Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PERKAWINAN DI BAWAH UMUR

Disusun Oleh:
Hari Darmawan
21100116140044

DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG
NOVEMBER 2016
KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam saya sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah,
karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat saya selesaikan sesuai dengan yang
diharapkan. Dalam makalah ini saya membahas Perkawinan Di Bawah Umur, suatu
permasalahan yang belakangan ini mengemuka. Masalah ini bersinggungan dengan
beragam aspek, mulai dari hukum, agama, adat, ekonomi, sosial hingga kesehatan.

Terkait dengan masalah pernikahan usia dini dalam lingkup agama, merupakan
tradisi yang masih berkecambah luas,khususnya di basis-basis kaum santri tradisional,
disinyalir kuat bermotif teologis. Artinya, praktik tradisi tersebut terpupuk dan menjadi
lestari, karena pembenaran normatif dari teks- teks agama.

Demikian makalah ini saya buat semoga bermanfaat.

Semarang, 11 November 2016

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Sampul.................................................................................................................

Kata Pengantar...................................................................................................................

Daftar Isi............................................................................................................................

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang................................................................................................

1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................

1.3 Tujuan.............................................................................................................

1.4 Manfaat...........................................................................................................

Bab II Pembahasan

2.1 Penyebab Perkawinan Di Bawah Umur........................................................

2.2 Dampak Positif dan Negatif Perkawinan Di Bawah Umur..........................

2.3 Batas Usia Kawin dan Usia Kedewasaan Menurut Islam.............................

2.4 Pandangan Perkawinan Di Bawah Umur dalam Agama Islam....................

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan....................................................................................................

3.2 Saran..............................................................................................................

Daftar Pustaka...................................................................................................................

Lampiran...........................................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkawinan di bawah umur banyak terjadi dari dahulu sampai sekarang.
Kebanyakan para pelaku Perkawinan di bawah umur tersebut adalah remaja desa
yang memiliki tingkat pendidikan kurang. Remaja desa kebanyakan malu untuk
menikah pada umur 20 tahun keatas. Anggapan remaja desa lebih memungkinkan
untuk menikah di usia muda karena disana ada anggapan atau mitos bahwa
perempuan yang berumur 20 tahun keatas belum menikah berarti Perawan Tua.
Persoalan mendasar dari seorang anak perempuan yaitu ketika dia memasuki usia
dewasa, banyak orang tua menginginkan anaknya untuk tidak menjadi perawan
tua. Menjadi perawan tua bagi kebanyakan masyarakat dianggap sebagai bentuk
kekurangan yang terjadi pada diri perempuan. Untuk itu, dalam bayangan
ketakutan yang tidak beralasan banyak orang tua yang menikahkan anaknya pada
usia muda. Kondisi itulah yang menjadikan timbulnya persepsi bahwa remaja
desa akan lebih dulu menikah dari pada remaja kota. Anggapan-anggapan
tersebut muncul karena kurangnya pengetahuan dari masyarakat mengenai
pentingnya pendidikan bagi remaja.
Nabi Muhammad SAW merupakan uswah hasanah (teladan yang baik)
bagi seluruh umat Islam dimana perilaku, tindakan, dan perikehidupannya selalu
dijadikan sebagai acuan dan rujukan. Namun sekali lagi, dalam konteks
menikahi gadis di bawah umur ini, kaum Muslim seolah dihadapkan pada
pilihan sikap yang dilematis. Sebab bagaimanapun, mayoritas Muslim tidak akan
pernah berpikir apalagi melakukan tindakan menikahkan anak perempuannya
yang baru berusia 6 atau 9 tahun dengan seorang pria dewasa yang lebih pantas
menjadi bapak bahkan kakeknya. Jika ada orang tua yang setuju perkawinan
seperti itu, kebanyakan orang, meski tidak semua, akan mencibir dan memandang
sinis, terlebih kepada pria uzur yang tega menikahi bocah di bawah umur itu.
Belum lama ini, umat Islam di Indonesia dihebohkan oleh pemberitaan
kasus perkawinan gadis di bawah umur. Pujiono Cahyo Widianto, seorang
miliarder beristri satu dan berusia 43 tahun asal Semarang yang lebih populer
disapa Syekh Puji, menikahi bocah berusia 12 tahun bernama Lutviana Ulfa pada
tanggal 8 Agustus 2008 lalu. Lebih heboh lagi, Syekh Puji yang juga berstatus
sebagai pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Jannah itu berencana
menikahi dua gadis ingusan lain dalam waktu yang tidak terlalu lama untuk
menggenapkan bilangan istri yang dikoleksinya menjadi 4 (empat).
Ketika berita itu merebak ke permukaan, pro-kontra pun bermunculan.
Mayoritas menolaknya sekaligus menuding Syekh Puji mengidap pedophilia,
yaitu karakter kejiwaan yang mempunyai ketertarikan seksual terhadap anak di
bawah umur. Tidak ketinggalan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga
memfatwakan perihal keharaman tindakan Syekh Puji yang mengawini gadis
ingusan di bawah umur itu.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah
sebagai berikut :
1. Apa yang menjadi faktor penyebab perkawinan di bawah umur ?
2. Apa dampak Positif dan Negatif dari perkawinan di bawah umur ?
3. Berapa batas usia kawin dan usia kedewasaan dalam Islam ?
4. Bagaimana pandangan menurut agama Islam terhadap perkawinan di
bawah umur ?
1.3 Tujuan
Adapun penulisan dari makalah ini memiliki tujuan yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui penyebab kalangan remaja banyak memilih perkawinan
di bawah umur
2. Mengetahui dampak positif dan negatif yang ditimbulkan dari
perkawinan di bawah umur
3. Mengetahui usia kawin dan usia kedewasaan seseorang dalam agama
Islam
4. Mengetahui pandangan dalam agama Islam mengenai perkawinan di
bawah umur.
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Bagi penulis
Dengan ditugaskannya makalah ini penulis lebih memahami dan
mengetahui tentang pembuatan makalah yang baik dan benar, dan
menambah wawasan tentang perkawinan di bawah umur dan dampak
yang di timbulkannya.

1.4.2 Manfaat bagi pembaca


1.4.2.1 Remaja
Dengan lebih mengetahui dan memahami tentang
dampak yang ditimbulkan oleh pernikahan di bawah umur,
diharapkan juga dapat menekan angka pernikahan di bawah umur
di kalangan remaja.
1.4.2.2 Masyarakat
Dengan adanya makalah ini, masyarakat bisa lebih
memahami, mengetahui dan sadar atas dampak yang ditimbulkan
oleh pernikahan di bawah umur.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Faktor Penyebab Pernikahan Dini

Menurut RT. Akhmad Jayadiningrat, sebab-sebab utama dari perkawinan usia


muda adalah:
1. Keinginan untuk segera mendapatkan tambahan anggota keluarga
2. Tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk perkawinan terlalu muda, baik
bagi mempelai itu sendiri maupun keturunannya.
3. Sifat kolot orang jawa yang tidak mau menyimpang dari ketentuan adat.
Kebanyakan orang desa mengatakan bahwa mereka itu mengawinkan anaknya
begitu muda hanya karena mengikuti adat kebiasaan saja.

Terjadinya perkawinan usia muda menurut Hollean dalam Suryono disebabkan


oleh:

1. Masalah ekonomi keluarga


2. Orang tua dari gadis meminta masyarakat kepada keluarga laki-laki apabila mau
mengawinkan anak gadisnya.
3. Bahwa dengan adanya perkawinan anak-anak tersebut, maka dalam keluarga
gadis akan berkurang satu anggota keluarganya yang menjadi tanggung jawab
(makanan, pakaian, pendidikan, dan sebagainya) (Soekanto, 1992 : 65).

Selain menurut para ahli di atas, ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya
perkawinan usia muda yang sering dijumpai di lingkungan masyarakat kita yaitu :

1. Ekonomi

Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis
kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka anak wanitanya
dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu.

2. Pendidikan

Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak dan


masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan mengawinkan anaknya yang masih
dibawah umur.

3. Faktor orang tua

Orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran dengan laki-
laki yang sangat lengket sehingga segera mengawinkan anaknya.

4. Media massa

Gencarnya ekspose seks di media massa menyebabkan remaja modern kian


Permisif terhadap seks.

5. Faktor adat
Perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan
perawan tua sehingga segera dikawinkan.

2.2 Dampak Positif dan Negatif Pernikahan Di Bawah Umur

2.2.1 Dampak positif

1. Dukungan emosional: Dengan dukungan emosional maka dapat


melatih kecerdasan emosional dan spiritual dalam diri setiap pasangan (ESQ).

2. Dukungan keuangan: Dengan menikah di usia dini dapat meringankan


beban ekonomi menjadi lebih menghemat.

3. Kebebasan yang lebih: Dengan berada jauh dari rumah maka


menjadikan mereka bebas melakukan hal sesuai keputusannya untuk menjalani
hidup mereka secara finansial dan emosional.

4. Belajar memikul tanggung jawab di usia dini: Banyak pemuda yang


waktu masa sebelum nikah tanggung jawabnya masih kecil dikarenakan ada
orang tua mereka, disini mereka harus dapat mengatur urusan mereka tanpa
bergantung pada orang tua.

5. Terbebas dari perbuatan maksiat seperti zina dan lain-lain.

2.2.2 Dampak negatif

Dari segi pendidikan, sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa


seseorang yang melakukan pernikahan terutama pada usia yang masih muda,
tentu akan membawa berbagai dampak, terutama dalam dunia pendidikan. Dapat
diambil contoh, jika sesorang yang melangsungkan pernikahan ketika baru lulus
SMP atau SMA, tentu keinginannya untuk melanjutkan sekolah lagi atau
menempuh pendidikan yang lebih tinggi tidak akan tercapai. Hal tersebut dapat
terjadi karena motivasi belajar yang dimiliki seseorang tersebut akan mulai
mengendur karena banyaknya tugas yang harus mereka lakukan setelah menikah.
Dengan kata lain, pernikahan dini dapat menghambat terjadinya proses
pendidikan dan pembelajaran.

Selain itu belum lagi masalah ketenaga kerjaan, seperti realita yang ada
didalam masyarakat, seseorang yang mempunyai pendidikan rendah hanya dapat
bekerja sebagai buruh saja, dengan demikian dia tidak dapat mengeksplor
kemampuan yang dimilikinya.

Dari segi kesehatan, Dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari


Rumah Sakit Balikpapan Husada (RSBH) dr Ahmad Yasa, SPOG mengatakan,
perempuan yang menikah di usia dini kurang dari 15 tahun memiliki banyak
risiko, sekalipun ia sudah mengalami menstruasi atau haid. Ada dua dampak
medis yang ditimbulkan oleh pernikahan usia dini ini, yakni dampak pada
kandungan dan kebidanannya. penyakit kandungan yang banyak diderita wanita
yang menikah usia dini, antara lain infeksi pada kandungan dan kanker mulut
rahim. Hal ini terjadi karena terjadinya masa peralihan sel anak-anak ke sel
dewasa yang terlalu cepat. Padahal, pada umumnya pertumbuhan sel yang
tumbuh pada anak-anak baru akan berakhir pada usia 19 tahun.

Berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan, rata-rata


penderita infeksi kandungan dan kanker mulut rahim adalah wanita yang
menikah di usia dini atau dibawah usia 19 atau 16 tahun. Untuk risiko kebidanan,
wanita yang hamil di bawah usia 19 tahun dapat berisiko pada kematian, selain
kehamilan di usia 35 tahun ke atas. Risiko lain, lanjutnya, hamil di usia muda
juga rentan terjadinya pendarahan, keguguran, hamil anggur dan hamil prematur
di masa kehamilan. Selain itu, risiko meninggal dunia akibat keracunan
kehamilan juga banyak terjadi pada wanita yang melahirkan di usia dini. Salah
satunya penyebab keracunan kehamilan ini adalah tekanan darah tinggi atau
hipertensi.

Dengan demikian, dilihat dari segi medis, pernikahan dini akan


membawa banyak kerugian. Maka itu, orang tua wajib berpikir matang jika ingin
menikahkan anaknya yang masih di bawah umur. Bahkan pernikahan dini bisa
dikategorikan sebagai bentuk kekerasan psikis dan seks bagi anak yang
kemudian dapat mengalami trauma.

Dari segi psikologi, Menurut para psosiolog, ditinjau dari sisi sosial,
pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Hal ini disebabkan oleh
emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang.
Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak
dampak negatif. Oleh karenanya, pemerintah hanya mentolerir pernikahan diatas
umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita.

2.3 Batas Usia Kawin dan Usia Kedewasaan menurut Islam

Dalam diskursus fikih (Islamic jurispridence), tidak ditemukan kaidah yang


sifatnya menentukan batas usia kawin. Karenanya, menurut fikih, semua tingkatan umur
dapat melangsungkan perkawinan. Dasarnya, Nabi Muhammad SAW sendiri menikahi
Aisyah ketika ia baru berumur 6 tahun, dan mulai mencampurinya saat telah berusia 9
tahun.

Ulama fikih (fuqaha) tidak ada yang menyatakan bahwa batas usia minimal
adalah datangnya fase menstruasi, dengan dasar bahwa Allah SWT menetapkan masa
iddah (masa tunggu) bagi istri kanak-kanak (saghirah) yang diceraikan itu adalah 3
bulan. Jalaluddin al-Suyuthi dalam kamus hadisnya yang terkenal, al-Jami al-Saghir
mengemukakan dua hadis yang cenderung mendorong penyegaran perkawinan sedini
mungkin. Hadis pertama berbunyi, Ada tiga perkara yang tidak boleh diakhirkan, yaitu:
shalat ketika tiba waktunya, jenazah ketika akan dikebumikan, dan wanita tidak bersuami
ketika (diajak menikah) orang yang sepadan (kafaah). Adapun hadis Nabi yang kedua
berbunyi, Dalam kitab Taurat tertulis bahwa orang yang mempunyai anak perempuan
berusia 12 tahun dan tidak segera dinikahkan, maka anak itu berdosa dan dosa tersebut
dibebankan atas orang tuanya.

Namun perlu dicatat, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa perkawinan di
bawah umur antara Nabi SAW yang sudah berusia dewasa (53 tahun) dengan Aisyah
yang masih kanak-kanak itu tidak bisa dijadikan sebagai dalil umum. Ibn Syubramah,
misalnya, menyatakan bahwa agama melarang perkawinan kanak-kanak (sebelum usia
pubertas). Menurutnya, nilai esensial perkawinan adalah memenuhi kebutuhan biologis
dan melanggengkan keturunan.

2.4 Pandangan agama Islam terhadap Perkawinan Di Bawah Umur

Hukum Islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap
agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal. Dari kelima nilai universal Islam ini, satu
diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan (hifdzu al nasl). Oleh sebab itu, Syekh
Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga,
hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan. Seandainya
agama tidak mensyariatkan pernikahan, niscaya geneologi (jalur keturunan) akan
semakin kabur.

Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini.


Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimnal Undang-undang Perkawinan, secara
hukum kenegaraan tidak sah. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan
umur. Sementara dalam kaca mata agama, pernikahan dini ialah pernikahan yang
dilakukan oleh orang yang belum baligh.

Terlepas dari semua itu, masalah pernikahan dini adalah isu-isu kuno yang
sempat tertutup oleh tumpukan lembaran sejarah. Dan kini, isu tersebut kembali muncul
ke permukaan. Hal ini tampak dari betapa dahsyatnya benturan ide yang terjadi antara
para sarjana Islam klasik dalam merespons kasus tersebut.

Pendapat yang digawangi Ibnu Syubromah menyatakan bahwa agama melarang


pernikahan dini (pernikahan sebelum usia baligh). Menurutnya, nilai esensial pernikahan
adalah memenuhi kebutuhan biologis, dan melanggengkan keturunan. Sementara dua hal
ini tidak terdapat pada anak yang belum baligh. Ia lebih menekankan pada tujuan pokok
pernikahan.
Ibnu Syubromah mencoba melepaskan diri dari kungkungan teks. Memahami
masalah ini dari aspek historis, sosiologis, dan kultural yang ada. Sehingga dalam
menyikapi pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah (yang saat itu berusia usia 6 tahun), Ibnu
Syubromah menganggap sebagai ketentuan khusus bagi Nabi Saw yang tidak bisa ditiru
umatnya.

Sebaliknya, mayoritas pakar hukum Islam melegalkan pernikahan dini.


Pemahaman ini merupakan hasil interpretasi dari QS. al Thalaq: 4. Disamping itu, sejarah
telah mencatat bahwa Aisyah dinikahi Baginda Nabi dalam usia sangat muda. Begitu pula
pernikahan dini merupakan hal yang lumrah di kalangan sahabat.

Bahkan sebagian ulama menyatakan pembolehan nikah dibawah umur sudah


menjadi konsensus pakar hukum Islam. Wacana yang diluncurkan Ibnu Syubromah
dinilai lemah dari sisi kualitas dan kuantitas, sehingga gagasan ini tidak dianggap.
Konstruksi hukum yang di bangun Ibnu Syubromah sangat rapuh dan mudah terpatahkan.

Imam Jalaludin Suyuthi pernah menulis dua hadis yang cukup menarik dalam
kamus hadisnya. Hadis pertama adalah Ada tiga perkara yang tidak boleh diakhirkan
yaitu shalat ketika datang waktunya, ketika ada jenazah, dan wanita tak bersuami ketika
(diajak menikah) orang yang setara/kafaah.

Hadis Nabi kedua berbunyi, Dalam kitab taurat tertulis bahwa orang yang
mempunyai anak perempuan berusia 12 tahun dan tidak segera dinikahkan, maka anak itu
berdosa dan dosa tersebut dibebankan atas orang tuanya.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pernikahan di bawah umur tentunya bersifat individual-relatif. Artinya


ukuran kemaslahatan di kembalikan kepada pribadi masing-masing. Jika dengan
menikah usia muda mampu menyelamatkan diri dari kubangan dosa dan lumpur
kemaksiatan, maka menikah adalah alternatif terbaik. Sebaliknya, jika dengan
menunda pernikahan sampai pada usia matang mengandung nilai positif, maka
hal itu adalah yang lebih utama. Wallahu Alam

Kebijakan pemerintah maupun hukum agama sama-sama mengandung


unsur maslahat. Pemerintah melarang pernikahan usia dini adalah dengan
pelbagai pertimbangan di atas. Begitu juga agama tidak membatasi usia
pernikahan, ternyata juga mempunyai nilai positif. Sebuah permasalahan yang
cukup dilematis.

3.2 Saran
Agar Pernikahan dini yang terjadi di masyarakat tidak semakin
meningkat, sebagai orang tua perlu terus menerus melakukan pendampingan pada
anak agar dapattumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Selain itu juga
para orang tua tidak membiarkan anak-anak perempuannya yang masih belia,
dipinangpria pujaan walau diiming-imingi angin surga, yang kemudian ternyata
menghancurkan masa depan anak perempuan itu.

DAFTAR PUSTAKA

Syarifuddin, Amir. 2007. Hukum Perkawinan Islam di Indonesiaa. Jakarta:


Prenada Media.
Hanafi, Yusuf. 2011. Kontroversi Perkawinan Anak Di Bawah Umur. Bandung:
Mandar Maju.
LAMPIRAN