Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam mewujudkan Negara yang seimbang Negara Indonesia diharuskan memiliki
masyarakat yang berkompeten. Dalam kamus besar bahasa Indonesia ( KBBI)
Kompeten berarti cakap (mengetahui), wewenang (kekuasaan). Dan dalam arti luas
Kompeten adalah ketrampilan yang diperlukan seseorang yang ditunjukkan oleh
kemampuannya untuk dengan konsisten memberikan tingkat kinerja yang memadai
atau tinggi dalam suatu fungsi pekerjaan spesifik. Dalam mewujudkan masyarakat
yang berkompeten sebuah Negara memiliki beberapa peran yang mendukung, agar
memiliki masyarakat yang berkompeten. Salah satu peran yang sangatlah penting
dalam mendukung sebuah Negara membangun masyarakat yang berkompeten
adalah Keluarga. Keluarga sendiri merupakan satu kumpulan manusia yang
dihubungkan melalui pertalian darah, perkawinan atau pengambilan anak angkat.
institusi terkesil dalam masyarakat ini (keluarga) sangatlah mempengaruhi
perkembangan individu di setiap anggotanya. Keluarga inilah yang melahirkan
individu dengan berbagai bentuk kepribadiannya di masyarakat. Oleh karena itu
tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya keluarga mempunyai fungsi yang tidak
hanya terbatas sebagai penerus keturunan saja, melainkan mempuyai peran penting
dalam membangun masyarakat Indonesia yang berkompeten.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang di maksud keluarga ?
1.2.2 Apa saja peran setiap anggota Keluarga dalam upaya membangun Masyarakat yang
berkompeten?
1.2.3 Apa fungsi keluarga dalam masyarakat?
1.2.4 Masalah apa saja yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat yang menyangkut
pada peran keluarga?

1.3 Tujuan Penulisan


Dengan di tulisnya makalah ini saya berharap dapat membantu pembaca
memahami pentingnya peran keluarga dalam membangun masyarakat yang
berkompeten. Dan membantu menyelesaikan tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dasar
(ISD).

1.4 Sistematika Penulisan


Sistematika dalam penulisan makalah ini di susun dalam tiga BAB diantaranya BAB I
berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan dan sistematika
penulisan makalah. BAB II berisi tentang teori makalah serta isi makalah. BAB III
berisi tentang kesimpuulan dan saran dari penulisan makalah ini.
BAB II PEMBAHASAN

1.4 Pengertian Keluarga


Secara etimoleogi keluarga berasal dari bahasa sansekerta yang berarti seisi
rumah. Dalam artian luas keluarga adalah rumah tangga yang memiliki hubungan
darah atau perkawinan atau menyediakan terselenggaranya fungsi-fungsi
instrumental mendasar dan fungsi-fungsi ekspresif keluarga bagi para anggotanya
yang berada dalam suatu jaringan. Fitzpatrick (2004), memberikan pengertian
keluarga dengan cara meninjaunya berdasarkan tiga sudut pandang yang berbeda,
yaitu pengertian keluarga secara struktural, pengertian keluarga secara fungsional,
dan pengertian keluarga secara intersaksional. Berikut ini masing-masing
penjelasannya:
Pengertian Keluarga secara Struktural: Keluarga didefenisikan berdasarkan
kehadiran atau ketidakhadiran anggota keluarga, seperti orang tua, anak, dan
kerabat lainnya. Defenisi ini memfokuskan pada siapa yang menjadi bagian dari
keluarga. Dari perspektif ini dapat muncul pengertian tentang keluarga sebaga asal-
usul (families of origin), keluarga sebagai wahana melahirkan keturunan (families of
procreation), dan keluarga batih (extended family).
Pengertian Keluarga secara Fungsional: Keluarga didefenisikan dengan penekanan
pada terpenuhinya tugas-tugas dan fungsi-fungsi psikososial. Fungsi-fungsi tersebut
mencakup perawatan, sosialisasi pada anak, dukungan emosi dan materi, dan
pemenuhan peran-peran tertentu. Defenisi ini memfokuskan pada tugas-tugas yang
dilakukan oleh keluarga.
2.2 Peran Keluarga Dalam Pembentukan Individu Dalam Peranan Sebagai Anggota
Masyarakat
Anak merupakan aset yang menentukan kelangsungan hidup, kualitas dan kejayaan
suatu bangsa di masa mendatang. Oleh karena itu anak perlu dikondisikan agar
dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan dididik sebaik mungkin agar di
masa depan dapat menjadi generasi penerus yang berkarakter serta berkepribadian
baik.
Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama dikenal oleh anak. Karenanya
keluarga sering dikatakan sebagai primary group. Alasannya, institusi terkesil dalam
masyarakat ini telah mempengaruhi perkembangan individu anggota-anggotanya,
termasuk sang anak. Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan berbagai
bentuk kepribadiannya di masyarakat. Oleh karena itu tidaklah dapat dipungkiri
bahwa sebenarnya keluarga mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas sebagai
penerus keturunan saja. Mengingat banyak hal-hal mengenai kepribadian seseorang
yang dapat dirunut dari keluarga.
Membangun Karakter Anak
Membangun karakter anak, yang tidak lain adalah mendidik kejiwaan anak, tidak
semudah dan sesederhana menanam bibit. Anak adalah aset keluarga, yang
sekaligus aset bagsa. Membesarkan fisik anak, masih dapat dikatakan jauh lebih
mudah dengan mendidik ajiwa karena pertumbuhanya dapat dengan langsung
diamati, sedangkan perkembangan jiwa hanya diamati melalui pantulannya.
Menurut Oppenheim (dalam Suharsimi Arikunto, 2004 : 2) karakter atau watak
seseorang dapat diamati dalam dua hal, yaitu sikap (attitude) dan perilaku
(behavior). Jadi sikap sesorang termasuk anak-anak, tidak dapat diketahui apabila
tidak ada rangsangan dari luar. Rangsangan itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa
faktor anatara lain cara menyampaikan, waktu terjadinya, pemberian rangsangan
dan cara memberikan rangsangan. Dengan demikian maka pembentukan sikap
yang selanjutnya merupakan pembetuk karekter atau watak anak, juga sangat
tergantung dari rangsangan pendidikan yang diberikan oleh pendidik.
Beratnya persaingan hidup telah menyebabkan orang lupa memperhatikan kebutuhn
anak karena sibuk mencari nafkah. Sementara perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi telah menyebabkan budaya luar baik atau buruk mengalir bagitu
derasnya. Dampaknya bila tidak ada pengawasan dan bimbingan yang cukup buruk
dari luar. Oleh karenanya, sejak dini pada anak perlu ditanamkan nailai-nilai moral
sebagai pengatur sikap dan perilaku individu dalam melakukan interaksi sosial di
lingkungan keluarga, masyarakat maupun bangsa (Gunarwan, 2005 : 10).
Peran Orang Tua
Anak adalah individu yang unik. Banyak yang menagatkan bahwa anak adalah
miniatur dari orang dewasa. Padahal mereka betul-betul unik. Mereka belum banyak
memiliki sejarah masa lal. Pengalaman mereka sangat terbatas.
Di sinilah peran orang tua yang memiliki pengalaman hidup lebih banyak sangat
dibutuhkan membimbing dan mendidik anaknya. Apabila dikaitkan dengan hak-hak
anak, menurut Sri Sugiharti (2005 :1) tugas dan tanggung jawab orang tua antara
lain :
1. Sejak dilahirkan mengasuh dengan kasih sayang.
2. Memelihara kesehatan anak.
3. Memberi alat-alat permainan dan kesempatan bermain.
4. Menyekolahkan anak sesuia dengan keinginan anak.
5. Memberikan pendidikan dalam keluarga, sopan santun, sosial, mental dan juga
pendidikan keagamaan serta melindungi tindak kekerasan dari luar.
6. Memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan dan berpendapat sesuai
dengan usia anak.
Atas dasar itu orang tua yang bijaksana ankan mengajak anak sejak dini untuk
berinteraksi denagn lingkungan sekitar. Saat itulah pendidikan karakter diberikan.
Mengenal anak akan perbedaan di selilingnya dan diliatkan dalam tanggung jawab
hidup sehari-hari, merupakan sarana anak untuk belajar menghargai perbedaan di
sekelilingnya dan mengembangkan karakter di tengah berkembangnya masyarakat.
Pada tahap ini orang tua dapat mengajarkan niali-nilai universal seperti cara
menghargai orang lain, berbuat adil pada diri sendiri dan orang lain, bersedia
memanfaatkan orang lain.
Bapak ibu sebagai orang tua anak, adalah contoh keteladanan dan perilaku bagi
anak. Oleh karena itu orang tua harus berperilaku baik, saling asih, asah dan asuh.
Ibu yang secara emosional dan kejiwaan lebih dekat dengan anaknya harus mampu
menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya baik dalam bertutur kata, bersikap
maupun bertindak. Peran ibu dalam pembentukan karakter ini demikian besar,
sehingga ada pepatah yang mengatakan bahwa Wanita adalah tiang negara.
Manakala wanitanya baik maka baiklah negara. Manakala wanitanya rusak, maka
rusaklah negara.
Sementara itu sang bapak sebagai kepala keluarga juga harus mampu menajdi
teladan yang baik. Karena ayah yang terlibat hubungan dengan anaknya sejak awal
akan mempengaruhi perkembangan kognitif, motorik, kemampuan, menolong diri
sendiri, bahkan meningkatkan kemampuan yang lebih baik dari anak lain. Kedekatan
dengan ayah tentunya juga akan mempengaruhi pembentukan karakter anak.
Begitu besarnya peran orang tua dalam pembentukan karakter dan tumbuh
kembang anak, sudah sewajarnya apabila orang tua perlu menerapkan pola asuh
yang seimbang (authoritative) pada anak, bukan pola asuh yang otoriter atau serba
membolehkan (permissive).
Pola asuh yang seimbang (authoritative) akan selalu menghargai individualitas akan
tetapi juga menekankan perlunya aturan dan pengaturan. Mereka dangat percaya
diri dalam melakukan pengasuhan tetapi meraka sepenuhnya mengahrgai
keputusan yang diambil anak, minat dan pendapat serta perbedaan kepribadiannya.
Orang tua dengan pola asuh model ini, penuh dengan cinta kasih, mudah memerinci
tetapi menuntut tingkah laku yang baik. Tegas dalam menjaga aturan bersedia
memberi hukuman ringan tetapi dalam situasi hangat dan hubungan saling
mendukung. Mereka menjelaskan semua tindakan dan hukuman yang mereka
lakukan dan minta pendapat anak.
Anak dari orang tua yang demikian akan merasa tenang dan nyaman. Mereka akan
menajdi paham kalau mereka disayangi tetapi sekaligus mengerti terhadap apa yang
diharapkan dari orang tua. Jadi anak sejak pra sekolah akan menunjukkan sikap
lebih mandiri, mampu mengontrol dirinya, biasa bersikap tegas dan suka eksplorasi.
Kondisi yeng demikian itu tidak akan didapatkan anak bila orang tuanya menerapkan
pola asuh otoriter atau permisif. Karena anak-anak di bawah asuhan otoriter akan
menjadi pendiam, Penakut dan tidak percaya pada diri mereka sendiri. Sementara
anak-anak yang diasuh dengan model permisif akan menajdi anak yang tidak
mengenal aturan dan norma serta idak memiliki rasa tanggung jawab.
Dengan berkaca pada kondisi saat ini, sudah saatnya orang tua sekarang
mengambil peran lebih untuk mengembangkan karakter dan memberi kesempatan
untuk tumbuh dan berkembang secara optimal agar anak menjadi manusia
berkualitas.
2.3 Fungsi yang dijalankan keluarga dalam masyarakat
Fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut ;
1.Fungsi Pendidikan dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan menyekolahkan
anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak.
2.Fungsi Sosialisasi anak dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak
menjadi anggota masyarakat yang baik.
3.Fungsi Perlindungan dilihat dari bagaimana keluarga melindungi anak sehingga
anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
4.Fungsi Perasaan dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan
perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan
berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama
lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5.Fungsi Agama dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak
anak dan anggota keluarga lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan
yang mengatur kehidupan kini dan kehidupan lain setelah dunia.
6.Fungsi Ekonomi dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari penghasilan,
mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi rkebutuhan-
kebutuhan keluarga.
7.Fungsi Rekreatif dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang
menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama, bercerita tentang
pengalaman masing-masing, dan lainnya.
8.Fungsi Biologis dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan keturunan sebagai
generasi selanjutnya.
9.Memberikan kasih sayang, perhatian,dan rasa aman diaantara keluarga, serta
membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.
Berdasarkan fungsi yang telah dijelaskan, maka dalam membentuk masyarakat
yang berkompeten sebuah keluarga saling ketergantungan dengan keluarga yang
lain

2.4 Hilangnya fungsi keluarga dalam bermasyarakat


Keluarga telah kehilangan fungsinya di tengah hingar-bingar kehidupan modern saat
ini. Apa tanda-tandanya?
1. Orang tua semakin tidak punya waktu bergaul dan berkumpul bersama anak-
anaknya
Bila kita percaya bahwa keluarga adalah bentuk organisasi masyarakat yang terkecil
dan paling solid, kita bisa bayangkan masyarakat apa yang sedang kita bentuk di
masa mendatang. Bila kekurangan waktu kebersamaan dalam keluarga ini terus
berlangsung, masyarakat mendatang merupakan masyarakat yang terpecah-pecah,
individualis, serta tidak peduli akan orang lain. Anak-anak akan bertumbuh menjadi
pribadi yang kehilangan arah. Mereka tidak belajar bagaimana berelasi dan
memperhatikan orang lain.
2. Perceraian semakin banyak dan semakin mudah dilakukan
Selalu, perceraian menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan, dan kebencian.
Perceraian yang sedemikian mudah, kadang-kadang tanpa alasan kuat, akan
menghasilkan masyarakat yang semakin pemarah di masa mendatang. Belum lagi
anak-anak yang dibesarkan tanpa mengenal ayah dan ibunya, mereka bakal
menjadi pribadi-pribadi yang kosong jiwanya.
3. Angka bunuh diri yang terus membengkak
Dari 30 November hingga 15 Desember lalu (selama 16 hari) ada lima kasus bunuh
diri di gedung bertingkat. Setelah itu juga masih ada kejadian bunuh diri, baik yang
diliput media maupun yang tidak. Yang jelas, banyak sekali analisa maupun liputan
media yang memperlihatkan bahwa persoalan yang terbesar kasus bunuh diri
adalah faktor keluarga. Jelas bahwa angka bunuh diri yang terungkap ini hanya
merupakan fenomena gunung es. Artinya, ada begitu banyak usaha bunuh diri yang
tidak terungkap.
4. Hubungan seks yang tidak wajar dan video mesum kian marak
Pelakunya mulai dari anak sekolah, pegawai negeri, pejabat tinggi negara, selebriti,
dan sebagainya. Seks telah kehilangan unsur sakralnya dan menjadi barang mainan
yang murah harganya, menjadi tontonan umum, mulai dari mereka yang berusia
anak-anak hingga orang dewasa. Hubungan seks yang mewakili kesatuan antara
suami dan istri sedemikian mudah dilakukan hanya untuk kesenangan. Padahal
seks di luar pernikahan di dalam Alkitab diasosiasikan dengan kebinasaan (Amsal
5:5).
5. Di sana-sini terdengar kabar tentang pembunuhan, penganiayaan, dan
penelantaran, baik antar pasangan, antara ayah dan ibu terhadap anak-anak
mereka, atau juga yang dilakukan oleh anak terhadap orang tuanya
Berbagai peristiwa ini memperlihatkan bahwa keluarga bukan lagi merupakan
tempat yang aman bagi anggota keluarga. Sebaliknya, bisa jadi rumah adalah
tempat yang paling berbahaya buat anak-anak dan anggota keluarga.
6. Angka gangguan jiwa, kecanduan narkoba, disorientasi seksual, dan penyakit
menular seksual terus berakumulasi dalam jumlah yang sangat luar biasa
menandakan ada yang salah yang sedang terjadi dalam keluarga

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dengan adanya pembuatan makalah ini yang berupa pemahaman materi dapat di
simpulkan betapa pentingnya peran keluarga dalam membangun masyarakat yang
berkompeten. Dan pentingnya peran setiap anggota keluarga dalam menerapkan
setiap perannya secara optimal agar mencapai masyarakat yang berkompeten.
Dalam makalah ini kita juga dapat negetahui beberapa penyebab yang
menyebabkan hilangnya fungsi keluarga secara bertahap dalam kehidupan era
golbalisasi yang menyebabkan turunnya kualitas setiap individu dalam sebuah
keluarga dalam mencapai kehidupan masyarakat yan berkompeten.
3.2 Saran
Untuk dapat mencapai suatu tujuan yang sama, yaitu mencapai kehidupan
masyarakat yang bekompeten dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan
bernegara dengan baik. Saya menyarankan kepada setiap pembaca yang
merupakan sebuah keluarga yang merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat
agar menerapkan perilaku yang baik dalam setiap fungsi yang harus di terapkan
dalam masyarakat dan tidak menyimpang dari fungsi-fungsi tersebut agar menjadi
masyarakat yang berkompeten.

DAFTAR PUSTAKA

http://padullpop.blogspot.com/p/peran-keluarga-dalam-masyarakat_11.html
http://deroe.wordpress.com/2007/10/05/kompeten-dan-kompetensi/
http://kbbi.web.id/kompeten
http://unsurbudaya4ka38.blogspot.com/2013/10/peran-keluarga-dalam-
pembentukan.html
http://senda-ronyrama.blogspot.com/2011/12/fungsi-keluarga-dalam-
masyarakat.html