Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sangatlah bermanfaat bila melihat dampak fisiologis dari suatu faktor lingkungan
untuk membedakan ketidakcocokan dan toksisitas. Di dalam istilah ekologi, kecocokan
merupakan suatu konsep nilai limit, sepanjang batasannya ditujukan untuk sirkularitas, tetapi
tautologi ekologi mengesampingkan kaidah fisiologis; kondisi yang baik atau yang cocok
adalah memungkinkan pertumbuhan maksimum bagi kebanyakan spesies. Sudah barang tentu
sejumlah tanaman akan memberikan respon yang kontinu dalam pembudidayaannya dalam
keadaan tingkat pemberian nitrogen yang tinggi, yang tidak akan berguna untuk waktu yang
lama bahkan merugikan terhadap lainnya, tetapi banyak spesies yang nampaknya beradaptasi
terhadap habitat yang paling cocok seperti Deschampsia flexuosa, dalam kenyataannya akan
tumbuh jauh lebih baik pada keadaan yang baik di dalam budidaya tunggal dan
mengesampingkan persyaratan ekologinya pada kemampuan berkompetisi yang rendah dan
toleransi yang tinggi terhadap keadaan yang ekstrem.
Dari keadaan tersebut di atas, kemudian dikenal adanya kisaran intensitas untuk setiap
faktor lingkungan dimana sebagian besar spesies sangat cocok secara fisiologis. Di luar
kisaran ini, pertumbuhan menurun, tetapi dapat terjadi demikian karena dua alasan yang
berbeda. Mungkin satu pengaruh nyata yang bersifat racun, dikarenakan oleh akibat dari
faktor tersebut yang berlebihan, yang secara aktif mempengaruhi metabolisme. Berlebihnya
ion timah hitam menyebabkan tidak aktifnya beberapa sistem enzim; kelebihan garam
mengubah aktivitas enzim baik secara langsung, maupun dengan mengurangi potensi air; dan
temperatur yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan struktur
maupun kehancuran enzim. Pengaruh-pengaruh seperti tersebut di atas merupakan bukti
terjadinya keracunan, di lain pihak, di dalam banyak kasus tidak dijumpai kerusakan fisik
maupun kimiawi yang disebabkan oleh keadaan yang ekstrem, hanya metabolisme yang
menjadi lambat, karena defisiensi ion-ion nutrien cahaya atau air. Karena tidak terjadi
kerusakan yang ditimbulkan dan pemulihan yang sempurna dan cepat dapat terjadi maka
pengaruh tersebut sebaiknya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik (unfavourable).
Karena itu, untuk setiap faktor, kemungkinan ada empat keadaan: keadaan yang tidak
baik, keadaan yang baik, keadaan yang netral, dan keadaan yang meracuni. Pada intensitas
tertentu pengaruh ini akan bervariasi menurut spesies dan dari interaksi faktor-faktor lainnya.
Oleh karenanya, intensitas cahaya yang optimum untuk fotosintesis tergantung pada
konsentrasi karbon dioksida dan respons terhadap fosfat bervariasi menurut suplais nitrogen.

1
Beberapa faktor mungkin kelihatan netral dalam kondisi-kondisi laboratorium, tetapi
mempunyai pengaruh ekologis yang penting seperti silikon yang membantu (pertumbuhan)
dan melindungi rumput-rumputan dari penggembalaan.
Arti pembedaan antara kemampuan mendukung dan toksisitas bahwa lingkungan
yang yang tidak baik pada umumnya menyebabkan reduksi pertumbuhan yang tidak spesifik
dan adaptasi cenderung tidak langsung, seperti pada tanah-tanah yang tidak subur, dimana
kecepatan tumbuh yang rendah dan unpalatabilitas menadi penting. Toksisitas pada
umumnya mempunyai pengaruh yang lebih dramatis, memerlukan adaptasi langsung
terhadap faktor yang lebih dramatis, memerlukan adaptasi langsung terhadap faktor yang
dapat meracuni, sehingga memberikan tanda yang jelas di antara spesies yang tidak
beradaptasi. Sebagai akibatnya, kenaikan sedikit yang terjadi pada kemampuan suatu spesies
untuk melawan toksisitas dapat memberikan keuntungan selektif yang lebih besar dalam
bersaing daripada kemampuan beradaptasi yang sama terhadap keadaan yang tidak baik.
Meskipun demikian, baik lingkungan beracun ataupun lingkungan yang tidak baik, sangat
sedikit yang mampu menunjang pertumbuhan, dimana di dalam lingkungan yang lebih baik
kebanyakan spesies, termasuk banyak spesies yang telah beradaptasi pada keadaan yang
ekstrem, mencapai keadaan fisiologis yang optimum, meskipun hanya spesies-spesies yang
benar-benar mampu memanfaatkan sepenuhnya kondisi tersebutlah yang dapat hidup terus,
tanpa memperhatikan superioritasnya dalam berkompetisi. Perbedaan antara keadaan
optimum secara fisiologis dan ekologis bagi suatu spesies, ada untuk semua faktor
lingkungan. Keadaan ini berarti bahwa secara fisiologis, sebuah tanaman dapat memberikan
respons terhadap sebuah faktor dengan intensitas tinggi, tetapi di lapang kompetisi mencegah
spesies tersebut untuk tumbuh pada kisaran yang lebih tinggi dari kemampuan dukung secara
fisiologis, oleh karenanya akan dapat beradaptasi pada habitat yang tidak baik. Di dalam
istilah ekologi keadaan ini menunjukkan perbedaan di antara niche yang sesungguhnya
(bagian dari niche baku yang dilibatkan ke dalam karena kompetisi).
Untuk setiap faktor lingkungan, kemudian dapat dibentuk dari respons individu
spesies suatu gambaran umum yang memperlihatkan jumlah spesies yang memiliki optimum
fisiologis pada berbagai intensitas; tetapi hal in dapat dikaitkan dengan keadaan lapang,
kecuali jika keadaan optimum ekologisnya juga diketahui, akibat adanya kompetisi. Dapatlah
diharapkan kompetisi terhadap sumber daya akan terjadi lebih hebat dalam lingkungan yang
tidak baik (tidak cocok) daripada dalam lingkungan yang beracun; pada keadaan yang
pertama (lingkungan yang tidak baik), spesies ditekan oleh kelangkaan berbagai macam
faktor yang diperebutkan (dikompetisikan), sedangkan pada keadaan yang kedua oleh

2
tekanan-tekanan yang berbeda lainnya, dimana tidak terjadi kompetisi, dan sumber daya yang
diperebutkan (dikompetisi) relatif, lebih terikat pada keadaan kekurangan. Kemudian kita
dapat menduga bahwa di dalam lingkungan beracun, beberapa spesies yang mampu hidup
terus dalam keadaan teracuni akan segera mendominasi lainnya dan bahwa toksisitas
kemudian akan mempunyai pengatuh yang lebih besar pada keanekaragaman (diversitas)
spesies daripada keadaan yang tidak baik. pH tanah merpakan faktor yang rumit, tetapi secara
menyeluruh pH tinggi menunjukkan keadaan yang tidak baik (defisiensi Fe, P, dll) dan pH
rendah menunjukkan toksisitas (terutama Al dan Fe). Terlihat jelas bahwa penurunan jumlah
spesies yang mencapai optimumnya terbesar pada keadaan toksik (pH rendah) dibandingkan
dengan pada peningkatan keadaan yang tidak baik.
Toksisitas (keracunan) adalah masuknya suatu zat yang tidak diinginkan ke dalam
tubuh, sehingga zat tersebut sangat berbahaya bagi fungsi organ-organ tubuh, sedangkan
tumbuhan merangkumi semua benda hidup yang mampu menghasilkan
makanan dengan menggunakan klorofil untuk menjalani proses
fotosintesis dan menghasilkan kanji/tepung. Jadi, keracunan/toksisitas
tanaman adalah masuknya suatu zat yang tidak diinginkan ke dalam
tubuh tanaman, sehingga zat tersebut bersifat berbahaya bagi fungsi
organ-organ tubuh tanaman. Di dalam makalah ini akan dibahas lebih
jauh tentang toksisitas ion pada tanaman.

B. Tujuan Makalah
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Sifat toksisitas ion
2. Pengaruh toksin pada tumbuhan/tanaman
3. Resistensi terhadap toksisitas

3
BAB II
PEMBAHASAN
TOKSISITAS ION
a. Sifat dan Toksisitas
Di dalam suatu jaringan lingkungan yang ruwet yang mengontrol pertumbuhan suatu
tanaman, mungkinlah untuk mengidentifikasi faktor-faktor kimia yang bersifat toksik (racun).
Untuk hampir seluruh faktor tersebut, terdapat kisaran konsentrasi dimana tidak ada pengaruh
merusak yang diderita oleh tiap spesies, dan satu dimana semua spesies bersifat peka;
diantara keduanya terletak wilayah yang menarik bagi ahli-ahli ekologi, dimana hanya sedikit
spesies yang beradaptasi atau spesies yang tahan yang mampu terus hidup. Contoh yang
klasik adalah tumbuhan hallophyta dari tanah salin, calcifuge untuk tanah asam, tanaman
yang tahan terhadap genangan pada tanah-tanah tergenang, dan yang lebih topical. Menurut
Fitter et al (1992: 239), berikut tabel tentang situasi ekologis dimana ion-ion berbagai unsur
dapat menyebabkan toksisitas.
Tabel 1. Situasi Ekologi dimana Ion-ion berbagai Unsur dapat Menyebabkan Toksisitas
Unsur Penting (P) Situasi
Tidak Penting (TP)
N P +
NH 4 toksik terhadap Calcicole.
P P Hanya pada tanah pertanian dengan pemberian pupuk yang
banyak
K P Dapat bersaing dengan Na+ pada halophyta obligat
Ca P Toksik terhadap beberapa tanaman calcifuge, terutama tanaman
rawa.
Mg P Toksik pada tanah-tanah serpentin dengan rasio Mg:Ca tinggi.
S P Tanah-tanah mengandung sulfida mengoksidasi untuk
menghasilkan asam sulfur dan mengakibatkan pH lebih rendah
dari 3.
Tanah-tanah zona arid dapat mengakumulasi Na2SO4 dengan
evaporasinya.
B P Terjadi keadaan toksik pada abu hancuran bahan bakar
Cu, Zn P Pada endapan tanah tambang dan timbunan tambang; kadang-
Pb, Cd, Cr, TP kadang dengan pengendapan dari udara.
Ni
Fe P Konsentrasi Fe3+ yang tinggi terjadi pada tanah-tanah dengan pH
di bawah 3,5; Fe2+ ada pada tanah-tanah tergenang.
MO P Sebagai molybdat pada tanah-tanah berkapur tinggi.
Na (P) Pada tanah-tanah salin dan sodik.
Cl (P) Pada tanah salin.
Mn P Biasanya pada tanah asam.
Al TP Pada tanah dengan pH 4.
H - Ion-ion H3O+ toksik secara langsung pada konsentrasi di atas 1

4
mM(pH di bawah 3).
Sumber: Fitter et al (1992: 239).

Toksisitas ion dapat diklasifikasi berdasar dua perbedaan:


1. Konsentrasi pada terjadinya toksisitas;
2. Apakah benar atau tidak unsur yang bersangkutan penting untuk pertumbuhan tanaman-
dapatkah suatu defisiensi terjadi?
Jika suatu ion hanya toksik pada konsentrasi tinggi, hal ini dapat membawa serta
masalah potensial air tanah yang rendah; pada kejadian ini mekanisme ketahanan yang paling
sederhana, pembuangan (eksklusi) yang langsung dari senyawa toksik dari tanaman, akan
tidak memungkinkan tanaman untuk mengambil air. Hal yang sama terjadi jika ion
merupakan suatu unsur hara mikro yang esensial penting dan bersifat toksik pada konsentrasi
rendah (Zn2+; Cu2+), eksklusi dapat sekali lagi tidak cocok, kecuali bila pengambilannya dapat
dikontrol dengan tepat. Dua pertimbangan ini sangat mempengaruhi respons fisiologis dan
ekologis tanaman yang beradaptasi untuk menolak toksisitas (Fitter et al, 1992: 240).

Tanah Salin dan Sodik


Menurut Fitter et al (1992: 241), tanah-tanah yang dipengaruhi oleh konsentrasi yang
tinggi garam natrium melalui dua cara, yaitu:
1. Rawa bergaram
2. Gurun bergaram
Tanaman-tanaman yang dapat tumbuh pda tanah dengan kandungan kadar garam
tinggi disebut halophyta. Untuk dapat hidup terus, tanaman itu harus dapat mengatasi
beberapa masalah yaitu: pengaruh osmotik-potensial larutan; pengaruh ion spesifik; dan
pengaruh habitat (Fitter et al, 1992: 241).

Tanah Berkapur dan Tanah Asam


Perbedaannya antara tanah berkapur dan tanah asam tidak hanya terletak pada pH-
nya, atau pada konsentrasi ion Ca2+ dan Al3+. Ion H+ bersifat toksik untuk kebanyakan
tanaman pada pH di bawaH 3, dan pada pH di bawah 4,0-4,5 tanah-tanah mineral yang
mengandung begitu banyak Al3+ terlarut bersifat sangat toksik. Tetapi kemasaman (pH)
mengontrol kelarutan Mn2+, Fe3+, dan banyak kation lain. Mn dan Fe adalah unsur hara
esensial yang dapat berada pada konsentrasi toksik pada tanah-tanah asam dan di bawah

5
tingkat defisiensi di daerah-daerah berkapur. Dari hara-hara utama, K + digantikan dari lokasi
pertukaran pada pH rendah dan hilang akibat pencucian, ketersediaan F bervariasi dalam
bentuk yang sangat kompleks dengan pH, tetapi cenderung paling sedikit yang nilai ekstrem,
dan ketersediaan N pada tanah asam sangat rendah sebab aktivitas mikrobiologi yang
terganggu. Secara keseluruhan, tanaman dari tanah berkapur (calcicole) harus bersaing
dengan keadaan defisiensi dan tanaman dari tanah asam (calcifuge) dengan toksisitas,
meskipun terdapat kekecualian penting terhadap generalisasi ini. Berikut ini tabel yang
menyatakan ringkasan dari hubungan ini.
Tabel 2. Hubungan Ion-ion pada Tanah Berkapur dan Tanah Asam.
Ion Calcifuge di Tanah Asam (pH < 5) Calcicole di Tanah Berkapur (pH > 6,5)
H+ Tinggi: dapat bersifat toksik untuk Rendah: tidak diperlukan
tanaman yang tak dapat beradaptasi
OH- Rendah: tidak diperlukan. Tinggi: dapat berkompetisi dengan anion pada saat
pengambilan.
Rendah: tidak diperlukan. Tinggi: dapat berkompetisi dengan anion pada saat
HCO 3 pengambilan.
Ca2+ Rendah: jika sangat kurang dapat Tinggi: dapat menyebabkan jatuhnya fosfat pada
mengganggu fungsi membran. permukaan akar dan berkompetisi dengan kation
lain pada saat pengambilan.
Al3+ Tinggi: tidak diperlukan dan dapat Rendah: tidak dikehendaki.
menyebabkan jatuhnya ion (H2PO4
permukaan akar penghambatan
pengambilan dan transport Ca2+ dan
mempengaruhi metabolisme DNA
antara lain.
Fe3+ Tinggi: pengaruhnya sama dengan Rendah: kekurangan merupakan masalah besar.
Al3+ di dalam menyebabkan jatuhnya
fosfat pada permukaan akar.
Mn2+ Tinggi: toksisitas relatif tidak penting Rendah: defisiensi umum ada pada kondisi
dalam hubungannya dengan Al3+ pertanian.
M0O4n- Rendah: defisiensi dapat Tinggi: kadang-kadang menghasilkan gejala
mempengaruhi fiksasi N. toksisitas.
Keseimbangan yang menguntungkan
NO3 / + Keseimbangan yang menguntungkan NO3
NH 4 ; nitrifikasi terhambat. bakteri nitrifikasi aktif.
NH 4
Spesies dominan; diabsorbsi oleh Fe 2
H2 PO /H dan Al. H bertambah, diadsorb oleh Ca.
4 PO 4
2
PO 4
K+ Didesak dari tempat pertukarannya Ion Ca2+ dapat mempengaruhi pengambilan.
oleh H+, tercuci.
Sumber: Fitter et al (1992: 244).

Tanah yang Terkontaminasi Logam


Seringkali beberapa unsur dapat mencapai konsentrasi toksik (yang dapat
menimbulkan racun) di dalam tanah. Beberapa unsur seperti selenium dan arsenik secara

6
alamiah dapat mencapai tingkat toksik, tetapi yang paling penting adalah semua logam berat
terutama tembaga (Cu), kobalt (Co), dan nikel (Ni). Biji dari semua logam ini terdapat di
alam, kadang-kadang di dalam celah batuan, dan konsentrasinya bisa tinggi sekali (Fitter et
al, 1992: 245).
Kontaminasi terjadi bisa secara alami maupun dikontaminasi secara sengaja. Hal ini
khususnya terjadi di mana terdapat buangan dari tambang atau tempat peleburan bijih (Fitter
et al, 1992: 245). Kegiatan penambangan mengakibatkan adanya perubahan struktur fisik,
kimia serta biologi tanah sehingga tanah menjadi tidak kondusif bagi pertumbuhan tanaman
dan bersifat toxic. Hal ini disebabkan karena adanya penurunan pH tanah hingga level < 4,
karena adanya peningkatan kandungan unsur Al, Mn, dan Fe. Tanah pH < 4 merupakan tanah
bermasalah karena terjadi peningkatan unsur Al dan Fe, serta penurunan unsur P. Kondisi ini
menyebabkan solubilitas dari unsur Al, Fe, dan Mn mencapai batas toxic pada tanaman
(Setiadi, 2015).

b. Pengaruh Toksin (Racun) pada Tanaman


Kisaran zat-zat yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman amat luas dan
pengaruh khusus racun-racun ini amatlah banyak untuk duraikan. Sebagai contoh aluminium
sendiri dapat mengikat fosfat pada permukaan akarnya dan mengurangi respirasi akar,
pembelahan sel, kakunya dinding sel dan pengambilan serta pemanfaatan Ca, Mg, P, K, dan
H2O. Adalah mungkin untuk mngklasifikasikan pengaruh-pengaruh ini berdasarkan pada
apakah hal-hal itu mempengaruhi perolehan/pengambilan sumber daya oleh tanaman atau
apakah hal-hal itu mempengaruhi penggunaan sumber daya tersebut.
Menurut Fitter et al (1992: 246), klasifikasi sederhana pengaruh toksin pada tanaman
yaitu:
1. Pengaruh terhadap kemampuan memperoleh sumber daya:
a) Memperoleh air, dikarenakan: pengaruh osmotik yang timbul dari konsentrasi larutan
berlebih; menghambat pembelahan sel, mengurangi pertumbuhan akar.
b) Memperoleh hara dikarenakan: kompetisi antara ion-ion; kerusakan membran;
pengaruh dalam simbion; menghambat pembelahan sel.
c) Memperoleh CO2 dan energi sinar dikarenakan: kesalahan fungsi stomata yang
disebabkan gas beracun; memutihnya klorofil.
2. Pengaruh terhadap kemampuan penggunaan sumber daya:
a) Menghambat kerja enzim
b) Menghambat pembelahan sel

7
c) Kehilangan substrat respirasi, defisiensi O2

c. Ketahanan (Resistensi) terhadap Toksisitas


Beberapa jenis tanaman dapat tumbuh pada tanah-tanah yang mengandung tingkat ion
toksik yang dapat mematikan untuk spesies lain. Terdapat empat mekanisme utama hingga
hal tersebut terjadi (Fitter et al, 1992: 252).

1. Penghindaran (escape) fenologis


Apabaila stress yang terjadi pada tanaman bersifat musiman, tanaman dapat
menyesuaikan siklus hidupnya, sehingga tumbuh dalam musim yang sangat cocok saja.
Contoh juncus maritimus tidak dipengaruhi oleh salinitas dalam laju pertumbuhannya (Fitter
et al, 1992: 254). Selanjutnya contoh lain yaitu tanaman padi dapat mengoksidasi Fe 2+
menjadi Fe3+ dengan ekskresi O2 dari akar-akarnya, sehingga menghindari toksisitas Fe2+
(Fitter et al, 1992: 256).

2. Eksklusi
Tanaman dapat mengenal ion yang toksik dan mencegah agar tidak terambil, sehingga
tidak mengalami toksisitas. Contoh, tanaman yang tumbuh di tanah serpentin (ultra basa),
seperti Agrostis stolonifera atau Agrostis canina mengambil dua ion (Ca dan Mg) dalam
proporsi yang lebih besar dari konsentrasi eksternal, dibangdingkan dengan genotipnya yang
peka, sehingga mekanisme ketahanannya haruslah bersifat eksternal; keadaan sebaliknya
pada kemampuan tanaman rye (Secale) untuk bertahan pada rasio Ca:Mg yang rendah
bertumpu pada kemampuannya untuk membedakan yang menguntungkan Ca dan hal yang
sama berlaku pada tanaman endemik serpentin Helianthus bolanderi (Fitter et al, 1992: 257).

3. Penanggulangan (Ameliorasi)
Tanaman mengabsorbsi ion tersebut, tetapi bertindak sedemikian rupa untuk
meminimalisir pengaruhnya. Jenisnya meliputi pembetukan kelat (chelation), pengenceran,
lokalisasi atau bahkan ekskresi. Lokalisasi merupakan intra atau ekstra selular dan biasaya di
dalam akar; Ekskresi, secara aktif melalui kelenjar pada tajuk atau secara pasif dengan
akumulasi pada daun-daun tua yang diikuti dengan absisi daun (lepasnya daun); Dilusi
(melemahkan), terutama penting dalam kaitan dengan salinitas; Inaktivasi secara kimia,
sehinggaion ada dalam bentuk kombinasi dengan toksisitas yang berkurang (Fitter et al,
1992: 262).

8
Adapun contohnya yaitu tanaman yang hidup pada konsentasi NaCl yang tinggi akan
menyeimbangkan keseimbangan osmotik tubuhnya dengan cara menggunakan larutan
organik (gliserol) pada alga Tolypella intricata, fungi halophylik Duliella parva, dan alga
Ochromonas malhamensis (Fitter et al, 1992: 266); Silene vulgaris tahan terhadap seng,
tanaman ini mempunyai kebutuhan seng yang meningkat untuk pembentukan kelat secara
aktif (Fitter et al, 1992: 267); logam berat (misalkan tembaga) yang toksik menyebabkan
klorosis daun, sekalipun pada tanaman Becium homblei yang sangat tahan. Pada halophyta,
absisi sangat nyata pada tanaman rosetta yang secara kontinu menghasilkan daun baru
menggantikan yang tua (Fitter et al, 1992: 271).

4. Toleransi
Tanaman dapat mengembangkan sistem metabolis yang dapat berfungsi pada
konsentrasi toksik yang potensial dengan molekul enzim. Contoh pada Halobacterium
mengadakan toleransi yang sejati terhadap sistem metabolisme. Enzim yang diekstraksi
darinya bekerja secara in vitro pada konsentrasi toksin yang mematikan bagi enzm eukariot.
Membran bakteri halophylik bersifat permeabel (Fitter et al, 1992: 274).

d. Hasil Penelitian tentang Toksisitas Ion

Penjelasan di atas menuliskan secara umum tentang toksisitas terhadap tanaman.


Untuk lebih jelasnya, Berikut disajikan dua contoh pengaruh toksin terhadap tanaman secara
khusus, maksudnya pengaruh ion tertentu terhadap tumbuhan tertentu pula.
Penelitian pertama tentang Teknik Seleksi Genotpe padi toleran terhadap keracunan
besi yang merupakan hasil penelitian dari Suhartini et al (2009) yaitu sebagai berikut.
Keracunan Fe merupakan gejala fisiologis yang kompleks yang disebabkan oleh kondisi fisik,
hara, sifat fisiologik, dan medium tumbuh tanaman yang mengandung Fe berlebihan.
Keadaan tersebut dapat ditemui pada lahan sulfat masam, Ultisol, tanah berpasir dengan nilai
KTK dan Fe aktif tinggi, dan bahan organik rendah. Gejala ditandai oleh daun berwarna
orange atau bronzing, pembungaan terhambat, proses sintesis terhenti, tanaman kerdil, bagian
akar menebal berwarna coklat, kasar, pendek, batang dan daun membusuk. Keracunan Fe
pada tanaman padi terjadi pada dua fase tumbuh tanaman. Fase pertama adalah 7 hari setelah
penggenangan, di mana bibit padi masih mengalami stress kepindahan (planting shock)
sehingga mekanisme excluding power (menolak Fe) belum berfungsi penuh. Akibatnya, ion
Fero yang jumlahnya banyak pada keadaan tergenang akan banyak terserap tanaman.

9
Keadaan ini disebut keracunan besi primer. Fase kedua adalah antara fase primordia dan
berbunga yang disebabkan oleh tidak efektifnya mekanisme akar untuk menolak Fe akibat
semakin permeabelnya membran akar (Suhartini et al, 2009).
Semakin tinggi pH medium setelah ditumbuhi bibit padi umur 12 hari selama 48 jam,
semakin rendah skor keracunan besi, yang berarti semakin toleran varietas padi tersebut.
Sebaliknya, semakin rendah pH mdium, semakin tinggi skor tanaman, dan semakin peka
varietas terhadap keracunan besi (Suhartini et al, 2009).
Untuk memudahkan pengujian maka genotipe padi dikelompokkan menjadi toleran,
sedang, dan peka terhadap keracunan Fe dengan pH medium larutan hara makro yaitu dengan
skor > 5,8 (tahan), 4,6-5,8 (sedang), dan < 4,6 (peka). Pada percobaan ini varietas Muncul,
Sita, dan Mahsuri memiliki skor < 4 (tahan) di lapang, pH medium larutan hara > 5,8 yang
menunjukkan toleran terhadap keracunan besi (Suhartini et al, 2009).
Penelitian selanjutnya tentang Deteksi Dini Keracunan Aluminium Tanaman Bridelia
monoica Merr Pada Tanah Pasca Tambang Batu Bara PT. Jorong Barutama Greston
Kalimantan Selatan oleh Setiadi et al (2015), melaporkan hasil penelitiannya bahwa adanya
perbedaan yang sangat signifikan antara panjang akar apikal pada media tanah bermasalah
dibandingkan panjang akar media kontrol.
Bahan yang digunakan antara lain benih tumbuhan B. monoica, sampel tanah pasca
tambang PT. Jorong Barutama Greston yang terdiri atas tiga warna yakni merah, kuning, dan
abu-abu serta sampel tanah original PT. Jorong Barutama Greston (kontrol). B. monoica
yang ditanam pada tanah merah, kuning, dan abu-abu memiliki kerusakan akar berupa
pengeritingan (root curling) pada ujung akarnya (lihat gambar 1). Selain itu, jumlah daun
pada tanaman B. monoica dengan media tanah bermasalah mengalami penurunan
dibandingkan dengan kontrol. Tanaman Bridelia yang ditanam pada media tanah bermasalah
memiliki penurunan biomassa jika dibandingkan pada tanah kontrol. Penurunan biomassa
terbesar terjadi pada tanaman yang ditanam dengan media tanah kuning (Setiadi et al, 2015).

10
Gambar 1. Kondisi keriting ujung akar tanaman B. Monoica yang ditemukan pada tanah
merah, kuning, dan abu-abu (Setiadi et al, 2015).

Hasil analisis pH tanah menunjukkan bahwa 3 tanah bermasalah yaitu tanah merah,
kuning, dan abu-abu berada pada kondisi sangat masam dengan nilai pH dibawah 4.0.
Menurut Nur (2012) kriteria tanah yang digolongkan sangat masam yaitu tanah dengan nilai
pH di bawah 4. Hasil analisis tanah juga menunjukkan adanya kelimpahan unsur Al, Fe, Cu,
Zn, Mn, dan pirit yang merupakan unsur mikro tanah. Kelimpahan unsur-unsur tersebut akan
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman, dan bersifat racun. Tanah dengan
kandungan Al > 3 me/ 100gr merupakan tanah yang berada dalam kondisi bermasalah,
sehingga akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman. Kelebihan unsur Mn juga
akan bersifat toxic bagi tanaman yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman.
Konsentrasi 1 - 4 ppm Mn di dalam tanah telah mencukupi kebutuhan tanaman, tetapi lebih
dari itu dapat bersifat racun bagi tanaman (Setiadi et al, 2015).

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Keracunan/toksisitas tumbuhan adalah masuknya suatu zat yang
tidak diinginkan ke dalam tubuh tumbuhan, sehingga zat tersebut bersifat
berbahaya bagi fungsi organ-organ tubuh tumbuhan. Di dalam makalh ini
akan dibahas lebih jauh tentang toksisitas iion pada tumbuhan. Di dalam
suatu jaringan lingkungan yang ruwet yang mengontrol pertumbuhan suatu tanaman,
mungkinlah untuk mengidentifikasi faktor-faktor kimia yang bersifat toksik (racun). Untuk
hampir seluruh faktor tersebut, terdapat kisaran konsentrasi dimana tidak ada pengaruh
merusak yang diderita oleh tiap spesies, dan satu dimana semua spesies bersifat peka;
diantara keduanya terletak wilayah yang menarik bagi ahli-ahli ekologi, dimana hanya sedikit
spesies yang beadaptasi atau spesies yang tahan ynag mampu terus hidup. Contoh yang klasik
adalah tumbuhan hallophyta dari tanah salin, calcifuge untuk tanah asam, tanaman yang tahan
terhadap genangan pada tanah-tanah tergenang, dan yang lebih topical.

B. Saran

12
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Fitter, A.H., Hay, R. K. M. Sri, A., Purbayanti. (Eds). 1992. Fisiologi Lingkungan Tanaman.
Cetakan Kedua. Jakarta: UGM Press.

Setiadi, Y., Fiona, C. A. 2015. Deteksi Dini Keracunan Aluminium Tanaman Bridelia
monoica Merr.) pada Tanah Pasca Tambang Batu Bara PT. Jorong Barutama Greston
Kalimantan Selatan. Jurnal Silvikultur, 6 (2): 101-106.

Suhartini, T., Abdul, K. M. 2009. Teknik Seleksi Genotipe Padi Toleran Keracunan Besi.
Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan, 28 (3): 125-130.

13