Anda di halaman 1dari 5

FLUOR ALBUS

No. Kode : 440/ /VII/PKMS/2014 Ditetapkan Oleh Kepala


Puskesmas
SPO Terbitan :01

No. Revisi :0

PUSKESMAS Tgl. Mulai Berlaku : 15 Juli 2014


REVA LINDA, S.Kep
SEMERAP Halaman : 1/4 Nip19830314 200502 2 002

1. Pengertian Fluor Albus adalah keluarnya duh tubuh dari vagina baik secara fisiologis
maupun patologis.Secara fisiologis fluor albus bisa terjadi karena perubahan
hormonal sesuai dengan siklus menstruasi. Cairan kental dan lengket pada
seluruh siklus namun lebih cair dan bening ketika terjadi ovulasi. Masih dalam
batas normal bila duh tubuh vagina lebih banyak terjadi pada saat stres emosi,
kehamilan atau aktivitas seksual. Fluor albus yang patologis bila terjadi
perubahan pada warna, konsistensi, volume, dan baunya.

2. Tujuan Sebagai Pedoman kerja Petugas dalam memberikan pelayanan pada pasien
dalam penatalaksanaan kasus fluor Albus

3. Kebijakan 1. Keputusan Kepala Puskesmas No: 440/ /VI/PKMS/2015 jenis pelayanan


yang ada di puskesmas semerap.
2. Keputusan Kepala Puskesmas No: 440/ /VI/PKMS/2015 tentang aturan
perilaku dalam pelayanan.
3. Keputusan Kepala Puskesmas No: 440/ /VI/PKMS/2015 tentang
kebijakan pelayanan klinis.
4. Referensi 1. Permenkes no 75 Tahun 2014 Tentang Puskesmas
2. Permenpan no 16 Tahun 2014 tentang Pedoman Survei Kepuasaan
Masyarakat terhadap Penyelenggaraan Pelayanan Publik
3. Pedoman penyusunan bahan akreditasi FKTP
4. Pedoman pelayanan di tingkat Puskesmas
5. Alat dan Bahan Ginecology bed
Spekulum vagina
Lampu
Kertas lakmus
FLUOR ALBUS
No. Kode : 440/ /VII/PKMS/2014 Ditetapkan Oleh Kepala
Puskesmas
SPO Terbitan :01

No. Revisi :0

PUSKESMAS Tgl. Mulai Berlaku : 15 Juli 2014


REVA LINDA, S.Kep
SEMERAP Halaman : 1/4 Nip19830314 200502 2 002

6. Prosedur 1. Dokter menegakkan diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan


spekulum, palpasi bimanual, uji pH duh vagina dan swab (bila diperlukan)
Anamnesis
Keluhan pasien
a. Biasanya terjadi pada daerah genitalia perempuan yang berusia diatas 12
tahun, ditandai dengan adanya perubahan pada duh tubuh disertai salah
satu atau lebih gejala rasa gatal, nyeri, disuria nyeri panggul, perdarahan
antar menstruasi atau perdarahan pasca-koitus.

b. Terdapat riwayat koitus dengan pasangan yang dicurigai menularkan


penyakit menular seksual.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana
(Objective)
Penyebab Discharge terbagi menjadi masalah infeksi dan non infeksi.
Masalah non infeksi dapat karena benda asing, peradangan akibat alergi atau
iritasi, tumor, vaginitis atropik, atau prolaps uteri, sedangkan masalah infeksi
dapat disebabkan oleh bakteri, jamur atau virus seperti berikut ini:
a. Kandidiasis vaginitis, disebabkan oleh Candida Albicans, duh tubuh tidak
berbau, pH < 4,5 , terdapat eritema vagina dan eritema satelit di luar vagina
b. Vaginosis bakterial (pertumbuhan bakteri anaerob, biasanya Gardnerella
vaginalis), memperlihatkan adanya duh putih/abu-abu yang melekat
disepanjang dinding vagina dan vulva, berbau amis dengan pH > 4.5
c. Cervisitis yang disebabkan oleh chlamydia, dengan gejala inflamasi serviks
yang mudah berdarah dan disertai duh mukopurulen
d. Trichomoniasis, seringkali asimtomatik, kalau bergejala, tampak duh
kuning kehijauan, duh berbuih, bau amis dan pH > 4,5
e. Pelvic inflammatory disease (PID) yang disebabkan oleh Chlamydia,
ditandai dengan nyeri abdomen bawah, dengan atau tanpa demam.
f. Servisitis bisa ditandai dengan kekakuan adneksa dan serviks
g. nyeri angkat palpasi bimanual.
h. Liken planus
i. Gonore
j. Infeksi menular seksual lainnya
k. Atau adanya benda asing (misalnya tampon atau kondom yang terlupa
(diangkat)
l. Periksa klinis dengan seksama untuk menyingkirkan adanya kelainan
patologis yang lebih serius.
m. Pasien yang memiliki risiko tinggi penyakit menular seksual sebaiknya
ditawarkan untuk diperiksa Chlamydia, gonorrhoea, sifilis dan HIV.
n. Swab vagina atas (high vaginal swab) tidak terlalu berarti untuk diperiksa,
kecuali pada keadaan keraguan menegakkan diagnosis, gejala kambuh,
FLUOR ALBUS
No. Kode : 440/ /VII/PKMS/2014 Ditetapkan Oleh Kepala
Puskesmas
SPO Terbitan :01

No. Revisi :0

PUSKESMAS Tgl. Mulai Berlaku : 15 Juli 2014


REVA LINDA, S.Kep
SEMERAP Halaman : 1/4 Nip19830314 200502 2 002

o. pengobatan gagal, atau pada saat kehamilan, post partum, post aborsi dan
post instrumentation.

2. Dokter memberikan penatalaksanaan dimana pasien dengan riwayat risiko


rendah penyakit menular seksual dapat diobati sesuai dengan gejala dan
arah diagnosisnya.
Vaginosis bakterial:
a. Metronidazole atau Clindamycin secara oral atau per vaginam.
b. Tidak perlu pemeriksaan silang dengan pasangan pria.
c. Bila sedang hamil atau menyusui gunakan metronidazole 400 mg 2x sehari
untuk 5-7 hari atau pervaginam. Tidak direkomendasikan untuk minum 2 g
peroral.
b. d.Tidak dibutuhkan peningkatan dosis kontrasepsi hormonal bila
menggunakan antibiotik yang tidak menginduksi enzim hati.
a. Pasien yang menggunakan IUD tembaga dan mengalami vaginosis
bakterial dianjurkan untuk mengganti metode kontrasepsinya.
c. Vaginitis kandidiosis terbagi atas:
a. Infeksi tanpa komplikasi
b. Infeksi parah
c. Infeksi kambuhan
d. Dengan kehamilan
e. Dengan Diabetes atau imuno kompromi
Penatalaksanaan vulvovaginal kandidiosis:
a. Dapat diberikan azole antifungal oral atau pervaginam
b. Tidak perlu pemeriksaan pasangan
c. Pasien dengan vulvovaginal candidiosis yang berulang dianjurkan untuk
memperoleh
d. pengobatan paling lama 6 bulan. Pada saat kehamilan, hindari obat anti
-fungi oral, dan gunakan imidazole topikal hingga 7 hari.
e. Hati-hati pada pasien pengguna kondom atau kontrasepsi lateks lainnya,
bahwa penggunaan antifungi lokal dapat merusak lateks
f. Pasien pengguna kontrasepsi pil kombinasi yang mengalami vulvovaginal
kandidiosis berulang, dipertimbangkan untuk menggunakan metoda
kontrasepsi lainnya
Chlamydia:
Azithromycin 1g single dose, atau Doxycycline 100 mg 2x sehari untuk
7 hari
Ibu hamil dapat diberikan Amoxicillin 500 mg 3x sehari untuk 7 hari
atau Eritromisin 500 mg 4x sehari untuk 7 hari
FLUOR ALBUS
No. Kode : 440/ /VII/PKMS/2014 Ditetapkan Oleh Kepala
Puskesmas
SPO Terbitan :01

No. Revisi :0

PUSKESMAS Tgl. Mulai Berlaku : 15 Juli 2014


REVA LINDA, S.Kep
SEMERAP Halaman : 1/4 Nip19830314 200502 2 002

Trikomonas vaginalis:
a. Obat minum nitromidazole (contoh metronidazole) efektif untuk
mengobati trikomonas vaginalis
b. Pasangan seksual pasien trikomonas vaginalis harus diperiksa dan diobati
bersama dengan pasien
c. Pasien HIV positif dengan trikomonas vaginalis lebih baik dengan regimen
oral penatalaksanaan beberapa hari dibanding dosis tunggal
d. Kejadian trikomonas vaginalis seringkali berulang, namun perlu
dipertimbangkan pula adanya resistensi obat
Komplikasi:
a. Radang panggul (Pelvic Inflamatory Disease = PID) dapat terjadi bila
infeksi merambah ke atas, ditandai dengan nyeri tekan, nyeri panggul
kronis, dapat menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik
b. Infeksi vagina yang terjadi pada saat pasca aborsi atau pasca melahirkan
dapat menyebabkan kematian, namun dapat dicegah dengan diobati dengan
baik
c. Infertilitas merupakan komplikasi yang kerap terjadi akibat PID, selain itu
kejadian abortus spontan dan janin mati akibat sifilis dapat menyebabkan
infertilitas
d. Kehamilan ektopik dapat menjadi komplikasi akibat infeksi vaginal yang
menjadi PID.
3. Dokter memberikan rujukan sesuai dengan Kriteria rujukan, yaitu:
a. Tidak terdapat fasilitas pemeriksaan untuk pasangan
b. Dibutuhkan pemeriksaan kultur kuman gonore
c. Adanya arah kegagalan pengobatan

4. Unit Terkait Poli KIA


Laboratorium
FLUOR ALBUS
No. Kode : 440/ /VII/PKMS/2014 Ditetapkan Oleh Kepala
Puskesmas
SPO Terbitan :01

No. Revisi :0

PUSKESMAS Tgl. Mulai Berlaku : 15 Juli 2014


REVA LINDA, S.Kep
SEMERAP Halaman : 1/4 Nip19830314 200502 2 002

Loket obat
Loket pembayaran
5. Dokumen Terkait Buku Register poli umum
Laporan poli umum
Status pasien
Informed consent