Anda di halaman 1dari 29

Ringkasan Pajak PPh Pasal 21 s.

d Pasal 26
PPh PASAL 21

OBJEK PAJAK PPh PASAL 21

Menurut Keputusan Dirjen Pajak No Kep-545/PJ/2000 tanggal 29 Desember 2000, yang


dimaksud Objek Pajak Penghasilan pasal 21 adalah penghasilan yang dipotong oleh pemotong
pajak untuk dikenakan Pajak Penghasilan Pasal 21. Yang termasuk objek pajak PPh Pasal 21
adalah :

1. Penghasilan yang diterima atau diperoleh secara teratur oleh wajib pajak berupa gaji,
uang pensiun bulanan, upah, honorarium, termasuk honorarium anggota dewan komisaris
atau anggota dewan pengawas dari perusahaan, premi bulanan, uang lembur, komisi, gaji
istimewa, uang sokongan, uang ganti rugi, tunjangan istri dan/atau tunjangan anak,
tunjangan kemahalan, tunjangan jabatan, tunjangan khusus, tunjangan transport,
tunjangan berupa pajak, tunjangan iuran pensiun, tunjangan pendidikan anak, beasiswa,
premi asuransi yang dibayar pemberi kerja dan penghasilan teratur lainnya dengan nama
apapun;

2. Penghasilan yang diterima atau yang diperoleh secara tidak teratur berupa jasa produksi,
tantiem, gratifikasi, tunjangan cuti, tunjangan hari raya termasuk tunjangan tahun baru,
bonus, premi tahunan dan penghasilan sejenisnya lainya yang sifatnya tidak tetap;

3. Upah harian, upah mingguan, upah satuan, dan upah borongan;

4. Uang tebusan pensiun, uang pesangon, uang Tabungan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua
(JHT), dan pembayaran lain yang sejenis;

5. Honorarium, uang saku, hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk
apapun, komisi, beasiswa, dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak dalam negeri yang terdiri
dari:

Tenaga ahli yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaries,
penilai dan aktuaris;

Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, sutradara, crew film,
foto model, pemain drama, penari, pemahat, pelukis dan seniman lainnya;

Olahragawan;

Penasehat, pengajar, pelatih, penceramah, dan moderator;


Pengarang, peneliti, penterjemah;

Pemberi jasa dalam bidang teknik, computer dan system aplikasinya, telekomunikasi,
elektronika, fotografi dan pemasaran;

Kolportir ikan;

Pengawas, pengelola proyek, anggota dan pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan, peserta
sidang atau rapat, dan tenaga lepas lainnya dalam segala bidang kegiatan;

Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan;

Peserta perlombaan;

Petugas penjaja barang dagangan;

Petugas dinas luar asuransi;

Peserta pendidikan, pelatihan dan pemagangan;

distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan kegiatan sejenis
lainnya

6. Gaji, gaji kehormatan, tunjangan-tunjangan lain yang terkait gaji yang diterima oleh
pejabat Negara, PNS serta uang pensiun dan tunjangan-tunjangan lain yang sifatnya
terkait dengan uang pensiun yang diterima oleh pensiunan termasuk janda atau duda dan
atau anak-anaknya;

Penerimaan dalam bentuk natural dan kenikmatan lainnya dengan nama apapun yang
diberikan oleh bukan Wajib Pajak atau Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan
yang bersifat final dan yang dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan Norma
Penghitungan Khusus (deemed profit).

SUBJEK PAJAK PPh PASAL 21

Penerimaan penghasilan atau subjek pajak yang dipotong Pajak Penghasilan pasal 21 menurut
Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-545/PJ/2000 adalah:

Pejabat Negara yang meliputi: (1) Presiden dan Wakil Presiden, (2) Ketua, Wakil Ketua,
dan Anggota DPR/MPR, DPRD Propinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, (3) Ketua dan
Wakil Ketua Badan Pemeriksaan Keuangan, (4) Ketua dan Wakil Ketua, Ketua Muda,
dan Hakim Mahkamah Agung, (5) Menteri, Menteri Negara, dan Menteri Muda, (6) Jaksa
Agung, (7) Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Propinsi, (8) Bupati dan Wakil
Bupati Daerah Kabupaten, dan (9) Walikota dan Wakil Walikota;
Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah PNS-Pusat, PNS-Daerah, dan PNS lainnya yang
ditetapkan dengan dengan Peraturan Pemerintah sebagaimana diatur dalam undang-
undang Nomor 8 Tahun 1974;

Pegawai adalah setiap orang pribadi, yang melakukan pekerjaan berdasarkan suatu
perjanjian atau kesepakatan kerja baik tertulis maupun tidak tertulis, termasuk yang
melakukan pekerjaan dalam jabatan negeri atau badan usaha milik negara dan badan
usaha milik daerah;

Pegawai tetap yaitu orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja yang menerima atau
memperoleh gaji dalam jumlah tertentu secara berkala, termasuk anggota dewan
komisaris dan anggota pengawas yang secara teratur ikut serta melaksanakan kegiatan
perusahaan;

Pegawai lepas adalah orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja dan hanya
menerima upah apabila orang pribadi yang bersangkutan bekerja;

Penerimaan pensiun yaitu orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima atau
memperoleh imbalan untuk pekerjaan yang dilakukan dimasa lalu, termasuk orang
pribadi atau ahli warisnya yang menerima Tabungan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua;

Penerima honorarium yaitu orang pribadi yang menerima atau memperoleh imbalan
hubungan dengan jasa, jabatan, atau kegiatan yang dilakukannya;

Penerima Upah yaitu orang pribadi yang menerima upah harian, upah mingguan, upah
borongan, atau upah satuan;

Orang pribadi lainnya yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan


dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan dari Pemotong Pajak. Serta orang pribadi lainnya
yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan,
jasa, dan kegiatan dari Pemotongan Pajak.

2. PPh PASAL 22

A. PPh PASAL 22 IMPOR

OBJEK PAJAK PPh PASAL 22 Kegiatan Impor Barang

SUBJEK PAJAK PPh PASAL 22 Importir atau Indentor

B. PPh PASAL 22 BENDAHARAWAN

OBJEK PAJAK PPh PASAL 22 Penjualan Hasil Produksi atau Penyerahan Barang

SUBJEK PAJAK PPh PASAL 22 Rekanan Pemerintah


3. PPh PASAL 23

OBJEK PAJAK PPh PASAL 23

Objek Pajak Penghasilan Pasal 23 yang dikenakan pemotongan adalah:

Dividen;

Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan


pengembalian utang;

Royalti;

Hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong pajak penghasilan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 21 ayat (1) huruf e yakni perusahaan, badan, dan penyelenggara
kegiatan yang melakukan pembayaran sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan.
Perbedaanya adalah Hadiah dan penghargaan yang dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21
adalah hadiah dan penghargaan dalam bentuk apapun yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak orang pribadi dalam negeri berkenaan dengan suatu kegiatan lainnya. Sedangkan
Pajak Penghasilan pasal 23 dikenakan pada hadiah dan penghargaan dalam bentuk
apapun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak badan dalam negeri berkenaan dengan
suatu kegiatan yang diselenggarakan;

Bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi;

Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan
penghasilan lain sehubungan dengan persewaan tanah dan/atau bangunan yang telah
dikenakan PPh menurut PP Nomor 29 Tahun 1996;

Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa kontruksi, jasa konsultan,
dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21;

Yang dimaksud dengan jasa teknik adalah pemberian jasa dalam bentuk pemberian informasi
yang berkenaan dengan pengalaman dalam bidang industri, perdagangan dan ilmu pengetahuan
yang meliputi suatu proyek tertentu, membuat suatu jenis produk tertentu, dan dapat juga dalam
bentuk informasi yang berkenaan dengan pengalaman di bidang manajemen.

Sedangkan yang dimaksud dengan jasa manajemen adalah pemberian jasa dengan ikut serta
secara langsung dalam pelaksanaan manajemen dengan mendapatkan balas jasa berupa imbalan
manajemen (management fee). Jika tidak ikut secara langsung, maka kriterianya apabila masih
dalam ruang lingkup perdagangan termasuk jasa teknik, dan jasa biasa.

Jenis-jenis jasa lain seperti tercantum dalam Pasal 23 ayat (1) huruf c UU Nomor 17 Tahun 2000,
Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor Kep-305/PJ/2001 tentang Perkiraan Penghasilan Neto
yang digunakan sebagai dasar pemotongan pajak penghasilan dan jenis jasa lain yang atas
imbalannya dipotong pajak penghasilan berdasarkan pasal 23 adalah sebagai berikut:

Jasa perancang interior dan jasa perancang pertamanan;

Jasa akuntansi dan pembukuan;

Jasa pembasmian hama dan jasa pembersihan;

Jasa penebangan hutan;

Jasa pengeboran di bidang penambangan migas kecuali yang dilakukan oleh bentuk
usaha tetap;

Jasa penunjang di bidang penambangan migas;

Jasa penambangan dan Jasa penunjang di bidang penambangan selain migas;

Jasa perantara;

Jasa aktuaris;

Jasa pengisian sulih suara (dubbing) dan/atau mixing film;

Jasa penilai;

Jasa selain yang disebut di atas yang pembayarannya dibebankan pada Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, kecuali
jasa konstruksi dan jasa konsultan yang telah dikenakan pajak bersifat final sebagaimana
dimaksud dalam PP Nomor 73 Tahun 1996, yang dilakukan oleh Wajib Pajak dalam
negeri dan bentuk usaha tetap, selain yang telah dipotong PPh Pasal 21.

SUBJEK PAJAK PPh PASAL 23

1. Badan pemerintahan, Wajib Pajak BAdan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, Bentuk
Usaha Tetap (BUT), dan perwakilan perusahaan luar negeri di Indonesia.

2. Wajib Pajak orang pribadi; Akuntan, arsitek, dokter, notaries, PPAT (kecuali camat
PPAT), pengacara dan konsultan yang melakukan pekerja bebas.

4. PPh PASAL 26

OBJEK PAJAK PPh PASAL 26


Yang menjadi objek pajak penghasilan pasal 26 adalah semua penghasilan yang diterima atau
diperoleh oleh Wajib Pajak Luar Negeri dengan nama dan dalam bentuk apapun, yang meliputi:

Dividen

Bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan


pengembalian utang;

Royalty, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;

Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;

Hadiah dan penghargaan;

Pensiun dan pembayaran berkala lainnya.

Selain berbagai jenis penghasilan di atas, yang juga termasuk objek pajak PPh Pasal 26 adalah
sebagai berikut:

Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia;

Premi asuransi dan premi reasuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi di luar
negeri;

Penghasilan Kena Pajak suatu BUT yang sudah dikurangi dengan pajak, kecuali
ditanamkan kembali di Indonesia, maka tidak dipotong PPh Pasal 26.

SUBJEK PAJAK PPh PASAL 26

1. Pemerintahan, wajib pajak dalam negeri atau bentuk badan usaha tetap.

2. Wajib Pajak luara negeri, pemberi jasa teknik, manajemen dan konsultasi yang dilakukan
di Indonesia.

5. PPh FINAL

OBJEK PAJAK PPh FINAL

1. Persewaan tanah dan/atau bangunan.

2. hadiah undian

3. pengalihan hak atas tanah dan / atau bangunan

4. bunga deposito / tabungan / diskonto SBI


5. taransaksi saham dibursa efek

6. bunga / diskonto obligasi yang diperdagangkan dibursa efek

7. jasa kontruksi oleh kontraktor pengusaha kecil

8. jasa pelayaran dan / atau penerbangan luar negeri

1. jasa pelayaran dalam negeri

2. kantor perwakilan dagang asing

3. jasa maklon internasional mainan anak-anak

4. bangun guna serah (built, operate and transfer).

SUBJEK PAJAL PPh FINAL

1. wajib pajak orang pribadi maupun badan usaha

2. akuntan, arsitek, dokter, PPAT (keculi camat PPAT), pengacara dan konsultan yang
melakukan pekerjaan bebas

3. orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan

4. wajib pajak luar negeri, badan usaha tetap, wajib pajak pelayaran dan / atau penerbangan
luar negeri

Pajak penghasilan adalah pajak yang dibebankan pada penghasilan perorangan,


perusahaan atau badan hukum lainnya. Pajak penghasilan bisa diberlakukan
progresif, proporsional, atau regresif

Ketentuan
[sunting] Subyek pajak
Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, subyek pajak penghasilan adalah sebagai
berikut:

1. Subyek pajak pribadi yaitu orang pribadi yang bertempat tinggal di


Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus
delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang
pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai
niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.

2. Subyek pajak harta warisan belum dibagi yaitu warisan dari seseorang
yang sudah meninggal dan belum dibagi tetapi menghasilkan pendapatan,
maka pendapatan itu dikenakan pajak.

3. Subyek pajak badan badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di


Indonesia, kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi
kriteria:

1. pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-


undangan;

2. pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja


Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;

3. penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau


Pemerintah Daerah; dan

4. pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara;


dan

4. Bentuk usaha tetap yaitu bentuk usaha yang digunakan oleh orang pribadi
yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di indonesia tidak
lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan, atau badan yang
tidak didirikan dan berkedudukan di Indonesia, yang melakukan kegiatan di
Indonesia.

Bukan subyek pajak penghasilan


Undang-Undang Nomor 17 Tahun 200 menjelaskan tentang apa yang tidak termasuk obyek
pajak sebagai berikut:

1. Badan perwakilan negara asing.

2. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat - pejabat lain dari
negara asing dan orang - orang yang diperbantukan kepada mereka yang
bekerja pada dan bertempat tinggal bersama mereka dengan syarat bukan
warga negara indonesia dan negara yang bersangkutan memberikan
perlakuan timbal balik.
3. Organisasi internasional yang ditetapkan oleh keputusan menteri keuangan
dengan syarat Indonesia ikut dalam organisasi tersebut dan organisasi
tersebut tidak melakukan kegiatan usaha di Indonesia. Contoh: WTO, FAO,
UNICEF.

4. Pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh keputusan


menteri keuangan dengan syarat bukan warga negara indonesia dan tidak
memperoleh penghasilan dari Indonesia.

[sunting] Obyek pajak


Objek pajak penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat
dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan
nama dan dalam bentuk apapun.

Undang-undang Pajak Penghasilan Indonesia menganut prinsip pemajakan atas penghasilan


dalam pengertian yang luas, yaitu bahwa pajak dikenakan atas setiap tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak darimanapun asalnya yang dapat
dipergunakan untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak tersebut.

Pengertian penghasilan dalam Undang-undang PPh tidak memperhatikan adanya penghasilan


dari sumber tertentu, tetapi pada adanya tambahan kemampuan ekonomis. Tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak merupakan ukuran terbaik
mengenai kemampuan Wajib Pajak tersebut untuk ikut bersama-sama memikul biaya yang
diperlukan pemerintah untuk kegiatan rutin dan pembangunan.

Dilihat dari penggunaannya, penghasilan dapat dipakai untuk konsumsi dan dapat pula ditabung
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak.

Karena Undang-undang PPh menganut pengertian penghasilan yang luas maka semua jenis
penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun pajak digabungkan untuk
mendapatkan dasar pengenaan pajak. Dengan demikian, apabila dalam satu Tahun Pajak suatu
usaha atau kegiatan menderita kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan
penghasilan lainnya (Kompensasi Horisontal), kecuali kerugian yang diderita di luar negeri.
Namun demikian, apabila suatu jenis penghasilan dikenakan pajak dengan tarif yang bersifat
final atau dikecualikan dari Objek Pajak, maka penghasilan tersebut tidak boleh digabungkan
dengan penghasilan lain yang dikenakan tarif umum.
Pajak Penghasilan Pasal 23

Pajak Penghasilan Pasal 23 merupakan Pajak Penghasilan yang dipotong atas penghasilan yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap yang berasal dari modal,
penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal
21, yang dibayarkan atau terutang oleh badan pemerintah atau subjek pajak dalam negeri,
penyelenggara kegiatan, Bentuk Usaha Tetap atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya.

Subjek Pajak atau penerima penghasilan yang dipotong Pajak Penghasilan Pasal 23 adalah Wajib Pajak
dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap.

Pemotong Pajak

1. badan pemerintah;
2. subjek pajak badan dalam negeri;
3. penyelenggara kegiatan;
4. Bentuk Usaha Tetap;
5. perwakilan perusahaan luar negeri lainnya.
6. orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri tertentu, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor
Pelayanan Pajak sebagai Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 23, yaitu :
a. akuntan, arsitek, dokter, notaris, Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) kecuali Pejabat Pembuat
Akta Tanah tersebut adalah camat, pengacara, dan konsultan yang melakukan pekerjaan bebas;
atau
b. orang pribadi yagn menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan atas pembayaran
beruapa sewa.

Tarif Dan Objek Pajak

1. Sebesar 15% dari jumlah bruto atas :


a. dividen, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Ayat (1) huruf "g" Undang-undang PPh;
b. bunga, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Ayat (1) huruf "f";
c. royalti;
d. hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 Ayat (1) huruf
"e" Undang-undang PPh.
Hadiah dan penghargaan yang dipotong Pajak Penghasilan 21 adalah hadiah dan
penghargaan dalam bentuk apa pun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi
dalam negeri berkenaan dengan suatu kegiatan yang diselenggarakan, misalkan kegiatan olah
raga, keagamaan, kesenian, dan kegiatan lainnya.
Adapun hadiah dan penghargaan yang dipotong Pajak Penghasilan 23 adalah hadiah dan
penghargaan dalam bentuk apapun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak badan dalam
negeri berkenaan dengan suatu kegiatan yang diselenggarakan.
Sebesar 15% dari jumlah bruto dan bersifat final atas bunga simpanan yang dibayarkan oleh
2. koperasi.
3. Sebesar 15% dari perkiraan penghasilan neto atas :
a. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan
penghasilan lain sehubungan dengan persewaan tanah dan atau bangunan yang dikenakan
PPh yang bersifat final berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996;
b. imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konsultan hukum, jasa
konsultan pajak, dan jasa lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 Ayat (1) huruf "c"
Undang-undang Pajak Penghasilan, yang dilakukan oleh Wajib Pajak Dalam Negeri atau
Bentuk Usaha Tetap selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21.

Jenis Jasa Lain Dan Perkiraan Penghasilan Neto Atas Jasa Teknik,
Jasa Manajemen, Dan Jasa Lain

No. Perkiraan Penghasilan Jenis Jasa


Neto
1. 50% dari jumlah bruto tidak Jasa profesi, termasuk jasa konsultan hukum dan jasa konsultasi
termasuk PPN pajak
2. 40% dari jumlah bruto tidak a. Jasa teknik dan jasa manajemen
termasuk PPN
b. Jasa perancang/desain :
Jasa perancang interior dan jasa perancang pertamanan;
Jasa perancang mesin dan jasa perancang peralatan;
Jasa perancang alat-alat transportasi/kendaraan;
Jasa perancang iklan/logo;
Jasa perancang alat kemasan.
c. Jasa instalasi/pemasangan :
Jasa instalasi/pemasangan mesin dan jasa
instalasi/pemasangan peralatan;
Jasa instalasi/pemasangan listrik/telepon/air/gas/TV kabel.
d. Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan :
Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan mesin dan jasa
perawatan/pemeliharaan/perbaikan peralatan;
Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan alat-alat
transportasi/kendaraan;
Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan bangunan.
e. Jasa kustodian/penyimpanan/penitipan, tidak termasuk sewa
gudang yang telah dikenakan PPh Final berdasarkan PP Nomor
29 Tahun 1996.
f. Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga.
g. Jasa pemanfaatan informasi di bidang teknologi, termasuk jasa
internet.
h. Jasa telekomunikasi yang bukan untuk umum.
i. Jasa akuntansi dan pembukuan.
j. Jasa pengolahan/pembuangan limbah.
k. Jasa penebangan hutan, termasuk land clearing.
l. Jasa pengeboran (jasa drilling) di bidang penambangan minyak
gas dan bumi (migas), kecuali yang dilakukan oleh Bentuk Usaha
Tetap.
m Jasa penunjang di bidang penambangan migas.
.
n. Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan
selain migas.
o. Jasa perantara.
p. Jasa penilai.
q. Jasa aktuaris.
r. Jasa pengisian sulih suara (dubbing) dan/atau mixing film.
s. Jasa maklon.
t. Jasa rekruitmen/penyediaan tenaga kerja.
u. Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk
perawatan/pemeliharaan dan perbaikan.
3. 26,67% dari jumlah bruto a. Jasa perencanaan konstruksi.
tidak termasuk PPN b. Jasa pengawasan konstruksi
4. 13,33% dari jumlah bruto Jasa pelaksanaan konstruksi
tidak termasuk PPN
5. 10% dari jumlah bruto tidak a. Jasa pembasmian hama
termasuk PPN b. Jasa selain jasa-jasa tersebut di atas yang pembayarannya
dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Perkiraan Penghasilan Neto Atas Penghasilan Sewa (Kecuali


Persewaan Tanah/Bangunan) Dan Penggunaan Harta

No. Perkiraan Penghasilan Neto Jenis Jasa


1. 20% dari jumlah bruto tidak termasuk Sewa dan penghasilan lainnya sehubungan dengan
PPN pengunaan harta khusus kendaraan angkutan darat.
2. 40% dari jumlah bruto tidak termasuk Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan
PPN penggunaan harta kecuali sewa dan penghasilan lain
sehubungan dengan persewaan tanah dan atau bangunan
yang telah dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat
final.
Bukan Objek Pajak

1. penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank;


2. sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usahaa dengan hak opsi;
dividen atau bagian laba yang diterimaa atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak
dalam negeri, koperasi, Badan Usaha Milik Negara, atau Badan Usaha Milik Daerah, dari
3.
penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia,
dengan syarat :
a. dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
bagi Perseroan Terbatas, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah yang
menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah
b.
25% dari jumlah modal yang disetor dan harus mempunyai usaha aktif di luar kepemilikan
saham tersebut;
bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksadana selama 5 tahun pertama sejak
4.
pendirian perusahaan atau pemberian izin usaha:
bagian laba yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura dari badan pasangan usaha
5. yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia dengan syarat badan pasangan
usaha tersebut:
merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-
a.
sektor usaha yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan; dan
b. sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia;
6. Sisa Hasil Usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya;
7. bunga simpanan yang tidak melebihi batas yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
Sesuai Keputusan Menteri Keuangan telah ditetapkan batas jumlah sebesar Rp. 240.000,00 setiap
bulan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya;
Atas bunga simpanan yang jumlahnya di atas Rp. 240.000,00 dipotong PPh Pasal 23 sebesar 15%
dari seluruh bunga yang diterima dan bersifat final.

Saat Terutang, Penyetoran, Dan Pelaporan

1. Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 terutang pada akhir bulan dilakukannya pembayaran
atau pada akhir bulan terutangnya penghasilan yang bersangkutan;
Yang dimaksud dengan saat terutangnya penghasilan yang bersangkutan adalah saat
pembebanan sebagai biaya oleh pemotong pajak sesuai dengan metode pembukuan yang
dianutnya.
2. Pajak Penghasilan Pasal 23 harus disetor oleh Pemotong Pajak selambat-lambatnya tanggal 10
takwim berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak.
3. Pemotong PPh Pasal 23 diwajibkan menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa selambat-
lambatnya 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.
4. Pemotong PPh Pasal 23 harus memberikan tanda bukti pemotongan kepada orang pribadi atau
badan yang dibebani membayar Pajak Penghasilan yang dipotong.
Pajak Penghasilan Pasal 22

Apa yang dimaksud dengan PPh Pasal 22?

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 adalah PPh yang dipungut oleh :

1. Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan


lembaga-lembaga negara lainnya, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan
barang;

2. Badan-badan tertentu, baik badan pemerintah maupun swasta berkenaan dengan


kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain.

[ Kembali ke Pertanyaan ] [ Ke Menu Info Pajak ]

Siapa pemungut PPh Pasal 22?

1. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor barang;

2. Direktorat Jenderal Anggaran, Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah, yang


melakukan pembayaran atas pembelian barang;

3. BUMN/D, yang melakukan pembayaran atas pembelian barang dari belanja


negara dan/atau belanja daerah;

4. Badan usaha yang bergerak di bidang industri semen, industri rokok, industri
kertas, industri baja dan industri otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor
Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri;

5. Pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar
minyak jenis premix dan gas, atas penjualan hasil produksinya;

6. Badan Urusan Logistik (Bulog), atas penyerahan gula pasir dan tepung terigu.

[ Kembali ke Pertanyaan ] [ Ke Menu Info Pajak ]

Berapa besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas impor?

Atas impor :
1. yang menggunakan Angka Pengenal Importir (API), sebesar 2,5 % dari nilai
impor;

2. yang tidak menggunakan API, sebesar 7,5 % dari nilai impor;

3. yang tidak dikuasai, sebesar 7,5 % dari harga jual lelang.

Catatan :

Nilai impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk yaitu Cost
Insurance and Freight (CIF) ditambah dengan bea masuk dan pungutan lainnya yang dikenakan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan pabean di bidang impor.

[ Kembali ke Pertanyaan ] [ Ke Menu Info Pajak ]

Berapakah besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas pembelian barang yang dilakukan
oleh DJA dan Bendaharawan Pemerintah serta BUMN/ BUMD ?

Atas pembelian barang yang dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara /
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN/APBD) sebesar 1,5 % dari harga pembelian;

Berapakah besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi yang
dilakukan badan usaha yang bergerak di bidang industri semen, rokok kretek/
putih, kertas, baja otomotif ?

Atas penjualan hasil produksi yang dilakukan oleh badan usaha yang bergerak di bidang :

1. industri semen sebesar 0,25 % dari dasar pengenaan pajak (DPP) Pajak
Pertambahan Nilai (PPN);

2. industri rokok kretek/putih sebesar 0,1 % dari harga bandrol. dan bersifat final;

3. industri kertas sebesar 0,1 % dari DPP PPN;

4. industri baja sebesar 0,3% dari DPP PPN;

5. industri otomotif sebesar 0,45 % dari DPP PPN;

yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam
negeri;
[ Kembali ke Pertanyaan ] [ Ke Menu Info Pajak ]

Berapakah besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi


pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar
minyak jenis premix dan gas?
Atas penjualan hasil produksi Pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak di
bidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas kepada penyalur dan/atau agennya :

1. premium untuk SPBU Swastanisasi sebesar 0,3 % dari penjualan atau Rp


2.100,00/KL, dan untuk SPBU Pertamina sebesar 0,25 % dari penjualan atau Rp
1.750,00/KL;

2. solar untuk SPBU Swastanisasi sebesar 0,3 % dari penjualan atau Rp 1.140,00/KL
dan untuk SPBU Pertamina sebesar 0,25 % dari penjualan atau Rp 950,00/KL;

3. premix untuk SPBU Swastanisasi sebesar 0,3 % dari penjualan dan untuk SPBU
Pertamina sebesar 0,25 % dari penjualan;

4. minyak tanah sebesar 0,3 % dari penjualan atau Rp 912,00/KL;

5. gas LPG sebesar 0,3 % dari penjualan atau Rp 2.250,00/KL;

6. pelumas sebesar 0,3 % dari penjualan.

Catatan :

PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi Pertamina dan badan lain yang bergerak dibidang
bahan bakar minyak jenis premix dan gas, bersifat final.

Berapakah besarnya pungutan PPh Pasal 22 atas penyerahan barang yang


dilakukan oleh Bulog?

Atas penyerahan barang yang dilakukan oleh Bulog berupa :

a. Gula pasir kepada :

o Penyalur sebesar Rp 380,00/kuintal;

o Grosir sebesar Rp 270,00/kuintal;

o Pembeli lainnya sebesar Rp 650,00/kuintal

b. Tepung terigu kepada :

o Penyalur sebesar Rp 53,00/zak;

o Grosir sebesar Rp 38,00/zak;

o Pembeli lainnya sebesar Rp 91,00/zak

Catatan :
PPh Pasal 22 atas penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh Bulog bersifat final.

Apa saja yang dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22?

Dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22 :

1. Impor barang-barang dan/atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan


peraturan perundang-undangan tidak terutang PPh.

Pengecualian tersebut, harus dinyatakan dengan Surat Keterangan Bebas PPh


Pasal 22 yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak.

2. Impor barang-barang yang dibebaskan dari bea masuk :

o yang dilakukan ke dalam Kawasan Berikat dan Entrepot Produksi Untuk


Tujuan Ekspor (EPTE);

o sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 PP Nomor 6 Tahun


1969 tentang Pembebanan atas Impor sebagaimana diubah dan ditambah
terakhir dengan PP Nomor 26 tahun 1988 Jo. Peraturan Pemerintah Nomor
2 tahun 1973;

o berupa kiriman hadiah;

o untuk tujuan keilmuan.

3. Pembayaran atas penyerahan barang yang dibebankan kepada belanja


negara/daerah yang meliputi jumlah kurang dari Rp 500.000,00 (bukan
merupakan jumlah yang dipecah-pecah).

4. Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak, listrik, gas, air minum/PDAM,
benda-benda pos, dan telepon.

[ Kembali ke Pertanyaan ] [ Ke Menu Info Pajak ]

Kapan saat terutang dan pelunasan/ pemungutan PPh Pasal 22?

1. PPh Pasal 22 atas impor terutang dan dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran
Bea Masuk.
Dalam hal pembayaran Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, maka PPh Pasal 22
terutang dan dilunasi pada saat penyelesaian dokumen Pemberitahuan Impor
Untuk Dipakai (PIUD).

2. PPh Pasal 22 atas pembelian barang oleh Direktorat Jenderal Anggaran,


Bendaharawan Pemerintah Pusat/ Daerah, BUMN/D, yang dibayar dari belanja
negara dan/atau belanja daerah, terutang dan dipungut pada setiap dilakukan
pembayaran.

3. PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi di dalam negeri oleh badan usaha yang
bergerak di bidang industri semen, industri rokok, industri kertas, industri baja
dan industri otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak,
dipungut pada saat penjualan.

4. PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi oleh Pertamina dan badan usaha selain
Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas
harus dilunasi sendiri oleh penyalur, agen, atau pembeli lainnya sebelum Surat
Perintah Pengeluaran Barang (Delivery Order) ditebus;

5. PPh Pasal 22 atas penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh Bulog harus
dilunasi sendiri oleh penyalur, grosir,sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang
(Delivery Order) ditebus.

Bagaimana tata cara pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 22?

1. Atas Impor

a. Impor dilengkapi dengan LKP PPh Pasal 22 disetor oleh importir ke Bank
Devisa dengan menggunakan formulir Surat Setoran Pajak yang berlaku
sebagai bukti pungutan pajak;

b. Impor tidak dilengkapi dengan LKP PPh Pasal 22 dipungut dan disetor
oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib menerbitkan Bukti Pemungutan PPh
Pasal 22 dalam rangkap 3 yaitu :

a. Lembar pertama untuk pembeli;

b. Lembar kedua untuk disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pajak


sebagai lampiran laporan bulanan;

c. Lembar ketiga untuk arsip Pemungut Pajak yang bersangkutan.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai harus menyetorkan pemungutan PPh Pasal 22
atas impor dalam jangka waktu sehari setelah pemungutan pajak dilakukan ke
Kantor Pos dan Giro atau bank-bank persepsi, dan harus melaporkan hasil
pemungutannya tersebut ke Kantor Pelayanan Pajak secara mingguan selambat-
lambatnya tujuh hari setelah batas waktu penyetoran pajak berakhir.

o Direktorat Jenderal Anggaran, Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah,


BUMN/D, harus memungut dan menyetorkan pemungutan PPh Pasal 22 ke
Kantor Pos dan Giro atau bank-bank persepsi, pada hari yang sama dengan
pelaksanaan pembayaran, dengan menggunakan formulir Surat Setoran Pajak
(SSP) yang telah diisi oleh dan atas nama rekanan serta ditandatangani oleh
Bendaharawan. SSP berlaku sebagai bukti pungutan pajak. Pelaporan harus
disampaikan selambat-lambatnya empat belas hari setelah Masa Pajak berakhir.

o Badan usaha yang bergerak di bidang industri semen, rokok, kertas, baja dan
otomotif yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus memungut PPh
Pasal 22 atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri dan wajib menerbitkan
Bukti Pemungutan PPh Pasal 22 dalam rangkap tiga, yaitu :

a. Lembar pertama untuk pembeli;

b. Lembar kedua untuk disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pajak


sebagai lampiran laporan bulanan;

c. Lembar ketiga untuk arsip Pemungut Pajak yang bersangkutan.

Badan usaha tersebut harus menyetorkan secara kolektif pemungutan PPh Pasal
22 selambat-lambatnya tanggal lima belas bulan takwim berikutnya setelah Masa
Pajak berakhir. Pelaporan dilakukan dengan cara menyampaikan SPT Masa
selambat-lambatnya dua puluh hari setelah Masa Pajak berakhir.

o PPh Pasal 22 dari penyerahan oleh Pertamina atas hasil produksinya, dari
penyerahan bahan bakar minyak dan gas oleh badan usaha selain Pertamina, dan
dari penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh Bulog, dipungut dengan cara
dilunasi sendiri oleh Wajib Pajak ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro
sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang (Delivery Order) ditebus, dengan
menggunakan SSP yang juga merupakan bukti pungutan pajak.

Pelaporan dilakukan dengan cara menyampaikan SPT Masa selambat-lambatnya


dua puluh hari setelah Masa Pajak berakhir.

PPH PASAL 25
PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 84/KMK.03/2002 Jo KMK No. 522/KMK.04/2000, KEP


- 547/PJ./2000 Jo KEP - 513/PJ./2001 Jo KEP - 171/PJ./2002 Jo SE - 14/PJ.41/2002 Jo S -
58/PJ.311/2004

Ketentuan ini mulai berlaku sejak tanggal 1 April 2002

1. Wajib Pajak Orang Pribadi Tertentu (WP OPPT) adalah Wajib Pajak (WP) yang
melakukan kegiatan usaha di bidang perdagangan grosir dan atau eceran barang-barang
konsumsi melalui tempat usaha/gerai (outlet) yang tersebar di beberapa lokasi, tidak
termasuk perdagangan kendaraan bermotor dan restoran.

2. WP yang memiliki beberapa tempat usaha dalam satu wilayah kerja KPP, harus
mendaftarkan masing-masing tempat usahanya di KPP yang bersangkutan.

3. WP yang memiliki beberapa tempat usaha di lebih dari 1 wilayah kerja KPP, harus
mendaftarkan setiap tempat usahanya di KPP Lokasi masing-masing tempat usaha WP
berada.

4. Terhadap WP OPPT tersebut di atas wajib membayar angsuran PPh dalam tahun berjalan
(PPh Pasal 25) sebesar 2 % dari jumlah peredaran bruto berdasarkan pembukuan atau
pencatatan setiap bulan dari masing-masing tempat usaha/gerai (outlet) WP.

5. WP OP yang memberikan pernyataan semata-mata hanya memiliki satu tempat


usaha/gerai(outlet) tidak boleh dikukuhkan menjadi WP OPPT oleh KPP Lokasi. WP
yang bersangkutan hanya wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP ke KPP
Domisili. KPP lokasi hanya bisa memberitahukan ke WP dan KPP domisili agar terhadap
WP yang bersangkutan dilakukan pendaftaran/pemberian NPWP ( lihat S -
58/PJ.311/2004 )

6. PPh Pasal 25 tersebut harus dilunasi paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya dan harus
dilaporkan ke KPP terkait paling lambat tanggal 20 bulan tersebut dengan menggunakan
SPT Masa PPh Pasal 25 seperti contoh pada lampiran II KEP - 171/PJ./2002.

7. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi tersebut hanya disampaikan di KPP tempat
domisili Wajib Pajak terdaftar dengan melampirkan formulir daftar jumlah penghasilan
dan pembayaran PPh Pasal 25 dari masing-masing tempat usaha/gerai (outlet). Formulir
yng digunakan seperti contoh pada lampiran I KEP - 171/PJ./2002.

8. Hal-hal penting sehubungan dengan pembayaran dan pelaporan PPh pasal 25 untuk WP
Orang Pribadi tertentu :

a. KPP lokasi adalah KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat usaha/gerai (outlet).
b. KPP Domisili adalah KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal WP Orang
Pribadi yang bersangkutan.

c. Jika WP Orang Pribadi tertentu menerima atau memperoleh penghasilan lain yang
dikenakan PPh yang bersifat tidak final maka :

- PPh Pasal 25 yang dibayar oleh masing-masing tempat usaha/gerai (outlet) dapat
dikreditkan dalam penghitungan PPh terutang untuk tahunn pajak yang bersangkutan

- Jika ada kompensasi kerugian tahun pajak sebelumnya, kompensasi kerugian dapat
diperhitungkan dengan penghasilan WP Orang Pribadi tertentu sepanjang belum habis
masa kompensasinya

- Besarnya angsuran PPh pasal 25 atas penghasilan lain yang diterima atau diperoleh
WP untuk bulan-bulan setelah batas waktu penyampaian SPT tahunan PPh, sama
dengan besarnya PPh Pasal 25 untuk bulan terakhir dari tahun pajak yang lalu.

- Besarnya angsuran PPh pasal 25 atas penghasilan lain yang diterima atau diperoleh
WP untuk bulan-bulan setelah batas waktu penyampaian SPT tahunan PPh adalah sbb
=

Penghasilan lain neto


besar angsuran yang terutang berdasarkan SPT tahunan PPh
Total penghasilan X
tahun pajak sebelumnya.
neto

- Contoh penghitungan PPh Pasal 25 untuk WP Orang Pribadi tertentu menerima atau
memperoleh penghasilan lain yang dikenakan PPh yang bersifat tidak final :

Perdagangan Penghasilan Lain


Uraian Jumlah (Rp)
(Rp) (Rp)

Peredaran Bruto 600.000.000 200.000.000 800.000.000

Harga Pokok dan Biaya lain (500.000.000) (120.000.000) (620.000.000)


Penghasilan Neto 100.000.000 80.000.000 180.000.000

PTKP ( misal K/2) - - (7.200.000)

PKP - - 172.800.000

PPh Terutang ( tarif Psl 17) - - 29.450.000

PPh Pasal 25 ayat (7) yang telah


- - (6.000.000)
dibayar

PPh Kurang Bayar - - 23.450.000

Besar Angsuran ( 1/12 X 17.450.000


- - 1.954.167
)

Besar Angsuran untuk Penghasilan lain = (80.000.000/180.000.000) X


868.518
1.954.167

d. Jika WP Orang Pribadi tertentu tidak memperoleh penghasilan lain yang dikenakan PPh
yang bersifat final maka :

- PPh Pasal 25 yang dibayar oleh masing-masing tempat usaha/gerai (outlet)


merupakan pelunasan PPh terutang.

- Jika ada kompensasi kerugian tahun pajak sebelumnya, kompensasi kerugian tidak
dapat diperhitungkan.
Daftar Tarif PPh Pasal 4 Ayat (2)_PPh Final
No Penghasilan Tarif Ketentuan Berlaku
Urut
%

1 Bunga Deposito/Tabungan, Diskonto SBI dan Jasa 20 Pasal 4 (2) a UU


Giro**** PPh jo PP 131
Nomor Tahun 2000
Jo KMK
51/KMK.04/2001

2 bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi 10 Pasal 4(2) a dan


kepada anggota koperasi orang pribadi^ Pasal 17 (7) Jo PP
No.15 Tahun 2009

3 bunga obligasi ^^^ Pasal 4 (2) a UU


PPh jo PP Nomor
(adalah surat utang dan SUN yang lebih dari 12 bulan) : 16 Tahun 2009

3a. bunga dari Obligasi dengan kupon bagi Wajib Pajak 15 s.d.a
dalam negeri dan BUT

3b. bunga dari Obligasi dengan kupon bagi Wajib Pajak LN 20 s.d.a
Non BUT seusai P3B

3c. diskonto dari Obligasi dengan kupon bagi Wajib Pajak 15 s.d.a
dalam negeri dan BUT*

3d. Diskonto dari Obligasi dengan kupon bagi Wajib Pajak 20 s.d.a
LN Non BUT sesuai P3B*

3e. diskonto dari Obligasi tanpa bunga bagi Wajib Pajak 15 s.d.a
dalam negeri dan BUT**

3f. diskonto dari Obligasi tanpa bunga bagi Wajib Pajak 20 s.d.a
LN Non BUT sesuai P3B**

3g. bunga dan/atau diskonto dari Obligasi yang diterima 0 s.d.a


dan/atau diperoleh Wajib Pajak reksadana yang
terdaftar pada Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan untuk tahun 2009 s.d 2010

3h. bunga dan/atau diskonto dari Obligasi yang diterima 5 s.d.a


dan/atau diperoleh Wajib Pajak reksadana yang
terdaftar pada Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan untuk tahun 2011 s.d. tahun 2013

3i. bunga dan/atau diskonto dari Obligasi yang diterima 15 s.d.a


dan/atau diperoleh Wajib Pajak reksadana yang
terdaftar pada Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan untuk tahun 2014 dst

4 Deviden yang diterima/diperoleh Wajib Pajak Orang 10 Pasal 17 (2c) dan


Pribadi Dalam Negeri Pasal 4 (2) UU PPh

5 hadiah undian 25 Pasal 4 (2) b UU


PPh Jo PP No. 132
Tahun 2000

6 transaksi derivatif berupa kontrak 2.5 Pasal 4 (2) c UU


PPh jo PP Nomor
berjangka yang diperdagangkan di bursa*** 17 Tahun 2009

7a Transaksi penjualan saham pendiri 0.5 PP Nomor 14 Tahun


1997 Jo KMK
282/KMK.04/1997 Jo
SE 15/PJ.42/1997
dan SE
06/PJ.4/1997

7b Transaksi penjualan bukan saham pendiri 0.1 s.d.a.

8 Jasa Konstruksi Pasal 4 (2) c UU PPh


Jo PP No. 51 Tahun
2008 Jo PP No. 40
Tahun 2009

8a. Pelaksana JK sertifikasi kecil 2 s.d.a.

8b. Pelaksana JK tanpa sertifikasi 4 s.d.a.

8c. Pelaksana JK sertifikasi sedang dan besar 3 s.d.a.

8d. Perancang atau pengawas JK oleh penyedia JK 4 s.d.a.


bersertifikasi usaha

8e. Perancang atau pengawas JK oleh penyedia JK tanpa 6 s.d.a.


bersertifikasi usaha

9 Persewaan atas tanah dan/atau bangunan 10 Peraturan


Pemerintah Nomor
29 Tahun 1996 jo
PP No. 05 Tahun
2002

10a. Wajib Pajak yang Melakukan Pengalihan Hak atas 5 Pasal 4 (2) d UU
Tanah dan/atau bangunan (termasuk usaha real PPh Jo PP No. 71
estate)^* Thn 2008

10b. Pengalihan Rumah Sederhana dan Rumah Susun 1 s.d.a.


Sederhana oleh Wajib Pajak yang usaha pokoknya
melakukan Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau
bangunan

11 transaksi penjualan saham atau pengalihan 0.1 PP Nomor 4 Tahun


penyertaan modal pada perusahaan pasangannya 1995
yang diterima oleh perusahaan modal ventura^^

* dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan Obligasi, tidak

termasuk bunga berjalan

* * dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan Obligasi

*** dari margin awal

****Kecuali yang diterima bank, dana pensiun, tabungan pemilikan rumah RSS, tabungan atau
deposito dibawah rp 7.500.000,-

^ kecuali bunga Rp 240.000,- perbulan ke bawah tidak dikena PPh

^* kecuali pengalihan oleh Wajib Pajak OP yang berpenghasilan dibawah PTKP dengan nilai
pengalihan kurang dari Rp 60.000.000,- , penjualan, tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan
hak, atau cara lain kepada pemerintah guna pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum
yang memerlukan persyaratan khusus; hibah, warisan.
^^ dengan sarat perusahaan pasangannya tidak terdaftar dibursa efek, dalam hal transaksi
penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal tersebut dilakukan melalui bursa efek, maka
pengenaan Pajak Penghasilannya dilakukan sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam
peraturan perundang-undangan tentang Pajak Penghasilan atas penghasilan dari transaksi
penjualan saham di bursa efek

^^^ Kecuali bunga dan/atau diskonto yang diterima oleh dana pensiun dan bank, baik bank DN
atau perwakilan bank LN di DN PPh-nya tidak final

Pajak Penghasilan Pasal 24


Pengertian Pajak Penghasilan Pasal 24 adalah Pemotongan Pajak Penghasilan atas
seluruh penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Dalam Negeri yang
berasal dari Luar Negeri

Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri dilakukan sebagai berikut :

1. Untuk penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya


penghasilan

2. Untuk penghasilan berupa dividen, dilakukan dalam tahun pajak pada saat
perolehan dividen tersebut (650/KMK.04/1994 Jo SE - 22/PJ.4/1995 Jo SE -
35/PJ.4/1995)

3. Untuk penghasilan lainnya, dilakukan dalam tahun pajak diterimanya


penghasilan tersebut

4. Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh digabungkan dalam


menghitung Penghasilan Kena Pajak di Indonesia.

Mekanisme Pengkreditan PPh yang Dibayar di Luar Negeri (164/KMK.03/2002)

Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di Luar Negeri dapat


dikreditkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang di Indonesia.

Pengkreditan PPh yang dibayar di Luar Negeri (PPh Pasal 24) dilakukan dalam
tahun pajak digabungkannya penghasilan dari luar negeri tersebut dengan
penghasilan di Indonesia.
Jumlah PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan maksimum sebesar jumlah yang
lebih rendah di antara PPh yang dibayar atau terutang di Luar Negeri dan
jumlah yang dihitung menurut perbandingan antara penghasilan dari luar
negeri dan seluruh Penghasilan Kena Pajak, atau maksimum sebesar PPh
yang terutang atas seluruh Penghasilan Kena Pajak dalam hal di dalam negeri
mengalami kerugian (Penghasilan dari LN lebih besar dari jumlah Penghasilan
Kena Pajak).

Apabila penghasilan dari luar negeri berasal dari beberapa negara, maka
penghitungan PPh Pasal 24 dilakukan untuk masing-masing negara.

Penghasilan Kena Pajak (PKP) yang dikenakan PPh Final (Pasal 4 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 ) dan/atau penghasilan yang
dikenakan pajak tersendiri (Pasal 8 ayat (1 dan 4) Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2000 ) tidak dapat digabungkan dengan penghasilan lainnya, baik
yang diperoleh dari Dalam Negeri maupun dari Luar Negeri.

Dalam hal jumlah PPh yang dibayar atau terutang di luar negeri melebihi PPh
Pasal 24 yang dapat dikreditkan, kelebihan tersebut tidak dapat
diperhitungkan di tahun berikutnya, tidak boleh dibebankan sebagai biaya,
dan tidak dapat direstitusi.

Untuk melaksanakan prengkreditan PPh Luar Negeri, wajib pajak wajib


menyampaikan permohonan ke KPP bersamaan dengan penyampaian SPT
Tahunan PPh, dilampiri dengan ;

1. - Laporan Keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri

2. - Foto kopi Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri

3. - Dokumen pembayaran PPh di luar negeri.

Atas permohonan wajib pajak, Kepala KPP dapat memperpanjang jangka


waktu penyampaian lampiran-lampiran di atas, karena alasan-alasan di luar
kekuasaan wajib pajak.

Dalam hal terjadi perubahan besarnya penghasilan yang berasal dari luar
negeri, wajib pajak harus melakukan pembetulan SPT Tahunan yang
bersangkutan dengan melampirkan dokumen-dokumen yang berkenaan
dengan perubahan tersebut.

Apabila karena pembetulan SPT tersebut menyebabkan PPh kurang dibayar,


maka atas kekurangan bayar tersebut tidak dikenakan sanksi bunga.
Apabila karena pembetulan SPT tersebut menyebabkan lebih bayar, maka
atas kelebihan tersebut dapat dikembalikan kepada wajib pajak setelah
diperhitungkan dengan utang pajak lainnya.

1. Contoh 1 :

PT X berkedudukan di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2001


adalah sbb :

-Penghasilan neto dari dalam negeri sebesar Rp 8.000.000.000,00.

-Di Singapura memperoleh penghasilan (laba neto) Rp 2.000.000.000,00, dimana


PPh yang dibayar di Singapura sebesar Rp 800.000.000,00

-Di Vietnam memperoleh penghasilan (laba neto) sebesar Rp 6.000.000.000,00,


dimana PPh yang dibyar sebesar Rp 1.500.000.000,00

-Di Malaysia menderita kerugian (rugi neto) sebesar Rp 5.000.000.000,00.

Perhitungan Kredit PPh Luar Negeri-nya adalah sbb :

Penghasilan neto dalam negeri Rp 8.000.000.000,00

Penghasilan neto dari Singapura Rp 2.000.000.000,00

Penghasilan neto dari Vietnam Rp 6.000.000.000,00

Jumlah Penghasilan Neto Rp 16.000.000.000,00

Rugi neto yang berasal dari Malaysia tidak boleh digabung (tidak diakui).

Perhitunga PPh Terutang :

10% x Rp 50.000.000,00 = Rp 5.000.000,00

15% x Rp 50.000.000,00 = Rp 7.500.000,00

30% x Rp 15.900.000.000,00 = Rp 4.770.000.000,00

Jumlah Rp 4.782.500.000,00

Batas Maksimum Kredit Pajak Luar Negeri :

-Singapura = (2 Milyar / 16 Milyar) x Rp 4.782.500.000,00 = Rp 597.812.500,00

PPh yang dapat dikreditkan hanya Rp 597.812.500,00 meskipun secara nyata


membayar PPh di Singapura sebesar Rp 800.000.000,00. Sisanya tidak boleh
dikompensasi ke tahun berikutnya, direstitusi, maupun dibebankan sebagai biaya.

-Vietnam = (6 Milyar / 16 Milyar) x Rp 4.782.500.000,00 =Rp 1.793.437.500,00.

PPh yang dapat dikreditkan sebesar Rp 1.500.000.000,00 (sebesar yang nyata-


nyata dibayar/terutang di Vietnam).
2. Contoh 2 :

PT Y berkedudukan di Surabaya memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2001


sbb :

-Penghasilan neto (rugi) di dalam negeri Rp (600.000.000,00)

-Penghasilan neto dari usaha di Philipina Rp 3.000.000.000,00

Jumlah Rp 2.400.000.000,00

-PPh yang terutang di Philipina sebesar

Rp 1.200.000.000,00

Perhitungan Kredit Pajak Luar Negeri :

Jumlah Penghasilan Neto (Penghasilan Kena Pajak)Rp 2.400.000.000,00

PPh Terutang :

10% x Rp 50.000.000,00 = Rp 5.000.000,00

15% x Rp 50.000.000,00 = Rp 7.500.000,00

30% x Rp 2.300.000.000,00 = Rp690.000.000,00

Jumlah Rp 702.500.000,00

Batas Maksimum Kredit Pajak Luar Negeri :

Karena jumlah Penghasilan Kena Pajaknya lebih kecil dari pada Penghasilan Neto
dari Luar Negeri (di Dalam Negeri mengalami kerugian), maka maksimum Kredit
Pajak Luar Negeri adalah sama dengan jumlah PPh yang terutang, yaitu Rp
702.500.000,00. PPh yang telah dibayar di Philipina adalah sebesar Rp
1.200.000.000,00, sehingga terdapat sisa sebesar Rp 497.500.000,00, yang tidak
dapat dikompensasi ke tahun berikutnya, direstitusi, maupun diakui sebagai biaya.