Anda di halaman 1dari 10

PSIKODIAGNOSTIK 2

(OBSERVASI)

Kelompok

Roza Elmanika Putri


Rahmadianti
Dinda Fitri Anisa
Nurfadillah

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak-anak pada zaman sekarang tidak asing lagi dengan gadget dan juga
media-media yang berhubungan dengan internet. Yangmana pada gadget tersebut
dapat dengan mudahnya anak melihat berbagai macam bentuk benda dan warna,
hal ini dapat mudah didapatkan dengan internet, game dansosial media dan
komunikasi. Terlebih lagi pada era sekarang ini, anak-anak dituntut untuk
memiliki kemampuan berfikir yang baik untuk dapat memiliki pengetahuan yang
luas selain sikap yang baik.
Visual-spasial adalah individu yang berfikir dalam gambar dari pada kata-
kata (Silverman,LK. 2002). Kecerdasan Visual-Spasial meliputi kemampuan
untuk memahami dan menguasai relasi benda dalam ruang serta visualisasi grafis
serta manipulasi mental terhadap benda-benda. (Al Arif. 2004). Menurut Gardner
dalam Musfiroh (2008:4.4); komponen inti dari kecerdasan visual spasial adalah
kepekaan pada garis, warna, bentuk, ruang, keseimbangan, bayangan, harmoni,
pola, dan hubungan antar unsur tersebut. Jadi Kemampuan visual-spasial adalah
individu yang berfikir dalam bentuk gambar meliputi kemampuan untuk
memahami dan menguasai relasi benda dalam ruang terhadap kepekaan pada
garis, warna, bentuk, keseimbangan, bayangan, harmoni, pola, dan hubungan
antar unsur tersebut.
Aspek dari Hubungan keruangan (Spasial relation) antara lain
ialahHubungan keruangan (Spasial relation), Diskriminasi Visual (Visual
discrimination), Diskriminasi Bentuk dan latar belakang (figure-ground
discrimination), Visual Clouser, danMengenal Objek (Object recognition).
Jean piaget menamakan masa kanak-kanak awal mulai usia 2 sampai 7
tahun, sebagai tahap praoperasional, karena anak-anak belum siap untuk terlibat
dalam operasi atau manupilasi mental yang mensyaratkan pemikiran logis. Tahap
praoperasional dalam teori piaget adalah tahap utama yang kedua perkembangan
kognitif dimana anak-anak semakin kompleks dalam menggunakan pemikiran
simbolis tetapi belum mampu menggunakan pemikiran logis. Karakteristik
perkembangan pada tahap perkembangan kognitif yang kedua adalah perluasan
penggunaan pemikiran simbolis, atau kemampuan representasional, yang pertama
kali muncul pada akhir tahap sensorimotor. Kemajuan dalam pemikiran simbolis
diikuti dengan pertumbuhan pemahaman akan ruang, kuasalitas, identitas,
kategorisasi, dan angka. Fungsi simbolik istilah dari teori piaget ialah untuk
kemampuan menggunakan representasi mental (kata, angka, atau gambar) sebagai
tempat anak melekatkan makna. (Papalia, 2008).
Berdasarkan uraian diatas, kami tertarik untuk melihat sejauhmana
kemampuan anak yang kami teliti menggunakan game matching shape untuk
mengukur kemampuan kognitifnya. Yang manadari rentang usia 2 tahun sampai 7
tahun penelitian memilih usia yang sama yaitu 6 tahun pada saat penelitian.
Karena itu kami memberi judul penelitian kami ini ialah Efektifitas Permainan
Maching Shapes untuk Meningkatkan Kemampuan Visual Spasial pada Anak Usia
6 Tahun

B. Tujuan Penelitian
Untuk melihat peningkatan perkembangan visual spasial pada anak usia 5 - 6
tahun melalui permainan maching shapes.

C. Manfaat penelitian
1) Manfaat teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan
apakah matching shape dapat meningkatkan visual spasial anak usia 5-6
tahun, dan mengetahui tingkat kemampuan kognitif anak
2) Manfaat praktis
Untuk meningkatkan kemampuan spasial anak, dan dapat
mengembangkan kognitif anak.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Konstruk
Kemampuan visual-spasial anak usia 5- 6 tahun

B. Prinsip 5WH dalam observasi

a. What : Kemampuan Visual-Spasial


b. Who (Subjek) : Anak Usia 5-6 tahun
c. Who (Obsvr) : Non-Partisipan
d. Where : Laboratorium Perkembangan
e. How : Check List
f. When : Pencatatan Langsung

C. Tujuan Observasit

Untuk mengetahui pemahaman, pemprosesan, dan berfikir anak dalam


bentuk visual mengenai bentuk gambar dan pola, garis bentuk ruang dan
hubungannya, warna-warna, dan tekstur.

D. Defenisi Konseptual

Pengertian Kecerdasan

Menurut Gardner (Suyardi,2009) kecerdasan yang sesungguhnya ialah


kecerdasan yang difungsikan sebagai problem solver berbagai masalah kehidupan.
Menurut Gardner (Ali,2003) kecerdasan memiliki tiga komponen yaitu
kemampuan memecahkan suatu masalah, kemampuan untuk menciptakan
masalah baru untuk dipecahkan, kemampuan untuk menciptakan sesuatu.
Menurut Busthomi (2012) kecerdasan sebagi suatu kemampuan untuk
memahami informasi yang membantu pengetahuan dan kesadaran sebagai
kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah yang dihadapi dapat
dipecahkan dan pengetahuan bertambah. Pengertian Kecerdasan Visual Spasial

Pengertian Visual-spasial
Visual-spasial adalah individu yang berfikir dalam gambar dari pada kata-
kata. (Silverman,LK. 2002)
Ali (2003: 123) kecerdasan visual-spasial adalah kumpulan dari berbagai
keahlian yang saling berkaitan, keahlian ini meliputi kemampuan membedakan
secara visual mengenali bentuk dan warna, gambaran mental, daya pikir ruang,
manipulasi gambar dan duplikasi gambar baik yang berasal dari dalam diri (secara
mental) maupun yang berasal dari luar.
Menurut Armstrong dalam Musfiroh, (2008: 1.15) kecerdasan visual-
spasial ditandai dengan kepekaan mempersepsi secara akurat dan
mentransformasi persepsi awal, seseorang yang memiliki kecerdasan ini
cenderung menyukai bangunan, apresiasi seni, desain, dan efektif dalam membuat
koordinasi warna, membuat bentuk, menciptakan serta dapat membayangkan
secara detil benda-benda, dan juga seorang yang cenderung memliki kecerdasan
visual-spasial suka melukis, membuat sketsa, bermain game ruang, berpikir dalam
image atau bentuk.
Kecerdasan Visual-Spasial meliputi kemampuan untuk memahami dan
menguasai relasi benda dalam ruang serta visualisasi grafis serta manipulasi
mental terhadap benda-benda. (Al Arif. 2004)
Menurut Gardner dalam Musfiroh (2008:4.4); komponen inti dari
kecerdasan visual spasial adalah kepekaan pada garis, warna, bentuk, ruang,
keseimbangan, bayangan, harmoni, pola, dan hubungan antar unsur tersebut.
Komponen lainnya adalah kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide
secara visual dan spasial, dan mengorientasikan diri secara tepat. Komponen inti
dari kecerdasan visual spasial benar-benar bertumpu pada ketajaman melihat dan
ketelitian pengamatan. Untuk mengembangkan kecerdasan anak lebih efektif dan
efisien pada usia dini karena salah satu indikator perkembangan kecerdasan visual
spasial pada usia 5-6 tahun yaitu mampu melihat bangun geometri.

Perkembangan Anak

Masa kanak-kanak awal ( early childhood ) adalah periode perkembangan


yang dimulai dari akhir masa bayi hingga usia 5 atau 6 tahun. Periode ini kadanga
kala disebut sebagai tahun-tahun prasekolah. Selama masa ini, anak-anak kecil
belajar untu lebih mandiri dan merawat dirinya sendiri, mengembangkan sejumlah
keterampilan kesiapan sekolah ( mengikuti instruksi, mengenali huruf ), dan
meluangkan banyak waktu untuk bermain dengan kawan-kawan sebaya. Di
sekolah, kelas satu biasanya manandai berakhirnya masa kanak-kanak awal
(Santrock, 2012).
Preschoolers have a rudimentary understanding of whats going on but mostly
know that theyre in a strange, scary environment. Read stories to the child about
doctors and hospitals (the hospitals Child Life program may have books
available). Take favorite toys, blankets, or stuffed animals ( Smith, 2011 )
Jean piaget menamakan masa kanak-kanak awal, dari sekitar usia 2 sampai 7
tahun, sebagai tahap praoperasional, karena anak-anak belum siap untuk terlibat
dalam operasi atau manupilasi mental yang mensyaratkan pemikiran logis. Tahap
praoperasional dalam teori piaget adalah tahap utama yang kedua perkembangan
kognitif dimana anak-anak semakin kompleks dalam menggunakan pemikiran
simbolis tetapi belum mampu menggunakan pemikiran simbolis tetapi belum
mampu menggunakan pemikiran logis. Karakteristik perkembangan dalam tahap
utama kedua perkembangan kognitif adalah perluasan penggunaan pemikiran
simbolis, atau kemampuan representasional, yang pertama kali muncul pada akhir
tahan sensorimotor. Kemajuan dalam pemikiran simbolis diikuti oleh
pertumbuhan pemahaman akan ruang, kuasalitas, identitas, kategorisasi, dan
angka. Fungsi simbolik istilah dari teori piaget ialah untuk kemampuan
menggunakan representasi mental (kata, angka, atau gambar) sebagai tempat anak
melekatkan makna. (Papalia, 2008).

E. Definisi Operasional

Kemampuan visual-spasial adalah individu yang berfikir dalam bentuk


gambar meliputi kemampuan untuk memahami dan menguasai relasi benda dalam
ruang terhadap kepekaan pada garis, warna, bentuk, keseimbangan, bayangan,
harmoni, pola, dan hubungan antar unsur tersebut.

F. Dimensi
Dimensi dari visual-spasial adalah sebagai berikut:
A. Hubungan keruangan (Spasial relation)
Menunjukkan persepsi tentang posisi berbagai objek dalam ruang.
Dimensi fungsi visual ini mengimplikasikan persepsi tentang suatu objek atau
symbol (gambar, huruf, dan angka) dan hubungan ruangan yang menyatu dengan
sekitarnya.
B. Diskriminasi Visual (Visual discrimination)
Menunjukkan pada kemampuan membedakan suatu objek dari objek yang
lain. Dalam tes kesiapan belajar misalnya anak diminta menemukan gambar
kelinci yang bertelinga satu dari sederetan gambar kelinci yang bertelinga dua.
Jika anak diminta untuk membedakan antara huruf m dan n, anak harus
mengetahui jumlah bongkol pada tiap huruf tersebut.
C. Diskriminasi Bentuk dan latar belakang (figure-ground
discrimination)
Menunjuk pada kemampuan membedakan suatu objek dari latar belakang
yang mengelilinginya. Anak yang memiliki kekurangan dalam bidang ini tidak
dapat memusatkan perhatian pada suatu objek karena sekeliling objek tersebut
ikut mempengaruhi perhatiannya, akibatnya dari keadaan semacam itu anak
menjadi terkecoh perhatiannya oleh berbagai rangsangan yang berada disekitar
objek yang harus diperhatikan.
D. Visual Clouser
Menunjuk pada kemampuan mengingat dan mengidentifikasi suatu objek,
meskipun objek tersebut tidak diperhatikan secara keseluruhan.
E. Mengenal Objek (Object recognition)
Menunjuk pada kemampuan mengenal sifat berbagai objek pada saat
mereka memandang. Pengenalan tersebut mencakup berbagai bentuk geometri,
hewan, huruf, angka, kata, dan sebagainya.
G. Blueprint

NO ASPEK INDIKATOR PERILAKU YANG DIAMATI

1 Hubungan keruangan persepsi tentang posisi objek Anak dapat mengetahui letak suatu objek di dalam sebuah ruangan
(Spasial relation) dalam ruang Anak dapat mengetahui

.hubungan ruangan dengan Anak dapat mengetahui hubungan ruangan dengan benda-benda yang ada di
benda sekitarnya sekitar ruangan

2 Diskriminasi Visual kemampuan membedakan suatu Anak dapat mencari perbedaan antara satu objek dengan objek yang lain
(Visual discrimination) objek dari objek yang lain Anak dapat membedakan

kemampuan membedakan dua Anak dapat mencari perbedaan dari dua objek yang sama
objek yang sama Anak dapat melihat perbedaan dari dua objek yang sama

3 Diskriminasi Bentuk dan kemampuan membedakan suatu Anak dapat membedakan suatu objek dari latar belakang yang
latar belakang (figure- objek dari latar belakang yang mengelilinginya
ground discrimination) mengelilinginya Anak dapat memusatkan perhatian terhadap suatu objek dari latar belakang
yang mengelilinginya.
Anak tidak terkecoh perhatiannya oleh berbagai rangsangan dengan latar
belakang yang mengelilinginya.
kemampuan mengetahui suatu Anak dapat mengetahui suatu objek dengan berbagai objek lain disekitarnya
objek dalam berbagai objek di
sekitarnya

4 Visual Clouser mengingat suatu objek Anak dapat mengingat suatu objek meskipun tidak diperhatikan keseluruhan
objek
Anak dapat mengingat suatu objek meskipun hanya

mengidentifikasi suatu objek Anak dapat mengidentifikasi objek yang dilihat

5 Mengenal Objek (Object mengenal sifat berbagai objek


recognition) yang dilihat

mengenal fungsi objek


DAFTAR ISI

Al arif, 2004. Cara praktis mengembangkan otak anak. Malang


Musfiroh, Tadkiroatun. Cerdas Melalui Bermain. Jakarta. PT. Gramedia, 2008.
Papalia, E. Diane. (2008). Human development: psikologi perkembangan. Jakarta.
Kencana
Santrock, Jhon W. 2012. Life Span Development : Perkembangan Masa
Hidup Edisi Ketigabelas Jilid I. Jakarta : Erlangga
Silverman, L.K. (2002). Upside-down brilliance: The visual-spatial learner.
Denver:DeLeon.
Smith, Laura L., Elliott, Charles H. 2011. Child Psychology & Development for
Dummies. USA : Wiley Publishing.