Anda di halaman 1dari 2

Ikan yang ada dalam perairan sea ranching ini dibiarkan hingga mencapai ukuran konsumsi.

Ikan yang ada di alam inilah yang ditangkap oleh nelayan (PKSPL 2006). Jauh sebelumnya,
menurut Maasaru (1999), sea ranching mempunyai dua tipe yaitu (1) harvest type dan (2)
recruitment type. Pada jenis harvest type benih yang akan ditebar akan diproduksi dan
dibesarkan (sampai ukuran tertentu) di hatchery,pemanenan di alam dilaksanakan pada saat
organisme tersebut telah mencapai ukuran komersial. Dalam hal ini penebaran dan
penangkapan kembali dilaksanakan berulang-ulang pada setiap musim tertentu. Sementara,
pada recruitment type, benih yang ditebar pada suatu wilayah perairan dibiarkan sampai
bereproduksi. Benih yang ditebar diharapkan akan tumbuh, matang telur, memijah dan
kemudian menetas pada daerah penangkapan untuk reproduksi secara alami dengan bantuan
pengelolaan perikanan yang memadai. Pada kasus ini, tidak semua ikan yang tumbuh
tertangkap kembali, beberapa ikan dewasa akan tetap tinggal menjadi induk. Penangkapan
akan ditanggu hkan setelah sumberdaya yang baru hidup mapan dan pada waktu yang
bersamaan pengelolaan perikanan yang memadai harus dilakukan dalam rangka menjamin
kelestarian sumberdaya dan lingkungan. Strategi yang digunakan untuk melepas larva ke laut
pada saat itu adalah dengan mensinkronkan waktu pelepasan dengan waktu makanan larva di
area pelepasan mencapai kepadatan yang tertinggi agar kelangsungan hidup larva dapat
ditingkatkan. Akan tetapi strategi tersebut masih dihadapkan pada beberapa faktor yang
mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan di awal kehidupan larva ikan
yang dilepas seperti pemangsa yang siap memakan mereka (Jennings et al. 2001). Pelepasan
ikan di daerah tertentu juga harus memperhatikan aspek ekologis dan ekonomis. Aspek
ekologis ini dimaksudkan agar tidak mengganggu proses rantai makanan disuatu areal
tertentu dengan ikan yang dilepas haruslah ikan asli dari daerah tersebut atau ikan yang ada
pada daerah tersebut. Penebaran kedalam perairan sea ranching dilakukan dengan beberapa
dasar, yaitu: (1) menetapkan jumlah limbah maksimum yang masih dapat menopang KJA
ikan kerapu macan sebagai pembatas bagi sea ranching; (2) menghubungkan antara laju
pertumbuhan ikan kerapu macan dalam sea ranching dan lamanya pemeliharaan di alam
dengan daya dukung sea ranching. Dengan kedua hal tersebut akan dapat ditentukan model
restocking yang tepat di perairan sea ranching Semak Daun.

Daya Dukung Lingkungan (Carrying Capacity)


Daya tamping lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup unt
uk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau
dimasukkan ke dalamnya. Terkait dengan perikanan, daya dukung
merupakan kuantitas maksimum ikan yang dapat didukung oleh suatu
badan air selama jangka waktu panjang (Kenchington & Hudson 1984).
Turner (1988) menegaskan bahwa daya dukung merupakan populasi
organisme akuatik yang akan ditunjang oleh suatu kawasan atau volume
perairan yang ditentukan tanpa mengalami penurunan mutu. Dari aspek
lain daya dukung diartikan sebagai stok maksimum yang dapat dijaga
dalam suatu ekosistem untuk memaksimalkan produksi tanpa pengaruh
negatif terhadap laju pertumbuhan (Carver & Mallet 1990). Definisi daya
dukung yang terkait dengan ekonomi adalah tingkat stok dengan produksi
tahunan dari kohort ukuran pasar yang dapat dimaksimalkan (Bacher et al.
1998). Sementara daya dukung dalam tataran ekosistem didefinisikan oleh
Duarte (2003) sebagai tingkat suatu proses atau peubah dapat berubah
dalam suatu ekosistem tanpa membuat struktur dan fungsinya melebihi
batas tertentu yang dapat diterima. McKindsey et al.(2006) menjelaskan
adanya empat jenis daya dukung. Pertama, daya dukung fisik (physical
carrying capacity) yang menerangkan area yang secara geografis cocok
dan secara fisik cukup untuk suatu tipe budidaya. Jenis daya dukung ini
tergantung pada irisan antara kebutuhan fisik yang diperlukan spesies
target dan kekayaan fisik yang dimiliki area terkait (seperti tipe substrat,
kedalaman, hidrodinamika, suhu, salinitas, oksigen terlarut, dan
sebagainya). Kedua, daya dukung produksi (production carrying capacity)
yang merupakan tingkat produksi optimal dari suatu spesies target. Daya
dukung produksi ini dapat diukur berupa bobot kering atau basah, energi,
atau karbon organik. Hal ini tergantung kepada daya dukung fisik dan
merupakan fungsi ekosistem khususnya produktivitas primer. Ketiga, daya
dukung ekologi (ecological carrying capacity) yang secara umum berarti
tingkat produksi maksimum yang dimungkinkan tanpa membawa dampak
ekologi yang tidak dapat diterima. Keempat, daya dukung sosial (social
carrying capacity) yang merangkum ketiga jenis daya dukung terdahulu.
Daya dukung ditentukan oleh kemampuan lingkungan menopang
ekosistem. Selain itu juga ditentukan oleh produktivitas perairan dan ikan
itu sendiri. Banyak sekali yang mempengaruhinya. Namun, Welch (1980)
menemukan dalam beberapa penelitiannya bahwa vitamin seperti
cobalamin, thiamine dan biotin/coenzyme R terbukti esensial, namun
semua itu jarang ditemukan terbatas dalam kondisi alami. Karenanya,
penelitian terkait hal tersebut lebih difokuskan pada nutrien anorganik. Di
antaranya adalah P. Posfor dan cahaya merupakan faktor utama yang
membatasi produksi baik pada perairan subtropis maupun tropis.
Karenanya penambahan P akan mempengaruhi produktivitas (Beveridge
1982)