Anda di halaman 1dari 4

PNEUMONIA

No. Dokumen : No. Revisi: Halaman:


1/4
SPO Tanggal terbit: Ditetapkan oleh Direktur RSUD
BLAMBANGAN

Dr. H. TAUFIK HIDAYAT, SpAnd, MKes


NIP. 19620101 198812 1 002
PENGERTIAN Pneumonia adalah penyakit peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh
berbagai macam etiologi. Terbanyak adalah virus atau bakteri. Etiologi lain
parasit dan aspirasi zat tertentu
TUJUAN Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk melakukan penanganan
Pneumonia
KEBIJAKAN Keputusan Direktur RSUD Blambangan Banyuwangi No . . . . tentang
Sasaran Keselamatan Pasien
ANAMNESIS Gejala yang timbul biasanya mendadak. Dapat didahului denganinfeksi
saluran nafas akut bagian atas. Gejala umum: batuk, demam tinggi, nafas
cepat dan sesak nafas. Pada keadaan yang berat bisa didapatkan cyanosis Pada
anak yang besar bisa didapatkan nyeri dada. Pada bayi muda sering
menunjukkan gejala yang tidak khas seperti hipotermi, penurunan kesadaran,
kejang, sulit minum, dan perut kembung
PEMERIKSAAN Takipnea dengan laju respirasi untuk anak <2 bulan 60x/menit, 2-12
FISIK bulan50x/menit, 1-5 tahun40x/menit. Inspiratory effort ditandai dengan
retraksi dinding dada, nafas cuping hidung Gerakan dinding toraks dapat
tertinggal pada daerah yang terkena infeksi, perkusi normal atau redup,
auskultasi paru dapat terdengar terdengar suara nafas tambahan berupa ronki
basah halus di lapangan paru yang terkena. Tanda lainnya adalah demam
tinggi, sianosis, dan dapat ditemukan tanda dehidrasi. Pada infeksi oleh
kuman atipik (mycoplasma, chlamydia) gejalanya tidak jelas maupun
memberikan onset akut seperti diatas. Panas seringkali tidak tinggi, batuk
tidak produktif, tidak sesak, dan seringkali disertai sakit kepala dan malaise.
PNEUMONIA

No. Dokumen : No. Revisi: Halaman:


2/4

PEMERIKSAAN 1. Foto polos dada


PENUNJANG 2. Analisa Gas Darah
3. Hitung Leukosit dan differerential count
4. Laju Endap Darah (LED)
5. C-Reactive Protein (CRP)
6. Procalcitonin
7. Kultur darah, sputum, swab oropharyngeal
KRITERIA 1. Gejala Fisik sesuai dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas
DIAGNOSIS 2. Pada foto polos dada terlihat infiltrat alveolarmaupun interstitial yang dapat
ditemukan di seluruh lapangan paru. Kelainan gambaran radiologis biasa
sebanding dengan derajat klinis penyakit, kecuali pada infeksi oleh kuman
atipikal yang gambaran radiologis lebih berat daripada keadaan klinis.
Gambaran lain yang dapat dijumpai berupa konsolidasi pada satu atau
beberapa segmen atau lobus paru, penebalan pleura pada pleuritis, atau
adanya komplikasi pneumonia berupa atelektasis, efusi pleura, abses paru,
pneumothorak, pneumomediastinum dan pneumatokel
3. Analisa Gas Darah menunjukkan keadaan asidosis respiratorik, hipoksemia,
sedang PaCO2 dapat rendah, normal atau meningkat tergantung kompensasi
yang terjadi. Dalam keadaan lanjut bisa terjadi asidosis metabolik, dan gagal
nafas.
4. Peningkatan hitung leukosit dengan hitung jenis bergeser ke kiri pada
infeksi bakterial
5. LED, CRP, dan procalcitonin meningkat pada infeksi bakterial
6. Pemeriksaan kultur darah dapat menunjang menentukan etiologi terutama
pada kasus nasokomial. Sedang kultur sputum dan swab oropharyngeal sering
terkontaminasi flora normal
DIAGNOSIS Pneumonia
DIAGNOSIS 1. Infeksi saluran pernafasan bawah lainnya (Bronkiolitis,
BANDING laringotrakeobronkitis)
2. Kelainan bawaan pada paru (cystic lung disease, bullae, hypoplasia, dan
lain sebagainya)
3. Payah jantung
4. Sepsis
5. Pada bayi karena gejalanya yang tidak khas dapat menyerupai sepsis,
meningitis dan ileus
PNEUMONIA
No. Dokumen : No. Revisi: Halaman:
3/4

TERAPI 1. Untuk pneumonia ringan dapat diterapi secara rawat jalan dapat diberikan
antibiotik peroral dengan amoksisilin 50-80 mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis
atau amoksisilin-asam klavulanat 50 mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis, serta
diberikan edukasi kepada orang tua
2. Untuk pneumonia berat dan sangat berat dianjurkan rawat inap dan
diberikan terapi:
Ampisilin 100 mg/kg/hari iv dibagi dalam 4 dosis atau ampisilin-sulbaktam
100 mg/kg/hari iv dalam 4 dosis untuk Community acquired pneumonia
Ceftriaxone 100 mg/kg/hari iv dibagi dalam 2 dosis atau antibiotik sesuai
kultur untuk Hospital acquired pneumonia
Lama pemberian antibiotik tergantung : kemajuan klinis penderita, hasil
pemeriksaan laboratoris, foto thorak dan jenis kuman penyebab. Sebagian
besar membutuhkan waktu 10-14 hari
Oksigenasi, dapat diberikan secara nasal atau masker sesuai keadaan klinis.
Bila ada tanda gagal nafas diberikan bantuan ventilasi mekanik.
Pemberian cairan dan kalori yang cukup
Koreksi kelainan asam basa atau elektrolit yang terjadi.
3. Untuk dugaan pneumonia atipik dapat diberikan eritromisin 50 mg/kg/hari
dibagi 3-4 dosis, atau spiramisin 50 mg/kg/hari dibagi 3-4 dosis, atau
klaritromisin 15 mg/kg/hari dibagi 2 dosis selama 10-14 hari.
4. Untuk dugaan Pneumonia Pneumocystic carinii dapat diberikan
kotrimoksasol 20 mg/kg/hari dibagi 4 dosis.
5. Untuk keadaan khusus lainnya dapat diberikan Anti viral
(Acyclovir,Gancyclovir) pada pneumonia karena Cyto Megalous Virus
(CMV), Anti jamur (Amphotericin B, Ketoconazole, Fluconazole) pada
pneumonia karena jamur, Imunoglobulin pada keadaan imunodefisiensi
terutama imunitas humoral
EDUKASI 1. Pemberian imunisasi untuk mencegah pneumonia
2. Pengobatan secara dini bila didapatkan gejala infeksi saluran pernafasan
3. Pemberian ASI pada saat bayi dan pemberian nutrisi yang cukup saat anak-
anak
4. Lingkungan rumah yang cukup ventilasi dan sinar matahari
5. Untuk pneumonia ringan yang dirawat jalan harus dipastikan antibiotik
dikonsumsi secara lengkap dan kontrol secara teratur
6. Untuk pneumonia berat sebaiknya di rawat inap dan memerlukan jangka
waktu tertentu sampai pneumonianya dapat membaik
PNEUMONIA
No. Dokumen : No. Revisi: Halaman:
4/4

INDIKATOR 1. Perbaikan gejala klinis


MEDIS 2. Perbaikan radiologis
3. Perbaikan parameter laboratorium
KEPUSTAKAAN 1. Lichenstein R, Suggs AH, Campbell J. Pediatric pneumonia. Emerg Med
Clin N Am 2003; 21 : 437-51. 2. Sectish TC, Prober CG. Pnemonia. Dalam :
Behrman RE, Kleigman RM, Jenson HB, penyunting. NelsonTextbook of
Pediatrics. Edisi ke-17. Philadelphia : WB Saunders, 2003 : 1432-5. 3. Gaston
B. Pneumonia. Pediatr Rev 2002 : 23 : 132-40 4. Lichenstein R, Suggs AH,
Campbell J. Pediatric pneumonia. Emerg Med Clin N Am 2003; 21: 437-51 5.
Sandora TJ, Harper MB. Pneumonia in hospitalized children. Pediatr Clin N
Am 2005; 52: 1059-81 6. Mc Intosh K. Community-acquired pneumonia in
children. N Eng J Med 2002; 346: 429-36 7. Stein RT, Marostica PJC.
Community-acquired bacterial pneumonia. Dalam: Chernick V, Boat TF,
Wilmott RW, Bush A, penyunting. Kendigs disorders of the respiratory tract
in children, Edisi ke-7. Philadelphia: Saunders Elsevier, 2006; 441-52. 8.
Apisamthanarak A, Mundy LM. Etiology of community-acquired pneumonia.
Clin Chest Med 2005; 26: 47-55 9. Crawford SE, Dawn RS. Bacterial
pneumonia, lung abscess and empyema. Dalam: Taussig LM, Landau LI,
penyunting. Pediatric respiratory medicine, Edisi ke-2. Philadelphia: Mosby
Elsevier, 2008; 501-54

UNIT TERKAIT RKK