Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH:

NEGARA DALAM PANDANGAN

ALKITAB

Disusun oleh :

KELOMPOK 1 :

NAMA: - AGI KENZIRO (0562016004)


- APRIANI (056201609)
- DANIEL (0562016013)
- DERIEL (0562015017
- IJUL YANTO (0562016033)
- NAHOT S.PASARIBU (0562016052)

PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS


AKADEMI KEPERAWATAN
KUALA KAPUAS
2016
Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME), yang
mana masih memberikan kesempatan kepada penulis untuk menerbitkan karya tulis
Makalah ini yang bertopik tentang Negara dalam pandangan Alkitab. Makalah ini
disajikan dengan metode penggunaa bahasa yang lugas serta efektif, sehingga
mudah dipahami oleh para pembaca. Selain itu juga mengandung unsur-unsur nilai
budaya yang tercermin di dalam kehidupan masyarakat Kristiani.

Kita mengetahui bahwa Negra adalah tempat umat Manusia, dan Negara sering
kali mengalami problema yang manjadi acuan bagi Agama-agama di dalamnya.
Kadang kala berdirinya suatu Negara, tidak didukung oleh Negara-negara lain serta
pembangunan infrastruktur Negara yang kurang memadai. Dewasa ini, sering sekali
terjadi kasus-kasus pengeboman wilayah terutama di gereja-gereja yang berada di
indonesia dan bahkan sudah hampir sampai ke pelosok-pelosok pedesaan. Nah, ini
yang menjadi perhatian kita bersama, mengapa di dalam suatu negara banyak
terjadi kekacauan yang merenggut nyawa bukanlah menjadi sesuatu yang dianggap
lebih penting dan didahulukan, melainkan hanya sebagai tempat tinggal dan
identitas.

Oleh karena itu, marilah kita sadari dan kita renungkan bersama, tentang
bagaimana cara kita sebagai Warga Negara untuk dapat menyelamatkan
kedudukanNegara di dalam Dunia sebagai acuan dan perhatian Publik, agar
hubungan Negara kita dengan Negara-negara lain menjadi suatu hal yang lebih
diprioritaskan, sehingga Negara betul-betul menjadi Negara yang Aman dan diakui,
dan tempat pembawa berkat bagi seluruh umat Di duniai.

Penulis juga menyadari masih banyak kekurangan ataupun ketidaksesuaian dari


pada isi Makalah ini. Oleh karena itu, Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari para pembaca sekalian.
DAFTAR ISI

Kata pengantar.................................................................................i
Daftar isi......................................................................................... ii

Bab I Pendahuluan

A.Latar belakang.............................................................................1

B.Rumusan masalah.......................................................................2

C.Tujuan penulisan makalah...........................................................2

Bab II Pembahasan

A.Negara dalam pandangan Alkitab................................................3

B.Sisi negatif dari Negara................................................................5

C.Ketidakabsahan suatu Agama di Negara pancasila....................6

Bab III Penutup

A.Kesimpulan..................................................................................7

B.Saran............................................................................................7

Daftar pustaka.............................................................................8
BAB 1

PENDAHULUAN

1). Latar Belakang Masalah.

Negara Indonesia memiliki suku dan Agama yang berbeda di sepanjang


perjalanan sejarah Indonesia. Sejarah tersibut terbina karena adanya bukti-bukti
yang di lihat sampai sekarang yang memiliki Suku dan Agama yang berbeda dalam
negara . tetapi walaupun berbeda-beda negara indonesia masih tetap bisa bersatu
dan damai dan aman. Setiap Agama memiliki suatu pandangan terhadap Negara
terutama Agama Kristen yang terlulis dalam Alkitab.

Tatkala negara mendominasi Agama (kristen), Agama direduksi menjadi hanya


lembaga sekular manusiawi. Padahal Agama adalah suatu kepercayaan yang
dimiliki setiap masing individu. Sebaliknya, ketika Agama mendominasi (negara),
negara disakralkan, dan kebijakan negara (politik) disejajarkan dengan isi wahyu.
Tanpa pemilahan yang jelas, hubungan keduanya justru menjadi carut-marut.
Keduanya saling eksploitasi dengan aneka trik. Kredibilitas keduanya merosot
dimata umat. Pemilahan antara kedua saudara kandung tersebut harus diperjelas
teristimewa dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia. Umat Allah semestinya
membedakan peran mereka dalam politik di satu pihak sebagai pribadi atau kolektif
selaku warganegara, dan di lain pihak berperan dalam tugas kemanusiaan atas
nama Agama(kristen). Agama sebagai institusi harus menghindarkan diri dari
keterlibatan politik (praktis) berdasarkan agama yang dapat menyebabkan
perpecahan dalam masyarakat majemuk. Di samping itu, bila menyimak pelbagai
praktek politik berbasis agama, agama biasanya hanya menjadi palu di tangan
politisi, yang setelah dipakai kemudian dilempar kembali ke kotak perkakas.

Negara merupakan organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai


kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat. Oleh karena itu sebuah negara
terbentuk dengan adanya wilayah atau teritorial yang diakui secara internasional.
Tidak hanya wilayah yang menjadi persyaratan utama berdirinya sebuah negara,
akan tetapi harus ada masyarakat atau kumpulan masyarakat yang berada di bawah
kepemimpinan dalam negara tersebut. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa
negara tidak akan terbentuk jika tidak memiliki unsur-unsur wilayah, rakyat dan
sekaligus kepemimpinan.

Negara secara umum merupakan sebuah organisasi yang memiliki


kepemimpinan. Kepemimpinan yang memiliki ruang lingkup dan anggota yang
terlibat dalam organisasi..
Alkitab menjabarkan negara sebagai institusi dengan fungsi dan yuridisnya
hal ini digambarkan dengan negara sebagai pedang (Rm. 13:4) . Sesuai dengan
peran dan fungsinya, Negara berhadapan dengan dosa. Negara memegang otoritas
untuk Menyatukan Agama,suka,dan Wilayah yang berbeda .

2). Rumusan Masalah.

Dalam penulisan karya tulis makalah ini, penulis menyusun sketsa penulisan
yang terdiri dari Sejarah lahirnya Negara, Seluk beluk perkembangan Negara ,
Tugas dan Fungsi Negara di dalam suatu Wilayah, serta pendapat Pendapat para
Tokoh tentang Negara.

Adapun, patokan dasar yang menjadi rumusan masalah di dalam makalah ini
adalah membahas tentan Negara dalam pandangan Alkitab , yang menguraikan
tentang perjalanan Negara yang begitu menyakitkan dan mengharukan yang mana
para pemimpi Negara dan para Tokoh-tokoh Negara telah bersusah payah untuk
menjadikan Negara sebagai tempat yang aman sesuai dengan ajaran Alkitab, dan
hingga saat ini pun Negara masih saja mengalami masalah yang begitu sulit di
selesaikan.

Adapun format penulisan masalah dalam Makalah ini, diklasifikasikan ke dalam


beberapa bentuk pertanyaan yang terdiri dari:

1). Bagaimana pandangan Alkitab tentang suatu Negara ?

2). Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh umat Kristen untuk
menyelamatkan Negara dari dari segala bentuk ancaman dan diskriminasi?

3).Mengapa perjalanan Negara hingga saat ini masih saja mendapat tantangan dan
problema yang begitu menekan ketenteraman para penduduk ?

3). Maksud dan Tujuan Penulisan:

Adapun maksud dari pada penulisan makalah ini adalah untuk menyadarkan kita
semua sebagai umat Kristiani yang taat akan agama, agar mau berusaha dan
berjalan sesuai dengan ajaran Tuhan dalam menyelamatkan Negara dari segala
bentuk ancaman diskriminasi yang mengganggu ketenteraman penduduk dan
mengajak pihak-pihak lain agar mau berpartisipasi membangun dan
mewujudnyatakan Negara yang diharapkan oleh seluruh lapisan penduduk . Selain
itu, Penulis juga bermaksud menulis makalah ini sebagai acuan informasi tentang
stabilitas keberadaan Negara kita di dunia, yang saat ini belum bisa dikatakan
sepenuhnya bahwa Negara kita dijadikan sebagai fondasi bagi warga negara, dalam
tatanan kehidupannya sehari-hari yang tidak melanggar dari Peraturan dan Hukum-
hukum. Oleh sebab itu, Penulis berusaha bermaksud untuk mendeskripsikan
penjelasan secara detail dan akurat mengena Negara dalam pandnagan Alkitab.

BAB 2 PEMBAHASAN

A. NEGARA DALAM PANDANGAN ALKITAB

Harus diakui , diant ara o rang-o rang K rist en yang ingin m ember ikan kontribusinya
bagi pembangunan bangsa dengan terlibat dalam partai Kristen didorong oleh
keinginan luhur untuk menjadi terang atau saksi Kristus. Keinginan untuk
membangun negara yang didominasi oleh kekristenan tersebut bukan lahir dari
dorongan untuk menjajah agama-agama lain, tetapi semangat untuk memerdekakan
manusia di dalam damai Kristus. Apalagi kemudian, teokrasi Perjanjian Lama (PL)
dipakai sebagai pembenaran keharusan adanya partai Kristen, meskipun
pengertian tersebut tidak tepat. Dengan dasar itu mereka berkesimpulan,
keselamatan Indonesia berada ditangan partai Kristen. Artinya semangat untuk
memamerkan dominasi suatu partai Kristen, bisa jadi merupakan semangat yang
tulus tanpa berpikir bahwa semangat itu lahir dari eksklusivisme yang berlebihan dan
tidak mustahil dapat menimbulkan benturan antar partai-partai yang berbasis
agama yang lain. Persoalan di atas tidak perlu terjadi, jika gereja memahami dengan
baik, mengenai hubungan yang benar antara negara dan agama dalam PL. Menurut
penulis timbulnya keberagaman pandangan pola hubungan agama dan negara
tersebut tidak produktif bagi peran Kristen di Indonesia, apalagi jika kemudian
menjadi saling bertentangan. Penafsiran tentang hubungan agama dan negara yang
hanya didasarkan atas beberapa ayat Alkitab dalam Perjanjian Baru (PB) bisa
sangat berbahaya, apalagi tanpa pemahaman PL yang baik. Di sini pemahaman
agama menurut Perjanjian Lama menjadi suatu kebutuhan. dan kemudian
menawarkan hubungan yang lebih tepat antara negara dan agama serta bagaimana
aplikasinya dalam konteks Indonesia.

1. MENINJAU SITUASI INDONESIA MASA KINI

Di Indonesia khususnya, politik identitas mendapat kan ruang secara hukum,


kebebasan dalam membangun partai agama diklaim sebagai perwujudan hak
kebebasan yang tidak boleh diberangus. Tetapi jika kebebasan tersebut akhirnya
akan membawa Indonesia pada jurang kehancuran, yaitu terciptanya pemerintahan
yang absolutis dan membelenggu kebebasan, maka bisa jadi kebebasan tidak lagi
menjadi kebebasan, karena ia akan menjerumuskan manusia ke dalam jurang yang
jauh dari kebebasan. Dan jika kriteria diatas dipadukan dengan hegemoni agama
maka akan menjadi suatu ancaman bagi kesatuan suatu bangsa majemuk.
Hegemoni agama merupakan sesuatu yang berbahaya bagi demokrasi,
sebagaimana terjadi dalam abad pertengahan, ketika agama dan negara mengalami
penyatuan dan melahirkan negara yang tunduk kepada gereja, lalu lahirlah
pemerintahan despotis. Dan jika kriteria diatas dipadukan maka akan menjadi suatu
ancaman bagi kesatuan bangsa yang majemuk ini. Munculnya partai-partai politik
Kristen di era reformasi, di satu sisi menunjukan kegairahan orang Kristen untuk
memberikan kontribusinya bagi pembangunan bangsa setelah sekian lama
dibelenggu rezim yang otoriter. Di sisi lain munculnya partai-partai Kristen ini adalah
mengikuti partai-partai yang bernafaskan Islam yang ingin menunjukan
hegemoninya. Kemudian timbullah kekuatiran, bahwa kehadiran partai-partai yang
berbasis agama tersebut bisa menjadi kontra produktif bagi pelestarian negara
Pancasila yang menghargai keberagaman. Oleh karena itu politik identitas yang di
tandai munculnya partai-partai bernuansa agama tersebut, dapat juga mengindikasikan adanya
penguatan komunalisme agama yang niscaya akan menelan nasionalisme warga
negara, serta mengurung Indonesia menuju disintegrasi bangsa.

2. JURNAL TEOLOGI STULOS

Berbau keduniaan dianggap tidak lebih mulia dari sorgawi, orang Kristen harus
mengarahkan matanya bukan pada pekerjaan pembangunan negara di bumi, tetapi
pembangunan kerajaan surga Di sisi lain, pada saat ini terjadi suatu kebangkitan
kesadaran baru akan pentingnya dunia politik. Mereka yang mulai menyadari
keharusan ini kemudian mencari pembenaran Alkitab. Karena Perjanjian Baru tidak
secara detail melaporkan mengenai peran orang Kristen dalam negara, secara
khusus dalam pemikiran kaum biblisistis, maka PL menjadi pijakan mereka.
Teokrasi PL kemudian diartikan sebagai kekuasaan gereja atas Negara. Semua
yang tertulis didalam Alkitab harus diterapkan dalam negara barulah negara tersebut
dapat mencapai tujuan yang dicita-citakan. Pandangan itu tidak diterima oleh semua
orang Kristen. Walaupun sebenarnya hubungan agama dan negara bagi orang
Kristen sudah tuntas, namun eforia yang membangkitkan kesadaran baru tersebut
melahirkan kemajemukan pola hubungan agama dan negara.

3. PENTINGNYA KONSEP PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU

Selain pembagian PL dan PB, Alkitab berdasarkan beritanya, dapat dibagi


menjadi dua bagian besar, yaitu perjanjian penciptaan dan perjanjian penebusan.
Dua perjanjian tersebut berada dalam Perjanjian lama.

Tidaklah mengherankan jika tanpa PL dan PB menjadi samar-samar. Bahkan


sebenarnya seluruh penjelasan mengenai fase kehidupan manusia, dari penciptaan,
kejatuhan, penebusan, sampai, penyempurnaan sudah ada dalam PL. Jika dilihat
dari sejarah keselamatan, maka PL memiliki sejarah yang jauh lebih luas dibandingkan PB.
Walau dalam hal isi berita PB jauh lebih besar, karena lebih banyak memuat isi
berita dibandingkan fakta sejarah, namun isi berita tersebut menjadi samar-samar
tanpa pemahaman fakta sejarah dalam PL. Dengan demikian memahami konsep
negara menurut pandangan Alkitab. Orang Kristen harus berusaha menggali
pemikiran PL tentang Negara agar melahirkan pemahaman yang tepat karena
penafsiran yang tidak utuh, bahkan melawan Alkitab

4.KEGAGALAN TEOKRASI ISRAEL DAN MUNCULNYA NEGARA SEKULAR

Israel sebagi negara teokrasi telah gagal, Israel adalah negara gagal Israel
sebagai negara baru muncul kembali pada abad 20 M, namun negara Israel yang
ada sekarang berbeda dengan Israel dalam P e r j a n j i a n L a m a . S e t e l a h
k e g a g a l a n I s r a e l , A l l a h m e n u n j u k a n pemeliharaan-Nya pada alam
semesta melalui pemerintahn sekuler. Namun tidak berarti sebelum Israel sebagai
negara mengalami kegagalan, Allah tidak melakukan pemeliharaan dunia melalui
raja-raja di luar Israel. Sebelumnya Allah hanya memfokuskan pada Israel, karena
Israel yang akan menyatukan semua bangsa di bumi. Karena kegagalam Israel
maka tujuan Allah atas Israel tidak digenapi dalam Israel, tetapi hal ini bukan berarti
kegagalan Allah. Perlidungan Allah atas Israel melalui pemerintahan bangsa lain
adalah nyata dalam Alkitab. Jadi dalam negara di mana rakyat kerajaan itu tidak
mengakui Allah sebagai raja, Allah tetap raja yang berdaulat. Karena ketuhanan
Allah tidak bergantung pada pengakuan manusia, Allah tetap Allah yang berdaulat,
baik dengan pengakuan maupun tanpa pengakuan. Pemeliharaan Allah terhadap
dunia yang diciptakannya dapat juga melalui pemerintahan bangsa non Israel
(sekular). Di sini terlihat bahwa Allah juga memakai pemerintahan sekuler.
Intervensi Allah

B.SISI NEGATIF DARI NEGARA

Dalam Perjanjian Lama jelas dilaporkan bahwa negara tidak berada dalam ordo
penciptaan, melainkan dalam ordo pemeliharaan. Sebelum kejatuhan tidak ada
negara. Pemahaman ini menjadi landasan pemikiran Luther dan Calvin dalam
hubungan gereja dan negara walaupun keduanya memiliki perbedaan. Calvin
memiliki pandangan yang lebih positif tentang negara dibandingkan Luther. Pada
mulanya manusia tidak memerlukan negara, karena semua manusia dapat total
bergantung dengan Tuhan dalam menjalankan kebebasannya, namun setelah
manusia jatuh ke dalam dosa dan tidak seorangpun manusia yang hidup tanpa
dosa, maka negara dibutuhkan untuk menahan kejahatan manusia. Karena itu
manusia berdosa harus ditolong oleh hukum-hukum agar dapat memperbaiki
kesesatannya. Berdasarkan perjanjian Nuh, di mana Allah memberikan legitimasi
kewenangan untuk menghukum manusia yang berbuat kejahatan. Hal itu
merupakan gambaran pemerintah yang menyandang pedang atau negara.
Pemberian sangsi untuk menimbulkan efek jera membutuhkan negara, walaupun
negara yang dipimpin oleh manusia yang telah jatuh.pandangan para ahli mengenai
hubungan negara dan gereja

1.Pandangan Marthin Luther

Dalam teori dua kerajaannya, Luther menggambarkan bahwa negara dan gereja
memiliki kewenangan yang berbeda. Negara mempunyai we we na n g d al am ur u s an ke s ej a
h t e r a a n, s e d a n g k a n g e r e j a d a l a m u r u s a n u r u s a n rohaniah. Dan gereja tidak boleh
melawan pemerintah, kecuali negara mencampuri urusan gereja dalam wewenang
spiritual. Dan pada waktu negara bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan
kewajibannya, gereja dapat melawan Negara demi ketaatan pada Allah; untuk itu
gereja harus rela untuk menderita. Dalam pandangan Luther, tampak kurang
memperhatikan peran sosial gereja, bahkan mengindikasikan pola pemisahan
hubungan negara dan gereja secara total. Gereja menjadi pasif, bahkan akibatnya
gereja menjadi tidak peduli dengan hal-hal dunia, yang seharusnya menjadi
tanggung jawabnya juga. Pola hubungan ini memiliki sisi negatif ketika negara
bertindak melampaui daerah kekuasaannya (sewenang-wenang) dan gereja harus
tetap tunduk kepada negara. Slogan ketundukan inilah yang banyak didengungkan
pada rezim Orde Baru yang lalu. Gereja kehilangan suara kenabiannya, dan gereja
tidak merasa perlu aktif dalam dunia politik, karena politik dianggap sebagai
perjuangan orang tidak percaya, ironisnya gereja yang tidak berpolitik dipakai untuk
kepentingan politik rezim yang lalu juga.

2.Pandangan John Calvin

Pandangan yang lebih positif mengenai pola hubungan gereja dan negara
disuarakan oleh Calvin. Sebagaimana Luther, Calvin juga setuju untuk melihat
negara dalam perspektif kejatuhan manusia. Mengenai pandangan Calvin yang juga
dipegang oleh Abraham Kuyper, sisi positifnya seperti berikut.
Sebab sesungguhnya tanpa dosa pasti tidak akan ada tatanan penguasa dan
negara, Dengan demikian, semua konsepsi yang benar tentang natur negara dan
tentang pengambil alihan kekuasaan oleh pemerintah, dan di pihak lain, semua
konsepsi yang benar tentang hak dan kewajiban rakyat untuk mempertahankan
kemerdekaan, bergantung pada apa yang telah dikedepankan oleh Calvinisme
sebagai kebenaran primordial bahwa Allah telah membentuk orang-orang yang
memerintah, karena alasan dosa tanpa hukum dan pemerintahan, dan tanpa
otoritas yang berkuasa.

3.TERAPAN DALAM KONTEKS INDONESIA

Pola hubungan gereja dan negara yang beragam di atas, akan memengaruhi
sikap orang Kristen terhadap Negara. Namun sebagaimana telah dijelaskan, Orang
Kristen seharusnya berani mengambil salah satu pola hubungan gereja dan negara
yang Alkitabiah dan relevan untuk konteks Indonesia. keputusan ini penting bagi
maksimalisasi peran Kristen dalam negara Republik Indonesia. Untuk itu, maka
pengetahuan negara menurut Perjanjian Lama diharapkan dapat menolong orang
Kristen dalam memilih pola hubungan antara negara dan gereja dan mencari
relevansinya dalam konteks Indonesia.

C.KETIDAKABSAHAN SUATU AGAMA DI NEGARA PANCASILA

Hubungan negara dan agama dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia


merupakan sesuatu yang terus mengalami perdebatan. Sejak awal kemerdekaan
ada dua kekuatan yang terus saling berusaha untuk menancapkan taring
kekuasaannya atas negara. Pertama ada kelompok yang menginginkan adanya
pemisahan total antara agama dan negara, yang akan melahirkan negara sekuler
yang anti agama. Kedua, Keinginan agama untuk mendominasi negara, menjadikan
nilai-nilai agama tertentu sebagai dasar bagi penyelenggaraan negara. U nt uk m en g h
i n d a r i b e n t u r a n k e d u a nya, m a k a Pa n c a s i l a m e n y a t a k an bahwa Indonesia bukanlah
negara agama, karena itu tidak ada satu agama pun yang boleh mendominasi
negara. Indonesia bukan negara sekuler, karena pendiri Indonesia adalah orang-
orang yang beragama dan menghimbau semua rakyat Indonesia supaya beragama.
Pernyataan negara Indonesia bukan negara sekuler juga ditegaskan dalam sila
pertama dari Pancasila, yang menegaskan bahwa negara Indonesia adalah negara
yang berketuhanan. Penolakan terhadap negara sekuler juga tidak berarti bahwa
Indonesia bisa dibangun di atas dasar agama tertentu, karena agama-agama lain,
tentu saja tidak dapat menerimanya. Misalnya, suatu usaha untuk menggantikan
Pancasila dengan mendirikan negara Islam telah terjadi berulang kali dan usaha-
usaha tersebut selalu mengalami kegagalan. Mengenai Islam yang tidak pernah
berhasil mempersatukan Indonesia.

BAB 3

A.KESIMPULAN

Hal yang menghambat aktivitas orang Kristen dalam negara adalah adanya
penekanan yang terlalu berlebihan mengenai kewarganegaraan surga. Tidak sedikit
orang Kristen yang berpikir bahwa karena mereka bukan warga negara dunia,
bukan dari dunia, mereka adalah warga negara surga, maka tidak perlu
menghabiskan waktu untuk memberikan kontribusi positif pada negara, cukup
menjadi warga negara yang baik. Orang Kristen bahkan tidak sedikit yang merasa
tabu untuk turut serta dalam pembangunan negara secara khusus dalam politik
praktis, bagi mereka politik sering kali diidentikkan sebagai sesuatu yang tanpa
moral atau menghalalkan segala cara. Mengabaikan Perjanjian Lama dalam
memahami negara dari sudut iman kristiani akan mengakibatkan lahirnya pemikiran
yang sempit tentang negara. Realitas ini dapat dimengerti, karena Perjanjian Baru
tidak melaporkan secara menyeluruh mengenai konsep negara, dan hubungannya
dengan agama (gereja). Apalagi aktivitas orang Kristen dalam pemerintahan pada
jaman para Rasul sangat terbatas, sehingga tidaklah mengherankan sulit untuk
mencari contoh mengenai hubungan antara agama dan negara secara jelas dalam
Perjanjian Baru. Akibatnya, tanpa pemahaman Perjanjian Lama maka konsep
hubungan antara agama dan negara menjadi beragam, dan terus dipegang hingga
saat ini. Agama tidak dipisahkan total dari negara, namun agama tidak boleh
berkeinginan menguasai negara. Agama bukan hanya ada dalam dunia privat, tetapi
ada dalam dunia publik, yang memiliki peran dalam dunia publik. Untuk menghidupi
hubungan antara agama dan negara memang bukan merupakan suatu hal yang
mudah. Kekerasan yang biasa menghiasi hubungan dan kecurigaan antar pemeluk agama
akan tantangan te rsendir i.O knum oknum ya ng t erlalu lama menikm at i kek uasaan de
ngan memanfaatkan agama-agama tidak dengan sendirinya akan melepaskan
nikmatnya kuasa tersebut. Namun perjuangan bangsa ini yang menyadari arti
pentingnya negara Indonesia bagi mereka akan menjadi modal dalam usaha
mencapai Indonesia yang lebih baik.

B.SARAN
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan
lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah diatas dengan sumber-
sumber yang lebih banyak dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan.

C.DATFTAR PUSTAKA

Dennis Green, Pengenalan Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas,1984,)hl.113


John Eidsmoe,
God and Caesar: Christian Faith and Political Action (Wheaton: Crossway, 1984),
hl.11.5
Eka Darmaputera,
Pergulatan Kehadiran Kristen (Jakarta: Gunung Mulia, 199?), hl. 130.6 Ibid., hl. 148
Lih. de Jonge, Apa itu Calvinisme? (Jakarta: Gunung Mulia, 199?), hl. 264-266. 8
Abraham Kuyper, Lecturer on Calvinism, terj. (Jakarta: Momentum 2005), hl. 90, 91
Agama Demokrasi dan Keadilan,ed. Imam aziz dkk. ( Jakarta: Gramedia, 1993), hl.
101.
Eka Darmaputera, Pancasila Identitas dan Modernitas (Jakarta: Gunung Mulia,
1994), hl. 130,131