Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan

dan kematian di dunia. Salah satu jenis infeksi adalah infeksi nosokomial. Infeksi

nosokomial terjadi di seluruh dunia dan mempengaruhi negara maju dan negara

berkembang. Infeksi diperoleh dalam pengaturan perawatan kesehatan adalah salah

satu penyebab utama kematian dan peningkatan morbiditas antara pasien dirawat di

rumah sakit. Mereka adalah signifikan beban baik bagi pasien dan untuk kesehatan

masyarakat.1

Sebuah Survei prevalensi dilakukan di bawah naunganWHO di 55 rumah

sakit dari 14 negara yang mewakili 4 WHO Daerah (Eropa, Timur Mediterania, Asia

Tenggara dan Pasifik Barat) menunjukkan rata-rata 8,7% dari pasien rumah sakit

memiliki nosokomial infeksi. Pada setiap saat, lebih dari 1,4 juta orang di seluruh

dunia menderita komplikasi infeksi yang diperoleh di rumah sakit (3). Frekuensi

tertinggi nosokomial infeksi dilaporkan dari rumah sakit di Mediterania Timur dan

Asia Tenggara Daerah (11,8 dan 10,0% masing-masing), dengan prevalensi 7,7 dan

9,0% masing-masing di Eropa dan Barat Daerah Pasifik (4). Infeksi nosokomial yang

paling sering adalah infeksi luka bedah, infeksi saluran kemih dan infeksi saluran

pernapasan bawah. Penelitian WHO, dan lain-lain, juga telah menunjukkan bahwa

prevalensi tertinggi infeksi nosokomial terjadi di intensif perawatan unit dan di bedah

akut dan ortopedi bangsal. tingkat infeksi yang tinggi di antara pasien dengan

peningkatan kerentanan karena usia tua.1

1
Banyak faktor yang mendorong terjadinya infeksi di antara pasien rumah

sakit, seperti penurunan imunitas pasien, peningkatan prosedur medis dan teknik

invasif, dan transmisi terhadap bakteri resisten obat di antara pasien rumah sakit yang

penuh, serta pengendalian infeksi yang buruk akan mempermudah penularan. Hal ini

akan menyebabkan waktu atau perawatan yang lebih lama atau bahkan kematian

penderita. Rumah sakit juga akan merugi karena masa perawatan menjadi lebih

panjang sehingga hunian rumah sakit. Perusahaan atau orang yang menanggung biaya

perawatan penderita merugi karena kehilangan waktunya yang produktif selama

dirawat di rumah sakit.2

Saat ini, angka kejadian infeksi nosokomial telah dijadikan salah satu tolak

ukur mutu pelayanan rumah sakit. Inti dari pencegahan dan pengendalian infeksi

nosokomial adalah mencegah penyebaran mikroba patogen, di antaranya melalui

perilaku atau kebiasaan petugas yang terakit dengan layanan medis, termasuk dokter

muda. Peran dokter muda dalam mencegah infeksi nosokomial sangat penting,

terutama di rumah sakit pendidikan, mengingat dokter muda berinteraksi langsung

dengan pasien dalam melaksanakan kegiatan sehari hari, termasuk tindakan medis. 2

1.2 Rumusan masalah

Bagaimana peran dokter muda dalam pencegahan infeksi nosokomial selama bertugas

di bagian bedah?

1.3 Tujuan

1. Untuk menambah pengetahuan dokter muda tentang infeksi nosokomial.

2. Untuk menambah pengetahuan dokter muda tentang cara pencegahan infeksi

nosokomial selama bertugas di bagian bedah.

1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi penulis

2
a. Menambah pengetahuan penulis tentang infeksi nosokomial.

b. Menambah pengetahuan penulis tentang perannya selama di bagian bedah.

c. Menambah pengetahuan penulis tentang cara pencegahan infeksi

nosokomial selama bertugas di bagian bedah dan aplikasinya.

1.4.2 Bagi masyarakat

a. Bagi pasien yang dirawat, meminimalkan risiko terjadinya infeksi

nosokomial.

b. Bagi keluarga pasien dan masyarakat yang berada di lingkungan rumah

sakit, dapat memberikan informasi dan edukasi tentang cara merawat

pasien dengan lebih baik sehingga tidak terjadi penularan infeksi

nosokomial.

c. Tidak memperpanjang waktu perawatan dan beratnya biaya perawatan.

1.4.3 Bagi institusi

a. Meminimalkan terjadinya risiko infeksi nosokomial sehingga menurunkan

morbiditas dan mortalitas.

b. Menjaga nama rumah sakit agar tetap menjadi rumah sakit yang bermutu

dan dipercaya.

c. Tidak memperberat biaya perawatan yang harus ditanggung oleh rumah

sakit.

3
4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi infeksi nosokomial

Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang diperoleh dari rumah sakit dimana

infeksi tersebut tidak diderita pasien saat masuk ke rumah sakit, melainkan + 72 jam

setelah berada di tempat tersebut.

2.2 Epidemiologi infeksi nosokomial

Di Indonesia, masalah infeksi nosokomial juga merupakan masalah yang

cukup serius. Pada negara maju, kejadian infeksi ini diperkirakan 5% dan angka ini

makin tinggi di negara berkembang. Penelitian yang dilakukan WHO menunjukkan

bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur

Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial

dengan Asia Tenggara sebanyak 10%. 5

Pada penelitian yang dilakukan National Infection Surveillance (NNIS) dan

Center Disease Control and Prevention, didapatkan 5 6 kasus infeksi nosokomial

dari setiap 100 kunjungan ke rumah sakit. Pada beberapa penyakit yang berat, infeksi

nosokomial meningkatkan angka kematian menjadi 2x lipat. 5

The journals of infections control nursing (1996) menunjukkan bahwa kira

kira 20% pasien rumah sakit terkena infeksi dan 10% nya merupakan infeksi

nosokomial dengan lokasi pada saluran kemih (30%), luka operasi (20%), saluran

pernafasan (20%), dan lain-lain (30%).5

2.3 Etiologi infeksi nosocomial 2

Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur, dan parasit dapat

menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme

5
yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari

pasien itu sendiri (endogenous infection). Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah

sakit disebabkan karena faktor eksternal, yaitu melalui makanan, udara, dan benda

atau bahan tidak steril.


a.
Bakteri

Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang

sehat, seperti Escherichia coli yang paling banyak dijumpai sebagai penyebab

infeksi saluran kemih. Bakteri lain seperti bakteri patogen lebih berbahaya dan

menyebabkan infeksi bai secara sporadik maupun endemik. Contohnya adalah

sebagai berikut :

Anaerobik gram positif : Clostridium pada gangrene

Bakteri gram positif : Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di

kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru, tulang,

jantung, dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten

terhadap antibiotika.

Bakteri gram negatif : Enterobacteriaceae, seperti Escherichia coli,

Proteus, Klebsiella, Enterobacter. Pseudomonas sering kali ditemukan

di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran

pencernaan dan pasien yang dirawat. Bakteri gram negatif bertanggug

jawab sekitar setegah dari semua infeksi di rumah sakit.

Serratia marcescens menyebabkan infeksi serius pada luka bekas

jahitan, paru, dan peritoenum.


b.
Virus

Banyak kemungkinan infeksi nosokomial oleh berbagai macam virus, seperti

virus hepatitis B dan virus hepatitis C dengan media penularan tranfusi, dialisis,

6
suntikan, dan endoskopi. RSV, rotavirus, dan enterovirus ditularkan dari kontak

tangan ke mulut atau rute fecal-oral. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui

pemakaian jarum, suntik, dan tranfusi darah. Virus lain yang menyebabkan

infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus, ebola, influenza, virus herpes

simpleks, dan virus varicella-zoster.


c.
Parasit dan jamur

Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat menular dari orang dewasa ke

anak anak. Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat

antibiotika bakteri dan obat imunosupresan, seperti Candida albicans, Aspergillus

spp, Cryptococcus neoformans, dan Cryptosporidium.

Dari suatu penelitian klinis, infeksi nosokomial terutama disebabkan infeksi

dari kateter urin, infeksi jarum infus, infeksi saluran nafas, infeksi kulit, infeksi dari

luka operasi, dan septikemia.

2.4 Faktor yang mempengaruhi perkembangan infeksi nosokomial 3

1. Agen infeksi

Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme selama dirawat di

rumah sakit. Kontak antara pasien dan berbagai macam mikroorganisme ini tidak

selalu menimbulkan gejala klinis karena banyaknya faktor lain yang dapat

menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial. Kemungkinan terjadinya infeksi

tergantung pada karakteristik mikroorganisme, resistensi terhadap zat-zat

antibiotika, tingkat virulensi, dan banyaknya materi infeksius. Penyakit yang

didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme

yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang

menyebabkan penyakit pada orang normal

7
2. Respon dan toleransi tubuh pasien

Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh

pasien adalah usia, status imunitas penderita, penyakit yang diderita, obesitas dan

malnutrisi, orang yang menggunakan obat-obatan imunosupresan dan steroid,

intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi.

Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh

terhadap infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita penyakit

kronis seperti tumor, anemia, leukemia, diabetes mellitus, gagal ginjal, SLE dan

AIDS. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi tubuh terhadap infeksi

dari kuman yang semula bersifat opportunistik. Obat-obatan yang bersifat

immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi.

Banyaknya prosedur pemeriksaan penunjang dan terapi seperti biopsi, endoskopi,

kateterisasi, intubasi dan tindakan pembedahan juga meningkatkan resiko infeksi.

3. Infeksi melalui kontak langsung dan tidak langsung

Infeksi yang terjadi karena kontak secara langsung atau tidak langsung

dengan penyebab infeksi. Penularan infeksi ini dapat melalui tangan, kulit dan

baju, seperti golongan staphylococcus aureus. Dapat juga melalui cairan yang

diberikan intravena dan jarum suntik, hepatitis dan HIV. Peralatan dan instrumen

kedokteran. Makanan yang tidak steril, tidak dimasak dan diambil menggunakan

tangan yang menyebabkan terjadinya infeksi silang.

4. Resistensi antibiotika

Banyak mikroorganisme yang kini menjadi resisten. Meningkatnya

resistensi bakteri dapat meningkatkan angka mortalitas terutama terhadap pasien

yang immunocompromised. Resitensi dari bakteri ditransmisikan antar pasien dan

faktor resistensinya dipindahkan antara bakteri. Penyebab utamanya karena

8
penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol, dosis antibiotika

yang tidak optimal, terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu

singkat, dan kesalahan diagnosa.

Banyaknya pasien yang mendapat obat antibiotika dan perubahan dari gen

yang resisten terhadap antibiotika mengakibatkan timbulnya multiresistensi

kuman terhadap obat-obatan tersebut. Penggunaan antibiotika secara besar-

besaran untuk terapi dan profilaksis adalah faktor utama terjadinya resistensi.

5. Faktor alat

Dari suatu penelitian klinis, infeksi nosokomial terutama disebabkan infeksi

dari kateter urin, infeksi jarum infus, infeksi saluran nafas, infeksi kulit, infeksi

dari luka operasi dan septikemia. Pemakaian infus dan kateter urin lama yang

tidak diganti-ganti. Komplikasi kanulasi intravena ini dapat berupa gangguan

mekanis, fisis dan kimiawi. Komplikasi tersebut berupa ekstravasasi infiltrat,

penyumbatan, flebitis, trombosis, kolonisasi kanul, septikemia, dan supurasi.

Beberapa faktor di bawah ini berperan dalam meningkatkan komplikasi

kanula intravena yaitu: jenis kateter, ukuran kateter, pemasangan melalui

venaseksi, kateter yang terpasang lebih dari 72 jam, kateter yang dipasang pada

tungkai bawah, tidak mengindahkan prinsip anti sepsis, cairan infus yang

hipertonik dan darah transfusi karena merupakan media pertumbuhan

mikroorganisme, peralatan tambahan pada tempat infus untuk pengaturan tetes

obat, manipulasi terlalu sering pada kanula. Kolonisasi kuman pada ujung kateter

merupakan awal infeksi tempat infus dan bakteremia.

9
2.5 Cara transmisi infeksi nosocomial 3

Penularan infeksi nosokomial dapat terjadi melalui beberapa jalur. Penularan

dapat terjadi secara kontak, melalui common vehicle, udara dan inhalasi, atau melalui

perantara vektor.

a. Penularan secara kontak

Penularan dapat terjadi secara kontak langsung, kontak tidak langsung, dan

droplet. Kontak langsung terjadi bila sumber infeksi berhubungan langsung

dengan penjamu. Sebagai contoh adalah person to person pada penularan infeksi

virus hepatitis A secara fekal-oral. Kontak tidak langsung terjadi apabila

penularan membutuhkan objek perantara, seperti benda mati. Hal ini dapat terjadi

karena benda mati itu terkontaminasi oleh mikroorganisme.

b. Penularan melalui common vehicle

Penularan ini melalui benda mati yang telah terkontaminasi oleh kuman dan

dapat menyebabkan penyakit pada lebih dari 1 penjamu. Contohnya adalah

darah / produk darah, cairan intravena, obat obatan, dan sebagainya.

c. Penularan melalui udara dan inhalasi

Penularan ini terjadi bila mikroorganisme mempunyai ukuran yang sangat

kecil sehingga dapat mengenai penjamu dalam jarak yang cukup jauh dan melalui

saluran pernafasan.

Droplet : partikel droplet > 5 m melalui batuk, bersin, bicara,

jarak sebar pendek, tidak bertahan lama di udara, deposit pada

mukosa konjungtiva, hidung, mulut contoh : Difteria, Pertussis,

Mycoplasma, Haemophillus influenza type b (Hib), Virus

Influenza, mumps, rubella.

10
Airborne : partikel kecil ukuran < 5 m, bertahan lama di udara,

jarak penyebaran jauh, dapat terinhalasi, contoh: Mycobacterium

tuberculosis, virus campak, Varisela (cacar air), spora jamur

d. Penularan dengan perantara vektor

Penularan ini dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Penularan

eksternal bila hanya terjadi pemindahan secara mekanis dari mikroorganisme yang

menempel pada tubuh vektor, misalnya shigella dan salmonela oleh lalat.

Penularan secara internal bila mikroorganisme masuk ke dalam tubuh vektor dan

dapat terjadi perubahan secara biologis, misalnya parasit malaria dalam nyamuk,

atau tidak terjadi perubahan biologis, seperti Yersenia pestis pada flea.

2.6 Kriteria diagnosis 5

Infeksi nosokomial disebut juga sebagai Hospital aqcuired infection apabila

memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Apabila pada waktu dirawat di RS, tidak dijmupai tanda tanda klinis infeksi

tersebut.

b. Pada waktu penderita mulai dirawat tidak dalam masa inkubasi dari infeksi

tersebut.

c. Tanda tanda infeksi baru timbul sekurang kurangnya 3x24 jam sejak mulai

dirawat.

d. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa (residual) dari infeksi sebelumnya.

Bila pada saat mulai dirawat di RS sudah ada tanda tanda infeksi, tetapi terbukti

bahwa infeksi didapat penderita pada waktu perawatan sebelumnya dan belum

pernah dilaporkan sebagai indeksi nosokomial.

11
2.7 Pengendalian infeksi nosokomial 3

Untuk meniadakan perkembangan infeksi pada penderita yang sedang dirawat

di rumah sakit, perlu diperhatikan beberapa hal yang pokok dalam kewaspadaan

universal. Kewaspadaan universal adalah suatu konsep penanggulangan infeksi

dimana strategi pelaksanaannya dititikberatkan pada pengendalian penyeberangan

infeksi yang terjadi melalui darah dan cairan tubuh secara universal tanpa memandang

status infeksi dan pasien. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa darah dan cairan

tubuh sangat potensial menularkan penyakit. Prinsip utama prosedur kewaspadaan

universal kesehatan adalah menjaga higiene sanitasi individu, ruangan, dan streilisasi

peralatan. Kegiatan pokok kewaspadaan universal adalah:

1. Cuci tangan

Mencuci tangan adalah prosedur kesehatan yang paling penting yang

dapat dilakukan oleh semua orang untuk mencegah penyebaran kuman.

Mencuci tangan adalah tindakan aktif, singkat dengan menggosok

bersamaan semua permukaan tangan dengan memakai sabun, yang

kemudian diikuti dengan membasuhnya dibawah air hangat yang mengalir.

Tujuannya adalah untuk membuang kotoran dan organisme yang

menempel dari tangan dan untuk mengurangi jumlah mikroba pada saat

itu. Cuci tangan harus selalu dilakukan dengan benar sebelum dan sesudah

melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau alat

pelindung lain untuk menghilangkan atau mengurangi mikroorganisme

yang ada ditangan sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan

lingkungan terjaga dari infeksi. Tangan harus dicuci sebelum dan sesudah

memakai sarung tangan. Cuci tangan tidak dapat digantikan oleh

pemakaian sarung tangan. Aspek terpenting dari mencuci tangan adalah

12
pergesekan yang ditimbulkan dengan menggosok tangan bersamaan

mencuci tangan dengan sabun, dengan air mengalir dan pergesekan yang

dilakukan secara rutin. 2

Prosedur cuci tangan adalah sebagai berikut:

a. Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air

mengalir.

b. Taruh sabun di bagian telapak tangan yang telah basah. Buat busa

secukupnya tanpa percikan.

c. Gerakan cuci tangan terdiri dari gosokan kedua telapak tangan,

gosokan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dan

sebaliknya, gosok kedua telapak tangan dengan jari saling mengait,

gosok kedua ibu jari dengan cara menggenggam dan memutar,

gosok telapak tangan. Proses berlangsung selama 10-15 detik.

d. Bilas kembali dengan air sampai bersih.

e. Keringkan tangan dengan handuk atau kertas yang bersih atau tisu

atau handuk katun kain sekali pakai.

f. Matikan kran dengan kertas atau tisu.

g. Pada cuci tangan aseptik/ bedah diikuti larangan menyentuh

permukaan yang tidak steril.

13
Gambar 2.1 Enam Langkah Mencuci Tangan

Gambar 2.2 Lima Saat Mencuci Tangan

14
b. APD (Alat Pelindung Diri) 1

Alat Pelindung Diri (APD) adalah alat yang digunakan untu

melindungi diri dari sumber bahaya tertentu baik yang berasal dari

pekerjaan maupun dari lingkungan kerja dan berguna dalam usaha untuk

mencegah dan mengurangi kemungkinan cidera atau cacat, dan terdiri dari

berbagai jenis APD di rumah sakit yaitu sarung tangan, masker, penutup

kepala, gaun pelindung dan sepatu pelindung.

1) Sarung Tangan

2) Masker

3) Alat pelindung mata

4) Topi

5) Gaun pelindung

6) Apron

7) Pelindung kaki

15
Gambar 2.3 Alat Perlindungan Diri Tenaga Medis

c.
Keselamatan Menggunakan Jarum Suntik 3

Keselamatan menggunakan jarum suntik sebaiknya menggunakan tiap-

tiap jarum dan spuit hanya sekali pakai, tidak melepas jarum dari spuit

setelah digunakan, tidak menyumbat, membengkokkan, atau mematahkan

jarum sebelum dibuang dan membuang jarum dan spuit di wadah anti

bocor. Apabila jarum dan spuit sekali pakai tidak tersedia dan perlu

memasang kembali penutup jarum, maka gunakan metode penutupan satu

tangan dengan cara:

Tempatkan penutup jarum pada permukaan rata dan kokoh,

kemudian angkat tangan anda.

16
Kemudian dengan satu tangan memegang spuit, gunakan

jarum untuk menyekop tutup tersebut dengan penutup di

ujung jarum, putar spuit tegak lurus sehingga jarum dan

spuit mengarah ke atas.

Akhirnya, dengan sumbat yang sekarang ini menutup ujung

jarum sepenuhnya, peganglah spuit ke arah atas dengan

pangkal dekat pusat (dimana jarum itu bersatu dengan spuit

dengan satu tangan, dan gunakan tangan lainnya untuk

menyegel tutup itu dengan baik).


d.
Sterilisasi Alat 3

Dekontaminasi adalah langkah pertama dalam mensterilkan instrumen

bedah/tindakan, sarung tangan dan peralatan lainnya yang kotor

(terkontaminasi), terutama jika akan dibersihkan dengan tangan misalnya,

merendam barang-barang yang terkontaminasi dalam larutan klorin 0,5 %

atau disinfektan lainnya yang tersedia dengan cepat dapat membunuh HBV

dan HIV. Dengan demikian, menjadikan instrumen lebih aman ditangani

sewaktu pembersihan. Setelah instrumen dan barang-barang lain

didekontaminasi, kemudian perlu dibersihkan, dan akhirnya dapat

disterilisasi atau didisinfeksi tingkat tinggi. Proses yang dipilih untuk

pemrosesan akhir bergantung pada apakah instrumen ini akan

bersinggungan dengan selaput lendir yang utuh atau kulit yang terkelupas

atau jaringan di bawah kulit yang biasanya steril.


e.
Isolasi pasien 3

Tempatkan pasien yang mengkontaminasi lingkungan atau yang tidak

dapat menjaga higiene lingkungan dalam ruangan tersendiri. Bila fasilitas

17
isolasi tidak memadai, berikut ini petunjuk pokok yang bisa digunakan :

1) Untuk mengontrol kontak pernapasan :

Tempatkan pasien di ruang terpisah atau sejauh mungkin dari

pasien-pasien lain.

Pakailah masker atau kain penutup hidung dan mulut bila

berdekatan dengan pasien.

Instruksikan pada pasien untuk menutup mulut saat batuk.

2) Untuk mengontrol kontak langsung :

Luka harus segera tertutup

Cucilah tangan dengan baik sebelum dan sesudah setiap

kontak dengan pasien

Buanglah pembalut, sputum dan cairan tubuh dengan cara yang

aman

3) Untuk mengontrol kontak tak langsung :

Jauhkanlah benda-benda yang berhubungan dengan pasien

isolasi dari pasien-pasien lain.

Cuci semua peralatan dan linen dengan baik

Cucilah tangan dengan baik sebelum dan sesudah setiap kontak

dengan pasien

4) Untuk mengontrol kontak melalui vektor :

Pakailah kelambu atau kawat nyamuk untuk kamar pasien pada

musim nyamuk.

Cegah adanya air tergenang di seluruh fasilitas medis

18
2.8 Peran dokter muda dalam mencegah infeksi nosokomial

Upaya dokter muda dalam mencegah infeksi nosokomial sangat vital. Upaya

upaya yang dapat dilakukan dokter muda dalam mencegah infeksi nosokomial adalah

sebagai berikut :

a. Menerapkan kewaspadaan universal dalam semua tindakan.

b. Imunisasi dan menjaga kesehatan untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

c. Profesionalisme dalam bekerja, menerapkan tindakan septik dan aseptik,

sterilisasi, dan desinfeksi dengan benar.

d. Manajemen setelah terpapar sumber infeksi.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Ducel, G. et al. Prevention of hospital-acquired infections, A practical guide. 2nd

edition. World Health Organization. Department of Communicable disease,

Surveillance and Response; 2002


2. Geeta M. et. al. Guidelines on Prevention and Control of Hospital Associated

Infections. World Health Organization. Department of Communicable disease,

Surveillance and Response; 2002


3. Berman et.al. Infection Control in The Hospital. International Society for Infection

Disease USA. 2014


4. Light RW. 2001.Infectious disease, noscomial infection. Harrisons Principle of

Internal Medicine 15 Edition.-CD Room; 2001


5. Parhusip, 2005, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Infeksi

NosokomialSerta Pengendaliannya Di BHG. UPF. Paru RS. Dr. Pirngadi/Lab.

Penyakit Paru FK-USU Medan.

20