 Al(OH)3 + 3Ca(SO4)3
Al2(SO4)3 + 3Ca(OH)3 2 Al(OH)3 + 3Ca(SO4)3
Proses koagulasi berlangsung melalui 3 tahapan sebagai berikut :
1. Tahap pengadukan cepat (rapid-mixing) antara koagulan dengan air. Rapid
mixing , yaitu adanya tumbukan menjadi netralisasi sempurna distribusi
koagulan merata, faktor ini sangat penting dan diperlukan agar :
16

a. Probability tumbukan antara partikel untuk netralisasi cukup besar


sehingga netralisasi sempurna.
b. Distribusi koagulan dalam air cukup baik dan merata.
c. Ada input energi yang cukup untuk tumbukan antara partikel dari partikel
-partikel yang telah netral, sehingga bisa terbentuk pin-floc.
2. Netralisasi muatan
3. Dengan adanya input energi dari pengadukan (mixing) tadi, partikel yang
telah dinetralkan, bertubrukan satu sama lain dan mulai terbentuk floc kecil
(pin-floc).
2. Proses flokulasi
Yaitu suatu mekanisme dimana flok kecil yang sudah terbentuk dalam proses
koagulasi tadi melalui suatu media flokulan digabungkan menjadi flok yang lebih
besar sehingga cukup berat untuk bisa mengendap. Di dalamnya juga terdapat rantai
yang panjang dan banyak cabangnya yang berguna sebagai jembatan penghubung.
Hal yang dapat menyebabkan putusnya rantai tersebut adalah pengadukan yang cepat
(rapid mixing). Faktor lain yang dapat mengganggu adalah kondisi tingkat keasaman
lingkungan sekitarnya sehingga perlu menginjeksikan chemicals NaOH sebagai pH
adjuster. Flokulasi : adalah suatu mekanisme dimana floc kecil yang sudah terbentuk
dalam proses koagulasi tadi, melalui suatu media flokulan (ex.Poly-Electrolyte)
digabungkan menjadi floc yang lebih besar sehingga cukup berat untuk bias
mengendap (settling).
1. Pin-floc halus yang dihasilkan pada proses awal koagulasi masih belum
cukup besar untuk bisa mengendap (settling) dengan baik dibawah pengaruh
gravitasi.
2. Penggabungan pin-floc dapat dibantu / dipercepat dengan suatu flokulan (bisa
disebut coagulant aid = flocculant), yaitu suatu senyawa polimer yang
berantai panjang dan mempunyai berat molekul tinggi.
3. Sifat polimer flokulan biasanya tidak bermuatan (non-ionik) atau sedikit
kationik (slighty cationic) ataupun sedikit anionic (slightly anionic).
4. Rantai yang panjang dan banyak cabangnya (BM-tinggi) adalah persyaratan
utama bagi flokulan, dengan rantai yamg panjang dan bercabang tersebut,
flokulan dapat berfungsi sebagai jembatan penhubung bagi pin-floc untuk
membentuk suatu flok yang lebih besar.
5. Jika mekanisme flokulasi diatas telah dipahami maka dapat terlihat dengan
jelas bahwa rantai flokulan tersebut harus diusahakan agar tidak pecah /
terputus dalam pemakaiannya.
17

6. Apabila rantainya putus menajdi pendek, maka jumlah pin-floc yang bisa
diikat menjadi lebih sedikit sehingga floc yang terjadi tidak cukup besar.
3. Sedimentasi
Sedimentasi adalah suatu mekanisme dimana floc yang sudah cukup besar tadi
akan mengendap dan turun ke bawah permukaan air dibawah pengaruh gaya
gravitasi. Dasar teori yang dipakai untuk proses sedimentasi adalah hukum stoke,
yaitu floks yang besar tersebut mengalami pengendapan. Faktor yang
mempengaruhinya adalah :
a. Dosis koagulan dan flokulan.
b. Mixing, pH, temperatur, warna air baku
c. Level interface dan blowndown lumpur di klarifier.
V = 18.5 D2 ( S1 S2) / Z Pers. Hukum Stokes
Dengan : V = kecepatan jatuhnya partikel (pengendapan).
D = diameter partikel
S1 = densitas partikel
S2 = densitas media (fluida)
Z = viskositas media (fluida)
1. Dibagian atas Clarifier akan terbentuk air yang relatif sudah bersih, untuk
kemudian dialirkan dengan cara di over flowkan untuk kemudian dialirkan ke
unit filtrasi.
2. Proses filtrasi terjadi di Unit Sand Filter.
3. Filtrasi (penyaringan) dilakukan dengan menggunakan pasir (sand), koral
(gravel), dan anthrasit untuk menghilangkan / merduksi zat tersuspensi (pin-
floc) yang terikut bersama air umpan (dari outlet clarifier). Secara periodik (24
jam), saringan harus di backwash untuk menghilangkan flok yang tersaring di
permukaan filter.
4. Air yang keluar dari sand filter kemudian dipompakan ke tangki pengumpul
(storage tank).
5. Untuk menjaga agar pH air bersih tersebut on specification (7.5-8.5) maka
diinjeksikan NaOH liquid.
6. Sedangkan kumpulan flok yang turun mengendap akan dibuang secara
intermitten melalui blowdown dengan tetap menjaga keseimbangan flok di
dalam clarifier agar tidak pecah/rusak ataupun jangan sampai flok berlebihan.
7. Produk air bersih (treated water) ditampung pada storage tank dan siap
didistribusikan.
8. Distribusi air bersih (treated water) sbb :
a. Proses lebih lanjut untuk :
i. Air minum (drinking water).
ii. Air Umpan Boiler (demineralized water)
18

b. Air Pendingin Sirkulasi (circulated cooling water).


c. Service water, penggunaan air dalam kilang.
Faktor faktor yang mempengaruhi proses Clarifier adalah sebagai berikut ;
a. Dosis Koagulan dan Floakulan.
b. Pengadukan (Rapid Mixing).
c. Temperatur.
d. pH (derajat keasaman).
e. warna raw water intake.
f. Level interface lumpur di Clarifier.
g. Blowdown dari Clarifier, dll.

2.6. Karbon Aktif


Karbon aktif adalah karbon yang di proses sedemikian rupa sehingga pori porinya
terbuka, dan dengan demikian akan mempunyai daya serap yang tinggi. Karbon aktif
merupakkan karbon yang bebas serta memiliki permukaan dalam (internal surface),
sehingga mempunyai daya serap yang baik. Keaktifan daya menyerap dari karbon aktif ini
tergantung dari jumlah senyawa kabonnya yang berkisar antara 85 % - 95% karbon bebas.
Karbon aktif yang berwarna hitam, tidak berbau, tidak terasa dan mempunyai daya
serap yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kabon aktif yang belum menjalani proses
aktivasi, serta mempunyai permukaan yang luas, yaitu memiliki luas antara 300 sampai
2000 m/gram. Karbon aktif ini mempunyai dua bentuk sesuai ukuran butirannya, yaitu
karbon aktif bubuk dan karbon aktif granular (butiran). Karbon aktif bubuk ukuran
diameter butirannya kurang dari atau sama dengan 325 mesh. Sedangkan karbon aktif
granular ukuran diameter butirannya lebih besar dari 325 mesh.
Karbon aktif merupakan suatu bentuk arang yang telah melalui aktifasi dengan
menggunakan gas CO2, uap air atau bahan-bahan kimia sehingga pori-porinya terbuka dan
dengan demikian daya absorpsinya menjadi lebih tinggi terhadap zat warna dan bau.
Karbon aktif mengandung 5-15% air, 2-3% abu dan sisanya terdiri dari karbon. Karbon
aktif berbentuk amorf terdiri dari pelat-pelat datar, disusun oleh atom-atom C yang terikat
secara kovalen dalam suatu kisi heksagonal datar dengan satu atom C pada setiap
sudutnya. Pelat-pelat tersebut bertumpuk-tumpuk satu sama lain membentuk kristal-kristal
dengan sisa hidrokarbon, dan senyawa organik lain yang tertinggal pada permukaannya.
Bahan baku karbon aktif dapat berasal dari bahan nabati atau turunannya dan bahan
hewani. Mutu karbon aktif yang dihasilkan dari tempurung kelapa mempunyai daya serap
tinggi, karena arang ini berpori-pori dengan diameter yang kecil, sehingga mempunyai
internal yang luas. Luas permukaan arang adalah 2 x 104 cm 2 per gram, tetapi sesudah
19

pengaktifan dengan bahan kimia mempunyai luas sebesar 5 x 106 sampai 15 x 107cm 2 per
gram. Ada 2 tahap utama proses pembuatan karbon aktif yakni proses karbonasi dan proses
aktifasi. Dijelaskan bahwa secara umum proses karbonisasi sempurna adalah pemanasan
bahan baku tanpa adanya udara sampai temperatur yang cukup tinggi untuk mengeringkan
dan menguapkan senyawa dalam karbon. Pada proses ini terjadi dekomposisi termal dari
bahan yang mengandung karbon, dan menghilangkan spesies non karbonnya. Proses
aktifasi bertujuan untuk meningkatkan volume dan memperbesar diameter pori setelah
mengalami proses karbonisasi, dan meningkatkan penyerapan. Pada umumnya karbon aktif
dapat di aktifasi dengan 2 (dua) cara, yaitu dengan cara aktifasi kimia dan aktifasi fisika.
1. Aktifasi kimia
Arang hasil karbonisasi direndam dalam larutan aktifasi sebelum dipanaskan.
Pada proses aktifasi kimia, arang direndam dalam larutan pengaktifasi selama 24 jam
lalu ditiriskan dan dipanaskan pada suhu 600 900oC selama 1 2 jam.
2. Aktifasi fisika
Yaitu proses menggunakan gas aktifasi misalnya uap air atau CO 2 yang dialirkan
pada arang hasil karbonisasi. Proses ini biasanya berlangsung pada temperatur 800
1100oC.
Karbon aktif bersifat sangat aktif dan akan menyerap apa saja yang kontak dengan
karbon tersebut. Karbon Aktif digunakan untuk menjernihkan air, pemurnian gas, industri
minuman, farmasi, katalisator, dan berbagai macam penggunaan lain. Selain di bidang
pengolahan air, karbon aktif dapat digunakan di berbagai industri seperti
pengolahan/tambang emas dengan berbagai ukuran mesh maupun iondine number. Juga
digunakan untuk dinding partisi, penyegar kulkas, vas bunga, dan ornamen meja.
Di balik legamnya, barang gosong itu ternyata sangat kaya manfaat. Karbon aktif
dapat digunakan sebagai bahan pemucat, penyerap gas, penyerap logam, menghilangkan
polutan mikro misalnya zat organik maupun anorganik, detergen, bau, senyawa phenol dan
lain sebagainya. Pada saringan arang aktif ini terjadi proses adsorpsi, yaitu proses
penyerapan zat - zat yang akan dihilangkan oleh permukaan arang aktif, termasuk CaCO 3
yang menyebabkan kesadahan. Apabila seluruh permukaan arang aktif sudah jenuh, atau
sudah tidak mampu lagi menyerap maka kualitas air yang disaring sudah tidak baik lagi,
sehingga arang aktif harus diganti dengan arang aktif yang baru.
Untuk mengurangi kesadahan (Hardness) pada air dapat digunakan filtrasi
(penyaringan) dengan media karbon aktif yang memiliki sifat kimia dan fisika, di
20

antaranya mampu menyerap zat organik maupun anorganik, dapat berlaku sebagai penukar
kation, dan sebagai katalis untuk berbagai reaksi. Karbon aktif adalah sejenis adsorben
(penyerap), berwarna hitam, berbentuk granule, bulat, pellet ataupun bubuk. Jenis karbon
aktif tempurung kelapa ini sering digunakan dalam proses penyerap rasa dan bau dari air,
dan juga penghilang senyawa-senyawa organik dalam air.
Air sadah adalah air yang mengandung ion Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg). Ion-
ion ini terdapat dalam air dalam bentuk sulfat, klorida, dan hidrogenkarbonat. Kesadahan
air alam biasanya disebabkan garam karbonat atau garam asamnya. Kesadahan
merupakkan petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa apabila dicampur dengan
sabun. Pada air berkesadahan rendah, air dapat membentuk busa apabila dicampur dengan
sabun, sedangkan air yang berkesadahan tinggi tidak akan membentuk busa. Fungsi
Carbon Active Filter (CAF):
a. Mengurangi / menghilangkan kandungan senyawa organik dengan cara adsorpsi.
b. Mengurangi / menghilangkan kandungan oksidator (ex Chlorin)
c. Mengurangi / menghilangkan zat padat (solid) yang tersuspensi dalam air.

2.7. Manfaat Aplikasi Water Treatment


a. Pada industri
Manfaat dari Water Treatment Plant yakni untuk dapat memenuhi kualitas pada
air pengisi mesin industri berdasarkan standar yang sudah ditentukan seperti make up
water maupun sebagai air pengisi boiler, untuk itu dibutuhkan instalasi untuk
pengolahan air melalui berbagai proses. Pada Power plant dengan sumber air baku
dari sea water, air tersebut belum dapat memenuhi standar untuk digunakan langsung
pada mesin. Di dalam dunia industri, air sangat banyak dijadikan sebagai media
pendingin, pemanas hingga berbagai keperluan proses. Dimana tiap penggunaan
membutuhkan kondisi air spesifik.
Pengolahan lebih lanjut sering dilakukan pada air bersih, misalnya saja proses
demineralisasi dan softener. Dimana penghilangan mineral yang terlarut atau
demineralisasi sendiri bisa dilakukan memakai metode Reverse Osmosis. Dari situlah
dapat kita simpulkan bahwa metode water treatment plant sangat penting dalam
berbagai kebutuhan.
b. Kehidupan sehari-hari
Water treatment digunakan untuk menjernihkan air yang kotor misalnya untuk
masyarakat pedesaan yang membutuhkan air bersih. Air bersih sebagai air minum
maupun untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari seperti mandi, mencuci dan
lain-lain.