Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN

KASUS

PANCOLITIS

Ni Nengah Tuti Arianthi

SMF Ilmu Penyakit Dalam

FKIK Universitas Warmadewa/ RSUD Sanjiwani Gianyar

PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada dua masalah, penyakit
menular masih merupakan masalah kesehatan yang belum terselesaikan, dan terjadi
peningkatan kasus penyakit-penyakit tidak menular yang banyak disebabkan oleh gaya hidup,
karena urbanisasi, moderinisasi, dan globalisasi.
Persentase dari angka kejadian gastritis di Indonesia menurut WHO adalah 40,8%. Angka
kejadian gastritis pada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274,396
kasus dari 238,452,952 jiwa penduduk. Kota Surabaya angka kejadian Gastritis sebesar
31,2%, Denpasar 46%, sedangkan di Medan angka kejadian infeksi cukup tinggi sebesar
91,6%. Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2009, gastritis merupakan salah satu
penyakit di dalam sepuluh terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia
dengan jumlah 30.154 kasus.
Gastritis adalah suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub mukosa lambung.
Gastritis merupakan gangguan kesehatan yang paling sering dijumpai, karena diagnosisnya
sering hanya berdasarkan gejala klinis bukan pemeriksaan histopatologi. Update Sydney
System membagi gastritis berdasarkan pada topografi, morfologi dan etiologi. Secara garis
besar gastritis dibagi menjadi tiga tipe yakni, monahopik, atropik dan bentuk khusus.
Penyebab gastritis antara lain, infeksi kumat Helicobacter Pylori, pemakaian NSAID yang
lama, autoimunitas, penggunaan antibiotika dan peminum alcohol yang lama. Akibatnya
adalah nyeri panas dan pedih pada uluhati, mual, muntah dan anoreksia. Dampak dari
keluhan tersebut apabila tidak ditanggulangi akan mengakibatkan terganggunya aktivitas
dalam kegiatan sehari-hari atau dapat menyebabkan berbagai komplikasi seperti perdarahan
gastrointestinal, ulkus duodenum, ulkus peptikum, bahkan adeno karsinoma.

Dengan demikian, pengetahuan mengenai diagnosis gastritis dan penanganan pada


kasus harus diketahui dan dimengerti.

KASUS
Seorang laki-laki inisial IWT umur 49 tahun, seorang buruh. Datang ke UGD RSUD
Sanjiwani Giayar dengan keluhan BAB cair. BAB cair dirasakan pasien sejak 1 bulan yang
lalu. BAB cair dan berisi darah pada pasien timbul mendadak. BAB cair pasien berwarna
hitam, berisi darah, lendir dan sedikit berbau amis. Pasien dalam sehari bisa frekuensi BAB
>10 kali dalam sehari dengan jumlah 250 cc. Pasien mengatakan fakor yang memperberat
BAB cair pasien jika pasien banyak melakukan aktivitas. BAB cair sedikit terjadi jika pasien
beristirahat. Sebelum terjadinya BAB cair dan berdarah, pasien mengatakan tidak pernah
makan sesuatu diluar rumah.
Pasien juga mengeluhkan nyeri pada perut saat BAB berisi darah. Nyeri perut dirasakan
pasien hilang timbul. Nyeri perut pada pasien dikatakan memberat jika pasien ingin BAB dan
membaik jika setelah BAB. Mual, muntah, kencing sedikit keruh dan pasien mengalami
penurunan berat badan 5 kg juga dikeluhkan pasien. Saat 7 hari sejak gejala muncul pasien
sempat berobat ke dokter tetapi karena tidak ada perubahan dan gejala yang dirasakan pasien
makin memberat dan akhirnya pasien pergi ke rumah sakit. Makan minum dikatakan pasien
menurun. Keluhan lain yang dirasakan pasien adalah nyeri pada lutut kanan dan kiri sudah
sejak 2 tahun yang lalu, nyeri dikatakan memberat ketika pasien berjalan. Pasien sudah
sempat ke dokter sejak lama untuk mengobati keluhannya namun belum membaik.
Pasien mengatakan tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya. Pasien tidak
pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Pasien memiliki riwayat penyakit asam urat sudah
2 tahun. Pasien biasanya mengkonsumsi obat yang pernah diberikan saat datang ke dokter
untuk mengobati keluhan nyeri pada kaknya. Saat obat habis pasien tidak pergi ke dokter lagi
dan menyusuh anaknya untuk membeli obat tersebut di apotek. Tetapi pasien tidak ingan
nama obat yang biasa dibelinya. Selain itu, pasien juga memiliki kebiasaan mengkonsumsi
jamu pegal linu yang dibelinya di warung dekat rumah kurang lebih selama 1 tahun. Riwayat
penyakit kronis seperti, hipertensi, diabetes mellitus, asma, dan jantung juga disangkal.
Keluarga pasien tidak ada mengalami keluhan serupa dengan pasien. Riwayat penyakit
kronis pada keluarga seperti, hipertensi, diabetes mellitus, asma, dan jantung juga disangkal.
Pasien tinggal bersama istri dan anaknya. Pasien bekerja sebagai buruh. Riwayat
mengkonsumsi alkohol pada saat masih muda. Pasien juga memiliki kebiasaan merokok yang
dalam sehari bisa menghabiskan 1 bungkus rokok. Dalam keseharian pasien makan dalam 3
kali sehari dengan jarak waktu yang panjang tanpa disetrai makan ringan pada saat waktu
luang pekerjaannnya. Kebiasaan pasien setiap harinya BAB di lakukan pasien di sungai. Saat
pasien mengalami BAB cair pasien juga masih BAB di sungai. Untuk kebiasaan mandi
pasien melakukannya di kamar mandi di rumahnya.
Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan di UGD pada tanggal 5 Mei 2016, ditemukan
kesan umum sakit sedang dengan kesadaran compos mentis. GCS ditemukan E4V5M6,
dengan tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 88 kali per menit, respirasi 20 kali per menit, suhu
axila 36C. Pada status general pada mata tidak tampak tanda anemia dan icterus. Telinga
hidung dan tenggorokan dalam batas normal, tonsil T1/T1. Pada leher ditemukan JVP 3
cmH2O, thorax simetris tanpa ada jejas, pada jantung suara S1S2 tunggal regular tanpa
murmur. Paru-paru suara vesikuler positif positif normal tanpa ada wheezing dan rhonki.
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan pada inspeksi tidak ditemukan distensi, auskultasi
bising usus positif meningkat, saat palpasi hepar lien tidak teraba dan pada perkusi timpani.
Sedangkan pada ekstemitas didapatkan akralnya hangat di keempat region dan tanpa edema.
Tidak dilakukannya pemeriksaan rectal tusse pada pasien.
Pada pemeriksaan penunjang yang dilakukan di UGD dari darah lengkap ditemukan
WBC 6,6 (N), lymph % 26,2 (N), gran % 64,6 (N), RBC 4,21 (N), HGB 12,6 (N), HCT 40,7
(N), MCV 84,6 (N), MCH 26,6 (N), MCHC 31,5 (N) dan PLT 303 (N). Pada pemeriksaan
elektrolit ditemukan Na 133 (N), K 4,0 (N), Cl 105 (N). Pemeriksaan GDA 124 (H), Ureum
31 (N), Creatinin 1.0 (N).
Dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, pasien didiagnosis kerja dengan gastritis
kronik IC (NR) dd IBD dd IBS dd amebiasis. Terapi yang diberikan pada saat pasien di IGD
adalah IVFD RL 30 tpm, pantopum 1x1 vial (iv), ciprofloxacin 2x1 fl (iv), metoclopramide
3x1 amp (iv) dan oralit tiap BAB. Setelah pasien diruangan direncanakan untuk dilakukannya
cek feses lengkap dan cek elektrolit.
Follow up yang di lakukan di ruangan pada tanggal 6 Mei 2016, pasien mengeluh bab cair
berisi darah dan nyeri pada perut. Tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 84 kali per menit,
respirasi 20 kali per menit, suhu axila 36,5C. Pada pemeriksaan elektrolit ditemukan Na 136
(N), K 2,4 (L), Cl 103 (N). Dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, pasien didiagnosis
kerja dengan gastritis kronik IC (NR) dd IBD dd IBS dd amebiasis. Terapi yang diberikan
pada saat di ruangan adalah IVFD RL 30 tpm, pantopum 1x1 vial (iv), ciprofloxacin 2x1 fl
(iv), metoclopramide 3x1 amp (iv) dan oralit tiap BAB. Rencanakan untuk dilakukannya cek
feses lengkap dan cek elektrolit.
Follow up yang di lakukan di ruangan pada tanggal 7 Mei 2016, pasien mengeluh bab cair
berisi darah dan nyeri pada perut. Tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 80 kali per menit,
respirasi 20 kali per menit, suhu axila 36 C. Pada pemeriksaan elektrolit ditemukan Na 135
(N), K 2,3 (L), Cl 103 (N). Dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, pasien didiagnosis
kerja dengan gastritis kronik IC (NR) dd IBD dd IBS dd amebiasis. Terapi yang diberikan
pada saat di ruangan adalah IVFD RL 30 tpm, ciprofloxacin 2x1 fl (iv), metoclopramide 3x1
amp (iv) k/p dan oralit tiap BAB. Rencanakan untuk dilakukannya cek feses lengkap dan cek
elektrolit.
Follow up yang di lakukan di ruangan pada tanggal 9 Mei 2016, pasien mengeluh bab cair
berisi darah dan nyeri pada perut. Tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 80 kali per menit,
respirasi 20 kali per menit, suhu axila 36 C. Pada pemeriksaan elektrolit ditemukan Na 136
(N), K 3,2 (L), Cl 105 (N). Dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, pasien didiagnosis
kerja dengan gastritis kronik IC (NR) dd IBD dd IBS dd amebiasis. Terapi yang diberikan
pada saat di ruangan adalah IVFD RL ditambah dengan KCL 25 gr diberikan 20 tpm,
metoclopramide 3x1 amp (iv) k/p , metronidazole 3x1 fl, sulfasalazin tab 3x1 dan oralit tiap
BAB. Rencanakan untuk dilakukannya, cek elektrolit dan kolonoskopi
Follow up yang di lakukan di ruangan pada tanggal 10 Mei 2016, pasien mengeluh bab
cair berisi darah dan nyeri pada perut, pasien mengeluh mual. Tekanan darah 100/60 mmHg,
nadi 80 kali per menit, respirasi 20 kali per menit, suhu axila 36 C. Pada pemeriksaan
penunjang yang dilakukan di ruangan dari darah lengkap ditemukan WBC 3,2 (L), lymph %
27,5 (N), gran % 55,8 (N), RBC 3,41 (L), HGB 8,3 (L), HCT 29,9 (L), MCV 87,6 (N), MCH
27,3 (N), MCHC 31,1 (L) dan PLT 270 (N). Pada pemeriksaan elektrolit ditemukan Na 135
(N), K 2,9 (L), Cl 104 (N). Dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, pasien didiagnosis
kerja dengan gastritis kronik IC (NR) dd IBD dd IBS dd amebiasis. Terapi yang diberikan
pada saat di ruangan adalah IVFD RL 30 tpm, metoclopramide 3x1 amp (iv) k/p ,
metronidazole 3x1 fl, sulfasalazin tab 3x1, pantopum 1x1 vial , KSR tab 1x1 dan oralit tiap
BAB. Rencanakan untuk dilakukannya kolonoskopi dan cek elektrolit.
Follow up yang di lakukan di ruangan pada tanggal 12 Mei 2016, pasien mengeluh bab
cair berisi darah dan nyeri pada perut. Tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 80 kali per menit,
respirasi 20 kali per menit, suhu axila 36 C. Dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang,
pasien didiagnosis kerja dengan gastritis kronik IC (NR) dd IBD dd IBS dd amebiasis. Terapi
yang diberikan pada saat di ruangan adalah IVFD RL 30 tpm, metoclopramide 3x1 amp (iv)
k/p , sulfasalazin tab 3x1, KSR tab 2x1 dan oralit tiap BAB. Transfusi PRC 2 kolf.
Rencanakan untuk dilakukannya, cek elektrolit dan kolonoskopi
Follow up yang di lakukan di ruangan pada tanggal 13 Mei 2016, pasien sudah tidak
mengeluh bab cair berisi darah dan nyeri pada perut. Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80
kali per menit, respirasi 20 kali per menit, suhu axila 36 C. Pada pemeriksaan elektrolit
ditemukan Na 139 (N), K 3,0 (L), Cl 104 (N). Dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang,
pasien didiagnosis kerja dengan gastritis kronik IC (NR) dd IBD dd IBS dd amebiasis. Terapi
yang diberikan pada saat di ruangan adalah IVFD RL 30 tpm, metoclopramide 3x1 amp (iv)
k/p , sulfasalazin tab 3x1, KSR tab 2x1 dan oralit tiap BAB. Transfusi PRC 2 kolf.
Rencanakan untuk dilakukannya, cek elektrolit dan kolonoskopi.
Follow up yang di lakukan di ruangan pada tanggal 14 Mei 2016, pasien sudah tidak
mengeluh bab cair berisi darah dan nyeri pada perut, pasie mengeluh mual. Tekanan darah
120/80 mmHg, nadi 80 kali per menit, respirasi 20 kali per menit, suhu axila 36 C. Pada
pemeriksaan penunjang yang dilakukan di ruangan dari darah lengkap ditemukan WBC 4,9
(N), lymph % 38,8 (N), gran % 50,1 (N), RBC 4,02 (N), HGB 11,2 (N), HCT 33,1 (L), MCV
82,4 (N), MCH 27,9 (N), MCHC 33,8 (N) dan PLT 288 (N). Dari hasil pemeriksaan fisik dan
penunjang, pasien didiagnosis kerja dengan gastritis kronik IC (NR) dd IBD dd IBS dd
amebiasis. Terapi yang diberikan pada saat di ruangan adalah IVFD RL 30 tpm, KSR tab 2x1,
sulfasalazin tab 3x1. Rencanakan untuk dilakukannya, cek darah lengkap, cek elektrolit dan
kolonoskopi.
Follow up yang di lakukan di ruangan pada tanggal 15 Mei 2016, pasien sudah tidak
mengeluh bab cair berisi darah dan nyeri pada perut, paien mengeluh mual. Tekanan darah
110/70 mmHg, nadi 80 kali per menit, respirasi 20 kali per menit, suhu axila 36,2 C. Dari
hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, pasien didiagnosis kerja dengan gastritis kronik IC
(NR) dd IBD dd IBS dd amebiasis. Terapi yang diberikan pada saat di ruangan adalah IVFD
RL 30 tpm, KSR tab 2x1, sulfasalazin tab 3x1. Rencanakan untuk dilakukannya cek elektrolit
dan kolonoskopi.
Follow up yang di lakukan di ruangan pada tanggal 16 Mei 2016, pasien sudah tidak
mengeluh bab cair berisi darah dan nyeri pada perut, paien mengeluh mual. Tekanan darah
100/70 mmHg, nadi 80 kali per menit, respirasi 20 kali per menit, suhu axila 36,5 C. Pada
pemeriksaan elektrolit ditemukan Na 145 (N), K 2,6 (L), Cl 114 (N). Dilakukannya tindakan
kolonoskopi dan hasil dari tindakan tersebut kesan pankolitis. Dari hasil pemeriksaan fisik
dan penunjang, pasien didiagnosis kerja dengan pankolitis. Terapi yang diberikan pada saat di
ruangan adalah IVFD RL 30 tpm, KSR tab 2x1, sulfasalazin tab 3x1, pantopum 1x1 vial,
antasida syrup 3xC1, metronidazole 3x1 fl.
Follow up yang di lakukan di ruangan pada tanggal 17 Mei 2016, pasien sudah tidak
mengeluh bab cair berisi darah, nyeri pada perut, dan mual, makan minum baik dikatakan
pasien. Tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 80 kali per menit, respirasi 20 kali per menit, suhu
axila 36,2 C. Dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, pasien didiagnosis kerja dengan
pankolitis. Terapi yang diberikan pada saat di ruangan adalah IVFD RL 30 tpm, KSR tab 2x1,
sulfasalazin tab 3x1, pantopum 1x1 vial, antasida syrup 3xC1, metronidazole 3x1 fl.
Follow up yang di lakukan di ruangan pada tanggal 18 Mei 2016, pasien sudah tidak
mengeluh bab cair berisi darah, nyeri pada perut, dan mual, makan minum baik dikatakan
pasien. Tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 80 kali per menit, respirasi 20 kali per menit, suhu
axila 36 C. Dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, pasien didiagnosis kerja dengan
pankolitis. Terapi yang diberikan pada saat di ruangan adalah IVFD RL 30 tpm, KSR tab 2x1,
sulfasalazin tab 3x1, pantopum 1x1 vial, antasida syrup 3xC1, metronidazole 3x1 fl. Karena
keadaan umum pasien sudah membaik, pasien diijinkan untuk pulang dan rawat jalan.

PEMBAHASAN
Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah penyakit inflamasi yang melibatkan saluran cerna
dengan penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui jelas. IBD terdiri dari 3 jenis, yaitu
Kolitis Ulseratif (KU), Penyakit Crohn (PC), dan bila sulit membedakan kedua hal tersebut,
maka dimasukan dalam kategori Indeterminate Colitis. Kolitis ulseratif merupakan penyakit
inflamasi dengan ulserasi hanya terbatas pada kolon dan mengenai mukosa serta submukosa.
Penyakit Crohn adalah penyakit radang transmural dari mukosa saluran cerna yang dapat
mempengaruhi seluruh saluran pencernaan dari mulut ke anus.
Pankolitis adalah bentuk keparahan dari kolitis ulseratif. Inflamasi yang terjadi yang
terbatas pada rectum disebut proktitis, terbatas pada rectum dan kolon sigmoid disebut
proctosigmoiditis. Inflamasi yang lebih luas kolon bagian kiri hingga splenic flexure, kolon
yang lebih luas hingga hepatic flexure dan mengenai seluruh bagian kolon disebut pankolitis.
Perbandingan insiden antara laki-laki dan perempuan hampir sama untuk kolitis ulseratif
(KU) dan penyakit crohn (PC). Kedua tipe IBD ini paling sering didiagnosa pada orang-orang
berusia dewasa muda. Insiden paling tinggi dan mencapai puncaknya pada usia 15-40 tahun,
kemudian baru yang berusia 55-65 tahun. Pada kasus ini pasien laki-laki berusia 49 tahun
berisiko terjadinya pankolitis.
Pankolitis adalah jenis gangguan inflamasi usus (IBD) yang mempengaruhi seluruh
lapisan kolon. Penyebab pasti dari inflamasi ini tidak diketahui tetapi berhubungan dengan
sel-sel kekebalan pelindung yang hadir pada usus. Sistem kekebalan tubuh melawan zat
berbahaya seperti, bakteri dan virus yang melewati usus. Pada IBD tampak bahwa ada
pemicu awal seperti infeksi atau faktor lingkungan sekitar yang mengaktifkan sistem
kekebalan tubuh. Akibat dari malafungsi dari sistem kekebalan tubuh menyebabkan
peradangan yang tidak terkendali dan menyerang sel-sel usus normal. Namun belum
diketahui apa penyebab kekeliruan sistem imun tubuh.
Adapun faktor risiko antara lain, (1) pada orang perokok, tetapi efek yang tepat dari
merokok pada saluran cerna dan risiko IBD tidak dipahami dengan baik. (2) Risiko genetik
menyebabkan 10-20% pasien IBD. (3) Penggunaan obat non steroid anti inflamasi (NSAID)
dan antibiotika. (4) Gaya hidup dan diet. Pada anamnesis kasus pasien mengatakan memiliki
kebiasaan BAB di sungai setiap harinya. Pasien mempunyai riwayat asam urat sejak 2 tahun
dan mempunyai kebiasaan menggunakan obat untuk mengurangi rasa nyeri pada kakinya.
Pasien juga mengatakan memiliki kebiasaan minum jamu pegal linu yang dibelinya di
warung sejak 1 tahun yang lalu.
Gejala pankolitis mirip dengan kolitis ulseratif tetapi lebih parah dan mempengaruhi
seluruh kolon. Secara umum, keluhan berupa diare kronik dengan darah, nyeri perut,
hematokezia, penurunan berat badan, malaise, anemi, demam, gangguan nutrisi dan adanya
keterlibatan terhadap rektum. Pada kasus pasien memiliki gejala diare yang berlangsung lebih
dari 2 minggu dan disertai darah berwarna merah segar, BAB berwarna kehitaman, nyeri
perut terutama pada saat ingin BAB, terjadinya penurunan berat badan 5 kg selama 3 minggu
dan pasien juga mengeluh makan dan minum menurun.
Diagnosis didasarkan pada : (1) Anamnesis yang akurat mengenai adanya perjalanan
penyakit diare berdarah, nyeri perut, penggunaan obat-obatan, merokok, nutrisi dan riwayat
keluarga. Pada anamnesis harus mencakup juga frekuensi tinja dan konsistensi, buang air
besar yang tidak tertahankan, pendarahan anus, nyeri abdomen, malaise, demam dan
penurunan berat badan (2) Pemeriksaan fisik meliputi vital sign dan keadaan umum seperti,
denyut nadi (biasa ditemukan takikardi), tekanan darah (biasa ditemukan hipotensi), suhu
(kadang bisa demam), memeriksa tanda anemia, kekurangan cairan, penurunan berat badan,
nyeri perut, nyeri tekan epigastrium, distensi, massa teraba, dan pemeriksaan perineum. (3)
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan seperti laboratorium tidak ada parameter
laboratorium yang spesifik untuk IBD. Temuan laboratorium seringkali nonspesifik dan
mencerminkan derajat dan beratnya perdarahan dan inflamasi. Bisa terdapat anemia yang
mencerminkan penyakit kronik serta defisiensi besi akibat kehilangan darah kronik.
Leukositosis dengan peningkatan laju endap darah seringkali terlihat pada pasien demam
yang sakit berat. Kelainan elektrolit, terutama hipokalemia, mencerminkan derajat diare.
Hipoalbuminemia umum terjadi dengan penyakit yang ekstensif dan biasanya mewakili
hilangnya protein lumen melalui mukosa yang berulserasi. Pada pemeriksaan fese lengkap
ditemukan sumber penyebab diare seperti, bakteri atau parasit. Lalu terdapat juga jumlah
eritrosit 20 mm/h. (4) Temuan endoskopi yang karateristik dan didukung konfirmasi
histopatologi. Untuk kasus KU, colonoscopy ke ileum terminal untuk menentukan luas dan
lokasi penyakit yang tepat. (5) Temuan radiologi yang khas. (6) Pemantauan perjalanan klinik
pasien.
Pada kasus pasien saat anamnesis dilakukan pasien mengelukan BAB cair dan berisi
darah sudah lebih 2 minggu dalam sehari pasien bisa BAB cair dengan darah sebanyak 10
kali dalam sehari, nyeri perut, nyeri epigastrium dan perut terasa kembung, mual, pasien juga
mengeluh rasa pahit di mulut sehingga tidak enak makan dan penurunan berat badan,dan
pasien mengalami lesu. Pada pemeriksaan vital sign denyut nadi pasien dalam keadaan
normal (88 kali per menit), tekanan darah pasien mengalami hipotensi (90/60 mmHg), suhu
normal (36C), saat pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda anemia, adanya tanda dehidrasi
seperti, terjadinya penurunan tekanan darah, kapilari refill yang sedikit memanjang, turgor
kulit menurun, keluarnya urin sedikit, terdapatnya penurunan berat badan, nyeri perut. Pada
pemeriksaan penunjang dari hasil laboratorium pada tanggal 5/5/2016 hemoglobin pasien
12,6 g/dL dan pada tanggal 10/2/2016 hemoglobin pasien 8,3 g/dL. Pada pemeriksaan
elektrolit terjadinya hypokalemia. Pada pemeriksaan feses lengkapditemukan leukosit yang
banyak dan eritrosit 8-13 yang menandakan. Pada tindakan kolonoskopi ditemukan kesan
pankolitis. Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
pasien didiagnosis dengan pankolitis.
Fokus utama rencana terapeutik adalah upaya penghambatan kaskade proses inflamasi
jika tidak dapat dihilangkan sama sekali. Secara umum, prinsip terapi IBD adalah (1)
mengobati peradangan aktif IBD dengan cepat hingga tercapai remisi; (2) mencegah
peradangan berulang dengan mempertahankan remisi selama mungkin; dan (3) mengobati
serta mencegah komplikasi. Melakukan tindakan endoskopi atau kolonoskopi. 4) Tindakan
bedah dipertimbangkan pada tahap terakhir jika medikamentosa gagal atau jika terjadi
komplikasi yang tidak teratasi misalnya perforasi usus, perdarahan persisten, stenosis usus
fibrotik, obstruksi, degenerasi maligna ataupun megakolon toksik yang sering terjadi pada
KU.
Pasien IBD memiliki gejala seperti diare, spasme atau nyeri, ketidaknyamanan
epigastrium, maka diberikan obat-obatan seperti antidiare, antispasmodic, pereda asam
lambung. Loperamide dan kombinasi antara diphenoxylate dan atropine berguna untuk
penyakit yang ringan dengan tujuan mengurangi pergerakan usus dan urgensi rektum. Terapi
antikholinergik dicyclomide dapat membantu mengurangi spasme intestinal. Obat-obatan ini
bukan tanpa komplikasi, dan harus hati-hati penggunaannya. Antidiare dan antikholinergik
harus dihindari untuk penyakit akut yang parah, karena obat-obat ini dapat mencetuskan
terjadinya megakolon toksik. Hindari juga penggunaan narkotik dalam waktu jangka panjang
untuk penatalaksanaan nyerinya. Suplemen zat besi perlu ditambahkan jika terdapat
perdarahan rektum yang signifikan. Pemberian antibiotika misalnya metronidazole dosis
terbagi 1500 300 mg per hari dikatakan cukup bermanfaat menurunkan derajat aktivitas
penyakit.
Dua golongan obat yang dikenal luas untuk mengobati radang aktif IBD bertujuan
menginduksi remisi secepat mungkin adalah kortikosteroid dan asam amino salisilat. Hingga
saat ini, obat golongan glukokortikoid masih merupakan obat pilihan untuk IBD derajat
sedang dan berat dalam fase peradangan aktif. Pemilihan obat steroid konvensional, seperti
prednison, metilprednisolon ataupun steroid enema, masih menjadi primadona karena harga
yang murah dan ketersediaan yang luas. Dosis umumnya adalah setara 40 60 mg prednison.
Namun, jangan dilupakan efek sistemik obat-obatan ini. Idealnya, dicapai kadar steroid yang
tinggi pada dinding usus namun dengan efek sistemik yang rendah.
Obat yang sudah lama dan banyak digunakan dalam pengobatan IBD adalah preparat
sulfasalazin yang merupakan gabungan sulpiridin dan aminosalisilat dalam ikatan azo. Pada
sekarang ini preparat 5-asam aminosalisilat (5-ASA) atau mesalazine saat ini lebibih disukai
dari preparat sulfasalazine karena efek sampingnya lebih kecil meski efektivitasnya relative
sama. Pada pankolitis obat yang dianjurkan adalah 5-ASA enema atau p.o (2-4 g/d, 2-3 x/d)
atau 5-ASA suppositories (3x500 mg/d) dengan remission 5-ASA (1,5-3 g/d).
Obat golongan imunosupresif ini dipakai bila dengan 5-ASA dan kortikosteroid gagal
mencapai remisi. Obat golongan ini seperti, azatioprin, 6-merkaptopurin, siklosporin, dan
metotreksat. Peran surgical bila pengobatan konservatif/medikamentosa gagal atau terjadinya
komplikasi seperti obstruksi ataupun megakolon toksik.
Pada kasus penanganan awal pasien diberikan RL 30 tpm, pantopum 1x1 vial,
ciprofloxacin 2x1 fl, metoclopramide 3x1 amp dan olarit. Kemudian terapi selanjutnya RL 30
tpm, KSR tab 1x1, metronidazole 3x1 fl, sulfasalazin tab 3x1, pantopum 1x1, oralit.
Kemudian, setelah di lakukan pemeriksaan darah lengkap kembali didapatkan HB 8,3
dilakukan transfusi PRC 2 kolf. Kemudian dilakukan tindakan kolonoskopi dengan hasil
kesan pankolitis kemudian diperikan terapi IVFD RL 30 tpm, KSR tab 2x1, sulfasalazin tab
3x1, pantopum 1x1 vial, antasida syrup 3xC1, metronidazole 3x1 fl.
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA