Anda di halaman 1dari 6

BAB III

PENATALAKSANAAN

3.1 Alat

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu:

Botol kaca gelap besar


Beker gelas
Gunting
Pisau
Wadah
Corong
Kertas saring
Gelas ukur 100 ml
Seperangkat alat rotari evaporator
Seperangkat alat destilasi vakum
Timbangan analitis
Erlenmeyer
Corong pisah
Statif dan klem
Chamber (wadah untuk KLT)
Spatelbesi
Gelas ukur 5 ml
Pipet mikro kapiler
Plat KLT berupa silika gelberfluorosensi pada 254 nm
Seperangkat kolom kromatografi
Seperangkat alat maserasi

3.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu:

Sampel Lengkuas (Alpinia galanga)


Metanol
Aquadest
Pelarut n-heksan
Pelarut etil asetat atau kloroform
Pelarut n-butanol
Kapas silika gel

3.3 Cara Kerja

3.3.1 Proses Ekstraksi Bahan Alam

1) Sampel dihaluskan dengan blender dan timbang sebanyak 250 mg.


2) Kemudian sampel dimasukan kedalam botol gelap untuk melakukan
metode maserasi dan masukan metanol kedalam botol sebanyak lebih
kurang 800ml.
3) Rendam sampel selama beberapa hari lakukan pengadukan

3.3.2 Proses Pemisahan In Vacuo

1) Menyiapkan ekstrak cair hasil maserasi.


2) Timbang beker kosong yang akan diletakan ekstrak kenatal nantinya.
3) Ekstrak cair hasil maserasi dirotari sampai terbentuk ekstrak kentalnya.
4) Tuangkan ekstrak kental dalam wadah yang sudah ditimbang tadi,
setelah itu hitung berat ekstrak yang digunakan

3.3.3 Proses Fraksinasi Bahan Alam

1) Ekstrak kental yang didapat dari pratikum seblumnya dihomogenkan


dengan aquades sampai semua larut dengan sempurna.
2) Ekstrak berair ini kemudian dipindahkan kedalam corong pisah dan
letakan dalam statif yang tegak.
3) Tambahkan n-heksana pada corong psah sebanyak 50 ml, kocok corong
pisah sambil dikeluarkan gas atau udara yang terbentuk dengan
membuka katub corong.
4) Letakan corong pisah kedalam statif, biarkan sebentar sampai terbentuk
dua lapisan yaitu lapisan non polar dan lapisan air. Pisahkan lapisan
tersebut masukan dalam vial penampung.
5) Tambahkan Etil asetat, lakukan hal yang sama seperti percobaan 3 dan
4 agar didapan lapisan untuk semipolar.
6) Kemudian ekstrak cair nonpolar dan semipolar tersebut dipekatkan
dengan rotari evaporator, setalah itu diletakan pada wadah yang sudah
ditimbang sebelumnya dan beri label.
7) Hitung berat fraksi kental yang didapat

3.3.4 Kromatografi Lapis Tipis Ekstrak & Fraksi

1) Siapkan chamber dan tutupnya. Jauhkan sekeliling chamber dengan


eluent yang sesuai dengan meletakkan kertas saring di sekeliling
dinding chamber.
2) Buat eluent tunggal atau dengan perbandingan tertentu sebanyak 5 ml
dan masukkan ke dalam chamber, biarkan chamber menjadi jenuh.
3) Persiapkan larutan masing-masing sampel dengan mengencerkan
sedikit ekstrak kental dalam vial dengan pelarut yang sesuai.
4) Siapkan plat KLT sesuai ukuran dan jumlah totolan yang akan
diletakkan pada plat KLT. Buat garis tepi bawah dan tepi atas pada plat
KLT. Tandai titik tempat penotolan sampel.
5) Totolkan sampel beberapa kali pada titik penotolan sehingga
konsentrasi yang cukup.
6) Plat yang sudah ditotolkan sampel dimasukkan ke dalam chamber yang
telah berisi eluent. Kemudian lakukan elusi sampai pelarut naik pada
garis tepi bagian atas plat.
7) Lihat noda pada plat KLT secara visual dan di bawah lampu UV pada
panjang gelombang 254 dan 366 nm. Tandai dengan pensil noda yang
dihasilkan.
8) Hitung nilai Rf setiap noda yang nampak, baik secara visual maupun di
bawah lampu UV.
9) Percobaan dilakukan untuk ketiga sampel ekstrak (heksana dan etil
asetat). Lakukan juga pada plat yang sama sekaligus untuk sampel.
10) Lakukan KLT dengan menaikkan dan menurunkan harga Rf senyawa.
3.3.5 Kromatografi Kolom Fraksi Terpilih

1) Timbang sampel 1 gram, preabsobsi dengan silika gel gerus sampai


menjadi serbuk.
2) Siapkan kolom kromotografi, tutup lubang dasar kolom dengan kapas
untuk menahan supaya silika gel tidak turun sewaktu katup kolom
dibuka.
3) Timbang silika gel dengan jumalah 20-50 kali berat sampel yang
dipisahkan.
4) Setelah itu buat bubur silika dengan campuran pelarut n-heksana, aduk
sampai homogen.
5) Tuang dalam kolom dengan bantuan batang pengaduk kaca atau corong
kecil.biarkan pelarut yang digunakan menetes kebawah secara berulang
dan sambil diaduk dan diketukto-ketok.
6) Setelah permukaan silika dalam kolom rata, masukan sampel yang
sudah dipreabsorbsi dengan hati-hati, boleh menggunakan corong atau
diambl sedikit demi sedikit. Permuakaan silika tidak boleh dibiarkan
kering.
7) Setelah itu elusi kolom tersebut, dimulai dari pelarut nonpolar sampai
perut yang bersifat polar.
8) Tampung tetesan dalam vial-vial kecil sekitar 2/3 bagian vial, kemudian
biarkan menguap dalam vial tersebut.
9) Perhatikan pemisahan warna yang terjadi pada kolom dan amati juga
warna yang terdapat dalam vial-vial tersebut

3.3.6 Kromatografi Lapis Tipis Fraksi Senyawa

1) Persiapkan Camber dan tutupnya. Jenuhkan sekeliling dengan eluen


yang sesuai dan letakan kertas saring di bagian dinding camber.
2) Buat eluen tunggal atau perbandingan tertentu sebanyak 10 ml dan
masukan kedalam chamberm biarkan camber menjadi jenuh.
3) Perkirakan berapa vial dari hasil percobaan sebelumnya. Jika pelarut
pada vial tersebut telah kering, maka encerkan dengan pelarut yang
sesuai (jangan terlalu banyak pelarutnya).
4) Persiapkan plat KLT sesuai dengan ukuran dan jumlah totolan yang
akan diletakkan pada plat KLT. Buat garis tepi bawah dan tepi atas pada
plat KLT,tandai tempat totolan sampel.
5) Totolan sampel beberapa kali pada titik penotolan sehingga konsentrasi
yang cukup didapat, dimasukan kedalam camber. Kemudian lakukan
sampai pelarut naik pada garis tepi bagian atas plat.
6) Lihat noda yang terdapat pada plat KLT secara visual dan dibawah
lampu UV. Tandai dengan pensil noda yang dihasilkan.
7) Percobaan ini dilakukan untuk semua vial yang telah dihasilkan. Jika
terlalu banyak, maka penotolan boleh dilakukan terhadap vial dengan
jarak tertentu.
8) Lakukan gabungan tiap vial berdasarkan pola KLT yang didapat
sehingga nanti akan menghasilkan beberapa fraksi lagi.
9) Jika ada vial adanya pembentukan kristal pada dinding, lakukan pros
rekristalisasi

3.3.7 Pemurnian Senyawa Hasil Isolasi

1) Perhatikan vial-vial hasil kromatografikolom. Jika terdapat vial yang


memperlihatkan bentuknya kristal, namun belum murni/bersih, maka
lakukan proses rekristalisasi.
2) Ke dalam vial tersebut, tambahkan pelarut yang dapt melarutkannya dalam
jumlah sedikit mungkin.
3) Setelah itu, panaskan vial yang berisi pelarut tersebut dengan
menggunakan waterbath.
4) Setelah semua padatan larut, dalam keadaan panas, tambahkan pelarut
yang tidak ymelarutkan padatan dalam jumlah berlebih sampai terjadi
kejenuhan.
5) Jika terbentuk kabut saat ditambahkan pelarut kedua, maka proses
rekristalisasi sedang berlangsung.
6) Jika larutan kelihatan kotor, maka lakukan penyaringan sehingga
didapatkan larutan yang relatif bersih.
7) Biarkan larutan tersebut selama semalam, dan tutup dengan menggunakan
plastik dan diikat menggunakan karet.
8) Keesokan hari lihat, apakah terbentuk kristal atau tidak. Jika terbentuk
kristal, maka pisahkan dengan cara penyaringan.
9) Timbang jumlah kristal yang didapat.