Anda di halaman 1dari 3

Pada praktikum yang telah kami lakukan, diperoleh hasil sebagai berikut:

P : AABB x aaBB
G : A, B x a, B
F1 : AB, aB (perbandingan fenotip Aa 100%)
P2 : AB x aB
G2 : A, B x a, B
F2 : AA, Aa, Aa, aa (perbandingan fenotip 3:1)

Pada persilangan yang telah kami lakukan diperoleh hasil perbandingan fenotip=
3:1 dengan fenotip kuning bulat dan putih bulat. Hasil persilangan tersebut tidak sesuai
dengan teori karena kami menggunakan biji jagung dengan satu sifat beda, sedangkan
hasil penyilangan yang kami lakukan menggunakan dua sifat beda. Sebenarnya biji
jagung yang kami amati memiliki satu sifat beda yaitu kuning dan putih. Hasil tersebut
diperoleh berdasarkan pengamatan terhadap bentuk dan warna biji jagung yang
merupakan F1. Setelah diketahui F1 , selanjutnya mencari parental. Karena hasil F 1
merupakan kuning dan bulat, maka parentalnya dijadikan AA x aa, AA= kuning,
sedangkan aa= putih.
P : AA x aa
G : A, A x a, a
F1 : Aa, Aa, Aa, Aa (perbandingan fenotip Aa 100%)
P2 : Aa x Aa
G2 : A, a x A, a
F2 : AA, Aa, Aa, aa (perbandingan fenotip 3:1)
Persilngan tersebut sesuai dengan Hukum Mendel 1 yaitu pada persilangan
monohybrid dalam Hukum Mendel I yang dikenal dengan The Law of Segretation of
Allelic Genes atau Hukum Pemisahan Gen yang se-alel dinyatakan bahwa dalam
pembentukan gamet, pasangan alel akan memisah secara bebas. Peristiwa pemisahan ini
terlihat ketika pembetukan gamet individu yang memiliki genotif heterozigot, sehingga
tiap gamet mengandung salah satu alel tersebut. Dalam ini disebut juga hukum segregasi
yang berdasarkan percobaan persilangan dua individu yang mempunyai satu karakter
yang berbeda. Berdasarkan hal ini, persilangan dengan satu sifat beda akan menghasilkan
perbandingan genotip dan fenotif pada F 1 yaitu 100% bersifat sama. Persilangan dengan
satu sifat beda akan menghasilkan perbandingan fenotif pada F 2 yaitu ekspresi gen
dominan: resesif = 3:1. Sedangkan perbandingan genotip yaitu ekspresi gen homozigot:
heterozigot: resesif= 1:2:1.

II. Persilangan dihibrid


Dalam hukum mendel II atau dikenal dengan The Law of Independent assortmen of
genes atau Hukum Pengelompokan Gen Secara Bebas dinyatakan bahwa selama
pembentukan gamet, gen-gen sealel akan memisah secara bebas dan mengelompok
dengan gen lain yang bukan alelnya. Pembuktian hukum ini dipakai pada dihibrid atau
polihibrid, yaitu persilangan dari 2 individu yang memiliki satu atau lebih karakter yang
berbeda. Monohibrid adalah hibrid dengan 1 sifat beda, dan Dihibrid adalah hibrid
dengan 2 sifat beda. Fenotif adalah penampakan atau perbedaan sifat dari suatu individu
tergantung dari susunan genetiknya yang dinyatakan dengan kata-kata (misalnya
mengenai ukuran, warna, bentuk, rasa, dsb). Genotif adalah susunan atau konstitusi
genetik dari suatu individu yang ada hubungannya dengan fenotif; biasanya dinyatakan
dengan simbol/tanda pertama dari fenotif. Oleh karena individu itu bersifat diploid, maka
genotif dinyatakan dengan huruf dobel, misalnya AA, Aa, aa, AABB,dsb.
Semua keterangan di atas hanya membicarakan persilangan satu sifat. Sekarang akan
dipelajari dua individu dengan dua sifat beda dimana hasil persilangan ini dinamakan
dihibrid.
Sebelum melakukan percobaan, harus diketahui cara pewarisan sifat. Dua pasang yang
diawasi oleh pasangan gen yang terletak pada kromosom yang berlainan. Sebagai contoh
Mendel melakukan percobaan dengan menanam kacang ercis yang memiliki dua sifat
beda. Mula-mula tanaman galur murni yang memiliki biji bulat berwarna kuning
disilangkan dengan tanaman galur murni yang memiliki biji keriput berwarna hijau, maka
F1 seluruhnya berupa tanaman yang berbiji bulat berwarna kuning. Biji-biji dari tanaman
F1 ini kemudian ditanam lagi dan tanaman yang tumbuh dibiarkan mengadakan
penyerbukan sesamanya untuk memperoleh keturunan F2 dengan 16 kombinasi yang
memperlihatkan perbandingan 9/16 tanaman berbiji bulat warna kuning : 3/16 berbiji
bulat warna hijau : 3/16 berbiji keriput berwarna kuning : 1/16 berbiji keriput berwarna
hijau atau dikatakan perbandingannya adalah ( 9 : 3 : 3 : 1 ).