Anda di halaman 1dari 33

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH

2.1 Administratif

2.1.1 Kabupaten Sleman


Kabupaten Sleman merupakan salah satu kabupaten di Provinsi DIY yang
berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, dimana pada batas dengan Provinsi Jawa
Tengah didominasi dengan bentang lahan gunung, khususnya Gunung Api Merapi.
Data singkat Kabupaten Sleman adalah sebagai berikut:
Dasar pembentukan: UU No.15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah
Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta,
Ibukota: Beran, Desa Tridadi Kecamatan Sleman
Batas Wilayah
- Utara: 7 o 34' 51" LS - Kabupaten Magelang, Kab. Boyolali
- Timur: 110 o 13' 00" BT - Kabupaten Klaten
- Selatan: 7 o 47' 03" LS - Kota Yogyakarta dan Kab. Bantul
- Barat: 110o33'00"BT - Kabupaten Kulon Progo & Magelang
Luas wilayah: 574,82 km
Penduduk: 1.090.567 jiwa (hasil Sensus Penduduk 2010
Kepadatan: 1.810 jiwa/km , kepadatan tertinggi 5.124 jiwa/ km
(Kecamatan Depok), terendah 593 jiwa/km di
Kecamatan Cangkringan; Desa Minomartani, Kecamatan
Ngaglik adalah desa terpadat berkepadatan bruto 9.400
jiwa/km dan kepadatan netto mencapai 14.200 jiwa/ km)
Kecamatan 17
Desa: 86
Indikator IPM Tahun 2009
Angka Harapan Hidup: 74, 74 tahun (nasional: 69,21 tahun)
Indeks Kesehatan: 82,90 (nasional: 73,68)
Indeks Pendidikan: 84,08 (nasional: 78,88)
Indeks Pendapatan: 66,12 (nasional: 62,71)
Indek Pembangunan Manusia: 77,70 (nasional: 71,76)
Indek Pembangunan Gender: 73,5 (Tahun 2007)
Indek Pemberdayaan Gender: 62,8 (tahun 2007)

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 1


Kabupaten Sleman merupakan daerah andalan penghasil produk-produk
pertanian untuk Provinsi DIY. Namun demikian, sektor pertanian tidak lagi menjadi
sektor yang memberikan sumbangan terbesar bagi PDRB Kabupaten Sleman. Sektor
Tersier seperti Perdagangan, Hotel dan Restoran merupakan penyumbang utama
dalam PDRB Kabupaten Sleman. Sedangkan sektor pertanian dengan produk
unggulan seperti padi, salak, rambutan, tembakau dan produk peternakan, berada
diperingkat kedua dan diikuti sektor jasa-jasa.
Kegiatan perdagangan di Kabupaten Sleman tidak hanya yang bersifat lokal,
melainkan telah berhasil menembus pasar dunia, seperti pakaian jadi, mebel kayu,
sarung tangan kulit, lampu, tekstil, produk tekstil lainnya, kerajinan kayu, kerajinan
disamak, dan papan kemas. Dari sektor hotel dan restoran, di Kabupaten Sleman
terdapat 12 hotel berbintang yang terdapat di Kecamatan Depok dan Ngaglik, yang
nota bene merupakan kawasan perkotaan Kabupaten Sleman. Sementara itu, hotel
non-bintang sebanyak 325 buah tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Sleman.
Kabupaten Sleman juga memiliki kampus perguruan tinggi berskala nasional
dalam jumlah cukup banyak, tercatat tak kurang dari sepuluh perguruan tinggi negeri
dan swasta berada di wilayah Kabupaten Sleman, termasuk Universitas Gadjah Mada.
Tercatat di wilayah Kabupaten Sleman terdapat 5 PTN dan 43 PTS dengan jumlah
mahasiswa kurang lebih 100.000 jiwa.

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 2


Gambar 2.1 Peta Orientasi Kabupaten Sleman2.1.2 Kawasan Perkotaan
Kabupaten Sleman
Kawasan secara harfiah keruangan merujuk pada suatu ruang yang terbentuk
atau terkelompok berdasar luasan pengaruh yang bersifat fungsional daripada merujuk
ke ruang ddalam konteks batasan administratif. Kawasan perkotaan dapat diartikan
sebagai suatu luasan ruang yang mempunyai ciri fungsional kegiatan dengan dominasi
sektor non pertanian.
Dari ke 17 kecamatan di Kabupaten Sleman, sesuai perkembangannya maka
saat ini tercatat ada 9 kecamatan yang berindikasi sebagai kawasan perkotaan,
memang tidak keseluruhan wilayah dari kesembilan kecamatan tersebut sepenuhnya
mempunyai fungsi perkotaan. Ada kecamatan yang sepenuhnya dapat dikelompokkan
sebagai perkotaan, seperti Kecamatan Depok. Ada pula kecamatan yang hanya
kurang dari 25% bersifat perkotaan, seperti Kecamatan Godean, Ngemplak, Kalasan
dan Berbah.

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 3


Gambar 2.2 Peta Kawasan Perkotaan Kabupaten Sleman

Sesuai sejarah perkembangannya, perkembangan kawasan perkotaan di


Kabupaten Sleman banyak disebabkan oleh luberan kegiatan perkotaan dari Kota
Yogyakarta. Maka, kecamatan-kecamatan yang bersinggungan langsung dengan
wilayah Kota Yogyakarta adalah kecamatan-kecamatan yang paling cepat berkembang
menjadi kawasan perkotaan. Dalam perkembangan lanjut, tumbuhnya kawasan
perkotaan juga didorong oleh pembangunan kampus pendidikan tinggi dan
perumahan-perumahan baru.
Kawasan perkotaan di Kabupaten Sleman yang dulunya lebih sebagai luberan
urbanisasi dari Kota Yogyakarta, dalam perkembangan terakhir telah tumbuh kembang
sebagai kawasan perkotaan yang mandiri. Skala kegiatan perkotaan yang tumbuh
telah sepadan, bahkan melebihi kegiatan sejenis yang ada di Kota Yogyakarta, seperti
tumbuhnya kampus-kampus berskala regional-nasional (kampus UGM yang nota bene
berada di wilayah Kabupaten Sleman, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas
Pembangunan Nasional Veteran, Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga dan Universitas Atmajaya Yogyakarta, serta puluhan PTS
lainnya) telah menjadikan kawasan sekitar kampus-kampus tersebut menjadi kawasan
perkotaan yang mandiri.
Tumbuhnya pusat-pusat perbelanjaan skala pusat grosir dan mal tak kurang
dari 4 buah (Indogrosir, Makro-Lotte, Ambarukmo Plaza dan Alfa-Carrefour) serta
puluhan hotel berbintang (Hyatt, Sheraton, Quality, Jayakarta, Yogyakarta Plaza,
Sahid) menambah kuat fungsi perkotaan wilayah Kabupaten Sleman yang berbatasan
langsung dengan Kota Yogyakarta.
Kawasan perkotaan di Kabupaten Sleman berdasar luasannya mengalami
penambahan pengurangan. Pada awalnya, luasan kawasan perkotaan di kabupaten

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 4


Sleman lebih ditentukan oleh ketetapan kebijakan di bidang kerjasama pembangunan
aglomerasi perkotaan Yogyakarta, sehingga ada kawasan perkotaan versi tahun 1998,
2004, dan 2007. Namun demikian, pada tahun 2008 dalam penyusunan Masterplan
Persampahan Wilayah Perkotaan Kabupaten Sleman Tahun 2008, disepakati kawasan
perkotaan mencakup wilayah 20 desa yang tersebar di 9 kecamatan.
Kawasan perkotaan Kabupaten Sleman yang menjadi sasaran program sanitasi
perkotaan adalah kawasan perkotaan fungsional, dimana hanya desa/kelurahan yang
kuat berindikasi perkotaan yang masuk sebagai kawasan rencana. Peta 2.2 diatas
adalah cakupan wilayah pengelolaan sanitasi perkotaan Kabupaten Sleman.
Kawasan perkotaan Kabupaten Sleman seluas 14.121 Ha dengan batasan 9
(sembilan) wilayah administrasi kecamatan dan di dalamnya terdapat 20 (dua puluh)
wilayah administrasi desa , yaitu:
1) Gamping : Trihanggo, Nogotirto, Ambarketawang, Banyuraden, Balecatur

2) Godean : Sidoarum
3) Mlati : Sinduadi, Sendangadi, Sumberadi, Tlogoadi, Tirtoadi
4) Sleman : Tridadi
5) Ngaglik : Sariharjo, Minomartani
6) Depok : Maguwoharjo, Caturtunggal, Condongcatur
7) Ngemplak : Wedomartani
8) Berbah : Kalitirto
9) Kalasan : Purwomartani

2.2 Kondisi Fisik Wilayah


2.2.1 Geomorfologi
Kondisi geomorfologi wilayah terdiri atas relief/topografi, proses dan struktur.
Geomorfologi wilayah perencanaan secara umum dipengaruhi oleh aktivitas vulkan
Merapi. Bentuk lahan Dataran Kaki Gunungapi (VDk), mempunyai topografi datar
hingga hampir datar, dengan kemiringan lereng rata-rata 2% ke arah selatan atau 0-
3%. Proses erosi lembar yang disebabkan oleh aliran permukaan merupakan proses
yang dominan. Selain itu, proses deposisional pada daerah-daerah yang lebih rendah
sudah terjadi. Material penyusun berupa pasir sedang hingga halus pada bagian atas,
sedangkan material vulkanik yang agak kasar terdapat di lapisan bawahnya.
Kondisi geomorfologi yang agak beda adalah pada kawasan-kawasan lembah
sungai, dimana pada lembah sungai banyak dipengaruhi proses alluvial, bahkan pada
kawasan perkotaan Sleman yang agak utara (Ngaglik, Ngemplak) proses erosi dari
material Gunung Merapi masih aktif berlangsung. Hal ini mengingat aktivitas
gunungapi dari Gunung Merapi yang terbilang aktif.
Pasca erupsi besar Gunung Merapi pada akhir Oktober-awal Nopember 2010,
maka kondisi geomorfologis pada wialayah Kecamatan Cangkringan dan sebagian
kecil wilayah Kecamatan Ngemplak telah mengalami perubahan drastic. Kawasan-
kawasan lembah sungai telah penuh dengan material vulkanis, baik batu maupun
kerikil dan pasir.

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 5


Gambar 2.3 Peta Geomorfologi Kabupaten Sleman

Secara geomorfologis, wilayah Kabupaten Sleman walaupun ada factor Gunung


Merapi merupakan kawasan yang stabil dengan topografi ideal untuk pengembangan
budidaya pertanian pangan dan hortikultura, juga untuk pengembangan kawasan
permukiman.2.2.2 Geologi
Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta tahun 1977, secara umum
wilayah perencanaan termasuk dalam formasi Yogyakarta yang merupakan formasi
endapan vukanik Merapi Muda, yang terbentuk pada jaman kuarter. Material penyusun
yang dominan adalah pasir dan debu vulkanik, di samping itu terdapat pula sisipan tuff,
abu, breksi, aglomerat dan lelehan lava yang tidak terpisahkan. Secara keseluruhan
kondisi airtanah di kawasan perencanaan cukup baik, baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya.
Kondisi geologi pada formasi Yogyakarta mempunyai sifat yang stabil, apalagi
didukung dengan topografi yang landai. Sehingga, wilayah Kabupaten Sleman secara
geologis merupakan kawasan yang stabil, bahkan mempunyai tingkat absorbsi tinggi
terhadap guncangan gempa
.Gambar 2.4 Peta Geologi Kabupaten Sleman
2.2.3 Jenis Tanah
Jenis tanah merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap terjadinya
peresapan air ke bawah (infiltrasi), di samping beberapa faktor lain yang berpengaruh
seperti lereng, vegetasi penutup, kejenuhan dan lainnya. Menurut Dames (1955),
secara keseluruhan daerah perencanaan yang berada di Kabupaten Sleman termasuk

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 6


jenis tanah abu vulkanis muda hasil pelapukan erupsi Gunung Api Merapi; yang
merupakan hasil pelapukan lava, pasir, debu dan puing-puing hasil erupsi Merapi yang
masih sangat sedikit mengalami perkembangan tanah.
Jenis tanah wilayah perencanaan di Kabupaten Sleman berupa Regosol dan
Kambisol yang berstruktur lepas-lepas (porus) dan berkesuburan sedang -baik. Jenis
tanah ini juga dikenal mempunyai tingkat meloloskan (porositas) air yang besar.
Sehingga, di sisi lain mempunyai dampak yang patut diwaspadai untuk kawasan
bawahannya, dimana setiap pembuangan limbah cair pada kawasan hulu (utara) akan
diresapkan dengan cepat ke bagian hilir (selatan), yakni wilayah Kota Yogyakarta dan
Kabupaten Bantul

Gambar 2.5 Peta Jenis Tanah di Kabupaten Sleman

2.2.4 Klimatologi
Karakteristik iklim di Kabupaten Sleman, berdasar rerata hujan tahunan, dan
jumlah bulan basah dan bulan kering adalah kawasan dengan tipe iklim basah, kecuali
pada kawasan Kecamatan Seyegan, Moyudan dan Depok bagian timur mempunyai
tipe agak basah.
Karakteristik hujan adalah bulan-bulan hujan berlangsung antara Nopember-
April, namun demikian kadang pola bulan hujan dapat berubah, antara lain oleh siklus
El Nino yang cenderung kering atau sebaliknya siklus La Nina yang cenderung bulan
basah lebih lama.

Tabel 2.1 Tipe Iklim pada Kecamatan di Kabupaten Sleman

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 7


Rerata Curah
Bulan Bulan
No Kecamatan Hujan Tahunan Q (%) Klas Tipe Iklim
(mm/th) Kering Basah

1 Berbah 2093 3 9 33.33 B Basah


2 Cangkringan 2763 3 9 33.33 B Basah
3 Depok 2252 4 8 50,00 C Agak Basah
4 Gamping 2637 3 9 33.33 B Basah
5 Godean 2360 3 9 33.33 B Basah
6 Kalasan 2215 3 9 33.33 B Basah
7 Minggir 2866 3 9 33.33 B Basah
8 Mlati 2444 3 9 33.33 B Basah
9 Moyudan 3254 4 8 50, 00 C Agak Basah
10 Ngaglik 2776 3 9 33.33 B Basah
11 Ngemplak 2641 3 9 33.33 B Basah
12 Pakem 2959 3 9 33.33 B Basah
13 Prambanan 2161 3 9 33.33 B Basah
14 Seyegan 2353 4 8 50,00 C Agak Basah
15 Sleman 2647 3 9 33.33 B Basah
16 Tempel 2561 3 9 33.33 B Basah
17 Turi 2901 3 9 33.33 B Basah
Sumber: analisa data curah hujan 1987-2001 (Dinas PU, 2002), diadop dari Kirono (2005)

Sumber:
Kirono,2005

Gambar 2.6 Grafik Bulan Basah Bulan kering


di Kabupaten Sleman

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 8


Gambar 2.7 Peta Curah Hujan di Kabupaten Sleman

2.2.5 Hidrologi
Indikator ketersediaan air di Kabupaten Sleman ditentukan dari dua indikator
yaitu kondisi air permukaan serta airtanah.
a) Air Permukaan
Kondisi hidrologi Kabupaten Sleman merupakan bagian dari dataran kaki fluvio
vulkanik Merapi yang surplus airtanah dan air permukaan. Termasuk daerah aliran
sungai (DAS) Winongo, Code dan Opak Hulu. Air tanah mengalir lewat akuifer lereng
Merapi - Graben Bantul. Kedalaman air tanah antara 0,5-20 meter, semakin ke selatan
muka air tanah semakin dangkal sekaligus tercemar. Pencemaran air tanah akibat
praktek-praktek sanitasi yang buruk, baik dari limbah domestik (rumah tangga) maupun
non-domestik (industri, hotel atau rumah sakit). Indikasi pencemaran adalah
kandungan Nitrat (NH3) dan bakteri Coli yang cukup tinggi pada bagian hilir atau
selatan.
Kabupaten Sleman memiliki 5 daerah aliran sungai (DAS) yang cukup besar,
yakni dari barat ke timur: DAS Progo, Konteng, Bedog, Winongo-Code dan Opak Hulu.
DAS terbesar adalah Opak Hulu. Secara hidrologis Kabupaten Sleman tidak pernah
kekurangan air karena berkelimpahan air permukaan dan air tanah (terdapat akuifer air
tanah), ditambah keberadaan Selokan Mataram yang melintang barat-timur, ber-
intake dari Kali Progo dan berakhir di Kali Opak. Kedalaman air tanah < 7 m - 25 m. Air
tanah banyak mengandung unsur besi (Fe) dan Mangan (Mn). Berdasarkan potensi
hidrologi bagian utara wilayah Kabupaten Sleman adalah kawasan resapan air serta
sebagian besar sangat cocok untuk budidaya pertanian baik pangan maupun
hortikultura, termasuk budidaya perikanan darat.
b) Air Tanah
Kabupaten Sleman secara hidrogeologi termasuk ke dalam cekungan air tanah
Yogyakarta yang terletak di lereng selatan Gunung Api Merapi. Cekungan air tanah ini
Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 9
dibatasi oleh dua sungai utama, yaitu Kali Opak di bagian timur dan Kali Progo di
bagian barat. Perbukitan yang membatasi cekungan secara morfologis adalah
rangkaian Perbukitan Kulonprogo dan rangkaian Perbukitan Baturagung. Secara
geologis cekungan Yogyakarta dibatasi oleh dua sesar utama, yaitu sesar sepanjang
Kali Opak di bagian timur dan sepanjang Kali Progo di bagian barat.
Kabupaten Sleman berada pada sisi selatan lereng Gunung api Merapi,
pergerakan air tanahnya secara menyeluruh mengalir dari utara menuju ke selatan.
Muka freatik air tanah terpotong oleh lembah-lembah sungai, sehingga dapat
dimungkinkan munculnya mataair di daerah tersebut. Selain itu mataair sering dijumpai
pada daerah peralihan slope. Peralihan slope ini selain ditandai dengan adanya
mataair juga ditandai dengan adanya perbedaan yang mencolok pada daerah tersebut,
antara lain perubahan/lereng curam ke lereng yang datar, ataupun juga oleh
perbatasan antara penggunaan lahan yang kering dengan areal persawahan. Mata air
di lereng Merapi membentang membentuk jalur melingkar atau sabuk.
Meskipun berada di bawah permukaan tanah, air tanah dapat tercemar.
Sumber pencemaran tersebut dapat berupa penimbunan sampah, kebocoran pompa
bensin, limbah cair dari rumah tangga serta kebocoran tangki septik. Ditengarai pula
bahwa pertanian yang menggunakan pupuk industri dapat memberi dampak
penimbunan logam pada air tanah.
Meningkatnya jumlah permukiman telah mendorong meningkatnya kebutuhan
air untuk domestik, irigasi, industri. Fenomena lapangan menunjukkan makin
banyaknya sumur bor untuk mengeksplorasi air tanah. Memperhatikan jumlah
pemanfaatan air tanah dan sebaran permukiman yang dapat mengganggu
ketersediaan air tanah dan mendorong pencemaran air tanah, kegiatan perlindungan
terhadap daerah resapan air digiatkan.

2.3. Kependudukan

Kabupaten Sleman berdasar Sensus Penduduk 2010 memiliki jumlah penduduk


sebanyak 1.090.567 jiwa dengan jumlah keluarga sebanyak 255.555 KK.
Selengkapnya data kependudukan Kabupaten Sleman adalah sebagai berikut:
Tabel 2.2 Kondisi Kependudukan Kabupaten Sleman
Luas Build-up Pendu- Gross Net Rerata
No. Kecamatan Desa KK
ha ha duk Density Density Jiwa/KK
1 Moyudan Sumberrahayu 631 236.42 6,035 10 26 1,939 3.1
2 Sumbersari 546 175.95 7,451 14 42 2,347 3.2
3 Sumberagung 820 299.74 10,706 13 36 3,215 3.3
4 Sumberarum 765 317.88 6,574 9 21 2,096 3.1
5 Minggir Sendangmulyo 670 161.26 6,195 9 38 1,104 5.6
6 Sendangarum 345 151.9 3,362 10 22 1,943 1.7
7 Sendangrejo 598 212.02 7,854 13 37 2,243 3.5
8 Sendangsari 458 129.33 4,540 10 35 1,440 3.2
9 Sendangagung 656 227.8 7,296 11 32 2,352 3.1
10 Seyegan Margoluwih 500 148.08 9,313 19 63 2,602 3.6
Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 10
Luas Build-up Pendu- Gross Net Rerata
No. Kecamatan Desa KK
ha ha duk Density Density Jiwa/KK
11 Margodadi 611 170.8 8,119 13 48 2,495 3.3
12 Margomulyo 519 222.67 11,354 22 51 3,259 3.5
13 Margoagung 518 190.55 9,293 18 49 2,751 3.4
14 Margokaton 515 138.61 6,954 14 50 2,095 3.3
15 Godean Sidorejo 544 102.35 6,337 12 62 2,007 3.2
16 Sidoluhur 519 130.09 9,461 18 73 2,627 3.6
17 Sidomulyo 250 68.89 5,873 23 85 1,631 3.6
18 Sidoagung 332 116.51 8,775 26 75 2,205 4.0
19 Sidokarto 364 129.28 11,008 30 85 2,531 4.3
20 Sidoarum 373 141.39 16,841 45 119 3,522 4.8
21 Sidomoyo 302 99.09 7,574 25 76 2,144 3.5
22 Gamping Balecatur 986 584.8 19,568 20 33 4,905 4.0
23 Ambarketawang 628 337.7 21,948 35 65 4,823 4.6
24 Banyuraden 400 200.8 18,371 46 91 3,557 5.2
25 Nogotirto 349 173.4 19,329 55 111 3,967 4.9
26 Trihanggo 562 163.2 17,792 32 109 3,910 4.6
27 Mlati Tirtoadi 497 189 9,331 19 49 2,428 3.8
28 Sumberadi 600 270 14,404 24 53 3,845 3.7
29 Tlogoadi 482 187 11,800 24 63 3,356 3.5
30 Sendangadi 536 245 17,515 33 71 3,824 4.6
31 Sinduadi 737 436 48,168 65 110 6,964 6.9
32 Depok Caturtunggal 1104 792.35 81,226 74 103 9,212 8.8
33 Maguwoharjo 1501 524.28 38,439 26 73 6,577 5.8
34 Condongcatur 950 544.1 59,858 63 110 7,957 7.5
35 Berbah Sendangtirto 522 177 17,180 33 97 4,077 4.2
36 Tegaltirto 573 196.6 11,386 20 58 3,097 3.7
37 Jogotirto 584 147.2 9,787 17 66 2,859 3.4
38 Kalitirto 620 167.2 12,405 20 74 3,376 3.7
39 Prambanan Sumberharjo 917 370 12,587 14 34 3,907 3.2
40 Wukirharjo 475 120 2,402 5 20 883 2.7
41 Gayamharjo 655 151 3,970 6 26 1,377 2.9
42 Sambirejo 839 237 5,086 6 21 1,620 3.1
43 Madurejo 783 158 11,665 15 74 3,571 3.3
44 Bokoharjo 540 179 11,127 21 62 3,292 3.4
45 Kalasan Purwomartani 1205 465.1 34,253 28 74 6,874 5.0
46 Tirtomartani 754 150.8 15,700 21 104 4,289 3.7
47 Tamanmartani 730 80.44 14,535 20 181 3,893 3.7
48 Selomartani 895 101.93 11,630 13 114 3,178 3.7
49 Ngemplak Wedomartani 1244 198.53 26,798 22 135 5,943 4.5
50 Umbulmartani 615 100.24 11,153 18 111 2,224 5.0
51 Widodomartani 602 49.92 7,176 12 144 2,194 3.3
52 Bimomartani 444 86.2 6,674 15 77 1,866 3.6
53 Sindumartani 666 39.4 7,022 11 178 2,192 3.2
54 Ngaglik Sariharjo 689 355.6 23,900 35 67 3,829 6.2
55 Sinduharjo 609 74.5 19,275 32 259 3,466 5.6

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 11


Luas Build-up Pendu- Gross Net Rerata
No. Kecamatan Desa KK
ha ha duk Density Density Jiwa/KK
56 Minomartani 153 117.71 12,908 84 110 2,983 4.3
57 Sukoharjo 803 140 14,973 19 107 3,163 4.7
58 Sardonoharjo 938 505.8 21,208 23 42 3,830 5.5
59 Donoharjo 660 178.3 9,349 14 52 2,261 4.1
60 Sleman Caturharjo 744 254.8 13,321 18 52 4,170 3.2
61 Triharjo 578 312.3 16,105 28 52 4,554 3.5
62 Tridadi 504 330.2 13,848 27 42 3,697 3.7
63 Pandowoharjo 727 161.65 10,755 15 67 3,217 3.3
64 Trimulyo 579 223.03 8,538 15 38 2,643 3.2
65 Tempel Banyurejo 482 119.66 7,026 15 59 2,341 3.0
66 Tambakrejo 326 80.47 4,526 14 56 1,521 3.0
67 Sumberrejo 292 79.7 4,220 14 53 1,368 3.1
68 Pondokrejo 327 100.72 5,530 17 55 1,638 3.4
69 Mororejo 337 88.59 4,691 14 53 1,486 3.2
70 Margorejo 539 209.2 10,049 19 48 2,895 3.5
71 Lumbungrejo 333 131.39 7,243 22 55 2,012 3.6
72 Merdikorejo 613 240.32 6,018 10 25 1,854 3.2
73 Turi Bangunkerto 703 277.05 8,313 12 30 2,514 3.3
74 Donokerto 741 248.42 8,314 11 33 2,371 3.5
75 Girikerto 1307 293.91 7,343 6 25 2,156 3.4
76 Wonokerto 1558 502.59 9,082 6 18 2,568 3.5
77 Pakem Purwobinangun 1348 471.4 8,573 6 18 2,499 3.4
78 Candibinangun 636 276.4 5,684 9 21 1,606 3.5
79 Harjobinangun 552 219.4 5,467 10 25 1,484 3.7
80 Pakembinangun 418 30.1 6,661 16 221 1,644 4.1
81 Hargobinangun 1430 419.9 8,270 6 20 2,458 3.4
82 Cangkringan Wukirsari 1456 143 9,681 7 68 3,033 3.2
83 Argomulyo 847 120.3 7,059 8 59 2,331 3.0
84 Glagahharjo 795 51.2 3,628 5 71 1,118 3.2
85 Kepuhharjo 875 43.5 3,088 4 71 945 3.3
86 Umbulharjo 826 53.6 4,721 6 88 1,315 3.6
57.566 18.249 1.090.567 19 60 255.555 4,2
Sumber: Kecamatan Dalam Angka, BPS Kabupaten Sleman
Secara umum jumlah penduduk di Kabupaten Sleman berdasar Sensus
Penduduk Tahun 2010 mencapai 1.090.567 jiwa. Namun demikian, jumlah penduduk
ini secara riil harus mempertimbangkan penduduk semi permanen dan temporal, yakni
para mahasiswa dan tamu hotel. Lebih dari 50 PTS dan PTN yang berlokasi di
kawasan perkotaan Sleman, diperkirakan ada 100.000 mahasiswa, yang pada
dasarnya berasal dari luar Kabupaten Sleman, dan sebagian besar indekost di sekitar
kampus. Demikian juga dengan tamu hotel, dimana pada kawasan yang sama terdapat
lebih dari sepuluh hotel berbintang dan non bintang. Sehingga, penduduk riil yang
bertempat tinggal di Kabupaten Sleman sebenarnya lebih banyak. Diperkirakan
penduduk Kabupaten Sleman yang menempati Kawasan perkotaan tak kurang dari
500.000 ribu jiwa. Jumlah penduduk yang sama dengan penduduk Kota Yogyakarta.

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 12


Berdasarkan kepadatan netto, Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik
merupakan desa yang paling padat, yakni 259 jiwa/ha. Kepadatan penduduk netto
terendah terdapat di Desa Wonokerto Kecamatan Turi dan Desa Purwobinangun
Kecamatan Pakem dengan kepadatan 18 jiwa/ha.

Tabel 2.3 Struktur Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin,Tahun 2010


No Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Moyudan 15.071 15.695 30.766
2 Minggir 14.233 15.014 29.247
3 Seyegan 22.292 22.741 45.033
4 Godean 32.876 32.993 65.869
5 Gamping 48.697 48.311 97.008
6 Mlati 51.861 49.357 101.218
7 Depok 92.552 86.971 179.523
8 Berbah 25.107 25.651 50.758
9 Prambanan 23.000 23.837 46.837
10 Kalasan 37.738 38.380 76.118
11 Ngemplak 29.148 29.675 58.823
12 Ngaglik 50.946 50.667 101.613
13 Sleman 30.752 31.815 62.567
14 Tempel 24.406 24.897 49.303
15 Turi 16.381 16.671 33.052
16 Pakem 17.111 17.544 34.655
17 Cangkringan 13.809 14.368 28.177
KabupatenSleman 545.980 544.587 1.090.567
Sumber: BPS Kabupaten

Gambar 2.8 Struktur Penduduk Kecamatan Menurut Sex Ratio

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 13


Gambar 2.9 Peta Struktur Penduduk Kecamatan Menurut Sex Ratio

45,000
40,000
35,000
30,000
0-5
25,000
06-12
20,000
13-18
15,000 19-22
10,000 23-59
5,000 60+
0

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 14


45,000
40,000
35,000
30,000
0-5
25,000
06-12
20,000
13-18
15,000 19-22
10,000 23-59
5,000 60+
0

Gambar 2.10 Komposisi Penduduk Kabupaten Sleman Menurut Kelompok Umur


Tahun 2009
Berdasarkan komposisi menurut kelompok umur terlihat kecamatan-kecamatan
yang menjadi sentra pendidikan tinggi menunjukkan komposisi kelompok umur 23-59
tahun yang sangat tinggi, yakni Kecamatan Depok disusul oleh Kecamatan Ngaglik,
Mlati dan Gamping

Gambar 2.11 Peta Kepadatan Penduduk Netto di Kabupaten Sleman Tahun 2010

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 15


@dwi oblo @dwi oblo

Gambar 2.12 Sentra PendidikanTinggi di Kawasan Perkotaan Kabupaten Sleman

2.4. Pendidikan
Layanan pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi
tersedia dalam jumlah cukup di kawasan perkotaan Kabupaten Sleman, bahkan untuk
perguruan tinggi merupakan konsentrasi pendidikan tinggi di Provinsi DIY. Lebih dari
80% perguruan tinggi di Kabupaten Sleman, terkonsentrasi di kawasan perkotaan.

Tabel 2.4 Jumlah dan Sebaran Fasilitas Pendidikan


di Kawasan Perkotaan Sleman
No
Kecamatan Desa SD SLTP SMA SMK PT
.
1 Gamping Balecatur 7 1 0 0 0
Ambarketawan
10 2 2 1 1
g
Banyuraden 5 0 3 1 5
Nogotirto 8 3 0 0 0
Trihanggo 9 2 1 0 0
2 Sleman Tridadi 7 3 3 0 0
3 Godean Sidoarum 7 0 0 0 0
Tirtoadi 4 1 0 0 0
Sumberadi 7 0 1 0 0
4 Mlati Tlogoadi 4 3 1 0 0
Sendangadi 6 1 1 0 0
Sinduadi 13 4 5 0 0
5 Ngaglik Sariharjo 8 2 0 0 0
Minomartani 4 0 0 0 0
Caturtunggal 23 7 7 0 21
6 Depok Condongcatur 17 4 3 0 5
Maguwoharjo 14 5 6 0 5
7 Ngemplak Wedomartani 7 1 0 0 0
8 Berbah Kalitirto 8 1 2 0 0
9 Kalasan Purwomartani 12 2 1 0 3
Perkotaan Kabupaten Sleman 180 42 36 2 40
Kabupaten Sleman 502 104 51 49 48
Sumber : Kecamatan Dalam Angka Tahun 2007, Kab. Sleman Dalam Angka Tahun 2008, BPS

Tingkat pendidikan penduduk, berdasar perhitungan yang ada yakni rata-rata


lama sekolah yang ditamatkan pada tahun 2007 adalah 11,1 tahun untuk laki-laki dan

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 16


9,2 tahun untuk perempuan. Sedangkan tingkat melek huruf adalah 96,9% untuk laki-
laki dan 87,2% untuk perempuan.

2.5 Kesehatan
Derajat kesehatan di Kabupaten Sleman secara umum merupakan yang terbaik
se-Indonesia, dimana parameter-parameter derajat kesehatan cukup jauh di atas
rerata derajat kesehatan nasional. Misalnya, harapan hidup nasional adalah sekitar
70,6 tahun, 74 untuk Provinsi DIY, sedangkan di Kabupaten Sleman 72,4 tahun untuk
laki-laki dan 76,8 tahun untuk perempuan.

Tabel 2.5 Derajat Kesehatan Kabupaten Sleman


TAHUN Prov. DIY
INDIKATOR
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2009
Angka Kematian Bayi /
8,01 8,47 5,97 7,67 7,67 7,67 5,81 4,08 19
Kelahiran Hidup ()
Angka Kematian Ibu /
70,38 76,19 78,70 69,31 69,31 69,31 69,31 69,31 104
Kelahiran Hidup (/oooo)
Angka Kematian Kasar 5,12 4,64 4,64 5,85 5,848 2,591
Umur Harapan Hidup (UHH)
- Laki-laki (tahun) 72 72 72 72 72 72,46 72,46 72,60 72,2
- Wanita (tahun) 76 76 76 76 76 76,79 76,79 76,92 76,1
Sumber: DinKes Kabupaten Sleman, 2009

2.6. Sosial Masyarakat

2.6.1 Struktur Masyarakat


Berdasarkan kondisi sosial masyarakatnya maka Kabupaten Sleman dapat
dikelompokkan menjadi 2 kawasan, yakni kawasan perdesaan yang cenderung
homogen dan kawasan perkotaan dengan tingkat heterogenitas sosial budaya yang
tinggi. Konsentrasi pendidikan tinggi pada kawasan ini menyebabkan komposisi
penduduknya relatif beragam. Namun demikian, budaya Jawa masih menjadi faktor
yang dominan, termasuk meredam perbedaan etnik dan sosial-budaya warganya.
Secara umum kawasan perkotaan Kabupaten Sleman dapat diklasifikasikan dalam 2
tipe tingkat heterogenitas warganya yakni:
a) Wilayah dengan Heterogenitas tinggi
Meningkatnya pertambahan penduduk secara signifikan akan terjadi terutama di
Kecamatan Depok, dimana keberadaan sejumlah perguruan tinggi di Depok
menjadi faktor utama masuknya pendatang, yang kuat mempengaruhi tingkat
heterogenitas penduduk di wilayah ini. Kampus-kampus yang menyenggarakan
kerja sama dengan institusi pendidikan dan penelitian dari luar Kabupaten
Sleman, termasuk dari luar negeri, juga memberi peluang bagi pendatang untuk
tinggal di wilayah ini meskipun hanya bersifat sementara.
b) Wilayah dengan Heterogenitas sedang
Kecamatan Gamping, Mlati, Sleman, Ngaglik, Berbah, Kalasan, dan Ngemplak
merupakan wilayah dengan heterogenitas sedang. Namun demikian tidak secara

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 17


keseluruhan wilayah mempunyai tingkat heteroginitas yang sama, mengingat
masih cukup dominannya kawasan-kawasan pertanian pada wilayah ini.

2.6.2 Kondisi Sosial Ekonomi


Secara umum pada tahun 2008 di Kabupaten Sleman masih terdapat 23,4%
keluarga miskin, yakni 56.857 keluarga dari 255.555 keluarga. Jika ditinjau
permasalahan yang sama di kawasan perkotaan, maka masih terdapat 15,85%
keluarga miskin dari jumlah 114.849 keluarga.

Tabel 2.6 Jumlah Keluarga Miskin di Kabupaten Sleman Tahun 2010


KK % KK
No. Kecamatan Penduduk KK
Miskin Miskin
1 Moyudan 30,766 9,597 2,004 31.2
2 Minggir 29,247 9,082 2,889 31.1
3 Seyegan 45,033 13,202 3,915 29.3
4 Godean 65,869 16,667 3,161 135
5 Gamping 97,008 21,162 3,038 21.8
6 Mlati 101,218 20,417 3,998 20.2
7 Depok 179,523 23,746 2,570 13.2
8 Berbah 50,758 13,409 3,072 26.4
9 Prambanan 46,837 14,650 3,849 31.3
10 Kalasan 76,118 18,234 4,347 24.0
11 Ngemplak 58,823 14,419 2,996 24.5
12 Ngaglik 101,613 19,532 2,868 19.2
13 Sleman 62,567 18,281 5,939 29.2
14 Tempel 49,303 15,115 5,221 30.7
15 Turi 33,052 9,609 2,370 29.1
16 Pakem 34,655 9,691 1,472 28.0
Cangkringa
28,177 8,742 3,158 31.0
n
Kabupaten Sleman 1,090,567 255,555 56,867 23.4
Sumber: Dinas Nakersos, Kabupaten Sleman 2009

2.7. Perekonomian

2.7.1 PDRB Kabupaten


Perekonomian Kabupaten Sleman berdasarkan sumbangan PDRB jelas
merupakan perekonomian yang condong ke perekonomian yang banyak didominasi
oleh sektor-sektor perkotaan. Sektor perekonomian tersier dan sebagian sektor
sekunder adalah sektor ekonomi perkotaan, seperti perdagangan dan jasa, perhotelan,
restoran, jasa-jasa keuangan, serta jasa-jasa lainnya. Pada tahun 2008, sumbangan
sektor tersier mencapai 57,19% jauh meninggalkan sektor primer yang tinggal 14,75%.
Paradigma perekonomian perkotaan tersebut diperkuat oleh data prosentase
sumbangan PDRB Kecamatan dalam PDRB Kabupaten, dimana tampak jelas nilai
tambah kecamatan-kecamatan yang kuat mengarah ke perekonomian perkotaan
sangatlah dominan.

Tabel 2.7 Prosentase Sektor Ekonomi Dalam PDRB


Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 18
Kelompok Sektor 2004 2005 2006 2007 2008

Sektor Primer 15,5 14,77 14,41 13,99 14,75

Sektor Sekunder 26,98 27,67 28,07 28,51 28,06

Sektor Tersier 57,53 57,57 57,52 57,5 57,19


Sumber: Analisa PDRB Kecamatan di Kabupaten Sleman, 2009

Sumber: Analisa PDRB Kecamatan di Kabupaten Sleman, 2009


Gambar 2.13 Prosentase Sumbangan Sektor terhadap
PDRB Kabupaten Sleman
Sumber: Analisa PDRB Kecamatan di Kabupaten Sleman, 2010

Gambar 2.14
Prosentase
Sumbangan
Perekonomian
Kecamatan
Dalam PDRB
Kabupaten tahun
2009 Berdasar
Harga Berlaku

Dari kesembilan
kecamatan yang
diindikasikan sebagai kecamatan perkotaan, hanya dua kecamatan yang kurang begitu
kuat, yakni Kecamatan Berbah dan Ngemplak. Khusus untuk Kecamatan Depok,
menunjukkan sebagai penyumbang PDRB yang paling besar (16,5%). Hal itu wajar
mengingat konsentrasi kegiatan perkotaan banyak terdapat di Kecamatan Depok,
seperti perguruan tinggi besar (UGM, UNY, UIN, UPN, UAJY, Sadhar, dsb) dan hotel-
hotel bintang (Sheraton, Jayakarta, Quality, Sahid, dsb), serta mal (Makro-Lotte,
Carrefour, Ambarukmo Plaza). Sedangkan Kecamatan Sleman terlihat sebagai
penyumbang PDRB nomor dua, hal ini lebih disebabkan Kecamatan Sleman sebagai
pusat pemerintahan Kabupaten Sleman, daripada PDRB yang dihasilkan oleh kinerja
kegiatan ekonomi rill di luar sektor jasa pemerintahan.

2.7.2 PDRB Kecamatan


PDRB per kecamatan di Kabupaten Sleman juga menunjukkan dominasi sektor
tersier, dari 17 kecamatan yang ada hanya Kecamatan Turi dan Cangkringan yang
Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 19
PDRB-nya banyak disumbang oleh sektor primer. Kecamatan-kecamatan yang masuk
kawasan perkotaan sumbangan sektor tersier dalam PDRB masing-masing adalah di
atas 50%, kecuali Kecamatan Berbah yang sektor tersiernya hanya menyumbang
sekitar 32%. Kecamatan Depok menunjukkan orientasi perekonomian yang hampir
sepenuhnya adalah ekonomi perkotaan, yakni 74% merupakan sektor tersier, 20%
sektor sekunder dan 2% sektor primer. Selengkapnya sumbangan sektoral dalam
PDRB masing-masing kecamatan ditampilkan pada Grafik di bawah ini.

Kecamatan Kawasan
Kecamatan Kawasan
Perkotaan
Perdesaan
Sumber: Analisa PDRB Kecamatan di
Kabupaten Sleman, 2009

Gambar 2.15 Sumbangan


Sektoral Dalam PDRB
Kecamatan Perkotaan dan
Perdesaan

Gambar 2.16 Komposisi


Sektor dalam PDRB
(Dalam ratusan ribu rupiah)
Kecamatan di Kabupaten
Sleman

2.7.3 PDRB Per Kapita Per Kecamatan

Berdasarkan PDRB Per Kapita Per Kecamatan menunjukkan tidak ada


perbedaan antara kawasan perkotaan dengan perdesaan, bahkan ranking 2 dan 3 baik
berdasar harga konstan maupun harga berlaku adalah kecamatan pada kawasan
perdesaan. Secara khusus PDRB Per Kapita berdasar Kecamatan ini terlihat angka
yang kurang proporsional pada Kecamatan Sleman, dimana angka PDRB Per Kapita-
nya sedemikian tinggi hampir 2 kali lipat dari rerata PDRB Per Kapita Kabupaten
Sleman. Kemungkingan besar, hal tersebut disebabkan tingginya nilai jasa-jasa
pemerintahan, mengingat Kecamatan Sleman adalah Ibukota Kabupaten Sleman.

Tabel 2.8 PDRB Per Kapita Per Kecamatan Tahun 2009 (dalam ribuan rupiah)

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 20


Sumber: Analisa PDRB Kec. di Kab. Sleman atas dasar harga konstan th. 2000, atas dasar harga berlaku 2009

Sumber: Analisa PDRB Kecamatan di Kabupaten Sleman

Gambar 2.17 PDRB Per Kapita Per Kecamatan di Kabupaten Sleman Tahun 2009

2.7.4 Komposisi penduduk menurut mata pencaharian

Mata pencaharian penduduk di Kabupaten Sleman menunjukkan telah


tersegmentasi pada sektor jasa atau perekonomian sektor tersier (sector jasa lainnya
menyerap 31,2% dan perdagangan & hotel 13,6%), terlebih pada kawasan perkotaan
utama (Kecamatan Depok). Namun demikian, mata pencaharian di sektor pertanian
masih menyerap 27% tenaga kerja. Pada Gambar 2.18 menunjukkan kecamatan-
kecamatan perkotaan mata pencaharian sektor jasa sangat dominan.
Tabel 2.9 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian per Sektor
Ekonomi per Kecamatan di Kabupaten Sleman Tahun 2009

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 21


Sumber: Kabupaten Sleman Dalam Angka 2009

Gambar 2.18 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian per Sektor Ekonomi
per Kecamatan di Kabupaten Sleman Tahun 2009

2.7.5 Pendapatan Asli Daerah (PAD)


Pendapat Asli Daerah atau PAD Kabupaten Sleman dalam jangka waktu tahun
2005-2009 telah tumbuh dari Rp. 77,9 milyar menjadi Rp. 157,6 milyar atau tumbuh
rerata 25,6% pertahun. Di sisi lain, besaran nilai PAD Kabupaten Sleman masih pada
kisaran 22% dari dana perimbangan dari Pusat (tahun 2009 sebesar Rp. 717,7 milyar).
Tabel 2.10 Struktur APBD Kabupaten Sleman Tahun 2005-2009

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 22


Sumber: Bappeda Kabupaten Sleman, 2010

2.8. Visi Dan Misi Kabupaten

2.8.1. Visi Kabupaten


Visi adalah hal yang diinginkan pada akhir periode perencanaan yang
direpresentasikan dalam sejumlah sasaran hasil pembangunan yang dicapai melalui
program-program pembangunan daerah. Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah (RPJPD) Kabupaten Sleman Tahun 2006-2025 menetapkan visi, yaitu
"Terwujudnya masyarakat Kabupaten Sleman yang sejahtera, demokratis, dan
berdaya saing".

2.8.2. Misi Kabupaten


Penjelasan mengenai visi ini dituangkan dalam misi-misi yang akan dijalankan
selama lingkup waktu perencanaan, yaitu
1) Mewujudkan tata pemerintahan yang baik,
2) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
3) Meningkatkan kualitas hidup masyarakat; dan
4) Meningkatkan kehidupan bermasyarakat yang demokratis.

2.9. Institusi dan Organisasi Pemerintah Daerah


Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 9 Tahun 2009
Tentang Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Sleman, maka dalam
pengelolaan pembangunan di Kabupaten Sleman terdapat 23 instansi di bawah Bupati
Kepala Daerah. Instansi berbentuk Dinas, Badan, Kantor, Inspektorat, Sekretariat,
Polisi Pamong Praja dan Rumah Sakit, serta Kecamatan.

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 23


Gambar 2.19 Bagan Susunan Organisasi Perangkat Daerah

Sumber: Perda Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Sleman

Menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan pegawai otonom terdiri dari 236
pegawai berijasah SD, 420 berijasah SMP, 3.376 berijasah SMA, 4.296 pegawai
berijasah DI DIII, dan 4.678 pegawai berijasah DIV S2. Artinya, 69% pegawai
adalah lulusan D1-S2. Komposisi pegawai negeri berdasar jender menunjukkan
pegawai perempuan lebih banyak daripada laki-laki.
5,000

4,000

3,000

2,000

1,000

-
SD SMP SMA D I - D III D IV - S2

Gambar 2.20 Jumlah Pegawai Pemerintah Kabupaten Sleman


Berdasar Latarbelakang Pendidikan
Tabel 2.11 Jumlah Pegawai pada Instansi Pemerintah Kabupaten Sleman

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 24


Sumber: Kabupaten Sleman Dalam Angka 2009
2.10 Tata Ruang Wilayah

Kabupaten Sleman sedang menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah 2011-2031,


dimana dalam rencana struktur tata ruangnya terdapat rencana Pengembangan
Sistem Pusat Kegiatan, yang terdiri atas pengembangan sistem perkotaan kabupaten;
dan pengembangan sistem perdesaan kabupaten.

2.10.1 Rencana Sistem Perwilayah Kabupaten


a. Sistem Perdesaan
Sistem perdesaan merupakan struktur kawasan yang menggambarkan
keterkaitan antara tiga elemen dasar pembentuknya yaitu penduduk, aktivitas dan
sistem pergerakan. Penduduk digambarkan oleh sistem permukiman, aktivitas
diperlihatkan oleh pola penggunaan lahan dan sektor kegiatan, serta sistem
pergerakan diwujudkan dalam bentuk sistem jaringan jalan yang menghubungkan
dengan sistem yang lebih luas. Pengembangan sistem perdesaan berupa Pusat
Pelayanan Lingkungan (PPL) sebagai pusat pemerintahan desa meliputi 50 PPL di luar
sistem perkotaan, tersebar di 16 dari 17 kecamatan yang ada. Satu kecamatan yakni
Kecamatan Depok sepenuhnya masuk dalam sistem perkotaan.
b. Sistem Perkotaan
Wilayah Kabupaten Sleman secara alamiah mempunyai banyak pusat-pusat
pertumbuhan dengan ukuran tersendiri dan kawasan yang dilayaninya (hinterland).
Perbedaan ukuran dilihat dari aspek jumlah penduduk, ketersediaan fasilitas, aktifitas
ekonomi, dan lain-lain.
Dengan memperhatikan sistem pelayanan dan prinsip pengembangan wilayah
di Provinsi DIY, maka sasaran pengembangan sistem perwilayahan Kabupaten Sleman
dalam konteks DIY pada masa mendatang adalah:
a) PKN (Pusat Kegiatan Nasional).
Kota atau perkotaan yang diklasifikasikan sebagai PKN memiliki fungsi pelayanan
dalam lingkup nasional. Kota yang diarahkan untuk berfungsi sebagai pusat
perkembangan wilayah yang mempunyai skala pelayanan Nasional di Provinsi DIY
adalah wilayah Kawasan Perkotaan Yogyakarta.

Tabel 2.12 Wilayah Administrasi Pusat Kegiatan Nasional


No Kecamatan Desa
1 Godean 1. Sidoarum
2 Gamping 1. Ambarketawang
2. Banyuraden
3. Nogotirto
4. Trihanggo
3 Mlati 1. Sinduadi
2. Sendangadi
4 Depok 1. Caturtunggal
2. Condongcatur
3. Maguwoharjo
5 Ngemplak 1. Wedomartani
6 Ngaglik 1. Sariharjo
2. Sinduharjo
3. Minomartani
Sumber: Draft RTRW Kabupaten Sleman 2011-2031

b) PKW (Pusat Kegiatan Wilayah),


Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 25
Kota atau perkotaan yang diklasifikasikan sebagai PKW pada hirarki perkotaan
berfungsi sebagai pusat pelayanan dalam lingkup wilayah Provinsi DIY, yakni
kawasan Ibukota Kabupaten Sleman yaitu Kota Sleman yang meliputi seluruh
wilayah administrasi Desa Tridadi Kecamatan Sleman.
c) PKL (Pusat Kegiatan Lokal)
Kota atau perkotaan yang diklasifikasikan sebagai PKL berfungsi sebagai pusat
pelayanan pada lingkup lokal, yaitu pada lingkup satu atau lebih kabupaten,
meliputi Ibukota Kecamatan: Godean, Prambanan, Tempel, dan Pakem
d) Pusat Pelayanan Kawasan (PPK)
Meliputi Ibukota Kecamatan Moyudan, Ibukota Kecamatan: Minggir, Seyegan,
Mlati, Berbah, Kalasan, Ngemplak, Ngaglik, Sleman, Turi, dan Cangkringan;
e) Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) meliputi seluruh pusat pemerintahan desa
yang tidak tercakup di dalam PKN, PKW, PKL, dan PPK.

2.10.2 Rencana Sistem Jaringan Prasarana Skala Kabupaten


Rencana sistem jaringan prasarana skala kabupaten dalam RTRW terdiri dari;
Pengembangan sistem prasarana terdiri atas:
a. sistem jaringan energi;
b. sistem jaringan telekomunikasi;
c. sistem jaringan sumber daya air;
d. sistem prasarana pengelolaan lingkungan; dan
e. jalur dan ruang evakuasi bencana.
. Mengingat fokus Buku Putih Sanitasi ini, maka rencana sistem prasarana yang
disampaikan adalah sistem prasarana terkait sanitasi secara langsung, yakni sistem
prasarana jaringan sumber daya air dan sistem prasarana pengelolaan lingkungan.
A. Sistem jaringan sumber daya air, terdiri atas:
a. Wilayah sungai;
Wilayah sungai sebagaimana dimaksud berupa Wilayah Sungai (WS) lintas
provinsi Progo - Opak - Serang meliputi:
a) DAS Opak; dan
b) DAS Progo.
b. Sumber air baku;
Sumber air baku meliputi:
a) air tanah; Air tanah berupa pemanfaatan air melalui sumur dalam dan
sumur dangkal.
b) mata air; Mata air meliputi 182 (seratus delapan puluh dua) mata air
tersebar di seluruh kecamatan.
c) embung. Embung meliputi peningkatan dan pengembangan embung
sampai dengan akhir tahun perencanaan sebanyak 42 (empat puluh dua)
buah embung.
c. Jaringan irigasi
d. Sistem pengendali banjir.
Pengendali banjir meliputi peningkatan dan pengembangan bangunan pengendali
banjir lahar meliputi:
Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 26
a) pengendali banjir sungai Krasak sebanyak 23 (dua puluh tiga) sabo dam;
b) pengendali banjir sungai Boyong sebanyak 56 (lima puluh enam) sabo dam;
c) pengendali banjir sungai Kuning sebanyak 16 (enam belas) sabo dam;
d) pengendali banjir sungai Opak sebanyak 5 (lima) sabo dam; dan
e) pengendali banjir sungai Gendol sebanyak 22 (dua puluh dua) sabo dam.

B. Sistem prasarana pengelolaan lingkungan, meliputi:


a. Sistem pelayanan air minum;
Sistem pelayanan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
berupa pembangunan jaringan air minum (drinking water) di kawasan koridor
jalan arteri Yogyakarta - Surakarta mulai dari batas wilayah Kabupaten - Kota
Yogyakarta sampai dengan Bandar Udara Adisutjipto.
b. Sistem jaringan air bersih;
a) Sistem jaringan air bersih meliputi:
1) Sistem air bersih perpipaan melayani 85% (delapan puluh lima persen)
kawasan perkotaan dan 15% (lima belas persen) kawasan perdesaan;
2) Sistem air bersih non perpipaan melayani kawasan di luar pelayanan
sistem air bersih perpipaan.
c. Sistem pengelolaan prasarana drainase;
Sistem pengelolaan prasarana drainase meliputi:
a) Pengembangan sistem pengelolaan prasarana drainase secara terpadu
pada kawasan perkotaan Kabupaten yang berada di dalam KPY; dan
b) Pengembangan sistem pengelolaan prasarana drainase yang berwawasan
lingkungan dengan drainase induk aliran: Sungai Kuning; Sungai
Tambakbayan; Sungai Gajahwong; Sungai Code; Sungai Winongo; dan
Sungai Bedog.
d. Sistem pengelolaan prasarana pengolah air limbah;
Sistem pengelolaan prasarana pengolah air limbah meliputi:
a) Pengembangan sistem pengelolaan prasarana pengolah air limbah secara
terpadu pada kawasan perkotaan Kabupaten yang berada di dalam KPY;
b) Pengembangan sambungan rumah yang terintegrasi dengan sistem
pengelolaan prasarana pengolah air limbah di dalam KPY;
c) Pengembangan instalasi pengolah air limbah domestik dengan sistem
komunal dalam kawasan permukiman dan perumahan; dan
d) Sistem pengelolaan air limbah setempat terdapat pada setiap rumah tangga
dengan satu unit pengolah sebelum dibuang ke badan air dan/atau
diresapkan ke dalam tanah.
e. Sistem pengelolaan prasarana persampahan; dan
Sistem pengelolaan prasarana persampahan meliputi:
a) Pengembangan tempat penampungan sementara (TPS) paling sedikit 40 (empat
puluh) buah di desa-desa wilayah perkotaan;
b) Pengembangan tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) meliputi:
Kecamatan Gamping; Kecamatan Depok;cKecamatan Sleman; dan
Kecamatan Prambanan.
Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 27
c) Pembangunan tempat pemrosesan akhir (TPA) meliputi:
Kecamatan Gamping untuk melayani wilayah Kabupaten bagian Barat;
Kecamatan Prambanan untuk melayani wilayah Kabupaten bagian
Timur.
Sistem pengelolaan prasarana pengolah limbah B3.
Sistem pengelolaan prasarana pengolah limbah B3 berupa penanganan limbah
B3 baik on-site atau off-site.

Foto: Dwi Oblo


Gambar 2.18. Wajah Perkotaan Kabupaten Sleman

Kabupaten Sleman |Buku Putih Sanitasi 201 28


Gambar 2.19 Peta Rencana Struktur Ruang Kabupaten Sleman
Gambar 2.20 Peta Rencana Kawasan Budidaya Kabupaten Sleman
2.11 Kerjasama Pengembangan Kawasan Perkotaan

Sekber KARTAMANTUL
Sekretariat Bersama Yogyakarta, Sleman dan Bantul disingkat Sekber
Kartamantul merupakan forum kerja sama yang terdiri dari Kota Yogyakarta,
Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul. Latar belakang dibentuknya Sekber
Kartamantul karena Ketiga Pemerintah Kota dan Kabupaten tersebut berbatasan
langsung, dimana kawasan yang berbatasan telah tumbuh kembang menjadi
perkotaan dengan Kota Yogyakarta sebagai inti pertumbuhan perkotaan. Kawasan
fungsional tersebut menjadi sebuah aglomerasi perkotaan, yakni Aglomerasi Perkotaan
Yogyakarta disingkat APY.

Kawasan APY dari sisi pengelolaan wilayahnya menghadapi permasalahan


yang sama yaitu risiko pencemaran lingkungan akibat sistem pembuangan sampah
dan pengelolaan air limbah yang buruk karena tidak memenuhi standar teknis dan
lingkungan. Pada tahun 1989 Pemerintah Pusat cq Ditjen Cipta Karya Departemen
Pekerjaan Umum, Provinsi DIY dan lembaga kerjasama Swiss, yakni Swiss Agency for
Development Cooperation (SDC) menginisiasi sebuah pola perencanaan prasarana
kawasan perkotaan untuk kawasan perkotaan Yogyakarta. Yakni, dengan dibentuknya
proyek Yogyakarta Urban Development Project (YUDP).
YUDP dengan komitmen pemerintah Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan
Bantul serta Pemerintah Provinsi berhasil merumuskan Rencana Pengembangan
Prasarana Jangka Menengah (RPJM), yang ditindaklanjuti dengan pembangunan
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bersama di Piyungan dan IPAL di Sewon keduanya
berlokasi di wilayah Kabupaten Bantul, dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah
Pusat, JICA dan ADB. Maka, sekitar tahun 1995, ketiga pemerintah daerah/kota itu
merasa perlu duduk bersama dengan Pemerintah Provinsi DIY sebagai koordinator.
Namun sejalan dengan menguatnya otonomi daerah, maka pada tahun 2001 dengan
dukungan dari GTZ dibentuk Sekber Kartamantul dengan melibatkan pengelola
(sekretariat) yang professional.
Landasan hukum pembentukan Sekber Kartamantul didasarkan pada:
Keputusan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor. 175/KPTS/1995
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Prasarana Perkotaan,
Keputusan Bersama Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bantul, Bupati Kepala Daerah
Tingkat II Sleman dan Walikotamadya Kepada Daerah Tingkar II Yogyakarta Nomor.
583b/B/SKB/Bt/1996, 310/Kep/KDH/1996, 1169 th 1996 tentang Kerjasama
Pembangunan Antar Daerah Dalam Rangka Pelaksanaan Pengelolaan Prasarana
Perkotaan,
Keputusan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor. 200/KPTS/1997
tentang Pembentukan Badan Sekretariat Kerjasama Pembangunan Yogyakarta,
Sleman dan Bantul,
Keputusan Bersama Bupati Bantul, Bupati Sleman dan Walikota Yogyakarta Nomor.
04/Perj/RT/2001, 38/Kep.KPH/2001, 03 Tahun 2001 tentang Pembentukan
Sekretariat Bersama Pengelolaan Prasarana dan Sarana Perkotaan antar
Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta,
Keputusan Bersama Bupati Bantul, Bupati Sleman dan Walikota Yogyakarta Nomor.
152a Tahun 2004, 02/SKB.KDH/A/2004, 01 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas
Keputusan Bersama Bupati Bantul, Bupati Sleman dan Walikota Yogyakarta Nomor
04/Perj/RT/2001, 38/Kep.KPH/2001, 03 Tahun 2001 Pembentukan Sekretariat
Bersama Pengelolaan Prasarana dan Sarana Perkotaan antar Kabupaten Bantul,
Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta,
Keputusan Bersama Bupati Bantul, Bupati Sleman dan Walikota Yogyakarta Nomor.
152b Tahun 2004, 03/SKB.KDH/A/2004, 02 Tahun 2004 tentang Pengangkatan
Ketua, Sekretaris&Bendahara Sekretariat Bersama Kartamantul Periode 2004
2006.
Adapun bidang-bidang kerjasama yang dilakukan adalah dalam hal prasarana
persampahan, air limbah, air bersih, jalan, transportasi, drainase, serta bidang tata
ruang dan pengembangan kelembagaan.

TPA Piyungan-Bantul IPAL Sewon-Bantul


Dodi Ps,www.eureka-reservation.com Andik Yulianto
Gambar 2.21 Fasilitas Bersama Kawasan Perkotaan Yogyakarta
(Kartamantul)