Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Keperawatan Komunitas


1. Konsep komunitas
Masyarakat atau komunitas adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai
persamaan nilai, perhatian, batas-batas geografi yang jelas, dengan nilai dan norma yang
telah melembaga (Sumijatun dkk, 2006). Riyadi (2007) mengemukakan bahwa
komunitas adalah kelompok dari masyarakat yang tinggal di suatu lokasi yang sama di
mana mereka tinggal, kelompok sosial mempunyai interest yang sama.Komunitas
adalah suatu kelompok sosial yang dibatasi oleh letak geografis dan atau nilai maupun
budaya yang sama (WHO, 1974 dalam Nies & Mc.Ewen, 2001). Sedangkan menurut
Anderson (2011) komunitas merupakan suatu kelompok sosial yang terbentuk dari satu
kesatuan wilayah yang terdiri dari beberapa sub sistem di dalamnya seperti organisasi
formal, institusi sosial, kelompok informal, dan perkumpulan budaya.
Komunitas atau masyarakat merupakan salah satu sasaran dalam asuhan
keperawatan komunitas. Salah satu faktor yang mempengaruhi kegiatan suatu
komunitas adalah status kesehatan. Beberapa masyarakat berpikir bahwa sehat dan
kesejahteraan adalah sama, akan tetapi sehat tidak selalu menyertai kesejahteraan.
Berikut akan dipaparkan beberapa pengertian tentang sehat dan kesehatan:
a. Sehat menurut UU kesehatan no.23 tahun1992 adalah kondisi yang sempurna, baik
fisik maupun psikis, serta mempunyai kemampuan untuk produktifitas.
b. Sehat merupakan suatu kondisi dinamis manusia yang mencapai potensi
perkembangan dan perilaku individu hingga tingkat yang setinggi mungkin (ANA,
1980 dalam Blais, et.al., 2007).
c. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Depkes,
2009)
Status kesehatan individu dipengaruhi oleh perilaku kesehatan. Perilaku kesehatan
merupakan respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat
sakit, penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan dalam upaya
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan (Notoatmodjo, 2005). Klasifikasi perilaku
kesehatan menurut Notoatmodjo:
a. Perilaku sehat (health behavior) merupakan perilaku orang yang sehat berkaitan
dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan; makan minum
seimbang, istirahat, latihan, manajemen stress, perilaku dan gaya hidup sehat,dll.
b. Perilaku sakit (illness behavior) merupakan perilaku seseorang yang sakit untuk
mencari penyembuhan, untuk mengatasi masalah kesehatannya: didiamkan
saja,melakukan pengobatan sendiri,mencari pelayanan kesehatan.

2. Keperawatan komunitas
Keperawatan komunitas adalah pelayanan keperawatan professional yang bertujuan
meningkatkan kesehatan dan menyediakan kesehatan bagi masyarakat dengan
mengintegrasikan keterampilan dan pengetahuan yang relevan antara keperawatan dan
kesehatan masyarakat (ANA, 1986 dalam Stanhope & Lancaster, 2004).
Ruang lingkup praktik keperawatan komunitas adalah memberikan asuhan
keperawatan langsung dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar komunitas yang
terkait kebiasaan atau perilaku dan pola hidup tidak sehat sebagai akibat
ketidakmampuan masyarakat beradaptasi terhadap lingkungan. Tujuan dilakukannya
asuhan keperawatan komunitas adalah meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
upaya mengatasi masalah kesehatannya secara mandiri dan mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal. Sasaran utama asuhan keperawatan komunitas adalah seluruh
masyarakat individu, keluarga, kelompok risiko tinggi baik dalam kondisi sehat maupun
sakit (Stanhope & Lancaster, 2004).
Falsafah keperawatan komunitas merupakan suatu paradigma keperawatan
komunitas yang harus dipahami oleh semua pemberi pelayanan keperawatan kepada klien
di masyarakat. Falsafah keperawatan komunitas tergambar dalam 4 aspek, yaitu:
manusia, lingkungan, kesehatan, dan keperawatan. Falsafah keperawatan komunitas
menyatakan bahwa manusia adalah komunitas sebagai klien pada wilayah tertentu yang
mempunyai nilai, keyakinan, minat relatif sama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan,
komunitas sebagai sumber dan lingkungan bagi keluarga. Lingkungan merupakan faktor
internal dan eksternal yang mempengaruhi klien (komunitas) mencakup bio-psiko-sosio-
kultural dan spiritual. Konsep kesehatan merupakan kondisi terbebasnya dari
penyimpangan dan dari pemenuhan kebutuhan dasar komunitas, dan kesehatan
merupakan kondisi seimbang yang dinamis sebagai dampak dari keberhasilan dalam
mengatasi stressor. Konsep keperawatan adalah tindakan yang bertujuan untuk menekan
stresor atau meningkatkan kemampuan komunitas mengatasi stresor melalui tiga level
prevensi (primer, sekunder, tersier) (Hitchcock et al, 2003).

Menurut Harnilawati (2013), tujuan proses keperawatan dalam komunitas adalah


untuk pencegahan dan peningkatan kesehatan masyarakat melalui upaya-upaya sebagai
berikut :

a. Pelayanan keperawatan secara langsung atau direct care terhadap individu, keluarga,
dan kelompok dalam konteks komunitas

b. Perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat (health general


community) dengan mempertimbangkan masalah kesehatan atau isu kesehatan
masyarakat yang dapat mempengaruhi keluarga, individu dan kelompok.
Sasaran dalam pemberian asuhan keperawatan komunitas antara lain :
a. Individu

Invidu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi,
psikologi sosial dan spiritual

b. Keluarga

Keluarga merupakan sekelompom individu yang berhubungan erat secara terus-


menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara
bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluhan

c. Kelompom khusus

Kelompok khusus adalah kumpulan individu yang mempunya kesamaan jenis


kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yang terorganisi yang sangat rawan terhadap
masalah kesehatan
Selanjutnya secara spesifik diharapkan individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat diharapkan mempunyai kemampuan untuk :

a. Mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami

b. Menetapkan masalah kesehatan dan memprioritaskan masalah tersebut

c. Merumuskan serta memecahkan masalah kesehatan

d. Menanggulangi masalah kesehatan yang mereka hadapi

e. Mengevaluasi sejauh mana pemecahan masalah yang mereka hadapi


Keperawatan komunitas memiliki fungsi antara lain:
a. Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi kesehatan
masyarakat dan keperawatan dalam memecahkan masalah klien melalui asuhan
keperawatan

b. Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan kebutuhannya


di bidang kesehatan

c. Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah,


komunikasi yang efektif dan efisien serta meningkatkan peran serta masyarakay

d. Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat berkaitan dengan permasalahan


atau kebutuhannya sehingga mendapatkan penanganan dan pelayanan yang cepat dan
pada akhirnya dapat mempercepat proses penyembuhan (Mubarak, 2006).

Dalam memberikan asuhan keperawatan komunitas, seorang perawat perlu


memperhatikan prinsip etik praktik keperawatan komunitas diantaranya:

a. Prinsip otonomi, yaitu memberi kebebasan pada komunitas untuk memilih alternatif
yang terbaik dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat.

b. Prinsip pemanfaatan, yaitu intervensi komunitas yang diberikan harus memberikan


manfaat yang sebesar-besarnya untuk komunitas.
c. Prinsip keadilan, yaitu dalam melakukan intervensi harus sesuai dengan kemampuan
dan kapasitas komunitas, sehingga diharapkan semua pelayanan keperawatan
kesehatan komunitas yang diberikan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat
(Stanhope & Lancaster, 2000).
Dalam menjalankan perannya sebagai perawat komunitas, seorang perawat dituntut
untuk fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan situasi klien. Peran
perawat kesehatan komunitas (Depkes RI, 2002) adalah sebagai berikut:
a. Care provider, memberikan asuhan keperawatan pada klien berdasarkan tahapan
proses keperawatan.
b. Educator, memberikan pendidikan kesehatan bagi klien.
c. Counselor, membantu klien dalam mengidentifikasi suatu masalah dan bersama
dengan klien mencari solusi terhadap masalah tersebut.
d. Role model, menunjukkan suatu perilaku yang dapat dipelajari oleh masyarakat dalam
upaya meningkatkan derajat kesehatan.
e. Advocate, melindungi dan membela kepentingan klien melalui tahapan menentukan
kebutuhan advokasi, menetapkan jalan masuk yang sesuai untuk membela,
memperoleh fakta terkait dengan situasi, menyampaikan kasus klien terhadap
pengambil keputusan, dan mempersiapkan klien untuk mampu mandiri.
f. Case manager, mengelola kasus di komunitas yang dimulai dengan mengidentifikasi
kebutuhan kesehatan, membuat rencana perawatan, mengawasi pelaksanaan, dan
melakukan evaluasi.
g. Collaborator, berkomunikasi dengan anggota tim kesehatan lain, berpartisipasi dan
bekerjasama dalam mengambil keputusan serta menyelesaikan masalah klien
h. Case finder, menemukan kasus di masyarakat dengan mengembangkan tanda gejala
kesehatan terkait kondisi dan faktor yang berkontribusi, menggunakan proses
diagnostik untuk mengidentifikasi potensial kasus penyakit atau kondisi kesehatan
lain, serta menyediakan follow up care untuk identifikasi kasus.
i. Change agent and leader, sebagai perubah perawat mengidentifikasi kekuatan
penggerak dan penghambat pelaksanaan situasi untuk berubah, membantu pencairan
dan menimbulkan motivasi untuk berubah, membantu pelaksanaan perubahan, dan
membantu kelompok menginternalisasikan perubahan. Sedangkan, sebagai pemimpin
perawat mengidentifikasi kebutuhan tindakan, mengkaji situasi dan menetapkan
gayakepemimpinan, memotivasi untuk mengambil tindakan, mengkoordinir aktifitas
kelompok dalam perencanaan dan pelaksanaan tindakan, membantu dalam
mengevaluasi efektifitas tindakan, serta memfasilitasi adaptasi anggota kelompok.
j. Researcher, mereview hasil riset secara kritis, mengaplikasikan hasil riset dalam
praktik, identifikasi masalah riset, merancang dan menyelenggarakan riset
keperawatan, mengumpulkan data dan melakukan riset dalam pengembangan ilmu
keperawatan komunitas.

3. Konsep pemberdayaan masyarakat dan peran serta masyarakat


Dalam dimensi kesehatan, pemberdayaan masyarakat adalah upaya atau proses
untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatan sehingga masyarakat memiliki kemandirian untuk hidup sehat.
Adapun tujuan dari pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan adalah timbulnya
kesadaran, pengetahuan, dan pemahamanakan kesehatan; timbulnya kemauan atau
motivasi untuk memelihara atau meningkatkan kesehatan; timbulnya kemampuan dan
kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
Prinsip pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkembangkan potensi
masyarakat, mengembangkan gotong royong masyarakat, menggali kontribusi
masyarakat, menjalin kemitraan, dan desentralisasi. Metode yang digunakan untuk
mewujudkan peran serta masyarakat adalah pendekatan masyarakat, pengorganisasian
masyarakat, survey diri, perencanaan program, pelatihan, dan rencana evaluasi.
Pengorganisasian masyarakat merupakan suatu proses dalam masyarakat yang dapat
mengidentifikasikan kebutuhan-kebutuhan dalam menentukan prioritas kebutuhan
tersebut, mengembangkan keyakinan untuk berusaha memenuhinya berdasarkan atas
sumber yang ada pada masyarakat maupun dari luar dengan usaha gotong royong.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk dapat memfungsikan masyarakat, sebagai
berikut:
a. Menarik orang-orang yang mempunyai inisiatif dan dapat bekerja untuk membentuk
kepanitiaan yang akan menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan
kesehatan masyarakat.
b. Menyusun rencana kerja yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh seluruh
masyarakat.
c. Melakukan upaya penyebaran rencana agar masyarakat dapat melaksanakan kegiatan
tersebut (Mubarak dkk, 2006).
Model pengorganisasian komunitas, yaitu:
a. Locality Development, peranserta seluruh masyarakat untuk mandiri. Prinsip
keterlibatan langsung, melayani sendiri, membantu diri sendiri dalam penyelesaian
masalah, serta mengembangkan keterampilan dalam pemecahan masalah. Perawat
berperan sebagai fasilitator dan pendidik.
b. Social planning, perencanaan para ahli dan menggunakan birokrasi. Keputusan
komunitas didasarkan pada fakta atau data yang dikumpulkan, membuat keputusan
secara rasional, dan penyelesaian masalah berfokus pada hasil/tujuan bukan proses.
c. Socialaction, fokus pada korban. Perawat merubah komunitas pada pemusatan isu
yang ada dikomunitas dengan menggunakan konflik antar penduduk dan pengambilan
keputusan (Mubarak dkk, 2006).

4. Konsep RW Siaga
a. Defenisi

RW siaga adalah RW yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan


kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah
kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah RW
dikatakan menjadi RW siaga apabila wilayahnya tersebut memiliki sekurang-
kurangnya sebuah puskesmas (Depkes, 2007).
RW SIAGA merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau, dan mampu
untuk mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat
seperti kurang gizi, penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan
kejadian luar biasa dengan memanfaatkan berbagai sumber daya dan potensi
setempat secara gotong royong. RW SIAGA terbentuk berdasarkan Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1529/MENKES/SK/X/2010.
b. Indikator RW Siaga
1) Memiliki forum komunikasi masyarakat RW, jika terdapat minimal fasilitator
masyarakat kelurahan, susunan pengurus RW siaga.
2) Memiliki fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan sistem rujukan, jika terdapat
fasilitas kesehatan dasar, misalnya Pustu, Polindes, atau rumah bersalin.
3) Memiliki UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) yang dikembangkan,
jika terdapat 1 posyandu per RW.
4) Memiliki sistem pengamatan penyakit dan faktor risiko berbasis masyarakat, jika
terdapat kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan di tingkat masyarakat yang
mencakup minimal 80% kegiatan, dilaporkan secara lengkap, tepat waktu (dengan
periode 24 jam atau rutin tiap bulan). Adanya data pemantauan wilayah setempat
yang berisiko.
5) Memiliki penanggulangan kegawat daruratan dan bencana berbasis masyarakat,
jika minimal terdapat stimulasi atau gladi bencana, minimal 1 kali setahun di
daerah tidak rawan dan 2 kali setahun di daerah rawan bencana.
6) Adanya upaya mewujudkan lingkungan sehat, jika terdapat gerakan masyarakat
untuk meningkatkan/memelihara kualitas lingkungan yang dilaksanakan secara
rutin, minimal 1 kali seminggu di setiap RT.
7) Adanya upaya mewujudkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat), jika
minimal terdapat pendataan dan visualisasi data PHBS rumah tangga minimal 1
kali setahun, kegiatan promosi PHBS minimal 1 kali sebulan, kegiatan tindak
lanjut dari hasil pendataan dan promosi PHBS.
8) Adanya upaya mewujudkan kadarzi (Keluarga Sadar Gizi) dan terbentuknya
keluarga sadar gizi, jika minimal terdapat pendataan dan visualisasi data kadarzi
minimal 1 kali setahun, kegiatan promosi kadarzi minimal 1 kali sebulan, dan
kegiatan tindak lanjut dari hasil pendataan dan promosi kesehatan.

c. Struktur organisasi/ kepengurusan RW Siaga


Struktur organisasi/ kepengurusan RW siaga terdiri dari:
1) Pembina
a) Memberikan pembinaan secara berkala terhadap kegiatan RW siaga;
b) Memberikan bimbingan terhadap anggota RW siaga;

c) Mengevaluasi program dan pelaksanaan kegiatan RW siaga.


2) Ketua
a) Mengkordinasikan kegiatan RW siaga.
b) Memimpin kegiatan pertemuan RW siaga.
c) Membagi tugas kegiatan RW siaga pada anggota setiap unit.
d) Membantu anggota RW siaga untuk melakukan kegiatan pengawasan.

e) Membantu pengawasan pelaksanaan kegiatan RW siaga.


f) Mengevaluasi kegiatan RW siaga.

3) Petugas kesehatan
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa.
4) Sekretaris
a) Mencatat seluruh kegiatan RW siaga.
b) Melaporkan kegiatan hasil kepada seluruh anggota RW siaga.
c) Menginformasikan kepada tiap anggota pada setiap pertemuan.

d) Pengurusan surat-menyurat dan pengarsipan.


5) Bendahara
a) Bertanggung jawab terhadap pengeluaran dan pemasukan dana.
b) Menghimpun semua dana yang masuk.
c) Mencatat pemasukan dan pengeluaran dana RW siaga.
d) Melaporkan keuangan kepada ketua dan seluruh anggota RW siaga.
6) Anggota
a) Melaksanakan kegiatan RW siaga sesuai dengan unitnya.
b) Melaporkan hal-hal yang berkaitan dengan unit- unit RW siaga kepada
keoordinator tiap unit.
c) Bekerjasama dengan anggota yang lain dalam kegiatan RW siaga.
d) Pemilihan perangkat/ pengurus RW siaga ini beranggotakan wakil dari masing-
masing RT.
d. POKJA (Kelompok Kerja) RW SIAGA
1) Pokja Kadarzi (KIA dan LANSIA)
a) Mengidentifikasi dan memantau kondisigizi balita (penimbangan, PMT,
penyuluhan, pemberian vitamin A, dll).
b) Mengindetifikasi status gizi balita (BGM, gizi kurang, gizi buruk) melalui
pemantauan Kartu Menuju Sehat (KMS).
c) Mengidentifikasi pertumbuhan dan perkembangan balita.
d) Mengindentifikasi dan memantau kadarzi (contoh memantau keluarga dengan
balita yang kurang gizi).
e) Membantu pemanfaatan pekarangan untuk meningkatkan gizi keluarga
[misalnya: penanaman tanaman obat keluarga (TOGA)].
f) Mengidentifikasi dan memantau gizi ibu hamil.
g) Mengidentifikasi dan memantau gizi lansia.

2) Pokja PHBS (KIA, LANSIA, REMAJA)


Melakukan kegiatan UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) yang
dikembangkan seperti:
a) Posyandu balita, misalnya melalui penyuluhan tentang tumbuh kembang balita.
b) Posyandu lansia, misalnya melakukan pendidikan kesehatan tentang penyakit
pada lansia ataupun kondisi-kondisi yang dapat membuat lansia cedera.
c) TOGA, melalui penanaman tanaman obat yang bermanfaat bagi kesehatan;
d) Pos UKK, melalui identifikasi masalah kesehatan pekerjaan yang dominan di
wilayah RW.
3) Pokja Lingkungan
a) Melakukan penyuluhan kesehatan lingkungan.
b) Membantu pengelolaan sampah dan air bersih.
c) Membantu pengelolaan kebersihan lingkungan (gotong royong, pemantauan
jentik).
4) Pokja Surveilance
a) Mengamati perkembanganpenyakit yang berpotensi wabah di masayarakat
seperti DBD, malaria, diare, campak, ISPA, keracunan, HIV/AIDS (NAPZA).
b) Menggalakan imunisasi di posyandu dan anak sekolah.
5) Pokja Kegawatdaruratan
a) Menyelenggarakan tindakan tanggap bencana alam (banjir, longsor), bencana
karena kelalaian manusia (kebakaran, keracunan), bencana karena penyakit
(penyakit yang berpotensi wabah). Seperti pemberian pertolongan pertama
pada korban banjir.
b) Menyelenggarakan pertolongan pertama pada hal-hal yang dapat menyebabkan
kematian.
e. Indikator keberhasilan pengembangan RW Siaga
1) Indikator masukan (Input)
a) Ada/tidaknya forum masyarakat desa.
b) Ada/tidaknya Posyandu dan sarananya.
c) Ada/tidaknya tenaga kesehatan (minimal bidan).
d) Ada/tidaknya UKBM lain.
2) Indikator proses (Process)
a) Frekuensi pertemuan forum masyarakat desa.
b) Berfungsi/tidaknya Posyandu.
c) Berfungsi/tidaknya UKBM yang ada.
d) Berfungsi/tidaknya sistem kesiapsiagaanpenanggulangan kegawatdaruratan &
bencana.
e) Berfungsi/tidaknya sistem surveilance (pengamatan & pelaporan).
f) Ada/tidaknya kunjungan rumah untuk KADARZI & PHBS (oleh NAKES
dan/atau kader).
3) Indikator keluaran (Output)
a) Cakupan yankes Posyandu.
b) Cakupan pelayanan UKBM yang ada.
c) Jumlah kasus kegawatdaruratan & kejadian luar biasa (KLB) yang
dilaporkan/diatasi.
d) Cakupan rumah tangga yang mendapat kunjungan rumah untuk KADARZI &
PHBS.
4) Indikator dampak (Outcome)
a) Jumlah yang menderita sakit (kesakitan kasar).
b) Jumlah yang menderita gangguan jiwa.
c) Jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia.
d) Jumlah bayi & balita yang meninggal dunia.
e) Jumlah balita dengan gizi buruk.

B. Konsep Asuhan Keperawatan Komunitas


Asuhan keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk praktik keperawatan
professional yang sistematis dan komprehensif yang berfokus pada individu, keluarga,
kelompok dan komunitas secara keseluruhan melalui pendekatan proses keperawatan mulai
dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, implementasi, dan
evaluasi keperawatan. Model keperawatan komunitas disusun berdasarkan pada teori yang
berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Dalam keperawatan komunitas terdapat beberapa
model keperawatan, diantaranya Teori lingkungan oleh Nightingale (Nightingales theory of
environment), Self-Care Model oleh Orem, Adaptation Model dari Roy, S.C, Health Care
System Model oleh Betty Neuman dan Community as Client or Partnership Model oleh
McFarlane& Anderson (Mendfora, 2010). Model yang digunakan adalah model keperawatan
Betty Neuman. Konsep yang dikemukakan oleh Betty Neuman adalah konsep Health care
system yaitu model konsep yang menggambarkan aktifitas keperawatan yang ditujukan
kepada penekanan pada penurunan stress dengan cara memperkuat garis pertahanan diri
yang bersifat fleksibel, normal, dan resisten. Konsep utama menurut Betty Neuman yaitu
manusia, lingkungan dan sehat. Dibawah ini akan dijelaskan tahapan proses asuhan
keperawatan komunitas menurut model Neuman (Mendfora, 2010).
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan sistematis
terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis, sehingga masalah kesehatan yang
dihadapi oleh masyarakat, baik individu, keluarga atau kelompok yang menyangkut
permasalahan pada fisiologis, psikologis, sosiologis, ekonomi maupun spiritual dapat
ditentukan. Pengkajian mengacu pada pengumpulan data kesehatan masyarakat,
memantau status kesehatan masyarakat, kebutuhan akan kesehatan masalah kesehatan
yang terjadi, cara memperoleh informasi kesehatan dan pelayanan kesehatan yang ada di
masyarakat (Hitchcock, Schubert & Thomas, 2003).
Pada tahap pengkajian dilakukan kegiatan penyebaran kuesioner, obsevasi,
wawancara dan winsheld survey. Hal ini sesuai dengan model keperawatan Neuman
bahwa masalah kesehatan ditimbulkan dari berbagai variabel, yaitu fisiologis, psikologis,
sosiokultural & developmental, sehingga semua aspek perlu dikaji untuk menentukan
penyebab terjadinya masalah kesehatan yang ada di masyarakat.
a. Pengumpulan data
1) Tujuan pengumpulan data
Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai
masalah kesehatan masyarakat sehingga dapat ditentukan tidakan yang harus
diambil untuk mengatasi masalah yang menyangkut aspek fisik, psikologis, sosial,
ekonomi, dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya oleh karena
itu data tersebut harus akurat dan dapat dilakukan analisis untuk pemecahan
masalah. Menurut pendapat Notoadmodjo (2010) yang mengatakan penyebaran
kuesioner pada populasi yang melebihi 100 orang populasi, maka dapat dilakukan
teknik simple random sampling, dengan pengambilan sampel secara acak dan
proposional berdasarkan jumlah populasi dari masing-masing RT.
2) Teknik pengumpulan data
a) Pengumpulan data langsung yang terdiri dari wawancara, observasi, whienshield
survey, dan kuesioner.
b) Pengumpulan data laporan (data dari berbagai instansi dan sumber yang
terpercaya seperti catatan kesehatan, catatan pertemuan warga, dokumen publik,
dan statistik).

3) Kegiatan pengkajian yang dilakukan dalam pengumpulan data meliputi


a) Data inti, seperti: riwayat atau sejarah perkembangan masyarakat data
demografi, vital statistik, dan status kesehatan komunitas.
b) Data lingkungan fisik, meliputi: pemukiman, sanitasi, dan fasilitas-fasilitas
lainnya.
c) Pelayanan kesehatan.
Dikaji lokasi saranan kesehatan yang ada, sumber daya yang dimiliki (tenaga
kesehatan dan kader), bagaimana dengan jumlah kunjungan yang ada, serta
sistem rujukannya
d) Fasilitas sosial (pasar, toko, swalayan)
Lokasi fasilitas sosial apakah mudah dijangkau, bagaimana system
kepemilikannya, dan apakah barang yang disediakan lengkap.
e) Ekonomi
Indikator ekonomi dan sumber-sumber informasi
(1) Rumah tangga (rata-rata pendapatan biaya perbulan masing-masing rumah
tangga).
(2) Individu (pendapatan per-KK, persen yang miskin).

f) Keamanan dan transportasi


(1) Keamanan
(a) Keamanan/ lingkungan yang ada.
(b) Upaya penanggulangan yang tersedia(kebakaran, polusi, sanitasi,
limbah, sampah dan air kotor).
(2) Transportasi
(a) Sarana transportasi, kondisi jalan yang tersedia (tanah, beton, aspal).
(b) Jenis transportasi yang dimiliki (sepeda, sepeda motor, mobil).
(c) Sarana transportasi yang tersedia.

(3) Politik dan pemerintahan


(a) Sistem pengorganisasian.
(b) Sturktur organisasi.
(c) Kelompok organisasi dalam komunitas.
(d) Peran serta kelompok organisasi dalam kesehatan.
g) Sistem komunikasi

(1) Sarana umum komunikasi yang tersedia dikomunitas (telepon umum,


wartel, dan lain-lain).
(2) Jenis alat komunikasi yang digunakan dalam komunitas.
(3) Cara penyebaran informasi yang umum digunakan dalam komunitas:
menggunakan model tradisional, menggunakan surat pemberitahuan atau
pengeras suara yang tersedia.
h) Pendidikan

(1) Tingkat pendidikan komunitas, homogen, heterogen, dan tingkat pendidikan


mayoritas dalam komunitas.
(2) Fasilitas pendidikan yang tersedia (formal atau non formal), meliputi jenis
pendidikan yang diadakan di komunitas, sumber daya manusia, tenaga yang
tersedia.
(3) Jenis bahasa yang digunakan dalam komunitas.
i) Rekreasi
(1) Kebiasaan rekreasi yang ada dalam komunitas, adakah kebiasaan rekreasi
rutinitas yang dilakukan.
(2) Fasilitas rekreasi yang tersedia

4) Cara pengumpulan data


Data dapat diperoleh dengan cara:

a) Wawancara
Wawancara adalah kegiatan komunikasi timbal balik yang berbentuk Tanya
jawab antara perawat dengan klien, keluarga klien, atau dengan masyarakat yang
berkaitan dengan masalah kesehatan.
b) Kuesioner
Kuesioner juga sering dikenal sebagai angket. Kuesioner merupakan sebuah
daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden).
Dengan kuesionerdapat mengetahui keadaan atau data pribadi seseorang,
pengalaman atau pengetahuan dan lain-lain yang dimilikinya. Kuesioner
merupakan instrumen pengumpulan data atau informasi yang
dioperasionalisasikan ke dalam bentuk item atau pertanyaan.
c) Observasi
Melakukan pengamatan dalam keperawatan komunitas meliputi aspek fisik,
psiokologis, perilaku, dan sikap
d) Wiendshield survey
Merupakan pendataan menggunakan panca indra tentang wilayah/demografi
masyarakat yang ada diwilayah tempat tinggal meliputi perumahan, lingkungan,
daerah (bangunan: tua, bahan arsitektur, bersatu, berpisah, dll), lingkungan
terbuka (luas, sempit, kualitas, pribadi, umum, dll), batas (ada batas daerah,
jalan, got, kondisi bersih, kotor), kebiasaan (tempat kumpul; siapa, jam berapa
dll), transportasi (cara datang dan pergi, situasi jalan, jenis transportasi),
pelayanan kesehatan di masyarakat (puskesmas, pustu, balai pengobatan),
tempat rekreasi (keluarga, anak-anak, umum), tempat ibadah (mesjid, gereja,
wihara), sekolah/perguruan tinggi/lembaga kursus/pelatihan dll), organisasi di
masyarakat (pokjakes, kepemudaan dll), politik (kampanye/poster).
5) Pengolahan data
Pengolahan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a) Klasifikasi data/kategorisasi data berdasarkan karakteristik demografi,
karakteristik sosial ekonomi, dan sumber dan pelayanan kesehatan.
b) Perhitungan persentasi cakupan data.
c) Tabulasi data.
d) Interpretasi data.
6) Analisa data
Merupakan kemampuan untuk mengaitkan data dan menghubungkan data dengan
kemampuan kognitif yang dimiliki, sehingga dapat diketahui kesenjangan atau
masalah yang dihadapi oleh masyarakat, baik masalah kesehatan maupun masalah
keperawatan. Tujuan analisa data antara lain:
a) Menetapkan kebutuhan masyarakat.
b) Menetapkan kekuatan.
c) Mengidentifikasi pola respon komunitas.

d) Mengidentifikasi kecenderungan penggunaan pelayanan kesehatan.


7) Perumusan masalah kesehatan
Berdasarkan analisa yang diperoleh, maka dapat diketahui masalah kesehatan yang
dihadapi oleh masyarakat yang selanjutnya dapat dilakukan intervensi. Namun,
masalah yang telah dirumuskan tidak mungkin dapat diatasi sekaligus, oleh karena
itu, perawat komunitas harus membuat prioritas masalah.
8) Prioritas masalah
Kriteria penentuan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan keperawatan
diantaranya adalah perhatian masyarakat, prevalensi kejadian, berat tingginya
masalah, kemungkinan masalah untuk diatasi, tersedianya suumber daya
masyarakat, dan aspek politis. Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan
hierarki kebutuhan menurut Abraham H. Maslow yaitu keadaan yang mengacam
kehidupan, keadaan yang mengancam kesehatan, dan persepsi masyarakat tentang
kesehatan dan keperawatan. Penyusunan masalah atau diagnosis komunitas harus
sesuai dengan prioritas keperawatan komunitas.

2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan hipotesis atau pernyataan terhadap hasil akhir
dari analisis dan sintesis data serta informasi yang telah dikumpulkan mengenai
komunitas (Ervin, 2002). Diagnosa keperawatan komunitas terdiri dari tiga bagian, yaitu
gambaran masalah yang merupakan respon atau kondisi masyarakat, faktor penyebab
yang berhubungan dengan masalah, serta tanda dan gejala yang mendukung (Anderson
&McFarlane, 2000). Stanhope dan Lancaster (2004) menjelaskan terdapat tiga komponen
format diagnosa keperawatan komunitas:
a. Risk of, masalah keperawatan spesifik atau risiko masalah kesehatan di komunitas.
b. Among, komunitas atau klien spesifik yang akan diintervensi oleh perawat komunitas.
c. Related to, yaitu gambaran karakteristik komunitas, meliputi motivasi, pengetahuan,
keterampilan, serta faktor lingkungan. Karakteristik lingkungan meliputi budaya,
fisik, psikososial, dan politik.
Jenis diagnosa keperawatan yang dapat diangkat yaitu:
a. Sehat/wellness/ potensial
Komunitas mempunyai potensi untuk ditingkatkan, belum ada data maladaptif atau
paparan masalah kesehatan.
b. Ancaman/risiko
Belum terdapat pemaparan masalah kesehatan, namun sudah ditemukan beberapa
data maladaptif yang memungkinkan timbulnya masalah atau gangguan.
c. Nyata/aktual
Gangguan atau masalah kesehatan sudah timbul didukung dengan beberapa data
maladaptif.

3. Perencanaan
Perencanaan merupakan komponen kunci dalam praktik keperawatan komunitas,
dimana dalam perencanaan terdapat suatu hubungan vital antara pengkajian dan diagnosa
keperawatan disatu sisi serta intervensi dan evaluasi disisi lain (Ervin, 2002). Tiga tahap
kegiatan dalam proses perencanaan:
a. Menentukan prioritas masalah atau diagnosa keperawatan komunitas
Menurut Stanhope dan Lancaster (2004), terdapat enam kriteria dalam
menentukan prioritas masalah keperawatan, masing-masing kriteria diberi skor 1 -10.
Kriteria tersebut adalah:
1) Kesadaran komunitas terhadap masalah.
2) Motivasi komunitas dalam menyelesaikan masalah atau mengelola masalah
dengan baik.
3) Kemampuan perawat untuk mempengaruhi atau memberikan solusi penyelesaian
masalah.
4) Tersedianya keahlian untuk menyelesaikan masalah kesehatan.
5) Keparahan atau keseriusan masalah yang dihasilkan jika tidak diselesaikan.
6) Kecepatan masalah dapat diselesaikan.
b. Menetapkan tujuan dan kriteria evaluasi
Tujuan dalam tindakan keperawatan terdiri dari tujuan umum dan tujuan
khusus. Tujuan umum/jangka panjang merupakan tujuan akhir yang akan dicapai
setelah tindakan keperawatan komunitas diselesaikan, dimana mengacu pada
penyesaian masalah (problem). Tujuan khusus/jangka pendek merupakan tujuan
tindakan keperawatan yang mengacu pada penyelesaian etiologi. Kriteria evaluasi
adalah acuan atau kriteria dari tingkat pencapaian tujuan/hasil yang diharapkan.
Kriteria merupakan respon masyarakat yang diharapkan sebagai acuan tercapainya
suatu tujuan (kognitif, afektif, psikomotor). Untuk mencapai kriteria yang diinginkan
kegiatan yang ditetapkan harus memiliki standar. Standar adalah target minimal
tingkat pencapaian tujuan, sebagai penentu tingkat keberhasilan intervensi yang
dilakukan (Harnilawati, 2013).
c. Menetapkan intervensi atau perencanaan keperawatan komunitas
Intervensi dirancang berdasarkan tiga tingkat pencegahan dan direncanakan
untuk memperkuat garis pertahanan. Pencegahan primer digunakan untuk
memperkuat garis pertahanan fleksibel, pencegahan sekunder untuk memperkuat
garis pertahanan normal, dan pencegahan tersier untuk memperkuat garis pertahanan
resisten (Anderson & McFarlane, 2000). Strategi intervensi keperawatan komunitas
adalah pendidikan kesehatan, proses kelompok, kemitraan (lintas program dan lintas
sektoral), dan pemberdayaan masyarakat (Stanhope & Lancaster, 2000).
Strategi intervensi keperawatan komunitas dalam bentuk kerjasama
(partnership) adalah suatu bentuk kerjasama secara aktif antara perawat komunitas,
masyarakat, maupun lintas program dan sektor terkait mengambil suatu keputusan
dalam upaya penyelesaian masalah yang ditemukan di masyarakat. Bentuk kegiatan
yang dilakukan adalah melalui kegiatan kolaborasi dan negosiasi. Strategi intervensi
keperawatan komunitas dalam bentuk proses kelompok adalah suatu bentuk
intervensi keperawatan komunitas yang dilakukan bersama-sama dengan masyarakat
melalui pembentukan kelompok atau support social yang lainnya sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi yang ada di komunitas. Pembentukan kelompok di masyarakat
menggambarkan adanya minat dan kebutuhan baik secara kelompok maupun individu
serta menunjukkan adanya hubungan antara klien dengan sistem sosial di masyarakat.
Strategi intervensi keperawatan komunitas dalam bentuk pendidikan kesehatan
merupakan suatu kegiatan dalam rangka upaya promotif dan preventif dengan cara
melakukan penyebaran informasi dan peningkatan motivasi masyarakat untuk
berperilaku hidup sehat (Stanhope & Lancaster, 2004). Strategi intervensi lainnya
dalam keperawatan komunitas adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat
(empowerment), yaitu suatu kegiatan keperawatan komunitas melalui keterlibatan
masyarakat secara aktif dalam rangka penyelesaian masalah yang ditemukan di
masyarakat. Masyarakat bukanlah sebagai objek melainkan sebagai subjek dalam
rangka menyelesaikan suatu masalah tertentu.

4. Implementasi
Implementasi merupakan bentuk tindakan keperawatan yang dilakukan berdasarkan
intervensi atau rencana yang telah disusun sebelumnya. Dalam mengimplementasi,
seorang perawat sebagai agen perubah harus memperlihatkan kemampuan berkomunikasi
baik secara verbal maupun tulisan, mempunyai gaya kepemimpinan yang visioner, dan
keterampilan mengelola konflik. Implementasi dapat berhasil dengan baik apabila ada
keterlibatan dari tokoh masyarakat dan dukungan dari media (Ervin, 2002).

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu pengukuran terhadap keberhasilan asuhan keperawatan
yang diberikan. Evaluasi dapat juga berupa umpan balik dari komunitas terhadap
intervensi keperawatan komunitas (Anderson & Mc.Farlane, 2000). Menurut Ervin
(2002), evaluasi merupakan kumpulan informasi yang sistematik mengenai aktifitas,
karakteristik, dan hasil akhir dari suatu program. Evaluasi diklasifikasikan menjadi dua
macam yaitu evaluasi sumatif dan evaluasi formatif. Maksud dari evaluasi formatif
adalah evaluasi yang dilaksanakan di tengah-tengah atau pada saat berlangsungnya
proses, sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilaksanakan setelah
sekumpulan program dilaksanakan. Adapun kemungkinan hasil evaluasi yaitu:
a. Tujuan tercapai jika masyarakat mengikuti semua intervensi yang telah diberikan.
b. Tujuan tercapai sebagian jika masyarakat melakukan sebagian dari intervensi yang
diberikan.
c. Tujuan tidak tercapai jika masyarakat tidak melakukan intervensi yang telah
diberikan.