Anda di halaman 1dari 6

DISKUSI PEMBAHASAN

A. Pembahasan Diagnosis dan Klasifikasi

Dalam penegakan diagnosis luka gigitan seperti halnya luka gigitan ular, tidak ada kriteria

baku emas yang digunakan. Diagnosis dapat langsung digunakan setelah pasien mengaku tergigit

baik ditemukan luka bekas gigitan atau tidak. Dalam kasus gigitan ular identifikasi ular merupakan

salah satu bagian penting yang dapat membantu dalam diagnosis gigitan ular yang berbisa atau

tidak yang dapat mempengaruhi arah penatalaksanaannya.

Kriteria dari Parrish mempermudah tenaga medis dalam mengklasifikasi derajat gigitan

ular berdasarkan tanda dan gejala yang terjadi paska gigitan serta mengklasifikasi derajat gigitan

ular yang seperti apa yang membutuhkan terapi serum anti bisa ular.

Derajat

Venerasi

Luka gigit

Nyeri

Udem/eritema

Tanda sistemik

0

0

 

+/-

+ <3cm/12 jam

0

I

+/-

 

+

+ <3cm/12 jam

0

II

+

+ +++

 

>12cm-

+. Neurotoksik, mual, pusing, syok

25cm/12jam

III

++

+ +++

 

>25cm/12jam

++,syok,

petekie,ekimosis

IV

+++

+ +++

 

Pada satu

++, gangguan faal ginjal, koma, perdarahan

ekstremitas

secara

menyeluruh

 

Tabel 1. Klasifikasi Parrish, klasifikasi berat ringannya kasus gigitan ular

Pedoman terapi SABU (Depkes, 2001):

Derajat 0 dan I tidak diperlukan SABU, dilakukan evaluasi dalam 12 jam, jika derajat

meningkat maka diberikan SABU

Derajat II: 3-4 vial SABU

Derajat III: 5-15 vial SABU

Derajat IV: berikan penambahan 6-8 vial SABU

Pada kasus ini, dari anamnesis didapatkan seorang laki-laki 60 tahun datang ke IGD dibawa

keluarga dengan keluhan tergigit ular. Pasien tergigit ular ketika sedang memotong padi di sawah.

Kejadian terjadi kurang lebih 30 menit sebelum datang ke IGD. Pasien tergigit hanya sekali di

tangan kiri pasien. Setelah tergigit pasien mengeluh nyeri di daerah sekitar bekas gigitan yang hanya mengeluarkan sedikit perdarahan dan tampak menjadi bengkak. Pasien menyangkal mengalami pingsan, pandangan kabur, berdebar-debar, mual, muntah, lemas ataupun sesak nafas setelah tergigit ular. Tidak ada obat-obatan yang diminum dan pasien mengikat pergelangan tangan kirinya dengan tali sebelum datang ke IGD. Dari keterangan ular yang mengigitnya berwarna hijau dengan tubuh yang panjang dan ramping. Kepala ular bebentuk runcing lebih besar dari leher dengan mata yang agak besar dan berwarna kuning. Dari pemeriksaan fisik pasien tampak dalam keadaan umum baik dengan tanda vital yang stabil (TD 120/80 mmHg, nadi 90x/menit, RR 20x/menit dan suhu 36,3 o C). Pada pemeriksaan status lokalis pada bagian tubuh yang tergigit yaitu tangan kiri dapat ditemukan luka bekas gigitan yang minimal terlihat disertai sedikit mengeluarkan darah. Tangan tersebut juga mengalami bengkak yang terbatas hingga pergelangan. Tidak ditemukan bula atau bagian yang mengalami nekrosis. Dari keterangan diatas pasien dapat diklasifikasikan sebagai gigitan ular derajat I dimana pada tidak ditemukan sindrom keracunan, luka gigit positif, nyeri positif, edema local <3 cm positif tanpa ditemukan tanda kercunan sistemik seperti mual, muntah , syok hingga koma.

B. Pembahasan Penatalaksanaan Gigitan Ular di Rumah Sakit Langkah-langkah yang harus diikuti pada penatalaksanaan gigitan ular adalah:

1. Pertolongan pertama, harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi gigitan ular sebelum korban dibawa ke rumah sakit. Hal ini dapat dilakukan oleh korban sendiri atau orang lain yang ada di tempat kejadian. Tujuan pertolongan pertama adalah untuk menghambat penyerapan bisa, mempertahankan hidup korban dan menghindari komplikasi sebelum mendapatkan perawatan medis di rumah sakit serta mengawasi gejala dini yang membahayakan. Kemudian segera bawa korban ke tempat perawatan medis. Metode pertolongan yang dilakukan adalah menenangkan korban yang cemas; imobilisasi (membuat tidak bergerak) bagian tubuh yang tergigit dengan cara mengikat atau menyangga dengan kayu agar tidak terjadi kontraksi otot, karena pergerakan atau kontraksi otot dapat meningkatkan penyerapan bisa ke dalam aliran darah dan getah bening; pertimbangkan pressure-immobilisation pada gigitan Elapidae; hindari gangguan terhadap luka gigitan karena dapat meningkatkan penyerapan bisa dan menimbulkan pendarahan lokal.

2. Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya, dengan cara yang aman dan senyaman mungkin. Hindari pergerakan atau kontraksi otot untuk mencegahpeningkatan penyerapan bisa.

3. Pengobatan gigitan ular Pada umumnya terjadi salah pengertian mengenai pengelolaan gigitan ular. Metode penggunaan torniket (diikat dengan keras sehingga menghambat peredaran darah), insisi

(pengirisan dengan alat tajam), pengisapan tempat gigitan, pendinginan daerah yang digigit, pemberian antihistamin dan kortikosteroid harus dihindari karena tidak terbukti

manfaatnya.

4. Terapi yang dianjurkan meliputi:

a. Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril.

b. Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi

menggunakan perban katun elastis dengan lebar + 10 cm, panjang 45 m, yang dibalutkan kuat di sekeliling bagian tubuh yang tergigit, mulai dari ujung jari kaki sampai bagian yang terdekat dengan gigitan. Bungkus rapat dengan perban seperti membungkus kaki yang terkilir, tetapi ikatan jangan terlalu kencang agar aliran darah tidak terganggu Penggunaan torniket tidak dianjurkan karena dapat mengganggu aliran darah dan pelepasan torniket dapat menyebabkan efek sistemik yang lebih berat. Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi penatalaksanaan jalan nafas; penatalaksanaan fungsi pernafasan; penatalaksanaan sirkulasi; penatalaksanaan resusitasi perlu dilaksanakan bila kondisi klinis korban berupa hipotensi berat dan shock, shock perdarahan, kelumpuhan saraf pernafasan, kondisi yang tiba-tiba memburuk akibat

hipotensi berat dan shock , shock perdarahan, kelumpuhan saraf pernafasan, kondisi yang tiba-tiba memburuk akibat

terlepasnya penekanan perban, hiperkalaemia akibat rusaknya otot rangka, serta kerusakan ginjal dan komplikasi nekrosis lokal.

d. Pemberian suntikan antitetanus, atau bila korban pernah mendapatkan toksoid maka

diberikan satu dosis toksoid tetanus.

e. Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secara intramuskular.

f. Pemberian sedasi atau analgesik untuk menghilangkan rasa takut cepat mati/panik.

g. Pemberian serum antibisa. Karena bisa ular sebagian besar terdiri atas protein, maka

sifatnya adalah antigenik sehingga dapat dibuat dari serum kuda. Di Indonesia, antibisa bersifat polivalen, yang mengandung antibodi terhadap beberapa bisa ular. Serum antibisa

ini hanya diindikasikan sesuai indikasi berdasarkan derajat luka gigitan ular.

Berikut adalah penatalaksanaan pasien di RSUD Simo :

Infus D5% 250 cc +Anti bisa ular 1 vial dalam 60 menit (62 tpm) Diulang 12 jam kemudian

Infus rumatan Asering 20 tpm

Inj. Antrain 1 amp/8 jam

Inj Ranitidin 1amp/12 jam

Inj MP 125 mg/12 jam

Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam

Inj ATS 1500 IU

Berdasarkan kriteria yang dibuat Parrish, pasien ini tergolong dalam luka gigitan ular derajat I dimana sebetulnya tidak diperlukan pemberian serum anti bisa ular. Seharusnya pasien butuh diawasi dalam 12 jam pasca gigitan, jika tidak ditemukan tanda perburukan atau tanda keracunan bisa ular tidak diperlukan pemberian ABU. Pemberian antrain secara injeksi ditujukan sebagai anti nyeri dimana pemberian anti nyeri sudah sesuai dengan pedoman yang ada. Pemberian antibiotik, pada kasus ini yaitu injeksi Ceftriaxone sebenarnya masih kontroversi untuk diberikan, namun pada penelitian terakhir yang dilakukan oleh Blaylock, dkk. 18 dari 20 pasien yang mengalami gigitan ular memiliki hasil biakan darah positif

kuman gram negatif aerob. Sehingga pemberian antibiotik profilaksis pada gigitan ulan dianggap memiliki keuntungan yang lebih besar. Pemberian ATS 1500 IU sama fungsinya seperti pemberian antibiotic spectrum luas, dimana ATS diberikan sebagai terapi profilaksis.

Follow-up

Tanggal

Perjalanan Penyakit

Perintah Pengobatan dan Tindakan Dokter

Paraf

Jam

Dokter

18-07-2016

S: - O: Edema tangan kiri (+) berkurang

1. Infus D5% 250 cc +Anti bisa ular 1 vial dalam 60 menit (62 tpm) Pemberian ABU ke II

 

2. Infus rumatan Asering 20 tpm

 

3. Inj. Antrain 1 amp/8 jam

Diagnosis

: Gigitan ular

4. Inj Ranitidin 1amp/12 jam

derajat I

5. Inj MP 62,5 mg/24 jam

6. Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam

BLPL Obat pulang :

1. Ciprofloxacin 2x1

2. Asam mefenamat 3x1

3. Metilprednison 16 mg 1-0-1/2

4. Ranitidin 2x1

5. Neurodex 2x1

Pada hari perawatan I, tidak ditemukan keluhan dari pasien dan edema ditangan kiri pasien tidak mengalami perluasan. Pasien

mendapatkan dosis ABU yang ke II setelah 12 jam pasca pemberian dosis ABU yang ke I. pemberian terapi lainnya masih

sama dengan rencana awal. Dikarenakan kondisi pasien yang stabil dan tidak ada ditemukan tanda keracunan bisa ular yang

berarti, pasien dipulangkan.